Pembebasan Kota Konstantinopel, oleh “Sultan Muhammad al-Fatih”, susur galur keturunan Sayyidina Abu Bakr Ash Shiddiq?

Di dalam, Kitab Fie Zhilali Surati at-Taubah (Di Bawah Naungan Surat At-Taubah), Dr. Abdullah Yusuf Azzam menulis bahwa setelah berhasil membebaskan Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II), mengubah nama kota tersebut menjadi Islambul yang berarti Kota Islam.

Adapun nama “Istanbul” seperti kita kenal sekarang, sesungguhnya muncul dari perkataan orang Barat. Oleh karenanya, di dalam bukunya itu, Dr. Abdullah Azzam mengajak, untuk kembali menggunakan nama “Islambul”, bukan “Istanbul” (sumber : shoutussalam.org).

islambul1

Semenanjung Tanduk Emas (source)

Posisi Strategis Konstantinopel

Pembebasan Kota Konstantinopel (Islambul), tidak terlepas dari persaingan dalam memperebutkan pengaruh, antara dua kerajaan besar pada masa itu, yakni Byzantium dan Turki Usmani.

Saat peristiwa ini terjadi (tanggal 29 Mei 1453 M), Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II), baru berusia 21 tahun. Di usia yang masih sangat muda, Sultan Turki Usmani ini, secara gemilang berhasil memimpin sekitar 100.000 tentara.

Dan yang menarik, ketika memasuki kota, ia memerintahkan penduduk kota agar tetap tenang, dan beraktifitas seperti biasa.

Bahkan tidak ada pengrusakan bangunan sedikitpun, termasuk satu gereja bersejarah “Gereja Ayasofya” (sumber : kompasiana.com).

Pengambil alihan Kota Konstantinopel sesungguhnya lebih bemuatan ekonomis dan politis. Mengingat posisi strategis dari kota tersebut, yang dapat mempermudah jalur transportasi, bagi negara yang berhasil menguasainya.

Muhammad Al-Fatih Genealogy

Berdasarkan penyelurusan Genealogy (sumber : wikipedia), didapat informasi tarsilah dari Sultan Mehmed II, sebagai berikut :

01. Sultan Mehmed II – bin
02. Sultan Murad II – bin
03. Sultan Mehmed I – bin
04. Sultan Bayezid I – bin
05. Sultan Murad I – bin
06. Orhan Gazi – bin
07. Osman  Gazi (Pendiri Dinasti Usmani) – bin
08. Urtugrul Bey – bin
09. Kaya Alp Oglu (Sulaiman Syah)

Selain itu, melalui salah seorang neneknya (ibunda dari Sultan Mehmed I), yang bernama Devlet Khatun, silsilah Sultan Muhammad II al-Fatih, ternyata menyambung kepada sufi terkemuka, Syaikh Jalaluddin Rumi.

Dimana Devlet Khatun adalah puteri dari Mutahhare Abide Hatun binti Sultan Walad bin Syaikh Jalaluddin Rumi.

Jika terus diselusuri, susur galur Sultan Mehmed II, melalui Syaikh Jalaluddin Rumi, akan bersambung kepada Sayyidina Abu Bakr Ash Shiddiq (jalur ayah), dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib (jalur ibu) (sumber : republika.co.id).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Kakek Sultan Mahmed II, yaitu Sultan Mahmed I (Muhammad I) memiliki andil yang cukup besar bagi perkembangan dakwah Islam di Nusantara. Beliau termasuk salah seorang pelopor terbentuknya Walisongo, sebagaimana tercatat di dalam Kitab Kanzul ‘Hum (karangan Ibn Bathuthah, Sumber).

2. Salah satu cicit dari Sultan Mahmed II, dikenal sebagai Sultan Sulaiman  Al-Qanuni (King Suleiman). King Suleiman menjadi sangat populer, dikarenakan riwayat hidupnya dibuat menjadi serial TV.

Namun sayangnya, ketika diselaraskan dengan kisah sejarah, ternyata banyak terdapat kekeliruan (sumber : hidayatullah.com).

*) Sultan Sulaiman Al-Qanuni bin Sultan Selim I bin Sultan Bayezid II bin Sultan Mehmed II bin Sultan Murad II bin Sultan Mehmed I bin Sultan Bayezid I bin Sultan Murad I bin Orhan Gazi bin Osman Gazi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s