Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Rasulullah, tidak Berpolitik

Ada yang berpendapat, Nabi Muhammad adalah seorang ahli politik.
Dan dengan ilmu politik yang dimilikinya, beliau bisa menjadi seorang penguasa, yang menjadikan jalan baginya, dalam menyiarkan Islam.

Akan tetapi, setelah dikaji lebih mendalam, pendapat itu sangat keliru,
bahkan, di dalam sejarah hidupnya, beliau pernah menolak untuk berpolitik.
.
.
Sejarah Politik

Politik adalah berasal dari bahasa Yunani Kuno, pada sekitar tahun 400 SM. Politik berasal dari kata Polis, yang berarti negara. Akan tetapi yang dimaksud negara pada saat itu, masih berupa kota, dengan demikian yang dimaksud negara pada karya-karya pemikir Yunani saat itu, masih dalam ruang lingkup terbatas, yakni sebuah kota.

Di masa itu, pemikir-pemikir Yunani Kuno memunculkan karya-karya yang monumental diantaranya Socrates, Plato dan Aristoteles. Plato sebagai salah seorang murid utama Socrates, memunculkan karya politik yang berjudul Republik, yang merupakan pengungkapan gambaran suatu negara yang ideal.

Pemikiran-pemikiran kenegaraan dari Socrates, Plato dan Aristoteles pada kala itu, dimotivasi atas munculnya pemikiran kaum Sofist di masyarakat Yunani Kuno ketika itu. Kaum Sofist adalah suatu kaum yang lebih mementingkan diri sendiri daripada masyarakat banyak. Menurut mereka hukum itu adalah hak dari yang terkuat, yang dapat dipaksakan kepada orang lain demi kepentingan pribadi belaka. Dari hasil tukar pikiran dengan kaum Sofist, bermunculan karya-karya Plato, seperti Republik (Politea/Negara), Politikos (Negarawan) dan Nomoi (Undang-undang).

Pemikiran seorang Plato, yang didasarkan kepada ra’yu (logika) ternyata sudah lepas landas dari bimbingan Taurat. Membangun negara yang ideal menurut logika seorang Plato, tidak didasarkan kepada Petunjuk Ilahi, sehingga memiliki berbagai kelemahan dalam menata masyarakat manusia. Dan saat ini, ilmu Politik yang disumbangkan Plato, telah berkembang menjadi ilmu yang mempelajari kekuasaan dalam masyarakat.


Teladan Rasulullah

Ketika para pembesar Quraisy menawarkan kekuasaan pada Muhammad SAW, dengan syarat beliau mau menghentikan dakwahnya. Demi tugas menyebarkan risalah yang diembannya, Rasulullah SAW menolak tawaran itu.

Kalau saja, pada saat itu Rasulullah SAW mau sedikit ‘berpolitik’ dan memanfaatkan kekuasaan yang diperolehnya untuk menyiarkan dakwah Islam, bisa jadi perjuangannya tidak akan seperti yang sudah terukir dalam sejarah. Bisa jadi perjuangannya lebih mudah dan ringan.

Namun, Rasulullah SAW tidak mau ambil tindakan yang instant, lewat jalur politik atau kekuasaan. Beliau lebih mengutamakan jalur Siyasah, dengan memunculkan karya unggulan, yang kemudian jadi suri teladan bagi pengikutnya.

Kisah keteladanan Rasulullah SAW ini dapat dibaca dalam QS. Al Ahzab ayat 21,
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Rasulullah SAW lebih memilih jalan yang berliku dan terjal, jalan yang penuh tetesan darah dan air mata. Jalan yang diridai Allah SWT, bukan jalan yang semata bertujuan membangun kekuasaan, yang bersifat sesaat dan fana.

Terbukti langkah yang diambil Rasullah SAW ini berhasil. Kepeloporan Rasulullah SAW, yang kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, melahirkan masa kejayaan umat Islam selama 7 abad. Satu masa kejayaan yang tidak singkat dan itu hanya dapat terjadi karena langkah benar yang diambil oleh Rasulullah SAW.
.

Bagaimana dengan diri kita?

Apakah kita sudah memilih jalur yang lebih sulit tetapi benar dan lurus untuk mencapai tujuan kita?

Mungkin ada banyak jawaban dan pemikiran. Namun satu hal yang mesti kita ingat dan rasanya siapapun juga tahu pepatah ini. Segala sesuatu yang didapatkan dengan mudah, biasanya mudah pula hilangnya. Sebaliknya segala sesuatu yang diperoleh dengan susah payah, penuh perjuangan, biasanya akan bertahan lama, kokoh mengakar karena kuatnya perjuangan untuk mendapatkannya.

