Negeri Palembang Menurut Ridwan Saidi

Dalam beberapa hari ini, di kalangan masyarakat Indonesia terjadi kehebohan, hal ini dipicu pendapat Budayawan sekaligus Sejarawan Ridwan Saidi yang menyatakan Kerajaan Sriwijaya adalah Fiktif.

Dari kalangan akademisi serta merta menolak pendapat ini, bahkan ada sebagian dari kelompok masyarakat yang menuntut Ridwan Saidi meminta maaf dan menarik kembali pendapatnya tersebut.

Apabila kita mendalami pendapat Ridwan Saidi sebagaimana yang ia utarakan dalam wawancara dengan Vasco Ruseimy di channel youtube Macan Idealis, sebetulnya Sang Sejarawan tidak menolak adanya peradaban yang tinggi di sepanjang sungai musi pada masa lalu.

Ridwan Saidi, menyakini Wilayah Palembang yang dipercaya sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya sudah sejak abad ke-8 Masehi telah berdiri Kerajaan Melayu Islam dan bukan Kedatuan Sriwijaya yang bercirikan penganut Buddha Mahayana seperti anggapan sebagian besar praktisi sejarah.

Pendapat Ridwan Saidi ini sebetulnya bukan hal baru, karena sebelumnya seorang sejarawan bernama Herman Sinung Janutama (HSJ) berpendapat sama. HSJ dalam tulisannya berjudul “Kesultanan Majapahit” menyatakan di tahun 730 Masehi, seluruh Swarnabhumi (Sumatera) telah menjadi daulat-daulat Islam.


Palembang Sebagai Pusat Ajaran Saba

Menurut Ridwan Saidi, sebelum kedatangan Islam, Palembang telah menjadi pusat ajaran Saba yang ditandai dengan nama daerah bernama Sabokingking. Penemuan-penemuan prasasti seperti Kedukan Bukit, menurutnya terkait dengan theologis dari Ajaran Saba.

Keyakinan Saba sendiri bermula dari ajaran Nabi Musa yang menyebar di Asia Barat, Asia Tengah dan Afrika. Ridwan Saidi memperkirakan ajaran Saba ini masuk ke Sumatera pada sekitar abad ke-2 masehi, dibawa oleh seorang tokoh yang dikenal sebagai Queen of Saba (Ratu Saba).

Legenda Ratu Saba ini, cukup dikenal dalam budaya masyarakat Bugis sebagimana tertulis dalam  kitab “Tuhfat an Nafis“ karya Raja Ali Haji, ia menyatakan Leluhur Suku Bugis bermula dari seorang Ratu di daerah Luwuk yang bernama Ratu Siti Malangkai.

Ratu Siti Malangkai dipercaya merupakan keturunan dari Nabi Sulaiman yang hidup pada sekitar tahun 970-930 sebelum masehi, melalui isterinya yang bernama Ratu Balqis.

Pendapat ini juga terkait dengan penelitian Fahmi Basya tentang istana Ratu Saba di Nusantara, namun Fahmi Basya mengidentifikasi Ratu Seba sebagai Ratu Balqis yang hidup di era Nabi Sulaiman.

Ajaran Saba di Sumatera berkembang pesat, terutama setelah abad ke-5 Masehi yang dibawa oleh bangsa-bangsa yang berasal dari Asia Tengah seperti Samarkand dan Armenia.

Wilayah Palembang di Masa Lalu

Salah satu argument yang dikemukan Ridwan Saidi menolak keberadaan Sriwijaya dikarenakan dirinya tidak menemukan jejak ajaran Buddha di Palembang. Meskipun demikian, bukan berarti hipotesanya tentang Palembang pasti benar, karena secara arkeologis temuan peninggalan Islam seperti Masjid juga belum ada yang berasal dari abad ke-8 Masehi.

Mengapa kalangan arkeolog sulit menemukan peninggalan peradaban masa lalu di Kota Palembang?

Apabila kita membuka kembali lembaran Sejarah, Kota Palembang yang ada pada saat ini mulai berkembang di masa Sultan Abdurrahman (1659-1706). Sebelumnya Kota Palembang berada di sekitar 1 ilir yang sekarang menjadi komplek PUSRI.

Sebelum berada di wilayah 1 ilir, wilayah Palembang mencakup daerah yang sangat luas, yakni bermula dari Bukit Siguntang (Muara Ogan) sampai terus ke arah Sungsang (Selat Bangka), sebagaimana pendapat sejarawan RA Kadir, wilayah Negeri Lebar Daun (Palembang) dari Ulak Tasik (Muara Ogan) hingga Selajaran (Upang, dekat Selat Bangka).

Dengan wilayah yang begitu luas, membuat peninggalan arkeolog tersebar di banyak tempat hingga ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Hal inilah yang membuat peninggalan peradaban masa lalu sulit untuk ditemukan, ditambah lagi situs-situs ini sudah banyak yang hancur akibat usia, bencana dan peperangan.

Islam Masuk Palembang

Secara kultural makna Palembang mencakup wilayah Sumatera bagian Selatan dan Palembang menjadi sangat kuat salah satu berkat adanya Tambang Emas yang berada di daerah Lebong Bengkulu.

Mudahnya Islam berkembang di Palembang, jika berdasarkan analisa Ridwan Saidi dikarenakan kedekatan secara ideologis dengan keyakinan masyarakat sebelumnya yang dikenal sebagai ajaran Saba.

Keberadaan Dakwah Islam di Palembang disinyalir sudah ada di saat Rasulullah masa hidup. Habib Bahruddin dalam bukunya Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara) menulis Palembang telah kedatangan salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Akasyah bin Muhsin untuk menyebarkan ajaran Islam.

Surat menyurat antara Penguasa Sumatera dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah, semakin menunjukkan geliat perkembangan Islam di Sumatera masa abad ke-7 dan 8 Masehi.

Demikian halnya legenda lokal tentang tokoh ulama seperti Nuruddin Aryapasatan Diwe Semidang Tuwe (Jagad Basemah) atau Puyang Wali Putih (Sungai Ogan), yang diperkirakan hidup sekitar abad ke-8 sampai ke-11 Masehi, semakin menunjukkan daerah Palembang dan umumnya wilayah Sumatera bagian Selatan telah banyak menganut Islam jauh sebelum era wali songo abad ke-15 dan 16 Masehi.

WaLlahu a’lamu bishshawab

One response to “Negeri Palembang Menurut Ridwan Saidi

  1. Setuju, tapi perlu penelitian lagi secara konfrehensif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s