Perlawanan Sultan Ahmad Najamuddin “Prabu Anom”, menjelang berakhirnya Kesultanan Palembang Darussalam?

Pada permulaan abad ke-19, Belanda yang pada saat itu menjadi bagian dari Perancis, terlibat konflik dengan Inggris untuk memperebutkan monopoli perdagangan di Nusantara.

Perseteruan antara kedua negara ini merupakan rambatan dari Perang Napoleon yang terjadi di Eropa.  Dengan semakin meredupnya kekuasaan Pemimpin Perancis, Napoleon Bonaparte, membuat Inggris berupaya mengakhiri pengaruh Belanda di Nusantara.

voc1

Masa Kekuasaan Inggris di Palembang

Pada tanggal 24 April 1812, Inggris berhasil menguasai Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin “Pangeran Ratu” menyingkir ke pedalaman.

Berdasarkan Hirarki adik Sultan Mahmud Badaruddin “Pangeran Ratu”, yang bernama Husin Diauddin (Pangeran Adi Menggalo/Pangeran Adipati/Sultan Mudo), dinobatkan menjadi Penguasa Palembang, dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin “Pangeran Adi Menggalo”.

Namun saat Residen Inggris berganti dari Kapten Meares kepada Mayor Robinson, terjadi perubahan kebijakan. Pada tanggal 13 Juli 1813, Mayor Robinson mengangkat kembali Sultan Mahmud Badaruddin “Pangeran Ratu”, sebagai penguasa Palembang.

Tindakan Mayor Robinson ini, membuat Gubernur Jenderal Raffles geram. Ia mengirim sebuah komisi, yang dipimpin Kapten George Elliot dan memecat Mayor Robinson sebagai Residen Palembang.

Komisi ini juga mengembalikan Sultan Ahmad Najamuddin “Pangeran Adi Menggalo”, sebagai penguasa Palembang.

palembang3

Belanda dan Kesultanan Palembang

Setelah Belanda terbebas dari Perancis tahun 1814, Pada tahun 1817, Residen Palembang dipegang kembali oleh bangsa Belanda. Kapten Mutinghe kemudian mengangkat kembali Sultan Mahmud Badaruddin “Pangeran Ratu”.

Kelakuan Residen Palembang ini membuat berang Raffles, yang saat itu mendapat tugas baru sebagai Residen Bengkulu (setelah jabatannya sebagai Gubernur Jenderal, diambil alih oleh John Fendall).

Raffles mengirimkan pasukannya ke Palembang, akan tetapi pasukan ini diusir oleh tentara Belanda. Untuk menghindari dualisme kekuasaan di Palembang, Belanda mengasingkan Sultan Ahmad Najamuddin “Pangeran Adi Menggalo”, ke Betavia.

Hubungan baik antara Sultan Mahmud Badaruddin “Pangeran Ratu” dengan Belanda, ternyata tidak berlangsung lama. Kedua belah pihak, terlibat persengketaan, yang berakibat terjadi peperangan diantara mereka.

Ketika suasana Palembang sudah agak normal, diangkatlah putera Sultan menjadi penguasa Palembang, dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin “Pangeran Ratu”, sementara Mahmud Badaruddin menjadi Susuhunan.

palembang2

Perlawanan Sultan Palembang

Pada bulan Mei 1821, Belanda melancarkan serangan besar-besaran terhadap Palembang. Serangan ini berakibat terjadinya pertempuran yang dahsyat dan berlangsung cukup lama, yaitu antara tanggal 22 Mei 1821 sampai dengan 24 Juni 1821.

Disaat yang sangat mendesak, untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih banyak, putera Sultan Ahmad Najamuddin “Pangeran Adi Menggalo”, yang juga merupakan kemenakan Susuhunan Mahmud Badaruddin, diangkat menjadi Penguasa Palembang dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin “Prabu Anom”.

Naiknya Sultan Ahmad Najamuddin “Prabu Anom”, dianggap bisa menengahi pihak-pihak yang bersengketa ketika itu, dan yang lebih penting Hirarki Pemerintahan di Kesultanan Palembang Darussalam, masih terus berlangsung.

Legitimasi Sultan Ahmad Najamuddin “Prabu Anom” cukup kuat, semua kekuatan Kesultanan Palembang Darussalam hampir sepenuhnya berada di belakang beliau.

benteng1

Dengan kekuatan ini-lah, pada tanggal 21 November 1824, Sultan dibantu keluarga, alim-ulama dan rakyat, menyerbu garnisun Belanda di Kuto Besak. Selepas melakukan penyerangan, Sultan beserta pengikutnya hijrah ke pedalaman.

Perlawanan Sultan Palembang dari daerah pedalaman cukup membuat pusing Pemerintah Belanda. Namun ketidak-hadiran Sultan di ibukota kerajaan, ternyata dimanfaatkan untuk menghapus Kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam.

Untuk melemahkan pengaruh Sultan Ahmad Najamuddin “Prabu Anom”, di tengah-tengah masyarakat issue tentang Sultan yang telah berkhianat serta ditinggalkan oleh para pengikutnya, direkayasa sedemikian rupa.

Dengan semakin pupusnya pengaruh Sultan, pihak Belanda menjadi lebih leluasa untuk menanamkan pengaruhnya di Palembang.

Selain itu, untuk meredam gejolak perlawanan rakyat,  pihak Belanda mengangkat beberapa pejabat pemerintah, yang berasal dari kalangan tokoh masyarakat, yang mereka anggap bisa diajak bekerja-sama.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
1. Sejarah Perang Koalisi Napoleon (1792-1815)
2. Berakhirnya Kesultanan Palembang
3. Misteri Berakhirnya Kesultanan Palembang Darussalam ?
4. Masa Pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin
5. Sejarah dan Kesultanan Palembang
5. Kesultanan Palembang Darussalam
6. Belanda, Pengkhianatan dan Pahlawan
7. Pulau Bangka dan Kesultanan Palembang Darussalam
8. Sultan Mahmud Badaruddin II, Pahlawan Nasional dari Keluarga Al Alawiyin di Kesultanan Palembang Darussalam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s