Category Archives: kanzunQALAM

[Kelirulogi] Benarkah Membaca Surat al-Jin Dapat Memanggil Makhluk Astral (Jin)?

Ada pendapat yang mengatakan, jika kita membaca salah satu surah dalam Al Qur’an, yakni Surah al-Jinn, maka kita bakal didatangi oleh makhluk astral (jin), benarkah demikian?

Seperti diketahui, Surah al-Jinn (Arab: الجنّ ,”Jin”) sendiri merupakan surah ke-72 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong dalam surah Makkiyah dan terdiri atas 28 ayat (sumber: wikipedia.org).

Ilustrasi, sumber: republika.co.id

Komunitas Jin Mendengar Bacaan Al Qur’an

Dalam pembahasan di situs konsultasisyariah.com, surah ini dinamakan surah al-Jinn karena di dalamnya bercerita tentang sekelompok jin yang mendengarkan bacaan al-Quran, hingga mereka masuk Islam.

Kemudian mereka kembali ke komunitas para jin dan mendakwahkan islam kepada kaumnya tersebut. Allah berfirman,

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا . يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا . وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya.

Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (QS. al-Jin: 1-3)

Di dalam ayat tersebut diceritakan, sekelompok Jin yang beriman kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mendengarkan ayat al-Quran. Selain itu, peristiwa tersebut juga ditemukan dalam surat al-Ahqaf:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ . قَالُوا يَاقَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”.

Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (QS. al-Ahqaf: 29-30)

Terkait momen di atas, para ulama ada perbedaan pendapat yakni, apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah secara sengaja membacakan ayat al-Quran khusus untuk jin ataukah beliau membaca biasa, kemudian ada jin yang ikut mendengarkan?

Bukan Ayat Memanggil Jin 

Dengan memperhatikan isi dari surat al-Jin yakni bercerita tentang keberadaan jin yang mendengarkan ayat al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sementara kita sendiri tidak tahu, surat apa yang kala itu sedang dibaca oleh Nabi Muhammad hingga didengar para jin (sumber: membaca surat Al-Jin).

Hal ini memberi gambaran kepada kita, membaca surat al-Jin atau membaca surat al-Ahqaf tidak ada kaitannya dengan menghadirkan makhluk astral (jin). Karena ayat ini membahas tentang keberadaan jin yang beriman, dan bukan bacaan untuk mengundang makhluk gaib, jelas ini keliru.

Makhluk astral (jin) memang pernah hadir, mendengarkan serta turut memperhatikan bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan setelah itu, mereka menjadi mualaf dan menjadi da’i, kemudian mengajak bangsa jin untuk masuk islam.

Berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud menyebutkan, bahwa ada da’i dari kalangan jin yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau membacakan ayat al-Quran kepadanya.

أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ فَذَهَبْتُ مَعَهُ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ

Ada seorang dai dari kalangan jin yang mendatangiku, lalu aku pergi bersamanya dan aku bacakan al-Quran kepadanya. (HR. Muslim 450)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Iklan

Fenomena Manusia Listrik Asal Sumsel? Jika Bukan Sulap, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Dunia maya dibuat heboh oleh seorang siswa dari SMA Negeri Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan (Sumsel). Bagaimana tidak, lewat tayangan video pelajar yang bernama Ade Putra tersebut mampu menyetrum gurunya hanya dengan menyentuh.

Sebagaimana dilansir tribunnews.com (21/1/2019), Siswa SMA yang dijuluki manusia listrik ini juga mampu membakar kertas melalui aliran energi listrik yang ada di tubuhnya, dengan perantaraan tongkat kecil miliknya.

sumber: instagram.com/p/BsubFk6F8jc/

Ade yang merupakan warga Desa Lawang Agung ini mengaku tidak ingin lagi memperagakan aksi aksinya dikarenakan tidak diperbolehkan ibunya. Menurut Ade energi yang dimilikinya memang benar benar ada, dan bisa ia kendalikan.

Namun ada kalangan menduga, aksi Ade tersebut hanyalah trik sulap biasa. Kemampuan dirinya membakar kertas dikarenakan menggunakan alat bantu yang sudah di desain khusus untuk pertunjukan sulap.

Menurut pengamatan seorang ahli, kemungkinan Ade memakai dua cairan yang jika disatukan akan keluar api. Nama cairannya adalah PK dan gliserin, dimana pada tongkat diberi cairan PK dan pada kertasnya terdapat cairan gliserin atau sebaliknya.

Penjelasan Ilmiah Listrik Dalam Tubuh Manusia 

Terlepas pro kontra apakah aksi Ade Putra merupakan trik sulap atau bukan, ternyata berdasarkan penelitian di dalam tubuh manusia memang terdapat muatan listrik.

Seperti ditulis dalam situs wattpad.com, menurut Prof Drs Physiol dan Dr Santoso Giriwijoyo, pada sel-sel tubuh manusia yang jumlahnya mencapai lebih satu triliun, masing-masing bermuatan listrik sebesar 90 v/m dengan muatan positif di luar membran sel dan muatan negatif di dalamnya.

Apabila muatan listrik antara sel satu dengan lainnya dibuat hubungan seri, maka tubuh manusia berpotensi menghasilkan tegangan listrik. Untuk menghasilkan tegangan 220 v, hanya diperlukan 2,500 sel saja dari satu triliun sel yang ada dalam tubuh manusia.

Fenomena Manusia Listrik

Fenomena yang dialami Ade, ternyata juga pernah terjadi pada tahun 1988 yakni pada seorang bernama Xue Dibo asal China. Setiap kali dirinya menyentuh orang, maka orang tersebut akan kesetrum.

Dan ketika Xue Dibo mampu mengendalikan listrik dalam tubuhnya, ia bisa menyembuhkan berbagai penyakit dengan cara mengalirkan gelombang listrik ke tubuh pasien.

Hal yang sama juga terjadi pada pria asal Australia bernama Frank Clewer. Seperti ditulis palingseru.com,  suatu hari Frank memasuki sebuah gedung perkantoran untuk memulai wawancara kerja. Dan seketika karpet yang diinjaknya terbakar.

Beruntung kebakaran bisa diatasi setelah mendatangkan petugas pemadam kebakaran.  Ketika petugas pemadam kebakaran melakukan penyelidikan secara menyeluruh, mereka menemukan kalau penyebab kebakaran tersebut adalah pakaian yang dikenakan oleh Frank.

Pada waktu itu, Frank mengenakan jaket yang terbuat dari bahan nylon sintetis dan kemeja wol. Pakaian itu telah menyebabkan Frank menumpuk listrik statis di tubuhnya. Dan saat petugas pemadam kebakaran mengadakan pengukuran dengan alat pengukur listrik, mereka menemukan aliran listrik yang ada di tubuh Frank mencapai 40.000 volts.

Koalisi Adil Makmur: Terapkan Pengurangan Pajak Pengusaha dalam Gagasan Ibnu Khaldun?

Pada debat pertama Pilpres 2019, Capres Prabowo Subianto menargetkan 16% untuk rasio pajak dalam arti luas, selama waktu 5 tahun. Dalam upaya mencapai target tersebut tim sukses Koalisi Adil Makmur, Dradjad Wibowo mengatakan akan menggunakan gagasan dan observasi Ibnu Khaldun.

Sebagaimana dilansir republika.co.id (19/1/2019), Dradjad mengakui menaikkan rasio pajak adalah pekerjaan yang amat berat. Ini karena basis pajak Indonesia masih relatif rendah.

Ibnu Khaldun, sumber: detik.com

Kondisi ini antara lain disebabkan kesadaran dan ketaatan pajak yang rendah. Sehingga diperlukan langkah terobosan dalam menaikkan basis pajak. Dan langkah pertama yang ditempuh adalah memanfaatkan Kurva Laffer.

Dradjad menjelaskan Kurva Laffer diperkenalkan oleh Arthur B. Laffer. Laffer pernah menjadi anggota Economic Policy Advisory Board dari Presiden Ronald Reagan, dan secara terbuka mengakui bahwa kurva tersebut mengambil gagasan dan observasi dari Ibnu Khaldun.

Dalam kurva Laffer penerimaan perpajakan adalah 0 pada saat tarif 0%, lalu naik menuju penerimaan pajak maksimum pada tarif optimal tertentu, namun kemudian turun lagi menuju 0 pada tarif 100%.

Bukti empiris tentang Kurva Laffer memang masih diperdebatkan. Beberapa kebijakan yang dipakai Laffer sebagai bukti diantaranya pajak di Rusia, negara-negara Baltik serta pajak dalam beberapa periode di Amerika Serikat.

Seperti dikutip dari situs nu.or.id, pada konsep pajak Ibnu Khaldun dilakukan pengurangan beban pajak pengusaha dan produsen dengan tujuan mendorong produktivitas perusahaan serta memastikan keuntungan yang lebih besar untuk pengusaha sehingga berimplikasi pada pendapatan pemerintah.

Dalam karyanya yang berjudul Muqadimah, Ibnu Khaldun menulis “…. menurunkan sebanyak mungkin jumlah pajak individu yang dipungut pada orang yang mampu melakukan usaha. Dengan cara ini, orang-orang semacam itu akan secara psikologis cenderung melakukan usaha karena mereka yakin akan mendapat keuntungan“.

Ketika beban pajak pelaku usaha rendah, maka mereka akan memiliki dorongan dan keinginan untuk melakukan sesuatu. Sehingga usaha akan tumbuh dan meningkat dikarenakan pajak yang rendah sehingga membawa kepuasan terhadap pelaku usaha. Ketika perusahaan tumbuh, jumlah taksiran pajak individu meningkat sehingga meningkatkan pendapatan pajak.

Ibnu Khaldun memahami bahwa tarif pajak dan pendapatan pajak adalah dua hal yang berbeda. Tarif pajak yang tinggi bagi Ibnu Khaldun bukanlah jaminan bahwa pendapatan pajak akan maksimal. Bahkan pendapatan pajak akan berkurang setelah tahap tertentu.

Tarif pajak yang tinggi tidak mendorong upaya kerja dan mendorong penghindaran pajak, yang berakibat basis pajak akan menyusut karena tarif pajak yang tinggi. Ketika pelaku usaha membandingkan pengeluaran dan pajak yang tinggi dengan pendapatan dan keuntungan yang kecil, mereka kehilangan semangat dalam berproduksi.

Jika Kutub Magnet Bumi Berubah, Apa Arah Kiblat Ikut Berubah? Berikut Fakta dan Solusinya

Belakangan ini kita dihebohkan dengan berita terkait kemungkinan kutub magnet bumi berbalik arah. Terjadinya perubahan kutub magnet bumi tentu akan mengacaukan navigasi satelit serta kompas sebagai petunjuk arah.

Sebagaimana dilansir kompas.com (18/1/2019). salah satu yang dikhawatirkan adalah kemungkinan untuk merevisi arah utara dan selatan yang selama ini kita ketahui.

Iluastasi Kompas dan Kiblat, sumber: infohaji.co.id

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengungkapkan revisi mungkin tidak diperlukan, namun akan ada koreksi arah utara yang ditunjukkan kompas beberapa derajat sesuai tabel koreksi atau aplikasi koreksi deklinasi magnetik.

Hal senada diungkapkan seorang astronom, Marufin Sudibyo, menurutnya Indonesia yang berada di kawasan khatulistiwa, pergeseran kutub-kutub geomagnet setiap tahunnya tidak memberikan banyak pengaruh.

Marufin menambahkan deklinasi magnetik di Indonesia berharga kecil, maksimal senilai 5 derajat saja (yakni di pulau Papua). Dengan pengecualian untuk pengukuran-pengukuran yang membutuhkan akurasi sangat tinggi, maka kompas magnetik masih bisa digunakan di Indonesia tanpa membutuhkan banyak koreksi.

Meski tidak ada pengaruh yang besar, namun jika ternyata pergeseran kutub magnet bumi terjadi secara lebih ekstrim, bukan tidak mungkin diperlukan koreksi yang signifikan termasuk dalam penentuan arah kiblat shalat dengan menggunakan bantuan peralatan kompas.

Penentuan arah kiblat, sumber: dream.co.id

Penentuan Arah Kiblat Shalat Dengan Bayangan Matahari 

Sebetulnya ada cara praktis dalam penentuan arah kiblat shalat yakni dengan memanfaatkan bayangan matahari.

Seperti dikutip dalam situs al-habib.info, dalam satu tahun masehi, matahari singgah dua kali tepat di atas Ka’bah. Hal ini merupakan pengetahuan yang sudah lama diketahui.

Namun sepertinya masyarakat awam tidak banyak yang mengetahui momen ini, yang dalam bahasa arabnya disebut sebagai peristiwa Istiwa A’zham (Persinggahan Utama) atau juga disebut “rashdul qiblah”.

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Mei (atau 27 di tahun kabisat) pukul 12:18 waktu Mekah dan 16 Juli (atau 15 di tahun kabisat) pukul 12:27. Hal ini berarti semua orang yang bisa melihat matahari pada saat itu dan menghadapkan wajahnya ke sana berarti juga telah menghadapkan wajahnya ke kiblat.

Atau jika kita melihat bayangan benda yang tegak lurus di atas tanah, maka bayangan tersebut akan membentuk garis membelakangi arah kiblat. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah Indonesia, waktu kejadian momen tersebut adalah 28 Mei jam 16:18 WIB dan 16 Juli jam 16:27 WIB.

Dan dengan adanya peristiwa ini, bisa menjadi kesempatan bagi yang ingin mengecek atau melihat benar tidaknya arah kiblat yang digunakan selama ini silakan keluar pada waktu tersebut dan lihat matahari (atau bayangannya).

Masya Allah, Inilah Indahnya Jaminan Kesehatan di Era Khilafah Abbasiyah

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi, atau dikenali sebagai Rhazes di dunia Barat, merupakan salah seorang pakar sains yang hidup antara tahun 251-313 H/865-925 M. Dia hidup pada zaman Khilafah Abbasiyah, bertepatan pada era delapan Khalifah. Mulai dari Khalifah al-Muntashir (861-862 M) hingga Khalifah al-Muqtadir (902-932 M).

Sebagai ilmuwan sekaligus dokter, ar-Razi memberikan panduan kepada murid-muridnya, bahwa tujuan utama para dokter adalah menyembuhkan orang sakit lebih besar ketimbang niat untuk mendapatkan upah atau imbalan materi lainnya.

ilustrasi, foto: imansaputra.blogspot.com

Mereka diminta memberikan perhatian kepada orang fakir, sebagaimana orang kaya maupun pejabat negara. Mereka juga harus mampu memberikan motivasi kesembuhan kepada pasiennya, meski mereka sendiri tidak yakin. Karena kondisi fisik pasien banyak dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya (‘Abdul Mun’im Shafi, Ta’lim at-Thibb ‘Inda al-Arab, hal. 279).

Perhatian di bidang kesehatan seperti ini tidak hanya terbatas di kota-kota besar, bahkan di seluruh wilayah Islam, hingga sampai ke pelosok, bahkan di dalam penjara-penjara sekalipun.

Pada era itu, sudah ada kebijakan Khilafah dengan rumah sakit keliling. Rumah sakit seperti ini masuk dari desa ke desa. Perlu dicatat di sini, Khilafah saat itu benar-benar memberikan perhatian di bidang kesehatan dengan layanan nomor satu, tanpa membedakan lingkungan, strata sosial dan tingkat ekonomi.

Wazir Ali bin Isa al-Jarrah, yang menjadi wazir di masa Khalifah al-Muqtadir (908-932 M) dan al-Qahir (932-934 M), dan dikenal sebagai wazir yang adil dan ahli hadits yang jujur, juga penulis yang produktif, pernah mengirim surat kepada kepala dokter di Baghdad,

Aku berpikir tentang orang-orang yang berada dalam tahanan. Jumlah mereka banyak, dan tempatnya pun tidak layak. Mereka bisa diserang penyakit. Maka, kamu harus menyediakan dokter-dokter yang akan memeriksa mereka setiap hari, membawa obat-obatan dan minuman untuk mereka, berkeliling ke seluruh bagian penjara dan mengobati mereka yang sakit.” (Ibn Qifthi, Tarikh al-Hukama’, hal. 148).

Wazir Ali sendiri dikenal kaya raya. Pendapatannya 700.000 dinar per bulan. Tetapi, dari 700.000 Dinar itu, ia infakkan untuk kemaslahatan umat sebesar 680.000 dinar. Termasuk untuk wakaf dan lain-lain.

Para Khalifah dan penguasa kaum Muslim di masa lalu, bukan hanya mengandalkan anggara negara. Karena mereka juga ingin mendapatkan pahala yang mengalir, maka mereka pun mewakafkan sebagian besar harta mereka untuk membiayai rumah-rumah sakit, perawatan dan pengobatan pasiennya.

Di masa itu, dikenal istilah Waqf Khida’ al-Maridh (wakaf mengubah persepsi pasien). Sebagai contoh, Saifuddin Qalawun (673 H/1284 M), salah seorang penguasa di zaman Abbasiyah, mewakafkan hartanya untuk memenuhi biaya tahunan rumah sakit, yang didirikan di Kairo, yaitu rumah sakit al-Manshuri al-Kabir.

Dari wakaf ini juga gaji karyawan rumah sakit ini dibayar. Bahkan, ada petugas yang secara khusus ditugaskan untuk berkeliling di rumah sakit setiap hari. Tujuannya untuk memberikan motivasi kepada para pasien, dengan suara lirih yang bisa didengarkan oleh pasien, meski tidak melihat orangnya.

Bahkan, al-Manshur al-Muwahhidi, mengkhususkan hari Jumat, seusai menunaikan shalat Jumat, untuk mengunjungi rumah sakit, khusus memberikan motivasi kepada pasien.

Di antara motivasi para penguasa kaum Muslim kepada pasien yang terkenal adalah ungkapan Wazir Ali al-Jarrah,

Mushibatun qad wajaba ajruha khairun min ni’matin la yu’adda syukruha (Musibah yang pahalanya sudah ditetapkan lebih baik ketimbang nikmat yang syukurnya tidak ditunaikan).”

Judul Asli : Jaminan Kesehatan di Masa Khilafah Abbasiyah
Tulisan KH. Hafidz Abdurrahman, MA (Khadim Majlis-Ma’had Syaraful Haramain, FB: Wadah Aspirasi Muslimah)

Aksara Jawa, Latin dan Arab, Ternyata Bermula dari Huruf Mesir Kuno 5000 Tahun Yang Silam?

Setelah melalui kajian dan penyelusuran, ternyata cikal bakal aksara di dunia bermuara pada masa 5 ribu tahun yang lalu yakni bersumber dari huruf Hieroglyphs Mesir Kuno.

Pada perkembangan selanjutnya, skrip hieroglif ini berkembang menjadi aksara Proto-Sinaitic. Dan Proto-Sinaitic mengalami perkembangan menjadi 2 skrip yakni Phoenician dan aksara kuno Arab Selatan.


Skrip Phoenician terpecah menjadi 2 yakni menjadi aksara Greek dan Aramaic, dimana aksara Greek kemudian berkembang menjadi skrip Etruscan yang merupakan cikal bakal Huruf Latin dan Norse Runes. Selain itu aksara Greek berkembang menjadi skrip Armenian, Coptic, Georgian dan Cyrillic.

Sementara aksara Aramaic berkembang menjadi skrip Hebrew, Syriac dan Brahmi. Dari skrip Syriac inilah menjadi asal muasal Huruf Arab setelah sebelumnya berkembang menjadi skrip Nabataean.

Sedangkan aksara Brahmi yang mendapat pengaruh dari aksara Indus berkembang menjadi skrip Tamil-Brahmi, Kadamba dan Kalinga. Perkembangan selanjutnya skrip Tamil-Brahmi berkembang menjadi aksara Pallava (Pallawa).

Dari aksara Pallava inilah aksara-aksara di Nusantara berasal, setelah sebelumnya berkembang menjadi skrip Kawi. Dan dari skrip Kawi kemudian berkembang menjadi aksara Jawa, Sunda dan Lontara (sumber: The ABCD Family Tree).

Misteri Teks Kuno India, Membahas Teknologi Internet, Pesawat Tempur dan Nuklir?

Dalam kongres sains India ke-106, terjadi penolakan dari sejumlah ilmuwan India terhadap berbagai teori sains modern, termasuk teori Einstein dan Newton. Bahkan mereka menyebutkan sejumlah penemuan, seperti sel induk telah ada di negara itu pada zaman Hindu Kuno.

Sebagaimana dilansir kompas.com (15/1/2019), beberapa ilmuwan lain yang tidak setuju atas klaim-klaim tersebut sebaliknya mengecam berbagai pernyataan yang dikemukakan.

Vimana Pesawat India Kuno, sumber: ancientpages.com

Dalam acara itu, seorang rektor sebuah universitas di India Selatan mengutip teks Hindu Kuno sebagai bukti bahwa penelitian sel induk sudah ditemukan di India ribuan tahun yang lalu.

Lain halnya pendapat G Nageshwar Rao, Wakil Rektor Universitas Andhra. Rao mengatakan bahwa Rahwana, raja raksasa dari epos Ramayana, sudah memiliki 24 jenis pesawat dan jaringan jalur pendaratan modern di tempat yang sekarang disebut Sri Lanka.

Sementara ilmuwan lain dari sebuah universitas di selatan negara bagian Tamil Nadu mengatakan, teori Isaac Newton dan Albert Einstein salah. Dr KJ Krishnan mengatakan bahwa Newton gagal “memahami gaya tolak gravitasi”, sementara teori Einstein, menurutnya, “menyesatkan”.

Namun klaim-klaim tersebut mendapat bantahan dari Premendu P Mathur, Sekretaris Jenderal Asosiasi Kongres Ilmiah India, menurutnya teks-teks kuno tujuannya untuk dibaca dan dinikmati tapi tidak masuk akal untuk menyatakan bahwa itu semua mewakili sains.

Klaim Sains Ilmuwan India 

Terkait klaim sains yang berhubungan dengan mitologi bukan kali ini saja terjadi di India, berikut beberapa diantaranya:

1. Teknologi Internet dalam Bharata Yudha

Baru-baru ini, sekitar bulan April 2018 lalu, Biplab Deb, menteri dari negara bagian Tripur, mengatakan bahwa internet sudah ditemukan ribuan tahun lalu oleh orang-orang India kuno.

Deb mengatakan internet telah digunakan dalam perang Bharata Yudha. Menurutnya, selama perang berlangsung Sanjaya mampu memberikan laporan begitu rinci jalannya pertempuran yang terjadi.

Hal ini menurutnya, membuktikan bahwa India kuno saat itu sudah memiliki akses terhadap teknologi satelit dan internet.

2. Pesawat di era Ramayana

Pada tahun 2017, Menteri Muda Bidang Pendidikan India Satyapal Singh mengatakan bahwa pesawat terbang sudah disebutkan dalam epos Hindu kuno, Ramayana. Pesawat-pesawat India kuno ini dikenal dengan nama Vimana (sumber: Vimanas Of The Rama Empire: Iron Flying Machines Dominated Ancient Skies In The Far Distant Past).

Selain itu, Satyapal Singh menginformasikan pesawat diciptakan pertama kali oleh orang India bernama Shivakar Babuji Talpade delapan tahun sebelum Wright bersaudara membuatnya.

3. Nuklir di India sejak 100.000 Tahun Lalu

Pada tahun 2014, seorang anggota parlemen Ramesh Pokhriyal Nishank mengatakan bahwa “sains jauh ketinggalan dibanding astrologi”.

Dia menambahkan bahwa astrologi adalah “ilmu pengetahuan terbesar”. Tidak hanya itu, Nishank menyebut bahwa India sudah melakukan uji coba nuklir lebih dari 100.000 tahun yang lalu.

Bagi komunitas yang meyakini keberadaan teknologi tinggi di masa ribuan tahun yang lalu beranggapan bahwa manusia di masa silam pernah mencapai pengetahuan yang sangat tinggi.

Namun dikarenakan menghadapi bencana serta peperangan, teknologi tersebut musnah dan pada akhirnya peradaban manusia kembali ke titik nol.