Tag Archives: indonesia

Tanah Punt, Sundaland, dalam Legenda Leluhur Bangsa Nusantara?

Selepas Bencana di masa Nabi Nuh, hampir semua peradaban besar di dunia hancur, yang tersisa tinggal Keluarga Nuh beserta para pengikutnya.

Penduduk Nusantara diperkirakan bermula dari 2 (dua) kafilah, yakni  keluarga Put bin Ham bin Nabi Nuh dan keluarga Shin bin Maghugh bin Yafit bin Nabi Nuh.

peta1
Legenda Tanah Punt

Keluarga Put bin Ham, bertempat tinggal di dataran tinggi sepanjang Bukit Barisan (Sumatera), sebagian lagi berada di Srilanka dan India.

Sementara Keluarga Shin bin Maghugh bin Yafit, sebagian besar bertempat tinggal di wilayah Sundaland, daerah dataran rendah di antara Sumatera, Semenanjung, Kalimantan dan Jawa.

Pada sekitar tahun 9.600 SM, pada masa berakhirnya zaman es, Jazirah Sundaland tenggelam.

Penduduk Sundaland berpencar ke seluruh penjuru bumi, sebagian besar hijrah ke arah utara, yang kelak menjadi leluhur bangsa-bangsa di Asia Timur, seperti ras Mongoloid dan Altai (Sumber : Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab Asal Usul Bangsa Melayu ?).

Sebagian lagi mencari daerah daratan tinggi, mereka menyelusuri hutan-hutan di Pulau Sumatera, dan sampailah di daerah kekuasaan keturunan Put bin Ham. Pada akhirnya kedua Bangsa ini berinteraksi, untuk kemudian memunculkan bangsa baru, yang dikenali sebagai Bangsa Australomelanesid.

mahabharata1
Pada perkembangannya, masyarakat Australomelanesid kemudian mendiami pulau-pulau di seluruh pelosok Nusantara hingga sampai Kepulauan Pasifik.

Disinyalir, Hiranyapura (Kota Emas) dalam Epos Mahabharata, merupakan tempat kediaman bangsa ini (Lihat : Misteri Arjuna dalam Kisah Mahabharata, yang singgah di Nusantara (Sumatera), pada sekitar 5.000 tahun yang silam?)

Wilayah Bangsa Australomelanesid, dikenal juga sebagai Tanah Punt, yang diambil dari nama leluhur mereka Put bin Ham bin Nabi Nuh.

Keberadaan Tanah Punt,  terdokumentasi pada Relief Kuil Mesir Purba, yang dibangun oleh  Ratu Hatshepsut (1479 SM – 1458 SM) (Lihat : [Misteri] Kuil Hatshesut (+/- 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).

maritim1
Proto Melayu dan Deutero Melayu

Pada sekitar tahun 2500-1500 SM, sebagian keturunan Shin bin Maghugh bin Yafit pulang kampung ke Nusantara. Mereka berasal dari Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau Kepulauan Taiwan.

Kehadiran migrasi bangsa ini, terekam dalam Situs Goa Harimau Sumatera Selatan (Lihat : Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?).

Para Migran ini kemudian berinteraksi dengan Bangsa Australomelanesid, dan memunculkan bangsa baru yang dikenali sebagai Bangsa Proto Melayu.

adatmelayu1
Gelombang Migrasi kemudian datang dari Asia Tengah dan Selatan. Diperkirakan mereka mulai memasuki Nusantara, pada sekitar tahun 300 SM.

Bangsa Proto Melayu yang sebelumnya telah mendiami Nusantara, sebagian tetap mempertahankan eksistensinya, namun sebagian lagi melebur dengan bangsa pendatang ini, untuk kemudian membentuk bangsa baru, yang disebut Bangsa Deutero Melayu.

Penduduk Nusantara pada masa sekarang, sebagian besar meupakan bangsa Deutero Melayu dan Proto Melayu, yang terbentuk melalui proses yang sangat panjang selama ribuan tahun.

WaLlahu a’lamu bishshawab

[Misteri] Kuil Hatshesut (+/- 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?

Peradaban Mesir Purba pernah dipimpin seorang Fir’aun Perempuan, yang bernama “Ratu Hatshepsut” (1479 SM – 1458 SM). Salah satu peninggalannya yang sangat terkenal adalah Mortuary Temple of Hatshepsut (Kuil Hatshepsut, wikipedia).

Yang menarik dari Kuil Hatshepsut, terdapat relief yang bercerita tentang Land of Punt (Tanah Punt), yakni satu daerah yang memiliki ciri kehidupan masyarakat Nusantara.

Hatshetsuptemple1
Misteri Tanah Punt

Kisah Tanah Punt, yang terdapat dalam relief Kuil Hatshepsut selama ribuan tahun menjadi misteri. Banyak analisis tentang keberadaannya, ada yang mengatakan berada di benua Afrika (Somalia, Ethiopia dan Sudan).

Namun berdasarkan penelitian mutahir, ciri kehidupan “Tanah Punt” ternyata sangat mirip dengan budaya Masyarakat Nusantara, terutama di sekitar Pantai Barat Sumatera Bagian Selatan.

1. Rumah Bangsa Punt, mirip rumah Suku Enggano Bengkulu

puntrumah2. Hiasan Kepala Bangsa Punt

hiasankepalapunt
3. Kebiasaan Pisau di Pinggang

pisaupuntSelain bersumber dari relief Kuil Hatshepsut, ada beberapa argumen lain, yang memberi bukti lokasi Tanah Punt, berada di sekitar Pantai Timur Sumatera Bagian Selatan.

a. Lokasi Pantai Timur Sumatera, terhadap wilayah Mesir

mesirbengkulub. Beberapa kosa kasa Suku Rejang Bengkulu, memiliki kemiripan dengan kosa kata bahasa Mesir (sumber : EGYPTIAN AND WEST SEMITIC WORDS IN SUMATRA’S REJANG CULTURE).

rejang4
c. Di daerah Sumatera Bagian Selatan, banyak ditemukan situs-situs purbakala yang berusia ribuan tahun, diantaranya : Situs Besemah (Sumsel 4.500 tahun, sumber) dan Gua Harimau (Sumsel 4.840 tahun, sumber).

Referensi :
1. Suku Enggano
2. Pakaian adat Bengkulu
3. Nabi Idris (Oziris), Ilmuwan NUSANTARA dan Tokoh Pembaharu MESIR PURBA ?
4. Misteri Arjuna dalam Kisah Mahabharata, yang singgah di Nusantara (Sumatera), pada sekitar 5.000 tahun yang silam ?

Bukti Kerajaan Sriwijaya wilayahnya mencapai Benua Afrika?

Berdasarkan kesaksian Ibn Lakis, yang tercatat dalam buku Merveilles de l’Inde, menceritakan pada tahun 334H (945M), sekitar 1.000 kapal Bangsa Waqwaq tiba di Qanbaluh (pantai Afrika Timur).

Salah satu tujuan kedatangan mereka adalah untuk mencari para pekerja asal afrika (kaum Zanggi), yang dikenal memiliki fisik yang kuat.

sriwijaya2

Negeri Waqwaq berada di Nusantara

Menarik apa yang ditemukan di dalam Prasasti Perunggu Jawa Kuno, bertahun 860M, dimana terdapat istilah jenggi pada daftar abdi kerajaan.

Ada dugaan Waqwaq berada di Nusantara, hal ini diperkuat dengan posisi waqwaq yang kepulauannya berhadapan dengan “negeri Cina” (Nusa Jawa, Jaringan Asia dan Edisi Khusus Majalah Sabili 2009, “Menjelajahi Tujuh Lautan Menuju Cina”).

Dalam catatan Ibnu Khurradadhbih, dikatakan Waqwaq sangat kaya dengan logam mulia, penduduk negeri ini membuat jubah tenun dari emas.

Informasi Ibnu Khurradadhbih, sepertinya mengarah kepada Pulau Sumatera, yang memiliki banyak tambang Emas, bahkan dikenal sebagai Suwarnadwipa (bahasa Sanskerta, berarti “pulau emas”) (sumber : wikipedia (sumatera)).

prasasti

Bangsa Waqwaq adalah Penduduk Sriwijaya

Berdasarkan catatan sejarah, sekitar abad 9-10 masehi, di Pulau Sumatera terdapat satu kerajaan Maritim yang kuat, yang bernama Sriwijaya.

Pada sekitar tahun 955 M, Al Masudi, seorang sejarawan Arab klasik menggambarkan Sriwijaya sebagai kerajaan besar yang kaya raya, dengan tentara yang sangat banyak.

Disebutkan kapal yang tercepat dalam waktu dua tahun, tidak akan cukup untuk mengelilingi seluruh pulau wilayahnya (sumber : wikipedia (Sriwijaya)).

Gambaran Al Masudi ini, memberikan informasi bahwa wilayah Kerajaan Sriwijaya sangat luas, tidak sebatas Asia Tenggara saja, sebagaimana perkiraan para ahli sejarah selama ini.

Dengan demikian, apa yang diungkapkan Ibn Lakis tentang Bangsa Waqwaq, boleh jadi merupakan kisah invasi Kerajaan Sriwijaya atas Benua Afrika.

Berkat kekuatan armada maritimnya yang kuat, Sriwijaya telah berhasil menguasai daerah yang sangat luas, hingga kekuasaannya mencapai Pantai Afrika Timur (wilayah Qanbaluh, Mozambik).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Gunung Kembar Legendaris di Indonesia?

gambargunung3Sumber Picture (Twitter)

Ketika masih di Taman Kanak-Kanak (TK) atau Sekolah Dasar (SD), anak-anak paling suka menggambar dua gunung kembar, dengan jalan ditengah-tengahnya.

gambargunung4Ternyata gambar yang sedemikian melegenda ini, benar-benar ada di Indonesia. Kedua gunung ini dikenal dengan nama Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, yang berada di Temanggung Jawa Tengah (sumber : temanggungkab.go.id).

Legenda Patih Gajah Mada, wafat di Kota Suci Makkah?

Di saat mengikuti acara dauroh di PP al madani Lombok timur (Pebruari 2015), Ustadz Emdeka Saka Guru berkesempatan mengunjungi makam Raja Islam Sela Parang.

Sang Raja merupakan seorang pendakwah Islam pada periode awal, sekitar abad XIV M di Pulau lombok.

Yang tidak terduga di komplek makam itu, terdapat petilasan.

Petilasan Keberangkatan Patih Gajah Mada ketika pergi haji ke Makkah

Sumber Picture

Petilasan ini, menurut tutur kata dari generasi ke generasi setempat, di yakini sebagai lokasi keberangkatan Sang Maha Patih Gajah Mada ketika hendak pergi haji menuju Makkah.

Penduduk wilayah ini percaya, Patih Gajah Mada setelah masuk Islam dan lengser keprabon berganti nama menjadi Muhammad Rum.

Dan menurut Babad Sela Parang, Gajah Mada tidak pernah kembali, karena beliau wafat di kota suci Makkah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Kedatangan Gajah Mada ke Lombok, tercatat pada prasasti Bencangah Punan (tahun 1357 M) yang ditulis dalam aksara Jejawan (Sumber : opiniartikel.kampung-media.com)

2. Makam Selaparang berada di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, tepatnya di kecamatan Swela sekitar 65 km dari kota Mataram (Sumber : lombok.panduanwisata.id)

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. Misteri Koin Majapahit, berukiran Kalimat Tauhid “Syahadat”?
3. Misteri 9 Sahabat Rasulullah, yang berdakwah di NUSANTARA?
4. Pidato Lengkap Sri Sultan Hamengkubuwono X, pada Pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6

Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

Peneliti Balai Arkeolog Palembang, dikagetkan oleh hasil yang didapat dari uji karbon, dari tiang kayu medang di Desa Banyubiru Dusun Belanti Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Hasil analisis karbon C-14 pada sampel tiang kayu Medang yang dilakukan di Laboratorium Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Batam Jakarta diperoleh pertanggalan CalBP 2760 +- 134 (CalBC 810 +- 34).

Temuan ini menunjukkan, tiang kayu tersebut berasal dari tahun 810 Sebelum Masehi (SM), atau umur kayu itu sekarang telah mencapai 2825 tahun (sumber : tribunnews.com).

rumahkuno1
Penemuan tiang kayu, yang diperkirakan merupakan penyanggah dari rumah panggung kuno, membuktikan bahwa ribuan tahun yang silam, masyarakat di Sumatera Selatan telah berbudaya.

Mereka bukan lagi manusia-manusia yang hidup di dalam gua atau hutan, melainkan sebuah kelompok masyarakat yang sangat berbudaya, dengan memiliki permukiman (perkampungan).

Pemukiman Awal Bangsa Melayu

Ada indikasi penemuan Pemukiman Kuno di Desa Banyubiru, merupakan kelanjutan dari komunitas manusia kuno yang hidup di Goa Harimau.

Dalam Penelitan arkeologi yang dilakukan di Goa Harimau, Sumatera Selatan, ditemukan ada dua jenis ras manusia Homo sapiens, yang pernah mendiami Goa Purba ini.

Kedua ras tersebut adalah Ras Australomelanesid dan Ras Mongoloid, dan kedua ras ini diduga pernah bertemu serta berinteraksi di goa tersebut.

Dari 78 kerangka Homo sapiens yang diekskavasi, Tim Penelitian Arkeologi Goa Harimau mendeteksi empat kerangka ras Australomelanesid. Sementara 74 kerangka individu lainnya merupakan ras Mongoloid.

guaharimau1 Foto : Republika.co.id

Homo sapiens ras Mongoloid ditemukan di lapisan tanah paling atas Goa Harimau. Sementara ras Australomelanesid berada di lapisan tanah ketiga, berupa tanah lempung coklat tua yang mengandung gamping.

Dari hasil penanggalan radiokarbon oleh Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional pada lapisan tanah teratas, umur kerangka Homo sapiens Mongoloid 3.464 tahun.

Sementara itu, penanggalan radiokarbon oleh Waikato Radiocarbon Dating Laboratory, Selandia Baru, untuk lapisan tanah ketiga (tempat penemuan kerangka Australomelanesid) menunjukkan usia 4.840 tahun (sumber : nationalgeographic.co.id).

Temuan di Goa Harimau membuktikan, bahwa jauh sebelum kedatangan kelompok Proto Melayu (ras Mongoloid), di pulau Sumatera telah ada komunitas kehidupan manusia dari ras Australomelanesid.

Ketika masyarakat Proto Melayu (ras Mongoloid) datang, kedua komunitas ini saling ber-interaksi satu dengan lainnya, dan hasil penyatuan kedua kebudayaan ini, menghasilkan satu masyarakat baru, yang dikenal sebagai Bangsa Jawi (Melayu).

Bentuk pemukiman awal dari masyarakat yang kelak menjadi leluhur Penduduk Nusantara ini, salah satunya berada di Desa Banyubiru, Ogan Kombering Ilir Sumatera Selatan.

Boleh jadi, rumah panggung yang merupakan salah satu ciri Bangsa Jawi (Melayu), bermula dari wilayah ini, untuk kemudian menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

 

Misteri Pedang Sayyidina Ali, dari Negeri Panjalu (Tanah Pasundan) ?

Pada acara tahunan dalam Prosesi Upacara Adat Nyangku masyarakat Panjalu, Ciamis, ada upacara yang paling ditunggu-tunggu yaitu  pencucian pedang yang dipercaya merupakan warisan dari Sayyidina Ali r.a.

Menurut babad Panjalu, pedang tersebut diberikan langsung oleh Sayyidina Ali kepada Raja Panjalu yang bernama Prabu Borosngora.

pedangali1

Bukti bahwa pedang ini berasal dari Sayiddina Ali r.a, dibilahnya tertulis 3 kalimat bahasa arab yang berbunyi :

La Fabasirtha Ali Ya Ali al dzulfikaqar Wa Ali Wasohbihi Azma’in, Laa Syaefi Illa Dzulfiqar, Laa Fatta Illa Aliyya Karomallahu Wajnahu.

Ini adalah pedang milik Syaidinna Ali Karomallohu Wajhnahu“.

Pedang ini juga pernah diteliti oleh Ir. Suhamir, ahli purbakala dari pusat, hasilnya disimpulkan bahwa bahan logamnya bukan berasal dari Nusantara (sumber : Upacara Ritual Nyangku).

Misteri Prabu Borosngora

Prabu Borosngora yang mendapatkan anugerah Pedang Sayyidina Ali ternyata masih diselimuti misteri. Hal ini dikarenakan jika berdasarkan penelitian ahli sejarah, Raja Panjalu ini indentik dengan figur Prabu Bunisora atau Hyang Bunisora Mangkubumi Suradipati (1357-1371) dari Kemaharajaan Sunda.

Prabu Bunisora sendiri adalah adik Maharaja Sunda bernama Maharaja Linggabuana yang gugur melawan pasukan Majapahit di palagan Bubat pada 1357 (sumber : Benarkah Prabu Borosngora dan Bunisora adalah orang yg sama?).

Dengan demikian, jika melihat masa kehidupan kedua tokoh, Sayyidina Ali berasal dari abad ke-7M, sementara Prabu Borosngora hidup pada abad ke-14M, artinya terdapat rentang waktu 700 tahun, dan sangat mustahil kedua tokoh ini bertemu.

Nampaknya keberadaan Pedang Sayyidina Ali ini, terkait erat dengan seorang Pangeran dari Kerajaan Tarumanegara, yang hidup di masa perkembangan awal Islam, beliau bernama Rakeyan Sancang.

Rakeyan Sancang diceritakan, pernah turut serta membantu Imam Ali dalam pertempuran menalukkan Cyprus, Tripoli dan Afrika Utara, serta ikut membangun kekuasaan Muslim di Iran, Afghanistan dan Sind (644-650 M) (Sumber : Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara?).

Boleh jadi, dikarenakan perjalanan waktu yang sudah sangat lama, kisah Rakeyan Sancang ini telah tertukar dengan tokoh yang hidup 700 tahun setelahnya, yaitu Raja Panjalu, Prabu Borosngora.

WaLlahu a’lamu bishshawab