Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Teori Iwak Belido dan Sejarah tenggelam-nya Sundaland…

Sekitar 1,8 juta tahun yang lalu, bumi memasuki zaman Pleistocene. Pleistocene adalah zaman es dengan permukaan air laut di bawah 100m sampai 150m, jika dibandingkan keadaan saat ini.

Ketika itu… Selat Malaka, Selat Karimata, Selat Sunda dan Laut Jawa, masih berupa daratan, yang menyatukan Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan Semenanjung Malaya. Daratan yang luas ini, sebagian ahli geologi menyebutnya sebagai Sundaland.
…..

Teori Iwak Belido

Keberadaan Sundaland ini, bisa dibuktikan dengan ditemukannya, ikan spesifik yang bernama Ikan Belido, pada dua pulau yang berbeda, yakni Sumatera (Sungai Musi) dan Kalimantan (Sungai Kapuas)

Di Palembang, yang berada dipinggiran Sungai Musi, Ikan Belido (Ikan Belida) lebih dikenal dengan nama Iwak Belido, yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan mpek-mpek.

Yang menjadi pertanyaan…

Bagaimana mungkin, ada satu jenis ikan sungai… bisa berada di dua sungai, yang dipisahkan oleh samudra lautan yang sangat luas… ?

Para ahli memperkirakan, dahulu di zaman Pleistocene, kedua sungai tersebut, merupakan anak-anak sungai, dari sebuah aliran sungai yang sangat besar, yang saat ini berada di dasar laut Selat Malaka dan Selat Karimata.

Peristiwa terpisahnya Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera, diperkirakan disebabkan oleh mencairnya lapisan es, dan semakin dipercepat dengan meletusnya gunung Krakatau Purba.

Terjadinya letusan gunung ini, tercatat di dalam teks Jawa kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa :

Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula….

Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera…


Sundaland menurut catatan Plato

Beberapa ilmuwan, diantaranya Profesor Aryso Santos dari Brasil, menduga Sundaland merupakan benua Atlantis, seperti disebut-sebut Plato di dalam bukunya Timeus dan Critias

Sumber catatan Plato adalah berasal dari percakapan antara Socrates (guru Plato), Hermocrates, Timeaus dan Critias. Socrates menjelaskan tentang masyarakat ideal versinya, sementara Timeaus dan Critias bercerita tentang kisah yang bukan fiksi. Kisah ini merupakan kisah konflik antara bangsa Athena dan bangsa Atlantis

Di dalam catatan Critias, peristiwa tenggelamnya Sundaland (Atlantis), digambarkan sebagai berikut :

Karena hanya dalam semalam, hujan yang luar biasa lebat menyapu bumi dan pada saat yang bersamaan terjadi gempa bumi. Lalu muncul air bah yang menggenang seluruh wilayah…

sementara di dalam Timaeus :

Namun sesudah itu, muncul gempa bumi dan banjir yang dashyat. Dan dalam satu hari satu malam, semua penduduknya tenggelam ke dalam perut bumi dan pulau Atlantis lenyap ke dalam samudera luas. Dan karena alasan inilah, bagian samudera disana menjadi tidak dapat dilewati dan dijelajahi karena ada tumpukan lumpur yang diakibatkan oleh kehancuran pulau tesebut

Critias dan Timeus mencatat peristiwa tengelamnya Sundaland (Atlantis) terjadi pada sekitar tahun 9.600SM atau 11.600 tahun yang lalu.

Bencana Nuh

Pada sekitar 13.000 tahun yang lalu, berdasarkan temuan geologi, pernah terjadi banjir besar di seluruh permukaan bumi.

Hal ini dikarenakan terjadinya kenaikan permukaan laut, yang menandai berakhirnya zaman es. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu.

Berdasarkan temuan geologi inilah, Ustadz H.M. Nur Abdurrahman berpendapat bahwa bencana Nuh, terjadi pada sekitar tahun 11.000 SM (sumber : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia), dan menjadi sebab tenggelamnya Keping Sunda (Sundaland).

Peristiwa Bencana Nuh, juga meninggalkan Jejak Arkeologis, yaitu berupa Patung Sphinx di Mesir (sumber : Patung Sphinx, Bukti Arkeologis Bencana Nuh 13.000 tahun yang silam).

Di dalam Al Qur’an, ada disebut-sebut peristiwa banjir besar yang melanda dunia. Kisah tersebut, erat kaitannya dengan keberadaan Nabi Nuh bersama umatnya.

Kehebatan banjir besar di masa Nabi Nuh, tergambar dengan tingginya permukaan air, hingga mencapai puncak-puncak gunung…

Sebagaimana dikisahkan di dalam QS. Hud (11) ayat 43...

Dia (anaknya) menjawab : ”Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, ”Tidak ada yang melindungi dari siksaaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.

Keberadaan Sundaland, yang keberadaannya dibuktikan melalui teori Iwak Belido, masih meninggalkan pertanyaan pada kita, yakni apa penyebab tenggelamnya Keping Sunda itu…

Apakah dikarenakan banjir menurut catatan Plato (9.600SM)?
Ataukah oleh peristiwa bencana Nuh (11.000SM)?

Melalui penelitian ilmiah, semua misteri ini akan segera terungkap… tinggal menunggu waktu…

Artikel Terkait
01. Komunitas Muslim, dari Bani Israil
02. Misteri Leluhur Bangsa Jawa
03. Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta

About these ads

1 November 2010 - Posted by | islam, kanzunQALAM, sejarah | , , , , , , , , , , , , , , , ,

32 Komentar »

  1. Melalui penelitian ilmiah, semua misteri ini akan segera terungkap… tinggal menunggu waktu
    butuh berapa trilin rupiah dan berapa dasa warsa untuk mengungkapnya kang ???

    Komentar oleh yayok | 9 November 2010 | Balas

  2. Untuk Info tambahan di P. Jawa juga ada species Iwak Belido, yang pernah saya lihat di Pasar Tangerang )Prop. Banten)

    Komentar oleh Thoyib A I | 31 Desember 2010 | Balas

  3. Bravo INDONESIA-ku:)!

    Komentar oleh Wawan Bhipanandaman Hikmawan | 31 Desember 2010 | Balas

  4. Saya masih benar2 penasaran dengan Sundaland…

    Komentar oleh Innasya Yudita | 15 Maret 2011 | Balas

  5. Hmm… asyiknya baca sejarah ya seperti ini, karena selalu akan muncul kepingan misteri-misteri baru di setiap kepingan yg terungkap..

    Komentar oleh Kursus PHP | 25 Maret 2011 | Balas

  6. MAAF bukan sundaland ( atlantis ) akan tetapi yang benar adalah ZHUNNDA ( suku nya ) IZZLANLEMURIA ( nama daerah nya )
    jadi INDONESIA bukan lha keturunan ATLANTIS ( ATLANTHEAN ) tapi keturunan LEMURIA.
    itu dapat di lihat dari sikap, sifat dan peradaban nya yang sangat santun dan bersahaja.

    Komentar oleh arkhytirema | 9 Juni 2011 | Balas

  7. Logika Iwak Belido benar, dia salah satu ikan purba yang survive, jadi sesuai teori Natural Selection pada makhluk hidup, maka wajar species itu masih ada di Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Secara Geologi sebelum jaman Plistosen memang ketiga pulau itu menjadi satu sehingga memudahkan gajah dan Pithecantropus bermigrasi. Berdasarkan data citra satelit modern saat ini, di sebelah selat Karimata ke arah laut Tiongkok selatan, Selat Malaka, Laut Jawa kearah Selat Bali dan selat Sunda terlihat alur Sungai Purba, ada 4 sungai dengan muara yang berbeda tapi sebelum Es di Kutub mencair sungai itu berhubungan. Jadi dengan menyatunya 4 sungai sebelum es mencair, maka memungkinkan Iwak Belido “jalan-jalan” di Kalimantan, Sumatra dan Jawa, sangat logis secara Geologi.

    Jika kita anggap Plato benar bahwa benua/pulau Atlantis adalah hilang karena gempa bumi, maka secara geologi gempa bumi berhubungan dengan Sesar Regional / Patahan besar, apalagi jika ada sepasang patahan turun jelas akan menyebabkan blok ditengahnya turun dan bisa ambles di bawah laut, logika ini diketahui Mhs Geologi semester.1, apalagi saya adalah Ahli Geologi (UGM) dengan umur 50 tahun hal itu sudah di luar kepala. Permasalahannya di paparan Sunda tidak ada dan tidak ditemukan adanya Patahan besar di Selat Malaka, selat Karimata/Laut Tiongkok Selatan dan Laut Jawa, hal ini didasarkan pada pengamatan Citra Satelit dan penelitian MIGAS yang sangat intensif di daerah itu. Dengan demikian jika Altlantis benar pernah ada, maka Atlantis bukan di paparan Sunda, karena tidak pernah Ada gempa besar yang seharusnya menghasilkan sepasang patahan turun.

    Sesar Semangko adalah sesar regional dari Lampung-Aceh dengan panjang lebih dari 1000 km, tetapi jenisnya adalah Patahan Geser yang telah terbukti akibat dari dorongan lempeng tektonik Indo-Australia ke Lempeng Asia. tetapi karena tipenya di jajaran P.Mentawai dkk menunjukkan Zona tumbukan (Subduction Zone) maka yang terjadi selain P.Sumatra miring berputar searah jarum jam, fakta lapangan justru menimbulkan daerah yang “naik” berupa jajaran G.Kerinci, G.Marapi . G.Toba purba dll, yang terbentang dari Selat Sunda sampai Aceh jadi patahan geser regional tersebut ada, tapi menghasilkan daerah yang naik, jadi justru bukan daerah yang turun, apalagi ambles di bawah laut logika geologi ini menjadi pegangan utama. Saya tidak mengenal Prof Santos back groundnya apa, juga tidak membacasecara lengkap bukunya karena mengesankan tidak pernah belajar/kuliah Geologi, semoga Prof Santos dari Brazil bukan ahli Geologi, tetapi seandainya beliau ahli geologi maka saya harus memaafkan kesalahan dia yang fatal.

