Tag Archives: Yesus

Mukjizat Hadis “Fatrah (zaman antar nabi)”, menjawab dengan tepat masa kelahiran Nabi Isa (Jesus) ?

Banyak yang keliru dalam memahami hadis yang berasal dari Salman radiallahu’anhu  :

“fatrah (zaman antar nabi) antara Nabi Isa dengan Nabi Muhammad selama 600 tahun “

Fatrah sering kali diartikan sebagai jarak antara kelahiran Nabi Isa (Jesus) sampai dengan kelahiran Nabi Muhammad, padahal yang lebih tepat adalah :

“jarak antara kewafatan (kenaikan) Nabi Isa sampai dengan masa Nabi Muhammad menerima wahyu pertama”.

hadithsalmanSumber Picture

Dengan memahami hadis yang berasal dari Salman ra. ini, kita bisa menemukan jawaban yang tepat, pada tahun berapa Nabi Isa (Yesus/Jesus) di lahirkan.

Perhitungan masa Nabi Muhammad menerima wahyu

Berdasarkan tulisan sebelumnya, Menghitung saat Kelahiran Nabi Muhammad, melalui hari wafatnya ?, kita memperoleh informasi Kelahiran Nabi Muhammad adalah pada tanggal 9 Rabi’ul Awal 52 SH (malam hari), yang bertepatan dengan 20 April 571 M.

kalenderlahir1
Sejarawan Muslim sepakat Rasulullah menerima wahyu pada usia yang ke-40. Dalam Kalender Qomariyah (Hijriah), jumlah harinya sebanyak 354 atau 355 (kabisat), dimana setiap masa 30 tahun ada 11 tahun kabisat.

Untuk masa 40 tahun, terdapat 26 tahun biasa dan 14 tahun kabisat, sehingga didapat :

(26 x 354) + (14 x 355) = 14.174 hari.

Jika kita tambahkan pada data di Kalender Julian : 1.929.725 + 14.174 = 1.943.899

Sehingga akan memperoleh tahun 12 SH, dan berdasarkan pendapat Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfury, wahyu pertama turun pada hari senin, tanggal 21 Ramadhan (sumber : maramissetiawan.wordpress.com), yang berlangsung di malam hari.

Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Nabi ditanya tentang hari senin. Beliau menjawab:
“Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus menjadi rasul, atau diturunkan kepadaku (wahyu).”
(HR. Muslim No. 1162) (sumber : dakwatuna.com)

wahyupertama
Perhitungan Saat Nabi Isa (Yesus) dilahirkan

Sebagaimana telah diuraikan di atas, jarak antara kewafatan (kenaikan) Nabi Isa sampai dengan masa Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, adalah selama 600 tahun.

Untuk masa 600 tahun, terdapat 380 tahun biasa dan 220 tahun kabisat, sehingga didapat :

(380 x 354) + (220 x 355) = 212.620 hari.

Jika masa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad dalam Kalender Julian : 1.944.089
Maka masa Nabi Isa diwafatkan (dinaikan) adalah 1.944.089 – 212.620 = 1.731.469

Sehingga didapat hasil beliau diwafatkan pada tahun 28 Masehi (M)

kalenderkenaikan1

Berdasarkan pendapat Imam Malik, Nabi Isa diwafatkan pada usia 33 tahun
(Sumber : idrislagaligo1234.wordpress.com).

Jika menggunakan Kalender Lunar masa 33 tahun itu adalah 21 Tahun Biasa dan 12 Tahun Kabisat, sehingga diperoleh : (21 x 354) + (12 x 355) = 11.694 hari.

Jika masa Nabi Isa diwafatkan (dinaikan) dalam Kalender Julian : 1.731.469

Maka masa kelahiran Nabi Isa adalah
1.731.469 – 11.694 = 1.719.775

Sehingga didapat hasil beliau dilahirkan pada tahun 4 Sebelum Masehi (SM).

kalenderisalahir

Beberapa Pendapat Pendukung

1. Dalam tradisi Kristen, terdapat beberapa versi tentang kapan Yesus lahir dan wafat, namun salah satu versinya menyatakan Yesus lahir pada tahun 4 SM dan wafat dalam usia 33 tahun
(sumber :  Kosisi Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang).

2. Nabi Isa (Jesus) dilahirkan tatkala bangsa Yahudi dijajah oleh imperium Romawi di bawah Kaisar Agustus (63 SM—14 M), yang memerintah pada periode antara 30SM—14M.

Kaisar ini, yang nama aslinya Gaius Octavius, yang dikenal sebelumnya dengan nama Octavianus. Kaisar inilah yang memerintahkan supaya penduduk dalam seluruh imperium Romawi disensus untuk keperluan pajak.

Di saat sensus yang baru pertama kali diadakan oleh imperium Romawi itu, yang menjadi Gubernur Siria adalah Cyrenius Cyrinus (4 SM– 1 SM). Maryam melahirkan Nabi Isa AS, disaat sensus diselenggarakan, dimana ketika itu, Herodes Agung menjadi Raja Judea (37 SM — 4 SM).

Artinya Nabi Isa (Jesus) dilahirkan dalam tahun 4 SM. Karena tahun 4 SM itu merupakan tahun persekutuan antara (4 SM —1 SM) dengan (37 SM —4 SM).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Misteri Penciptaan Isa, Parthenogenese, dan Ruh Jibril

Bagaimana Nabi Isa bisa lahir, dari rahim seorang perawan ?

Jika hal ini, kita tanyakan kepada Para Ustadz, mereka akan menjawab…
“Semua itu adalah kehendak ILAHI, jika ALLAH menghendaki Kunfayakun, jadi maka jadilah ia…”

Namun ternyata, tidak semua Ustadz punya jawaban demikian, sebagian dari mereka mencoba menganalisa peristiwa ajaib tersebut, sebagaimana terdapat dalam uraian berikut ini…

13266264791394782693
Kelahiran Isa melalui proses Parthenogenese

Sekitar tahun 80-an, melalui serial bukunya “Tauhid dan Logika”, Ustadz Nazwar Syamsu berkesimpulan bahwa Nabi Isa lahir ke dunia melalui proses Parthenogenese

Proses Parthenogenese sendiri bermakna, membesarnya bayi dalam kandungan sang ibu di luar hukum alam manusia. Telur (ovum) dari ibunya tidak memerlukan bertemu dengan spermatozoa bapak untuk membentuk suatu embrio yang kemudian menjadi bayi (Sumber : BUNDA MARIA versus MARYAM).

In 1956 the medical journal Lancet published a report concerning 19 alleged cases of virgin birth among women in England, who were studied by members of the British Medical Association. The six-month study convinced the investigators that human parthenogenesis was physiologically possible and had actually occurred in some of the women studied (sumber : Can Pregnancy Occur Without Man).

Proses selanjutnya adalah “ditiupkan”-nya ruh ke dalam janin sang bayi. Proses ini diawali oleh kedatangan Jibril (Ruhul Qudus) menemui Maryam binti Imran, sebagaimana terdapat di dalam keterangan ayat berikut :

Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang malindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna”.

Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa”. Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabbmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang penzina!”. Jibril berkata: “Demikianlah. Rabbmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. (QS. Maryam (19) ayat 16-21)

13266266722094404292
Dalil Ruh Nabi Isa adalah Malaikat Jibril…

Ada sebagian orang berpendapat, bahwa ruh yang bersemayam didalam tubuh Nabi Isa, sejatinya adalah malaikat Jibril (Ruhul Qudus)

Mari kita perhatikan Hadits berikut ini :

Dari Umar juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi RasuluLLAH SAW suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (RasuluLLAH SAW) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ILAAH ( yang disembah) selain ALLAH, dan bahwa Nabi Muhammad Utusan ALLAH, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian Dia bertanya lagi: “ Beritahukan Aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada ALLAH, malaikat-malaikat-NYA, kitab-kitabNYA, rasul-rasul-NYA dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian Dia berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu Beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada ALLAH seakan-akan engkau melihatNYA, jika engkau tidak melihatNYA maka DIA melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim dalam Kitabul Iman)

Sekarang coba perhatikan Hadits diatas pada bagian yang dicetak tebal, yakni ketika Jibril bertanya tentang Kiamat, maka Nabi menjawab : Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya, maka disimpulkan bahwa Jibril lebih tahu mengenai hari Kiamat dibandingkan Nabi Muhammad. Lalu kita hubungkan dengan ayat berikut :

Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberitahukan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf (43) ayat 61)

Dijelaskan bahwa Nabi Isa lah yang memberitahukan tentang masa hari Kiamat secara global, bukan memberitahukan secara detail waktu tepatnya, karena itu hanya ALLAH yang tahu.

Sementara Jibril dalam Hadits di atas, memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat. Lalu siapakah Nabi Isa dan siapakah Jibril ?

Jibril adalah Malaikat Pembawa Wahyu, sebagian besar Nabi ALLAH menerima Wahyu dari Malaikat Jibril setelah Para Nabi itu dipandang cukup usia untuk menerima wahyu . Hal berbeda dengan Nabi Isa, yang pada masa kecilnya sudah mengaku sebagai Nabi menerima Wahyu. Nash berikut menjelaskan :

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun , ayahmu sekali-kali bukanlah seorang penjahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang penzina”.

maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan”. Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. (QS. Maryam (19) ayat 27-30)

Dalam ayat diatas tanpa menunggu waktu dewasa, dan dalam keadaan masih bocah, Isa bisa menjelaskan status ke-nabiannya dan pemberian wahyu kepadanya.

Lalu apakah Jibril telah memberikan Wahyu kepada Nabi Isa semenjak Beliau masih Bayi? Atau apakah Isa itu adalah Jibril itu sendiri?

Simak baik baik apakah tugas Jibril kepada Maryam?

Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabbmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (QS. Maryam (19) ayat 19)

Jibril datang untuk memberikan anak. Dan disinilah terjadi proses pembuahan janin dari Ruhul Qudus (Jibril) kepada Maryam dengan cara Jibril menghembuskan Ruh Nya kepada Maryam, sehingga bersemayamlah Jibril di rahim Maryam sebagai ‘Isa (Sumber : @israel pardede, diskusi Grup Facebook NAZWAR SYAMSU (Review buku-buku NS)).

Pendapat ini juga sekaligus mempertemukan, dua argument yang berbeda tentang Nabi Isa, yaitu antara mereka yang yakin Nabi Isa telah wafat di bumi dengan mereka yang percaya Nabi Isa diangkat ALLAH ke langit…

Karena sesungguhnya, jasad (tubuh) Nabi Isa yang berasal dari proses Parthenogenese telah diwafatkan oleh ALLAH, dan ruhnya yang merupakan Ruhul Qudus (Jibril) telah kembali ke “langit” tempat asalnya…

WaLlahu a’lamu bishshawab

Note :  Kemungkinan terjadinya, proses yang lain

Untuk dipahami sel telur (pada wanita selalu X, yang merupakan pecahan dari kromosom XX, ciri sel somatik pada wanita), dan sel sperma (pada pria ada yang X dan ada yang Y, pecahan dari kromosom XY. ciri sel somatik pada pria). Sel telur dan Sel Sperma adalah sel-sel kelamin pada manusia yang bersifat haploid (n)

Lalu dari mana partenogenesis bisa terjadi pada manusia secara alami ?

Jika dari sel somatik wanita yang diploid (XX), maka yang muncul adalah individu wanita.

Yaitu melalui proses dari sel telur yang haploid (X), menggandakan diri sehingga menjadi diploid (XX), yang muncul adalah individu wanita.

Adapun Nabi Isa AS adalah pria, yang berarti adanya kromosom Y dalam sel somatiknya (yakni XY), jadi tidak mungkin dari partenogenesis

Yang lebih logis adalah, adanya campur tangan Allah dengan cara merubah sel telur yang haploid itu (yakni X) digandakan menjadi diploid (XX), kemudian merubahnya menjadi diploid (XY), sehingga berkembang menjadi individu pria (Nabi Isa AS)…

Apakah perubahan dari diploid (XX) menjadi diploid (XY), dipengaruhi dari makanan yang di makan oleh Siti Maryam ?

Sebagaimana informasi dari Al Qur’an :

فَتَقَبَّلَهَارَبُّهَابِقَبُولٍحَسَنٍوَأَنبَتَهَانَبَاتًاحَسَنًاوَكَفَّلَهَازَكَرِيَّاكُلَّمَادَخَلَعَلَيْهَازَكَرِيَّاالْمِحْرَابَوَجَدَ عِندَهَارِزْقاًقَالَ يَامَرْيَمُأَنَّى لَكِهَذَاقَالَتْهُوَ مِنْعِندِاللّهِ إنَّاللّهَيَرْزُقُمَن يَشَاءبِغَيْرِ حِسَابٍ

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: `Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?` Maryam menjawab: `Makanan itu dari sisi Allah`. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab (QS. Ali Imran (3) ayat 37)…

Sumber :
http://filsafat.kompasiana.com/2012/01/15/misteri-penciptaan-isa-parthenogenese-dan-ruh-jibril/

ISA lebih historis, daripada YESUS

Nama Putera Tunggal dari Bunda Maria (Maryam binti Imran), dikalangan umat Muslim dikenal sebagai Isa, sementara di kalangan umat Kristen mengenalnya dengan nama Yesus.


Dari sisi Makna

Munculnya Yesus (Nabi Isa), tidak lepas dari nubuat di dalam Bilangan 24:17, yaitu :

אֶרְאֶנּוּ וְלֹא עַתָּה אֲשׁוּרֶנּוּ וְלֹא קָרוֺב דָּרַךְ כּוֺכָב מִיַּעֲקֹב וְקָם שֵׁבֶט מִיִּשְׂרָאֵל וּמָחַץ פַּאֲתֵי מוֺאָב וְקַרְקַר כָּל-בְּנֵי-שֵׁת:

Translit Interlinear, ERWNU {aku melihat}VELO{tetapi bukan } ATA{sekarang} ASHURANU{aku memandang dia} VELO KAROV{tetapi bukan dari dekat} DARAKHH KOKHAV{bintang terbit}MIYAAKOV {dari yakub}VEKAM SHEVET{tongkat kerajaan} MIYISRAEL{dari israel}…

I shall see him, but not now: I shall behold him, but not nigh: there shall come a Star out of Jacob, and a Sceptre shall rise out of Israel…”
Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel

Dan ayat ini, berhubungan dengan, ayat di dalam Matius 2:2 :

“Saying, Where is he that is born King of the Jews? for we have seen his star in the east, and are come to worship him.”
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.

Pasal 2 Matthew merinci tentang tiga orang Majus yang mengikuti Bintang Utara dalam pencarian Mesias Yahudi. Dan ini adalah tanda Mesias yang paling terkenal (Sumber : Star of Messiah).

Akar kata Ibrani, yang bermakna “Bintang Utara” adalah ‘Ish, yang sepadan dengan akar kata Arab, yakni ‘Assa, yang merupakan asal dari kata ‘Isa.

Dengan demikian, dari sudut makna, kata ‘Isa jauh lebih sesuai daripada kata Yesus, yang tidak memiliki makna nubuat sama sekali.

Dari sudut pelafalan

Yesus (Nabi Isa) dibesarkan pada sebuah bangsa, yang menggunakan bahasa Aram. Bahasa Aram berkembang menjadi satu varian yang disebut bahasa Syriac, yang kemuadian tersebar luas di kalangan umat kristen, yang selanjutnya disebut “Christian Aramaic“.

Di dalam bahasa Syriac, nama Yesus (Nabi Isa) disebut sebagai “Eesho M’sheekha”, bermakna ‘Isa sang Mesias. Istilah “Essho M’sheekha” adalah yang paling mendekati bahasa seharian Yesus (Nabi Isa).

Eesho” (dibaca : ‘Isyo), oleh penduduk Yahudi Palestina Utara mengucapkannya dengan “Essaa” (dibaca : iisa), hal ini dikarenakan huruf “Shin” mereka lafalkan dengan “Sin”.

Hal ini bermakna, kata ‘Isa berasal dari kata Essho (dibaca : ‘Isyo), dalam bahasa Aram (yang merupakan bahasa keseharian Yesus / Nabi Isa), dan oleh penduduk Yahudi Palestina Utara, dilafalkan menjadi Essaa (dibaca : iisa).

Dengan demikian, nama ‘Isa (nama dalam Al Qur’an), jika didasarkan kepada faktor historis, jauh lebih tepat dipergunakan, daripada nama Yesus, yang berasal dari bahasa Ibrani “Yeshua”, yang kemudian dalam Arabic Bible menjadi “Yasua” (Sumber : Keakuratan Nama Isa dalam Qur’an).

Kata ‘Isa baik dipandang dari sudut makna (berarti bintang utara = ‘Assa (Arab) = Ish (Ibrani)), maupun dari sudut pelafalan (berasal dari lafal Essaa atau iisa), terbukti sangat akurat bagi nama, Sang Mesias, ‘Isa ibnu Maryam binti Imran (Kunjungi : Misteri Silsilah Yesus).

Artikel Terkait
01. Komunitas Muslim, dari Bani Israil
02. Pengembaraan Yesus (Nabi Isa), dalam berbagai Versi
03. Wafatnya Nabi Isa, menurut Buya HAMKA

Pengembaraan Yesus (Nabi Isa), dalam berbagai Versi

Nabi Isa adalah Nabi Pengembara, sebagaimana diceritakan di dalam beberapa hadits, antara lain :

Dalam Kitab Hadits Kanzul Ummal diriwayatkan oleh Abu Hurairah :
Allah telah mewahyukan kepada Nabi Isa a.s. : “Wahai Isa, berpindah-pindahlah engkau dari satu tempat ke tempat lain, supaya jangan ada yg mengenali engkau lalu menyiksamu”.

Diriwayatkan oleh Jabar : Nabi Isa a.s. senantiasa mengembara dari satu negeri ke negeri lain. Dan disuatu tempat bila malam tiba, beliau memakan beberapa tumbuhan hutan, serta meminum air bersih”.

Diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar r.a. : “ Yang paling dicintai oleh Allah adalah orang-orang yg gharib (miskin)”. Ditanyakan kepada beliau (saw) apakah gharib itu? Apakah orang-orang seperti Nabi Isa a.s. yang melarikan diri dari negerinya dengan membawa Iman?

Gelar Al Masih sendiri artinya adalah : Dia yg melakukan pengembaraan di negeri-negeri dan bagian-bagian dunia (Murthada Az Zabidi, Tajul ‘Uruus Jilid II). Dia yg banyak melakukan perjalanan di muka bumi dalam rangka penghambaan kepada Allah dan tidak berdomisili di satu tempat saja (Muhammad bin Ahmad al Qurthubi).

Mengenai negeri mana saja yang beliau kunjungi, dan kapan terjadinya peristiwa pengembaraan itu, ada beberapa pendapat diantaranya :

(1). Beliau selain berdakwah di Palestina, beliau juga mengembara di sekitar daerah Syam, Mesir, menyelusuri pantai dan lain-lain.

(2). Beliau akan mengembara di permukaan bumi, di saat beliau datang ke dunia ini, untuk yang kedua kalinya. Pendapat ini, didukung oleh mereka yang percaya bahwa Nabi Isa, sesungguhnya masih hidup, beliau saat ini dalam kondisi tertidur di suatu tempat.

(3). Beliau mengembara sampai ke tanah India, kemudian ke tibet, bahkan sampai ke Persia. Hal ini terjadi ketika beliau, berusia sekitar 13 tahun – 29 tahun, yang dalam istilah ahli sejarah, sebagai masa ”The lost years of Jesus Christus”.

Dalam bukunya “The Unknown Life Of Jesus Christ” yang terbit tahun 1894, wartawan Rusia Nicolas Notovich menjelaskan bahwa selama masa hilang itu Jesus (Nabi Isa) tinggal di India dan kemudian di Tibet. Fakta ini diketahui dari naskah-naskah kuno yang dia temukan tahun 1882 di biara Himis, 25 mil dari Leh, ibu kota Ladakh di Tibet. Dikatakan bahwa naskah-naskah kuno itu berasal dari India dalam bahasa Sanskerta, lalu diterjemah kan kedalam bahasa Pali dan selanjutnya ke bahasa Tibet.

Dalam bukunya “In Kashmir And Tibet”, Svami Abhedananda membenarkan temuan Notovich ketika dia mengunjungi Tibet tahun 1922. Dia datang langsung ke Leh di Tibet dan mendapat penjelasan dari para Lama  yang memperlihatkan naskah-naskah kuno dalam bahasa Tibet tentang keberadaan Jesus (Nabi Isa) di India dan Tibet dimasa lalu.

(4). Beliau mengembara ke Taxila (Pakistan), kemudian ke Kashmir (India). Kisah pengembaraan ini dimulai, ketika beliau selamat, dari upaya pembunuhan (penyaliban).

Pendapat ini, diyakini oleh sebagian orang yang percaya, bahwa Nabi Isa sesungguhnya telah wafat dan tidak mungkin lagi kembali ke dunia ini (Mengenai adanya pendapat, berkenaan dengan telah wafatnya Nabi Isa, bisa dibaca di dalam artikel Wafatnya Nabi Isa, menurut Buya HAMKA).

Mengenai bagaimana Nabi Isa wafat, ada berbagai versi. Salah satunya adalah, sebelum wafat Nabi Isa bersama ibunya mengungsi keluar dari Palestina, beliau tidak naik ke langit melainkan pergi keluar negerinya sendiri karena diselamatkan Allah. Belaiu dan ibunya ke satu tempat yang tinggi (QS. Al-Mukminum (23) : 50).

Pernyataan Al Quran bahwa Nabi Isa diungsikan ke tempat yang tinggi, ada pendapat yang menyatakan daerah tersebut adalah Kashmir di India. Sebab dikatakan lebih lanjut bahwa “tempat tinggi” itu aman, indah dan memiliki banyak mata air. Ini cocok sekali dengan suasana alam Kashmir yang bergunung-gunung dengan pemandangan damai nan indah dan mata air melimpah.

Dalam buku “Acts Of Thomas” diceritakan tentang perjalanan Jesus beserta Thomas di Pakistan (yang pada waktu itu bernama Taxila) dan berkunjung ke istana Raja Gandapura (=Gundafor).

Kira-kira 40 km selatan Srinagar terdapat dataran rendah nan luas yang disebut Yuz-marg, konon disini beberapa suku Israel bermukim. Mereka hidup sebagai gembala/peternak yang sampai saat ini menjadi mata pencaharian penduduk di daerah itu (Mengenai keberadaan Bani Israil di negeri timur, bisa dilihat pada : Komunitas Muslim, dari Bani Israil).

Kira-kira 170 km barat kota Srinagar ada kota kecil bernama Mari. Di kota kecil ini terdapat makam tua yang disebut “Mai Mari Da Asthan”, yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir bunda Maria (Maryam binti Imran).

Di bagian wilayah tua pusat kota Srinagar yaitu Distrik Khanyar terdapat prasasti yang menceritakan kedatangan Nabi Isa (Jesus) di Kashmir. Menurut Prof. Fida Hassnain, pakar arkeologi dan sejarah Kashmir, peristiwa itu terjadi pada sekitar tahun 3154 Era Laukika atau tahun 78M (Sumber : Sepuluh Suku Israil yang Hilang).

Nabi Isa yang merupakan keturunan Nabi Harun (sumber : Misteri Silsilah Yesus (Nabi Isa)), mengembara ke negeri-negeri timur, di sana beliau berdakwah, menemui ”domba-domba” Bani Israil yang hilang. Dan di negeri timur ini juga, pada akhirnya beliau diwafatkan Allah secara wajar.

Wafatnya Nabi Isa, menurut Buya HAMKA

Ketika menafsirkan QS. Ali Imron (3) ayat 55, buya HAMKA didalam Tafsir Al Azhar, menulis :

إِذْ قالَ اللهُ يا عيسى‏ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَ رافِعُكَ إِلَيَّ وَ مُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذينَ كَفَرُوا


“(Ingatlah) tatkala Allah berkata: Wahai lsa,sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu, dan membersihkan engkau dari orang-orang yang kafir ” (pangkal ayat 55).

Artinya yang tepat dari ayat ini ialah bahwa maksud orang-orang kafir itu hendak menjadikan Isa Almasih mati dihukum bunuh, seperti yang dikenal yaitu dipalangkan dengan kayu, tidaklah akan berhasil.

Tetapi Nabi Isa Almasih akan wafat dengan sewajarnya dan sesudah beliau wafat, beliau akan diangkat Tuhan ke tempat yang mulia di sisiNya, dan bersihlah diri beliau dari gangguan orang yang kafir-kafir itu.

Kata mutawwafika telah kita artikan menurut logatnya yang terpakai arti asal itu diambillah arti mematikan, sehingga wafat berarti mati, mewafatkan ialah mematikan. Apatah lagi bertambah kuat arti wafat ialah mati, mewafatkan ialah mematikan itu karena banyaknya bertemu dalam al-Qur’an ayat-ayat, yang disana disebutkan tawaffa, tawaffahumul-malaikatu, yang semuanya itu bukan menurut arti asal yaitu mengambil sempurna ambil, melainkan berati mati. Sehingga sampai kepada pemakaian bahasa yang umum jarang sekali diartikan wafat dengan ambil, tetapi pada umumnya diartikan mati juga.

Maka dari itu arti yang lebih dahulu dapat langsung difahamkan, apabila kita membaca ayat ini ialah: “Wahai Isa, Aku akan mematikan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu dan membersihkan engkau daripada tipudaya orang yang kafir.”


Pendapat Pendukung

A. Al-Alusi

Di dalam tafsirnya yang terkenal Ruhul Ma’ani, setelah memberikan keterangan beberapa pendapat tentang arti mutawwafika, akhirnya menyatakan pendapatnya sendiri bahwa artinya telah mematikan engkau, yaitu menyempurnakan ajal engkau (mustaufi ajalika) dan mematikan engkau menurut jalan biasa, tidak sampai dapat dikuasai oleh musuh yang hendak membunuh engkau.

Dan beliau menjelaskan lagi bahwa arti warafi’uka ilayya, dan mengangkat engkau kepadaKu , telah mengangkat derajat beliau , memuliakan beliau, mendudukkan beliau, di tempat yang tinggi, yaitu roh beliau sesudah mati. Bukan mengangkat badannya.

Lalu al-Alusi mengemukakan beberapa kata rafa’a yang berarti “angkat” itu terdapat pula dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an yang tiada lain artinya daripada mengangkat kemuliaan rohani sesudah meninggal.

B. Syaikh Muhammad Abduh

Beliau menerangkan tentang tafsir ayat ini demikian:
Ulama di dalam menafsirkan ayat ini menempuh dua jalan. Yang pertama dan yang masyhur ialah bahwa dia diangkat Allah dengan tubuhnya dalam keadaan hidup, dan nanti dia akan turun kembali di akhir zaman dan menghukum di antara manusia dengan syariat kita. Dan kata beliau seterusnya: ” …….Dan jalan penafsiran yang kedua ialah memahamkan ayat menurut asli yang tertulis, mengambil arti tawaffa dengan maknanya yang nyata, yaitu mati seperti biasa, dan rafa’a (angkat), ialah rohnya diangkat sesudah beliau mati.

Dan kata beliau pula: ” Golongan yang mengambil tafsir cara yang kedua ini terhadap hadits-hadits yang menyatakan Nabi Isa telah naik ke langit dan akan turun kembali, mereka mengeluarkan dua kesimpulan (takhrij).

Kesimpulan pertama: Hadits-hadits itu ialah hadits-hadits ahad yang bersangkut-paut dengan soal i’tikad (kepercayaan) sedang soal-soal yang bersangkutan dengan kepercayaan tidaklah dapat diambil kalau tidak qath’i (tegas). Padahal dalam perkara ini tidak ada sama sekali hadits yang mutawatir.”

Kemudian beliau terangkan pula takhrij golongan kedua ini tentang nuzul Isa (akan turun Nabi Isa di akhir zaman) itu. Menurut golongan ini kata beliau turunnya Isa bukanlah turun tubuhnya, tetapi akan datang masanya pengajaran Isa yang asli , bahwa intisari pelajaran beliau yang penuh rahmat, cinta dan damai dan mengambil maksud pokok dari syariat, bukan hanya semata-mata menang kulit, yang sangat beliau cela pada perbuatan kaum Yahudi seketika beliau datang dahulu, akan bangkit kembali.” Demikianlah keterangan Syaikh Muhammad Abduh. (Tafsiral-Manar, jilid III, 317, cet. ke 3.)

C. Sayyid Rasyid Ridha

Beliau pernah menjawab pertanyaan dari Tunisia. Bunyi pertanyaan: “Bagaimana keadaan Nabi Isa sekarang? Di mana tubuh dan nyawanya? Bagaimana pendapat tuan tentang ayat inni mutawwaffika wa rafi’uka ? Kalau memang dia sekarang masih hidup, seperti di dunia ini, dari mana dia mendapat makanan yang amat diperlukan bagi tubuh jasmani haiwani itu ? Sebagaimana yang telah menjadi Sunnatullah atas makhlukNya ? ”

Sayid Rasyid Ridha, sesudah menguraikan pendapat- pendapat ahli tafsir tentang ayat yang ditanyakan ini, mengambil kesimpulan: “Jumlah kata, tidaklah ada nash yang sharih (tegas) di dalam al-Qur’an bahwa Nabi Isa telah diangkat dengan tubuh dan nyawa ke langit dan hidup di sana seperti di dunia ini, sehingga perlu menurut sunnatullah tentang makan dan minum, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang makan beliau sehari-hari.

Dan tidak pula ada nash yang sharih menyatakan beliau akan turun dari langit. Itu hanyalah akidah dari kebanyakan orang Nasrani, sedang mereka itu telah berusaha sejak lahirnya Islam menyebarkan kepercayaan ini dalam kalangan kaum Muslimin.”
Lalu beliau teruskan lagi: “Masalah ini adalah masalah khilafiyah sampaipun tentang masih diangkat ke langit dengan roh dan badannya itu.”

D. Syaikh Mustafa al-Maraghi

Beliau adalah Syaikh Jami al-Azhar yang terkenal sebelum Perang Dunia ke-2, menjawab pertanyaan orang tentang ayat ini: “Tidak ada dalam al-Qur’an suatu nash yang sharih dan putus tentang Isa as. diangkat ke langit dengan tubuh dan nyawanya itu, dan bahwa dia sampai sekarang masih hidup, dengan tubuh nyawanya.

Adapun sabda Tuhan mengatakan: “Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepadaKu dan membersihkan engkau daripada orang-orang yang kafir itu!” Jelaslah bahwa Allah mewafatkannya dan mematikannya dan mengangkatnya, zahirlah (nyata) dengan diangkatnya sesudah wafat itu, yaitu diangkat derajatnya di sisi Allah, sebagaimana Idris as. dikatakan Tuhan: “dan Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi.” Dan inipun jelas pula, yang jadi pendapat setengah ulama-ulama Muslimin, bahwa beliau diwafatkan Allah, wafat yang biasa, kemudian diangkatkan derajatnya. Maka diapun hiduplah dalam kehidupan rohani, sebagaimana hidupnya orang-orang yang mati syahid dan kehidupan Nabi-nabi yang lain juga.

Tetapi jumhur Ulama menafsirkan bahwa beliau diangkat Allah dengan tubuh dan nyawanya, sehingga dia sekarang ini hidup dengan tubuh dan nyawa, karena berpegang kepada hadits yang memperkatakan ini, lalu mereka tafsirkan al-Qur’an disejalankan dengan maksud hadits-hadits itu.

Lalu kata beliau: “Tetapi hadits-hadits ini tidaklah sampai kepada derajat hadits-hadits yang mutawatir, yang wajib diterima sebagai akidah. Sebab akidah tidaklah wajib melainkan dengan nash al-Qur’an dan hadits-hadits yang mutawatir. Oleh karena itu maka tidaklah wajib seorang Muslim beri’tikad bahwa Isa Almasih hidup sekarang dengan tubuh dan nyawanya, dan orang yang menjalani akidah itu tidaklah kafir dari Syariat Islam.”

Sumber :
Tafsir Al Azhar Qs Ali Imron ayat 52-58

Artikel Terkait
01. Komunitas Muslim, dari Bani Israil
02. Pengembaraan Yesus (Nabi Isa), dalam berbagai Versi
03. Misteri Silsilah Yesus (Nabi Isa)

Misteri Silsilah Yesus (Nabi Isa)

Banyak yang salah memahami, silsilah Yesus (Nabi Isa) di dalam Bible

Silsilah yang terdapat di dalam Matius 1:1-16 dan Lukas 3:23-38, lebih tepat disebut silsilahnya Yusuf bin Yakub (Matius 1:16) atau Yusuf bin Eli (Lukas 3:23)

Dan Yusuf sendiri, bukanlah bapak biologis dari Yesus (Nabi Isa), ia hanyalah bapak menurut anggapan orang (Lukas 3:23).

Lalu… bagaimanakah nasab Yesus (Nabi Isa) yang sesungguhnya?

Isa putera Maryam

Di dalam Al Qur’an, Yesus (Nabi Isa) disebut sebagai ibnu Maryam (putera Maryam), sebagaimana Firman Allah di dalam QS.Maryam (19) ayat 34…

”Itulah Isa putera Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya”

Baik kalangan Islam maupun Kristen, berpendapat bahwa Maria (Maryam) adalah Keturunan Nabi Harun…

> Sumber Islam…

Menurut Ali bin Abi Thalhah dan As-Suddy bahwa Maryam termasuk anak keturunan Harun saudara Musa as. lalu dijadikan panggilan untuknya (يَا أُخْتَ هَارُونَ), sebagaimana orang-orang Arab sering memanggil untuk keturunan At-Tamimy: (يا أخا تميم) dan untuk orang-orang keturunan Arab (يا أخا العرب).

> Sumber Kristen…

Berdasarkan keterangan Bible, Maryam diceritakan sebagai kerabatnya Elisabet, isteri Nabi Zakaria…

Lukas 1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu

dan Elisabet sendiri di informasikan sebagai keturunan Nabi Harun

Lukas 1:5. Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.

Bersumber dari beberapa situs genealogy, di dapat silsilah Yesus (Nabi Isa) sebagai berikut…

Versi I :
Yesus (Nabi Isa) bin Maryam binti Imran
adalah keturunan John Hyrcanus I bin Simon Maccabaeus bin Mattathias bin (son of John) bin John bin Simeon bin Hasmonaeus bin (son of Onias II) bin Onias II bin Simon ‘the Just’ bin Onias I bin Juddual bin Johanan bin Joiadah bin Eliashib bin Joachim bin Joshuah bin Josedech bin Seraiah bin Azariah bin Hilkial bin Azariah bin Zadok (II) bin Meraioth bin Ahitub (II) bin Amariah bin Azariah bin Johanon bin Azariah bin Ahimaaz bin Zadok bin Ahitub bin Amariah bin Meraioth bin Zerahiah bin Uzzi bin Bukki bin Abishuah bin Phineas bin Eleazar bin Nabi Harun bin Imran bin Quhas bin Lewi bin Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim.

Isa bin Maryam binti Imran juga merupakan keturunan dari Nabi Daud, yakni melalui ibu Azariah (isteri Ahimaaz bin Zadok bin Ahitub), yang bernama Besonea binti Nabi Sulaiman bin Nabi Daud bin Jesse bin Obed bin Boaz bin Salmon bin Nahshon bin Aminadab bin Ram bin Hezron bin Perez bin Judah bin Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim.

# Silsilah Versi I (Nabi Isa berasal dari keturunan John Hyrcanus I), berasal dari jalur ibu, yaitu Maryam binti Anna (isteri dari Imran/Joachim) binti Joiadah (Jeshua II) bin Hezekiah bin John Hyrcanus I.

Versi II :
Yesus (Nabi Isa) bin Maryam binti Anna binti Joiadah (Jeshua II) bin Hezekiah bin John Hyrcanus I bin Simon Maccabaeus bin Mattathias of Modin, dari  keluarga Hasmonaeus.

# Keluarga Hasmonaeus berasal dari keturunan Idaiah bin Joarib bin Jachin bin Sarias (Seraiah) bin Azariah bin Hilkial bin Azariah bin Zadok (II) bin Meraioth bin Ahitub (II) bin Amariah bin Azariah bin Johanon bin Azariah bin Ahimaaz bin Zadok bin Ahitub bin Amariah bin Meraioth bin Zerahiah bin Uzzi bin Bukki bin Abishuah bin Phineas bin Eleazar bin Nabi Harun bin Imran bin Quhas bin Lewi bin Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim. 

Versi III :
Yesus (Nabi Isa) bin Maryam binti Anna binti Jeshua III bin Phabet bin Boethus bin Ananias bin Onias V bin Onias III bin Simon II bin Onias II bin Simon ‘the Just’ bin Onias I bin Juddual bin Johanan bin Joiadah bin Eliashib bin Joachim bin Joshuah bin Josedech bin Seraiah bin Azariah bin Hilkial bin Azariah bin Zadok (II) bin Meraioth bin Ahitub (II) bin Amariah bin Azariah bin Johanon bin Azariah bin Ahimaaz bin Zadok bin Ahitub bin Amariah bin Meraioth bin Zerahiah bin Uzzi bin Bukki bin Abishuah bin Phineas bin Eleazar bin Nabi Harun bin Imran bin Quhas bin Lewi bin Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim. 

Berdasarkan Silsilah Bahaullah, didapat informasi sebagai berikut Yesus (Nabi Isa) bin Maryam binti Imran (Joachim), keturunan dari Onias V bin Onias III bin Simon II bin Onias II bin Simon ‘the Just’ bin Onias I bin Juddual bin Johanan bin Joiadah bin Eliashib bin Joachim bin Joshuah bin Josedech bin Seraiah bin Azariah bin Hilkial bin Azariah bin Zadok (II) bin Meraioth bin Ahitub (II) bin Amariah bin Azariah bin Johanon bin Azariah bin Ahimaaz bin Zadok bin Ahitub bin Amariah bin Meraioth bin Zerahiah bin Uzzi bin Bukki bin Abishuah bin Phineas bin Eleazar bin Nabi Harun bin Imran bin Quhas bin Lewi bin Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim.

Versi IV :

This is Eesho Genealogy, from the Aaron’s Lineage :

01. Abraham (Prophet Ibrahim)
02. Isaac (Prophet Ishaq)
03. Jacob (Prophet Yakub)
04. Levi (Lewi) 

05. Kohath (Quhas)
06. Amram (Imran)
07. Aaron (Prophet Harun)

08. Eleazar
09. Phineas
10. Abishuah
11. Bukki
12. Uzzi
13. Zerahiah
14. Meraioth
15. Azariah
16. Amariah
17. Ahitub
18. Zadok

19. Ahimaaz
20. Azariah
21. Joram
22. Yeshua I
23. Axiomar
24. Phideas
25. Sudeas
26. Juelus
27. Jotham
28. Neriah

29. Odesa
30. Shallum II
31. Hilkiah
32. Azariah V
33. Seraiah
34. Jehozadak
35. Yehoshua (Jesus II)
36. Joachim
37. Eliaship
38. Joiadah
39. Johanan
40. Juddual
41. Onias I

42. Simon “The Just”
43. Onias II
44. Simon II
45. Onias III
46. Onias V 
47. Ananias
48. Boethus
49. Phabit (Phabet)
50. Joidiah (Yeshua III/Jesus III)
51. Anne (Hannah), m. Imran (Joachim), descent Onias V
52. Miriam (Maryam/Mary The Virgin)
53. Eesho (Prophet Isa/Yeshu/Jesus)

[lihat : Eesho (Prophet Isa/Yeshu/Jesus) Genealogy, from the Prophet Harun (Aaron’s Lineage)]

