Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Meninjau Kembali Kisah Isra Miraj Rasulullah

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (Qs. Al Israa : 1)

Umumnya para penceramah menerangkan hikmah dari peristiwa Isra’ Miraj adalah turunnya perintah sholat 5 waktu. Hal tersebut berdasarkan sebuah hadits isinya cukup panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya nomor 234 dari jalan Anas bin Malik.

Namun benarkah demikian ?

Melalui penelaahan hadits, secara riwayat adalah shahih karena terdiri dari para perawi yang tsiqoh(dipercaya). Akan tetapi secara matan (isinya) sebagian bertentangan dengan Al Quran dan hadits lainnya yang shahih.

Dengan demikian kedudukan hadits tersebut adalah dhoif (lemah) dan mualal (sisipan) karena isinya diselipkan cerita – cerita Israiliyat dari kaum Bani Israil, yang sengaja secara tersirat ingin mengagungkan bangsa mereka, serta mengecilkan peran Nabi Muhammad beserta pengikutnya.

Sumber :
Tinjauan Kritis Hadits Isra’ Mi’raj

Kelemahan hadits tersebut :

  1. Yang menjadi subjek memperjalankan Rasulullah Muhammad dalam Peristiwa Isra’ (perjalanan) yang bermakna Mi’raj (naik melalui tangga – tangga) adalah Allah Subhanahuta’ala (Qs.17 : 1), Dia yang Maha Berkehendak. Sedangkan di dalam hadits tersebut, diceritakan Nabi Musa yang menyuruh Nabi Muhammad untuk naik – turun sebanyak sembilan kali, guna mendapat pengurangan perintah sholat dari 50 rakaat menjadi 5 rakaat.
  2. Nampak pula dalam kisah palsu ini seolah Nabi Musa begitu perkasanya dan berilmu sehingga mampu mendikte Allah sehingga menuruti pandangan Musa alaihissalam dalam hal perintah sholat.
  3. Keganjilan tampak jelas dalam hadit ini, bahwa sebelum menuju langit Rosulullah sholat dua rakaat di Baitul Maqdis, sedangkan menurut kisah hadis tersebut, perintah sholat belum diterima.
  4. Dalam hadits ini menggambarkan bahwa Para Nabi yang sudah wafat sudah berada di langit. Sedangkan seluruh Manusia termasuk para Nabi yang sudah wafat berada di alam Qubur / Barzakh / dinding yang membatasi Alam Dunia dan Akhirat. Ulama menyebutnya alam genggaman Allah atas dasar Surah Azzumar ayat 42 menunggu datangnya Hari Berbangkit (Qs. 18 : 47)

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (Qs. 39:42)

dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka. (Qs. 18 : 47)

  1. Nabi Muhammad adalah semulia para Nabi. Beliau tidak pernah membantah atau minta dispensasi (pengurangan) tugas dari Allah. Sedangkan yang biasa menawar dan membantah perintah Allah dan rasulNya sejak dahulu adalah orang kafir dari Bani Israil. Fakta ini dapat kita temukan dalam nash Al Quran dan Hadits yang shahih. Maka mustahil rosul kita mengadakan tawar menawar kepada Musa apalagi kepada Allah. Sedangkan seluruh rosul telah berjanji kepada Allah untuk beriman dan menolong misi Muhammad Rasulullah (Qs. 3:81)

dan (ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

Benarkah Isra Miraj adalah menjemput perintah Shalat ?

Untuk sama dipahami, kewajiban sholat sudah ditetapkan Allah pada tahun awal Kenabian dengan turunnya surah al Muzammil ayat 1 – 9, jauh sebelum turunnya Surah Al Isra pada tahun ke empat Kerasulan.

1. Dikatakan bahwa Nabi Musa telah mengusulkan kepada Nabi Muhammad agar naik kembali menemui ALLAH untuk memohon perintah Shalat dikurangi dari 50 kali menjadi 5 kali sehari. Dalam hal ini timbul pertanyaan, apakah Nabi Musa lebih cerdas daripada Nabi Muhammad?

Apakah dengan itu orang-orang Yahudi bermaksud meninggikan Nabi pembawa Taurat daripada Nabi pembawa Alquran?

Sebaiknya orang-orang Islam mempertimbangkan masak-masak sebelum membenarkan dongeng tak teranalisakan itu.

2. Dikatakan Nabi Muhammad naik kembali menemui ALLAH untuk memohon agar perintah Shalat 50 kali sehari dikurangi dan dikurangi hingga menjadi 5 kali sehari, yaitu sepuluh persen dari jumlah yang ditetapkan bermula.

Semisalnya seorang pedagang menyatakan harga barangnya 50 rupiah kemudian sesudah tawar-menawar, barang itu dijualnya 5 rupiah, maka pada otak si pembeli akan timbul suatu anggapan bahwa pedagang itu sangat kejam atau kurang waras. Sebaliknya pedagang waras yang menghadapi penawar barangnya sepuluh persen dari harga yang ditetapkannya, tentu tidak akan meladeni penawar itu karena dianggapnya kurang waras.

Dalam pada itu Ayat 6/115, 10/64, menyatakan tiada perubahan bagi Kalimat ALLAH, dan Ayat 33/62, 35/43, menyatakan tiada perubahan bagi Ketentuan ALLAH dan Ayat 30/30 menyatakan tiada perubahan bagi Ciptaan ALLAH.

Jika masih berlaku tawar-menawar antara Muhammad dan ALLAH mengenai jumlah Shalat setiap hari, tentulah pernyataan ALLAH pada beberapa Ayat Suci tersebut tidak benar. Namun menurut pemikiran wajar, tidaklah mungkin berlaku tawar-menawar antara Khaliq dan makhIuk-NYA.

3. Dikatakan bahwa sewaktu Mi’raj, Nabi menjemput atau menerima perintah Shalat dari ALLAH, kemudian sesudah berjumpa dengan Musa, beliau naik kembali berulang kali menemui ALLAH untuk memohon keringanan. Hal ini menyimpulkan bahwa ALLAH tidak ada di Bumi atau di langit tempat Nabi Musa itu berada.

Sungguh keadaan demikian sangat bertantangan dengan Firman ALLAH yang banyak tercantum dalam Alquran, terutama Ayat 50/16, dan 7/3, di mana dinyatakan bahwa ALLAH ada di mana saja bersama setiap diri, malah DIA lebih dekat kepada seseorang daripada urat leher orang itu sendiri.

Sebab itu, nyata sekali keterangan tadi batal atau sengaja dimasukkan ke dalam masyarakat Islam oleh penganut agama lain.

Sumber :
Isra Mi’raj Nabi bukan menjemput Shalat

Demikianlah sebagian tinjauan kritis terhadap  isi hadits tentang Mi’raj, tanpa harus menafikan akan kebenaran terjadinya peristiwa tersebut.

Wallahu a’lam bisshawaab

Catatan :

1. Ini adalah isi Hadis yang di-bahas, pada artikel diatas…

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku didatangi Buraq. Lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata: Engkau telah memilih fitrah. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya: Siapakah engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawab Jibril: Ya, ia telah diutus. Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril: Jibril. Ditanya lagi: Siapakah yang bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawabnya. Ditanyakan: Dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Ternyata ia telah dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi. Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Dijawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Dijawab: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanyakan: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw. Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan: Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman: Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya. (Shahih Muslim No.234)

sumber :
http://orgawam.wordpress.com/2008/07/21/hadits-hadits-kisah-isra-miraj/

Beberapa Keanehan hadis di atas…

1. Malaikat penjaga langit, tidak mengenal Malaikat Jibril…
2. Buraq digambarkan seperti hewan tunggangan, yang di-ikat di pintu masjid…
3. Rasulullah shalat 2 rakaat sebelum ke langit, padahal perintah shalat belum datang (menurut hadis tersebut)…
4. Kisah tawar-menawar jumlah rakaat Shalat…
5. Ruh para Nabi berada di langit, bukan di alam barzah…

2. Hadis yang meriwayatkan perintah shalat telah ada, ketika Khadijah ra. masih hidup (sebelum peristiwa Isra Mi’raj)… 

Musnad Ahmad 1691: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abu Asy’ats dari Isma’il bin Iyas bin ‘Afif Al Kindi dari Bapaknya dari kakeknya berkata; Saya adalah seorang pedagang. Saya datang untuk menjalankan ibadah haji, lalu saya mendatangi Al Abbas bin Abdul Muththalib untuk membeli dagangan darinya, yang dia juga seorang pedagang. Demi Allah, pada saat saya di Mina, ada seorang laki-laki yang keluar dari dalam tenda yang tidak jauh darinya, dia melihat ke arah matahari, ketika matahari telah condong, orang itu berdiri dan shalat. Kemudian keluarlah seorang wanita dari tenda itu juga dan berdiri di belakang orang tadi dan ikut shalat. Lalu seorang anak kecil yang menginjak usia baligh keluar dari tenda tersebut dan ikut shalat bersama kedua orang tadi. Maka saya pun bertanya kepada Al Abbas; “Siapa orang itu Wahai Abbas?” dia menjawab; “Itu adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib anak saudaraku.” Saya bertanya lagi; “Siapakah wanita itu?” dia menjawab; “Itu adalah istrinya Khadijah binti khuwalaid.” Saya bertanya lagi; “Siapa pemuda itu?” dia menjawab; “Itu adalah Ali bin Abu Thalib anak pamannya.” Saya bertanya lagi; “Apa yang mereka lakukan?” dia menjawab; “Dia sedang shalat, dia mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi, dan tidak ada yang mengikuti perintahnya kecuali istrinya dan anak pamannya, pemuda tersebut. Dia juga mengaku bahwasanya akan ditaklukkan untuknya perbendaraan-perbendaraan Raja Kisra dan Kaisar.” Kemudian ‘Affif, yaitu anak paman Al Ays’Ats bin Qais berkata; -dan dia masuk Islam setelah itu serta keIslamannya baik- “Seandainya Allah memberiku rizki Islam pada hari itu, maka aku adalah orang yang ketiga bersama Ali bin Abu Thalib RAdhi Allahu ‘anhu.”

Musnad Ahmad 3361: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Balj dari Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas ia berkata; Orang yang pertama kali shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah Khadijah adalah Ali, dan ia berkata sekali lagi; Yang masuk Islam.

Sumber :
http://onolistrik.wordpress.com/2011/09/30/musnad-ahmad-1601-1700/

http://onolistrik.wordpress.com/2011/11/11/musnad-ahmad-3001-4000/

http://arsiparmansyah.wordpress.com/2012/03/11/nabi-sudah-sholat-ketika-bersama-khadijjah/

Tentang iklan-iklan ini

9 Oktober 2011 - Posted by | islam, kanzunQALAM, sejarah | , , , , , , ,

89 Komentar »

  1. yang jelas, ketika orang yahudi bertanya pada nabi tentang hakikat shalat 5 waktu, mereka percaya, dan bersyahadat

    Komentar oleh zay | 20 Oktober 2011 | Balas

  2. Mantab gan isinya….

    Komentar oleh heru | 3 November 2011 | Balas

  3. Alhamdulillah…ada penjelasan yg sanat logis, terima kasih

    Komentar oleh zainal arifin gailea | 14 November 2011 | Balas

  4. mi’raj adalah hiburan dari Alloh untuk kekasihNya dikala merasakan beratnya amanah dakwah…..bukan untuk menerima perintah……sy setuju gan….

    Komentar oleh Kathong | 30 November 2011 | Balas

    • mi’raj adalah anugerah ruhani yg paling dalam bagi insan yg ruhaninya membumbung tinggi ke angkasa.
      Subhanallah,,,ini sejalan dg mi’rajnya Nabi Ibrahim AS tentang pencarian hakikat Rabb-nya melalui tanda2 bulan/bintang/matahari/benda2 angkasa lainnya.

      Komentar oleh Laila | 21 Juni 2012 | Balas

  5. Coba baca yang lain di …..http://www.dakwatuna.com/2011/06/12964/isra-miraj-inspirasi-mengintegrasikan-sains-dalam-aqidah-dan-ibadah/

    Komentar oleh Samsu Ardi | 8 Desember 2011 | Balas

  6. lalu esensi dari isra miraj nabi saw itu apaa..??

    Komentar oleh mumunis | 26 Desember 2011 | Balas

    • unt diperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaranNYA (Qs. Al Israa : 1)…

      Komentar oleh kanzunQALAM | 26 Desember 2011 | Balas

  7. kalau tujuan isra miraj adalah untuk menerima perintah solat 5 waktu, apakah itu artinya sebelum peristiwa ini terjadi, nabi2 Allah tidak pernah solat?

    Komentar oleh scriptwizard | 27 Desember 2011 | Balas

  8. Akhirnya terpecahkan juga ganjalan pemikiran saya selama bertahun tahun ini. Selama ini saya pikir, bahwa Seolah olah Alloh itu tidak tahu bawa manusia akan merasakan berat untuk melaksanakan sholat sebanyak 50 rokaat. Ko bisa-bisanya memerintahkan nabi Muhammad SAW untuk mendirikan sholat 50 roka’at, dan akhirnya ditawar jadi 5 roka’at. Berarti Alloh tidak maha tahu, seperti halnya di kitab injil waktu Nabi Adam AS bersembunyi dari Tuhan di semak2 karena malu tidak berpakaian. Tuhannya mencari-cari dan memanggil2, seolah-olah tidak Maha Tahu. Kalau kita injil sih memang sudah bukan wahyu lagi, tapi karangan manusia. Jadi saya tidak heran :)

    Komentar oleh ukaya | 8 Januari 2012 | Balas

    • sebenernya kalau maw, allah bisa menciptakan manusia sholat 1000juta rekaat, tapi yg ini kan muhammad yg menjamin bisa dilaksanakan umatnya , jadi muhammad merasa berat apabila jumlah 50 rekaat,dan ditawar menjadi 5 rekaat supaya tidak terlalu berat bagi umat nabi muhamad

      Komentar oleh adity | 27 Juli 2013 | Balas

    • justru karena Allah maha tahu makanya allah memberi keringanan kepada hambanya dan Muhammad sebagai jaminannya

      Komentar oleh farah | 1 September 2013 | Balas

    • Iman dengan ilmu tanpa hikmat, dekat dengan kesesatan. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua.

      Komentar oleh aryo | 9 Mei 2014 | Balas

  9. ternyata apa yang aq pikirkan slama ini,ada pula yang memikirkan dan menelaahnya… tNks

    Komentar oleh rhyrin | 21 Januari 2012 | Balas

  10. Ayat yang mana yang menyatakan mi’raj nabi ke langit menghadap Alloh? apakah juga bukan cerita isroiliyat?

    Komentar oleh amyhasan | 26 Januari 2012 | Balas

  11. Sebenarnya bukan nabi Musa tapi Nabi Ibrahim, Allah sebenarnya maha tahu bahkan lebih tahu, tapi apakah harus diungkap semua, kan tidak, seperti kiamat bukankah kita tidak tahu, yang jelas Allah maha tahu tapi tidak perlulah kemaha tahuannya dungkapkan semua karena itu adalah hak Allah. kita sebagai manusia jalani saja apa yang diperintahkannya, gak usah ngeyel kenapa begini kenapa begitu yang jelas jalani saja perintahnya. berbicara masalah keyakinan cukup dalam hati yakin atau tidak, itu saja.

    Komentar oleh iwan | 7 Februari 2012 | Balas

    • Lha ini kan membahas kejanggalan “ngeyel” nya rasul yang menawar perintah 50 waktu shalat

      Komentar oleh galut | 23 Januari 2013 | Balas

  12. Saya sependapat dengan bagian isi hadist yang agak membingungkan. Tapi saya kurang setuju jika mi’raj diterjemahkan dengan naik (keatas). Naik disini saya artikan meningkat kualitas keimanan dalam qalbu yang mengakibatkan naiknya kualitas fisik sehingga dapat menembus langit sampai langit ke tujuh. Dalam al quran disebutkan bahwa Allah memiliki tempat-tempat naik….maksudnya tempat-tempat untuk menaikkan kualitas hati yaitu masjid, rumah Allah di bumi…maka dari itu mulainya mi’raj dari masjid (al aqsa) sbg tempat naik (didahului dengan solat pula). Kenapa tidak mulai mi’raj dari masjid al Haram ya?

    Komentar oleh dzulkarnainimran | 7 Februari 2012 | Balas

    • Kalau memahasakan mi’raj berarti meningkatkan, masih boleh-boleh saja sepanjang penafsiran itu bersifat sufistis. Namun sebaliknya, kajian etimologis (harfiah, arti yg realistis) yg menjadi dasar penafsiran. Maka untuk menafsirakan kata mi’raj harus dicari padanan katanya pada surah atau ayat lain, bila tidak, maka penafiran akan dianggap ngarang sendiri. Akar kata ‘araja sehingga membentuk kata ma’arij yakni bentuk jamak (prural) dari kata mi’raj, menjadi nama surah ke 70 dalam Mush-haf, sebagaimana yg Anda identifikasi. Meningkatkan atau menaikkan biasanya diergunakan kata rafa’a (yarfa’u). Jelasnya, dengan ayat-ayat Alquran itu pula-lah kisah Isra Mi-raj ini merupakan kish Israiliyyat, yg ditandai dengan hal-hal yang irrsional atau klenik. Jadi kalau mau dibantah, maka bantahlah ayat-ayat (Alquran) yg menolak kisah sahabat Anas bin Malik RA ini. Jangan memvonis yang memberi komentar pada blog ini.

      Komentar oleh akiadnani | 31 Agustus 2012 | Balas

    • sy percaya kl naik ke atas. krn itu adalah mukjizat. kl ga naik ke atas buat apa orng kafir mengolok2 nabi setelah itu dan nabi juga menunjukkan bukti2 tentang melihat rombongan kabilah. masalah sholat tentu saja msh masuk akal, ad riwayat nabi shalat sm khadija dan ali. seblm isro miraj bisa jadi blm ada perintah 5 x tp sdh ada shalat setelah isro miraj baru di wajibkan 5 x

      Komentar oleh made | 12 Agustus 2013 | Balas

  13. Makna isi hadist itu begini menurut saya:

    Bolak-balik itu bukan berarti Allah tidak konsisten, sejak awal Allah akan mewajibkan hanya 5 waktu (walaupun sebelumnya perintah yang diwajibkan ada nabi Muhammad SAW sudah melakukan solat), Allah SWT Maha Tahu bahwa Musa as akan membandingkan dengan umatnya (Bani Israil) bedanya, menurut Musa as 5 waktu pun Bani israil akan malas tapi alhamdulillah menurut Rasulullah SAW umatnya mampu jika hanya 5 waktu. Hal ini juga membuktikan bahwa Allah SWT tidak mempersulit hamba-Nya, Allah SWT Maha Mengabulkan permintaan…..

    Komentar oleh dzulkarnainimran | 7 Februari 2012 | Balas

  14. hai kalian jgn lah mengada2 cerita atau mempermasalahkan tentang hal ini ,,, dari jaman2 nabi semua memang d perintahkan untuk ibadah ataupun sembahyang kepada allah tp tatacara’a berbeda2,,, masalah ini akan membingungkan umat apa yg ada d alqur’an ataw hadis yakinilah dan amalkanlah jgn kalian menentang dan membelok belokan yg sudah d jelaskan yg sudah ada d dlm alqur’an dan hadis. itu sama saja kalian seperti kaum israel yg menentang kebenaran

    Komentar oleh irwan.r | 13 Februari 2012 | Balas

  15. di dlm isra’ mi’raj bukan perintah solat melainkan “mewajibkan” solat(5 WAKTU) bagi umatNYA ROSULULLOH.
    ALLOH menetapkan hukum (waktu itu) secara bertahab.(dr mubah-makruh-haram,atau dr mubah-sunah-wajib)
    perintah solat sdah ada sejak nabi2 sblum ROSULULLOH.
    cerita ini justru menunjukan bahwa umat islam jauh lebih hebat dr umat NABI MUSA.
    ketika tawar menawar itu sampai ke harga 5 rokaat NABI MUSA berkata(yg maksudnya);”aku sudah menerapkan pada umatku tp umatku tidak sanggup”ROSULUULOH mehjawab (yg maksudnya);”aku ikhlas aq ridho”
    untuk poin 1; belum tentu yg mengusulkan lebih cerdas dr yg di beri usul.ROSULULLOH akan mempertimbangkan usulan dari siapapun selama itu baik.contohnya ketika perang KHANDAK salah seorang sahabat berkata “ya ROSUL sesungguhnya saya melhat orang2 persia ketika di serang mereka membuat parit yang lebar dan dalam”.lalu ROSULULLOH mengikuti saran sahabat.

    Komentar oleh wwwwwwwwww | 19 Februari 2012 | Balas

  16. Oleh karena itu hindari mempercayai hadits…karena banyaknya mazhab pun gara2 hadits…dan hadits itu pun dilarang oleh rasululloh dizamannya. karena yang harus dipelajari adalah apa yang diwahyukan Allah yaitu hanya satu; Alquran. Sholat pun sudah ada sebelum zaman rasululloh:

    Ibrahim Memohon Agar Keturunannya Tetap Mendirikan Shalat.

    Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan do’aku. (14:40)

    Isa Mendirikan Shalat

    Dan dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. (19:31)

    Komentar oleh jake | 2 Maret 2012 | Balas

    • kalau kita hanya mengimani alquran dan tidak mempercayai hadits….maka bagaimana anda shalat? apakah tata cara shalat dan bacaannya disebutkan dalam Alqur’an???….hadits shahih adalah penjelas dari Alqur’an. maka kita imani Alqur’an, hadits dan dipahami dengan pemahaman yang benar.

      Komentar oleh Zeinze | 24 Mei 2014 | Balas

  17. menarik untuk dikaji,

    Komentar oleh kangsam | 7 Maret 2012 | Balas

  18. Bukankah dulu agama tauhid..! Apkah sama sholat nya sblm dapt printah sholat 5 waktu,! Apkah cm membawa printah sholat 5 wktu dalam pristiwa isro’mikroj..critany mentah.. Di proses lagi bos.biar gak jad salah pencernaan.mksh

    Komentar oleh Damar djati | 13 Maret 2012 | Balas

  19. Luas bos kajianya..2 mata kita d bershkan dulu..mata hati dan mata akal.biar jlas…. Sumberny cari yg jlas bersih dan tak terputus gt bos.. Pandanglah air yg bersih jernih akan nampk dirimu jug ap yg d langit..MUDAH2AN GAK FAHAM.

    Komentar oleh Damar djati | 13 Maret 2012 | Balas

  20. sekaya apapun kita tidak akan sanggup menengok Neraka , menurut cerita para peninjau – peninjau kalau Tuhan Berkehendak mungkin dalam waktu satu menit kita bisa melihat Surga dan Neraka ,Karena kaya akan kita sogok atau diberi hadiah penjaganya agar kita enak , Alloh Maha Segala Maha , maka dengan kehendakNya Nabi Muhammad di kenalkan dengan Nabi Nabi sebelumnya sekalian Mi ‘raj . Entah Kehendak Alloh atau kemasukan Setan ada Orang orang yang mengarang cerita seperti di atas membuat orang yang belum belejar mersa ragu ragu ,,,,, Maaf

    Kalau Alloh Berkehendak sekarang kiamat juga bisa ingat Aceh , Hari minggu yg tenang dan senang tak di sangka TERJADI Masa Alloh ,,, Kiamat Kecil katanya ,, APALAH MEMBAWA NABI MUHAMMAD MI’RAJ Ke Langit ketujuh kali , Wallohu A’lam .

    Komentar oleh Masp Pays | 22 Maret 2012 | Balas

    • Ketika seseorang kesulitan untuk menganalisis sebuah kredo agama, dengan enteng ia mengatakan: “Kalau Allah Menghendaki, bisa saja itu terjadi……….” Bila demikian halnya, boleh kita sanggah pula: “Itu kalau Allah mau atau menghendaki, kalau tidak mau atau tidak menghendaki, kan tidak mungkin terjadi”. Nah itu debat kusir atau pokrol bambu yg tidak punya dasar hukum.
      Hanya dalam 23 (duapuluhtiga) ayat, Alquran menggunakan kata “Kalau Allah Menghendaki” (Wa lau Syaa-a, walau Syi-naa dan walau Yasyaa) yg pada kesimpulannyam pada ayat-ayat tersebut ternyata Allah TIDAK menghendaki. Lihat salah satu contoh ayat di bawah ini:
      “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?”
      (QS10:99)
      Lalu apa kenyataannya, berimankah (kepada wahyu yg dibawa oleh Rasulullah) semua orang di muka bumi ini….?? Ternyata, bagian besar ummat manusia di bumi ini tidak mengimaninya. Dengan pernyataan satu ayat ini saja, sangat mustahil ada ayat lain yang membatalkan/menganulirnya. sebagaimana firmanNya dalam QS4:82.
      Sebaiknya janganlah mengeluarkan argumentasi: “Kalau Allah Menghendaki…….”, karena telah Allah memilki aturan/takdir yang tidak pernah berubah

      Komentar oleh akiadnani | 31 Agustus 2012 | Balas

  21. Jika Allah berkehendak seperti itu tidak ada manusia yang dapat menampik-Nya.
    Jika Allah memang berkehendak melalui Musa as untuk menguji rasul-nya maka hal itu harus pula kita akui.
    Kenapa penulis seolah-olah picik?? Dan merasa tidak percaya?
    Dengan penjabaran ayat-ayat diatas maka penulis pun seperti merasa lebih berilmu dari para nabi dan lebih mengetahui kehendak Allah SWT dari pada nabi dan rasul-Nya.
    Bagaimana jika cerita itu benar??? Kenapa harus selalu berpatokan dengan Ulama???
    Pahami lah hadist berikut ini:
    Rasulullah bersabda “di akhirat nanti akan ditimbang tinta para Ulama dengan darah para Syuhada!”
    Artinya bahwa terjadi perbandingan/penimbangan antara Ulama-ulama yang suka menulis (membuat) Fatwa (haram dan halal) berdasarkan Ilmunya (yang masih belum tentu benar) dengan ketaqwaan (darah) Syuhada yang menurut kepada hukum-hukum Al-Quran.
    Perlu diketahui bahwa di dalam Alquran Allah lebih memuliakan Syuhada (lebih sering di sebut dalam Alquran).

    Dan yang terpenting adalah, sudah kah kalian para Ulama-ulama menurut kepada perintah Allah SWT dalam surat Al-baqarah ayat 208???
    Karena setiap orang yang (sudah) beriman) diperintahkan untuk masuk Islam (menurut tata cara yang rasulullah ajarkan – dalam hadist shahih)???
    *biasanya para ulama yang merasa sudah berilmu dan sudah banyak/lama dalam beribadah ‘menolak’ perintah tersebut bahwa mereka sudah Islam dari Lahir (keturunan) jadi tidak perlu lagi masuk Islam. Sementara yang diperintahkan bukan lah orang-orang kafir atau orang musryik, melainkan orang-orang Beriman. Dan rasulullah pun melakukannya dan para sahabat juga demikian.

    Mau nurut perintah Allah atau mau nurut nafsu diri sebenarnya???

    Komentar oleh marvv venta | 13 April 2012 | Balas

    • oh

      Komentar oleh endin | 20 Mei 2012 | Balas

      • kalau tuan penulis bingung akan matan suatu hadis jangan lantas mendoifkan atau menuduh ada sisipan cerita irailiyat dalam hadis soheh muslim ini saya kasih contoh dalam hadis bukhori dan muslim setiap manusia sudah ditentukan kejadiannya termasuk penghuni surga atau nerakanya atau umurnya tidak bisa bertambah dan tidak bisa berkurang dalam hadis atau ayat yang lain kita disuruh berdo a umur panjang atau beramal soleh agar masuk syurga sekilas kaya bertentangan tapi tidak boleh kita mendoifkan kedudukan hadis bukhari atau muslim tadi karena kita bingung contoh lain Allah katakan ke para malaikat bahwa ia akan ciptakan kholipah dibumi tapi kok ditaru disurga dulu baru setelah makan buah khuldi turun kebumi atau dalam hadis kudsi alah fardukan kepada umat muhammad lima sholat kok proses dari 50 dulu baru jadi lima dan yang usil nabi musa bukan ibrohim ada apa rahasia dibalik cerita soheh muslim dan bukhari tentang mi raz ini saya hanya saran fas aluu ahla dzikri ing kuntum la ta lamun jangan kepada ahli ilmu sori yah

        Komentar oleh endin | 20 Mei 2012

      • hadist pertama diciptakan yaitu 196 tahun setelah nabi muhammad meninggal, berarti 4 keturunan dari sahabat nabi, karna yg mengetahui sikap nabi muhammad hanya sahabat nabi , jadi silahkan pendapat anda sendiri yg menentukan , jaman sekarang saja satu detik, A bisa menjadi B , beda dengan al quran yg langsung dibukukan waktu nabi muhammad hidup jadi terjamin keasliannya

        Komentar oleh adity | 27 Juli 2013

    • Ini permasalahan kisah Isra Mi’raj yg diangkat dari hadits riwayat Anas bin Malik, kalau ayat Yaa ayyuhalladzina aamanuu udkhuluu fissilmi kaffah …….. (QS2:208) itu ayat Allah. Masalah yg mesti Anda fahami adalah, apakah kisah Isra Mira’j yg Anas bin Malik sampaikan itu, cocok tidak dengan “Isra ke Masjidil Aqsha”nya menurut Alquran , surah Bani Israil ayat 1…..?? Nah, hal seperti inilah yg belum terpikir oleh kaum muslimin ‘Awwam.
      Ketika seseorang kesulitan untuk menganalisis sebuah kredo agama, dengan enteng ia mengatakan: “Kalau Allah Menghendaki, bisa saja itu terjadi……….” Bila demikian halnya, boleh kita sanggah pula: “Itu kalau Allah mau atau menghendaki, kalau tidak mau atau tidak menghendaki, kan tidak mungkin terjadi”. Nah itu debat kusir atau pokrol bambu yg tidak punya dasar hukum.
      Bila kita mengeksplorasi Alquran, maka hanya dalam 23 (duapuluhtiga) ayat, Alquran menggunakan kata “Kalau Allah Menghendaki” (Wa lau Syaa-a, walau Syi-naa dan walau Yasyaa) yg pada kesimpulannya pada ayat-ayat tersebut ternyata Allah TIDAK menghendaki. Lihat salah satu contoh ayat di bawah ini:
      “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?”
      (QS10:99) Kalau Anda ingin tahu 22 ayat sisanya, nanti saya kasih tahu.
      Lalu apa kenyataannya, berimankah (kepada wahyu yg dibawa oleh Rasulullah) semua orang di muka bumi ini….?? Ternyata, bagian besar ummat manusia di bumi ini tidak mengimaninya. Dengan pernyataan satu ayat ini saja, sangat mustahil ada ayat lain yang membatalkan/menganulirnya. sebagaimana firmanNya dalam QS4:82.
      Sebaiknya janganlah mengeluarkan argumentasi: “Kalau Allah Menghendaki…….”, karena telah Allah memilki aturan/takdir yang tidak pernah berubah. Mudah-mudah hal ini merangsang Anda untuk mengkaji Alquran lebih dalam lagi. Bila Anda penasaran please deh contact 08158863049 atau mustafaadnani@gmai.com. Tidak ada persoalan agama yang tidak terpecahkan. Allah sudah menyatakan bahwa Alquran adalah peljelsan dari petunjuk Allah dan Pembeda (antara sal;ah dan benar).

      Komentar oleh akiadnani | 31 Agustus 2012 | Balas

  22. hebat …. semoga tidak salah menafsirkan ………………………………afwan ya akh

    Komentar oleh lalu salam | 24 Mei 2012 | Balas

  23. Hadist Shahih Bukhari No. 211 Jilid I
    Berita dari Anas bin Malik r.a mengatakan, “Abu Dzar pernah bercerita, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: Pada suatu waktu ketika aku berada di Mekah, tiba-tiba atap rumahku dibuka orang. Maka turunlah Jibril, lalu dibedahnya dadaku, kemudian dibersihkannya dengan air zamzam. Sesudah itu dibawanya sebuah bejana emas penuh hikmat dan iman, lalu dituangkan kedadaku, dan sesudah itu dadaku dipertautkan kembali.

    Lalu Jibril a.s membawaku naik ke langit. Ketika Jibril a.s meminta agar dibukakan pintu langit, kedengaran suara bertanya: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Lalu dibukakan pintu langit kepada kami.

    Kemudian aku bertemu dengan Nabi Adam a.s, beliau menyambutku serta mendoakan aku dengan kebaikan. Seterusnya aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami.

    Kemudian aku bertemu dengan Isa bin Mariam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami.

    Kemudian aku bertemu dengan Nabi Yusuf a.s ternyata dia telah dikaruniakan sebahagian dari keindahan. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami.

    Kemudian aku bertemu dengan Nabi Idris a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami.

    Kemudian aku bertemu dengan Nabi Harun a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami.

    Kemudian aku bertemu dengan Nabi Musa a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril a.s meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami.

    Kemudian aku bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari memuatkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar mereka tidak kembali lagi kepadanya. Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar umpama telinga gajah manakala buahnya pula sebesar tempayan.

    Baginda bersabda: Ketika baginda merayau-rayau meninjau kejadian Allah s.w.t, baginda dapati kesemuanya aneh-aneh. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya. Lalu Allah s.w.t memberikan wahyu kepada baginda dengan mewajibkan sembah yang lima puluh waktu sehari semalam.

    Tatakala baginda turun dan bertemu Nabi Musa a.s, dia bertanya: Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? Baginda bersabda: Sembahyang lima puluh waktu. Nabi Musa a.s berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan kerana umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencuba Bani Israel dan memberitahu mereka.

    Baginda bersabda: Baginda kemudiannya kembali kepada Tuhan dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku. Lalu Allah s.w.t mengurangkan lima waktu sembahyang dari baginda. Baginda kembali kepada Nabi Musa a.s dan berkata: Allah telah mengurangkan lima waktu sembahyang dariku. Nabi Musa a.s berkata: Umatmu masih tidak mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Baginda bersabda: Baginda tak henti-henti berulang-alik antara Tuhan dan Nabi Musa a.s, sehinggalah Allah s.w.t berfirman Yang bermaksud: Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan hanyalah lima waktu sehari semalam. Setiap sembahyang fardu diganjarkan dengan sepuluh ganjaran. Oleh yang demikian, bererti lima waktu sembahyang fardu sama dengan lima puluh sembahyang fardu. Begitu juga sesiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, nescaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya sesiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, nescaya tidak sesuatu pun dicatat baginya. Seandainya dia melakukannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya.

    Baginda turun hingga sampai kepada Nabi Musa a.s, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih lagi berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Baginda menyahut: Aku terlalu banyak berulang kali kepada Tuhan, sehingga menyebabkan aku malu kepada-Nya. Kemudian Jibril membawaku hingga ke Sidratul Muntaha. Tempat mana ditutup dengan aneka warna yang aku tak tau warna-warna apa namanya. Sesudah itu aku dibawa masuk ke dalam surga, dimana didalamnya terdapat mutiara bersusun-susun sedang buminya bagaikan kasturi.

    Begitulah Hadist Shahih Bukhari No. 211 Jilid I menceritakan perjalanan Isra mi’raj Rosullullah, Penjelasan mengenai perintah Sholat yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw: Rasulullah menerima wahyu hanya di dua tempat yaitu di Mekah dan Madinah, makanya dikenal dengan Ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah.

    Mungkin dari sebagian orang yang tak percaya atau yang meragukanya Isra Mi’raj akan bertanya seperti ini:

    Kisah itu dari hadits kan? Sebenarnya hadits yang menuturkan kisah itu palsu nggak sih? Kenapa tidak ada ayatnya?
    Soalnya kalo aku pikir-pikir, kok rasanya aneh banget nabi SAW (yang merupakan nabi paling mulia) disuruh bolak balik kaya” orang bodoh. Dan lagi bukankah Allah Maha Tahu?

    Kenapa Allah nggak langsung aja ngasih perintah tuk sholat 5 waktu sejak awal?? Kebijaksanaan apa yang Allah maksud dengan membiarkan nabi kesayangannya harus bolak balik?

    Terus yang nyuruh nabi Musa? Nabi Musa kan nabinya orang-orang Bani Israel? Jangan-Jangan ini hadits Israiliyat?

    jawaban
    . Dengan segala ilmu yang ada, mereka adalah orang-orang yang punya kapasitas dan otoritas untuk menilai dan menetapkan kedudukan suatu hadits. Shahih tidaknya suatu hadits adalah urusan para ahli hadits. Mereka kita sebut dengan istilah
    Sementara kita yang bukan ahli hadits, tentu saja tidak dibenarkan main tuduh tentang kedudukan suatu hadits. Shahih dan tidaknya suatu hadits, sama sekali kita tidak pernah mengetahuinya, dan tidak pernah ada yang memberikan otoritas kepada kita untuk mengatakan apa pun tentang hal itu.
    .Mereka yang termasuk para muhaddits adalah para ulama besar yang diakui oleh dunia Islam sepanjang sejarah. Di tempat teratas, boleh kita sebut nama-nama besar seperti Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim
    Keduanya boleh dibilang begawan dalam ilmu hadits. Masing-masing telah menyusun kitab yang disepakati sebagai kitab paling shahih di dunia setelah Al-Quran. Tidak ada yang menentang hal ini dan sudah teruji sepanjang 14 abad terakhir ini.

    Hadits Mi”raj


    Nabi SAW bersabda, “Allah mewajibkan atas umatku 50 shalat dan aku kembali dengan perintah itu, sampai aku melewati nabi Musa di mana dia bertanya, “Apa yang Allah wajibkan kepada umatmu?” Aku menjawab, “Allah mewajibkan 50 shalat.”
    Musa berkata lagi, “Kembali kepada tuhanmu, karena umatmu tidak akan kuat atas perintah itu.” Maka aku kembali dan Allah menghapuskan separuhnya dan aku kembali kepada Musa.
    Musa berkata lagi, “Kembali kepada tuhanmu, karena umatmu tidak akan kuat atas perintah itu.” Maka aku kembali dan Allah berkata, “Shalat itu lima (waktu) dan dinilai lima puluh (pahalanya) dan perkataan-Ku tidak akan berganti.” Aku kembali lagi kepada Musa.
    Musa berkata lagi, “Kembali kepada tuhanmu.” Namun aku berkata, “Aku sudah malu kepada tuhanku.”(

    Kedudukan Hadits Mi”raj
    , adalah hadits yang terdapat di dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim. Artinya, hadits itu adalah hadits yang shahih, bukan hadits dhaif atau hadits palsu.Hadits tentang kisah mi”raj nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi Musa
    Selain Al-Bukhari dan Muslim, para ahli hadits lainnya juga mengatakan hal yang sama, yaitu hadits ini adalah hadits yang shahih. Tidak adasatu pun catatan yang menyebutkan bahwa misalnya ada satu ahli hadits yang mengatakan bahwa riwayat ini tidak shahih atau palsu.

    Tawar Menawar
    Adapun urusan”tawar menawar” masalah kewajiban shalat 5 waktu yang dipermasalahkan, sebenarnya tidak perlu dibikin susah. Haditsnya sudah shahih dan kita sudah menerima dengan sepenuh keyakinan.
    Kita tidak mungkin mengatakan bahwa nabi Muhammad SAW orang bodoh karena mau disuruh-suruh. Siapa yang menafsirkan bahwa nabi Muhammad SAW disuruh-suruh? Beliau sendiri tidak merasa disuruh-suruh oleh Musa.
    Hanya para orientalis dan dan para zindiq saja yang kemudian memelintir kenyataan menjadi mimpi siang bolong seolahnabi Muhammad SAW jadi bodoh karena mau disuruh-suruh oleh nabi Musa.
    yang berfungsi perintah. adalah , yang artinya adalah berilah kami petunjuk jalan yang lurus. Kata Kalau kita mengerti ilmu bayan, balaghahdan ilmu bahasa arab, tidak semua kata perintah berarti menyuruh sebagaimanatuan memerintah kepada jongosnya. Misalnyaucapan kita kepadaAllah SWT di dalam surat Al-Fatihah:
    ) adalah jongos, lalu Dia kita suruh-suruh, hanya lantaran kita memerintahkan sesuatu kepada Allah?Laluapakah kita dengan itu kita boleh mengambil kesimpuan bahwa kita ini adalah tuandanAllah (
    Kalau pertanyaanya kenapa tidak ada kisah itu di dalam Al-Quran, jawabnya itu adalah urusan Allah. Apakah sebuah keimanan harus ditulis dulu di dalam Al-Quran baru kita mau percaya? Apa yang kurang dari hadits nabawi? Atau jangan-jangan kita sudah terpedaya oleh pemikiran-pemikiran paham ingkarussunnah?
    Apa salahnya kisah itu dituliskan di dalam hadits nabawi? Apakah kalau sebuah kisah hanya ditulis di dalam hadits nabi, lantas kita boleh begitu saja main vonis bahwa kisah itu palsu atau israiliyat? Apakah semua hadits itu israiliyat?

    Nabi Musa Shahabat Nabi Muhammad SAW
    Yang benar adalah bahwa nabi Musa adalah shahabat nabi Muhammad SAW. Beliau pernah punya pengalaman buruk dengan kaumnya yang yahudi itu. Makanya begitu mendengar umat nabi Muhammad SAW dibebani shalat 50 waktu, Musa memberi saran dan masukan, bukan perintah apalagi menjadikan nabi SAW sebagai orang bodoh yang disuruh-suruh. Tidak pernah nabi Musa main paksa kepada nabi Muhammad SAW.
    Dan bagi Allah SWT tidak ada masalah kalau sengaja membuat nabi Muhammad SAW bolak-balik. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari kisah itu, semua biasa-biasa saja. Wajar kalau Allah SWT mengoreksi perintahnya sendiri. Sama sekali tidak menunjukkan ketidak-sepurnaan-Nya.
    ). Ada ada saja celah yang mereka gunakan untuk melakukan penghinaan kepada agama ini.Yang perlu diherankan justrucara berpikir negatif para zindiq, yang dengan mudah memvonisnabi Muhammad SAW sebagai orang bodoh (
    Sayangnya, mereka yang bukan zindiq terkadangikut terbawa-bawa dengan pikiran jahat, lantaran pikiran-pikiran jahat itu memang diposting di internet. Mungkin cara berpikir para zindiq inilahyang justru perlu diinstall ulang.

    “Semoga bermanfaat dan menjadikan kita orang-orang yang pandai menjawab dengan etika bukan dengan emosi semata”dan Hadist diatas Semoga juga menjadikan pelajaran yang berharga tentang kewajiban kita untuk selalu sholat sebagai rasa syukur kita kepada ALLAH atas nikmat yang diberikan”

    Wallahu a”lam bishshawa, wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Komentar oleh Ratih Kartiningsih | 28 Mei 2012 | Balas

    • subhanallah teruskan soudaraku

      Komentar oleh ali | 26 Desember 2012 | Balas

    • kerja bagus….mantab

      Komentar oleh ogut aja... | 14 Juli 2014 | Balas

  24. Kisah Isra mi’raj adalah bukti kekuasaan Allah, suatu kejadian dahsyat diluar dugaan manusia..
    Kalau Allah sudah berkehendak, apapun bisa terjadi..

    Komentar oleh val arrival | 5 Juni 2012 | Balas

  25. Alhamdulillah . . . penulis sungguh membuat islam itu banyak orang2 yang pintar, dengan begini islam jadi hidup, bisa saling tukar argumen yang menurut saya sangat membangun dan menggugah umat islam yang lain untuk meluruskan atau sependapat. saya kira ini sebuah wacana penulis saja. saya hargai atas wacana tersebut, sehingga umat islam tidak tertidur pulas dengan kehidupan sehari2, tapi akan menjadi ramai dalam mengkaji ilmu2 islam yang sangat luas sekali. ya saya mohon dengan hormat bagi penulis untuk menjelaskan lebih gamblang sehingga tidak terjadi problem bagi pembaca yang awam terhadap islamnya . . . semoga kita semua tidak menelan yang membaca tidak menelan mentah2 dari sebuah pendapat . . . afwan ya akhiy . . . syukron . . .

    Komentar oleh zen | 7 Juni 2012 | Balas

  26. Memang sekarang ini banyak orang yang mengaku ulama, ustadz, dll. sudah merasa dirinya paling pintar, dan mereka saking “pintarnya” sampai-sampai sudah tidak mau percaya sama hadist shahih, bahkan Al-Qur’an pun kalau perlu bisa dibantah dengan pemikiran-pemikirannya. Allah punya kehendak (iradat), ilmu sampean-sampean itu belum tentu bisa menjangkau ilmunya Allah, karena sampean menghukuminya dengan ilmu tataran syariat, belum menjangkau ilmu hakikat/ma’rifat. Sehingga yang timbul adalah keingkaran-keingkaran/keraguan-keraguan yang dibisikkan oleh syetan agar supaya umat Islam terpecah belah dalam berpendapat (tidak percaya) lagi kepada hadist/Al-Qur’an. Ulama-ulama hadist seperti Bukhari-Muslim saja sudah tidak dipercaya, karena yang digunakan hanya analisa akal mereka. Subhanallah,…orang semacam ini benar-benar sudah merasa paling pintar ilmunya. Akal manusia itu sangat terbatas, bila dibandingkan dengan ilmu Allah yang tidak kita ketahui. Karena kita merasa pintar berdasarkan analisis otak semata, bukan dengan hati. Akibatnya timbul penyakit suudzon/ragu-ragu/was-was/tidak tenang hatinya dan akhirnya menjadi orang yang ingkar. Lama-lama orang semacam ini menjadi orang tipe pencela, hatinya diliputi ketidaktenangan, serta berusaha mencari-cari kesalahan/kelemahan orang lain, dan arahnya jelas orang semacam ini akan menjadi muslim yang egois. Kalau kita punya pendapat sendiri yang menurutnya paling benar, sebaiknya tidak usah menjelek-jelekkan pendapat orang lain yang berbeda. Sampai kapanpun di dunia ini akan ada perbedaan pendapat/pro dan kontra (+ & -). Sikap kita yang bijak adalah diam…diam….diam….itu yang lebih baik, daripada menebar konflik diantara umat Islam, dengan komentar-komentar yang bisa menimbulkan perpecahan umat Islam. Pendapat kita belum tentu benar menurut pendapat orang lain.

    Komentar oleh FATONI | 13 Juni 2012 | Balas

  27. segala perkataan yang bersumber dari Alloh dan Rosulnya adalah suatu kebenaran. dan hanya Alloh dan Rosulnya yang mengetahui hakikat/maksud dari perkataan tersebut, selain Alloh dan Rosulnya hanyalah menduga-duga,, termasuk penulis artikel ini, antum juga hanya menduga, juga kita yang koment di sini, semua hanya menduga/dhan saja. maka kesimpulannya adalah : segala hal yang sumbernya bukan dari Alloh dan Rosulnya boleh dipercaya maupun di tolak. gak perlu ngerasa paling benar sendiri sedang yang lain salah.
    Al-Qur’an surat Al-Hujuraat ayat 12 yang berbunyi sebagai berikut :
    Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

    Komentar oleh badruddin | 14 Juni 2012 | Balas

    • Harus Anda fahami bahwa perkataan (kalimah) yg bersumber dari Allah itu hanya lewat lisan atau tutur kata Rasulullah SAW, tentu saja, sangat pasti benarnya, Itulah Alquran. Di sisi lain, para sahabat berceritera tentang kehidupan Rasulullah dlm ibadah atau muamalah itu semua kemudian dicatat dalam riwayat yg kemudian kita kenal dengan nama Alhadits. Dengan demikian kekuatan hukumnya sangat berbeda, kalau kata-kata Rasulullah, yakni Alquran tidak mungkin keliru. Tapi kalau kata-kata atau riwayat para sahabat jangan aneh kalau ada yang keliru. Nyatanya,oleh Imam Bukhri dan Imam Muslim banyak sekali hadits-hadits yang dinyatakan palsu. Bahkan tidak mustahil pula hadits-hadits yg berada dalam kedua shahih itupun masih ada yang tidak tepat, lemah bahkan palsu. Sesungguhnya menurut Pembela Alhadits sendiri (Imam Syafi’i) bahwa Alhadits adalah berangkat dari Dhanni alias duga-duga atau kontroversi. Sedangkan kalau Alquran itu berangkat dari Qath’i (Mutlak benarnya). Bukanlah duga-duga ata prasangka bila kita mengajukan sesuatu dibarengi dengan urgumentasi atau hujjah yg kuat (Bisa Alquran, Sunnah, Qiyash atau ‘Ijma). Diterima atau ditolah sebuah hujjah tergantung kepada kadar ilmu seseorang. Jadi tidak ilmiahlah bila yang dikomplain itu orangnya, namun yg dikomplain itu pengajuan argumentasi atau hujjahnya.

      Komentar oleh akiadnani | 31 Agustus 2012 | Balas

  28. penulis memvonis hadits tersebut di atas sbg hadits dha’if dari hasil kajian pointer/matan hadits yang katanya terselipkan riwayat israiliyat, oke kalo itu yang menjadi alasan. tapi kita juga musti sadar apakah asumsi kita atau interpretasi kita layak dibilang shohih ? ingat diantara syarat shohih suatu hadits/kajian/interpretasi/berita diantaranya adalah Tsiqohnya/bisa dipercayanya perawi/penyampai berita, APAKAH PENULIS SUDAH SAMPAI PADA DERAJAT TSIQOH ? juga termasuk perowinya tidak boleh MAJHUL/tidak jelas juntrungannya, APAKAH PENULIS SUDAH DIKENAL DIANTRA UMMAT ISLAM khusunya ahli hadits, kalo belum apa pernulis dan kita semua bukan termasuk perowi majhul ? kalo ternyata syarat shohih suatu hadits tidak apa pada kita semua berarti apa yang kita sampaikan baik berupa berita/info, pemikiran dan lainnya adalah merupakan suatu kedhaifan.

    Komentar oleh badruddin | 14 Juni 2012 | Balas

  29. akhirnya ane menemukan blog beginian. setelah ane debat tentang isra mi’raj bersama seorang teman. ane yakin sekali Allah maha tahu. Maha segala2 nya. mana mungkin Dia tawar menawar bgitu dgn Nabi Muhammad.

    Komentar oleh aulia | 20 Juni 2012 | Balas

    • Setuju dg antum!
      Tidak mungkin Allah tawar2 menawar dg makhluk-Nya.
      Yg jelas peristiwa Isra’ (perjalanan di waktu malam) dan mi’raj i (naik derajat) adalah kajian ilmu pengetahuan yg layak dan sangat ilmiah. Pada saatnya akan terungkap.

      Ana berharap umat Islam agar berhati2 dg kisah2 Israiliyat (datangnya dari kafir Yahudi) yg disamarkan (seolah-olah0 dlm hadits.

      Wahai Penulis! Ana angkat topi dg kajian kritisnya! Andai ada 1000 sepemikiran antum, maka akan terungkaplah sejarah yg hakiki tsb.!

      Komentar oleh Laila | 21 Juni 2012 | Balas

      • setuju

        Komentar oleh Raja | 22 Agustus 2012

  30. YA ALLAH AMPUNI HAMBA DAN SAUDARA -SAUDARA
    HAMBA…

    Komentar oleh SANTY | 23 Juni 2012 | Balas

  31. Apa sih 3 waktu.mane perginye surah Al isra ayat 78
    Yg mengatakan harus solat zuhur dan asar?

    Komentar oleh udin | 23 Juni 2012 | Balas

  32. Allah s.w.t maha pengasih lagi maha penyayang
    apa yang terjadi antara Allah dengan (nabi) utusan-Nya hanyalah sebuah ujian (penilaian) semata. Bukankah Allah mengetahui segala sesuatu baik yang di langit maupun di bumi
    perdebatan / perbincangan antara Allah dengan ciptaanya pernah terjadi sebelumnya, contoh syaitan yang menolak untuk bersujud kepada manusia dan kisah nabi2 sebelumnya
    untuk masalah hadits, ada satu yg mengganggu ketika nabi menyuruh salah satu umatnya untuk membaca al-Qur’an (tdk merujuk ke ayat tertentu ) dan bukankah al-Qur’an disusun dan disalin setelah nabi meninggal (seperti yang kita kenal skrg ) dan hal tersebut sering disampaikan dalam ceramah2

    Komentar oleh rully | 23 Juni 2012 | Balas

  33. Isra’ adalah Proses perjalanan Spiritual seorang Hamba untuk BERJUMPA dan MENGENAL Tuhannya.
    Mi’raj adalah Peristiwa PERJUMPAAN seorang Hamba dengan Tuhannya sehingga di MENGENAL Tuhannya.
    Untuk mencapai kondisi ini temuilah GURU MURSYID yang akan mengantarkan kita sampai mampu melakukan ISRA’ & MI’RAJ secara NYATA/RIL dan bukan sekedar mendapatkan cerita-cerita tentang Isra’ & Mi’raj saja.