    Tentang banjir nabi Nuh, saya perlu jelaskan bahwa dari Kitab Taurat, Injil dan Al Qur’an, sebagai Ahli Geologi saya tahu betul bahwa banjir itu disebabkan oleh Hujan, beberapa tafsir Al Qur’an menyebutkan dari gletsyer yang mencair dari puncak gunung, jelas berbeda dengan “tenggelamnya” paparan Sunda yang disebabkan Es di Kutub Utara dan Selatan mencair karena suhu di bumi naik. Jadi secara geologi sebetulnya Paparan Sunda, yang dulunya menggabungkan P.Sumatra, Kalimantan dan Jawa sebagai anak benua Asia, sebetulnya tidak pernah turun secara tektonik, tetapi muka air lautnya yang naik sehingga paparan sunda yang rendah terlihat “relatif tenggelam” oleh air laut, akibat Kutub mencair, sekali lagi bukan banjir dari sebab hujan. Hal ini harus dimengerti betul oleh masyarakat awam geologi termasuk Kiai.

    Dari temuan Arkeologi yang masih dikaji terus kebenarannya, maka lokasi ummat Nabi Nuh jika dipetakan dari beberapa pendapat maka berkisar di : Turki, Siria, Irak Selatan, Irak Utara / Kurdistan, Soviet Selatan, jadi karena waktu itu ummat Nuh belum banyak seperti sekarang, dan belum bermigrasi terlalu jauh dari sumbernya, apalagi ke Indonesia jelas belum sampai. Jadi banjir yang terjadi waktu Nabi Nuh secara geologi bersifat lokal atau maksimal regional pada seluruh daerah yang saya sebut diatas. Sedangkan “tenggelamnya” paparan Sunda juga Selat Bering yang memisahkan ujung Uni Soviet dan Kanada juga tempat-tempat lain, penyebabnya adalah mencairnya es di ktutub utara dan selatan dengan sifat banjir kosmopolitan / mendunia, semua daerah rendah di Dunia akan tergenang, kebetulan di paparan sunda muka laut naik sampai maksimal 200 meter, tergantung elevasi awalnya berapa. Jadi saya juga percaya banjir Nabi Nuh pernah ada tetapi regional di daerah Turki dan sekitarnya,,bersifat maksimal regional jadi jangan dicampur dengan banjir kosmopolitan. Asal usul banjir juga hujan akan berbeda dengan banjir oleh mencairnya es di Kutub Utara dan Selatan.

    Berdasarkan data Paleontologi, Cabang geologi yang membahas fosil purba, peristiwa Es di Kutub mencair yang telah “menenggelamkan paparan Sunda” terjadi pada kala Plistosen, yang terjadinya pencairan tidak hanya sekali, minimal puluhan kali bahkan bisa ratusan kali. Kejadian Es mencair dari 1,3 juta tahun SM sampai es mencair yang terahir adalah 600.000 tahun SM kurun waktu yang sangat lama. Pada waktu itu makhluk di bumi yang ada adalah Pithecantropus Erectus, Homo Neandherthal dan Homo Sapien ( Wajakensis, Soloensis, Florensis, Chinensis dll) belum ada, apalagi Nabi Adam belum ada di Bumi. Jadi jangan mengkaitkan banjir Nabi Nuh maupun tenggelamnya Atlantis, Lemuria dengan “tenggelamnya” paparan Sunda yang ketika terjadinya Nabi Adam saja belum ada.

    Demikian penjelasan dari saya sebagai Ahli Geologi Senior, semoga masyarakat awam bisa mendapat manfaat dari penjelasan Ilmiah Geologis yang masuk akal.

    Komentar oleh Agoes Tirto | 19 Juli 2011 | Balas

    • Sebagai tambahan, untuk Validasi keahlian saya sebagai Ahli Geologi anda bisa cek di Portal Alumni UGM atau tanya pada “mbah Google” , Nama asli saya : Agus Karyanantio, Nama Tua : Agoes K.Tirtohardjo, Nama Populer di Dunia Maya : Agoes Tirto, ketiga nama itu orangnya satu, lahir di Situbondo th 1960.

      Komentar oleh Agoes Tirto | 19 Juli 2011 | Balas

      • Salam mas Agus,mau nanya berdasarkan Geologi, kebudayaan Lemurian dan Atlantis adanya sebelum atau sesudah kejadian banjir nabi Nuh? Terimakasih, wassalam.

        Komentar oleh lilik pramono | 21 Agustus 2011

      • Bagi ahli Geologi dan Arkeologi kebudayaan Lemurian dan Atlantis masih sebatas mitos / legenda, tetapi jika ada bukti, ada artefak hasil kebudayaan mereka maka akan menjadi kebenaran sains dan umurnya bisa di dating umur berapa sebelum masehi. Jika nantinya ditemukan bukti autentik hasil kebudayaan Lemurian dan Atlantis, menurut saya kemungkinan besar sebelum periode banjir Nabi Nuh, karena banyaknya bencana alam sekelas ” Atlantis ” menunjukkan periode awal spesies Manusia yang anak cucu Nabi Adam

        Agoes Tirto

        Komentar oleh Agoes Tirto | 22 Februari 2012

    • salam mas agus..!!saya sebagai orang awam tidak tau dengan teori2 ilmuawan tsb……tetapi cerita masyarakat saya(minang kabau) itu disebutkan bahwasanya nenek moyang kami itu turun dari gunung merapi sagadang talua itiak(sebesar telur itik)apa artinya dalam kalimat tersebut….bahasa itupun ditulis dalam tambo minang kabau asli…tlg dipelajari dan cari tau….adat kami besandi syarak,,dan syarak besandi kitabullah….!coba mas agus cari tau….!terima kasih…salam PUTERA MINANG KABAU

      Komentar oleh joe | 16 Mei 2012 | Balas

    • Quote: “Berdasarkan data citra satelit modern saat ini, di sebelah selat Karimata ke arah laut Tiongkok selatan, Selat Malaka, Laut Jawa kearah Selat Bali dan selat Sunda terlihat alur Sungai Purba, ada 4 sungai dengan muara yang berbeda…”
      Menarik sekali, empat sungai dengan empat muara yang mengarah ke Utara (Laut Tiongkok Selatan), Barat (Selat Malaka), Timur (Selat Bali) dan Selatan (Selat Sunda)… Kok seperti deskripsi Taman Eden ya? :)
      By the way, hulu sungainya di mana ya? mungkin di situ Taman Eden nya… :)

      Komentar oleh tabar | 24 Mei 2012 | Balas

  8. salam Mas Agoes Tirto….
    menarik ulasan dan ilmu yang Mas beri.
    tampak lebih tepat dan seiring dengan logika.
    tahniah dan terima kasih.
    salam ukhwah dari Malaysia

    Komentar oleh ikhwan2011 | 28 Juli 2011 | Balas

    • Salam kembali untuk saudaraku sesama muslim dari Malaysia, ada rencana mau buat Blog pribadi yang membahas geologi secara ilmiah populer untuk masyarakat awam dengan topik-topik yang menarik, sekarang masih dalam proses pembuatan Blog, doakan saja cepat selesai.

      Agoes Tirto

      Komentar oleh Agoes Tirto | 17 Agustus 2011 | Balas

  9. apaan sey mpek mpek??? PEMPEK yg bner….!!

    kau tu nulis ma baco bae dak bner…udah tw tulisan.a PEMPEK masi aj dibaca mpek mpek…

    Komentar oleh bee | 1 September 2011 | Balas

  10. tipikal orang indonesia, terutama yg ngaku2 ahli. Kalo ada yg neliti dan penelitiannya super duper brillian bisanya cuma komplen sama nentang :) , Santos dan openheimer kan kelas dunia, Hidup santos! Yg jelas kalo tuh Nabi Nuh pake kapal kayu, emang bisa pake kayu pohon korma, Santos… engkau membukakan mata indonesia ku agar bangkit gak cuma ngabisin uang rakyat nungguin gaji neliti pepesan kosong…

    Komentar oleh indon_omdo | 26 November 2011 | Balas

    • Fahmi Basya >> OpenHeimer >> Santos adalah tiga serangkai yg mengungkap sejarah INDONESIA-ku!!!

      Komentar oleh Laila | 21 Juni 2012 | Balas

  11. Keren analisisnya, masuk akal.

    Komentar oleh akhdan08 | 31 Maret 2012 | Balas

  12. Wallahualam.. hanya bisa menyimak.. hhe

    Komentar oleh Aji | 1 Juni 2012 | Balas

  13. bagus postingan nya ,, bisa dijadikan selingan waktu saya ngajar nih :D

    Komentar oleh Fathoni | 14 Juli 2012 | Balas

  14. mungkin saja banjir nuh itu adalah yang dicatat Plato.

    Komentar oleh bay | 17 Juli 2012 | Balas

  15. Artikel yang menarik sekali untuk dibaca sekaligus direnungkan. Pendapat saya sebagai orang awam dan manusia yang berakal pikiran. Seharusnya kita tidak saling berdebat membenarkan pendapat yang satu dan lainnya. Merujuk pada artikel diatas, bukannya itu semua tidak mungkin. Semua hal didunia ini adalah misteri yang harus dipecahkan bersama-sama dengan akal sehat dan rendah hati. Bicara mengenai penelitan dan teknologinya manusia bukanlah apa-apa dibandingkan yang Maha Mengetahui segalanya yaitu Allah SWT. Namun yang pastinya, manusia dimuka bumi ini pasti ingin meninggalkan jejak sejarah untuk anak cucunya nanti lewat tulisan-tulisan, simbol, maupun benda-benda hasil peradaban mereka pada zamannya. Dan yang pasti, sejarah itu tidak pernah bohong. Kecuali ada orang yang sengaja mengubahnya dengan cara apapun untuk kepentingannya semata. Hormat saya, dan salam ukuwah islamiyah.

    Komentar oleh senimenulis | 12 Agustus 2012 | Balas

  16. Busyet, ahli Geologi UGM saja masih menyangkal! Pak Agus Tirto, pakar Geologi UGM yang lahir di masa orde lama, dan terbiasa dengan doktrin pelemahan mental orde baru, ada satu pertanyaan untuk Anda: selain wilayah dataran rendah Sundaland, yang letaknya tepat di equator yang hangat dan cocok untuk pertanian sepanjang tahun, dan memiliki gunung-gunung yang aktif, adakah wilayah lain di muka bumi ini yang bentuknya seideal dataran Sundaland yang tenggelam oleh naiknya air laut?

    Adakah wilayah dataran rendah yang luas, yang berada di equator, yang memiliki gunung-gunung api aktif dan dekat dengan lautan yang hilang tenggelam? Tenggelam di sini artinya ya tetap tenggelam, orang masa silam bisa saja bilang itu akibat air hujan, air bah, akibat gempa, atau mungkin karena dilaknat Tuhan.

    Maaf, harus saya jawab dulu, jawabannya: TIDAK ADA! Di sepanjang equator di muka bumi, hanya wilayah dataran Sundaland yang sangat ideal untuk tempat tinggal. Wilayah Afrika yang berada di garis equator adalah wilayah benua es. Wilayah Amerika tengah yang ada di equator adalah wilayah sempit yang terjal penuh tebing dengan selimut es di puncaknya. Wilayah dataran luas yang sangat ideal memang hanya Sundaland. Ini fakta, dan seringkali fakta memang menggelikan.

    Dataran Sundaland di masa lampau itu bentuknya, kalau sekarang ini, sama seperti dataran tinggi yang luas yang ada di wilayah Malang, Jawa Timur. Dataran tinggi di Malang, Jawa Timur, adalah sebuah dataran yang berada di antara beberapa gunung. Kondisi di dataran tinggi Malang ini sangat ideal untuk tempat tinggal, suhunya sejuk, dan untuk pertanian juga bagus karena sungai-sungai dari gunung sekitar airnya mencukupi sepanjang tahun. Bisa dibayangkan, wilayah dataran seperti ini kemudian tenggelam akibat luberan air laut dan orang-orangnya berlarian ke dataran yang lebih tinggi, ke gunung-gunung sekitarnya.

    Begitu pula yang terjadi di Sundaland. Orang-orang berlarian ke gunung-gunung, ke wilayah yang lebih tinggi, dan terus berpencar hingga ke Asia tengah, Timur Tengah. Wilayah yang tinggi di masa itu adalah wilayah yang penuh dengan lapisan es, contoh sekarang adalah Himalaya dan Gunung Puncak Jaya di Papua. Sekarang aja yang lautan sudah setinggi ini dan menenggelamkan dataran Sundaland, di puncak Jaya masih ada esnya, apalagi di masa lampau di mana dataran Sundaland masih ada pasti Puncak Jaya benar-benar Gunung Es. Saat es mencair, suhu wilayah yang lebih tinggi dari dataran Sundaland mulai menghangat dan makin lama makin hangat sehingga mereka pun bisa tinggal di sana meninggalkan wilayah equator yang semakin hari dirasa semakin panas.

    Bisa jadi, Nabi Nuh dulunya mungkin juga tinggal di dataran Sundaland! Siapa yang tahu. Ilmu pengetahuan tidak tetap, dia bisa berubah. Dan jika selama 50 tahun ini pengetahuan geologi dianggap sudah tetap maka ini juga perlu diragukan kembali, karena tataran 50 tahun adalah waktu yang sangat pendek bagi hitungan peradaban.

    Mungkin kita perlu menguras lautan dulu agar kita bisa leluasa melihat apa yang ada di bawah dasar laut Jawa sebagai pusat dataran Sundaland itu. Caranya gimana? Kita ikuti saja cara Bikini Bottom, di mana Patrick Star dan Spongebob pernah membuka katup rahasia, yang saat dibuka ternyata itu adalah lubang untuk menguras laut.

    Wallahua’lam Bisawab, kata temanku yang rajin ke ibadah.

    Komentar oleh Bos Besar Sundaland | 11 November 2012 | Balas

  17. Dataran Sundaland adalah surga. Yang disebut surga di sini adalah sebuah tempat yang nyaman untuk ditinggali dengan pemandangan yang indah. Di masa dataran Sundaland belum diluberi air, gunung-gunung yang mengelilingi dataran ini, gunung-gunung yang ada di wilayah Selatan mulai dari Sumatra, Jawa, hingga NTB, puncaknya diselimuti salju. Sisa-sisa saljunya masih ada di masa kini, salah satunya di Puncak Jaya Papua.

    Bisa dibayangkan indahnya, saat ini saja yang suhu equator sudah sepanas ini, masih ada salju di sana. Apalagi jika kembali saat di masa dataran Sundaland masih ada, pasti pemandangannya seperti di Swiss. Gunung-gunung berselimut salju, membuat dataran Sundaland sejuk, sungai-sungai besar mengalirkan air yang jernih dan berlimpah. Areal pertanian begitu maju dengan luas dataran Sundaland yang cukup luas di sepanjang dasar laut Jawa sekarang. Hutan-hutan tropis terlihat indah. Sementara wilayah-wilayah yang jauh dari equator merupakan wilayah yang ekstrem, karena hampir seluruhnya tertutup salju.

    Kita harus ingat, saat itu suhu equator yang sepanjang tahun disinari matahari saja masih terasa dinginnya dan sejuk, apalagi wilayah yang jauh seperti dataran China atau bahkan mungkin Rusia. Di sana orang pakai koteka akan mati beku. Dan Sundaland adalah surganya kehidupan dan budaya di masa itu.

    Saat suhu mulai meninggi, maka perlahan-lahan air laut meninggi, salju-salju di puncak gunung-gunung tropis mulai mencair. Wilayah-wilayah yang jauh dari equator yang awalnya suhunya beku mulai menghangat. Saat air laut makin meninggi, orang-orang pun berlarian ke wilayah-wilayah yang lebih tinggi sekaligus ke wilayah yang lebih sejuk, dan terjadilah proses penyebaran kebudayaan itu.

    Kitab suci bilang: “Adam diturunkan ke bumi dari surga!” Ini adalah sebuah ungkapan proses perpindahan manusia dari dataran surga Sundaland ke wilayah-wilayah lain. Nabi adam memang belum ada, tapi budaya di dataran Sundaland itu sudah ada. Kita juga harus tahu, bahwa kitab-kitab suci agama itu ditulis dengan teknik penceritaan yang berlapis-lapis maksud. Kita bisa saja mengartikan secara literally, tapi juga beyond literally.

    Bahwa di masa itu hanya ada satu dataran yang begitu idelanya yang sekarang dinamakan Sundaland maka ini adalah fakta. Pertanyaannya tetap: Adakah dataran yang begitu luas dikeliilngi gunung es di wilayah equator yang sepanjang tahun disinari matahari selain dataran Sundaland?

    Silahkan dicari, dengan ilmu apa saja yang sudah banyak memiliki ahli-ahli. Tapi kalau ternyata masih saja belum ditemukan tandingannya, tidak ada duanya di masa itu, maka sudahlah jangan terlalu banyak ngerumpi pakai bawa-bawa ilmu pengetahuan segala. Surga itu ada di Indonesia, bukan ditempat lain. Sekarang pun, di masa suhu bumi makin panas ini pun, keragaman hayati Indonesia adalah yang terbaik di dunia! Belum ditambah wilayah Malaysia, yang dulunya jadi satu wilayah dataran Sundaland. Masih ada yang pingin menyangkal fakta sederhana ini?

    Hadeh….

    Komentar oleh Bos Besar Sundaland | 11 November 2012 | Balas

    • saya tidak ingin menyangkal pendapat anda,
      saya yakin anda lebih mengetahui bidang arkeologi seperti yang anda uraikan diatas.
      yang menjadi pertanyaan saya adalah,
      apa dasar dari tulisan anda bahwa sundaland itu memang benar – benar pernah ada. dan lagi apakah benar di masa itu nama dari sundaland benar – benar disebut sundaland..?? atau mungkin sumber anda sendiri yang memberi nama.

      sepertinya sundaland ( yang anda ceritakan itu ) bagian dari nusantara.
      yang saya tahu, pembicaraan tentang atlantis ( menurut anda sundaland ) hanya diperbincangkan oleh plato di yunani, & itupun jaraknya amat sangat jauh dari nusantara, apakah perbedaan jarak tersebut tidak menjdi pertimbangan, bahwa bukan hanya nusantara yang ideal disebut atlantis di masa itu ataupun di masa ini.

      oke, kita membahasa soal kekayaan hasil alam,
      tapi di dunia ini bukan hanya nusantara, satu – satunya daratan bukan..??
      ketika anda menjelaskan ondisi geografis,

      come on. pergerakan lempeng tektonik itu berdasarkan teori chaos, seperti halnya pergerakan galaksi, who know..??
      saya tantang anda untuk mencoba jabarkan periode waktu lempeng tektonik tersebut menjadi sebuah daratan sundaland.
      dan kita lihat dari matematis, berapa eror yang anda ciptakan
      semoga ini bisa menjadi pemikiran kita bersama
      sederhananya
      saya hanya ingin tahu sumber anda dari mana :)

      Komentar oleh Andy Ishtar's | 21 Desember 2012 | Balas

      • smiley

        Komentar oleh kikuk | 13 Agustus 2013

  18. Teori Iwak Belido ini sama dengan teori Kanguru Nyasar. Saat kita naik pesawat terbang ke arah Australia, kita sering berpapasan dengan pesawat lain, di udara, yang di ekornya terdapat gambar Kangguru melompat. Gambar ini selalu ada di setiap ekor pesawat flag-carier Australia yang menganggap bahwa Kangguru adalah hewan endemik benua itu. Namun sebenarnya Kangguru juga ada di Papua, sebuah wilayah yang masuk wilayah administratif Negara Kesatuan Republik Indonesia. Orang pasti bertanya, siapa yang membawa Kangguru itu ke Papua?

    Tidak perlu jauh-jauh Kangguru, suku Aborigin sebenarnya juga merupakan suku asli Papua. Siapa yang menyuruh suku Papua pindah ke Australia dan menamakan dirinya Aborigin?

    Saat di masa air laut masih berada di bawah dataran Sundaland, ada pula dataran yang tidak terendam yang menghubungkan Australia dan Papua. Dataran ini serupa dengan dataran Sundaland. Seluruh suku Papua dulunya juga tinggal di wilayah dataran yang luas antara Papua dan Australia, termasuk Kangguru. Saat terjadi peluapan air laut maka komunitas kehidupan di dataran antara Papua dan Australia itu berpencar naik ke wilayah yang lebih tinggi, sebagian ke Papua dan sebagian ke Australia, Kangguru juga ikut lari menjauh dari air sebagian ke Papua dan sebagai ke Australia.

    Komunitas peradaban suku asli Papua dan orang-orang yang tinggal di dataran Sundaland sudah bertetangga sejak lama, sehingga penyatuan wilayah ke dalam Negara Kesatuan Repulbik Indonesia sebenarnya juga simbolis kebesaran peradaban di masa Sundaland berjaya. Dataran Sundaland dan dataran Selat Darwin hanya dibatasi oleh laut kecil di sepanjang Maluku yang berbentuk cekungan dari atas ke bawah, ini seperti saat kita berada di Singapura melambaikan tangan ke Malaysia, atau seperti orang Banyuwangi berteriak ke pacarnya yang ada di Bali lewat selat Bali.

    Sekarang Australia yang dikendalikan oleh orang bule Eropa seperti lebih memiliki sejarah di kawasan ini dan mencoba untuk sesekali memaksakan kehendak. Mereka adalah tamu, dan akar budaya peradaban di kawasan ini akan menjadi miliki wilayah kawasan ini sendiri.

    Akar peradaban yang besar itu tidak akan benar-benar hilang. Yang namanya akar, yang sudah bertahan sangat lama, akan tumbuh berkembang, menampilkan kisah masa lampaunya kembali di kemudian hari. Indonesia, negara lain suka atau tidak, akan tumbuh besar mengulang kisah sejarah kebesaran peradaban Sundaland. Pemakaman peradaban raksasa di bawah dasar laut jawa itu masih dilingkupi gejolak supranatural, yang akan memberikan pengaruh-pengaruh positif tentang keinginan para leluhur yang berlum terpenuhi di masa hidupnya di masa lampau: kemajuan dan kebesaran harus kembali ke akarnya dan pemiliknya. Dan karena yang tinggal di wilayah angker dan mistis ini adalah sekarang bernama Indonesia, maka negeri ini akan melesat jauh melampau apa yang pernah dibayangkan oleh orang-orang penjajah sekaliber VOC yang gak jelas asal-usulnya.

    Cerita kebesaran kerajaan di masa sekedar ratusan tahun silam adalah cerita “sederhana”, tidak lebih dari teaser atau opening credit tittle kalau diibaratkan sebuah film. Namun cerita yang sebenarnya belum digali. Kutukan dataran Sundaland itu akan mengenai seluruh kehidupan negeri ini. Wilayah Papua yang masuk ke dalam wilayah NKRI akan lebih maju dan makmur dari yang masuk wilayah Papua Nugini. Hak-hak warga suku Papua yang masuk wilayah NKRI akan lebih dihormati oleh negara jika dibandingkan dengan hak-hak warga Aborigin di Australia. Ini akan terjadi karena kita sudah bertetangga erat bahkan sejak jaman es!

    Seluruh jiwa dan raga para leluhur Sundaland yang terbenam hanyut di dasar laut Jawa akan membimbing siapa pun manusia yang memimpin di wilayah ini, siapa pun negaranya yang berada di wilayah ini. Indonesia akan jadi mercusuar dunia! Arah kiblat akan mengarah ke Indonesia. Orang-orang yang dulunya ke luar lari dari wilayah dataran Sundaland akibat air bah, dan berpencar ke wilayah-wilayah yang lebih tinggi akan merasakan kerinduan yang sangat besar terhadap negeri ini, negeri kita ini! Perubahan peradaban di masa depan mungkin tidak dalam bentuk terjadinya pembekuan seperti di jaman es, tapi bisa juga dalam bentuk lain.

