Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Catatan Silsilah Al-Imam Ali Zainal Abidin (dari Zuriat Rasulullah, Kaisar Gao-Zu, Cyrus II of Persia, sampai keturunan Bani Israil)

Kita mengenal gelar-gelar seperti Habib, Sayyid, Syarif atau Maulana Sayyid… Gelar-gelar tersebut merupakan salah satu ciri Kaum Alawiyyin, keturunan Ali Zainal Abidin bin Hussain bin Fatimah binti Muhammad Rasulullah

Riwayat Ali Zainal Abidin

Ketika Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah binti Muhammad Rasulullah), memegang amanah ke-khalifahan, beliau menikahkan al-Husein puteranya, dengan seorang puteri Yazdigird, Kisra terakhir kekaisaran Persia yang bernama Shahrbānū. Dari perkawinan inilah Ali Zainal Abidin dilahirkan.

Ali Zainal Abidin, setelah dewasa dijuluki as-sajjad, karena banyaknya bersujud. Sedang gelar Zainal Abidin (hiasannya orang-orang ibadah) karena beliau selalu beribadah kepada Allah SWT. Bila akan shalat wajahnya pucat, badannya gemetar. Ketika ditanya: Mengapa demikian? Jawabannya: “Kamu tidak mengetahui di hadapan siapa aku berdiri shalat dan kepada siapa aku bermunajat”.

alizainal

Ali Zainal Abidin dilahirkan di kota Madinah pada tahun 33 H, atau dalam riwayat lain ada yang mengatakan 38 H. Beliau adalah termasuk generasi tabi’in.

Beliau banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya (Al-Imam Husain), pamannya Al-Imam Hasan, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairah, Shofiyyah, Aisyah, Ummu Kultsum, serta para ummahatul mukminin/isteri-isteri Nabi SAW.

Mengenai beliau, beberapa Ulama berpendapat :
Yahya Al-Anshari berkata, “Dia (Al-Imam Ali Zainal Abidin) adalah paling mulianya Bani Hasyim yang pernah saya lihat.” Zuhri berkata, “Saya tidak pernah menjumpai di kota Madinah orang yang lebih mulia dari beliau.” Hammad berkata, “Beliau adalah paling mulianya Bani Hasyim yang saya jumpai terakhir di kota Madinah.” Abubakar bin Abi Syaibah berkata, “Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari Az-Zuhri dari Ali dari Al-Husain dari ayahnya dari Ali bin Abi Thalib.”

Amalan terkadang dilakukan secara tersembunyi. Setelah wafat, barulah orang-orang mengetahui ternyata beliau, memikul tepung dan roti dipunggungnya guna dibagi-bagikan kepada keluarga-keluarga fakir miskin di Madinah.

Beliau meninggal di kota Madinah pada tanggal 18 Muharrom 94 H, dan disemayamkan di pekuburan Baqi’, dekat makam dari pamannya, Al-Imam Hasan. Beliau wafat dengan meninggalkan 11 orang putra dan 4 orang putri. Adapun warisan yang ditinggalkannya kepada mereka adalah ilmu, kezuhudan dan ibadah.

Sumber :  Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib dan IMAM ALI ZAINAL ABIDIN

Catatan Silsilah Ali Zainal Abidin

Selain terhitung sebagai cicit Rasulullah, Ali Zainal Abidin melalui jalur ibunya, terhitung keturunan Kaisar Gao-Zu, Pendiri Dinasti Tang

Ali Zainal Abidin bin Shahrbānū (Shahr Banu, شهربانو, menikah dengan Imam Husein) binti Yazdigird III Sásání, King of Persia (16 June 632-651) bin Princess dau. Gao-Zu (menikah dengan Sharíyár Sháh of Persia) binti Emperor Gāozǔ of Táng (566 – June 25, 635) atau Lǐ Yuān (李淵), Pendiri Dinasti Tang

Sumber : Silsilah garis perempuan para Alawiyyin Al-Husaini ke para tokoh sejarah China Kuno

Ali Zainal Abidin, juga terhitung sebagai keturunan Cyrus II “The Great”, yang oleh sebagian kalangan, dianggap sebagai Zulqarnain (QS. Al Kahfi (18) ayat 83-98, kunjungi : Menemukan Zul-Qarnain, dalam Sejarah), bahkan menyambung juga kepada Nabi Daud (David [1st King] of Judah and Israel)…

