Category Archives: sejarah

Ketika Nabi Muhammad Puasa Rajab dalam Pandangan Tafsir Imam Nawawi

Seperti yang dibahas dalam artikel sebelumnya, setidaknya ditemukan 20 hadits terkait bulan Rajab yang bersumber dari hadist-hadist lemah (dha’if) dan bahkan tidak sedikit yang palsu (maudhu’), munkar serta bathil.

Sehingga memunculkan pertanyaan, bagaimana sebenarnya hukum puasa di bulan Rajab ini? Adakah tuntutannya? Apakah memang benar-benar tidak ada riwayat shahih yang khusus meriwayatkan Nabi pernah melaksanakan puasa pada bulan rajab?

Sebagaimana dilansir pwmu.co, ada tertulis di dalam hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut.

عَنْ عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ

Utsman bin Hakim al-Anshari meriwayatkan, katanya: Aku pernah bertanya kepada Said bin Jubair seputar puasa Rajab, yang waktu itu kami sedang berada di bulan Rajab, maka jawabnya: Aku pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan: Rasulullah saw pernah berpuasa (Rajab) hingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah berbuka, tetapi beliaupun berbuka hingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah berpuasa. (HR Muslim).

Namun, Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan tentang hadits ini sebagai berikut:

الظَّاهِر أَنَّ مُرَادَ سَعِيد بْن جُبَيْر بِهَذَا اْلإِسْتِدْلاَلِ أَنَّهُ لاَ نَهْيَ عَنْهُ، وَلاَ نَدْبَ فِيهِ لِعَيْنِهِ، بَلْ لَهُ حُكْمٌ بَاقِي الشُّهُورِ، وَلَمْ يَثْبُتْ فِي صَوْمِ رَجَبٍ نَهْيٌ وَلاَ نَدْبٌ لِعَيْنِهِ، وَلَكِنَّ أَصْلَ الصَّوْمِ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ، وَفِي سُنَن أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَدَبَ إِلَى الصَّوْمِ مِنْ اْلأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَرَجَبٌ أَحَدُهَا

Zhahirnya apa yang dimaksud oleh Said bin Jubair terhadap riwayat yang dikatakan oleh Ibnu Abbas tersebut, bahwa berpuasa di bulan Rajab itu tidak ada larangan, juga tidak ada sunat khusus. Namun puasa itu sendiri (selain Ramadhan) adalah sunat.

Sementara dalam Sunan Abu Daud dikatakan : “Bahwa Rasulullah saw menyunatkan berpuasa di bulan- bulan haram, sedang Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan haram itu.” Yakni, di bulan- bulan haram, antara lain Rajab, disunatkan berpuasa, tetapi tidak ada puasa khusus selain puasa Arafah ( 9 Dzilhijjah) dan ‘asyura (10 Muharram).

Karena itu Ibnul Qayim kemudian mengatakan:

وَلَمْ يَصُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الثَّلاَثَةَ اْلأَشْهُرَ سِرْدًا كَمَا يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَلاَ صَامَ رَجَبًا قَطٌّ وَلاَ اسْتَحَبَّ صِيَامَهُ بَلْ رَوَى عَنْهُ النَّهْيُ عَنْ صِيَامِهِ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَّةِ

Nabi Muhammad tidak pernah puasa tiga bulan berturut-turut seperti yang biasa dilakukan oleh sebagian orang, juga tidak pernah berpuasa Rajab (secara khusus), juga tidak pernah menganjurkannya. Bahkan diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Rasulullah melarangnya.

Dalam kitab al-Ba’its dikatakan:

إِنَّ الصِّدِّيْقَ أَنْكَرَ عَلَى أَهْلِهِ صِيَامِهِ، وَ أَنَّ عُمَرَ كَانَ يَضْرِبُ بِالدَّرَّةِ صَوَامِهِ وَيَقُوْلُ: إِنَّمَا هُوَ شَهْرٌ كَانَتْ تَعَظَّمَهُ الْجَاهِلِيَّةُ

Abu Bakar as-Siddiq menghardik keluarganya yang berpuasa Rajab. Sedang Umar pernah memukul orang yang sedang berpuasa Rajab dengan tongkat seraya berucap: Bulan Rajab hanyalah bulan yang biasa diagung-agungkan oleh masyarakat Jahiliyah.