    Di jaman es, dataran Sundaland menjadi surga tempat hidup yang baik karena letaknya di equator dan disinari matahari sepanjang tahun. Di masa sekarang, kebutuhan hidup, mulai dari sumber daya alam maupun produk-produk non sumber daya alam hingga kebutuhan tenaga kerja TKI, bisa jadi akan dipasok lebih besar oleh Indonesia. Indonesia akan dipandang sebagai sebuah tempat di mana negara lain pun bahkan sangat menginginkan kita untuk menyampaikan pendapatnya untuk permasalahan yang mereka hadapi. Di masa jaman es, negeri ini dikenal sebagai negeri yang hangat. Di masa sekarang, “kehangatan” itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih luas maknanya. Dan ini akan terlihat lebih jelas lagi beberapa dekade ke depan. Untuk sekarang biarlah yang kita lihat hanyalah titik-titik momentum yang menjadi dasar batu pijakan untuk memulai semua kisah kebesaran Sundaland itu: masuk G-20, ekonomi kita mengalahkan Belanda dan Spanyol tidak lama lagi, komunitas muslim terbesar di dunia yang sekaligus negara demokrasi terbesar dunia. Ini hanya pembuka saja.

    Orang Jawa Timur boleh mengangungkan Majapahit. Orang Sumatra boleh mengagungkan Sriwijaya. Orang Kalimantan boleh mengagungkan Kutai. Orang Papua boleh mengangungkan raja-raja dan suku-sukunya. Yang menyatukan kebesaran loka itu semua adalah ruh para leluhur Sundaland dan leluhur dataran Papua yang juga terendam air bah di selat Darwin. Akan terbentuk sebuah perwujudan yang lebih besar dan sifatnya global, melebihi sekedar batas wilayah negara di timur Papua atau di utara Kalimantan. Sebuah batas yang tidak terhingga dan TNI tidak perlu mengirim tank Leopard untuk menjaganya. Batas-batas yang tidak akan pernah bisa dijajah oleh siapa pun, karena ini sudah tercetak di lempeng muka bumi, sudah diukir secara geologis oleh kekuatan yang maha besar.

    Negeri ini mungkin tidak hanya memperingati tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan sebagai sebuah bangsa, tapi perlu pula sebuah ritual nasional tabur bunga dan berkabung di atas laut Jawa dan di atas laut selat Darwin sebagai pernghormatan bagi peradaban yang tenggelam itu! Mereka iklas wilayah dataran itu harus digenangi air yang serupa gunung tingginya: “Biarlah anak-anakku menyelamatkan diri dan berpencar bersama anak-anak yang lainnya ke seluruh muka bumi, ke tempat-tempat yang tinggi dan beranak pinak di sana. Kelak, di waktu yang dekat maupun di waktu yang sangat lama, mereka akan kembali ke tempat ini dan mengerti bahwa peradaban yang mereka kenal selama hidupnya bermula dari sini. Mereka akan kembali dan berkhidmat ke pangkuan ibu pertiwi!”

    Komentar oleh Bos Besar Sundaland | 12 November 2012 | Balas

  19. Ada yang lupa, hehe….

    Indonesia saat ini adalah penyuplai oksigen terbesar dunia! Sebagian besar hutannya sepanjang tahun mendapat sinar matahari secara penuh dan ini memberikan suplai oksigen dalam jumlah besar yang global itung-itungannya. Jika kita stress dan menebangi seluruh hutan di di wilayah tropis equator ini, maka dunia akan kolaps!

    Ini bukti kecil, atau bisa pula disebut simbolisasi, betapa di masa sekarang pun lingkungan kehidupan global itu sangat membutuhkan wilayah yang disebut Indonesia. Simbolisasi tentang masa silam pula, betapa wilayah dataran Sundaland itu juga menjadi sebuah wilayah yang menyediakan tempat hidup yang sangat global sifatnya.

    Tapi, entahlah…. bahkan bukti yang terlihat nyata sekalipun masih menimbulkan pertentangan dan sengketa keilmuan. Memang hanya waktu yang akan membuka lembar-demi-lembar apa yang sebenarnya pernah terjadi di masa silam. Only time, kata penyanyi cantik Enya.

    Beda lagi kata Patrick Star (hard headed friend of spongebob), dia punya semangat di pagi hari dan selalu memekikkannya laksanan perintah perang: “It’s time to ruin humanity? Dont start without me!”

    Komentar oleh Bos Besar Sundaland | 12 November 2012 | Balas

  20. sudaland = tanah sunda….apa berkaitan juga dengan kerajaan siliwangi yang hilang???ah bingung…….

    Komentar oleh leonidas | 30 Juli 2013 | Balas

  21. tah…bener pisan…kalo sunda mah sama kerajaan padjajaran dan siliwangi..ateuhlah…tapi..katanya kalo sudaland mah emang pecahan sumatra island jawa dan sunda..tanya weh ke bung indiscus..gera.

    Komentar oleh cetar | 18 September 2013 | Balas

  22. otak kanan vs otak kiri

    Komentar oleh pantura | 15 Desember 2013 | Balas

  23. Mungkinkah ES ITO lewat novelnya mendekati kebenaran…?

    Komentar oleh Arifman Hulu Koai Lojin | 18 Februari 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: