Category Archives: islam

Silsilah Mbah Kasan Sadali, Penyebar Islam di Rejenu Kudus

Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily (Mbah Kasan Sadali) merupakan salah satu murid Sunan Muria (Syaikh Maulana Umar Sa’id), yang berasal dari negeri seberang, berkelana hingga ke tanah Jawa selepas menuntut ilmu Tasawwuf di Negeri Baghdad, Iraq.

Di kemudian hari, Kanjeng Sunan Muria meminta kepada Syaikh Maulana Hasan Asy-Asyadzily untuk pergi ke sebelah utara, tepatnya di daerah Rejenu. Di wilayah ini Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily mendirikan padepokan untuk mempelajari ilmu keislaman bagi masyarakat setempat.

Nasab Silsilah Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily

Berdasarkan sanad silsilah yang terdapat di dalam Kanzul Wasilah wa Sanads Silsilah  Bani Maulana  Al daly Asy-Syadzily Langkat di Pulau Sembilan (Langkat, Sumatera Utara), berikut adalah sanad silsilah daripada Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily yang dipusarakan di Pertapan Alas Rejenu, Kudus, antara lain sebagai berikut :

(01). Syaikh Maulana Hasan Ali Nuruddin Asy-Syadzily Al Jawi
(02). Syaikh Maulana Muhammad Shalih Asy-Syadzily Al Bantani
(03). Syaikh Maulana Malik Abdurrahman Asy-Syadzily Al Malaka

(04). Syaikh Maulana Malik Abdullah Asy-Syadzily Waliyul Qutubuddin Al Jawi

(05). Syaikh Maulana Asy-Syarif Malik Ahmad Asy-Syadzily Al Jawi
(06). Syaikh Maulana Asy-Syarif Abdul Malik Asy-Syadzily

(07). Syaikh Maulana Asy-Syarif Abu Ahmad Awwaluddin Asy-Syadzily Al Quds

(08). Syaikh Maulana Asy-Syarif Abu Hasan Ali Nurruddin Asy-Syadzily
(09). Syaikhuna Maulana Al Quthub Asy-Syarif Abu Hasan Ali Asy-Syadzily
(10). Maulana Asy-Syarif Abu Abdullah Al Maghribi Al Aqsha

(11). Maulana Asy-Syarif Abdul Jabar
(12). Maulana Asy-Syarif Abu Thamiim
(13). Maulana Asy-Syarif Abu Hurmuz

(14). Maulana Asy-Syarif Abu Qushaiy
(15). Maulana Asy-Syarif Abu Yusuf
(16). Maulana Asy-Syarif Abu Yushaqq

(17). Maulana Asy-Syarif Abu Wardha
(18). Maulana Asy-Syarif Abu Batthal
(19). Maulana Asy-Syarif Abu Ali

(20). Maulana Asy-Syarif Abu Ahmad
(21). Maulana Asy-Syarif Abu Muhammad

(22). Maulana Asy-Syarif Abu Issa
(23). Maulana Asy-Syarif Abu Idhris
(24). Maulana Asy-Syarif Abu Umar

(25). Maulana Asy-Syarif Abu Idhris
(26). Maulana Asy-Syarif Abu Abdullah
(27). Asy-Syarif Hasan Al Mutsanna Radhiyallahu ‘anhu

(28). Sayyiduna Asy-Syarif Hasan As-Sabti Radhiyallahu ‘anhu

(29). Sayyidina Ali Al Haidar bin Abi Thalib Karamallahu wajhah

Sumber :
1. Rabithah Syaikh Maulana Daly Asy-Syadzily
2. Mudzakarah Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily Rejenu Al Jawi

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantra :

1. [Misteri] Penduduk Jawa berasal dari Sumatera ?
2. [Misteri] Benarkah Masyarakat Nusantara adalah Zuriat Rasulullah ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. Hikayat Nakhoda Khalifah, Pelopor Kesultanan Islam di Negeri Sriwijaya ?

Iklan

[Misteri] Pangeran Santapura, Penyebar Islam pada abad ke-8 Masehi di Tanah Jawa ?

Pangeran Santapura adalah putera dari Prabu Lembu Agung, yang merupakan Raja Sumedang di tahun 778 M. Ibundanya bernama Nyai Banon Pujasari, yang merupakan puteri dari Hidayat dan Sari Fatimah.

Dari ciri nama keluarga Nyai Banon Pujasari, menunjukkan bahwa mereka berasal dari keluarga muslim, yang telah bertempat tinggal di tanah Jawa pada abad ke-2 Hijriyah (sumber : hsumedangtandang.com).

Misteri Pangeran Santapura

Dalam situs sumedang online, diceritakan setelah Prabu Lembu Agung (Jayabrata) turun tahta, Pangeran Santapura tinggal di padepokan Lemah Sagandu Cipaku.

Disanalah Sang Pangeran bersama kerabat mendapat pengajaran ilmu keagamaan dan ilmu Kadarmarajaan. Sepertinya Prabu Lembu Agung sengaja mempersiapkan Pangeran Santapura untuk mensyiarkan Agama Tauhid di tanah Jawa (sumber : sumedangonline.com).

Keberadaan sosok Pangeran Santapura bisa dibuktikan dengan adanya situs arkeologi di wilayah Jatigede Kabupaten Sumedang, yang didalamnya terdapat makam kuno yang dipercaya sebagai makamnya Pangeran Santapura (sumber : cipaku darmaraja blog).

Kehadiran Penyebar Islam di Tanah Jawa di masa abad ke-8 Masehi, semakin memberi keyakinan kepada kita, bahwa Islam di Nusantara telah ada sejak era para sahabat Rasulullah (sumber : ).

Dan pemeluk Islam bukan hanya berasal dari kalangan pedagangan asing, melainkan juga sudah dianut rakyat pribumi biasa, bahkan sudah menyebar di kalangan keluarga kerajaan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. Hikayat Nakhoda Khalifah, Pelopor Kesultanan Islam di Negeri Sriwijaya ?
3. Alhamdulillah… Makam Tokoh Betawi, PITUNG ditemukan di Palembang !!!
4. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?

jangan mencari musibah, dan carilah takdir terbaik bagimu

Ada dua kisah menarik, yang berkaitan dengan cara kita dalam memahami takdir ALLAH

(1). Jangan Menguji ALLAH

Imam Abul Faraj Ibnul Jauzy (508-597), di Kitab Al Adzkiyaa’  meriwayatkan bahwa Iblis pernah datang menemui Nabiyyullah ‘Isa ‘Alaihissalam.

Berkatalah Iblis, “Hai ‘Isa! Bukankah engkau yakin, bahwa segala yang tak ditakdirkan oleh Allah, tidak akan menimpamu?”

Ya,” jawab Nabi Isa

“Kalau begitu, coba engkau terjun dari atas gunung ini. Kalau Allah menakdirkan selamat, pasti engkau akan selamat”, ujar Iblis lagi.

Dengan tenang, ibnu Maryam ‘Alaihissalam menjawab, “Sesungguhnya Allah berhak menguji para hambaNya. Tapi seorang hamba tidak punya hak sama sekali untuk menguji Allah!” (sumber : salimafillah.com).

(2). Carilah Takdir Yang Terbaik

Diceritakan, sebagai seorang khalifah, Umar bin Khathab pernah berencana melakukan kunjungan ke Suriah. Tiba-tiba terbetik berita bahwa di daerah itu sedang terjadi wabah penyakit menular.

Lalu, Khalifah Umar membatalkan rencana kunjungannya itu.

Para sahabat banyak yang protes atas sikap Umar itu. ”Apakah Tuan hendak lari dari takdir Allah?” tanya mereka.

Jawab Umar, ”Aku lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.”
(sumber : republika.com)

Dua kisah diatas, memberikan pencerahan kepada kita, agar jangan mencari musibah dengan menguji kekuasaan ALLAH. Namun carilah takdir terbaik bagi kita, karena ALLAH telah menciptakan kesempatan baik dan kesempatan buruk, selanjutnya manusia memilih, untuk menetapkan takdirnya sendiri.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1.
2. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?
4. Mengapa Rasulullah memerintahkan Bilal, untuk mengumandangkan Adzan di atap Ka’bah?

[Misteri] Raja Jawa yang bergelar “Sultan Abdullah Muhammad Maulana Jawi Matarami” ?

Dalam upaya memperkuat legitimasi sebagai Raja Jawa, Susuhunan Agung Hanyakrakusuma mengirim utusan ke pusat kuasa dunia Islam pada masa itu Kekhalifahan Turki Utsmani. Kapal utusan Mataram berlayar dari Jepara, singgah di Palembang hingga sampai ke Aceh.

Atas izin Sultan Iskandar Tsani (Sultan Aceh, 1636-1641) yang merupakan sahabat dari Susuhunan Mataram, duta Mataram dikawal oleh Kapal Angkatan Laut Aceh ketika berlayar menuju Turki.

Kesultanan Mataram dalam Simbol Budaya Islam

Dalam satu catatan, Utusan Mataram berhasil menghadap Sultan Murad IV (1623-1640) di tahun-tahun terakhir pemerintahannya.

Dan bagi Susuhunan Agung Hanyakrakusuma, dihadiahkan gelar “Sultan ‘Abdullah Muhammad Maulana Jawi Matarami”, disertai tarbusy (tutup kepala) untuk mahkotanya, bendera, pataka, dan sebuah guci yang berisi air zam-zam. Utusan itu kembali ke Mataram dan tiba di Kedhaton Karta di Plered pada tahun 1641.

Model tarbusy ini kelak akan terus dikenakan oleh para keturunan Sultan Agung, dalam penobatan raja-raja Dinasti Mataram.

Sepasang benderanya yaitu berupa sejahit bagian Kiswah Ka’bah dan sejahit bagian satir makam Rasulullah menjadi Kyai Tunggul Wulung dan Kyai Pare Anom. Sementara guci hingga kini berada di makam Susuhunan Agung dengan nama Enceh Kyai Mendung dari Sultan Rum.

Sejak tahun 1641, Raja Jawa menggunakan gelar barunya, Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami Susuhunan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah, dan memantapkan dirinya sebagai pemimpin tertinggi agama Islam di Jawa (sumber : Para Sultan Santri).

Catatan Penambahan : 

1. Keberadaan utusan Mataram, sepertinya terkait dengan kehadiran utusan Sultan Agung yang dipimpin oleh Ki Ageng Gribig di Palembang tahun 1636. Namun dikatakan tujuan dari kedatangan Ki Ageng Gribig adalah untuk membantu mengatasi gejolak politik di Palembang (sumber : ).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Majapahit :

1. [Misteri] Penduduk Jawa berasal dari Sumatera ?
2. 
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. 

[Misteri] Penduduk Jawa berasal dari Sumatera ?

Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, jumlah pasukan Sriwijaya di tahun 682 Masehi mencapai 20.000 tentara.

Apabila perbandingan 1 prajurit Sriwijaya sama dengan 570 penduduk Sumatera, maka jumlah penduduk Sumatera sekitar  11.400.000 jiwa atau 62,28 % dari masyarakat di Asia Tenggara pada masa itu (sumber : ).

Kisah Migrasi Penduduk Sumatera

Perpindahan penduduk Sumatera ke Pulau Jawa, telah dimulai sejak abad 1 Masehi. Hal ini sebagaimana tercatat dalam Naskah Wangsakerta, yang menuturkan 2 Leluhur Aki Tirem (Sesepuh masyarakat Jawa, abad 1 Masehi), bernama Aki Bajulpakel berasal dari Swarnabumi (Sumatera) bagian Selatan, dan Datuk Pawang Marga dari  Swarnabumi bagian Utara (sumber : ).

Puncak kepadatan penduduk Sumatera di masa lalu, diperkirakan terjadi pada saat berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Sebagian penduduk Sumatera kemudian hijrah, untuk mencari daerah-daerah baru yang masih tidak bertuan.

Ketika pada abad ke-9 Masehi, Dinasti Syailendra berhasil menguasai bumi mataram kuno. Diperkirakan banyak penduduk sumatera yang merantau ke pulau Jawa.

Pada sekitar awal abad-14 Masehi, sebagian Penduduk Sumatera bagian Selatan hijrah ke luar pulau. Mereka mengikuti perjalanan Sang Suparba, sebagaimana dikisahkan dalam Sejarah Melayu (sumber : ).

Kejadian awal abad ke-14 Masehi, terulang lagi pada sekitar akhir abad ke-15 Masehi. Penduduk Sumatera bagian Selatan banyak yang berpindah ke Pulau Jawa, sebagian ikut Raden Fattah membangun Kesultanan Demak, sebagian lagi ikut Raden Kusen menjadi penduduk wilayah Terung dan sekitarnya.

Ramainya Penduduk Sumatera di masa silam, bukan sesuatu yang mengherankan. Hal ini dikarenakan berdasarkan temuan arkeologis, sejak 3.000 tahun yang silam, di pulau Sumatera telah terjadi interaksi antara dua ras nenek moyang Nusantara, yakni ras Mongoloid dan ras Australomelanesid (sumber :  dan Timing the first human migration into eastern Asia).

Berdasarkan fakta-fakta diatas, tidak berlebihan apabila dikatakan, asal muasal Penduduk Jawa sejatinya sebagian berasal dari Pulau Sumatera.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Berdasarkan Perhitungan Reid, pada tahun 1815 Penduduk Jawa diperkirakan mencapai 6,5 juta jiwa (sumber : ayo ke tanah sabrang).

Jika dalam per tahunnya ada kenaikan 1%, maka di tahun 1200 Masehi diperoleh data penduduk jawa baru mencapai 15.000 jiwa. Sementara di Sumatera sendiri, di tahun 682 Masehi jumlah prajurit Sriwijaya saja sudah berjumlah 20.000 jiwa.

Dengan demikian dari perbandingan data ini, pada masa sebelum abad ke-13 Masehi, Penduduk Sumatera jauh lebih banyak dari Penduduk Jawa.

Artikel Sejarah Nusantara :
1. Teori Migrasi Manusia, menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Keajaiban dari Nilai Numerik 9 dalam Sejarah Nusantara ?3. Identifikasi Zealandia, Legenda Benua MU dan Mitologi Garuda ?
4. [Misteri] asal muasal Bangsa Jawa, menurut Legenda dan Catatan Sejarah ?

Hikayat Nakhoda Khalifah, Pelopor Kesultanan Islam di Negeri Sriwijaya ?

Menjelang akhir Dinasti Umayyah, sekelompok ulama di Kota Baghdad membaiat Syarif Muhammad al-Nafs al-Zakiyya sebagai Khalifah. Namun upaya kalangan ulama Baghdad ini kandas, dengan munculnya kekuatan baru di Jazirah Arab yang kemudian dikenal sebagai Bani Abbasiyah (750-1258).

Ada sumber yang menyatakan tokoh ulama pendukung kepemimpinan Syarif Muhammad, diantaranya Nu’man ibnu Thaabit (Imam Abu Hanifah), pengasas Mazhab Hanafi serta Imam Malik, pengasas Mazhab Maliki.

Panasnya situasi di awal berdirinya Bani Abbasiyah, membuat  Syarif Muhammad hijrah dari Kota Baghdad. Setelah berpindah-pindah dari Madinah, Makkah dan Yaman, Syarif Muhammad memutuskan untuk menjelajahi samudra untuk berdakwah menuju negeri-negeri timur. Syarif Muhammad kemudian dikenali sebagai Nakhoda Khalifah, Syarif Muhammad al-Baghdadi (sumber : misteri nakhoda khalifah, sejarah kesultanan perlak).

Nakhoda Khalifah di Nusantara 

Pelayaran dakwah Nakhoda Khalifah, telah meninggalkan jejak-jejak sejarah di negeri-negeri yang ia singgahi.

Rombongan dakwah Nakhoda Khalifah tercatat menyinggahi wilayah Sindh India. Di daerah ini, Syarif Muhammad menempatkan salah seorang puteranya, yang kemudian dikenal masyarakat Pakistan sebagai Abdullah Shah Ghazi (sumber : wikipedia.org).

Berdasarkan Kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy, pada tahun 173 H (800 M), Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i di bawah pimpinan Nahkoda Khalifah.

Sebagian dan anggota rombongan itu kemudian menikah dengan penduduk lokal, salah satunya putera Nakhoda Khalifah bernama Syarif Ali bin Muhammad, yang menikah dengan adik Penguasa Perlak bernama Puteri Makhdum Tansyuri Dewi (sumber : atjehcyber.netKesultanan Perlak).

Sumber Kedah mencatat, Syarif Ali pada tahun 804 M, diangkat menjadi Penguasa Perlak Kedah, dengan gelar Sultan Alirah Shah (Sultan Perlak Kedah, 804-840).

Sepeninggal Syarif Ali, kedua puteranya memimpin wilayah Perlak Kedah, yaitu Kerajaan Perlak oleh Sultan Alaidin Maulana Abdul Aziz Syah (Sultan Perlak, 840-864) dan Kerajaan Kedah Islam, oleh Sultan Hussain Syah Alirah (Sultan Kedah Islam, 840-881) (sumber : [Misteri] Benarkah Masyarakat Nusantara adalah Zuriat Rasulullah ?).

Menurut keterangan Ibnu Hordadzbeth (844-848 M), Sulayman (902 M), Ibnu Rosteh (903 M), Abu Zayid (916 M), dan ahli geografi Mas’udi (955 M), menyebutkan di negeri Sriwijaya terdapat Kesultanan (Sribuza) yang berada di bawah kekuasaan Raja Zabag. Kemungkinan besar Kesultanan Islam yang dimaksud adalah Kesultanan Perlak dan atau Kesultanan Kedah Islam, yang telah wujud pada sekitar tahun 804 M (sumber : Sejarah Nusantara).

Catatan Penambahan :

1. Silsilah Nakhoda Khalifah sampai kepada Rasulullah adalah sebagai berikut : Nakhoda Khalifah (Syarif Muhammad al-Nafs al-Zakiyya) bin Syarif Abdullah al-Kamil bin Syarif Hassan al-Muthanna bin Sayyidina Hassan radhiallahu ‘anhu bin Sayyidatuna Fatimah az Zahra binti Sayyidina Muhammad Rasulullah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola India ?
4. [Misteri] Dinasti Tang, Kekaisaran Muslim China (618-907), dalam catatan Abu Dulaf Al-Muhalhil di tahun 940 Masehi ?

[Misteri] Silsilah Fatimah binti Maimun, dalam Kitab Pangeran Wangsakerta Cirebon ?

Ada yang aneh dalam kisah Fatimah binti Maimun, pelopor mubaligh muslimah di tanah Jawa. Ia diceritakan sebagai keponakan dari Maulana Malik Ibrahim, penyebar Islam abad ke-15 Masehi, sementara Fatimah binti Maimun sendiri lahir pada abad ke-11 Masehi.

Untuk mengurai asal muasal Fatimah binti Maimun, salah satu sumber yang bisa dijadikan pedoman adalah hasil penyelusuran ahli sejarah Cirebon abad ke-17 yaitu Pangeran Wangsakerta.

Misteri Fatimah binti Maimun

Fatimah binti Maimun lahir di pada tahun 1064 Masehi. Berdasarkan penyelusuran Pangeran Wangsakerta, Fatimah binti Maimun merupakan puteri dari Maimun bin Hibatullah bin Muhammad Makhdum Sidiq.

Ayahanda Fatimah binti Maimun, berdasarkan legenda Gresik merupakan sepupu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim, atau dengan dengan kata lain keduanya adalah cucu dari Muhammad Makhdum Sidiq.

Menarik gelar “Makhdum” pada sosok Muhammad Makhdum Sidiq, yang merupakan ciri dari nama keluarga dinasti Makhdum yang menjadi penguasa Kesultanan Perlak Aceh. Dari data ini bisa diambil asumsi bahwa jalur silsilah Fatimah binti Maimun berasal dari Kesultanan Perlak.

Pada abad ke-11, dalam silsilah Kesultanan Perlak ditemukan nama Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (Sultan Perlak, 986-1023). Nama Sultan Perlak inilah sejatinya paman dari Fatimah binti Maimun yang disebut-sebut dalam Legenda Gresik.

Sementara nama Muhammad Makhdum Sidiq, tidak lain adalah kakek dari Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat, yaitu bernama Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (Sultan Perlak, 932-956).

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada diagram berikut :


Referensi :
1. sufiz.com
2. suaragresik.com
3. Kesultanan Perlak

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Dalam salah satu versi dikatakan Siti Fatimah binti Maimun adalah puteri Raja Kedah Malaka dan merupakan keturunan ke-16 dari Nabi Muhammad (sumber : utusan.com).

Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan Fatimah binti Maimun masih terhitung kerabat daripada :

Sultan Abdul Kadir (Sultan Kedah, 881-903) bin Sultan Hussain Shah Alirah (Sultan Kedah, 840-881) bin Syarif Ali Sultan Alirah Shah (Sultan Perlak Kedah, 804-840) bin  Syarif Muhammad Nafs Zakiyah bin Syarif Abdullah al-Kamil bin Sayyidina Hassan al-Muthanna bin Sayyidina Hassan radhiallahu ‘anhu…

2. Perlu pengkajian lagi terhadap silsilah Fatimah binti Maimun, yang bersumber dari catatan Pangeran Wangsakerta, dimana menyatakan…

Rasulullah Nabi Muhammad berputri Fatimah yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib, yang berputra Husain, kemudian berputra Zainal Abidin. Dari Zainal Abidin menurunkan Muhammad Al-Baqir, ayahanda dari Ja’far Shadiq, yang berputra Ali Al-Uraidi…

Ali Al-Uraidi adalah ayahanda Sulaiman Al-Basri, yang menetap di Persi. Sulaiman Al-Basri menurunkan Abu Zain Al-Basri, kemudian menurunkan Ahmad Al-Baruni, ayah Sayyid Idris Al-Malik, yang berputra Muhammad Makdum Sidiq, yang terakhir ini adalah ayah Hibatullah, kakek Fatimah binti Maimun (sumber : sufiz.com dan madawis blog).

Dengan membandingkan kepada Genealogy Ahlul Bayt, ternyata tidak ditemukan nama Sulaiman Al-Basri, sebagai salah seorang putra Ali Al-Uraidi (sumber : benmashoor blog).

Artikel Sejarah Nusantara
1. [Misteri] Benarkah Masyarakat Nusantara adalah Zuriat Rasulullah ?
2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola India ?
4. [Misteri] Kudeta Kekuasaan Wangsa Syailendra, dan bangkitnya Trah Keluarga Dapunta Hyang ?