Category Archives: history

Misteri Penguasa Palembang (1407-1528), dari Era Laksamana Cheng Ho sampai Menjelang Kekuasaan Ki Gede ing Suro

Pada sekitar tahun 1407, po-lin-fong (Palembang) kedatangan armada Cheng Ho bersama bala tentaranya yang diperkirakan berjumlah 27.800 orang.

Tujuan pasukan perang Dinasti Ming ini adalah untuk menumpas kelompok penguasa perairan sungai Musi yang dipimpin oleh Chen Tsu Ji yang merupakan mantan petinggi angkatan laut Dinasti Yuan.
Keterangan:

1. Syahbandar Shi Jinqing

Selepas keberhasilan menumpas kelompok Chen Tsu Ji, Laksamana Cheng Ho, mengembangkan komunitas masyarakat Tionghoa Muslim di wilayah ini, serta menyerahkan pengawasan palembang kepada seorang syahbandar bernama Shi Jinqing.

Kelak salah seorang putri dari Shi Jinqing yang bernama Nyai Gedhe Pinatih (Pi Na Ti), dikenal sebagai penyebar Islam di tanah Jawa dan menjadi ibu asuh dari Raden Paku (Sunan Giri).

2. Pangeran Arya Damar (Adipati Ario Dillah)

Melemahnya pengawasan Dinasti Ming terhadap Palembang selepas wafatnya Kaisar Yongle tahun 1424, dimanfaatkan Majapahit untuk mengambil alih kontrol pelabuhan Kukang (Palembang).

Kesempatan itu muncul ketika palembang dan sekitarnya terjadi kekacauan diantara para penguasa lokal setempat. Salah seorang kerabat istana Majapahit bernama Pangeran Arya damar diutus ke Palembang untuk menjadi duta kerajaan.

Sang Pangeran dibantu tokoh penguasa wilayah Lebar Daun berhasil meredam konflik dan untuk memperkuat kedudukannya Pangeran Arya Damar menikah dengan salah seorang putri dari penguasa wilayah Lebar Daun tersebut.

Selain itu Sang Pangeran diketahui memeluk Islam berkat dakwah salah seorang tokoh penyebar Islam Sunan Ampel.

Pengaruh Pangeran Arya Damar semakin hari semakin kuat dan akhirnya para pemimpin lokal setempat sepakat mengangkatnya sebagai Adipati Palembang di tahun 1445 yang mendapat dukungan dari penguasa Majapahit Ratu Suhita.

Di masa awal Prabu Kertawijaya sekitar tahun 1447, Pangeran Arya Damar yang dikenal dengan nama Adipati Ario Dillah kedatangan pengungsi dari Majapahit yakni Nyai Ratna Subanci yang membawa seorang bayi bernama Raden Hasan.

Raden Hasan adalah cucu Prabu Kertawijaya dari putrinya yang telah memeluk Islam karena menikah dengan seorang muslim asal Champa yang menjadi pejabat di wilayah Kertabhumi.

Latar belakang pengungsian ini adalah demi kesalamatan sang bayi yang keduanya telah wafat. Dikemudian hari ibu pengasuh sang bayi yakni Nyai Ratna Subanci menikah dengan salah seorang kepercayaan Adipati Ario Dillah yang bernama Arya Palembang.

3. Arya Palembang (Adipati Arya Dillah II)

Sosok Arya Palembang ini sering kali juga dianggap sebagai Arya Dillah (II), yang menggantikan posisi Arya Dillah (I) setelah yang bersangkutan mengundurkan diri sebagai Adipati Palembang.

Adipati Arya Dillah (II) inilah yang sesungguhnya ayahanda dari Raden Kusen Adipati Terung dari pernikahannya dengan ibu asuh Raden Hasan (Sultan Demak Raden Fattah).

Selain menikah dengan Nyai Ratna Subanci (ibu asuh Raden Hasan), Arya Palembang dikemudian hari juga diangkat menantu oleh Adipati Aryo Dillah. Adapun istri Arya Palembang yang lain adalah Nyimas Sahilan binti Syarif Husein Hidayatullah (Menak Usang Sekampung).

Pada tahun 1392 Saka (1470 Masehi), Arya Palembang (Adipati Arya Dillah II) memimpin pasukan Palembang menyerang Semarang dan mengangkat salah seorang puteranya Raden Sahun menjadi Adipati Semarang dengan gelar Pangeran Pandanaran.

4. Syahbandar Pai Lian Bang 

Pengangkatan Syahbandar Pai Lian Bang bersifat sementara, karena pada saat Arya Palembang (Arya Dillah II) wafat belum ditemukan calon pengganti yang pantas.

Meskipun bersifat sementara dibawah Syahbandar Pai Lian Bang, Palembang banyak mengalami kemajuan.

5. Adipati Karang Widara

Pengangkatan Adipati Karang Widara berasal dari pemufakatan pemimpin-pemimpin lokal. Sang Pangeran diketahui masih memiliki kekerabatan dengan Penguasan wilayah Lebar Daun.

6. Pangeran Seda ing Lautan

Pangeran Seda ing Lautan merupakan seorang pengikut setia Raden Patah. Selain menjadi penguasa Palembang ia mendapat tugas mempersiapkan armada perang untuk menyerang Portugis di Malaka.

Pada penyerbuan yang pertama tahun 1512, Pangeran Seda ing Lautan wafat di medan peperangan.

7.
 Pangeran Surodirejo

Pangeran Suradirejo adalah juga ayah angkat dari Ki Gede ing Suro dan saudara-saudaranya selepas ayahanda mereka Pangeran Seda ing Lautan wafat.

Kelak dikemudian hari, Ki Gede ing Suro diangkat menjadi penguasa Palembang di tahun 1528 atas restu penguasa Kerajaan Demak Sultan Trenggono.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Iklan

Silsilah Kekerabatan Keluarga Majapahit, Champa dan Sunan Ampel

Salah satu penyebab cepatnya penyebaran Islam di masa walisongo adalah dikarenakan para wali masih memiliki kekerabatan dengan pihak penguasa kerajaan Majapahit.

Pelopor kekerabatan keluarga Majapahit dengan tokoh penyebar Islam di tanah Jawa adalah Pangeran Arya Lembu Sura saudara dari Prabu Wikramawardhdhana.


Pangeran Arya Lembu Sura menikah dengan putri tokoh muslim tionghoa Haji Bong Swi Hoo dan memiliki putra bernama Pangeran Arya Sena. Selain itu Pangeran Arya Lembu Sura juga menikah dengan putri Haji Bong An Sui dan memiliki putri bernama Ratna Wulan.

Putri Ratna Wulan binti Pangeran Arya Lembu Sura kemudian menikah dengan Adipati Tuban Haryo Tejo dan memiliki putri bernama Dewi Condrowati. Di kemudian hari Dewi Condrowati menikah dengan penyebar Islam Sunan Ampel.

Referensi:
1.  Silsilah majapahit
2. Naskah Mertasinga
3. Kisah Sunan Ampel
4. Nyai Ageng Maloko
5. Sri Wikramawardhana (Siwi Sang)
6. Manaqib Raden Fattah (malaya.or.id)
7. 
8. Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, tulisan Agus Sunyoto

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan: 

1. Ada dua versi tentang keberadaan Negeri Champa yang merupakan asal  daerah keluarga Sunan Ampel yakni berlokasi di Aceh (Sumatera) dan Vietnam (Indo China).

2. Arya Dillah Adipati Palembang ada yang berpendapat merupakan putra bungsu Wikramawarddhana namun versi lain mengatakan ia adalah anak dari Prabu Kertawijaya.

3. Maulana Abdullah Champa yang merupakan ayahanda Raden Hasan diperkirakan pernah menjabat sebagai Bhre Kertabhumi yang merupakan wilayah Majapahit di sebelah utara Wengker (sumber : wilayah majapahit).

Diperkirakan kedua orang tua Raden Hasan wafat ketika Raden Hasan masih kecil, oleh karenanya ia diungsikan oleh kakeknya Prabu Kertawijaya ke Palembang dibawa oleh ibu pengasuh bernama Nyai Ratna Subanci (sumber : Beberapa versi kisah Raden Fattah).

Di Palembang Raden Hasan diasuh oleh saudara muda kakeknya Raden Arya Dillah yang menjabat Adipati Palembang. sementara Nyai Ratna Subanci kemudian menikah dengan salah seorang kepercayaan Arya Dillah yakni Arya Palembang.

Arya Palembang (Arya Dillah II) dikemudian hari menggantikan posisi Arya Dillah sebagai Adipati Palembang dimana sebelumnya ia menikah dengan salah seorang putri dari Sang Adipati.

[Misteri] Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara dalam Silsilah Palembang dan Tarsilah Brunei Darussalam?

Di dalam Catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur, 1706 – 1714 ), nama Maulana Abdullah tercantum sebagai ayahanda dari Pangeran Manconegara, dengan rincian Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri.

Pangeran Manconegara sendiri merupakan kakek dari pendiri Kesultanan Palembang Darussalam yang bernama Sultan Abdul Rahman Kyai Mas Hindi Sayidul Iman Sunan Cinde Welang bin Jamaluddin Mangkurat Kyai Gede ing Pasarean bin Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara.

Nama Pangeran Manconegara ternyata juga tercatat di dalam Tarsilah Brunei Darussalam sebagai ayahanda dari Raden Mas Ayu Siti Aisyah permaisuri dari Sultan Brunei Darussalam yang bernama Sultan Abdul Jalilul Akbar (memerintah Kesultanan Brunei, 1598 – 1659).

Pada Tarsilah Brunei tertulis Pengiran (Kiai) Temenggong Manchu Negoro bin Pengiran Manchu Tando bin Sunan Dalam Ali Zainal Abidin Wirakusuma bin Sunan Giri, Maulana Muhammad Ainul Yaqin.

Berdasarkan kesamaan waktu dan nama, kemungkinan besar yang dimaksud  Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara (Silsilah Palembang) adalah indentik dengan Pengiran Manchu Tando (Tarsilah Brunei).

Dari kedua sumber tersebut dapat kita ambil beberapa kesimpulan:

1. Ayahanda Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara (Pengiran Kiai Temenggong Manchu Negoro) bernama Maulana Abdullah.

2. Maulana Abdullah merupakan seorang Pangeran Adipati atau Manchu Tando yang merupakan jabatan setingkat wakil Adipati di wilayah Sumedang Negara.

3. Berdasarkan timeline peristiwa di masa itu yang menjabat Adipati Sumedang adalah Pangeran Santri putra dari Maulana Muhammad Pangeran Arya Cirebon.

Hal inilah yang membuat dalam beberapa silsilah menulis Pangeran Adipati Sumedang adalah putra dari Pangeran Arya Cirebon, padahal sosok Pangeran Adipati dan Adipati di Sumedang merupakan dua orang yang berbeda.

4. Tokoh Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara seringkali juga tertukar dengan sosok Pangeran Panca Tanda yang merupakan paman dari Pangeran Manconegara.

Pangeran Panca Tanda merupakan anak dari Tumenggung Mantik (Ki Geding Karang Panjang/Ki Geding Karang Tengah) sekaligus juga ipar dari  Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara.

Pangeran Panca Tanda inilah yang kemudian hijrah bersama Pangeran Manconegara ke Palembang.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Tokoh lain yang juga sering dianggap sebagai ayahanda dari Pangeran Manconegara adalah Raden Kiai Nurdin.

Raden Kiai Nurdin diperkirakan merupakan salah seorang putra dari Pangeran Arya Cirebon yang juga paman sekaligus ayah angkat dari Pangeran Manconegara.

 

Silsilah Kekerabatan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, Giri Kedaton dan Kesultanan Mataram

Berdasarkan Babad Pamijahan diterjemahkan dari Perimbon Kuno oleh Zainal Mustafa bin Muhammad pada tahun 1977, diketahui bahwa Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan merupakan keturunan Susunan Giri Kadaton.

Berdasarkan catatan tersebut diceritakan Susunan Giri Kadaton memiliki seorang putra bernama Pangeran Giri Laya yang dikemudian hari bergelar Pangeran Seda Lautan.

Nama Pangeran Seda Lautan di dalam Serat Centini, merupakan putra dari Susunan Giri Kedaton kedua atau lebih dikenal sebagai Sunan Dalem (Maulana Zainal Abidin).

Dalam Serat Centini, Pangeran Seda Lautan merupakan adik bungsu dari Susunan Giri Ket-4 (Sunan Prapen Adi), dan diperkirakan jarak usia keduanya cukup jauh.

Pada Babad Pamijahan juga diceritakan tentang leluhur Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan yang bernama Raden Wiracandra yang merupakan putra dari Pangeran Giri Laya.

Raden Wiracandra dikisahkan memiliki seorang saudari bernama Nyai Raden Malaya yang merupakan istri dari Kiai Gedeng Mataram. Dari perkawinan tersebut lahirlah putra Kiai Gedeng Mataram yang bernama  Kiai Tumenggung Singaranu.


Diperkirakan nama Kiai Gedeng Mataram adalah Panembahan ing Krapyak yang merupakan Sultan Mataram ke-2, periode 1601-1613. Perkiraan ini selain berdasarkan kronologis masa kehidupan beberapa tokoh, juga didukung kisah penyerangannya terhadap Madura yang tertulis di dalam Babad Pamijahan.

Penyerangan terhadap Madura yang dimaksud besar kemungkinan merupakan peristiwa serangan Mataram terhadap wilayah di sekitar Surabaya pada tahun 1608-1613 (sumber : Panembahan Agung Mataram).

Kiai Gedeng Mataram (Panembahan ing Krapyak atau Panembahan Hanyakrawati), merupakan ayahanda dari Sultan Agung Mataram yang merupakan leluhur Kerabat Kraton Yogyakarta, Surakarta dan Mangkunegara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan: 

1. Tokoh Kiai Tumenggung Singaranu kemungkinan indentik dengan Patih Tumenggung Singaranu yang menjabat Patih Kesultanan Mataram pada periode 1623-1645 di masa pemerintahan Sultan Agung (sumber : Babad Nitik).

2. Di dalam Babad Pamijahan diceritakan Raden Wiracandra dalam waktu yang cukup lama pernah tinggal di Palembang. Diperkirakan pada saat itu Kerajaan Palembang diperintah oleh Pangeran Made Angsoko (1588-1623), dan di masa inilah negeri Palembang mendapat serangan dari Kesultanan Banten pada sekitar tahun 1596 (sumber : Hikayat Perang Palembang Banten).

3. Berdasarkan catatan silsilah Palembang salah seorang saudari dari Pangeran Made Angsoko bernama Nyai Gede Pembayun menikah dengan kerabat Giri Kedaton yang bernama Pangeran Monco Negoro (sumber : Kekerabatan Kesultanan Palembang).

Berdasarkan penyelusuran Genealogy Pangeran Manco Negoro adalah cucu dari Susunan Giri Kedaton kedua (Sunan Dalem Maulana Zainal Abidin), atau dengan kata lain Pangeran Manco Negoro adalah saudara sepupu Raden Wiracandra.

Dimana Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Adipati Panca Tanda bin Sunan Dalam Ali Zainal Abidin Wirakusuma bin Maulana Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri (sumber :  Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, dalam catatan “Tarsilah Brunei).

Atau jika mengacu kepada catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (ulama yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur, 1706 – 1714 ), genealogy-nya adalah: Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo bin Maulana Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri.

Jejak Perlawanan Ulama Nusantara di Tahun 1650 M Terhadap Politik Monopoli Bangsa Belanda

Pada sekitar tahun 1647 penguasa Kerajaan Palembang Pangeran Mangkurat Seda ing Rajak memutuskan menolak melanjutkan kerjasama perdagangan lada dengan VOC yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda.

Penolakan penguasa Palembang ini menyebabkan pemerintah Belanda di Batavia yang pada masa itu menjalankan politik monopoli perdagangan mengalami kerugian yang besar.


Merenggangnya hubungan antara Palembang dan Batavia ini, diperkirakan menjadi salah satu sebab bergulirnya perlawanan bangsa-bangsa melayu terhadap dominasi perdagangan VOC.

Dalam upaya menyatukan kekuatan melawan kekuatan Belanda dan Inggris pada masa itu, para ulama nusantara berinisiatif melakukan musyawarah yang lokasinya tidak jauh dari ibukota negeri Palembang.

Dibawah koordinasi cucu Panembahan Ratu Cirebon yaitu Syech Nurqodim al-Baharudin (Puyang Awak), pada tahun 1650 M para ulama dari berbagai pelosok nusantara berkumpul di Perdipe Pagar Alam Sumatera Selatan.

Musyawarah Ulama tahun 1650 M ini, berdasarkan hasil penyelusuran ditemukan beberapa fakta sebagai berikut :

1. Pada tahun 1650 masehi atau 1072 hijriyah telah bertemu para ulama dari seluruh pelosok nusantara di Perdipe, Sumatera Selatan. Mereka berasal dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.

2. Hasil pertemuan ulama ini telah memunculkan perluasan dakwah Islam serta munculnya kader-kader pejuang dalam upaya mengadakan perlawanan terhadap monopoli kekuasaan bangsa Eropa.

3. Munculnya pusat-pusat pemerintahan kesultanan bernuansa Islam dan masing-masing saling bekerjasama secara baik. Sebagai salah satu contoh Kesultanan Palembang Darussalam berdiri pada tahun 1659.

Referensi: 
1. Mudzakarah Ulama abad ke-17
2. Sejarah Sumatera Selatan
3. Kisah Puyang Awak Semende
4. 
5. Hukum Kewarisan Islam dan Adat Semende
6. Meluruskan Silsilah Puyang Awak (Syech Nurqodim al-Baharudin) Trah Sunan Gunung Jati dan Pendiri Adat Semende Sumatera Selatan

WaLlahu a’lamu bishshawab

Beberapa Catatan: 

1. Dalam musyawarah ulama ini tercatat hadir antara lain 40 ulama dari Semenanjung yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib serta beberapa utusan dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumpun Melayu lainnya.

2. Para tokoh yang terlibat diantaranya: Syech Nurqodim al-Baharudin (Puyang Awak), Puyang Ratu Agung Umpu Eyang Dade Abang, Puyang Mas Penghulu Ulama Panglima Perang dari Gheci Mataram Jawa, Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Minang Kabau, Puyang Lurus Sambung Ati dari gunung Puyung Banten Selatan dan Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari negeri Cina.

3. Menjelang pertemuan ulama tahun 1650 M, di beberapa daerah Nusantara mengalami pergolakan.

Di Mataram selepas wafatnya Sultan Agung Mataram tahun 1645, pusat ibukota dipindahkan ke Plered oleh Amangkurat I di tahun 1647 (sumber: wikipedia.org).

Di Cirebon pada tahun 1649 Panembahan Ratu wafat dan digantikan oleh cucunya Pangeran Rasmi (sumber : wikipedia.org).

Benarkah Sultan Agung Mataram Beristrikan Kakak Kandung Panembahan Ratu Cirebon?

Mempelajari genealogy tidak terbatas hanya memahami catatan naskah silsilah, melainkan juga harus memperhatikan kronologis peristiwa berdasarkan data sejarah.

Dengan memperhatikan kronologis peristiwa, maka kita akan memperoleh gambaran apakah satu catatan silsilah tersebut logis atau mengandung kejanggalan.

Sebagai contoh, banyak beredar catatan silsilah yang mengatakan Sultan Agung Mataram menikah dengan kakak perempuan Panembahan Ratu Cirebon yang bernama Ratu Ayu Sakluh, benarkah demikian?

Sebelum mempermasalahkan sumber riwayat, mari kita perhatikan kronologis peristiwanya terlebih dahulu.

1. Sultan Agung Mataram atau Raden Mas Rangsang lahir pada tahun 1593
2. Panembahan Ratu Cirebon diangkat menjadi penguasa pada tahun 1565

Dari dua data sejarah ini, bisa kita simpulkan Panembahan Ratu Cirebon yang dikatakan sebagai adik ipar Sultan Agung Mataram, menjadi penguasa Cirebon 28 tahun sebelum kakak iparnya lahir.

Berdasarkan informasi Panembahan Ratu lahir tahun 1547 sedangkan kakaknya Ratu Ayu Sakluh lahir tahun 1545. Dari data ini dapat diperoleh jarak usia antara Sultan Agung Mataram dengan Ratu Ayu Sakluh adalah 48 tahun.

Hal ini bermakna, jika Sultan Agung Mataram menikah di usia 20 tahun maka sang istri telah berusia 68 tahun. Kejanggalan inilah yang seharusnya ditinjau kembali oleh para pemerhati genealogy sebelum memperdebatkan kevalidan sumber data.

Untuk meluruskan persoalan ini, mungkin kita bisa mengambil pendapat salah satu versi yang mengatakan bahwa Ratu Ayu Sakluh adalah mertua perempuan dari Sultan Agung Mataram.

Referensi:
1. Keluarga Kesultanan Cirebon
2. Kitab Pangeran Wangsakerta
3. Kisah Putri Harisbaya
4. Sultan Agung Mataram

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan:

1. Ada versi yang menuliskan bahwa istri Sultan Agung Mataram yang berasal dari Cirebon adalah putri dari Panembahan Ratu Cirebon. Namun catatan ini juga perlu dikritisi, karena putri Panembahan Ratu Cirebon diperkirakan usianya jauh diatas Sultan Agung Mataram.

Dari perkawinan Panembahan Ratu Cirebon dengan Ratu Lampok Angroros (Nyi Ratu Pajang), anak Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir), memiliki seorang putri bernama Ratu Emas yang lahir tahun 1575 atau usianya lebih tua 18 tahun dari Sultan Agung Mataram.

2. Sultan Agung Mataram menjadi penguasa pada sekitar tahun 1535 – 1567 Shaka (1613 – 1645 masehi). Sultan Agung memiliki istri yang merupakan anak kakak perempuan Panembahan Ratu Carbon (sumber: Panembahan Ratu).

Meluruskan Silsilah Puyang Awak (Syech Nurqodim al-Baharudin) Trah Sunan Gunung Jati dan Pendiri Adat Semende Sumatera Selatan

Berdasarkan buku ”Jagad Basemah Libagh Semende Panjang”, Karya TG.KH. Drs. Thoulun Abdurrauf, pada sekitar tahun 1650 M (1072 H) para waliullah Nusantara dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin menggelar musyawarah berpusat di Perdipe Sumatera Selatan.

Catatan sejarah ini diperkuat dengan adanya arsip kuno berupa kaghas (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta).


Syech Nurqodim al-Baharudin atau dalam masyarakat Sumatera Selatan lebih dikenal sebagai Puyang Awak juga merupakan pendiri adat Semende bersama ayahandanya Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang.

Dalam beberapa riwayat disebutkan Puyang Awak merupakan cucu dari Sunan Gunung Jati (1448-1568). Mengingat jarak yang cukup jauh dari keduanya makna “cucu” disini berarti dzuriat atau keturunan.

Beberapa catatan:

1. Puyang Awak adalah putra dari Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang dengan salah seorang putri Panembahan Ratu yang tercatat memerintah Kesultanan Cirebon pada periode 1565-1649.

2. Panembahan Ratu dalam Silsilah Cirebon memiliki dua istri, yakni Ratu Harisbaya tidak memiliki anak dan Ratu Lampok Angroros (Nyi Ratu Pajang), putri Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir), memiliki 6 anak yakni:

1. Pangeran Seda Blimbing yang lahir tahun 1571.
2. Pangeran Arya Kidul yang lahir tahun 1572.
3. Pangeran Wiranagara yang lahir tahun 1573.
4. Ratu Emas yang lahir tahun 1575.
5. Pangeran Sedang Gayam yang lahir tahun 1578.
6. Pangeran Singawani yang lahir tahun 1581.

Dalam versi yang lain, anak ke-6 Panembahan Ratu adalah wanita bernama Nyi Mas Ratu Singawani.

3. Ibunda dari Syech Nurqodim al-Baharudin berdasarkan catatan masyarakat Sumatera Selatan adalah putri sulung Panembahan Ratu. Pada data diatas bernama Ratu Emas, yang dikisahkan menikah dengan Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang.

4. Dalam musyawarah ulama tahun 1650, mereka yang datang berasal dari wilayah Rumpun Melayu yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.

Tercatat hadir antara lain 40 ulama Malaka yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib dan beberapa utusan lain dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumpun Melayu lainnya.

5. Berdasarkan catatan KH. Abd Jabbar Ulama Semende

a. Puyang Awak (Nurgadin) adalah anak angkat Puyang Baharuddin di Muara Danau.
b. Isteri Puyang Awak adalah adik perempuan (kelawai) Puyang Leby (Abdul Qohar) tidak ada keturunan.
c. Suami adik perempuan (kelawai) Puyang Awak adalah Puyang Tuan Raje Ulie di Prapau Semende. 

Referensi: 
1. Mudzakarah Ulama abad ke-17
2. Keluarga Kesultanan Cirebon
3. Kitab Pangeran Wangsakerta
4. Kisah Puyang Awak Semende
5. Hukum Kewarisan Islam dan Adat Semende

WaLlahu a’lamu bishshawab