Tag Archives: akhwat

Ratu Sinuhun, Feminis Nusantara dari abad ke-17M

Palembang merupakan daerah yang untuk pertama kalinya diterapkan undang-undang tertulis yang berlandaskan syariat Islam di Nusantara. Hal tersebut sebagaimana tercantum di dalam kitab Simbur Cahaya, yang disusun oleh Ratu Sinuhun, cendikiawan wanita asal Palembang


Ratu Sinuhun, Sang Cendikia

Tidak banyak tulisan yang membahas riwayat hidup Ratu Sinuhun, orang mengenalnya sebagai  isteri Penguasa PalembangPangeran Sido Ing Kenayan (1630—1642 M), dan salah seorang saudara dari Pangeran Muhammad Ali Seda ing Pasarean, Penguasa Palembang (1642-1643M) (sumber : Palembang dari nama Cina, menjadi negeri Darussalam).

Ratu Sinuhun diperkirakan lahir di Palembang pada sekitar akhir abad ke-16, dan wafat pada tahun 1642M. Ayahnya bernama Maulana Fadlallah, yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Manconegara Caribon.

Di dalam catatan sejarah, Pangeran Manconegara merupakan cikal bakal lahirnya Dinasti Cirebon di Kesultanan Palembang. Sebagaimana diketahui Kesultanan Palembang Darussalam di dirikan oleh Sultan Abdurrahman (Ki Mas Hindi) bin Pangeran Muhammad Ali Seda ing Pasarean bin Pangeran Manconegara Caribon (sumber : Ratu Sinuhun (wikipedia)).

Berdasarkan penyelusuran genealogy, Nasab Ratu Sinuhun adalah sebagai berikut :

[Ratu Sinuhun] binti [Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara Caribon] bin [Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara] bin [Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo] bin [Sunan Giri II atau Sunan Dalem] bin [Sunan Giri atau Maulana Muhammad Ainul Yaqin] bin [Maulana Ishaq] bin [Syaikh Ibrahim Zain al Akbar] bin  [Syaikh Jamaluddin Husain Akbar] bin [Syaikh Ahmadsyah Jalal] bin [Syaikh Abdullah Azmatkhan] bin [Syaikh Abdul Malik al Muhajir] bin [Syaikh Alawi Ammil Faqih] bin [Syaikh Muhammad Shohib Mirbath] bin [Syaikh Ali Khali’ Qasam] bin [Syaikh ‘Alwi Shohib Baiti Jubair] bin [Syaikh Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah] bin [Syaikh ‘Alwi al-Mubtakir] bin [Syaikh ‘Ubaidillah] bin [Imam Ahmad Al-Muhajir] bin [Syaikh ‘Isa An-Naqib] bin [Syaikh Muhammad An-Naqib] bin [Imam ‘Ali Al-’Uraidhi] bin [Imam Ja’far Ash-Shadiq] bin [Imam Muhammad al-Baqir] bin [Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin] bin [Imam Husain Asy-Syahid] bin [Fathimah Az-Zahra] binti [Muhammad Rasulullah]

Sementara dari pihak Ibu, Ratu Sinuhun adalah putri dari Nyai Gede Pembayun binti Ki Gede ing Suro Mudo. Beliau terhitung masih sepupu suaminya (Pangeran Sido ing Kenayan), yang merupakan putra dari Ki Mas Adipati Angsoko bin Ki Gede ing Suro Mudo/Ki Mas Anom Adipati Jamaluddin (sumber : Sejarah Kesultanan Palembang)


Pelopor Feminisme

Kitab Simbur Cahaya, hasil karya Ratu Sinuhun, adalah kitab undang-undang hukum adat, yang merupakan perpaduan antara hukum adat yang berkembang secara lisan di pedalaman Sumatera Selatan, dengan ajaran Islam.

Kitab Simbur Cahaya, terdiri atas 5 bab, yang membentuk pranata hukum dan kelembagaan adat di  Sumatera Selatan, khususnya terkait persamaan gender perempuan dan laki-laki. Dan adalah wajar jika dikatakan, Kitab Simbur Cahaya, adalah tonggak awal Gerakan Feminisme di Nusantara, yang sejalan dengan pemahaman ad-dinul Islam.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika Palembang berhasil dikuasai Kolonial Belanda. Sistem kelembagaan adat masih dilaksanakan seperti sediakala, yaitu dengan mengacu kepada Undang Undang Simbur Cahaya, dengan beberapa penghapusan dan penambahan aturan yang dibuat resident.

Berdasarkan informasi dari penerbit “Typ. Industreele Mlj. Palembang, 1922”, Undang Undang Simbur Cahaya terdiri dari 5 bagian, yaitu :

  • 1. Adat Bujang Gadis dan Kawin (Verloving, Huwelijh, Echtscheiding)
  • 2. Adat Perhukuman (Strafwetten)
  • 3. Adat Marga (Marga Verordeningen)
  • 4. Aturan Kaum (Gaestelijke Verordeningen)
  • 5. Aturan Dusun dan Berladang (Doesoen en Landbow Verordeningen)
    (sumber : Simbur Cahaya (wikipedia))

Kepeloporan Ratu Sinuhun dalam membela hak-hak perempuan, telah mendorong beberapa aktivis untuk mengusulkannya sebagai salah seorang Pahlawan Nasional. Bahkan pemikiran Ratu Sinuhun masih banyak diyakini masyarakat melayu, seperti adanya denda atau hukuman yang berat, bagi lelaki yang menggangu perempuan (sumber : Ratu Sinuhun, diminta jadi Pahlawan Nasional).

Bekerja itu Mulia

Suatu hari Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Sa’d bin Mu’adz Al-Anshari, dilihatnya tangan sahabatnya itu melepuh. Nabi SAW bertanya, apa yang menyebabkannya.

Dengan jujur Sa’d menyatakan akibat kerja keras untuk menghidupi keluarganya. Mendengar jawaban Sa’d itu, dengan spontan Nabi Muhammad SAW meraih tangan sahabatnya lalu diciumnya.

Itu adalah tindakan yang menunjukkan pada kita bahwa kerja keras itu mulia. Terlebih bila kerja kita digunakan untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya. Allah SWT sudah melimpahkan rezeki-Nya di muka bumi untuk seluruh makhluk-Nya.

Nah, kitalah sebagai makhluk-Nya yang bertugas untuk bekerja mencari karunia-Nya. Kita tidak boleh berpangku tangan, soalnya tidak ada riwayatnya emas langsung diturunkan dari langit.

Di dalam QS. Al Munafiquun ayat 10 disebutkan :

Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.

Bekerja mencari nafkah buat keluarga, hendaknya dipandang sebagai salah satu bentuk ibadah dan sekaligus rasa syukur kepada Allah. Ini diterangkan dalam QS. Saba’ ayat 13 :

Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur kepada Allah! Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.

Kerja itu mulia. Islam juga menekankan tangan yang di atas selalu lebih baik daripada di bawah. Islam juga mengajarkan untuk hidup hemat atau tidak berlebih-lebihan, serta selalu bekerja keras, agar terhindar dari kemiskinan. Kemiskinan itu sangat dekat dengan kekufuran.

Dengan tuntunan seperti ini, rasanya sangat menyedihkan kalau kita melihat kenyataan yang ada di sekitar kita, terutama di kota-kota besar. Betapa banyak orang-orang muda, yang masih sehat, kokoh kuat, tapi menjadi pengemis atau peminta-minta. Mereka hanya menadahkan tangan untuk menghidupi kehidupan mereka.

Betapa mengerikan. Malu tidak lagi menjadi perhiasan mereka.

Usaha untuk membina mereka agar mendapatkan keterampilan dan bisa bekerja, ternyata tak berhasil dengan baik. Dirazia, dijaring, dihukum, tak lama sudah akan kembali berkeliaran di jalanan. Meskipun mereka sudah mendapatkan binaan dan bimbingan keterampilan, toh tak membuat mereka mau bekerja.

Ingin tahu apa alasan mereka?

Bekerja itu capek dan hasilnya tak seberapa. Sementara meminta-minta di jalanan, tidak capek dan hasilnya jauh lebih besar. MasyaAllah! Mau jadi apa umat Islam kalau sebagian generasi penerusnya bermental seperti itu?

Ada kisah di zaman Khalifah Umar, beliau sampai menarik dan menyeret keluar pemuda-pemuda yang selalu sholat dan sibuk dzikir di masjid tanpa mau bekerja. Mereka menganggap yang paling penting adalah ibadah.

Mereka hidup dari pemberian orang lain. Mereka lupa bahwa bekerja pun termasuk ibadah. Sungguh, Umar sangat keras terhadap namanya kemalasan. Lebih-lebih di lingkungan generasi muda. Khalifah Umar memaksa mereka bekerja karena begitu mulianya orang yang bekerja.

mengapa keKHALIFAHan memudar ???

Umat Islam pernah mengecap masa kejayaan Islam selama 700 tahun lebih (dari abad ke-8 M hingga 14 M). Masa keemasan tersebut, telah membuat kalangan kaum Muslimin ’mabuk kejayaan’. Mereka lengah dan tidak waspada. Sampai akhirnya masa kejayaan tersebut, berangsur-angsur memudar.

Meredupnya kejayaan Islam, disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya: 

a. Akibat dari kelalaian umat Islam dalam memahami kaidah akidah Islam, sehingga terjadilah berbagai perselisihan yang sangat memprihatinkan.

b. Paham kemurnian Islam menjadi terabaikan, bahkan nilai kebenaran Islam sudah dianggap sebagai  sesuatu yang asing atau al ghuroba.

c. Walaupun umat Islam mengalami masa keemasan di bidang ilmu pengetahuan, tapi juga  mengalami kemunduran di bidang kenegaraan. Salah satu penyebabnya adalah masuknya pemikiran ‘politik’ yang berasal dari Peradaban Yunani Kuno ke dalam pemerintahan kaum Muslimin. Kemunduran di bidang kenegaraan ini, terus mengerogoti kekhalifahan Islam, yang pada akhirnya memunculkan perpecahan di kalangan umat Islam. Tentu saja karena saling berebut kekuasaan, yang merupakan tujuan kehidupan berpolitik.

d. Di dunia Eropa sekitar abad ke 15—16 M, lahirlah masa Renaissance. Adapun sebab utama lahirnya Renaissance adalah ketidaksiapan orang-orang Eropa menyaksikan ambruknya Imperium Romawi Timur oleh kaum Muslimin. Terutama dengan peristiwa jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 M. Peradaban Islam yang dibawa ke Benua Eropa sesudah terjadinya Perang Salib, sangatlah besar pengaruhnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan Eropa, yang saat itu telah memasuki masa Renaissance.

Sayangnya, sering kali melalui berbagai media massa, dunia barat (Eropa dan Amerika), sepertinya mencoba untuk menutup-nutupi hal ini. Mereka berusaha merekayasa seolah-olah dunia Islam tidak pernah memberikan sumbangan apa-pun bagi peradaban dunia.

Bahkan, gambaran yang diberikan terhadap Islam dibuat sedemikian rupa dengan kondisi yang bertolak belakang. Sebagai ajaran agama yang rahmatan lil ‘alamin, Islam telah dikacau-balaukan dengan rekayasa keji oleh mereka yang anti dengan Islam. Tidak heran kalau sebagian besar masyarakat dunia, selalu melihat Islam sebagai ajaran yang terbelakang, kolot dan penuh kekerasan.

Diperlukan upaya yang sungguh-sungguh, terutama dari generasi muda Islam seperti kita untuk memberikan gambaran yang benar tentang Islam. Konsep Islam begitu universal dan sangat manusiawi sesuai fitrahnya. Namun sayangnya, sering kali yang terjadi orang Islam sendiri bahkan merasa asing dengan ajaran-ajaran Islam.

Jadi, sangatlah pantas dan menjadi kewajiban kita untuk belajar Islam lebih banyak. Sebelum pihak-pihak yang anti Islam semakin menghunjamkan panah-panah informasi yang tidak benar tentang Islam. 

Tulang Rusuk Adam ?

Di dalam salah satu tulisan, yang berjudul ”Perempuan dijadikan dari tulang rusuk ?”, Ustadz H.M. Nur Abdurrahman, menulis :

Menurut ayat Kawniyah jumlah tulang rusuk laki-laki yang sebelah kanan sama banyak dengan jumlah yang sebelah kiri. Apabila Siti Hawa dijadikan dari salah satu tulang rusuk Adam, maka tentu ada satu tulang rusuk Adam yang berkurang di sebelah kanan atau sebelah kiri, yang akan menurun menjadi warisan anak cucu Adam.

Jadi setelah diuji coba dengan ayat Kawniyah, maka gugurlah pendapat yang menyatakan, perempuan berasal dari tulang rusuk.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda :

– QAL RSWL ALLH SHLY ALLH ‘ALYH W SLM ASTWSHWA BALNSAa KHYRA .- FaaN ALMRAt KHLQT MN DHL’A – WAN A’AWJ MA FY ALDHL’A A’ALAH – FAN DZHBT TQYMH KFRTH – WAN TRKTH LM YZL A’AWJ – FASHTWSHWA BALNSAa ( RWAH MTFQ ‘ALYH ),

– Qa-la rasu-luLlahi shallLa-hu ‘alayhi wasallam Ishtawshu- bin nisa-i khayran , fainnal mar.ata khuliqat min dhal’in , wain a’waju ma- fil dhil’i a’la-hu , fain dzhabat taqiymuhu kasratuhu , wain taraktuhu lam yazil a’waju , fashtawshu- bin nisa-i (mutafaqqun ‘alayhi),

“berwasiatlah/nasihatilah kepada perempuan-perempuan kalian dengan kebaikan, sebab mereka diciptakan bersifat seperti tulang rusuk. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika kalian memaksa/berkeras untuk meluruskannya, niscaya ia akan patah. Namun jika kalian biarkan, mereka akan senantiasa bengkok, maka berwasiatlah/nasihatilah dengan kebaikan kepada perempuan-perempuan.” (H.R. Bukhari&Muslim).

Dalil di atas, semakin mempertegas bahwa perempuan itu bersifat seperti tulang rusuk, dan bukan berasal dari tulang rusuk.

Syaikh Muhammad Abduh di dalam pelajaran tafsirnya, yang dicatat oleh muridnya Sayid Muhammad Rasyid Ridha pada tafsirnya al-Manar, menyatakan pula pendapat bahwa Hadis mengatakan perempuan terjadi dari tulang rusuk itu, bukanlah benar-banar tulang rusuk, melainkan suatu kias perumpamaan belaka, sebagai ada juga contoh demikian di dalam QS. Al-Anbiya’ (21) ayat 27, yang berbunyi : ” Telah dijadikan manusia itu dari sifat terburu-buru ” (Tafsir Al Azhar, Juzu I, halaman 170).


Kejadian Perempuan

Dengan memperhatikan, QS. An Nisa’ (4) ayat 1, yang berbunyi :

– Ya-ayyuha nNa-su Ittaquw Rabbakumu Lladziy Khalaqakum min Nafsin Wa-hidatin wa Khalaqa minha- Zawjaha- wa Batstsa minhuma- Rija-lan Katsiyran wa Nisa-an,

Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Maha Pengaturmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya menciptakan jodohnya dan dari pada keduanya memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

Dalam memaknai ayat tersebut di atas, Ustadz Muhammad Nur Abdurrahman, menulis :  jika ditanyakan makna : “man hiya Nafsun Wahidah wa man huwa Zawjuhaa?”, tentu tidaklah ditujukan kepada Adam, karena Adam adalah mudzakkar (gender laki-laki), padahal Nafsun Wahidah adalah muannats (gender perempuan), yang merupakan pasangan dari Zawjun mudzakkar.

Manusia terdiri atas tiga tataran, jasmani, nafsani dan ruhani. Yang dimaksud dengan “Nafs(un)” dalam ayat (4:1) adalah tataran nafsani dari Adam, yaitu “diri” atau “jiwa” Adam. Sehingga Siti Hawa yang diciptakan “min Nafsin Wahidatin” itu adalah majazi (metaforis). Artinya Siti Hawa itu adalah “belahan jiwa” dari jiwa Adam. Artinya suami isteri itu seyogianya merupakan satu jiwa.

Sementara buya HAMKA, ketika menafsirkan ayat yang berbunyi ”… yang telah menjadikan kamu dari satu diri… (QS.4:1)”, menulis :

“… seluruh manusia itu, laki-laki dan perempuan, di benua manapun mereka berdiam, dan betapapun warna kulitnya, namun mereka adalah diri yang satu. Sama-sama berakal, sama-sama menginginkan yang baik dan tidak meyukai yang buruk. Sama-sama suka kepada yang elok dan tidak suka kepada yang jelek. Oleh karena itu hendaknya dipandang orang lain itu sebagai diri kita sendiri juga. Dan meskipun ada manusia yang masyarakatnya telah amat maju dan ada pula yang masih sangat terbelakang, bukanlah berarti bahwa mereka tidak satu… “ (Tafsir Al Azhar, Juzu IV, halaman 220-221)

Dengan demikian, semakin jelaslah, bahwa sesungguhnya perempuan ibarat tulang rusuk, dan bukan diciptakan dari tulang rusuk. Hal ini juga bermakna Hawa bukan berasal dari Tulang Rusuk Adam

Kufu’ dalam Nikah, adalah Perkara dien

Kufu’ berarti sama, sederajat, sepadan, atau sebanding.

Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma‘ad menganggap masalah kafa’ah adalah perkara dien. Ketika berpendapat dalam permasalahan ini, beliau awali dengan menyebutkan beberapa ayat Al Qur’an di antaranya :

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui Maha Teliti” (QS. Al Hujurat (49) ayat 13)

(Catatan : Di dalam Tafsir Ibnu Katsir (IV/230), Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat mulia ini telah dijadikan dalil oleh beberapa ulama yang berpendapat bahwa kafa’ah (sama dan sederajat) di dalam nikah itu tidak dipersyaratkan dan tidak ada yang dipersyaratkan kecuali agama. Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.”)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…“(QS. Al Hujurat(49) ayat 10)

“… perempuan-perempuan yang baikuntuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)… “ (QS. An-Nur (24) ayat 26)

Kemudian beliau lanjutkan hadits dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda :
“Wahai Bani Bayadhah, nikahkanlah perempuan-perempuanmu dengan Abu Hind, dan nikahlah kamu dengan perempuan-perempuan Abu Hind.“ (Hadits riwayat Abu Dawud)

(Catatan : Abu Hind adalah tukang bekam. Dalam kitab Ma’allim As Sunan dikatakan bahwa hadist ini dijadikan dasar oleh Imam Malik untuk menetapkan bahwa kufu’ adalah dari segi agama saja, tidak dari yang lain).

Teladan Rasulullah dan Para Sahabat

Kebanggaan atas nasab keturunan, sesungguhnya telah di wanti-wanti oleh Rasulullah melalui sabdanya :
”Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang tercela. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam kecuali dengan takwa” (Hadits riwayat At-Tirmidzi)

Berkenaan dengan persamaan derajat, antara sesama manusia dalam suatu pernikahan, terdapat beberapa contoh, di antara-nya :


– Rasulullah saw pernah meminang Zainab binti Jahsyin Al Qurasyiyyah seorang wanita bangsawan, untuk Zaid bin Haritsah, mantan pembantu beliau.
– Abu Hudzaifah menikahkan Salim, seorang bekas budak, dengan Hindun binti Al Walid bin Utbah Rabi’ah.
– Bilal bin Rabbah menikah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin Auf, sahabat yang dikenal sebagai seorang saudagar kaya raya.
– Rasulullah saw, menikahkan Miqdad dengan Dhaba’ah binti Zubair bin Abdul Muthallib
– Rasulullah menikahkan Fathimah binti Qais Al Fihriyyah, dengan Usamah bin Zaid

Di dalam sebuah hadits…

Dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ada seseorang berjalan melewati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertanya kepada seseorang yang duduk di sisinya, ‘Bagaimana pendapatmu mengenai orang ini?’ Dia menjawab, ‘Dia dari kalangan orang-orang terhormat (kaya). Orang ini, demi Allah, sangat pantas jika dia melamar, maka tidak akan ditolak dan jika minta syafa’at, maka akan diberi.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam. Kemudian ada orang lain lagi yang lewat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, ‘Lalu bagaimana pendapatmu mengenai orang ini?’ Dia menjawab, ‘Wahai Rasulullah, orang ini adalah termasuk golongan kaum muslimin yang fakir. Orang ini jika melamar, maka tidak akan diterima dan jika (ingin) menjadi suami, maka tidak akan diberi serta jika berbicara, maka tidak di-dengarkan ucapannya.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Orang ini (yang fakir) lebih baik daripada seisi bumi seperti orang itu (yang kaya).” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

Dan ketika, Ali bin Abi Thalib ra., ditanya tentang pernikahan se-kufu’, beliau menjawab:
“Semua manusia kufu’ satu dengan yang lainnya, baik Arab dengan Ajam, Quraisy dengan Hasyim, dengan syarat mereka sama-sama Islam dan beriman.”

Persaudaraan, awal dari Kemenangan

Ketika Rasulullah SAW telah sampai di Madinah, setelah hijrah dari Makkah, Rasulullah SAW berniat membangun ukhuwah islamiyah di antara umat beriman. Rasulullah SAW mempersaudarakan para pengikut setianya, antara satu dengan yang lainnya, yang umumnya antara kaum Anshar dan Muhajirin.

Banyak hal yang unik sekaligus mengharukan dari jalinan persaudara tersebut. Persaudaraan yang tidak mengenal kelas sosial. Misalnya saja, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang bangsawan Bani Hasyim dan sekaligus paman Rasulullah SAW dipersaudarakan dengan seorang mantan budak Zaid bin Haritsah. Satu hal yang tidak akan mungkin terjadi di zaman jahiliah.

