Sains Mengungkap Keajaiban Sarang dan Kemampuan Matematis Lebah

Salah satu hewan yang terdapat dalam Al-Quran adalah lebah. Lebah dikenal sebagai serangga yang sangat disiplin. Dalam melaksanakan tugas hidupnya pembagian peran antara lebah pekerja, lebah ratu dan lebah pejantan, semua berlangsung dengan teratur.

Sebagaimana dilansir islampos.com, lebah tidak akan menggangu kecuali ada yang mengganggunya. Sering kali lebah mengorbankan hidupnya hanya demi mempertahankan sarang dan koloninya, karena lebah akan mati begitu satu sengatannya bersarang di tubuh sang pengganggu.

sumber: liputan6.com

Lebah dan Operasi Matematika

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُون

“Dan Rabb-mu telah mewahyukan kepada lebah, “Buatlah rumah-rumah di bukit-bukit dan pada pohon-pohon dan pada tempat-tempat yang mereka (manusia) buat.” (QS. An-Nahl (16) ayat 68).

Ilmuwan Scarlett Howard Ph.D dari RMIT University Melbourne dalam penelitiannya telah mendapati bahwa seekor lebah mampu memahami operasi matematika.

Fakta ilmiah ini akan memperdalam pengetahuan kita mengenai hubungan antara ukuran otak dan kekuatan analitisnya. Seekor lebah ternyata telah mengetahui rahasia angka nol jauh sebelum peradaban manusia mengenalnya.

Selain itu lebah mampu memecahkan persoalan matematis yang membutuhkan tingkat kognisi yang kompleks dan melibatkan manajemen mental eksakta, aturan jangka panjang serta memori kerja jangka pendek.

Lebah juga mengenali warna sebagai representasi simbolik untuk operasi penambahan dan pengurangan dalam menyelesaikan persoalan aritmatika dan pembuatan sarangnya yang sarat dengan bentuk geometris.

Penemuan ini sekaligus menunjukkan bahwa kognisi numerik tingkat lanjut dapat ditemukan lebih luas di antara hewan non-primata ketimbang yang diduga sebelumnya, sehingga suatu pemahaman matematis tidak membutuhkan ukuran otak yang besar.

Sebenarnya banyak spesies binatang yang dapat memahami perbedaan jumlah sebagai cara untuk menentukan kadar makanan,membuat suatu keputusan atau menghadapi kondisi lingkungan namun kemampuan kognisi numerik seperti penjumlahan angka yang tepat dan operasi aritmatika, membutuhkan tingkat prosesi yang lebih canggih.

Pada penelitian sebelumnya menunjukkan beberapa primata, burung, bayi manusia dan laba-laba dapat memahami operasi dasar aritmatika namun ternyata kecerdasan lebah melampaui mereka semua.

Para pakar psikologi mengatakan kemampuan eksakta sangat penting bagi tumbuh kembangnya sebuah peradaban termasuk umat manusia sebagai bukti historis adanya implikasi luar biasa pasca pengenalan angka nol dalam peradaban kita.

Manusia butuh waktu berabad-abad lamanya untuk bisa sepenuhnya memahami konsep nol sejak 5000 tahun yang lalu di kawasan Bulan Sabit Subur dan baru menemukan simbolnya pada tahun 628 M oleh astronom India Brahmagupta.

Namun peradaban bangsa lebah telah belajar angka nol setidaknya sejak 80 juta tahun yang lalu dalam kehidupan sosialnya. Lebah harus mencari makan di lingkungan yang kompleks dengan mengembangkan solusi pemrosesan visual.

Dan mereka tahu persis bentuk geometris yang paling kokoh bagi penyimpanan sari makannya. Model heksagon pada stuktur satuan sarang lebah adalah bentuk paling efektif untuk menampung volume maksimum dengan bahan minimum.

Lebah telah memperhitungkan penggunaan lilin sebagai bahan dasar pembuatan sarangnya, viskositas dinamika bagi tekanan dan kekentalan madu yang akan menjadi muatan isinya.

Kehebatan lebah di dalam menentukan bentuk heksagon bagi struktur dasar sarangnya baru di sadari manusia sejak pakar geometri diskrit Thomas Callister Hales tahun 1999 berhasil membuktikan efektivitas pembagian luas suatu bidang yang sama dengan kelilingnya.

Meskipun lebah hanya seekor serangga dengan ukuran otak sebiji wijen namun memiliki kemampuan operasional matematis lebih cepat ketimbang kemampuan kita tanpa menggunakan kertas dan ballpoint sebagai coretan.

Bahkan mereka mampu memecahkan problem maksima-minima tanpa memakai operasi aljabar yang di ajarkan Fermat atau teknik derivasi yang di gagas Leibnitz.

Kemampuan matematis yang di miliki oleh bangsa lebah itu bukan hasil dari bangku sekolah selama bertahun-tahun, namun evolusi naluri alam melalui ilham yang diturunkan langsung dari Akal Kosmik (sumber: Zahir Mahzar).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s