Jadi Favorit Bantuan Bencana, Inilah Asal Mula Rendang

Dalam upaya meringankan korban Tsunami Selat Sunda, masyarakat Sumatera Barat akan mengirimkan makanan khas mereka Rendang. Rencannya pengiriman bakal dilakukan pada Sabtu, 29 Desember 2018.

Sebagaimana dilansir suara.com (27/12/2018), pengiriman bantuan melalui jalur darat dan diharapkan jumlah yang dikirim sebanyak 1,2 ton rendang dimana sudah realisasi hampir 400 kilogram.

Seperti diketahui, beberapa waktu yang lalu Sumbar juga mengirimkan bantuan rendang untuk korban gempa di Aceh dan NTB serta korban bencana di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (sumber: grid.id).

Asal Mula Rendang 

Rendang atau Randang adalah masakan daging bercita rasa pedas yang menggunakan campuran dari berbagai bumbu dan rempah-rempah.

Masakan ini dihasilkan dari proses memasak yang dipanaskan berulang-ulang dengan santan kelapa. Karena cara memasaknya diaduk terus-menerus, rendang identik dengan warna hitam dan tidak memiliki kuah.

Di daerah asalnya Sumatera Barat, khususnya suku Minangkabau, rendang disajikan di berbagai upacara adat dan perhelatan istimewa. Dan di masing-masing wilayah di Minangkabau memiliki teknik memasak serta pilihan dan penggunaan bumbu yang berbeda.

Bagi masyarakat Minang, rendang sudah ada sejak dahulu dan telah menjadi masakan tradisi.  Rendang diduga telah lahir sejak orang Minang menggelar acara adat pertamanya. Kemudian seni memasak ini berkembang ke kawasan serantau berbudaya Melayu lainnya (sumber: wikipedia.org).

Menurut sejarawan Universitas AndalasProf. Dr. Gusti Asnan memperkirakan rendang telah menjadi bekal bagi orang Minang sejak mereka mulai merantau dan berlayar ke Malaka untuk berdagang pada awal abad ke-16.

Dikarenakan perjalanan melewati sungai dan memakan waktu lama, rendang mungkin menjadi pilihan makanan yang tepat. Hal ini disebabkan rendang bersifat kering dan sangat awet serta tahan disimpan hingga berbulan lamanya.

Bahkan Rendang juga disebut dalam kesusastraan Melayu klasik seperti Hikayat Amir Hamzah yang diperkirakan pada masa tahun 1550-an atau di sekitar pertengahan abad ke-16.

Kutipan Sastra Melayu, Hikayat Amir Hamzah

10:4 … Buzurjumhur Hakim pun pergi pula ke kedai orang merendang daging kambing, lalu ia berkata: “Beri apalah daging kambing 

10:7 … kambing rendang ini barang segumpal.” Sahut orang merendang itu, “Berilah harganya dahulu.” Maka kata Khoja Buzurjumhur,

Keberadaan makanan khas Rendang juga tidak luput dari pengaruh beberapa negara, misalnya bumbu-bumbu dari India melalui para pedagang Gujarat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s