Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Penghuni Langit, dalam Budaya Masyarakat Nusantara

Sang Hyang Ismaya mengamuk, berbagai teknologi persenjataan ia keluarkan untuk mengalahkan lawannya. Sama halnya dengan sang lawan, Sang Hyang Tejamantri, dengan sekuat tenaga ia menahan gempuran-gempuran dari musuhnya.

Pertempuaran dua bersaudara, yang terjadi di Kahyangan, sebuah negeri nun jauh di sana di luar bumi, telah meluluh lantak-kan wilayah sekitarnya. Gunung-gunung dibikin hancur, bahkan akibat dahsyatnya adu kesaktian ini, berakibat merusak tubuh mereka berdua.

Sang Penguasa Kahyangan, Sang Hyang Tunggal langsung turun ke lapangan, mererai pertempuran kedua anaknya. Alhasil keduanya diusir dari Kahyangan, keduanya diperintahkan turun ke bumi, Sang Hyang Ismaya (Semar) mendapat tugas membimbing penguasa berwatak baik dan Sang Hyang Tejamantri (Togog), ditugaskan membimbing penguasa bumi yang berwatak jahat.


Penghuni Langit Pewayangan, bukanlah Penghuni Surga

Kisah di atas, tentu sangat populer di kalangan pecinta wayang. Cerita yang telah berumur ratusan tahun itu, berulang-ulang dikisahkan kembali oleh Sang Dalang.

Tentu semua maklum, yang dimaksud Kahyangan bukanlah surga dalam pemahaman Islam. Karena Kahyangan pada Pewayangan adalah sebuah wilayah yang di pimpin Raja Dewa, yang memiliki istri dan anak.

Bahkan penduduk Kahyangan digambarkan, sering hilir mudik ke bumi, dan ada beberapa diantaranya, berkeluarga dengan penduduk bumi.

Penguasa Mataram, Keturunan Bidadari

Selain Para Dewa, masyarakat kita juga mengenal Penghuni Langit yang lain, yang disebut Bidadari.

Bidadari digambarkan sebagai wanita yang berwajah rupawan, sama halnya dengan Para Dewa, Bidadari ini juga diceritakan sering berpergian menuju bumi.

Dalam dunia genealogy, kita mengenal nama Dewi Nawang Sih, istri dari Raden Bondhan Kejawan (Lembu Peteng).  Mereka berdua dikaruniai anak bernama Raden Depok (Ki Ageng Getas Pandowo).

Melalui zuriat Raden Depok inilah, akan muncul penguasa Mataram Islam pertama, sekaligus leluhur para Bangsawan Jawa, yaitu Raden Danang Sutowijoyo (Panembahan Senopati).

Siapakah Dewi Nawang Sih ?

Berdasarkan kisah legenda, beliau adalah puteri Jaka Tarub, yang menikah dengan seorang Bidadari yang bernama Dewi Nawang Wulan.

Terlepas akan kebenaran Legenda keberadaan Sang Hyang Ismaya (Semar) dan Dewi Nawang Wulan, kisah-kisah itu telah memberi isyarat kepada kita, bahwa sejak dahulu kala, manyarakat di Nusantara telah mempercayai adanya makhluk berakal lain di luar bumi, yang oleh masyarakat barat di-istilahkan sebagai Alien.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Tentang iklan-iklan ini

13 Juli 2012 - Posted by | kanzunQALAM, sejarah | , , , , , , , ,

13 Komentar »

  1. masuk akal, dikisahkan juga mereka punya ilmu/intelegensi diatas manusia bumi. berarti penghuni tanah jawa ini masih ada keturunan alien donk?

    Komentar oleh krizvector | 14 Juli 2012 | Balas

  2. Wah, semoga penemuan-penemuannya semakin banyak dan bermanfaat bagi kita semua yang membuka diri.

    Komentar oleh Akhidul | 16 Juli 2012 | Balas

  3. Blogwalking…
    Salam kenal :-)
    Blognya keren! Update terus ya

    Komentar oleh KaosKehidupan.org | 16 Juli 2012 | Balas

  4. Coba search TV series Ancient Aliens di Youtube. Banyak kebudayaang di seluruh dunia juga menggambarkan makhluk langit, perang dengan teknologi canggih (mungkin saja nuklir), dan sebagainya.

    Komentar oleh bay | 17 Juli 2012 | Balas

  5. Islam anti kemusrikan dan takhayul. Yg gak jelas(shahih) mending buang jauh jauh sekalipun itu d anggap budaya.

    Komentar oleh pandi rusmanto | 30 Juli 2012 | Balas

    • hai teman,….jgnlah engkau berkata sprt itu! dan tolong belajar tentang agama lebih dalam lg!
      tolong jgn bawa nama islam kalo cara ngomangnya salah!
      wallaa ana abidum ma abattum,wallaa antum abidu ma abattum,lakum dinukum walyadiin!