Rasanya tidak berlebihan kalau kita mengikuti pepatah tersebut, untuk apa saja yang kita lakukan dan kita inginkan. Mendapatkan sesuatu dengan cepat dan instanst boleh-boleh saja, tapi pastikan kita memperolehnya melalui jalan yang benar. Karena kalau tidak, biasanya akan menimbulkan penyesalan yang berkepanjangan.

About these ads

14 Juli 2010 - Posted by | islam, kanzunQALAM, sejarah | , , , , , , , , , , , , , , ,

15 Komentar »

  1. setuju asal bukan cara pks, HT, atau lainnya, tetapi cara dakwah murni alaa rasulullah…

    Komentar oleh itcompare | 19 Juli 2010 | Balas

    • Pendapat yg anda kemukakan rancu dan tdk menjawab pertanyaan. Cara murni rasulullah itu bgmn. Silahkan kaji mendalam ttg pks dan hti sblm komen yg subjektif

      Komentar oleh Zein | 22 Agustus 2011 | Balas

  2. numpang link http://itcompare.wordpress.com buat yang mau belajar teknisi secara mandiri

    Komentar oleh itcompare | 19 Juli 2010 | Balas

  3. ini suatu ilmu yang baru…
    benar benar menyadarkan ….
    terimakasih.

    Komentar oleh abdullah | 21 Juli 2010 | Balas

  4. pepatah di akhir bisa di perkuat dengan ungkapa,ibarat kita mencuci kendaraan kta dengan air selokan….
    gmna???
    salam kenal,salam karya…

    Komentar oleh Taufik iLham | 25 Juli 2010 | Balas

  5. gan,ada artikel mengenai kiprah Rasulullah Muhammad sebagai pebisnis gak gan? makasih. :)

    Komentar oleh kaendra | 8 Agustus 2011 | Balas

  6. HTI menggunakan istilah siyasah. Kata politik kadang dipakai cm agar mudah dipahami awam. tdk benar HTI tdk berdakwah yg tdk mengikut sirah nabawiyah. Silahkan dikaji lg ttg dakwah HTI dan jelaskan bagian mana yg tdk sesuai dg cara rasulullah berdakwah. FYI, sy bkn anggota HTI

    Komentar oleh Zein | 22 Agustus 2011 | Balas

  7. “Hari ini Agama tidak lagi diperlukan untuk meninggikan budi, tetapi diperlukan untuk memperkokoh kekuasaan.”

    Komentar oleh Nikita al araby | 16 September 2011 | Balas

  8. saya pikir ini adalah Opini penulis, dengan kata lain saya juga sangat berhak berOpini,
    menurut saya rasulullah berpolitik, kalau pada saat itu rasulullah tidak mengambil pemberian kekuasaan, ya karena sudah pemikiran yang matang dan panjang bahwa jalan pemberian kekuasan yang ditujukan padanya menjauhkan dari tujuan yang lebih besar yaitu ridho Allah, ya pasti beliau menolaknya,
    artinya strategi beliau, jauh lebih jitu dari sekedar mengambil pemberian kekuasaan,
    dan beliau adalah ahli strategi terhebat sepanjang masa, namun bukan Jalan Politik praktis yang ditempuh, namun jalur politik yang diridhoi Allah, karena beliau adalah Suri tauladan, dan politik praktis tidak baik di teladani uleh umatnya…
    jazzakumullah…

    Komentar oleh harry | 16 September 2011 | Balas

  9. ana setuju dengan bung Harry :D ini hanya opini penulis. Opini saya:
    Setahu saya rasulullah menolak pemberian kekuasaan itu karena pemberi kekuasaan memberi syarat pula agar rasulullah tidak menghancurkan berhala-berhala. Jelas saja rasulullah menolak karena rasulullah ingin ber siyasah yang menerapkan hukum Allah secara kaffah tanpa kompromi dan tanpa terkecuali terlewatkan satu perintahpun.

    ingat lho ya, hudud, qishos, rajam itu gak bisa dilaksanakan kalau tidak ada kekuatan politik yang melaksanakannya dan kita tahu hudud, qishos, rajam itu hukumnya sama wajibnya dengan hukum shalat, zakat, puasa ramadhan, dan haji.. hayo. hayo..

    Komentar oleh hidaayatfajar | 18 September 2011 | Balas

  10. Untuk sama dipahami…

    Rasulullah itu ber-siyasah bukan ber-politik…

    Dan tujuan dari Siyasah adalah memunculkan karya unggulan, yang kemudian menjadi suri teladan bagi pengikutnya, dengan tuntunan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah…

    Sangat berbeda dengan Politik, yang berasal dari logika manusia dengan tujuan utamanya kekuasaan…

    Komentar oleh kanzunqalam | 18 September 2011 | Balas

  11. politik pada akhirnya berarti berkoalisi campur aduk, namun masyarakat madani yang dibangun Nabi SAW adalah komunitas pembelajaran sosialis

    Komentar oleh nini telem | 7 Maret 2012 | Balas

  12. Menurut keyakinan saya Rosulullah SAW jelas berpolitik adapun kenapa rosul tidak mengambil tawaran penguasa Mekah pada saat itu ,karena rosul diharuskan mencampur aturan Islam yang dibawa oleh rosul dengan aturan yang berlaku pada saat itu(QS Al Kafirrun 1-6).Jelas itu bertentangan dengan misi diutusnya rosul oleh Allah SWT yaitu untuk memenangkan Dien Islam diatas dien yang lain.Jadi politik yang dilakukan oleh rosul itu dengan pola Non kooperatif,Furqon(Pembeda dan berbeda) dengan cara berpolitik pada umumnya.Politik itu jelas perlu untuk mendapatkan kekuasaan,kekuasaan itu perlu untuk memberlakukan hukum.Politik praktis yang ada sekarang adalah warisan dari demokrasi barat yang notabene bukan berasal dari Islam.

    Komentar oleh Al-Battar | 19 Juli 2012 | Balas

  13. politik???… eneq, apalagi liat tokohnya.. hhhhh

    sebagaimana semboyan politik. tidak ada musuh abadi, tidak ada kawan sejati.., maka saya setuju dengan tulisan jugaran.
    politik dan ilmu politik bukan pakaian muslim.

    namun jika arti kata politik di samakan dengan siasat/ taktik / strategi yang bijak, juga no problem. namun pendapat awam ttg politik sudah tercanang.. ya.. gitu deh.. hhhhh

    Komentar oleh Raja | 24 Agustus 2012 | Balas

  14. Pandangan yang benar adalah :
    Ya.. Rosululloh SAW berpolitik(Bersiyasah)

    Dari sejarah hidupnya, kita bisa belajar mana jalan politik yang Rosululloh tolak, mana cara politik yang beliau jalani. Rosul adalah politsi ulung di mana beliau melakukan manuver politik(siyasat) hingga bisa mendapatkan Madinah, sebagai wilayah yang dikuasai olehnya, yangmemberikan keamanan dakwah, dan keamanan Muslimin. Jalan menuju kekuasaan di madinah inilah jalan politik rosul, yang ditempuh dengan jalan mendakwahi para pembesar madinah. Beliau mengikat sumpah pembesar madinah di bukit aqobah, untuk kemudian setia dan menjaga keamanan Rosul. Sumpah itu dikenal sebagai baiat aqobah 1 dan 2. Baiat itulah yang menjadi pijakkan Rosul untuk Hijrah ke Madinah, dengan dukungan orag2 madinah yg kemudian disebut dengan kaum anshor.

    Lalu manakah jalan politik yang dihindari beliau ? Yang beliau Hindari adalah politik Jalan tengah, politik yang parsial, yaitu yang kekuasaan tidak sepenuhnya di kendalikan olehnya, yaitu berbagi kekuasaan dengan penguasa kuFur. Ternyata ketika di Fase mekah, Rosul ditawari masuk ke kancah politik, untuk turut serta berada di kekuasaan kafir qurays, dengan ketentuan kekuasaan dipergilirkan, setahun islam, setahun Kafir.

    Di alam sekarang, politik jalan tengah adalah masuknya perwakilan Islam ke dalam parlemen, yang ada di dalam sistem kufur demokrasi.
    Sedang jalurpolitik yang Rosululloh jalankan adalah aktifitas ’tholabun Nusroh’, yaitu mencari ahlunnusroh (penolong) yang akan menjamin keamanan dakwah. Di alam sekarang, tholabun Nusroh dilakukan kepada kaum militer, yaitu kaum yang memegang kekuasaan secara real karena mereka memegang senjata. Tujuan tholabun Nusroh diantaranya adalah mendakwaHi militer agar mau mendukung tegakknya sistem hukum Islam di muka buMi, dimulai dari negeri muslim yang paling siap. Itulah metode rosululloh berpolitik.

    Politik artinya melayani umat maNusia, di dalam dan luar negeri.

    Komentar oleh Imam ibnu Rachmat | 16 Juli 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: