Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Sunan Kudus, Dakwah Damai Para Wali

Masyarakat Kudus, yang ketika itu masih memeluk agama Hindu, berbondong-bondong mendatangi halaman masjid. Mereka ingin melihat, sapi yang dihias secara istimewa oleh Sunan Kudus (Ja’far Shodiq).

Setelah ramai orang berkumpul, Sunan Kudus mulai berdakwah. Ia menyerukan kebenaran Islam. Melihat Sunan Kudus menghormati hewan yang mereka muliakan, mereka pun mulai tertarik untuk mempelajari ajaran Islam.

Mulailah satu per satu orang memeluk Islam dan bahkan beramai-ramai atau secara massal menyatakan diri sebagai pemeluk Islam.

Apa yang dilakukan Sunan Kudus, dalam mengislamkan masyarakat Nusantara dengan cara damai, juga dilakukan wali yang lain. Sunan Ampel (Raden Rahmat) ketika mengislamkan Arya Damar beserta rakyat Palembang, melalui diskusi simpatik yang sangat panjang.

Sementara Sunan Kalijaga (Raden Said) memperkenalkan Islam melalui seni wayang di tanah Jawa. Sunan-sunan yang lainnya, Sunan Gresik (Syeikh Maulana Malik Ibrahim Gresik), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim), Sunan Drajad (Raden Qasim), Sunan Muria (Raden Umar Said), Sunan Gunungjati (Syarif Hidayatullah).. Semuanya menjalankan cara dakwah dengan damai.

Kesembilan sunan yang dikenal dengan sebutan ’wali sanga’ ini lebih mengutamakan dakwah dengan damai daripada peperangan.

Penyebaran Islam secara damai atau tanpa paksaan ini, dilandasi firman Allah SWT di dalam Al Qur’an, yaitu surat Al Baqarah ayat 256,

”Dan tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa ingkar kepada Tagut (setan dan apa saja yang disembah selain dari Allah SWT) dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Budaya-budaya yang sifatnya tidak bertentangan dengan Islam, oleh para penyebar Islam itu tetap dipertahankan. Sedangkan yang dianggap bertentangan, mereka modifikasi agar sesuai dengan syar’i.

Dengan contoh yang begitu baik dan terbukti ampuh untuk menyebarluaskan Islam di Nusantara, lalu bagaimana dengan dakwah di masa kini?

Sungguh, sangat disayangkan kalau ada orang-orang atau pihak-pihak tertentu yang mengatasnamakan demi menegakkan Islam, lalu mengambil tindakan frontal yang membuat kerusakan dan aniaya.

Dakwah tidak boleh dilakukan dengan kekerasan. Islam sangat menentang kekerasan dan sangat cinta perdamaian. Alangkah piciknya, kalau ada sebagian kecil yang menganggap demi menegakkan Islam harus mengambil kekerasan, yang bukannya membuat orang simpati tapi malah membenci Islam.

Padahal, dari sejak lebih dari 14 abad yang lalu, Islam sudah tegak sebagai aturan yang sempurna. Kitalah sebagai penganutnya yang mesti lebih banyak belajar, agar umat Islam makin kokoh tegak sehingga membawa rahmat bagi seluruh alam serta bisa menjadi khalifah di muka bumi.

About these ads

2 Agustus 2010 - Posted by | islam, kanzunQALAM, sejarah | , , , , , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: