Tag Archives: biografi

Kisah Sunan Giri, dalam versi yang Rasional?

Sekitar tahun 1450, terjadi wabah penyakit di Kadipaten Blambangan (Banyuwangi). Bahkan wabah tersebut telah menjangkiti keluarga istana, termasuk puteri Adipati yang bernama Dewi Sekardhadhu.

Untuk mengatasi hal tersebut, penguasa Blambangan pada saat itu, Adipati Menak Sembuyu mendatangkan seorang Tabib yang bernama Maulana Ishaq.

Dengan keahliannya dalam bidang ilmu pengobatan, Maulana Ishaq berhasil mengatasi wabah tersebut, bahkan puteri Sang Adipati berhasil ia sembuhkan.

Sebagai tanda terima kasih kepada Sang Tabib, Adipati Blambangan menikahkan putrinya dengan Maulana Ishaq.

giri1Keberhasilan Maulana Ishaq mengatasi wabah penyakit, membuat sebagian rakyat Blambangan berhutang budi, dan berharap agar kelak Maulana Ishaq menjadi Adipati berikutnya.

Keinginan rakyat Blambangan tersebut, dari hari ke hari semakin menggelora, namun di sisi lain muncul penolakan dari sebagian  keluarga istana.

Pihak yang menolak, berkeinginan agar yang kelak menggantikan Sang Adipati adalah putera daerah, dan bukan orang luar (pendatang).

Perpecahan semakin meruncing, untuk mengatasi keadaan Maulana Ishaq mengalah. Untuk sementara ia pergi meninggalkan Blambangan, sekaligus berdakwah di daerah lain. Sementara istrinya Dewi Sekardhadhu yang sedang mengandung, untuk menghindari hal-hal yang tidak di-inginkan tetap tinggal di istana.

giri2Tidak lama sepeninggal Maulana Ishaq, istrinya Dewi Sekardhadhu melahirkan seorang putera. Kelahiran cucu Sang Adipati mendapat sambutan yang meriah, Sang Bayi diberi nama “Muhammad Ainul Yaqin”, sebagaimana pesan dari ayahnya.

Dikalangan masyarakat timbul pemikiran agar “Muhammad Ainul Yaqin”, bisa diangkat menjadi Putera Mahkota. Namun Pihak yang tidak setuju, semakin kuat menolaknya. Alhasil situasi makin panas, sehingga Kadipaten Blambangan terancam terjadi perang saudara.

Melihat situasi yang semakin gawat, Sang Adipati atas kerelaan putrinya Dewi Sekardhadhu, menitipkan Sang Bayi, kepada kenalan keluarga mereka, yaitu seorang saudagar wanita yang bernama Nyai Ageng Pinatih.

Muhammad Ainul Yaqin, kemudian diangkat anak oleh Nyai Ageng Pinatih, dan diberi nama panggilan Joko Samudro. Ketika berusia sekitar 7 tahun, Joko Samudro dititipkn kepada seorang ulama, yang masih kerabat ayahnya yang bernama Sunan Ampel.

Di Padepokan Sunan Ampel inilah, Muhammad Ainul Yaqin, menimba berbagai ilmu pengetahuan, dan kelak ketika telah dewasa, ia dkenal sebagai Sunan Giri.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
1. Sunan Giri (wikipedia)
2. Berdirinya Giri Kedathon

Catatan Penambahan :

1. Munculnya cerita yang menyatakan kelahiran Sunan Giri telah  membawa kutukan bagi rakyat Blambangan tentu sangat aneh dan mengada-ada. Bagaimana mungkin seorang bayi, anak dari Penyebar Islam bisa mendatangkan bencana bagi penduduk disekitarnya?

2. Kisah yang mengatakan bayi dari Dewi Sekardhadhu dilarung ke lautan oleh kakeknya, jelas tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang kakek begitu kejam, ingin membunuh cucunya sendiri, hanya karena ingin mempertahankan kekuasaannya?

3. Berdasarkan Kitab Kanzul Ulum karya IBNU BATHUTHAH, pembentukan “Walisongo” pertama kali dilakukan oleh Sultan Turki, MUHAMMAD I. Salah satu anggotanya MAULANA ISHAQ, yang merupakan seorang ahli pengobatan (sumber : muslimdaily.net)

Keluarga Jusuf Kalla, Silsilah Sultan Hasanuddin Makassar dan Ratu Siti Malangkai ?

Seorang pujangga besar Melayu keturunan Bugis, yang bernama Raja Ali Haji, di dalam kitabnya “Tuhfat an Nafis“, menyatakan Leluhur Suku Bugis bermula dari seorang Ratu di daerah Luwuk yang bernama Ratu Siti Malangkai.

Melalui bukunya itu, Raja Ali Haji berpendapat Ratu Siti Malangkai, merupakan keturunan dari Nabi Sulaiman, melalui isterinya yang bernama Ratu Balqis (Sumber : Dari Ratu Balqis, sampai kepada Fatin Shidqia Lubis).

Makam Sayyid Jalaluddin, wafat tahun 1453M

Makam Syekh Jamaluddin, wafat tahun 1453M

Masuknya Islam di Sulawesi Selatan

Beberapa abad kemudian, anak keturunan Ratu Siti Malangkai, berkembang menjadi beberapa kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan. Salah satu negeri yang cukup terkenal adalah Kerajaan Gowa Tallo.

Pada sekitar abad ke-15, Kerajaan Gowa Tallo, kedatangan seorang mubaligh bernama Syekh Jamaluddin Husain Akbar. Beliau datang untuk menyampaikan risalah Islam di kerajaan ini.

Dakwah yang dilakukan Syekh Jamaluddin, mendapat simpati dari penguasa Gowa ketika itu, bahkan salah seorang putri kerajaan Gowa Tallo menjadi istri Sang Mubaligh.

Kelak dari zuriat Syekh Jamaluddin ini, lahir seorang ulama terkemuka yang bernama Syekh Yusuf al-Makassari dan seorang pemimpin yang terkenal, bernama Sultan Hasanuddin (Sumber : Majelis Dakwah Walisongo dan Syekh Yusuf al-Makassari).

kalla1

Keluarga Yusuf Kalla

Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK), lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan), pada tanggal 15 Mei 1942. Ia adalah Wakil Presiden Indonesia yang menjabat pada periode 2004 – 2009 dan Ketua Umum Partai Golongan Karya pada periode yang sama (Sumber : wikipedia).

Ayah JK, bernama Haji Kalla, beliau adalah Pendiri Kelompok Usaha Kalla Group, sementara ibunya bernama Athirah, yang berasal dari Keluarga Bangsawan Bugis Kerajaan Bone (Sumber : Mengenal Hadji Kalla).

Berdasarkan penyelusuran genealogy, Keluarga Bangsawan Bone berasal dari anak keturunan I Panusurang Daeng Manassa Tumenanga RI Campagana, yang berupakan saudara ipar dari Raja Gowa Tallo, Sultan Alauddin (Sumber : SANROBONE).

Berikut hubungan kekerabatan, Jusuf Kalla dengan Sultan Hasanuddin Makassar…

azmatbugis1
WaLlahu a’lamu bishshawab

Ryamizard Ryacudu, Silsilah Pagaruyung Minangkabau dan Keluarga Kesultanan Palembang Darussalam ?

Di masa orde baru, pernah ada perintah agar Prajurit TNI berjaket warna kuning, sebagaimana warna khas GOLKAR, partai berkuasa ketika itu.

Namun perintah ini, tidak dijalankan oleh seorang kolonel muda, yang bernama Rymizard Ryacudu. Ia dengan tegas, memerintahkan anak buahnya untuk tetap memakai jaket hijau atau loreng, ciri khas tentara (sumber : Jenderal Ryamizard, Pemimpin Indonesia).

ryamizard

Silsilah Pagaruyung Minangkabau

Ryamizard Ryacudu, dilahirkan di Palembang, Sumatera Selatan, pada tanggal 21 April 1950. Beliau adalah adalah mantan Kepala Staf Angkatan Darat dari tahun 2002 hingga 2005.

Ia dibesarkan dalam keluarga tentara. Ayahnya bernama Ryacudu, adalah seorang brigadir jenderal TNI purnawirawan, yang ketika berdinas aktif dikenal sebagai seorang pengagum Presiden Soekarno.

Di keluarga ini dikenal sangat menekankan pentingnya pendidikan agama. Maka ketika kecil, Ryamizard dijuluki “Si Hadis” karena kepandaiannya menghafal sejumlah hadis Rasulullah (sumber : Ryamizard Ryacudu Prajurit Sapta Marga Sejati).

Kedekatannya dengan Islam, sepertinya telah melekat pada leluhur keluarga Ryamizard sejak ratusan tahun yang silam. Sang ayah, Ryacudu adalah tokoh dari masyarakat Abung Lampung (Sumber : sejarahgunungbatu), yang berdasarkan catatan sejarah salah seorang leluhurnya adalah seorang penyebar Islam di Lampung, yang bernama Umpu Bejalan Di Way.

Umpu Bejalan Di Way, sendiri merupakan Pangeran dari Kerajaan Islam Pagaruyung Minangkabau, yang datang ke Lampung bersama 3 orang saudaranya dalam mensyiarkan agama Islam (Sumber : Melayu Online).

Berdasarkan Catatan KH. Ali Maksum (Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta), yang diserahkan kepada As-Syaikh Sayyid Bahruddin Azmatkhan, pada tahun 1980, diketahui bahwa Pendiri Kerajaan Islam Minangkabau, merupakan anak dari Sunan Giri, yaitu bernama Sultan Muhammad Syahabuddin (Abdurrahman) (Sumber : Syaikh Yasin bin Isa Al-Faddani, Ulama Besar Makkah, Keturunan dari Sultan Minangkabau bin Sunan Giri).

palembang12

Keluarga Kesultanan Palembang Darussalam

Ibunda Ryamizard bernama Hj. Zuharya binti Raden Hasan Asa’ari. Ibunya berasal dari keluarga Bangsawan Palembang, yang silsilahnya akan menyambung kepada pendiri Kesultanan Palembang Darussalam Sultan Abdurrahman (Kimas Hindi).

Sementara ibu dari Hj. Zuharya, bernama Aminah binti Pangeran Nuh, berasal dari para pemimpin daerah Ogan Ilir. Kakeknya Pangeran Nuh, dikenal pemimpin pelaksanaan penggalian “Terusan Bujang” sepanjang 15 km, bersama Pangeran Liting (yang juga merupakan mertuanya) (Sumber : Yayasan Liting).

Pangeran Nuh, sendiri adalah anak dari Depati Dece (Kimas Ali Jidin), sementara mertuanya Pangeran Liting (Abdul Khalik), merupakan keturunan Sunan Sungai Goren.

Nama Sunan Sungai Goren sendiri, oleh beberapa kalangan di-identifikasikan dengan Kimas Tumenggung Yudhapati, adik Sultan Abdurrahman (Kimas Hindi). Beliau mendapat kepercayaan untuk mengawasi wilayah Kesultanan Palembang Darussalam, di seberang Ulu, dan berpusat di Sungai Goren.

Adapun Sultan Abdurrahman (Kimas Hindi) dan Kimas Tumenggung Yudhapati, merupakan putera dari Pangeran Ratu Jamaluddin Mangkurat V (Sedo Ing Pasarean), yang jika silsilahnya ditarik ke atas akan sampai kepada Sunan Giri (Sumber : Nasab Keluarga Besar Kesultanan Palembang Darussalam)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Kisah Rambut Putih Hatta Rajasa, Silsilah Keluarga Basyaiban dan Trah Kerajaan Majapahit ?

Hatta Rajasa, yang saat ini merupakan Ketua Umum PAN (Partai Amanat Nasional), memiliki ciri khusus pada rambut yang memutih di kepalanya.

Ketika ditanya tentang rambut putihnya itu, Hatta menceritakan bahwa rambutnya mulai memutih sejak masa kuliah.  Dan menurutnya rambut putihnya tersebut, sudah turunan kakeknya (sumber : Rambut Putih Hatta).

hatta4Saat Kuliah di ITB

hatta1Hatta Rajasa Sekarang

Kisah Rambut Putih, dari negeri Yaman

Sekitar 600 tahun yang lalu, peristiwa memutihnya rambut seseorang terjadi di Hadramaut Yaman. Peristiwa ini bermula dari menghilangnya seorang pemuda bernama  Sayyid Abubakar bin Muhammad Asadillah.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, sang pemuda muncul kembali dengan perawakan wajah yang masih terlihat muda, hanya rambut dikepalanya saja yang memutih. Peristiwa karamah ini membuatnya mendapat sebutan BaSyeiban/BaSyaiban/Basy-Syaiban/BaSyayban (باشيبان) dari rambutnya yang putih (syaiban/شيبان) (sumber : Keluarga Basyaiban).

Dan bermula dari Asy-Syaikh Al-Imam Abubakar BaSyeiban, marga “Basyaiban” menyebar ke seluruh penjuru dunia.

hatta2

Hatta Rajasa dan Kelurga Basyaiban

Apabila kita membaca biografi Hatta Rajasa, didapat informasi bahwa ia lahir pada 18 Desember 1953, ayahnya bernama H. Muhammad Tohir, berasal dari Desa Jejawi Ogan Ilir Sumsel dan ibunya bernama Hj. Aisyah dari Desa Adumais OKU Timur Sumsel.

Dari pihak ibunya Hatta Rajasa memiliki leluhur, penyebar Islam di daerah Komering yang bernama Tuan Idrus Tanjung Salam.

Melalui Tuan Idrus Tanjung Salam inilah, diperkirakan adanya hubungan Genealogy, antara Hatta Rajasa dan Imam Abubakar Basyeiban.

Untuk lebih jelasnya sebagai berikut :

Abubakar Basyaiban, yang wafat tahun 807 H, memiliki putera Muhammad dan Ahmad. Dimana Ahmad bin Abubakar Basyaiban mempunyai 3 putra:’Ali, ‘Abdullah dan Muhammad asy Syaibah

Muhammad asy Syaibah bin Ahmad Basyaiban berputra : Umar lahir 881 H dan wafat 944 (945 H) di Qosam. Kemudian Umar bin Muhammad Basyaiban berputra 2 orang: ‘Abdullah lahir dan wafat 914 H di Qosam dan ‘Abdurrahman lahir dan wafat 973H /993 H di Qosam

‘Abdurrahman bin ‘Umar Basyaiban wafat 973 H/ 993 H di Tarim, melalui isterinya Ratu Winaon (lahir 1477) binti Sunan Gunung Jati, memiliki beberapa putra, antara lain :

1.Muhammad @ Tandipulau hijrah ke Aceh Darussalam dan wafat di Komering Palembang
2.Ahmad @ Tuan Idrus Tanjung Salam hijrah ke Aceh Darussalam dan wafat di Komering Palembang. Sayyid Ahmad merupakan leluhur masyarakat Desa Adumanis, OKU Timur Sumatera Selatan.

hatta3
Hatta Rajasa dan Trah Majapahit

Leluhur Hatta Rajasa, dari pihak ayahnya ada keterkaitan dengan seorang Mangkubumi dari Kerajaan Mataram Islam, bernama Raden Mas Bayangan (Buyut Panjang).

Raden Mas Bayangan ini, mendapat tugas untuk menjaga wilayah pertahanan di sekitar Desa Jejawi dari Kesultanan Palembang Darussalam.

Keberadaan keluarga kerajaan Mataram Islam ini, nampaknya menghubungkan Hatta Rajasa, dengan Pendiri Kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senapati.

Melalui Panembahan Senapati, Hatta Rajasa akan terhubung dengan Dinasti Kerajaan Majapahit, sebagaimana kita tahu Silsilah dari Pendiri Mataram Islam adalah :

Panembahan Senapati bin Nyai Sabinah binti Ki Ageng Saba bin Nyai Made Pandan binti Sunan Dalem Kidul bin Sunan Giri bin Dewi Sekardadu binti Prabu Menak Sembayu bin Bhre Wirabhumi bin Prabu Hayam Wuruk (Trah Majapahit)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Misteri Leluhur Suku Minang, Nabi Syuaib dan Silsilah Irman Gusman

Dari mana asal muasal Suku Minang ?
Akan sangat banyak teori yang akan kita dengar, salah satunya berasal dari Legenda Keturunan Raja Iskandar Zulqarnain.

minang1

Tambo Alam Minangkabau

Dalam Tambo Alam Minangkabau, salah satu leluhur suku ini bernama  Dapunta Hyang, yang diperkirakan datang dari Tanah Basa (sekitar Lembah Sungai Indus), pada sekitar tahun 250 SM.

Berdasarkan catatan sejarah pada masa itu, disekitar Lembah Sungai Indus, telah ada sebuah Kerajaan yang cukup kuat, yang bernama Taxila.

Salah satu raja yang memerintah (sekitar tahun 500 SM), bernama Maurya II, yang merupakan anak dari Maurya I dengan salah seorang cucu Raja Cyrus II dari Persia, yang bernama Candravarnna binti Atossa binti Cyrus II.

Raja Cyrus II, dikenal juga sebagai Raja Koresh (Kurush), dan di kalangan sebagian sejarawan muslim, beranggapan Raja Koresh (Kurush) ini, identik dengan Raja Zulqarnain yang tersebut di dalam Al Qur’an.

Dan jika kita hubungkan dengan Legenda Masyarakat Minang, yang mengatakan berasal dari Keturunan Raja Iskandar Zulqarnain, nampaknya Dapunta Hyang, kemungkinan besar berasal dari dzuriat Raja Maurya II dari Kerajaan Taxila.

Cyrus II (Raja Iskandar Zulqarnain) sendiri berdasarkan penyelusuran Genealogy berasal dari keturunan Midian bin Nabi Ibrahim [anak Nabi Ibrahim, dari isterinya yang bernama Siti Qanturah (Qatura/Keturah)]. Salah satu keturunan Midian bin Nabi Ibrahim, yang sangat terkenal adalah Nabi Syu’aib, yang merupakan mertua Nabi Musa.

Kuat dugaan kepercayaan yang dianut Dapunta Hyang adalah Monotheisme, sebagaimana juga yang dianut oleh leluhurnya Midian bin Nabi Ibrahim.

minang2
Silsilah Irman Gusman

Salah satu putera Minangkabau yang cukup sukses, adalah Irman Gusman,  yang saat ini, menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) periode 2009-2014.

Irman Gusman merupakan putra pasangan Gusman Gaus asal Padang Panjang dan Janimar Kamili asal Guguak Tabek Sarojo, Agam.

Di kalangan masyarakat minang, Irman Gusman dikenal sebagai Datuak Rajo Nan Labiah (salah satu gelar kepenghuluan kaum Suku Pisang Nagari Guguak Tabek Sarojo).

Dari gelar yang ia sandang, menunjukkan bahwa beliau dari garis ibu, berasal dari Suku Pisang, yang merupakan salah satu pecahan dari Lareh Suku Piliang.

Lareh Suku Piliang sendiri bermula dari Datuk Ketumanggungan, yang merupakan anak dari Sultan Sri Maharaja Diraja dengan Puti Indo Jelita, yang jika dirunut ke- atas merupakan keturunan dari Dapunta Hyang, yang datang dari Tanah Basa.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
01. Irman Gusman (wikipedia)
02. Gelar Penghulu Datuak Rajo Nan Labiah
03. Tambo Alam Minangkabau
04. Inventarisasi Suku Minangkabau
05. Menemukan Zul-Qarnain dalam Sejarah
06. Misteri Leluhur Bangsa Jawa
07. (Connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim ?
08. Misteri Bukit Barisan dan Ajaran Monotheisme Nabi Ibrahim

Catatan :

1. Menurut sejarawan Slamet Mulyana, Gelar Dapunta Hyang merupakan gelar Bangsa Melayu, yang tidak terdapat dalam Bahasa Sansekerta. Menurut bahasa lokal setempat, Hyang memiliki identifikasi dengan kata dewa, leluhur.

Kata Puyang, sebagai turunan dari kata Mpu-HyangPu-HyangMpu berarti pini sepuh, Hyang artinya dewa atau orang yang dihormati, atau bermakna leluhur (sumber : TAFSIR KEPEMIMPINAN IDEAL
DAPUNTA HYANG SRI JAYANASA).

2. Kedatangan Dapunta Hyang dari Tanah Basa kemudian bermukim di sekitar Gunung Merapi (arah utara Bukit Barisan), diduga ada kaitannya dengan Peradaban Melayu Purba, yang berada disekitar Gunung Dempo (arah selatan Bukit Barisan) Sumatera Selatan.

Tidak menutup kemungkinan, jika Dapunta Hyang di Gunung Merapi, selain merupakan Trah Raja Iskandar Zulqarnain (Cyrus II of Persia), juga memiliki leluhur dari beberapa Dapunta Hyang di Gunung Dempo.

3. Berdasarkan temuan arkeologis, diperkirakan di sekitar Gunung Dempo, pada masa 2.500 – 1.500 SM telah ada Peradaban Bangsa Melayu Purba (Peradaban Besemah), yang diduga menjadi cikal bakal Kerajaan Sriwijaya (sumber : Sejarah Besemah).

Menurut Erwan Suryanegara dalam tesisnya, tentang peninggalan megalitikum di kawasan Gunung Dempo, mengungkapkan peradaban di kaki gunung itu bermula sekirar masa 2.000 tahun Sebelum Masehi. Sejauh ini, teori ini berhasil dipertahankan dari berbagai antitesis, hingga tesis Erwan, meraih penghargaan cum laude dari ITB (Misteri Sriwijaya di Gunung Dempo).

Ada dugaan Dapunta Hyang Sri Jayanaga (pendiri Kerajaan Sriwijaya) dan Dapunta Hyang Syailendra (pendiri Dinasti Syailedra), leluhur mereka berasal dari Peradaban Besemah (Gunung Dempo) dan Peradaban Minanga Kabwa (Gunung Merapi).

Gubernur Jokowi, Ki Bondan Kejawan dan Misteri Leluhur Mataram Islam

Di dalam catatan silsilah Kraton Yogyakarta, Surakarta, Mangkunegaraan dan Pakualaman, nama Ki Bondan Kejawan adalah Leluhur dari semua raja-raja kerajaan Mataram Islam.

Ada yang berpendapat bahwa beliau anak Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Namun kenyataannya masa kehidupan Ki Bondan Kejawan, diperkirakan lebih dahulu dari Prabu Brawijaya V (Kertabhumi).

Ada juga yang mengatakan, Ki Bondan Kejawen adalah anak Prabu Brawijaya IV, dan masih beberapa versi lagi.

Dengan adanya beberapa versi tentang keberadaan Ki Bondan Kejawan, telah menjadikannya sebagai salah seorang Tokoh Misteri di Nusantara.

mataram2
Ki Bondan Kejawan, menurut Trah Azmatkhan

Berdasarkan Babad Tanah Jawi (Meinama, 1905; Al-thoff, 1941), ibu Bondan Kejawan adalah putri Wandan kuning, yang dikenal sebagai seorang tabib (ahli pengobatan).

Putri Wandan Kuning diceritakan menjadi istri Prabu Brawijaya, setelah ia berhasil menyembuhkan penyakit sang raja. Dari pernikahan inilah kemudian lahir Bondan Kejawan.

Namun dalam versi lain mengisahkan. Bondan Kejawan hanyalah anak angkat (anak tiri) dari Penguasa Majapahit. Bondan Kejawan sendiri sejatinya adalah anak dari seorang ulama bernama Maulana Ahmad Jumadil Kubra (meninggal sekitar tahun 1465M), yang merupakan suami terdahulu dari Nyai Wandan Kuning.

Maulana Ahmad Jumadil Kubra, adalah anggota Wali Sanga Periode I, yang dibentuk tahun 1404M. Beliau adalah putera dari Maulana Muhammad Jumadil Kubra bin Syeikh Maulana Husain Jamaluddin Akbar, yang berasal dari keluarga Azmatkhan.

Berdasarkan catatan KRT.Hamaminatadipura, Maulana Muhammad Jumadil Kubra, adalah orang yang membuka Hutan Mentaok, menjadi sebuah pemukiman, yang dikemudian hari dikenal sebagai Mataram. Maulana Muhammad Jumadil Kubra, sendiri kemudian dikenal dengan gelar Ki Ageng Mataram I.

Adapun Nyai Wandan Kuning, menurut ahli sejarah, Kerajaan Mataram, KRT.Hamaminatadipura adalah puteri dari  Syekh Abdurrahman yang datang ke Hutan Mentaok (Tanah Mataram) tahun 1377M.

Syekh Abdurrahman adalah sahabat dari Maulana Muhammad Jumadil Kubra (Ki Ageng Mataram I). Dan persahabatan itu semakin erat, melalui pernikahan kedua anak mereka, yaitu Ahmad Jumadil Kubra dengan Nyai Wandan Kuning.

Dari pasangan suami isteri ini, kemudian melahirkan seorang putra pada tahun 1425M (berdasarkan catatan Ki Ageng Walisuci, dalam Babad Mataram Islam), yang diberi nama Abdurrahman Jumadil Kubra, dan setelah dewasa lebih dikenal sebagai Raden Lembu Peteng atau Ki Bondan Kejawan.

mataram
Dengan mengacu kepada data di atas, maka diperoleh Nasab Panembahan Senapati (Pendiri Kerajaan Mataram Islam) adalah sebagai berikut :

Panembahan Senapati bin Ki Pemanahan bin Ki Ageng Ngenis bin Ki Ageng Selo bin Ki Ageng Getas Pandawa bin Ki Bondan Kejawan (Abdurrahman Jumadil Kubra) bin Maulana Ahmad Jumadil Kubra bin Maulana Muhammad Jumadil Kubra (Ki Ageng Mataram I) bin Maulana Husain Jumadil Kubra bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Syekh Abdul Malik Al-Muhajir bin Syekh ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syekh Muhammad Shohib Mirbath

jokowikampanye3
Silsilah Joko Widodo (Jokowi)

Berdasarkan keterangan Politisi senior, Zaenal Maarif, Joko Widodo (Jokowi) yang saat ini merupakan Gubernur DKI Jakarta, adalah keturunan dari Kiai Yahya, salah seorang Pengawal Pangeran Diponegoro.

Kiai Yahya sendiri adalah Putera dari Kiai Abdul Jalal, seorang ulama yang menjadi pendiri tanah perdikan di Kalioso (daerah sebelah utara Solo).

Di dalam salah satu versi genealogy yang beredar di masyarakat, Kyai Abdul Jalal (Pendiri Perdikan Kalioso), masih terhitung sebagai keturunan dari Ki Bondan Kejawan.

– Kyai Abdul Jalal I – Ki Bondan Kejawan
Kyai Abdul Jalal I (Pendiri Perdikan Kalioso)
bin Kyai Niti Manggolo (Kyai Kerti Manggolo I) bin Kyai Honggowongso bin Kyai Gulu bin RM Tmg Karto Nagoro bin Pangeran Adipati Manduraredjo (Ki Djuru Wiroprobo I) bin Pangeran Mandura bin Ki Juru Martani (Maha Patih Mataram Kotagedhe) bin Ki Ageng Saba bin Pangeran Made Pandan bin Ki Wonosobo bin Ki Bondan Kejawan

– Ki Juru Martani – Sunan Giri
Ki Juru Martani bin Ki Ageng Saba bin Nyai Made Pandan binti Sunan Dalem Kidul bin Sunan Giri

– Ki Juru Martani – Sunan Ampel
Ki Juru Martani bin Ki Ageng Saba bin Nyai Made Pandan binti Sunan Dalem Kidul bin Dewi Murtasiyah binti Sunan Ampel

– Ki Juru Martani – Sunan Ngerang
Ki Juru Martani bin Nyai Ageng Saba binti Nyai Ageng Selo binti Ki Ageng Ngerang I (Sunan Ngerang)

Catatan Penambahan

1. Hubungan Kekerabatan antara Joko Widodo (Jokowi) dengan Prabowo Subianto

trahjokoprabowo2
2. Prabu Hayam Wuruk sampai ke Jokowi

silsilahjokowi1
3. Nama ayah dari Joko Widodo (Jokowi), adalah Wijiatno (Noto Miharjo) bin Lamidi Wiryo Miharjo bin Mangun Dinomo (Sumber :  Liputan6.com dan Kompasiana)

silsilahjoko1
WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber :
1. Misteri Ki Bondan Kejawan, versi Trah Azmatkhan
2. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara
3. Silsilah JOKOWI sampai kepada SYEKH MAULANA MAGHRIBI ?
4. 5 Tokoh : Jokowi, Rhoma, Yusril, Prabowo dan Sultan HB X
5. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Tinjauan HISTORIS, untuk memahami keberadaan istri-istri RASULULLAH ?

Ayat yang menerangkan tentang, dibolehkannya seseorang berpoligami dengan 4 (empat) isteri (QS. An Nisaa (4) ayat 3), turun setelah terjadi Perang Uhud.

Ayat ini turun, dilatarbelakangi, banyaknya sahabat yang syahid (sekitar lebih dari 70 orang), akibatnya keluarga serta janda-janda para syuhada tersebut, memerlukan perlindungan baik secara kesejahteraan, maupun hukum.

annisaa3

Istri Rasulullah di masa Perang Uhud

Untuk dipahami pada masa perang Uhud, istri Rasulullah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha, sudah lama meninggal. Dengan demikian istri Rasulullah ketika itu ada 3 orang orang, yaitu bernama Saudah binti Zam’ah bin Qois radhiyallahu ‘anha, A’isyah binti Abi Bakr As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma, dan Hafshah binti Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhuma…

Dengan demikian, saat ayat tersebut turun, Rasulullah tidak memiliki istri lebih dari 4 (empat). Bahkan salah satu istrinya Saudah binti Zam’ah bin Qois radhiyallahu ‘anha, termasuk wanita yang diberi perlindungan oleh Rasulullah, yang di dalam Al Qur’an di-istilahkan sebagai “Malakat Aymaan”.

muhammad2

Bagaimana dengan istri-istri Rasulullah setelah ayat ini turun ?

Ternyata jika kita pelajari sejarah kehidupannya, mereka sebagian besar adalah yang mendapat perlindungan dari Nabi, tawanan Perang dan Hamba Sahaya pemberian orang lain, yang di dalam istilah Al Qur’an disebut “Malakat Aymaan”

Mereka adalah…

1. Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu ‘anha, adalah janda seorang syuhada perang uhud, yang mendapat perlindungan Rasulullah,

2. Ummu Salamah, Hindun bintu Abi Umayyah radhiyallahu ‘anha, janda dari sahabat Rasulullah, yang hidup serba kekurangan bersama anak-anaknya. Dan ia mendapat perlidungan hukum dan kesejahteraan dari Rasulullah.

3. Juwairiyah binti Al-Harits radhiyallahu ‘anha, tawanan perang, dibebaskan oleh Rasulullah

4. Ummu Habibah binti Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, mendapat perlindungan Rasulullah, dikarenakan suaminya yang murtad.

5. Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, tawanan perang, dibebaskan oleh Rasulullah

6. Amrah binti Yazid, mendapat perlindungan Nabi, setelah yang bersangkutan baru masuk Islam (nama ini masih diperselisihkan oleh Para Ulama)

7. Mariyah Al-Qibtiyah, Hamba Sahaya pemberian Raja Muqauqis, dimerdekakan oleh Rasulullah

8. Raihanah binti Zaid Al-Quradziyah, tawanan perang, dibebaskan oleh Rasulullah

makam-aisyah1

Sementara istri Rasulullah, yang bukan dari “malakat aymaan”, setelah 2 istrinya (A’isyah binti Abi Bakr As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma, dan Hafshah binti Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhuma), adalah :

1. Zainab bintu Jahsy bin Rabab radhiyallahu ‘anha
2. Maimunah binti Al-Harits radhiyallahu ‘anhu

# sebelum menikah dengan Maimunah binti Al Harits, Rasulullah sempat akan memperistri Asma’ binti al-Nu’man, namun akhirnya batal.

Dengan demikian, Nabi Muhammad, sebagai seorang yang telah dikarunia-i sifat adil, secara historis, tidak memiliki istri (diluar katagori malakat aymaan), melebihi dari 4 orang…

WaLlahu a’lamu bishshawab