Category Archives: history

Mengungkap Misteri Keturunan Sultan Demak II Pangeran Sabrang Lor, Putra Sulung Raden Fattah

Di dalam bukunya “Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar”, sejarawan Agus Sunyoto menceritakan selepas wafatnya Raden Fattah (Sultan Abdurahman Surya Alam Senapati Jimbun Panembahan Palembang Sayidin Panatagama), pemerintahan Demak diserahkan kepada putra sulungnya.

Putra Raden Fattah tersebut bernama Pangeran Sabrang Lor (Raden Surya atau Raden Muhammad Yunus) namun belum tiga tahun memerintah, Sang Pangeran wafat. Hal ini membuat para adipati bermusyawarah dan akhirnya menunjuk Pangeran Hunus sebagai pengganti.
Pangeran Hunus sendiri merupakan menantu Raden Fattah, dan pilihan dari para Adipati ini ditolak oleh putra kedua dari Raden Fattah yang bernama Pangeran Trenggono.

Pada akhirnya dibuat kesepakatan, kekuasaan duniawi dipegang Pangeran Hunus sedangkan ruhani dipegang Pangeran Trenggono.

Dalam kitab-kitab sejarah disebutkan Pangeran Sabrang Lor tidak memiliki pengganti sehingga disimpulkan ia tidak memiliki anak. Namun anggapan tersebut terbantahkan, Pangeran Sabrang Lor bukan tidak memiliki anak melainkan anak-anaknya dianggap belum cukup dewasa.

Pada sebagian catatan dalam Sejarah Kerajaan Palembang, Pangeran Sabrang Lor disebutkan bernama Pangeran Sido ing Lautan. Dinamakan Sido ing Lautan dikarenakan dia wafat ketika melakukan pelayaran.

Dalam catatan Silsilah Palembang, Pangeran Sido ing Lautan menikah dengan putri Kiai Geding Maluku dan memiliki anak sebagai berikut:

1). Nyai Gedih Pinatih
2). Kiai Geding Suro Tuo
3). Sangaji Kidul
4). Nyai Gedih Karang Tengah
5). Kiai Arya Kebon Jadi
6). Nyai Gedih Ilir yang bersuami Kiai Geding Ilir (Ki Mas Ilir)

Setelah diselusuri nampaknya nama Kiai Geding Maluku ini terkait dengan salah seorang menantu Sunan Ampel yang bernama Kiai Usman. Kiai Usman menikah dengan Siti Syari’ah binti Sunan Ampel, dimana pasangan suami istri ini sempat tinggal di Kailolo Pulau Haruku Maluku Tengah.

Setelah suaminya wafat, Siti Syari’ah kembali pulang ke Jawa dan dikenal dengan nama Nyai Gede Moloko (Maluku).

Berdasarkan Sejarah Lasem, sekitar tahun 1475 Nyai Gede Moloko menikah dengan Pangeran Bodro Negoro. Dari pernikahan dengan Pangeran Bodro Negoro ini, Nyai Gede Maloko memiliki putri yang bernama Solikhah yang menikah dengan seorang calon penguasa Kerajaan Demak.

Banyak yang menduga calon penguasa Kerajaan Demak ini adalah Raden Fattah, namun hal ini keliru mengingat di masa peristiwa pernikahan itu (sekitar tahun 1495) Raden Fattah sudah menjadi Sultan Demak.

Alasan lainnya adalah Raden Fattah menikah dengan putri dari Sunan Ampel yang bernama Dewi Murtasimah. Dan dalam ajaran Islam terdapat larangan menghimpun menikahi seorang wanita dan keponakannya.

Nampaknya misteri ini sedikit terkuak, calon penguasa Kerajaan Demak ini tidak lain adalah Pangeran Sabrang Lor yang setelah wafat di kuburkan di Makam Raja-Raja Demak. Dalam Sejarah Palembang Pangeran Sabrang Lor (Pati Unus I) dikenal dengan nama Pangeran Sido ing Lautan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan: 

1. Keberadaan anak keturunan Pangeran Sabrang Lor tidak saja terdapat dalam sejarah palembang, namun juga terdapat dalam Sejarah Semarang. Masyarakat Semarang mengenal seorang tokoh yang dianggap putra Pangeran Sabrang Lor yakni bernama Pangeran Madiyo Pandan.

Pangeran Madiyo Pandan kemudian dikisahkan memiliki putra bernama Ki Ageng Pandanarang, yang dipercaya sebagai Pendiri Kota Semarang.

2. Perkiraan Kronologis Perjalanan Sejarah

1448, Raden Fattah Lahir
1466, Raden Fattah menjadi Pecat Tandha di Bintara
1470, Raden Fattah diangkat menjadi Adipati Demak
1474, Raden Fattah menikah dengan ibunda Pangeran Sabrang Lor
1475, Pangeran Sabrang Lor Lahir
1475,  Nyai Gede Moloko menikah dengan Pangeran Bodro Negoro
1477,  Nyai Solikhah Lahir
1478, Raden Fattah mendirikan Kesultanan Demak
1495,  Pangeran Sabrang Lor menikah dengan Nyai Solikhah
1518,  Raden Fattah Wafat digantikan Pangeran Sabrang Lor
1521,  Pangeran Sabrang Lor wafat
1521,  Ada 2 pemimpin Demak, Pangeran Hunus dan Trenggono
1521,  Penyerangan Demak ke Malaka dan Pangeran Hunus Wafat
1521,  Pangeran Trenggono Diangkat Menjadi Sultan Demak
1528,  Pangeran Trenggono mengangkat Ki Gede ing Suro Tuo putra dari Pangeran Sabrang Lor (Pangeran Sedo ing Lautan) menjadi penguasa Palembang mewakili Kesultanan Demak

Iklan

Silsilah Kekerabatan Ahmad Syaikhu dengan Pangeran Jayakarta Pendiri Kota Jakarta

Ketika pelaksanaan acara Grebeg Syawal di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Astana Gunung Sembung, Cirebon pada 5 Juli 2017, nampak hadir Wakil Walikota Bekasi Ahmad Syaikhu.

Kehadiran politisi PKS ini, tidak saja dalam rangka melestarikan budaya bangsa melainkan juga dikarenakan Ahmad Syaikhu masih terhitung sebagai kerabat Keraton Kasepuhan Cirebon.


Seperti diketahui, Ahmad Syaikhu lahir di Desa Ciledugkulon, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon pada 23 Januari 1965. Ia merupakan putra kelima dari pasangan, K.H Ma’soem bin Aboelkhair, dan Nafi’ah binti Thohir.

Darah keluarga kesepuhan Cirebon berasal dari sang ayah, sementara dari ibunya berasal dari keluarga Betawi yang pernah bertempat tinggal di daerah Kramajati, Jakarta Timur.

Dan apabila diselusuri lebih jauh Keraton Kesepuhan yang saat ini dipimpin oleh Sultan sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, bermula dari seorang tokoh abad ke-17 yang bernama Pangeran Raja Adipati Syamsuddin Martawijaya atau dikenal sebagai Sultan Sepuh I.

Adapun Nasab Pangeran Martawijaya tersambung sampai kepada Sunan Gunung Jati, yakni:  Pangeran Martawijaya bin Panembahan Girilaya bin Pangeran Seda ing Gayam bin Panembahan Ratu bin Pangeran Dipati Carbon bin Pangeran Pasarean bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Sementara dari jalur mirza (perempuan), Pangeran Martawijaya masih terhitung keturunan Pangeran Jayakarta (Pendiri Kota Jakarta), yakni melalui ibunda dari Panembahan Ratu yang bernama Ratu Wanawati Raras binti Maulana Fatahillah (Pangeran Jayakarta).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. 
2. 3. Silsilah Sandiaga Uno, Keturunan Raja Amai Pendiri Masjid Hunto Gorontalo?
4. Meluruskan Silsilah Kekerabatan KH Ma’ruf Amin dan Syekh Nawawi al-Bantani 

Catatan Penambahan: 

1. Ratu Wanawati Raras adalah putri Maulana Fatahillah (Pangeran Jayakarta) dari istrinya bernama Nyai Ratu Ayu binti Sunan Gunung Jati. Sedangkan ibunda dari Nyai Ratu Ayu adalah Nyai Tepasari, putri dari Ki Gedeng Tepasan.

Selain Ratu Wanawati Raras, anak Maulana Fatahillah yang lain dari Nyai Ratu Ayu adalah Pangeran Sendang Garuda dan Ratu Ayu Fatimah (istri dari Tubagus Angke).

Maulana Fatahillah memiliki istri lain bernama Ratu Pembayun binti Raden Fatah, dari pernikahan ini memiliki putra Kyai Mas Abdul Aziz (Tumenggung Nogowongso) dan Kyai Bagus Abdul Rahman (Tumenggung Bodrowongso), yang anak keturunannya banyak berada di Palembang.

2. Ibunda dari Pangeran Seda ing Gayam adalah Ratu Lampok Angroros binti Sultan Hadiwijaya Pajang (Joko Tingkir). Sedangkan ibunda dari Ratu Lampok Angroros adalah Ratu Mas Cempaka binti Sultan Trenggono Demak.

Dan jika diselusuri lagi, ibunda dari Ratu Mas Cempaka adalah Kanjeng Ratu Pembayun binti Sunan Kalijaga.

Misteri Kekerabatan Sultan Trenggono Demak dengan Keluarga Pendiri Kerajaan Palembang?

Berdasarkan tulisan sejarawan Purwadi dalam bukunya Sejarah Raja Raja Jawa, Sultan Trenggono memiliki dua permaisuri yakni putri dari Nyai Ageng Malaka dan putri dari Sunan Kalijaga.

Dari referensi yang lain, Sultan Trenggono berdasarkan pendapat sejarawan Kartodirjo dalam bukunya Sejarah Nasional Indonesia, memiliki gelar Ki Mas Palembang dan merupakan menantu dari Penguasa Palembang Arya Damar.

Berdasarkan penyelusuran genealogy, dari kedua permaisuri ini Sultan Tranggana memiliki beberapa anak yakni:

Dari Putri Arya Damar/Nyai Ageng Maloko, menurunkan :
1. Ratu Pembayun
2. Sunan Prawoto
3. Ratu Mas Pemancingan menikah dengan Panembahan Jogorogo ing Pemancingan
4. Retno Kencana (Ratu Kalinyamat) menikah dengan Pangeran Hadiri (Penguasa Jepara)
5. Ratu Mas Ayu menikah dengan Pangeran Orang Ayu putra Pangeran Wonokromo
6. Ratu Mas Kumambang

Dari Kanjeng Ratu Pembayun (Putri Sunan Kalijaga), menurunkan :
7. Pangeran Timur, Panembahan Madiun, Bupati I Kadipaten Madiun
8. Ratu Mas Cempaka, menjadi Permaisuri Sultan Hadiwijaya Pajang bergelar Ratu Mas Pajang.

Dari beberapa fakta diatas, nampaknya yang dimaksud dengan putri dari Nyai Ageng Maloko adalah indentik dengan sosok putri dari Arya Damar Bupati Palembang.

Seperti pernah dibahas dalam artikel 5 sosok Arya Damar, ternyata Arya Damar tidak hanya satu orang saja, tapi ada beberapa tokoh. Dengan melihat timeline yang ada kemungkinan yang dimaksud Arya Damar disini adalah Adipati Karang Widara (Penguasa Palembang sekitar 1488-1500) atau Pangeran Sido ing Lautan (Penguasa Palembang sekitar 1500-1512), lihat sumber: Misteri Penguasa Palembang….

1) Adipati Karang Widara (Penguasa Palembang sekitar 1488-1500) 

Di dalam buku Dwitri Waluyo yang berjudul “
Indonesia The Land of 1000 Kings” disebutkan Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono dari istrinya yang merupakan anak perempuan Arya Damar, Adipati Palembang.

Ada kemungkinan yang dimaksud “Arya Damar” disini adalah Adipati Karang Widara yang oleh sebagian sejarawan menganggap indentik dengan cucu Arya Damar bernama Pangeran Surodirejo bin Raden Kusen bin Arya Damar.

Namun jika kita urut kronologis sejarah dari masa kehidupan Raden Kusen (perkiraan lahir tahun 1450), kemudian Raden Surodirejo (perkiraan lahir tahun 1470), maka putri tertua Raden Surodirejo masih terhitung satu generasi dengan Ratu Kalinyamat dan Sunan Prawoto.

Dengan demikian, sosok Raden Surodirejo hampir mustahil merupakan mertua dari Sultan Trenggono atau dengan kata lain Raden Surodirejo bukan Adipati Karang Widara.

Dalam bagan silsilah diatas Pangeran Sido ing Lautan adalah indentik dengan Pangeran Sabrang Lor putra sulung Raden Fattah. Dalam versi ini Pangeran Sido ing Lautan wafat pada tahun 1521.

2) Pangeran Sido ing Lautan (Penguasa Palembang sekitar 1500-1512)

Dalam versi ini Pangeran Sido ing Lautan merupakan Panglima Perang semasa Raden Fattah ayahanda Sultan Trenggono. Dia adalah pengikut setia Raden Fattah dan sangat logis jika keduanya mengikat tali kekeluargaan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan:

1. Di dalam silsilah Palembang sendiri tertulis nama istri dari Pangeran Sido ing Lautan sebagai putri dari Kiai Geding Maluku. Dalam abjad arab melayu “Maluku” bisa dibaca “Malaka” atau “Maloko” atau “moloko“.

Dalam catatan tersebut, Pangeran Sido ing Lautan memiliki anak:
a). Nyai Gedih Pinatih
b). Kiai Geding Suro Tuo
c). Sangaji Kidul
d). Nyai Gedih Karang Tengah
e). Kiai Arya Kebon Jadi
f). Nyai Gedih Ilir yang bersuami Kiai Geding Ilir (Ki Mas Ilir)

Melalui putrinya bernama “Nyai Gedih Ilir”, Pangeran Sido ing Lautan memiliki seorang cucu bernama Kiai Gede ing Suro Mudo yang dikemudian hari menjadi penerus Penguasa Kerajaan Palembang.

2. Berdasarkan hasil penyelusuran ada kemungkinan yang maksud dengan Kiai Geding Maluku terkait dengan salah seorang menantu Sunan Ampel yang bernama Kiai Usman yang menikah dengan Siti Syari’ah binti Sunan Ampel. Pasangan suami istri ini dikabarkan sempat tinggal di Kailolo Pulau Haruku Maluku Tengah.

Setelah suaminya wafat, Siti Syari’ah pulang ke Jawa dan dikenal dengan nama Nyai Gede Moloko. Berdasarkan Sejarah Lasem, sekitar tahun 1475 Nyai Gede Moloko  menikah dengan Pangeran Bodro Negoro.

Dari pernikahan dengan Pangeran Bodro Negoro ini, Nyai Gede Maloko memiliki putri yang bernama Solikhah dan menikah dengan seorang penguasa dari Demak.

Ada yang menganggap penguasa Demak tersebut Raden Fattah, namun agak janggal karena Raden Fattah juga menikah dengan putri Sunan Ampel yang bernama Dewi Murtasimah. Dan dalam ajaran Islam ada larangan menghimpun menikahi seorang wanita dan keponakannya.

3. Keberadaan jalur keturunan Sunan Ampel di Kerajaan Palembang juga diungkap Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad, dalam bukunya Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh. Sayid Alwi menulis:”… tetapi yang disebut keturunannya adalah dari Zainal Akbar yang berketurunan raja-raja Palembang, pangeran-pangeran dan raden-raden di Palembang, juga sunan Giri dan Sunan Ampel”.

Dari berbagai sumber literatur, diperoleh diagram hubungan kekerabatan antara Keluarga Ampel Denta dengan Kerajaan Palembang.

Catatan: Data Silsilah ini masih perlu dikaji lebih mendalam

4. Berdasarkan buku “Sekilas Tentang Terung Sebagai Sebuah Peradaban Sejarah Dan Raden Ayu Putri Ontjat Thanda Wurung“, Raden Kusen memiliki empat istri, yakni:

a) Nyai Wilis (cucu Sunan Ampel), memiliki anak bernama:
– Raden Surodirejo yang kemudian menjadi Adipati Palembang bergelar Adipati Widarakandang
– Arya Terung yang menjadi Adipati Sengguruh
– Arya Blitar (Adipati Blitar)

b) Mas Ayu Cendana binti Bhre Pakembangan, memiliki anak bernama:
– Mas Ayu Kriyan (Ratu Pradabinabar) yang dinikahi oleh Sunan Kudus
– Mas Ayu Winong dinikahi oleh Pangeran Kanduruwan bin Raden Patah yang menjadi Adipati Sumenep
– Mas Ayu Sedeng Kaputren yang disebut masyarakat dengan nama Raden Ayu Putri Ontjat Tandha.

c) Nyai Wonokromo, memiliki anak bernama:
– Pangeran Tundhung Musuh (Adipati Surabaya)
– Pangeran Arya Lena (Adipati Surabaya)
– Pangeran Jabug (Adipati Surabaya)

d) Nyai  Mertasari, memiliki anak bernama:
– Raden Santri (Adipati Sumedang)

5. Salah satu tokoh penting di dalam silsilah keluarga Kraton Mataram adalah Ratu Mas Cempaka. Ratu Mas Cempaka merupakan salah seorang putri Sultan Demak Pangeran Hadipati Trenggono (Raden Tranggana).

Melalui pernikahan Ratu Mas Cempaka dan Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya Pajang) melahirkan Pangeran Benawa yang merupakan ayahanda dari Dyah Banowati permaisuri Sultan Mataram kedua yakni Panembahan Hadi Prabu Hanyorowati.

Dyah Banowati merupakan ibu dari Sultan Agung, yang kemudian menurunkan keluarga Kraton Mataram yang saat ini terpecah menjadi Kraton Surakarta, Kraton Pakualam, Kraton Mangkunegaraan dan Kraton Ngayagyakarta Hadiningrat.

Silsilah Kekerabatan Jokowi, Prabowo Subianto, Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno, Melalui Jalur Sultan Demak Raden Fattah

Pada pemilihan presiden 2019, akan saling bersaing dua pasangan capres dan cawapres  yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Berdasarkan penelusuran genealogy, leluhur dari ke-4 pemimpin bangsa ini ternyata bermuara kepada pendiri Kesultanan Demak Raden Fattah.

Dalam diagram di bawah ini terlihat, Jokowi dan Prabowo Subianto merupakan keturunan putra Raden Fattah bernama Pangeran Hadipati Trenggono, sedangkan Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno merupakan keturunan dari putri Raden Fattah yang bernama Ratu Ayu Kirana (silahkan klik untuk memperbesar gambar).


Selain jalur di atas, pertemuan silsilah dari ke-4 tokoh ini juga bisa terlihat dalam diagram berikut (silahkan klik untuk memperbesar gambar):

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi:
1.
2. 3. Meluruskan Silsilah Kekerabatan KH Ma’ruf Amin dan Syekh Nawawi al-Bantani
4. Silsilah Kekerabatan Sandiaga Uno dari Jalur Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah Cirebon)

Meluruskan Silsilah Kekerabatan KH Ma’ruf Amin dan Syekh Nawawi al-Bantani

Dalam beberapa hari terakhir ini banyak beredar silsilah yang menghubungkan kekerabatan Ketua MUI KH Ma’ruf Amin dengan ulama terkemuka Syekh Nawawi al-Bantani.

Dikarenakan banyak variasi yang bermunculan membuat sebagian masyarakat bingung mana susur galur yang benar.

Melalui tulisan ini, kami mencoba merangkai beberapa sumber sehingga menghasilkan diagram sebagai berikut:
Dari diagram silsilah di atas, KH Ma’ruf Amin adalah keturunan dari saudara Syekh Nawawi yang bernama Syekh Abdullah, atau merupakan cicit dari cucu keponakan Syekh Nawawi yang bernama Nyi Marsati binti Haji Abdullah bin Syekh Abdullah.

Nyi Marsati memiliki cucu bernama Nyi Hajjah Maemunah binti Syekh Muhammad Ramli bin Nyi Marsati, dimana Nyi Hajjah Maemunah adalah ibunda dari KH Ma’ruf Amin.

Referensi:
Syekh Nawawi al-Bantani
Syekh Muhammad Amin Koper
Keluarga Bani Syekh Umar Banten 
Kekerabatan Tubagus Jamad Tanara
Kekerabatan Syekh Nawawi al-Bantani 

Catatan Penambahan:

1. Jalur silsilah KH Ma’ruf Amin juga tersambung dengan Raja Sumedang, yakni melalui ibunda dari Syekh Hasan Bashri Cakung yang bernama Raden Ayu Fathimah binti Raden Wiranegara bin Pangeran Wiraraja II bin Pangeran Wiraraja I bin Prabu Geusan Ulun Sumedang.

Sedangkan Pangeran Wiraraja I  tersambung silsilahnya kepada Penguasa Madura yakni melalui ibundanya bernama Ratu Harisbaya Nyai Narantoko binti Pangeran Suhra Pradoto Jambringin Pamekasan Madura bin  Ki Pragalbo Bangkalan Madura bin Ki Demang Plakaran bin Aryo Pojok Sampang Madura.

Sementara dari Silsilah Ratu Harisbaya Nyai Narantoko tersambung kepada Penguasa Demak melalui ibundanya bernama Ratu Pembayun binti Sultan Trenggono Demak bin Raden Patah Demak.

sumber: Silsilah Ratu Harisbaya dan Ma’ruf Amin dan Madura

Artikel Menarik :
1. 
2. 3. Silsilah Sandiaga Uno, Keturunan Raja Amai Pendiri Masjid Hunto Gorontalo?
4. [Misteri] Silsilah Habib Rizieq Shihab, dari jalur keluarga Raden Fattah (Demak) dan Trah Prabu Siliwangi (Pajajaran) ?

Silsilah Kekerabatan Sandiaga Uno dari Jalur Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah Cirebon)

Setelah sebelumnya membahas susur galur keluarga Sandiaga Uno melalui kerabat Marga Uno sampai ke Raja Gorontalo, dalam tulisan ini kami mencoba menyelusuri jejak genealogy Sandi hingga kepada salah seorang Tokoh Wali Sanga, Sunan Gunung Jati Cirebon.

Keturunan Sunan Gunung Jati di Sulawesi

Anak keturunan Sunan Gunung Jati di Sulawesi berasal dari salah seorang keturunannya yang bernama Ratu Aminah yang menjadi isteri salah seorang ulama terkemuka Syekh Yusuf al Makassari.

Berdasarkan buku “Syekh Yusuf Makassar: seorang ulama, sufi dan pejuang”, Syekh Yusuf menikah dengan Ratu Aminah (Sitti Hafidzah Syarifah Ratu Aminah) salah satu puteri dari Sultan Banten ke-6 bernama Sultan Abul Fath Abdul Fattah.

Sultan Abul Fath Abdul Fattah atau yang dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa adalah putera dari Sultan Abul Mahali Ahmad bin Sultan Abdul Mafakhir bin Sultan Maulana Muhammad bin Sultan Maulana Yusuf bin Sultan Maulana Hasanuddin bin Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Dari pernikahan Syekh Yusuf dan Ratu Aminah memiliki putera bernama Syekh Muhammad Maulana Jalaluddin atau dikenal juga dengan nama Datu Bagusu Matowa, Daengta ri Untiya.

Dengan berpedoman kepada silsilah Sultan Ageng Turtayasa di atas, Syekh Muhammad Maulana Jalaluddin merupakan keturunan ke-8 dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Jalur Silsilah Sandiaga Uno ke Sunan Gunung Jati 

Syekh Muhammad Maulana Jalaluddin menikah dengan I Bangki Arung Rappang (I Bangki Karaeng Takalara) memperoleh puteri bernama Bau Habibah (We Mommo’ Siiti Aisah Arung MakkunraiE).

Bau Habibah kemudian menikah dengan La Temmassonge yang merupakan Raja Bone ke-22 (1749-1775) yang bergelar Sultan Abdul Razak Zainuddin, dari pernikahan ini melahirkan puteri bernama We Hamidah Arung Takalar Petta MatowaE.

We Hamidah Arung Takalar Petta MatowaE inilah yang merupakan ibunda dari Raja Bone ke-23 La Tenritappu Sultan Ahmad Saleh (1775-1812). La Tenritappu kemudian memiliki putera bernama La Patuppu Batu, Arung Tonra yang merupakan ayahanda dari Aru Lasimpala (Tenrisumpala / La Simpala Arung Tonra).

Di dalam buku Biografi Prof JA Katili, Harta Bumi Indonesia, disebutkan Aru Lasimpala inilah yang kemudian membuka Kampung Bugis di Gorontalo. Salah seorang cucu Aru Lasimpala bernama Karsum Lasimpala menikah dengan Umar Katili dan memperoleh puteri bernama Zainab Monoarfa Katili.
Zainab Monoarfa Katili menikah dengan Jogugu (Bupati) Gorontalo bernama Rais Monoarfa memiliki puteri bernama Intan Ruaida Monoarfa. Dan Intan Ruaida merupakan isteri dari Abdul Uno yang juga ibu dari Razif Haliq Uno (Henk Uno).

Henk Uno kemudian menikah dengan Rachmini Rachman (Mien Uno) dan memiliki putera bernama Sandiaga Salahudin Uno, yang lahir di Rumbai (Pekanbaru) pada 28 Juni 1969.

Petta La Simpala dari Singkang

Dalam versi lain sebagaimana di tulis dalam situs putera belawa, sosok Aru Lasimpala identik dengan La Simpala Aru Singkang atau dikenal juga dengan nama La Tenri Sumpala Petta LaoE ri Wani Arung Singkang (Petta La Simpala) yang merupakan salah seorang putera dari Petta La Maddukelleng.

Petta La Maddukelleng (La Maddukkelleng Arung Singkang Sultan Pasir Petta Arung Matoa Wajo PamaradEkaEngngi TanaE Wajo) adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No. 109/TK/Thn 1998 pada tanggal 6 November 1998 (sumber: wikipedia.org).

La Maddukelleng merupakan putera dari Arung Peneki La Mataesdso To Ma’dettia dengan isterinya bernama We Tenri Angka Arung Singkang (We Tenri Ampa).

Sedangkan ibunda dari Petta La Simpala bernama We Caba’ yang merupakan puteri dari La Sipatu Arung Belawa (sumber: geni.com).

Dalam versi ini Silsilah Sandiaga Uno tersambung dengan Arung Matowa Wajo La Sangkuru Patau Mulajaji yang merupakan Raja Wajo pertama yang memeluk Islam dengan gelar Sultan Abdurrahman (sumber: sejarah wajo).

Skema Dua Versi Aru Simpala

Dari kedua versi Aru Simpala di atas, bisa dibuat skema silsilah dari kedua tokoh yang diperkirakan merupakan Leluhur Keluarga Sandiaga Uno.
Sumber:
Syekh Yusuf Makassar
Kisah Raja Bone Ke-23 
Genealogy Raja Bone Ke-23
Sandiaga Uno dan Bugis
Biografi JA Katili 

Catatan Penambahan:

1. Ayahanda Raja Bone ke-23 La Tenritappu Sultan Ahmad Saleh (1775-1812) adalah La Mappapenning To Appaimeng Daeng Makkuling yang merupakan putra dari La Massellomo To Appaware’ Petta Ponggawa Bone LaoE ri Luwu.

La Massellomo To Appaware’ Petta Ponggawa Bone LaoE ri Luwu adalah anak dari Raja Bone ke-19 La Pareppa’i To SappEwaliE Sultan Ismail yang memiliki ibu bernama  I Mariyama Karaeng Pattukangang.

I Mariyama Karaeng Pattukangang adalah cucu dari Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke-16, melalui puteranya bernama Sultan Abdul Jalil Raja Gowa ke-19.

Artikel Terkait: 

Silsilah Sandiaga Uno, Keturunan Raja Amai Pendiri Masjid Hunto Gorontalo?

Artikel Menarik :
1. 
2. 3. 
4. [Misteri] Silsilah Habib Rizieq Shihab, dari jalur keluarga Raden Fattah (Demak) dan Trah Prabu Siliwangi (Pajajaran) ?

Silsilah Mayjen (Purn) Sudrajat dari Jalur Kerabat Sunan Gunung Jati

Dalam Pilgub Jawa Barat 2018, Partai Gerindra, PKS dan PAN mengusung Mayjen (Purn) Sudrajat sebagai Calon Gubernur.

Ketika nama Sudrajat baru naik kepermukaan, masyarakat Jawa Barat sendiri masih bertanya-tanya tentang sosok pria kelahiran Balikpapan, 4 Februari 1949.


Berdasarkan penyelusuran genealogy Sudrajat ternyata masih terhitung keturunan ulama terkemuka Jawa Barat Kiai Haji Hasan Mustofa yang juga dikenal sebagai pejuang di kawasan Priangan.

Kiai Haji Hasan Mustafa merupakan putera dari Haji Utsman Mas Sastramanggala, dimana jalur silsilahnya menyambung kepada Raden Aryawangsa atau disebut juga Sultan Muhammad Wangsa.

Raden Aryawangsa sendiri adalah anak dari Raden Abdullah dari pernikahannya dengan puteri Sultan Banten Maulana Hasanuddin, yang bernama Fatimah binti Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati (Maulana Syarif Hidayatullah).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi: 
Sudrajat Orang Sunda
Silsilah KH Hasan Mustafa
Maulana Hasanuddin Sultan Banten

Catatan Penambahan :

1. Genealogy Kiai Haji Hasan Mustofa yaitu :
Kiai Haji Hasan Mustofa bin Haji Utsman Mas Sastramanggala bin Raden Adipati Wiratanubaya bin Raden Jayangadireja bin Tumenggung Wiradadaha V bin  Tumenggung Wiradadaha IV bin Tumenggung Wiradadaha III bin Tumenggung Wiradadaha I bin Raden Suryaningrat bin Raden Aryawangsa bin Raden Abdullah.