    Komentar oleh Aviciena Yudhistira | 27 Juni 2012 | Balas

  34. CERITA 2 israiliat itu,apalagi ttg nabi MUSA yg menyuruh nabi saw itu harus dihapus dan jgn dipercayai,Tapi ttg nabi saw menerima perintah[menyempurnakan tata cara sholat]itu mungkin saja.KarenA dalam sejarahnya,sholat sebelum hijrahnya nabi saw.selalu dua rokaat,untuk setiap waktu.Setelah hijrahlah baru ada ketetapan sholat yg jumlah rokaatnya ber beda2 seperti yg kita laksanakan sekarang ini.ALLOHU’ALAM BISSHOWAB

    Komentar oleh jamin amora | 27 Juni 2012 | Balas

  35. Gw paling suka diskusi seperti ini dan dalam diskusi fanatik buta harus di tinggalkan..janganlah memvonis atau menghujat saudara kita hanya karena berbeda pendapat argumen balas dengan argumen,fakta balas dengan fakta itulah diskusi yg sehat …..trims untuk yg menulis artikel diatas karena sudah membuka pandangan baru buat gw tentang isra miraj….

    Komentar oleh andri | 3 Juli 2012 | Balas

  36. Ass. Good ideas kepada pengomentar no.37.Ana sudah bikin naskah ttg Isra Miraj. Tinggal nunggu yang berduit dan siap mengetengahkan keilmuan (tidak terlalu komersial). Secara gampang bahwa cerita isra mi’raj yang ada di tengah-tengah kita adalah bertentangan dgn Alquran, untuk sementara saya tidak mengatakan kisah itu tidak benar. Apa lagi mengikuti jalur ahli hadits, kalau sebuah hadis sudah di cap shahih, kita kan harus tutup mulut. Kalau masih ngomong sana sini, nanti dicap inkarussunnah dll. Yang jelas Allah berfirman bahwa Dia (Dzat Yangmaha Suci) telah memperjalankan hambanya (Rasulullah SAW) dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Baru sampai kalimat ini saja, ternyata yang diceriterakan oleh Imam Bukhari atau Imam Muslim, setelah melalui bebarapa sandaran (sanad, semisal Hudbah bin Khlaid, Hammam bin Yahya, Qatadah, Anas bin Malik dan Malik bin Sha’sha’ah dst., dst.,) adalah 1.langit dunia bertemu dgn ayah (manusia) nabi Adam, 2. Langit kedua Yahya dan isa 3. Di langit ketiga, bertemu dengan nabi cakep paras mukanya, Yusuf. Kamudian berturut-turut nabi Idris, Harun, Musa mentok di nabi Ibrahim di langit lantai 7. Kebetulan lagi senderan di Sidratul Muntaha. Ditempat yang bebas langit ini (Sidrtul Muntaha, Baitul Makmur dan Mustawan) di sidratul muntaha itu ada sumber 4 sungai yang besar, dua di surga (gak disebut nama sungainya) sedangkan yang di dunia (bumi) adalah sungai Nil dan sungai Furat (Eufrat). Hingga pulang dengan hanya mengantongi 5 kewajiban salat sehari semalam, Rasulullah kok kagak nyebut-nyebut atau mampir di Masjidil Aqsha, apakah sebagai tepat transit atau tempat tujuan (destinasi). Jadi Sahabat Anas bin Malik, sepertinya berceritera isra kagak pake ayat : subhanalladzi asra bi ‘abdihi laylan minal masjidil haraami ilal masjidil Aqsha….(QS17:1).(boleh jadi karena wahyunya belum dikodifikasi) Para ulama sekarang cerita Isra plus mikraj, pakai Alquran, padahal Alquran tidak pernah mengisahkan Mi’rajnya manusia, yang ada diceriterakan pada surah Al Ma’arij adalah tentang naik turunnya para malaikat yang hanya sehari atau semalam. Kalau manusia (termasuk Rasulullah tentunya) akan memerlukan waktu 50.000 (lima puluh ribu) tahun. Apa lagi umur Rasulullah hanya 63 tahun. Keburu meninggal di jalan. Atau memang mi’rajnya setelah beliau meninggal sehingga bertemu dengan para nabi yang ribuan tahun meninggal lebih dulu. Ada juga kiayi yang nyeret-nyeret surah An Najm (QS53) karena disebut-sebut sidratul muntaha, kagak nyambung juga, lantaran surah An Najm itu turun pada tahun ke lima kerasulan, sedangkan katanya isra mi’raj itu terjadi dua tahun lagi mau hijrah. Au ah gelap…….Yah, yang namanya dongeng buat anak kecil yang kagak ngarti apa-apa, yang penting rameeee…. Atau memang kaum muslimin ini masih kaya anak kecil yang akan diam bila dikasih dongengan, tapi, anehnya imannya merasa bertambah…………. Al hasil, bedahlah Alquran melalui faham atau versi manapun, lantas kita substitusi kisah itu. Baru ketahuan benar atau tidaknya kisah isra puls atau ditambah mi’raj itu. Jadi kalau ada yang berpendapat, kutak kutik terhadap kisah Isra-mi’raj itu adalah nyleneh, macem-macem, atau cari permusuhan, tandanya sudah demikian buruk nilai keilmu-agamaan ummat Islam ini. Harus diketahui bahwa dalam sejarah Islam ada yang namanya kisah Gharaniq, yg maksud bahwa Rasulullah menyakini mitos orang kafir bahwa berhala gharaniq itupun syafaatnya bisa diharapkan. Nah kisah yang diketengahkan dalam mufassir At Tabari ini, dihapus oleh pemikir-pemikir aqidah Islam, di antara nya oleh Muhammad Abduh. Dan kini kisah gharaniq itu tidak pernah muncul lagi karena merusak atau berlawanan dengan tauhid atau aqidah Islamiyah. Bila ingin pencerahan atau discuss, kontak : 08158863049 atau mustafaadnani@gmail.com Wass

    Komentar oleh akiadnani | 6 Juli 2012 | Balas

    • semoga dibukakan mata hatimu saudaraku, amin..

      Komentar oleh gerlad | 30 Juli 2013 | Balas

  37. bismillahirrohmanirrohim.. .
    semakin agama didekatkan pada logika maka syaitan akan menyelinap dan semakin menjerumuskan kita..

    Komentar oleh wanhonesty | 15 Juli 2012 | Balas

  38. Isra mi’raj bukan untuk menerima perintah shalat, tetapi untuk menyaksikan sebagian kecil tanda-tanda kekuasaan ALLAH (linuriyahuu min aayaatinaa).
    Perlu diingat tidak ada satupun hadits yang shoheh mengenai peristiwa Isra mi’raj.
    Satu hal yang belum diungkap oleh penulis, adalah kendaraan yang digunakan untuk membawa Rasulullah dari Mekkah di Bumi ke masjidil Aqsha di Sidratul Muntaha yang jaraknya tidak kurang dari 8 milyar mil dalam waktu kurang dari 12 jam.

    Komentar oleh Askartasas/Ade | 11 Agustus 2012 | Balas

    • Kendaraan/vehicle untuk bisa ‘tiba’ atau ‘kesampaian’ adalah dengan pengetahuan. Pengetahuan sering identik atau disimbolkan dengan ‘terang’ atau cahaya. Arti kata ‘barqu’ (kata dasar pembentuk kata buroq) sebetulnya adalah nama/arti lain dari “cahaya”.

      Komentar oleh ginsunmoon | 11 Oktober 2012 | Balas

  39. terima kasih atas blog nya gan.

    bagi muslim yang lain. sadarlah, bahwa kita berpegang pada al-quran dan hadis.
    yang artinya adalah AL-QURAN sebagai Pedoman dalam menelaah sebuah hadis.
    di zaman umar bin khatab, telah di peringatkan, agar orang2 kembali merujuk kepada al-quran bukan kepada hadis,. karena hadis hadis itu mudah sekali di sisipi, di plintir, walaupun pada saat ini sudah berlabel SOHIH,

    banyak kisah kisah di hadis yang konon sahih namun sebenarnya bertentangan dengan al-quran itu sendiri.

    umat islam pada saat ini sangat RENTAN PERPECAHAN. karena pertikaian pada HADIS. seandainya saja semua nya mau kembali kepada sumber nya yakni al-quran, niscaya tidak demikian.

    Komentar oleh Raja | 22 Agustus 2012 | Balas

    • Setuju banget ana sama pendapat antum “subhanallah”

      Komentar oleh H.Muhaimin | 5 Juni 2013 | Balas

  40. satu satunya “kendaraan” yang bisa mengantar seorang hamba kepada tuhan nya adalah.. RUH. inilah haqiqat sebuah pelambang yang sering latah di katakan burrokh…, alias dengan RUH. sedangkan jasmani manusia itu di kabarkan memerlukan masa dengan kadar 50.000 th. alias gak mungkin.

    maka akan cocok dengan ayat 6. Al An’aam

    103. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
    ==================================

    silahkan di lanjut, asal jgn mulut mencaci maki, apalagi saling kufur mengkufurkan.
    wassalam.

    Komentar oleh Raja | 22 Agustus 2012 | Balas

    • Adapun ttg kendaraan utk tiba atau sampe atau ‘kesampaian’ (kemanapun tempat/tujuannya) adalah dgn pengetahuan. Pengetahuan = mengetahui = sering disimbolkan dgn terang atau ‘cahaya’. Kata buroq berasal dari kata ‘barqu’ yg berarti ‘cahaya’.

      Komentar oleh ginsunmoon | 11 Oktober 2012 | Balas

  41. Benar, banyak hadis yg dilabeli sohih padahal tidak. Tapi tenang saja, bung. Ada ulama yg memeriksa kesohihannya, seperti Al-Albani, dll. Jadi, semua hadis yg sudah disaring oleh ulama pemeriksa kesohihannya yg kita temui, sohih semua, Insya Allah.

    Kemudian, klo ada hadis yg bertentangan dgn Al-Qur’an, tinggalkan. (Al-Albani dlm (terjemahan:Kumpulan Hadis Dha’if dan Palsu)

    Komentar oleh Kartto | 22 Agustus 2012 | Balas

  42. Mungkin…(coba ditafakuri bersama), dari beberapa petunjuk sbb:
    1. Sebagian besar saya sependapat dengan penulis artikel tsb diatas ini,
    2. Sholat itu “mi’rajul mukminin”.
    3. ‘Potret’ hakikat kronologis atau arti dari isra dan mi’raj bisa kita ‘baca’ di setiap hari jumat saat sidang sholat berjamaah di masjid jami, perhatikan keseluruh rukun2nya, dan kunci pintu utamanya, yaitu: “inalloha wamala ikatahuyusholu na ala nabi..dst”.

    Komentar oleh ginsunmoon | 11 Oktober 2012 | Balas

  43. Silakan menyimak : http://gerakanalmahdi.wordpress.com
    ………………………………………………
    SEBUAH HIKMAH & PELAJARAN
    (Khusus untuk anak-anakku)
    ………………………………………………
    Yang jelas bukan dari saya yang menulis. Tapi dari seseorang yang memang tidak mau diketahui jati dirinya. Silakan direnungkan semua pihak….

    Komentar oleh situ | 21 Oktober 2012 | Balas

  44. Apakah kamu tidak bisa membedakan antara perintah “wajib sholat bagi rasul2 dan nabi2″ dengan perintah “mulai wajib sholat” baik jumlah dan caranya “bagi ummat”?

    Komentar oleh hasan al banna | 26 November 2012 | Balas

  45. memang benar perintah shalat sudah ada sebelum peristiwa isra mi’raj, namun yang perlu dipahami, bukan sebelum isra mi’raj sudah ada perintah shalat, tapi sebelum diutus nabi muhammad sdh ada perintah shalat, memangnya tidak boleh adanya penyempurnaan suatu kebijakan ???

    Komentar oleh djakhirudin | 29 Mei 2013 | Balas

  46. jika ingin lebih jelasnya lagi anda semua bisa melihatnya dikitab ‘Qishshatul Mi’raj’…

    Komentar oleh ilyas | 6 Juni 2013 | Balas

  47. buat semuanya, JADILAH SEBAGAI ISLAM SEJATI, BUKAN SEKULER, jangan terpengaruh oleh hal-hal yang bisa merusak persatuan umat islam :), karena ILMU ALLAH itu tidak bisa di pecahkan oleh akal manusia, kita2 ikuti aja, yang penting tidak sesat !!! ngapain harus saling berdebat !!!

    Komentar oleh broww | 3 Juli 2013 | Balas

  48. mungkin RASULULLAH JUGA MELAKUKAN DAKWAH DI PLANET2 LAIN WAKTU MIRAJ
    KARENA BELIAU ADALAH RAHMATAN LIL ALAMIN
    TAHUKAH PARA ILMUAN SEKARANG MENEMUKAN BNYAK PLANET SEPERTI BUMI DI ALAM SEMESTA YG LUASNYA HANYA ALLAH SAJA YG MAHA TAHU

    PARA ILMUAN MENCARI BUKTI ADANYA KEHIDUPAN DI LUAR SANA
    TAPI ALQURAN UDH MENDAHULUINYA
    WAKTU BERJALAN DI BUMI DAN WAKTU DI LUAR SANA ITU BERBEDA JAUUUH

    TAPI ALLAH DAN RASULNYA LEBIH TAU

    Komentar oleh niece | 23 Juli 2013 | Balas

  49. makanya banyak sekali yang memiliki pemikiran2 seperti diatas (tawar menawar sholat lah, kendaraan nabi yg berupa seperti hewan lah, dll)… kita tidak ada yang tahu karena kita tidak mendengar lsg dr rosulullah dan itu semua kurang lebih ceritanya sudah dikurangi atau bahkan mungkin di lebih-lebihkan makanya terlihat aneh,,,, jika kita memang benar-benar beriman, janganlah kita mempertanyakan bagaimana cerita aslinya… jangan kita sebagai manusia biasa yang penuh dosa,,sahabat nabi aja tidak percaya akan apa yang sudah beliau ceritakan… pikiran kita tidak akan sampai pada itu semua, semakin kita memikirkan maka semakin kita akan terlihat seperti orng bodoh

    Komentar oleh farah | 1 September 2013 | Balas

  50. Menurut pendapat saya : yang diterima/dijeput Nabi Muhammad SAW ketika Isra’ Mi’raj itu adalah perintah Shalat Wajib, sementara sebelumnya Nabi telah melaksanakan Shalat (sunat) tetapi bukan karena perintah wajib (shalat wajib).

    Komentar oleh David | 2 September 2013 | Balas

  51. penulis artikelnya berpikir menurut akal logikanya sendiri dan mengambil kesimpulan menurut hawa nafsunya sendiri tentang isra miral cuma soal sholat 5 waktu. kesalahan besar dari akal yg sempit

    jelas isra miraj perjalanan yg diluar logika, tapi si penulis memasukkannya ke dalam logika, pastilah bertentangan.

    kaya si penulis artikel. Beberapa Keanehan hadis di atas…

    1. Malaikat penjaga langit, tidak mengenal Malaikat Jibril…——..anak kecil juga bisa pake alasan kayak gini. si penulis lupa kalau di langit itu kerajaan Allah Subhanawata’ala, tentu ada tata cara dalam kerajaan.

    2. Buraq digambarkan seperti hewan tunggangan, yang di-ikat di pintu masjid ——-…kalau di pikir pake otak sempit anak umur 3thn pun bisa pake alasan seperti ini

    3. Rasulullah shalat 2 rakaat sebelum ke langit, padahal perintah shalat belum datang (menurut hadis tersebut)…———– ya kayak gini kalau ga baca kisah2 para nabi selain nabi Muhammad. nabi2 lain juga diperintahkan untuk sholat cuma caranya berbeda. nah di waktu di sempurnakan islamlah sholatpun disempurnakan

    4. Kisah tawar-menawar jumlah rakaat Shalat…—– yg kayak gini nih jawabn anak TK

    5. Ruh para Nabi berada di langit, bukan di alam barzah…—– dipoin ini semakin sempit otak penulis artikelnya. emang ente tau arah jalan ke alam barzah atau arah jalan ke langit ? sampe2 ente seolah2 tau keberadaan ruh para nabi.

    Komentar oleh syaiful | 8 September 2013 | Balas

  52. Beberapa Keanehan hadis di atas…

    1. Malaikat penjaga langit, tidak mengenal Malaikat Jibril…
    2. Buraq digambarkan seperti hewan tunggangan, yang di-ikat di pintu masjid…
    3. Rasulullah shalat 2 rakaat sebelum ke langit, padahal perintah shalat belum datang (menurut hadis tersebut)…
    4. Kisah tawar-menawar jumlah rakaat Shalat…
    5. Ruh para Nabi berada di langit, bukan di alam barzah…
    Satu hal lagi yang menyangsikan
    6. Tidak ada satu kata VERBAL Allah yang diingat oleh Rasullah ketika tawar menawar kewajiban jumlah sholat yg harus dilakukan umatnya !

    Komentar oleh Secret Whisper | 12 September 2013 | Balas

  53. Ass. Wr. Wb.
    Menurut “kami” peristiwa isra’mi’raj itu adalah pelantikan kerasulan Muhammad dan awal mulanya 2 kalimat syahadat. Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah contoh tauladan yg di lakoni oleh Nabi kita tentang implementasi dari Ayat “Innaa Lillahi Wainnaa Ilihi Rajiun” Sesungguhnya Kita dari Allah dan kepadanya kita KEMBALI.
    Perjalanan Isra’ : perjalanan awal kehidupan manusia (perjalanan kelahiran Manusia) semua Manusia yg lahir pada hakekatnya sudah Isra’. Dan kelak kita semua akan Mi’raj (mengalami Kematian).
    Lokasi2 yg disebutkan oleh hadist tersebut bukanlah lokasi yang ada di Tanah arab. Karena wktu itu jaman dinasti Ummayah sesudah jaman Khulafaau Rrasyidin. Jadi Belum Ada Masjid. Al Aqsa (masih gereja besar) di palestina, Ka’bah sendiri masih belum jadi. Lokasi yg dimaksud bukan secara lahiriah… Tetapi lebih secara Batiniah.
    Kami memiliki dasar atas jawaban kami ini…
    Batiniah bukan sekedar menggunakan akal/logika krn kami sadar kemampuan otak memiliki keterbatasan. Tafakkaru fi khalkilla walaa tafakkkaru fi hkalili : pikirkan Cipataan_Nya & jgn pikirkan Penciptanya. Karena Pencipta tidak dijangkau akal pikiran & tdk bisa di akal-akali. Wss

    Komentar oleh razak7 | 20 September 2013 | Balas

  54. setuju dengan antum 55… artikel ini sudah lebih dari cukup untuk membuat kita terbuka.. berpikir bahwa wawasan kita perlu di perluas kembali untuk dapat memahami makna dari sebuah ayat.. paling tidakm dengan berbagai macam versi pandangan tsb, dapat membuat kita semakin hati2..mawas diri dengan hal2 yg baru..amin.. buat yang nulis artikel,,ditunggu artikel2 lainnya.. biar kita semakin tambah wawasannya..

    Komentar oleh lutfi | 28 September 2013 | Balas

    • para saudara yang dicintai dan dirahmati Allah isra miraj itu dua hal dalam satu waktu isra itu perjalanan dari masjidil haram ke masjidil aqsha mengendarai buroj
      miraj itu perjalanan dari masjidil aqsha ke sidurotul muntaha bersaMA MALAIKAT JIBRIL
      jadi dapat disimpulkan bahwa buroj itu sudah pasti hewan biasa (beda nama adalah hal biasa camel-unta atau chcicken-ayam. yang pasti buroj adlh nama dari Allah karena rasullullah SAW menyebut demikian )
      kenapa ada dan mengapa isra miraj ?
      jawabannya karena Rasullullah SAW begitu spesial diantara para nabi tetapi rasullullah SAW hanya mendapat wahyu Allah dari malaikat2 nya saja
      untuk itu ada isra miraj yang dalam satu malam tetapi lebih bermakna
      1.nabi adam As orang yang pertama diciptakan Allah otomatis dia bertemu langsung dengan Allah dan rasullulah SAW bertemu Allah dalam Isra miraj
      2.nabi nuh As mandapat wahyu dari Allah untuk menyelamatkan umatnya dengan membuat bahtera sedangkan Rasullullah mendapat perintah dari ALLAH UNTUK “menyelamatkan” umatnya dengan sholat 5 waktu
      3.nabi musa As bergelar sebagai kalimatullah karena mendapat wahyu dan bicara langsung dengan Allah dan Rasullullah SAW juga bicara langsung kepada Allah
      4.nabi Isa As yang dikatakan tuhan oleh umat lain ( subhanallah laa ila ha illAllah )
      juga kalah oleh Rasullulah SAW kenapa ? karena Rasullulah SAW melihat neraka dan surga dan juga langit beserta isinya dalam perjalanan isra miraj yang seharusnya hanya boleh diketahui oleh ALLAH SWT beserta para malaikatnya dan juga pengangkatan nabi isa As (sebelum disalib) ke langit ke dua juga diulangi dalam isra miraj
      (subhanallah alhamdulillah laa ila ha illALLAH ALLAHu akbar)
      karena itu perjalanan isra miraj itu bukanlah mimpi atau perjalanan ruh karena jikalau demikian maka akan sia2 semua itu. lha wong cuma mimpi !!!! (pasti fisik)

      Komentar oleh abdullah | 21 Januari 2014 | Balas

  55. mas kanzul….mungkin ini akan menjawab sedikit keraguan anda…silahkan kunjungi blog saya

    http://mizanuladyan.wordpress.com/2012/10/27/peristiwa-israk-mikrajapakah-musa-lebih-tahu-dari-allah-dan-allah-gila-di-ibadati/

    Komentar oleh miguel servetus | 4 Oktober 2013 | Balas

  56. MasyALLAH,,, luar biasa ilmu yg ALLAH berikan kpd tiap hambanya, sehingga pola pikir dan cara memahami sstu jg berbeda beda,, Rasulullah saw mgatakan bahwa perbedaan dikalangan umatku adalah Rahmat,,,,
    oh ya saudaraku sesama muslim,,, Hadis Imam Bukhori Dan Imam Muslim adalah yg paling baik dr yg terbaik dr hadis lainya,,, mengkritik karya seorang Imam Bukhori dan seorang Imam Muslim menurut sy ( hamba yg bodoh ini) seumpama seorang anak SD yg mengkritik hasil karya sang Profesor.
    saran sy saudara sekalian bgmn klo kita ga usah meragukan sedikitpun Hasil karya mereka, kalupun ada meragukan/kontroversial yg tidak sesui dgn logis kita, mugkin masalhnya bukan trdapat pd Hadis riwayat mereka, Mungkin saja terletak pd pola pikir kt masing masing yg kurang mencerna.

    Masalah Sholat,,, ada atau belum ada ketika kisah Isra wal miraj, yg jelas ada bro, cuma sholat yg diterima ini adalah sholat penyempurna dan gabungan antara sholat2 umat terdahulu, Dimana Sholat inilah kewajiban yg paling utama setelah iman, dan jg waktunya yg telah ditetapkan. serta rakaatnya agar umt ini mudah dalam melaksanakanya.

    Adapun pintu langit yg dibuka, ini jelas adalah anugerah khusus buat nabi saw, dimana tidak akan dibukakan pintu pintu langit kpd seluruh mahluk ALLAH swt kecuali dgn nama Rasulullah saw.

    Adapun masalah Ruh para Anbiya as, dan masalah alam barsah,,, kita hanya diberitau setetes/sedikit saja oleh ALLAH swt masih byk seluas lautan samudera yg belum kita ketahui, hingga akal kita kurang bs menyambungkan tali tali yg terputus, jgnkan Ruh Anbiya,, umatnya Rasulullah saw yg mati sahid dijalanya , ALLAH swt mngatakan Mrk tidak mati, atau bs dibilang mereka tidak berada didalm barsah, tp ruh mereka ALLAH swt taruh didalam taman taman surga, yg mereka berhak atas apa yg mereka inginkan, Apalagi Ruh para nabi…..? yg bukan umat biasa.

    Terus masalah bolak baliknya rasulullah saw, disitulah kita sadar betapa mulianya sholat yg diterima ini hingga ALLAH swt memprosesnya sedemikin rupa,, Bs saja kan ALLLAH swt menurunkanya kebumi tanpa adanya proses miraj atau tawar menawar. Itulah mahalnya Sholat hingga seluruh perintah NYA diturunkan melalui perantara malaikat Jibril as, kecuali perintah sholat yg ALLAH swt mngangkat Rasulullah saw menembus 7 langit untuk menerimanya tanpa ada perantara tanpa ada Hijab, proses bolak balikya Rasulullah saw menbuktikan bahwa sesungguhnya sholat kita yg asli sebenarnya adalah 50 wkt, dan jg menunjukan betapa Pemurahnya ALLAH SWT dan saking sayangnya ALLAH SWT kpd kita hingga ALLAH SWT meringankanya untuk umat ini.

    sekali lg mugkin bukan perawi hadisnya yg salah,, dalam hal ini adalah Imam BUkhori wal Muslim, tp pola pikir kitalah yg kurang mencerna. coba kaji ulang, dan jgn keluar dr koridor. koridor kita cm 2, yakni ALQURAN dan ALHADIS, sedang tiada Hadis yg lebih baik dibanding karya Imam Bukhori dan Imam Muslim.

    Komentar oleh abdillah99 | 5 Oktober 2013 | Balas

  57. Mhn maaf mau bertanya ada yg mengganjal selama ini. Apakah Nabi Muhammad atau Nabi sebelumnya sewaktu tahayat akhir jg membaca Shalawat. Mohon penjelasannya. Tks

    Komentar oleh guci | 7 Desember 2013 | Balas

  58. Perjalanan isra & mi’raj nabi SAW, bukan diuji oleh tatanan rasional, tetapi dengan dengan tatanan iman…, karena pada zaman nabi pun
    setelah nabi melakukan perjalanan isra mi’raj, banyak kaum muslim yang tidak percaya…

    Komentar oleh badrudin | 8 Desember 2013 | Balas

  59. sungguh sayang, anda pintar dalam memahami sesuatu dengan dasar yang begitu lengkap. anda gunakan argumen al-Qur’an untuk melawan hadits atau sebaliknya dan itu memang diperbolehkan dalam Islam. sayangnya logika yang anda pakai terbalik. saya tahu anda khawatir umat ini akan terpecah dan hidup dalam hal-hal atau cerita-ceriat israiliyat.

    Komentar oleh muabad | 15 Februari 2014 | Balas

  60. salam… ketahuan Allah bagi sesesuatu hal tiada yang tersembunyi darinya.tetapi banyak dalam hadith2 yang menyebut pertanyaan Allah kepada para malaikatnya berkenaan hamba2nya.contoh perihal tugasan malaikat bagi setiap manusia dan pertukaran tugas dari malaikat penjaga siang dan malam sehingga Allah bertanya kepada salah satu malaikat penjaga bagai mana keadaan hambanya sewaktu malaikat tinggalkan..dan malaikat menyatakan apa yg terjadi…Allah maha mengetahui sebenarnya,tanpa ditanya pada malaikat pun Allah tahu..so kita jangan lah nak mempertikaikan perihal pertanyaan atau pengetahuan Allah bagi segala sesuatu termasuk perihal penerimaan solat.Perintah solat diwajibkan bagi seluruh umat sejagat.Dahulu pun arak belum diharamkan semasa permulaan islam..so step by step yang Allah tetapkan…bukan secara drastik..Allah maha mengetahui apa yang dia perbuat..Wallahualama…

    Komentar oleh Al Quraan dan Hadith pegangan ku | 26 Februari 2014 | Balas

  61. Wassalam Sdr.

    Pelajarilah pemahaman Makrifat “pengenalan diri” & Tasawuf Sdr (kebatinan islam), maka kamu akan mengerti arti-makna hakikat Isra mikraj itu sendiri, dari penjelasan sdr, anda sendiri bingung dgn hadist diatas sewaktu baginda Nabi Muhammad mikraj kpd-Nya,…. Itu karena sdr sendiri gak pernah mengalami-merasakan Mikraj itu sendiri. Hadist : “Karena sholatnya org2 yg beriman itu ad/Mikraj kpd- Nya”… Jika anda sdh memahami makrifat & tasawuf pasti anda meyakini hadist tsb.
    Sebenarnya ibadah2 sholatnya para Nabi dulu berbeda2 cara teknik penyembahan kpd-Nya, ada yg berdiri saja, ada yg rukuk saja, ada yg hanya sujud terus, ada yg cuma duduk saja…. Dan dizaman Rasulullah disempurnakanlah ksemuanya setelah beliau sdh di mikrajkan…. Dan menurut pemahaman keilmuan bagi kalangan Ahli Tasawuf & Ahli Makrifat masih ada lagi Rahasia2 tentang kejadian2 Langit & Bumi serta juga Rahasia2 tentang Asma Allah (Ismul Adzhim), Af’Al ُAllah, Sifatullah, Wujudullah, Nurullah, Zatullah, yg diberitahukan kpd Baginda Rasulullah, namun tak dibuka-ditulis semua…. Inilah yg dimaksud hakikat yg tersirat dari Mikraj itu sendiri.
    Hadist sdr diatas sdh sangat benar…. Namun Kajilah dgn ilmu Tasawuf, Ilmu hakikat sampai makrifat, karena dgn pemahaman tsb sdr bisa lebih dpt meyakini arti-makna Isra Mikraj Baginda Rasulullah SAW.

    Terimakasih atas pemahaman nya Sdr.
    Semoga kita selalu menjadi Ummat yg bersatu dgn pemahaman ISLAM yg satu.
    Bukan Ummat yg selalu menciptakan banyak perbedaan hingga menjadi lemah di mata musuh2 ISLAM & Musuh2 ُAllah.

    Barokallah.

    Salam Santun.
    E’en Arif Fattah.

    Komentar oleh Edwin Engelen | 11 April 2014 | Balas

  62. 00001 1ab

    Aduhai…… Celakalah Kami…..!!!!!

    Ya rabb yang maha agung…..
    Niscaya celakalah kami jikalau engkau engkau tak merengkuh kami ke jalan mu……….
    Celakalah kami yang awam ini jikalau engkau tak menunjukan jalan mu yang lurus……..

    Ya rahhman ya rahhim…………
    Dalam kekacauan hati ini biarkan sejenak aku mengadu akan perihal kami para hamba………
    sungguh kami yang lemah ini dan bodoh ini telah dibuat bingung oleh para ahli ilmu INI dan ITU….
    Yaitu para ahli yang merasa paling benar dan paling tinggi ilmunya……

    Wahai Rabb yg maha segalanya……….
    Sungguh meraka telah lupa bahwa ilmu mereka tiada berarti dalam perbendaharaan maha ilmu…
    Sungguh mereka telah merasa palling benar diantara yang lain…..
    Sungguh sebagian dari mereka sengaja memilah dan memilih DALIL INI DAN DALIL ITU,….
    Demi Ego Iblis Dalam diri mereka agar mereka diakui sebagai ahli yang paling menguasai ilmu………..
    Dan demi hasutan syaiton dalam hati mereka yang berbisik bahwa merekalah golongan orang yang paling benar…..

    Ya Rabb yang maha diatas maha……
    Sebagian dari kami telah lalai dan lupa, Bahwa Engkaulah yang mengangkat nabi dan Rasulmu….
    Dan Manusia lah yang mengangkat imam atau Syeikh ini itu dalam segala statusnya yang Tsiqoh atau apalah…….
    Sungguh…………………
    Celakalah sebagian dari kami yang telah lupa bahwa apa yang diangkat dan ditetapkan manusia itu sangat lemah…
    Celaka besarlah sebagian dari kami yang beranggapan bahwa ajaran guru mereka adalah kebenaran mutlak sehingga mereka menutup hati dan akal mereka dari kebenaran lain yang bukan diajarkan guru meraka……………

    Ya Maaliqi yaumiddiin………….
    Niscaya kami akan celaka jika engkau tak menunjukan Shiraathal Mustaqiim………
    Kami yang bodoh dan miskin ilmu ini hanya ingin engkau menunjukan
    shiraatha ladziina’an’amta alaihim ghairil maghduubialaihim…..

    00001 1ab

    Komentar oleh 001 1ab | 13 April 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: