Category Archives: history

Silsilah Keluarga Bacharuddin Jusuf Habibie

Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, merupakan Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Sebelumnya, B.J. Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-7, menggantikan Try Sutrisno.

B. J. Habibie menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. B.J. Habibie kemudian digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 oleh MPR hasil Pemilu 1999.

B.J. Habibie dilahirkan di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 dan meninggal di Jakarta, 11 September 2019 pada umur 83 tahun.

Leluhur keluarga Habibie, dapat dirunut dari seorang tokoh bernama Lamakasa. Lamakasa adalah seorang perantau asal Sulawesi Selatan yang berhasil membantu Raja Gorontalo mengusir kawanan bajak laut.

Di kemudian hari Lamakasa menikah dengan gadis asal Gorontalo yang bernama Hawaria dan memiliki putera yang bernama Habibie Lamakasa. Habibie Lamakasa inilah yang merupakan kakek buyut B.J. Habibie dari sebelah keluarga ayah.

Sementara leluhur B.J. Habibie dari sebelah ibunya, bisa dirunut sampai kepada Sri Sultan Hamengkubowono II. Sultan memiliki cicit bernama Raden Notojudo yang merupakan ayah dari Raden Ayu Suratinah.

Raden Ayu Suratinah kemudian menikah dengan dr. Raden Tjitrowardojo yang dikenal sebagai salah satu dokter pertama di tanah Jawa. Raden Tjitrowardojo inilah yang merupakan kakek buyut B.J. Habibie dari sebelah keluarga ibu.

— dari berbagai sumber

Iklan

Negeri Palembang Menurut Ridwan Saidi

Dalam beberapa hari ini, di kalangan masyarakat Indonesia terjadi kehebohan, hal ini dipicu pendapat Budayawan sekaligus Sejarawan Ridwan Saidi yang menyatakan Kerajaan Sriwijaya adalah Fiktif.

Dari kalangan akademisi serta merta menolak pendapat ini, bahkan ada sebagian dari kelompok masyarakat yang menuntut Ridwan Saidi meminta maaf dan menarik kembali pendapatnya tersebut.

Apabila kita mendalami pendapat Ridwan Saidi sebagaimana yang ia utarakan dalam wawancara dengan Vasco Ruseimy di channel youtube Macan Idealis, sebetulnya Sang Sejarawan tidak menolak adanya peradaban yang tinggi di sepanjang sungai musi pada masa lalu.

Ridwan Saidi, menyakini Wilayah Palembang yang dipercaya sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya sudah sejak abad ke-8 Masehi telah berdiri Kerajaan Melayu Islam dan bukan Kedatuan Sriwijaya yang bercirikan penganut Buddha Mahayana seperti anggapan sebagian besar praktisi sejarah.

Pendapat Ridwan Saidi ini sebetulnya bukan hal baru, karena sebelumnya seorang sejarawan bernama Herman Sinung Janutama (HSJ) berpendapat sama. HSJ dalam tulisannya berjudul “Kesultanan Majapahit” menyatakan di tahun 730 Masehi, seluruh Swarnabhumi (Sumatera) telah menjadi daulat-daulat Islam.


Palembang Sebagai Pusat Ajaran Saba

Menurut Ridwan Saidi, sebelum kedatangan Islam, Palembang telah menjadi pusat ajaran Saba yang ditandai dengan nama daerah bernama Sabokingking. Penemuan-penemuan prasasti seperti Kedukan Bukit, menurutnya terkait dengan theologis dari Ajaran Saba.

Keyakinan Saba sendiri bermula dari ajaran Nabi Musa yang menyebar di Asia Barat, Asia Tengah dan Afrika. Ridwan Saidi memperkirakan ajaran Saba ini masuk ke Sumatera pada sekitar abad ke-2 masehi, dibawa oleh seorang tokoh yang dikenal sebagai Queen of Saba (Ratu Saba).

Legenda Ratu Saba ini, cukup dikenal dalam budaya masyarakat Bugis sebagimana tertulis dalam  kitab “Tuhfat an Nafis“ karya Raja Ali Haji, ia menyatakan Leluhur Suku Bugis bermula dari seorang Ratu di daerah Luwuk yang bernama Ratu Siti Malangkai.

Ratu Siti Malangkai dipercaya merupakan keturunan dari Nabi Sulaiman yang hidup pada sekitar tahun 970-930 sebelum masehi, melalui isterinya yang bernama Ratu Balqis.

Pendapat ini juga terkait dengan penelitian Fahmi Basya tentang istana Ratu Saba di Nusantara, namun Fahmi Basya mengidentifikasi Ratu Seba sebagai Ratu Balqis yang hidup di era Nabi Sulaiman.

Ajaran Saba di Sumatera berkembang pesat, terutama setelah abad ke-5 Masehi yang dibawa oleh bangsa-bangsa yang berasal dari Asia Tengah seperti Samarkand dan Armenia.

Wilayah Palembang di Masa Lalu

Salah satu argument yang dikemukan Ridwan Saidi menolak keberadaan Sriwijaya dikarenakan dirinya tidak menemukan jejak ajaran Buddha di Palembang. Meskipun demikian, bukan berarti hipotesanya tentang Palembang pasti benar, karena secara arkeologis temuan peninggalan Islam seperti Masjid juga belum ada yang berasal dari abad ke-8 Masehi.

Mengapa kalangan arkeolog sulit menemukan peninggalan peradaban masa lalu di Kota Palembang?

Apabila kita membuka kembali lembaran Sejarah, Kota Palembang yang ada pada saat ini mulai berkembang di masa Sultan Abdurrahman (1659-1706). Sebelumnya Kota Palembang berada di sekitar 1 ilir yang sekarang menjadi komplek PUSRI.

Sebelum berada di wilayah 1 ilir, wilayah Palembang mencakup daerah yang sangat luas, yakni bermula dari Bukit Siguntang (Muara Ogan) sampai terus ke arah Sungsang (Selat Bangka), sebagaimana pendapat sejarawan RA Kadir, wilayah Negeri Lebar Daun (Palembang) dari Ulak Tasik (Muara Ogan) hingga Selajaran (Upang, dekat Selat Bangka).

Dengan wilayah yang begitu luas, membuat peninggalan arkeolog tersebar di banyak tempat hingga ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Hal inilah yang membuat peninggalan peradaban masa lalu sulit untuk ditemukan, ditambah lagi situs-situs ini sudah banyak yang hancur akibat usia, bencana dan peperangan.

Islam Masuk Palembang

Secara kultural makna Palembang mencakup wilayah Sumatera bagian Selatan dan Palembang menjadi sangat kuat salah satu berkat adanya Tambang Emas yang berada di daerah Lebong Bengkulu.

Mudahnya Islam berkembang di Palembang, jika berdasarkan analisa Ridwan Saidi dikarenakan kedekatan secara ideologis dengan keyakinan masyarakat sebelumnya yang dikenal sebagai ajaran Saba.

Keberadaan Dakwah Islam di Palembang disinyalir sudah ada di saat Rasulullah masa hidup. Habib Bahruddin dalam bukunya Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara) menulis Palembang telah kedatangan salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Akasyah bin Muhsin untuk menyebarkan ajaran Islam.

Surat menyurat antara Penguasa Sumatera dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah, semakin menunjukkan geliat perkembangan Islam di Sumatera masa abad ke-7 dan 8 Masehi.

Demikian halnya legenda lokal tentang tokoh ulama seperti Nuruddin Aryapasatan Diwe Semidang Tuwe (Jagad Basemah) atau Puyang Wali Putih (Sungai Ogan), yang diperkirakan hidup sekitar abad ke-8 sampai ke-11 Masehi, semakin menunjukkan daerah Palembang dan umumnya wilayah Sumatera bagian Selatan telah banyak menganut Islam jauh sebelum era wali songo abad ke-15 dan 16 Masehi.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Ketika Nabi Muhammad Puasa Rajab dalam Pandangan Tafsir Imam Nawawi

Seperti yang dibahas dalam artikel sebelumnya, setidaknya ditemukan 20 hadits terkait bulan Rajab yang bersumber dari hadist-hadist lemah (dha’if) dan bahkan tidak sedikit yang palsu (maudhu’), munkar serta bathil.

Sehingga memunculkan pertanyaan, bagaimana sebenarnya hukum puasa di bulan Rajab ini? Adakah tuntutannya? Apakah memang benar-benar tidak ada riwayat shahih yang khusus meriwayatkan Nabi pernah melaksanakan puasa pada bulan rajab?

Sebagaimana dilansir pwmu.co, ada tertulis di dalam hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut.

عَنْ عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ

Utsman bin Hakim al-Anshari meriwayatkan, katanya: Aku pernah bertanya kepada Said bin Jubair seputar puasa Rajab, yang waktu itu kami sedang berada di bulan Rajab, maka jawabnya: Aku pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan: Rasulullah saw pernah berpuasa (Rajab) hingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah berbuka, tetapi beliaupun berbuka hingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah berpuasa. (HR Muslim).

Namun, Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan tentang hadits ini sebagai berikut:

الظَّاهِر أَنَّ مُرَادَ سَعِيد بْن جُبَيْر بِهَذَا اْلإِسْتِدْلاَلِ أَنَّهُ لاَ نَهْيَ عَنْهُ، وَلاَ نَدْبَ فِيهِ لِعَيْنِهِ، بَلْ لَهُ حُكْمٌ بَاقِي الشُّهُورِ، وَلَمْ يَثْبُتْ فِي صَوْمِ رَجَبٍ نَهْيٌ وَلاَ نَدْبٌ لِعَيْنِهِ، وَلَكِنَّ أَصْلَ الصَّوْمِ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ، وَفِي سُنَن أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَدَبَ إِلَى الصَّوْمِ مِنْ اْلأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَرَجَبٌ أَحَدُهَا

Zhahirnya apa yang dimaksud oleh Said bin Jubair terhadap riwayat yang dikatakan oleh Ibnu Abbas tersebut, bahwa berpuasa di bulan Rajab itu tidak ada larangan, juga tidak ada sunat khusus. Namun puasa itu sendiri (selain Ramadhan) adalah sunat.

Sementara dalam Sunan Abu Daud dikatakan : “Bahwa Rasulullah saw menyunatkan berpuasa di bulan- bulan haram, sedang Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan haram itu.” Yakni, di bulan- bulan haram, antara lain Rajab, disunatkan berpuasa, tetapi tidak ada puasa khusus selain puasa Arafah ( 9 Dzilhijjah) dan ‘asyura (10 Muharram).

Karena itu Ibnul Qayim kemudian mengatakan:

وَلَمْ يَصُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الثَّلاَثَةَ اْلأَشْهُرَ سِرْدًا كَمَا يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَلاَ صَامَ رَجَبًا قَطٌّ وَلاَ اسْتَحَبَّ صِيَامَهُ بَلْ رَوَى عَنْهُ النَّهْيُ عَنْ صِيَامِهِ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَّةِ

Nabi Muhammad tidak pernah puasa tiga bulan berturut-turut seperti yang biasa dilakukan oleh sebagian orang, juga tidak pernah berpuasa Rajab (secara khusus), juga tidak pernah menganjurkannya. Bahkan diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Rasulullah melarangnya.

Dalam kitab al-Ba’its dikatakan:

إِنَّ الصِّدِّيْقَ أَنْكَرَ عَلَى أَهْلِهِ صِيَامِهِ، وَ أَنَّ عُمَرَ كَانَ يَضْرِبُ بِالدَّرَّةِ صَوَامِهِ وَيَقُوْلُ: إِنَّمَا هُوَ شَهْرٌ كَانَتْ تَعَظَّمَهُ الْجَاهِلِيَّةُ

Abu Bakar as-Siddiq menghardik keluarganya yang berpuasa Rajab. Sedang Umar pernah memukul orang yang sedang berpuasa Rajab dengan tongkat seraya berucap: Bulan Rajab hanyalah bulan yang biasa diagung-agungkan oleh masyarakat Jahiliyah.

Artinya, riwayat yang membicarakan puasa Rajab hanyalah hadits yang sifatnya umum yang memotivasi untuk melakukan puasa tiga setiap bulannya (ayyamul bidh) yaitu 13, 14, 15 dari bulan hijriyah.

Juga dalil yang ada sifatnya umum yang berisi motivasi untuk melakukan puasa pada bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Begitu pula ada anjuran puasa pada hari Senin dan Kamis. Puasa Rajab masuk dalam keumuman anjuran puasa tadi.

Kesimpulan:

Puasa Rajab secara khusus tidak ada, apalagi sampai ditentukan mulai tanggal 1 sampai 27. Sementara puasa Sunat, seperti Senin-Kamis, Daud atau ayyamul baidh di bulan Rajab itu baik-baik saja, berdasar anjuran Nabi untuk berpuasa di bulan-bulan haram.

Jika ingin puasa Rajab, maka pilihlah hari-hari yang disunnahkan: bisa ayyamul bidh, atau Senin-Kamis. Adapun pengkhususan bulan Rajab dengan puasa pada hari tertentu, tidak ada dalil yang mensyariahkannya.

Wallahu a’lam

Identifikasi 3 Sosok Patih Gajah Mada Menurut Hikayat dan Naskah Kuno

Patih Gajah Mada merupakan tokoh yang sangat populer di Nusantara. Kecerdasannya dalam memimpin pasukan, membuatnya dikenang sebagai salah seorang panglima perang yang disegani.

Namun asal muasal Patih Gajah Mada masih menjadi polemik hingga saat ini. Kisahnya dalam Kitab Negara Kertagama ternyata berbeda dengan hikayat yang terdapat di dalam Sejarah Melayu dan Babad Tanah Jawi.

Petilasan Patih Gajah Mada di Prabumulih Sumatera Selatan

Dalam upaya mengidentifikasi Patih Gajah Mada, setidaknya dikemukan 3 sosok yang setelah diselusuri memiliki masa kehidupan yang berbeda-beda. Adapun ke-3 sosok itu adalah sebagai berikut:

1. Patih Gajah Mada I

Keberadaan Patih Gajah Mada I bersumber dari Kitab Negara Kertagama. Di dalam kitab tersebut, Sang Patih dikisahkan bersumpah yang dikemudian hari dikenal dengan nama “Sumpah Palapa”.

Patih Gajah Mada I ini hidup masa Kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389), dan berdasarkan beberapa hikayat terlibat langsung dengan peristiwa Perang Bubat.

Diperkirakan Patih Gajah Mada I inilah bersama dengan Panglima Arya Damar yang berhasil menguasai Bali. Dan banyak yang percaya Sang Patih “Moksa” di akhir kehidupannya.

2. Patih Gajah Mada II

Keberadaan Patih Gajah Mada II bersumber dari “Sejarah Melayu”. Dalam kitab yang berasal dari tulisan Tun Sri Lanang ini, Patih Gajah Mada II hidup di masa Majapahit dipimpin oleh seorang Ratu yang bernama Radin Galuh Wi Kesuma dan satu generasi dengan masa kehidupan Hang Tuah.

Apabila kita urutkan berdasarkan timeline, Sang Ratu Majapahit itu kemungkinan besar adalah Ratu Suhita (1427-1447), yang satu masa dengan pemerintahan Sultan Muzaffar Syah (1445-1459) dan dilanjutkan Sultan Mansyur Syah (1459-1477) dari Kerajaan Malaka.

Diperkirakan Patih Gajah Mada II inilah yang hijrah ke pulau Sumatera setelah lengser dari jabatannya. Hal itu dibuktikan dengan petilasan dan makamnya yang ditemukan di wilayah tersebut.

3. Patih Gajah Mada III

Keberadaan Patih Gajah Mada III bersumber dari Babad Tanah Jawi. Dalam kitab tersebut diceritakan Patih Gajah Mada III pergi ke negeri Champa untuk melamar putri Raja negara tersebut.

Patih Gajah Mada III ini hidup satu generasi dengan Syekh Maulana Ibrahim Asmoro dan diperkirakan ketika Majapahit dipimpin oleh Prabu Kertawijaya (1447-1451).

Diperkirakan Patih Gajah Mada III inilah yang kemudian masuk Islam, mengikuti agama yang dianut Prabu Kertawijaya (Prabu Brawijaya) sebagaimana diceritakan dalam naskah Babad Tanah Jawi.

KESIMPULAN:

Dengan munculnya 3 sosok Patih Gajah Mada yang berasal dari masa berbeda-beda, ada kemungkinan istilah “Gajah Mada” itu adalah nama jabatan dan sosoknya tidak hanya satu orang.

Sehingga wajar jika kemudian tokoh Patih Gajah Mada memiliki banyak versi, karena sejatinya orang yang memiliki gelar “Patih Gajah Mada” berganti-ganti di sepanjang sejarah pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Catatan Penambahan:

1. Patih Gajah Mada dalam babad tanah jawi.

2. Patih Gajah Mada dalam Sejarah Melayu, terbitan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi

3. Patih Gajah Mada dalam Kitab Negara Kertagama

wwanten dharmma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng langö, simanugraha bhûpati sang apatih gajamada racananyan ûttama, yekanung dinunung nareswara pasanggrahanira pinened rinûpaka andondok mahawan rikang trasungay andyus i capahan atirthasewana“ (Nag.19:2).

Bagaimana Pecandu Menjalani Hukuman di Masa Khalifah Umar?

Seorang pria asal Inggris kedapatan membawa obat-obatan terlarang di Singapura. Ia terancam hukuman mati, namun karena jumlah barang bukti di bawah 500 gram, maka dirinya dikenakan hukuman penjara 20 tahun serta hukuman cambuk karena kejahatannya itu.

Seperti dilansir sindonews.com, pihak Kementrian Luar Negeri Inggris sempat memprotes adanya hukuman cambuk tersebut, akan tetapi demi tegaknya hukum, eksekusi wajib untuk dilaksanakan.

sumber: sindonews.com

Pelaksanaan hukuman cambuk sebetulnya sudah diberlakukan Khalifah Umar sekitar 1400 tahun yang silam. Sang Khalifah menjatuhkan hukuman cambuk kepada seorang pecandu minuman keras yang bernama Abu Mihjan.

Berbeda dengan yang dilakukan pemerintahan Singapura, setelah mendapat hukuman cambuk Abu Mihjan masih bisa bebas beraktifitas tanpa harus menjalani hukuman penjara.

Seperti diberitakan republika.co.id, ternyata Abu Mihjan melakukan lagi perbuatannya, sehingga dirinya harus mendapat hukuman cambuk untuk yang kedua kalinya.

Setelah menjalani dua kali hukuman, Abu Mihjan kemudian diasingkan dengan harapan yang bersangkutan bisa intropeksi sekaligus mencegah perbuatannya di tiru oleh masyarakat sekitar.

Namun dikisahkan kemudian, Abu Mihjan melarikan diri, dan atas perintah Khalifah Umar kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, pecandu khamar ini berhasil diciduk dan dimasukkan ke dalam penjara.

Ketika terjadi perang Qadisiyah, Abu Mihjan meminta dirinya untuk bisa dibebaskan agar bisa membantu pasukan muslim yang sedang berperang melawan Persia. Abu Mihjan berjanji setelah perang, jika dirinya selamat akan kembali menjalani hukuman penjara.

Setelah permintaannya dikabulkan, Abu Mihjan menjadi faktor penentu dalam kemenangan kaum muslimin pada perang itu. Dan berkat jasanya tersebut Abu Mihjan dibebaskan dari hukuman, sekaligus membuat Abu Mihjan insyaf dengan tidak lagi minum khamar yang dilarang dalam ajaran Islam.

Kisah Abu Mihjan ini, memberi kita teladan bagaimana tahapan-tahapan untuk menghukum seorang pecandu (bukan bertindak sebagai pengedar) khamar atau zat-zat yang memabukkan.

Pemberlakuan hukuman cambuk bisa menjadi shock therapy bagi mereka yang baru mau mencoba-coba menjadi pecandu. Tahap selanjutnya ketika tidak berhasil yakni dengan diasingkan atau dalam bahasa sekarang direhabilitasi.

Dan hukuman penjara adalah hukuman terakhir yang diberikan, itupun jika yang bersangkutan melakukan tindakan melawan hukum. Selain itu upaya rehabilitasi baru diberikan setelah si pecandu tersebut menerima hukuman yang cukup berat.

Mengungkap Jati Diri Raja Majapahit Yang Menjadi Mualaf (Masuk Islam)

Berdasarkan Babad Tanah Jawi, salah seorang Raja Majapahit dikisahkan memeluk agama Islam (mualaf). Sang Raja diceritakan merupakan menantu dari Penguasa Champa serta menjadi ipar dari Makdum Brahim Asmara (Syekh Maulana Ibrahim Asmoro).

Di kalangan sejarawan terjadi beragam pendapat terkait jati diri dari sosok Raja Majapahit dalam kisah tersebut. Ada yang meyakini Sang Raja adalah Bhre Kertabhumi, sementara pendapat lain menyebut nama Sang Raja adalah Prabu Kertawijaya.

sumber: viva.co.id

Untuk mengungkap siapa sesungguhnya Raja Majapahit yang dimaksud, ada beberapa indikator yang harus kita perhatikan:

1. Berdasarkan pendapat Sejarawan Slamet Muljana, diperkirakan Putri Champa wafat pada tahun 1448 M. Hal ini bermakna Sang Raja memerintah Majapahit di tahun 1448 M atau sebelumnya.

2. Dalam kisah di atas, Raja Majapahit satu masa dengan periode kehidupan Syekh Maulana Ibrahim Asmoro, yang diperkirakan datang ke Jawa pada pertengahan abad ke-15 Masehi atau sekitar tahun 1440-1460.

Syekh Ibrahim Asmoro hijrah bersama dua orang putera dan seorang kemenakannya serta sejumlah kerabat, dengan tujuan menemui adik istrinya Dewi Darawati, yang menikah dengan Kerabat Kerajaan Majapahit.

3. Berdasarkan data Raja-Raja Majapahit, yang memerintah pada periode tersebut adalah Ratu Suhita (1429-1447) dilanjutkan Prabu Kertawijaya (1447-1451), lalu disusul Prabu Rajasawardhana (1451-1453) serta kemudian Prabu Purwawisesa (1456-1466).

Dari data tersebut, diperkirakan Raja Majapahit yang memeluk Islam tersebut adalah Prabu Kertawijaya. Temuan ini juga sekaligus mengungkap sosok dari ayahanda Raden Fattah berdasarkan kronologis Babad Tanah Jawi.

Berdasarkan penyelusuran di atas, Raden Fattah kemungkinan besar lahir sebelum tahun 1448, setelah ibunya Putri Champa wafat kemudian di bawa oleh Nyai Ratna Subanci ke Palembang yang pada saat itu dibawah pimpinan Adipati Arya Dillah (1445-1486).

Dengan demikian, Nyai Ratna Subanci bukan ibu kandung Raden Fattah, namun lebih tepatnya sebagai ibu asuhnya. Kemudian diceritakan Adipati Arya Dillah menikahi Nyai Ratna Subanci dan dari perkawinan ini melahirkan adik tiri (adik angkat) Raden Fattah yang bernama Raden Kusen.

Mengapa Abu Jahal Tidak Marah Disebut Kafir? Ini Penjelasannya

Polemik kata “Kafir” ternyata pernah terjadi di era Kolonial Belanda. Hal tersebut menimpa seorang ulama ternama asal Kudus, Kiai Haji Raden Asnawi yang merupakan A’wan Syuriah Nahdlatul Ulama.

Sebagaimana dilansir historia.id, Kiai Asnawi dihadapkan ke Pengadilan Negeri (landraad) karena tuduhan melakukan delik penghinaan kepada orang yang tidak shalat (sembahyang) sebagai orang kafir atau orang gila.

sumber: muslimpribumi.com

Dalam persidangan, ketua pengadilan secara persuasif meminta terdakwa mencabut kata-katanya dengan alasan tergelincir lidah (slip of the tongue). Namun permintaan itu ditolak oleh sang kiai.

Kiai Asnawi menegaskan bahwa dirinya sekadar mengatakan apa yang tersebut dalam kitab Fiqih: Falaa tajibu ‘alaa kafirin ashliyyin wa shobiyyin wa majnuunin yang artinya “maka sembahyang itu tidak wajib dikerjakan oleh orang kafir, anak masih bayi, dan orang gila”.

Pada akhirnya pengadilan menjatuhkan hukuman denda sebesar 100 gulden. Namun, Kiai Asnawi ternyata tidak memiliki uang sebanyak itu. Lalu ketua pengadilan mengatakan: “kalau tak mampu membayar denda 100 gulden, Pak Kiai mesti masuk penjara sekian hari,”.

Kiai Asnawi keberatan alasannya masuk penjara bagi orang tua seperti dirinya amat menyusahkan. Ia juga memikirkan nasib santri-santrinya. Hal ini membuat suasana  majelis menjadi riuh.

Ketua pengadilan menskor persidangan sambil berunding dengan jaksa. Dan diakhiri dengan sang ketua pengadilan merogoh dompet dari kantongnya dan menyerahkan sejumlah uang kepada jaksa.

“Pak Kiai, ini ada uang seratus gulden, harap Pak Kiai membayarkan dendanya,” kata jaksa. Kiai Asnawi pun dibebaskan dengan membayar denda seratus gulden yang dananya berasal dari ketua pengadilan.

Makna Kafir Menurut Ustadz Adi Hidayat

Istilah kafir sudah lama jadi perbincangan di kalangan masyarakat. Ustadz Adi Hidayat Lc sudah pernah membahasnya beberapa kali. Dia menjelaskan bahwa kata “kafir” tersebut dalam bahasa Arab, sebenarnya bahasa yang sopan.

Seperti ditulis eramuslim.com, pada penjelasannya Ustadz Adi Hidayat menerangkan, “dalam bahasa Arab, kafir itu artinya yang menutup diri. Itu bahasa sopan. (Orang) yang menutup diri, yang tidak mau menerima iman, itu kafir.

Makanya, orang-orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan lainnya tidak marah disebut kafir karena mereka paham arti kafir itu dalam bahasa Arab, mereka Arab fasih, paling mengerti bahasa Arab”.

Menurut Ustadz Hidayat, Abu Lahab dan kawan-kawan pada saat itu mengakui diri mereka menutup diri terhadap risalah yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Kemudian Ustadz Hidayat menambahkan, “anda yang masih menutup diri, maaf, la a’budu ma ta’bud?n, kami tidak akan ikut-ikut menyembah seperti Anda menyembah sesembahan itu. Sampai puncaknya di ujungnya, lakum dinukum waliyadin.

Begini saja, aturan dari Allah, silakan Anda ibadah senyaman-nyamannya sesuai dengan keyakinan Anda. Waliyadin, dan biarkan pula kami beribadah sesuai dengan keyakinan kami. Itu yang paling indah,”.