Mush’ab bin Umair seorang mubaligh Islam pertama yang dikirim Rasulullah SAW ke Madinah, dipersaudarakan dengan Abu Ayyub al-Anshari, orang paling miskin di Madinah yang menyediakan rumahnya bagi Rasulullah SAW, sebelum Rasulullah SAW memiliki rumah sendiri, ketika baru sampai di Madinah.


Abdurrahman bin ‘Auf yang tidak membawa apa-apa ketika berhijrah, dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, seorang hartawan dari kalangan Anshar. Lalu Ja’far bin Abu Thalib dengan Muaz bin Jabal, Abubakar dengan Kharijah bin Zuhair, Umar bin Khattab dengan Utbah bin Malik dan lain sebagainya. Ibnu Qoyyim menuturkan, mereka yang dipersaudarakan ada 90 orang.

Hubungan persaudaraan antara kaum Anshar (umat Islam di Madinah) dengan kaum Muhajirin (umat Islam di Makkah), merupakan langkah strategis yang dilakukan Rasulullah SAW demi meneguhkan semangat kebersamaan dan persaudaraan sebagai sesama muslim di kalangan sahabat.

Langkah Rasulullah SAW ini semakin menyatukan kaum beriman ke dalam satu barisan yang kokoh. Tujuannya untuk mencapai kesepakatan yang mengikuti pola dan panduan Allah SWT. Sesama manusia itu memiliki derajat yang sama. Hanya tingkat ketakwaannya semata yang membedakannya di mata Allah SWT.

Khilafah bukan hal tabu

Peristiwa yang paling menyakitkan bagi umat Islam di seluruh dunia, yaitu runtuhnya Khilafah, tanggal 28 Rajab 1342 H, bertepatan dengan 3 Maret 1924. Telah banyak upaya yang dilakukan umat Islam, untuk memunculkan kembali khilafah Islamiyah. Sayangnya, usaha itu sepertinya selalu gagal di tengah jalan.

Apa sebabnya? Dan mungkinkah Khilafah Islamiyah, akan muncul kembali?

Sebagai kaum beriman, umat Islam wajib untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ini sesuai dengan yang dinyatakan dalam QS Yusuf ayat 87,

Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

Cita-cita akan kebangkitan khilafah Islamiyah hendaknya juga dibarengi kemauan dan usaha yang sungguh-sungguh. Tidak mungkin memunculkan kembali kejayaan Islam yang penuh damai dan menjadi rahmat atas sekalian alam tanpa perjuangan dan semangat membara.

Sebagaimana firman Allah, di dalam QS. Al Anbiya ayat 107,
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.


Kejayaan Umat Muslim

Keyakinan atas kembalinya kejayaan Islam, bukan tanpa alasan. Bukankah Allah SWT sudah berjanji akan menjadikan kaum beriman sebagai pewaris di bumi, seperti yang tersurat dalam QS. Al Anbiya ayat 105 :

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) dalam Az Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.

Selain itu, juga tergambar di dalam beberapa hadits Rasulullah SAW semuanya mengilustrasikan tentang kejayaan kaum muslimin, di antaranya sebagai berikut.

Sabda Nabi Muhammad SAW,
Sesungguhnya Allah telah melipatkan bumi ini bagiku, lalu aku dapat melihat yang paling timur dan barat. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kepada apa yang telah dilipatkan untukku itu.” (HR. Muslim 8/171, Abu Dawud 4252, Tirmidzi 2/27, Ibnu Majah 2952, Ahmad 5/278 dan 284 dari Hadits Tsauban dan Syadad bin Aus)

Hadist lainnya,
Sungguh perkara Islam ini akan sampai ke bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan Ad-Din ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulia dan menghinakan yang hina, yakni memuliakannya dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran.” (HR. Imam Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya, Imam Abu ‘Arubah di dalam Kitab Al Muntaqa minath Thabaqat, Hadits ini juga diriwayatkan para ulama Ahlu Hadits yang terkenal. Kedudukan Hadits tersebut berderajat shahih).

Khilafah Islamiyah bukanlah hal yang tabu dan aneh bagi masyarakat dunia. Bukankah saat ini, umat Katolik memiliki jaringan yang mengglobal dengan sistem kepausannya?

Mengapa umat Islam harus ragu dengan sistem khilafahnya? Bukankah kaum muslimin pada setiap tahunnya, melaksanakan wukuf di Arafah? Bukankah itu merupakan bukti lambang persatuan umat Islam sedunia? Pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh lintasan waktu.