Ali Zainal Abidin bin Shahrbānū (Shahr Banu, شهربانو, menikah dengan Imam Husein) binti Yazdigird III Sásání, King of Persia (16 June 632-651) bin Sharíyár Sásání, Sháh of Persia bin Khusraw II (Parvez) 22nd Sásání king of Persia bin Hormizd IV 21st Sásání king of Persia bin Khusraw I of Persia bin Kavadh I of Persia bin Firuz II of Persia bin Yazdagird II of Persia bin Bahram V of Persia bin Yazdagird I of Persia bin Shapur III of Persia bin Shapur II “The Great” of Persia bin Ifra Hormuz binti Vasudeva of Kabul bin Vasudeva IV of Kandahar bin Vasudeva III of Kushans bin Vasudeva II of Kushans bin Kaniska III of Kushans bin Vasudeva I of Kushans bin Huvishka I of Kushans bin Kaniska of Kushanastan bin Wema Kadphises II of Kunhanas bin Princess of Bactria binti Calliope of Bactria binti Hippostratus of Bactria bin Strato I of Bactria bin Agathokleia of Bactriai binti Agathokles I of Bactriai bin Pantaleon of Bactria bin Sundari Maurya of Magadha (menikah dengan Demetrios I of Bactriai*), keturunan Raja Iskandar (Alexander III “The Great” of Macedonia)) binti Princess of Avanti (menikah dengan Brihadratna Maurya of Magadha**), keturunan King Ashoka) binti Abhisara IV of Avanti bin Abhisara III of Pancanada bin Abhisara II of Taxila bin Abhisara I of Taxila bin Rodogune Achaemenid of Persia binti Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Artaxerxes I of Persia bin Xerxes I “The Great” of Persia bin Atossa of Persia (menikah dengan Darius I of Pesia***), keturunan Bani Israil) binti Cyrus II “The Great” of Persia

Sumber :  The PEDIGREE of, Cyrus II `the Great’ (1st Shah) of PERSIA

Susur Galur dari Raja Iskandar (Alexander III of Macedonia)
*) Demetrios I of Bactriai bin Berenike of Bactria binti Princess of Syria binti Laodice I of Syria bin Aesopia the Perdiccid of Macedonia binti Alexander III ”The Great” of Macedonia

Susur Galur dari King Ashoka
**) Brihadratna Maurya of Magadha bin Dasaratha of Magadha bin Kunala of Taxila bin King Ashoka (Asoka) Vardhana

Susur Galur dari Nabi Daud (Bani Israil)
***) Darius I of Persia bin Meshar binti Salathial bin Tamar binti Johanan bin Josias bin Amon bin Manasses bin Ezechias bin Achaz bin Joatham bin Uzziah bin Amaziah bin Joash bin Ozias bin Jehoram bin Jehoshapat bin Asa bin Abia bin Roboam bin Nabi Sulaiman bin Nabi Daud (David [1st King] of Judah and Israel)

Apa yang dilakukan oleh Imam Ali ra., dengan menikahkan puteranya Al Hussain, dengan Shahrbānū, memberi teladan kepada kita, bahwa permasalahan kebangsaan, bukan suatu halangan, dalam membangun mahligai rumah tangga.

Sungguh sangat menyedihkan, apabila ada sekelompok masyarakat yang memandang “Keutamaan Nasab Keturunan”, sebagai syarat sebuah pernikahan. Dan yang lebih membingungkan, hal tersebut juga terjadi pada sebagian keturunan Al-Imam Ali Zainal Abidin. Padahal satu-satunya barometer, bagi umat muslim dalam memilih pasangan hidup adalah taqwa.

Sebagaimana ketika, Imam Ali bin Abi Thalib ditanya tentang pernikahan se-kufu’, beliau menjawab:
“Semua manusia kufu’ satu dengan yang lainnya, baik Arab dengan Ajam, Quraisy dengan Hasyim, dengan syarat mereka sama-sama Islam dan beriman.”

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Lainnya…
01. Kufu’ dalam Nikah, adalah Perkara dien
02. Rasulullah, keturunan ke-61 dari Nabi Ismail
03. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara

About these ads

5 Mei 2011 - Posted by | islam, kanzunQALAM, sejarah | , , , , ,

23 Komentar »

  1. AHLUL BAIT, CELAH ANTARA SUNNI DAN SYIAH

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, dan ada anak lelaki pula, wah masalah pewaris tahta ‘ahlul bait’ akan semakin seru dan hebat.

    Mungkin inilah salah satu mukjizat atau hikmah, mengapa Saidina Nabi Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai usianya dewasa dan berketurunan?. Pasti, perebutan waris tahta ahlul baitnya akan semakin dahsyat.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    Ya jika Saidina Hasan dan Husein saja bukan Ahlul Bait, pastilah anak-anaknya dan keturunan berikutnya otomatis bukan pewaris Ahlul Bait, mereka murni adalah bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib.

    Dengan demikian sudah waktunya kita menutup debat dan perbincangan masalah Ahlul Bait ini. Fihak-fihak baik kelompok sunni, habaib maupun kelompok syiah yang selama ini saling mengklaim bahwa mereka adalah keturunan ahlul bait itu, sebenarnya ridak ada haknya sebagai pewaris ahlul bait akibatnya telah menimbulkan peruncingan hubungan sesama Muslim.

    Komentar oleh elfan | 28 Oktober 2011 | Balas

    • geram rasenye membaca komen saudara..sila tambah ilmu saudara…banyk buku2 yg menceritakan dr mana asal usul syed/syarifah/sharif…inilah yg Baginda SAW risaukan..selepas kewafatan nya,ramai yg akan mengganggu keturunannya…jgnlah dihina mereka kerana iri hati dengan kelebihan yg ada…
      sila baca…..

      “Yang pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi SAW tidak meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu Qasim, Thahir, Thaib dan Ibrahim meninggal di waktu kecil.
      Sebagai seorang manusia yang berperasaan halus, beliau ingin mendapat anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (nasab) beliau. Beliau hanya mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Rugayyah, Ummu Kaltsum dan Fathimah. Zainab memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal dalam keadaan masih menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kaltsum mati muda. Keduanya istri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kaltsum (ganti tikar). Ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau.

      Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fathimah adalah Ali bin Abi Thalib. Abi Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun.

      Cucu laki-laki itu ialah Hasan dan Husain. Maka dapatlah kita merasakan, Nabi sebagai seorang manusia mengharap anak-anak Fathimah inilah yang akan menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah kasih sayang dan cinta beliau kepada cucu-cucu ini. Pernah beliau sedang ruku’ si cucu masuk kedalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau sujud si cucu berkuda keatas punggungnya. Pernah sedang beliau khutbah si cucu duduk ketingkat pertama tangga mimbar.
      At Tarmidzi merawikan dari Usamah bin Zaid, bahwa dia (Usamah) pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk diatas kedua belah paha beliau. Lalu beliau Saw berkata: “ Kedua anak ini adalah anakku, anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan, aku sayang kepada keduanya”.

      Dan diriwayatkan oleh Bukhari dari Abi Bakrah, bahwa Nabi pernah pula berkata tentang Hasan: “Anakku ini adalah Sayyid (tuan), moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum Muslimin yang berselisih”.

      Nubuwat beliau itu tepat, karena pada tahun 60 Hijriah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah, karena tidak suka melihat darah kaum Muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 H ini dinamai “Tahun Persatuan”. Pernah pula beliau berkata: “Kedua anakku ini adalah SAYYIDA (Dua Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga kelak”.
      Barang kali ada yang bertanya: ‘Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husain itu cucunya, mengapa dikatakannya anaknya?”.

      Ini adalah pemakaian bahasa pada orang Arab, atau bangsa-bangsa Semit. Di dalam Al-Quran Surat ke-20 (Yusuf) ayat 6, disebutkan bahwa Nabi Ya’qub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ni’matnya kepada putranya, Yusuf, sebagaimana telah disempurnakannya ni’mat itu kepada kedua bapak sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishaq. Padahal yang bapak atau ayah dari Yusuf adalah Ya’qub. Ishaq adalah neneknya dan Ibrahim adalah nenek ayahnya. Diayat 20 (Yusuf): “Bapak-bapakmu Ibrahim dan Ishaq dan Ya’qub”. Artinya nenek-nenek moyang disebut bapak, dan cucu-cicit disebut anak-anak.
      Menghormati keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh ummat Muhammad menghormati mereka. Tidak pun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya, Bani Hasyim dan keturunan Hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya dihati kaum Muslimin.
      Bagi Ahli-Sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain dipanggilkan orang SAYYID, kalau untuk banyak SADAT. Sebab Nabi mengatakan “Kedua anakku ini menjadi SAYYID (Tuan) dari pemuda pemuda di Syurga”. Disetengah negeri disebut ‘SYARIF”, yang berarti orang mulia atau orang berbangsa, dan kalau banyak “ASYRAF”.
      Yang hormat berlebihan sampai mengatakan Hasan dan Husain tidak pernah berdosa (Ma’shum) adalah kaum Syiah.

      Menjawab pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul (Sholeh Alhamid) keturunan Rosululloh Saw?. Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun kerajaan banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi raja di Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah bangsa Sayid Al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa Sayid Bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi ulama.

      Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqoddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal ialah keluarga Alatas, Assegaf, Alkaf, Bafagih, Bilfaqih, Alaydrus, Bin Syeih Abu Bakar, Alhabsyi, Alhaddad, Bin Smith, Bin Syahab, Alqadri, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Albar, Almusawwa, Ghathmir, Bin Agil, Al-Hadi, Basyaiban, Bamakhromah, Ba’abud, Bin Syaikhan, Azh-Zhahir, Bin Yahya dan lain lain. Yang menurut keterangan almarhum Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab telah berkembang menjadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah keturunan dari Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir.

      Ahmad bin Isa Al-Muhajir lillah inilah yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad bin Isa Al-Muhajir bin Muhammad Al-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husain As-sibthi bin Ali bin Abi Thalib. As-Sibthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathimah binti Rosulillah SAW.
      Sungguhpun yang terbanyak adalah keturunan Husain dari Hadramaut itu, ada juga yang berketurunan Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan Syarif-Syarif Makkah, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut.

      Selain dipanggilkan Tuan Sayid, mereka dipanggilkan juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Serawak dan Sabah disebut TUANKU. Di Pariaman (Sumatra Barat) disebut SIDI.
      Mereka telah tersebar di seluruh dunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baghdad (Iraq), Syam (Syria) dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36-37-38 silsilahnya sampai kepada Sayyidina Ali dan Fathimah.

      Maka baik Habib Tanggul ( Sholeh Alhamid ) di Jawa Timur dan almarhum Habib Ali ( Alhabsyi ) di Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut itu, dan Ahmad bin Isa Al-Muhajir tersebut adalah cucu ke 6 (7) dari cucu Rosululloh, Husain bin Ali bin Abi Thalib. Kepada keturunan-keturunan itu semuanya kita berlaku hormat dan cinta.

      Kepada mereka Rosululloh Saw berpesan: “Janganlah sampai orang lain datang kepadaku dengan amalnya, sedang kamu datang kepadaku dengan membawa Nasab dan keturunan kamu”.
      Rosululloh Saw juga bersabda; “Andaikata Fathimah putri Muhammad mencuri, niscaya kupotong tangannya”.

      Sebab itu kita ulangilah seruan dari seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu Sayid Muhamad bin Abdurrahman bin Syahab, agar generasi generasi yang datang kemudian dari turunan Alawy memegang teguh agama Islam, menjaga pusaka nenek moyang, jangan sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan tetap memelihara kecintaan dan hormat Ummat Muhammad kepada mereka.

      Komentar oleh pencinta ahlulbayt.. | 15 Desember 2011 | Balas

      • Dan diriwayatkan oleh Bukhari dari Abi Bakrah, bahwa Nabi pernah pula berkata tentang Hasan: “Anakku ini adalah Sayyid (tuan), moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum Muslimin yang berselisih”.
        Semoga Atsar diatas cukuplah bagi kita tentang keutamaan ahlul bait khususnya Sayidina HAsan bin Ali Ra. karena di hadist yang lain juga diceritakan bahwa kelak dari keturunan Hasan bin Ali Ra. akan lahir manusia pilihan, Panglima Mujahidin Akhir Zaman , Imam yang mendapat petunjuk yaitu Muhammad bin Abdulloh Al Imamul Al-Mahdi Al Muntazar.
        Semoga Alloh menjaga keturunan Hasan bin Ali Ra. dari berbagai fitnah dunia. dan sesuai dengan sabda BAginda Rasululloh SAW. bahwa calon imam akan keluar dari kota madinah menuju Kabbah Mekkah. disanalah beliau “Imam mahdi” akan dibaiat.
        jelaslah bagi kita bahwa keturunan Hasan bin Ali Ra. kelak yang akan dibaiat menjadi imam kaum muslimin, dimana sang imam akan membersihkan kembali agama islam dari penyimpangan-penyimpangan.
        dan dari bani tamim akan muncul pasukan mujahidin yang akan dipimpin oleh Panglima Syuaib bin Sholeh dan akan menjadi pasukan tentara mujahidin untuk mendukung imam mahdi menegakkan kekhalifahan islam akhir zaman.
        muhammad abdul aziz attamimi.
        pecinta ahlul bait ahlus sunah wal jamaah.