      Komentar oleh KAKOEL | 31 Juli 2013 | Balas

  6. tetapi cerita tentang ismaya dan kahyangannya adalah berasal dari India.

    Komentar oleh dasamuka | 14 Agustus 2012 | Balas

    • Sepanjang pengetahuan kami…
      Kisah Bathara Ismaya (Semar), hanya ada di dunia pewayangan tanah jawa…

      Komentar oleh kanzunQALAM | 14 Agustus 2012 | Balas

      • yang saya tahu juga begitu. Semar hanya ada di kisah pewayangan jawa, saat zaman para wali. Setahu saya begitu.

        Komentar oleh soerya | 28 Agustus 2012

  7. Terlepas itu tahayul dan tdk sesuai dg dasar Islam (tidak islami), jika kalo kita mau merunut ke sejarah wali sembilan di tanah Jawa…., justru pewayangan (terutama wayang kulit) sebagai media penyebaran agama islam, terutama Sunan Kalijaga. Beberapa tokoh seperti Semar, mengilhami Sunan Kalijogo untuk memasukkan unsur-unsur islam di dalamnya. Istilah senjata kalimasodho (kalo tidak salah) di pewayangan, diambil dari Kalimat Sahadat. Bisa dibilang, penemu wayang kulit adalah Sunan Kalijogo. Seperti kita ketahui, Mahabarata diambil dari cerita klasik dari tanah India dengan background Hindu. Beberapa tokoh-tokoh di pewayangan menjadi dewa di agama Hindu. Tetapi cerita Mahabarata bukan cerita sederhana, semua kejadian di Mahabarata mungkin dinukilkan dari kejadian-kejadian sehari2 yang berlangsung waktu dulu. Sedangkan agama Hindu pun punya sejarah panjang yang berhubungan dengan Nabi Musa AS. Ditengarai, pada masa Nabi Musa, agama Hindu muncul. Jadi…, inspirasi-inspirasi di pewayangan telah berputar-putar di ranah agama tauhid waktu dulu sampai dengan sekarang. Tergantung kita menyikapinya bagaimana. Bagi saya hanya sebagai tontonan budaya yang patut dijaga kelestariannya saja, tanpa dicampur-adukkan ke masalah keyakinan.

    Komentar oleh Diansa | 23 September 2012 | Balas

  8. saya rasa yang memiliki teknologi yg lebih maju itu beeasal dari bangsa jin…,bukankah mereka lebih kuat dari kita dan bisa berubah wujud sesukanya,…..

    Komentar oleh mantriz | 6 Januari 2013 | Balas

  9. Petunjuk Al-Qur’an Tentang Makhluk Berakal di Luar Planet Bumi

    Oleh: Bpk. Yudi N. Ihsan

    Al-Qur’an merupakan mu’jizat terbesar sepanjang masa. Pertamakali dibukukan di jaman Khalifah Abu Bakr, lalu pembukuannya disempurnakan di jaman Khalifah Umar bin Khathab. Sedangkan di jaman Khalifah Utsman mulai ditetapkan bentuk hurufnya serta diperbanyak sehingga dikenal istilah Rosam Utsmani. Ilmu tata bahasa al-Qur’an (nahwu dan sharaf) mulai diperkenalkan di jaman khalifah Ali bin Abi Thalib.

    Salah satu keistimewaan al-Qur’an adalah memungkinkan penafsirannya yang terus berkembang dan selalu up to date. Salah satu contohnya adalah yang terdapat di dalam surat Ar-Ra’du (13) ayat 15.

    Dan hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) “Man” yang ada di langit dan di Bumi, baik dengan kemauan sendiri (taat), ataupun terpaksa, begitupula bayang-bayangnya (ikut sujud) di pagi dan petang hari (QS 13:15).

    Ayat tersebut menjelaskan adanya “Man” di langit dan di Bumi. Lalu siapakah yang dimaksud “Man” di dalam ayat ini?

    1. Di dalam tata bahasa al-Qur’an (arab) “Man” menunjukan makhluk yang diberi akal. Sedangkan makhluk berakal yang diciptakan Allah swt ada 4, yaitu: Malaikat, Iblis, Jin, dan Manusia. Oleh sebab itu makhluk-makhluk lain seperti binatang, tumbuhan, atau benda mati tidak bisa disebut “Man” tetapi disebut “Maa”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka “Man” bermakna “Siapa” dan “Maa” bermakna “Apa”.

    2. Ciri-ciri “Man” yang dimaksud di dalam ayat di atas adalah:
    a) Sujud dengan taat kepada Allah;
    b) Sujud dengan terpaksa kepada Allah; dan
    c) Memiliki bayang-bayang.
    Ayat tersebut berbunyi: Walillahi yasjudu Man fi ssamaawaati wal ardhi, jika diterjemahkan menjadi: Dan kepada Allah “Man” di langit dan di Bumi bersujud/beribadah. Itu bunyi paraghraf pertama dari ayat tersebut. Paraghraf ini menjelaskan adanya “Man” di langit dan di Bumi yang bersujud/beribadah kepada Allah. Lalu dilanjutkan dengan kalimat: Thou’an wa karhan wa dzilaluhum…., jika diterjemahkan menjadi: Taat, dan terpaksa, dan bayang-bayang mereka…… Paraghraf ini menjelaskan cirri-ciri “Man” yang dimaksud pada paraghraf pertama. Bahwa sujud/ibadahnya si “Man” yang dimaksud di atas kadang kala taat, kadang terpaksa, dan mereka memiliki bayang-bayang.

    3. Perlu diketahui lagi bahwa kata As-samaawaati pada ayat tersebut berbentuk jamak. Sehingga menjadi petunjuk bahwa “Man” yang berada di luar planet Bumi akan tersebar di banyak planet lain.

    3. Jika melihat ciri-ciri tersebut diatas maka tidak mungkin yang dimaksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Malaikat, karena Malaikat selalu patuh kepada Allah, tidak pernah terpaksa, dan tidak memiliki bayang-bayang.

    4. Juga tidak mungkin yang maksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Iblis, karena Iblis tidak pernah taat kepada Allah serta tidak memiliki bayang-bayang.

    5. Dan tidak mungkin pula yang dimaksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Jin. Walaupun ada Jin yang taat dan terpaksa, tetapi Jin tidak memiliki bayang-bayang.

    6. Maka yang dimaksud dengan “Man” pada ayat tersebut adalah makhluk seperti manusia. Yaitu mahkluk yang kadang kala taat, atau terpaksa serta memiliki bayang-bayang. Oleh sebab itu, ayat tersebut menjadi petunjuk adanya makhluk berakal seperti manusia di luar planet Bumi.

    Disamping “Man”, di luar planet Bumi pun Allah swt pun menciptakan “Maa” dari kelompok binatang melata. Sebagaimana firman Allah swt di dalam surat An-Nahl (16) ayat 49.

    Dan hanya kepada Allah-lah sujud “Maa” yang melata yang ada dilangit dan “Maa” yang melata yang ada di Bumi. Dan para Malaikat, dan mereka tidak menyombongkan diri. (QS 16:49).

    Ayat tersebut menjelaskan adanya “Maa” dan “Malaikat” di langit dan di Bumi yang selalu sujud kepada Allah serta tidak sombong. Pada ayat ini tidak ada istilah terpaksa, sebagai bukti bahwa Malaikat dan “Maa” selalu sujud dengan taat kepada Allah swt.

    Mengakhiri pembahasan tentang makhluk di luar Bumi maka silahkan simak firman Allah swt di dalam surat Asy-Syura (42) ayat 29.

    Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah menciptakan langit dan Bumi dan “Maa” yang melata yang Ia sebarkan pada keduanya. DAN IA MAHA KUASA UNTUK MENGUMPULKAN (MEMPERTEMUKAN) SEMUANYA (MAKHLUK LANGIT DAN BUMI) APABILA IA BERKEHENDAK (QS 42:29).

    Ayat tersebut menjadi petunjuk adanya kemungkinan pertemuan (interaksi) antara manusia yang ada di langit dengan manusia yang ada di Bumi bahkan kemungkinan saling berjodoh, tentunya jika Allah swt sudah berkehendak. Wallahu a’lam bishowab.

    Komentar oleh riddick | 6 Februari 2013 | Balas

  10. sejarah yg ditulis diatas adalah tentang kepercayan yg memang diyakini olah masyarakat nusantara pd saat kelompok mereka itu berjaya dan memang pelakunya adalah para pemimpin/raja dan keturunannya,sesuai dgn urutan perdabaan sebuah kelompok yg meyakini satu kepercayaan/agama yg berkuasa pada saat itu,khususnya dalam sejarah ini adalah hindu/buddha! dan mereka juga meninggalkan banyak cerita2 rakyat yg kebenarannya sekarang sudah menjadi rahasia tuhan,kita sebagai keturunan yg sudah sangat jauh dan tentunya sudah berbeda kepercayaan pula tidak akan pernah tau kebenarannya! jadi yg rahazia biarlah tetap menjadi rahazia hny tuhan yang maha tahu dan esa! KITA CUKUP BELAJAR DARI APA YG SDH DITINGGALKAN PARA LELUHUR dari zaman HINDU/BUDDHA sampai MENJADI ISLAM itulah yg harus kita tau dan pelajari serta di lestarikan karena kita adalah keturunnya yg hrus menjaga biar ga di ambil orang! HIDUP NUSANTARA DAN JAYA…………….MERDEKA!

    Komentar oleh KAKOEL | 31 Juli 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: