Misteri Penguasa Palembang (1407-1528), dari Era Laksamana Cheng Ho sampai Menjelang Kekuasaan Ki Gede ing Suro

Pada sekitar tahun 1407, po-lin-fong (Palembang) kedatangan armada Cheng Ho bersama bala tentaranya yang diperkirakan berjumlah 27.800 orang.

Tujuan pasukan perang Dinasti Ming ini adalah untuk menumpas kelompok penguasa perairan sungai Musi yang dipimpin oleh Chen Tsu Ji yang merupakan mantan petinggi angkatan laut Dinasti Yuan.
Keterangan:

1. Syahbandar Shi Jinqing

Selepas keberhasilan menumpas kelompok Chen Tsu Ji, Laksamana Cheng Ho, mengembangkan komunitas masyarakat Tionghoa Muslim di wilayah ini, serta menyerahkan pengawasan palembang kepada seorang syahbandar bernama Shi Jinqing.

Kelak salah seorang putri dari Shi Jinqing yang bernama Nyai Gedhe Pinatih (Pi Na Ti), dikenal sebagai penyebar Islam di tanah Jawa dan menjadi ibu asuh dari Raden Paku (Sunan Giri).

2. Pangeran Arya Damar (Adipati Ario Dillah)

Melemahnya pengawasan Dinasti Ming terhadap Palembang selepas wafatnya Kaisar Yongle tahun 1424, dimanfaatkan Majapahit untuk mengambil alih kontrol pelabuhan Kukang (Palembang).

Kesempatan itu muncul ketika palembang dan sekitarnya terjadi kekacauan diantara para penguasa lokal setempat. Salah seorang kerabat istana Majapahit bernama Pangeran Arya damar diutus ke Palembang untuk menjadi duta kerajaan.

Sang Pangeran dibantu tokoh penguasa wilayah Lebar Daun berhasil meredam konflik dan untuk memperkuat kedudukannya Pangeran Arya Damar menikah dengan salah seorang putri dari penguasa wilayah Lebar Daun tersebut.

Selain itu Sang Pangeran diketahui memeluk Islam berkat dakwah salah seorang tokoh penyebar Islam Sunan Ampel.

Pengaruh Pangeran Arya Damar semakin hari semakin kuat dan akhirnya para pemimpin lokal setempat sepakat mengangkatnya sebagai Adipati Palembang di tahun 1445 yang mendapat dukungan dari penguasa Majapahit Ratu Suhita.

Di masa awal Prabu Kertawijaya sekitar tahun 1447, Pangeran Arya Damar yang dikenal dengan nama Adipati Ario Dillah kedatangan pengungsi dari Majapahit yakni Nyai Ratna Subanci yang membawa seorang bayi bernama Raden Hasan.

Raden Hasan adalah cucu Prabu Kertawijaya dari putrinya yang telah memeluk Islam karena menikah dengan seorang muslim asal Champa yang menjadi pejabat di wilayah Kertabhumi.

Latar belakang pengungsian ini adalah demi kesalamatan sang bayi yang keduanya telah wafat. Dikemudian hari ibu pengasuh sang bayi yakni Nyai Ratna Subanci menikah dengan salah seorang kepercayaan Adipati Ario Dillah yang bernama Arya Palembang.

3. Arya Palembang (Adipati Arya Dillah II)

Sosok Arya Palembang ini sering kali juga dianggap sebagai Arya Dillah (II), yang menggantikan posisi Arya Dillah (I) setelah yang bersangkutan mengundurkan diri sebagai Adipati Palembang.

Adipati Arya Dillah (II) inilah yang sesungguhnya ayahanda dari Raden Kusen Adipati Terung dari pernikahannya dengan ibu asuh Raden Hasan (Sultan Demak Raden Fattah).

Selain menikah dengan Nyai Ratna Subanci (ibu asuh Raden Hasan), Arya Palembang dikemudian hari juga diangkat menantu oleh Adipati Aryo Dillah. Adapun istri Arya Palembang yang lain adalah Nyimas Sahilan binti Syarif Husein Hidayatullah (Menak Usang Sekampung).

Pada tahun 1392 Saka (1470 Masehi), Arya Palembang (Adipati Arya Dillah II) memimpin pasukan Palembang menyerang Semarang dan mengangkat salah seorang puteranya Raden Sahun menjadi Adipati Semarang dengan gelar Pangeran Pandanaran.

4. Syahbandar Pai Lian Bang 

Pengangkatan Syahbandar Pai Lian Bang bersifat sementara, karena pada saat Arya Palembang (Arya Dillah II) wafat belum ditemukan calon pengganti yang pantas.

Meskipun bersifat sementara dibawah Syahbandar Pai Lian Bang, Palembang banyak mengalami kemajuan.

5. Adipati Karang Widara

Pengangkatan Adipati Karang Widara berasal dari pemufakatan pemimpin-pemimpin lokal. Sang Pangeran diketahui masih memiliki kekerabatan dengan Penguasan wilayah Lebar Daun.

6. Pangeran Seda ing Lautan

Pangeran Seda ing Lautan merupakan seorang pengikut setia Raden Patah. Selain menjadi penguasa Palembang ia mendapat tugas mempersiapkan armada perang untuk menyerang Portugis di Malaka.

Pada penyerbuan yang pertama tahun 1512, Pangeran Seda ing Lautan wafat di medan peperangan.

7.
 Pangeran Surodirejo

Pangeran Suradirejo adalah juga ayah angkat dari Ki Gede ing Suro dan saudara-saudaranya selepas ayahanda mereka Pangeran Seda ing Lautan wafat.

Kelak dikemudian hari, Ki Gede ing Suro diangkat menjadi penguasa Palembang di tahun 1528 atas restu penguasa Kerajaan Demak Sultan Trenggono.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s