Jejak Perlawanan Ulama Nusantara di Tahun 1650 M Terhadap Politik Monopoli Bangsa Belanda

Pada sekitar tahun 1647 penguasa Kerajaan Palembang Pangeran Mangkurat Seda ing Rajak memutuskan menolak melanjutkan kerjasama perdagangan lada dengan VOC yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda.

Penolakan penguasa Palembang ini menyebabkan pemerintah Belanda di Batavia yang pada masa itu menjalankan politik monopoli perdagangan mengalami kerugian yang besar.


Merenggangnya hubungan antara Palembang dan Batavia ini, diperkirakan menjadi salah satu sebab bergulirnya perlawanan bangsa-bangsa melayu terhadap dominasi perdagangan VOC.

Dalam upaya menyatukan kekuatan melawan kekuatan Belanda dan Inggris pada masa itu, para ulama nusantara berinisiatif melakukan musyawarah yang lokasinya tidak jauh dari ibukota negeri Palembang.

Dibawah koordinasi cucu Panembahan Ratu Cirebon yaitu Syech Nurqodim al-Baharudin (Puyang Awak), pada tahun 1650 M para ulama dari berbagai pelosok nusantara berkumpul di Perdipe Pagar Alam Sumatera Selatan.

Musyawarah Ulama tahun 1650 M ini, berdasarkan hasil penyelusuran ditemukan beberapa fakta sebagai berikut :

1. Pada tahun 1650 masehi atau 1072 hijriyah telah bertemu para ulama dari seluruh pelosok nusantara di Perdipe, Sumatera Selatan. Mereka berasal dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.

2. Hasil pertemuan ulama ini telah memunculkan perluasan dakwah Islam serta munculnya kader-kader pejuang dalam upaya mengadakan perlawanan terhadap monopoli kekuasaan bangsa Eropa.

3. Munculnya pusat-pusat pemerintahan kesultanan bernuansa Islam dan masing-masing saling bekerjasama secara baik. Sebagai salah satu contoh Kesultanan Palembang Darussalam berdiri pada tahun 1659.

Referensi: 
1. Mudzakarah Ulama abad ke-17
2. Sejarah Sumatera Selatan
3. Kisah Puyang Awak Semende
4. 
5. Hukum Kewarisan Islam dan Adat Semende
6. Meluruskan Silsilah Puyang Awak (Syech Nurqodim al-Baharudin) Trah Sunan Gunung Jati dan Pendiri Adat Semende Sumatera Selatan

WaLlahu a’lamu bishshawab

Beberapa Catatan: 

1. Dalam musyawarah ulama ini tercatat hadir antara lain 40 ulama dari Semenanjung yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib serta beberapa utusan dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumpun Melayu lainnya.

2. Para tokoh yang terlibat diantaranya: Syech Nurqodim al-Baharudin (Puyang Awak), Puyang Ratu Agung Umpu Eyang Dade Abang, Puyang Mas Penghulu Ulama Panglima Perang dari Gheci Mataram Jawa, Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Minang Kabau, Puyang Lurus Sambung Ati dari gunung Puyung Banten Selatan dan Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari negeri Cina.

3. Menjelang pertemuan ulama tahun 1650 M, di beberapa daerah Nusantara mengalami pergolakan.

Di Mataram selepas wafatnya Sultan Agung Mataram tahun 1645, pusat ibukota dipindahkan ke Plered oleh Amangkurat I di tahun 1647 (sumber: wikipedia.org).

Di Cirebon pada tahun 1649 Panembahan Ratu wafat dan digantikan oleh cucunya Pangeran Rasmi (sumber : wikipedia.org).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s