        Komentar oleh Abdel Aziz At-Tamimi | 29 Oktober 2013

  2. Alhamdulillah, Islam itu indah dan benar sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri. Fitrah itu tertanam dalam hati sanubari manusia sebagai sebab akibat ‘ikrar suci’ hamba-Nya yang Maha Lemah, manusia (QS. 7:172). Ikrar ini menunjukkan keberadaan manusia itu sama dihadapan Tuhan, Allah SWT dan Tuhan sendiri tidak pilih kasih walaupun dia keturunan apa. Karena itu dalam Islam tidak ada diskriminasi antara satu orang atau satu kelompok dengan kelompok lainnya, dinilai derajat ketakwaan seseorang.

    Salah satu kegagalan dari keturunan Yahudi ya karena mereka menganggap ‘diri atau kelompok’-nya lain daripada kelompok lain, ya merasa mereka lebih dekat dan bahkan merasa lebih dikasih oleh Tuhan, Allah SWT dari manusia atau kelompok lain yang bukan seketurunannya (QS. 62:6). Nah, kalau saat ini setelah era Nabi Muhammad SAW masih ada kelompok seperti kaum Yahudi ini, katakanlah masih ada yang ngaku ‘keturunan’ nabi apalagi rasul atau Ahlul Bait dsb. jelas ini tak sesuai lagi dengan maksud kedatangan dan misi Islam itu sendiri. Karena itu dalam Al Quran tidak kita temukan istilah ‘keturunan’ nabi apalagi rasul, yang ada hanya keturunan Ibrahim, keturunan Adam, keturunan Ishak dsb. (QS. 19:58).

    Komentar oleh elfan | 24 Desember 2011 | Balas

  3. Masyaallah! Hebat nya kuasa allah ta’ala. Subhanallah!

    Komentar oleh Si pari-pari | 12 Januari 2012 | Balas

  4. Imam Ali Zainal Abidin berpidato Di Hadapan Yazid

    Lalu Imam Ali Zainal Abidin as naik mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, beliau berkata, “Wahai manusia, kami telah diberi enam perkara dan diunggulkan dengan tujuh perkara; kami diberi ilmu pengetahuan, kesantunan, kedermawanan, kefasihan bicara, keberanian, dan kecintaan di hati-hati kaum mukmin.

    “Kami telah diunggulkan…… karena di antara kami terdapat Nabi yang termulia, Ali As-Shiddiq yang tepercaya, dan Ja‘far At-Thayyar yang terbang. Pada kamilah Singa Allah dan Singa Rasul-Nya. Pada kamilah penghulu segenap kaum wanita, dan pada kami pulalah dua cucu mulia umat ini.

    “Wahai manusia, barangsiapa mengenalku, maka sungguh dia telah mengenalku, dan barangsiapa tidak mengenalku, akan kuperkenalkan asal-usul keturunanku.

    “Aku adalah anak dari Makkah dan Mina (Nabi Ibrahim as). Aku adalah anak air sumur Zamzam dan Shafa (Nabi Ismail as). Aku adalah anak dari orang yang telah diisra’-mikrajkan dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Aku adalah anak dari orang yang ditemani Malaikat Jibril ke Sidratul Muntaha (Nabi Muhammad saw). Aku adalah anak dari orang yang dekat dan didekatkan sehingga berada di antara dua sisi atau lebih dekat lagi. Aku adalah anak Muhammad Al-Musthafa. Aku adalah anak Al-Murtadha.”

    Mulailah Imam Ali Zainal Abidin as menyebutkan silsilah keturunannya yang suci, sampai menjelaskan tragedi pembantaian di Karbala secara rinci. Para hadirin terkejut menyimak kenyataan yang sebenarnya terjadi sehingga ruangan itu bergemuruh dengan isak tangis mereka.

    Yazid khawatir akan terjadi perubahan yang merugikan dirinya. Segera dia memberi isyarat kepada muazin untuk mengumandangkan azan guna memotong pembicaraan Imam as.

    Muazin mengumandangkan, “Asyhadu alla ilaha illallah.”

    Imam lalu berkata dengan khusyuk, “Aku bersaksi dengan darah dan dagingku.”

    Ketika muazin mengumandangkan, “Asyhadu anna Muhammadan Rrasulullah.”

    Imam as menoleh ke Yazid dan berkata kepadanya, “Muhammad ini, apakah kakekku atau kakekmu? Jika kau katakan bahwa dia adalah kakekmu, maka engkau telah berdusta. Tetapi, jika kau mengakuinya sebagai kakekku, lalu mengapa engkau membunuh keturunannya?”

    Kaum muslimin menyesal atas sikap acuh mereka terhadap Imam Husain as ketika mereka melihat kezaliman dan kejahatan Yazid terus berlangsung

    [Apakah ada penyesalan ke 2 kaum muslim? --Benam kan itu semua dalam kedalaman berpikir teman teman -- Jika Allah Swt berkehendak]

    Komentar oleh Penjaga Keturunan RAsulullah /Ahli Bait --- | 4 Maret 2012 | Balas

  5. TETAP INGAT DAN WASPADA [Raja Jawa Joyoboyo]

    “Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alan nabi. Ya ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi wa salamu taslima” (Q.S Al-Ahzab (33) ayat 56)

    [Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. al-Ahzab: 56).]

    Rasullullah bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian siapa yang kikir? Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Kemudian Beliau menjawab: “dia adalah yang bershalawat kepadaku tanpa menyebut keluargaku”.

    Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

    Komentar oleh Penjaga Keturunan RAsulullah /Ahli Bait --- | 4 Maret 2012 | Balas

  6. di manakah sribaginda datuk maulana Zainal Abidin di makamkan,,????

    Komentar oleh riyad | 22 Maret 2012 | Balas

  7. Maha suci Allah……

    Komentar oleh AL Jerangi NS | 22 Maret 2012 | Balas

  8. Terima kasih pada maklumat yang indah…

    Komentar oleh AL Jerangi NS | 22 Maret 2012 | Balas

  9. dlm Islam mslh nasab hanya berdrskan pada kaum lelaki bukan perempuan (QS. 33:4-5). Istilah keturunan nabi, rasul atau ahlul bait tidak dikenal krn yg ada istilah keturunan Adam. Ibrahim dll. ya termasul keturunan Muhammad SAW, jd pakai nama ybs. Lalu, ktrn Saidina Muhammad SAW apakah ada? Ada hanya sampai pada Bunda Fatimah, setelah itu kalau pun ada ya keturunan Saidina Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian, tidak dikenal adanya warisan ‘mahkota’ keturunan mani, rasul dan ahlil bait itu.

    Komentar oleh elfan | 23 Maret 2012 | Balas

    • apakah anda bersalawat waktu tahyat akhir? Ibrahim AS dan keluarganya berlanjut hingga Muhammad SAW, apakah Muhammad SAW keluarga (wa ala ali) beliau hanya sampai fatimah saja? Allah SWT itu adil, belajarlah dari sejarah, janganlah anda yang mengaku pengikut Muhammad menjadi pencela keluarga beliau, anda akan seperti orang yang mencintai kekasihnya tetapi melukainya, sungguh mmprihatinkan

      Komentar oleh ruslimah | 24 Maret 2013 | Balas

      • Allah SWT melihat manusia itu dari takwanya krn itu Nabi Muhammad SAW menekankan putrinya Fathimah binti Muhammad SAW untuk beribadah dan bertakwa lebih dari orang lain bahkan hidup miskin harta ia jalani demi meraih surga (bandingkan dgn anak raja/president/para pejabat sekarang mana ada yg mau susah). Keistimewaan akan Allah SWT berikan kpd siapa yang dikehendaki, Dia itu Al Jabbar, Al Qaadir (lihat bagaimana Allah SWT berkehendak memberikan keistimewaan kepada Maryam ibunda Nabi Isa (knp tidak pd laki2 sebayanya?) bahkan Nabi Dzakariya AS pun terpesona, beliaupun meminta diberikan keturunan yang mewarisi beliau lalu Allah SWT memberinya Nabi Yahya AS). Akhlak Muhammad SAW dan bunda Khadijah binti khuwailid kenyataannya menurun pada Fathimah dan keturunannya Sebagai orang di luar keturunan beliau saya merasakan dan menyaksikan, kecintaan ini seperti jg kecintaan usamah bin zaid kepada Rasul dan keluarga beliau. Jangan khawatir tuan, anda bisa meraih pahala lebih, seperti yang didapat sahabat2 Rasul contoh Abu Bakar Asyidik, Umar bin khatab, Usman bin Afan mereka itu bisa meraih preidikat orang yang dicintai Rasul krn ketakwaan dn jg kecintaan mereka pada Rasul dan keluarga beliau.

        Komentar oleh ruslimah | 24 Maret 2013

  10. nabi muhammad s.a.w adalah nabi akhir zaman dan nabi terakhir,tidak ada nabi lagi setelahnya.beliau memiliki anak laki-laki namun mereka mening9al pada usia muda.Allah yg maha berencana..seandainya anak laki-laki baginda nabi besar muhammad s.a.w masih hidup sampai dewasa maka mereka akn menjadi nabi pula,begitu pula keturunan mereka yg laki-laki akn terus menjdai nabi..Allah telah menggariskan bahwa nabi muhammad s.a.w adalah nabi terakhir dan nabi akhir zaman maka dari itu Allah hanya menurunkan garis keturunan nabi melalui anak perempuannya yaitu sayydah fatimah azahrah..dengan begitu terputuslah garis kenabian dari nabi muhammad s.a.w kepada anak laki-lakinya..
    namun al hasan dan al husen adalah cucu yg sangat beliau cintai sehingga beliau memang9il mereka ”anaku”..dari keturunan merekalah islam terus tersebar ke pelosok dunia hing9a sekarang.
    hanya allah lah yg maha tau lagi maha benar,,

    Komentar oleh hamba allah | 24 Juni 2012 | Balas

  11. barang siapa cinta atas zuriat rasul (anak cucu dari Nabi Muhammad SAW.)
    maka matinya akan diperlihatkan pintu surga.

    sebaliknya..

    barang siapa benci atas zuriat rasul
    maka matinya kafir.

    ya Nabi salam alaika
    ya Rasul salam alaika
    ya Habiiibb salam alaika
    sholawatullah alaika

    Komentar oleh mutz blur raulenzo | 10 Desember 2012 | Balas

  12. banyak manusia yg kumprung didunia ini
    yg tak mengenal Nasab zuriat rasul :)

    Komentar oleh mutz blur raulenzo | 10 Desember 2012 | Balas

  13. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait menjadi universal:

    1. Kedua orang tua para nabi/rasul;.

    2. Saudara kandung para nabi/rasul.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah bukan termasuk kelompok ahlul bait.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya seperti Saidina Hasan dan Husein maupun yang perempuan bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    Komentar oleh elfan | 11 Desember 2012 | Balas

    • elfan anda tak mengenal ahlulbayt….semoga allah memberi hidayah pada mu

      Komentar oleh pecinta ahlulbayt | 31 Agustus 2013 | Balas

  14. “Aisyah menyatakan bahwa pada suatu pagi, Rasulullah keluar dengan mengenakan kain bulu hitam yang berhias. Lalu, datanglah Hasan bin Ali, maka Rasulullah menyuruhnya masuk. Kemudian datang pula Husain lalu beliau masuk bersamanya. Datang juga Fathimah, kemudian beliau menyuruhnya masuk. Kemudian datang pula Ali, maka beliau menyuruhnya masuk, lalu beliau membaca ayat 33 surah al-Ahzab, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

    dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut:

    Yazid bin Hayyan berkata, “Aku pergi ke Zaid bin Arqam bersama Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim. Setelah kami duduk, Husain berkata kepada Zaid bin Arqam, ‘Hai Zaid, kau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Kau melihat Rasulullah, kau mendengar sabda beliau, kau bertempur menyertai beliau, dan kau telah salat dengan diimami oleh beliau. Sungguh kau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Karena itu, sampaikan kepada kami hai Zaid, apa yang kau dengar dari Rasulullah!'”
    “Kata Zaid bin Arqam, ‘Hai kemenakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah kamu memaksaku untuk menyampaikannya.'”
    “Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan, ‘Pada suatu hari Rasulullah berdiri dengan berpidato di suatu tempat air yang disebut Khumm antara Mekkah dan Madinah. Ia memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu beliau bersabda, Ketahuilah saudara-saudara bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku (malaikat pencabut nyawa) akan datang lalu dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan untuk kalian dua hal yang berat, yaitu: 1) Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur’an dan pegangilah. (Beliau mendorong dan mengimbau pengamalan Al-Qur’an). 2) Keluargaku. Aku ingatkan kalian agar berpedoman dengan hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku (tiga kali)”.
    Husain bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Hai Zaid, siapa Ahlul Bait (keluarga) Rasulullah itu? Bukankah istri-istri beliau Ahlul Baitnya?”
    Kata Zaid bin Arqam, “Istri-istri beliau adalah Ahlul Baitnya, tetapi Ahlul Bait beliau adalah orang yang diharamkan menerima zakat sampai sepeninggal beliau.”
    Kata Husain, “Siapa mereka itu?”
    Kata Zaid bin Arqam, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas.”
    Kata Husain, “Apakah mereka semua diharamkan menerima zakat?”
    Jawab Zaid, “Ya.”

    Shahīh Muslim, vol. 7, hal. 130

    Aisyah berkata, “Pada suatu pagi, Rasulullah saw keluar rumah menggunakan jubah (kisa) yang terbuat dari bulu domba. Hasan datang dan kemudian Rasulullah menempatkannya di bawah kisa tersebut. Kemudian Husain datang dan masuk ke dalamnya. Kemudian Fatimah ditempatkan oleh Rasulullah di sana. Kemudian Ali datang dan Rasulullah mengajaknya di bawah kisa dan berkata,

    “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]:33)[4]

    Sunan at-Turmudzi, Kitab al-Manâqib

    Ummu Salamah mengutip bahwa Rasulullah saw menutupi Hasan, Husain, Ali dan Fatimah dengan kisa-nya, dan menyatakan, “Wahai Allah! Mereka Ahlul Baitku dan yang terpilih. Hilangkan dosa dari mereka dan sucikanlah mereka!”

    Ummu Salamah berkata, “Aku bertanya pada Rasulullah saw, Wahai Rasul Allah! Apakah aku termasuk di dalamnya?” Beliau menjawab, “Engkau berada dalam kebaikan (tetapi tidak termasuk golongan mereka).”

    Imam Turmudzi menulis di bawah hadits ini, “Hadits ini shahīh dan bersanad baik, serta merupakan hadits terbaik yang pernah dikutip mengenai hal ini.”

    Telah bersabda Rasulullah s.a.w, “Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

    Salah satu tanda-tanda kiamat munculnya imam mahdi loh dan imam mahdi juga keturunan rasulullah(ahli bait), kalau tidak ada keturunan rasulullah berarti tidak ada imam mahdi, kalau tidak ada imam mahdi berati tidak ada kiamat hehehehe

    Komentar oleh faudzia | 18 Januari 2013 | Balas

  15. ada yang berbicara dg ilmu, ada yang berbicara dg nafsu.
    Ahlul bait wajib dihormati, tp jika mereka melakukan kesalahan tetap harus diingatkan tanpa menghilangkan penghormatan itu sendiri.

    Komentar oleh save de cock | 1 April 2013 | Balas

  16. Pertanyaannya ketika Imam Ali menikahkan Syahar Banu dengan Imam Husein as. Apakah karena ketaqwaannya? Setau saya justru alasan Imam menikahkan itu karena Nasab Syahar Banu sebagai putri Raja dan tidak boleh sembarangan dijadikan jariyah atau istri oleh orang lain, sehingga dipilihlah putra Mulia untuk menjadi suaminya…wallahu a’lam…

    Komentar oleh Abdun | 17 April 2013 | Balas

  17. Ahlul Bait Bani (Keturunan) Fatimah Dan Ali Bin Abi Thalib Jauh Lebih Mulia Daripada Bani (Keturunan) Hindun Dan Abu Sufyan Yang Telah Memakan Hati Hamzah Bin Abdul Muthalib Di Perang Uhud.
    Haruskah Kita Membai’at Mu’awiyah? Yang Sebelumnya Memimpin Pasukan Untuk Memerangi Pasukan Ali. Jika Dilihat Dari Sejarah Bani Abdul Muthalib Selalu Di Zalimi Oleh Bani Abu Sufyan. Biarkan Allah Yang Akan Menghakimi Bani “Pemakan Hati Hamzah Bin Abdul Muthalib:.

    Komentar oleh Umar Fathoni | 13 Agustus 2013 | Balas

  18. SUBHANALLAH, Semoga ALLAH menjadikanku pencinta AHLUL BAIT RASULULLAH

    Komentar oleh malaka alidarda | 17 April 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: