Letusan Krakatau Kuno 535 M, Tanda Munculnya Pemimpin Baru di Dunia

Seorang arkeolog, David Keys dalam bukunya berjudul “Catastrophe: An Investigation into the Origins of the Modern World” (1999) menyimpulkan bahwa Letusan Krakatau kuno membawa implikasi terjadinya perubahan peradaban dunia secara global.

Berdasarkan penelitian geologi, letusan Krakatau itu terjadi pada tahun 535 M, berlangsung selama sepuluh hari, dengan letusan puncaknya selama 34 jam. Debu halus, pasir hingga krikil sebanyak 200 km3, dilontarkan ke stratosfer, menutupi cahaya matahari, sehingga hampir seluruh langit gulita.

Sebagaimana dilansir geologi.esdm.go.id, akibat letusan dahsyat itu, di khatulistiwa suhu turun 10o C dan karena begitu banyaknya material yang diledakkan, menyebabkan tubuh gunung menjadi ambruk, menghasilkan kaldera 40 km x 60 km serta membentuk Selat Sunda.

Peristiwa ini ini juga tercatat dalam chronicle seorang bishop Suriah, John dari Efesus. Di dalam chronicle tersebut dia menulis selama 18 bulan matahari hanya terlihat selama empat jam, itupun samar-samar.

Bencana tersebut telah mendatangkan wabah sampar yang mendunia, gagal panen, dan revolusi. Kekurangan pangan membuat “Kaum Barbar” bermigrasi dan menyerang kemana-mana.

Pada saat itu di Eropa terjadi transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Bizantium, kejayaan Persia Purba, dan South Arabian berakhir. Sementara di bagian dunia lainnya, disinyalir menjadi penyebab kehancuran peradaban Nazca dan berakhirnya kota besar Maya Tikal.

Sementara di Nusantara, dampak letusan Gunung Krakatau ini, diperkirakan beberapa kerajaan yang mengalami kehancuran. Pemerhati Sejarah memperkirakan bencana tersebut berakibat memudarnya Kerajaan Tarumanegara.

Seperti diketahui, di tahun yang sama terjadi peristiwa wafatnya Raja Tarumanegara, Candrawarman dan pada 536 M, Kerajaan Tarumanegara telah terpecah-pecah.

Sebagian kekuasaan politik telah dikembalikan kepada Raja-Raja Sunda, sementara Kerajaan Tarumanegara telah menjadi Kerajaan yang bersifat kedaerahan saja (sumber: 

Namun demikian, peristiwa letusan Gunung Krakatau Kuno telah menjadi tanda munculnya pemimpin baru. Di jazirah Arabia tidak lama berselang lahir Nabi Muhammad di tahun 571M, yang kelak membawa perubahan dan pencerahan bagi peradaban dunia.

Sedangkan di Nusantara, letusan Krakatau Kuno diperkirakan menjadi salah satu faktor yang mendorong Para Tetua Bangsa Melayu, untuk meyatukan diri dalam satu koalisi, dengan tujuan meminimalisir ancaman invasi dari bangsa asing.

Dikemudian hari koalisi bangsa-bangsa Melayu ini dikenal dengan nama Kedatuan Sriwijaya. Dan ketika Dapunta Hyang Jayanasa dipercaya sebagai pimpinan, Kedatuan Sriwijaya berhasil mengambil alih pengaruh Kerajaan Tarumanegara di kawasan Nusantara.

Catatan Penambahan: 

1. Ada sebagian ahli sejarah yang percaya peristiwa letusan dahsyat Krakatau Kuno terjadi pada tahun 416 M. Pendapat itu berdasarkan Katalog Tsunami yang ditulis oleh Soloviev dan Go pada tahun 1974 (sumber: Sejak Tahun 416 Terjadi 12 Kali Tsunami Selat Sunda).

Namun tidak menutup kemungkinan kedua pendapat tersebut semuanya benar, artinya Gunung Krakatau selain meletus pada tahun 416 M, juga mengalami aktivitas vulkanik di tahun 535 M.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s