Mengungkap Misteri Keturunan Sultan Demak II Pangeran Sabrang Lor, Putra Sulung Raden Fattah

Di dalam bukunya “Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar”, sejarawan Agus Sunyoto menceritakan selepas wafatnya Raden Fattah (Sultan Abdurahman Surya Alam Senapati Jimbun Panembahan Palembang Sayidin Panatagama), pemerintahan Demak diserahkan kepada putra sulungnya.

Putra Raden Fattah tersebut bernama Pangeran Sabrang Lor (Raden Surya atau Raden Muhammad Yunus) namun belum tiga tahun memerintah, Sang Pangeran wafat. Hal ini membuat para adipati bermusyawarah dan akhirnya menunjuk Pangeran Hunus sebagai pengganti.
Pangeran Hunus sendiri merupakan menantu Raden Fattah, dan pilihan dari para Adipati ini ditolak oleh putra kedua dari Raden Fattah yang bernama Pangeran Trenggono.

Pada akhirnya dibuat kesepakatan, kekuasaan duniawi dipegang Pangeran Hunus sedangkan ruhani dipegang Pangeran Trenggono.

Dalam kitab-kitab sejarah disebutkan Pangeran Sabrang Lor tidak memiliki pengganti sehingga disimpulkan ia tidak memiliki anak. Namun anggapan tersebut terbantahkan, Pangeran Sabrang Lor bukan tidak memiliki anak melainkan anak-anaknya dianggap belum cukup dewasa.

Pada sebagian catatan dalam Sejarah Kerajaan Palembang, Pangeran Sabrang Lor disebutkan bernama Pangeran Sido ing Lautan. Dinamakan Sido ing Lautan dikarenakan dia wafat ketika melakukan pelayaran.

Dalam catatan Silsilah Palembang, Pangeran Sido ing Lautan menikah dengan putri Kiai Geding Maluku dan memiliki anak sebagai berikut:

1). Nyai Gedih Pinatih
2). Kiai Geding Suro Tuo
3). Sangaji Kidul
4). Nyai Gedih Karang Tengah
5). Kiai Arya Kebon Jadi
6). Nyai Gedih Ilir yang bersuami Kiai Geding Ilir (Ki Mas Ilir)

Setelah diselusuri nampaknya nama Kiai Geding Maluku ini terkait dengan salah seorang menantu Sunan Ampel yang bernama Kiai Usman. Kiai Usman menikah dengan Siti Syari’ah binti Sunan Ampel, dimana pasangan suami istri ini sempat tinggal di Kailolo Pulau Haruku Maluku Tengah.

Setelah suaminya wafat, Siti Syari’ah kembali pulang ke Jawa dan dikenal dengan nama Nyai Gede Moloko (Maluku).

Berdasarkan Sejarah Lasem, sekitar tahun 1475 Nyai Gede Moloko menikah dengan Pangeran Bodro Negoro. Dari pernikahan dengan Pangeran Bodro Negoro ini, Nyai Gede Maloko memiliki putri yang bernama Solikhah yang menikah dengan seorang calon penguasa Kerajaan Demak.

Banyak yang menduga calon penguasa Kerajaan Demak ini adalah Raden Fattah, namun hal ini keliru mengingat di masa peristiwa pernikahan itu (sekitar tahun 1495) Raden Fattah sudah menjadi Sultan Demak.

Alasan lainnya adalah Raden Fattah menikah dengan putri dari Sunan Ampel yang bernama Dewi Murtasimah. Dan dalam ajaran Islam terdapat larangan menghimpun menikahi seorang wanita dan keponakannya.

Nampaknya misteri ini sedikit terkuak, calon penguasa Kerajaan Demak ini tidak lain adalah Pangeran Sabrang Lor yang setelah wafat di kuburkan di Makam Raja-Raja Demak. Dalam Sejarah Palembang Pangeran Sabrang Lor (Pati Unus I) dikenal dengan nama Pangeran Sido ing Lautan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan: 

1. Keberadaan anak keturunan Pangeran Sabrang Lor tidak saja terdapat dalam sejarah palembang, namun juga terdapat dalam Sejarah Semarang. Masyarakat Semarang mengenal seorang tokoh yang dianggap putra Pangeran Sabrang Lor yakni bernama Pangeran Madiyo Pandan.

Pangeran Madiyo Pandan kemudian dikisahkan memiliki putra bernama Ki Ageng Pandanarang, yang dipercaya sebagai Pendiri Kota Semarang.

2. Perkiraan Kronologis Perjalanan Sejarah

1448, Raden Fattah Lahir
1466, Raden Fattah menjadi Pecat Tandha di Bintara
1470, Raden Fattah diangkat menjadi Adipati Demak
1474, Raden Fattah menikah dengan ibunda Pangeran Sabrang Lor
1475, Pangeran Sabrang Lor Lahir
1475,  Nyai Gede Moloko menikah dengan Pangeran Bodro Negoro
1477,  Nyai Solikhah Lahir
1478, Raden Fattah mendirikan Kesultanan Demak
1495,  Pangeran Sabrang Lor menikah dengan Nyai Solikhah
1518,  Raden Fattah Wafat digantikan Pangeran Sabrang Lor
1521,  Pangeran Sabrang Lor wafat
1521,  Ada 2 pemimpin Demak, Pangeran Hunus dan Trenggono
1521,  Penyerangan Demak ke Malaka dan Pangeran Hunus Wafat
1521,  Pangeran Trenggono Diangkat Menjadi Sultan Demak
1528,  Pangeran Trenggono mengangkat Ki Gede ing Suro Tuo putra dari Pangeran Sabrang Lor (Pangeran Sedo ing Lautan) menjadi penguasa Palembang mewakili Kesultanan Demak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s