Sumber :
halexandria.org
Maria ‘Holy Mother’ (fabpedigree)
Idaiah ben JOARIB (fabpedree)
Mattathias (wikipedia)
Biblesearchers.com
The Genealogy of Bahaullah
The Saints Tree: The Saints High Priest of Galilee

Artikel Terkait
01. Komunitas Muslim, dari Bani Israil
02. Pengembaraan Yesus (Nabi Isa), dalam berbagai Versi
03. ISA lebih historis, daripada YESUS

Meninjau Kembali Masa Hidup Rasulullah

Dalam tulisannya seri ke-410, yang berjudul “Muhammad: Umur Nabi Muhammad SAW (570—632 M) Menurut Kalender Miladiyah?” di Harian Fajar, Ustadz H. Muh. Nur Abdurrahman, menulis:

Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW dilahirkan dalam tahun 570 M dan wafat dalam tahun 632 M. Berarti beliau berumur 632 – 570 = 62 tahun syamsiyah“.

Namun kalau angka 62 tahun dirujukkan pada sumber informasi yang otentik sebagai sumber sejarah, maka akan terdapat perbedaan. Berdasarkan sumber sejarah, menginformasikan : Dari ‘Aisyah RA, Nabi SAW wafat ketika beliau berumur 63 (Shahih Bukhari).

Kita telah pahami, bahwa.satu tahun Syamsiyah (peredaran matahari) terdiri atas 365,2422 hari, sedangkan satu tahun qamariyah (peredaran bulan) terdiri atas 354,5 hari.

Jadi 63 tahun qamariyah jika dikonversi menjadi tahun syamsiyah, akan kita peroleh = 63 x 354,5/365,2422 = 61 tahun syamsiyah. Dengan pernyataan ini, jelas bahwa apa yang tercantum dalam buku-buku sejarah itu tidak benar.

61 tidak sama dengan 62. Alhasil catatan sejarah, masa hidup Rasulullah SAW (570—632 M) perlu ditinjau kembali.


Kalau begitu, kapan Rasulullah SAW lahir?

Untuk merevisi (570—632 M) tidaklah sederhana. Apakah perbedaan 62 – 61 = 1 tahun itu dikoreksi pada angka kelahiran beliau (570 M), lalu menjadi (571—632 M)? Ataukah pada angka wafatnya beliau (632 M), lalu menjadi (570—631 M)? Pemilihan salah satu di antara kedua alternatif itu, adalah tindakan yang ceroboh, sebab tidak ada dasarnya.

Untuk itu, kita perlu mencari data baru yang bersumber dari informasi yang otentik. Dan sekali lagi kita mengambil rujukan dari Shahih Bukhari sebagai sumber informasi sejarah yang otentik. Dari Salman RA, katanya fitrah (zaman antar nabi) antara Nabi Isa AS dengan Nabi Muhammad SAW selama 600 tahun.

Untuk dapat meluruskan kebenaran kelahiran Nabi Muhammad SAW, kita mesti tahu kapan lahirnya Nabi Isa AS. Jadi pertanyaannya, kapan Nabi Isa AS dilahirkan?

Nabi Isa AS dilahirkan tatkala bangsa Yahudi dijajah oleh imperium Romawi di bawah Kaisar Agustus (63 SM—14 M), memerintah (30 SM—14 M). Kaisar ini, yang nama aslinya Gaius Octavius, yang dikenal sebelumnya dengan nama Octavianus. Kaisar inilah yang memerintahkan supaya penduduk dalam seluruh imperium Romawi disensus untuk keperluan pajak.

Di saat sensus yang baru pertama kali diadakan oleh imperium Romawi itu, yang menjadi Gubernur Siria adalah Cyrenius Cyrinus (4 – 1 SM). Maryam melahirkan Nabi Isa AS, disaat sensus diselenggarakan, dimana ketika itu, Herodes Agung menjadi Raja Judea (37—4 SM).

Artinya Nabi Isa AS dilahirkan dalam tahun 4 SM. Karena tahun 4 SM itu merupakan tahun persekutuan antara (4—1 SM) dengan (37—4 SM).

Interval waktu antara kelahiran Nabi Isa AS dengan Nabi Muhammad SAW adalah 600 x 354,5/365,2422 = 582 tahun syamsiyah. Alhasil Nabi Muhammad SAW dilahirkan dalam tahun -4 + 582 = 578 M. Dan beliau wafat dalam tahun 578 + 61 = 639 M.

Apabila Nabi Muhammad SAW, selama 10 tahun qamariyah di Madinah, berarti ketika hijrah umur beliau = 63 – 10 = 53 tahun qamariyah = 53 x 354,5/365,2422 = 51 tahun syamsiyah. Berarti tahun hijrah terjadi dalam tahun 578 + 51 = 629 M, bukan tahun 622 M, seperti selama ini kita ketahui.

Catatan Penambahan :

1. Fatrah (Fitrah/Zaman antar Nabi), mungkin lebih tepat dimaknai sebagai masa kevakuman (kekosongan) turunnya wahyu, yaitu “jarak antara kewafatan (kenaikan) Nabi Isa sampai dengan masa Nabi Muhammad menerima wahyu pertama”.

Melalui definisi ini, kita akan mendapati kelahiran Nabi Muhammad pada hari senin, tanggal 8 Rabi’ul Awal 52 Sebelum Hijriah, dan saat beliau menerima wahyu pertama pada hari senin, tanggal 21 Ramadhan 12 Sebelum Hijriah.

Dari data tersebut, kita bisa menyelusuri saat diwafatkannya Nabi Isa, yaitu tahun 28 Mesehi, dan saat Nabi Isa (Jesus) dilahirkan pada tahun 4 Sebelum Masehi.

Perincian Perhitungan :
Mukjizat Hadis “Fatrah (zaman antar nabi)”, menjawab dengan tepat masa kelahiran Nabi Isa (Jesus) ?

WaLlahu a’lamu bishshawab