Artinya, riwayat yang membicarakan puasa Rajab hanyalah hadits yang sifatnya umum yang memotivasi untuk melakukan puasa tiga setiap bulannya (ayyamul bidh) yaitu 13, 14, 15 dari bulan hijriyah.

Juga dalil yang ada sifatnya umum yang berisi motivasi untuk melakukan puasa pada bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Begitu pula ada anjuran puasa pada hari Senin dan Kamis. Puasa Rajab masuk dalam keumuman anjuran puasa tadi.

Kesimpulan:

Puasa Rajab secara khusus tidak ada, apalagi sampai ditentukan mulai tanggal 1 sampai 27. Sementara puasa Sunat, seperti Senin-Kamis, Daud atau ayyamul baidh di bulan Rajab itu baik-baik saja, berdasar anjuran Nabi untuk berpuasa di bulan-bulan haram.

Jika ingin puasa Rajab, maka pilihlah hari-hari yang disunnahkan: bisa ayyamul bidh, atau Senin-Kamis. Adapun pengkhususan bulan Rajab dengan puasa pada hari tertentu, tidak ada dalil yang mensyariahkannya.

Wallahu a’lam

Iklan

Identifikasi 3 Sosok Patih Gajah Mada Menurut Hikayat dan Naskah Kuno

Patih Gajah Mada merupakan tokoh yang sangat populer di Nusantara. Kecerdasannya dalam memimpin pasukan, membuatnya dikenang sebagai salah seorang panglima perang yang disegani.

Namun asal muasal Patih Gajah Mada masih menjadi polemik hingga saat ini. Kisahnya dalam Kitab Negara Kertagama ternyata berbeda dengan hikayat yang terdapat di dalam Sejarah Melayu dan Babad Tanah Jawi.

Petilasan Patih Gajah Mada di Prabumulih Sumatera Selatan

Dalam upaya mengidentifikasi Patih Gajah Mada, setidaknya dikemukan 3 sosok yang setelah diselusuri memiliki masa kehidupan yang berbeda-beda. Adapun ke-3 sosok itu adalah sebagai berikut:

1. Patih Gajah Mada I

Keberadaan Patih Gajah Mada I bersumber dari Kitab Negara Kertagama. Di dalam kitab tersebut, Sang Patih dikisahkan bersumpah yang dikemudian hari dikenal dengan nama “Sumpah Palapa”.

Patih Gajah Mada I ini hidup masa Kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389), dan berdasarkan beberapa hikayat terlibat langsung dengan peristiwa Perang Bubat.

Diperkirakan Patih Gajah Mada I inilah bersama dengan Panglima Arya Damar yang berhasil menguasai Bali. Dan banyak yang percaya Sang Patih “Moksa” di akhir kehidupannya.

2. Patih Gajah Mada II

Keberadaan Patih Gajah Mada II bersumber dari “Sejarah Melayu”. Dalam kitab yang berasal dari tulisan Tun Sri Lanang ini, Patih Gajah Mada II hidup di masa Majapahit dipimpin oleh seorang Ratu yang bernama Radin Galuh Wi Kesuma dan satu generasi dengan masa kehidupan Hang Tuah.

Apabila kita urutkan berdasarkan timeline, Sang Ratu Majapahit itu kemungkinan besar adalah Ratu Suhita (1427-1447), yang satu masa dengan pemerintahan Sultan Muzaffar Syah (1445-1459) dan dilanjutkan Sultan Mansyur Syah (1459-1477) dari Kerajaan Malaka.

Diperkirakan Patih Gajah Mada II inilah yang hijrah ke pulau Sumatera setelah lengser dari jabatannya. Hal itu dibuktikan dengan petilasan dan makamnya yang ditemukan di wilayah tersebut.

3. Patih Gajah Mada III

Keberadaan Patih Gajah Mada III bersumber dari Babad Tanah Jawi. Dalam kitab tersebut diceritakan Patih Gajah Mada III pergi ke negeri Champa untuk melamar putri Raja negara tersebut.

Patih Gajah Mada III ini hidup satu generasi dengan Syekh Maulana Ibrahim Asmoro dan diperkirakan ketika Majapahit dipimpin oleh Prabu Kertawijaya (1447-1451).

Diperkirakan Patih Gajah Mada III inilah yang kemudian masuk Islam, mengikuti agama yang dianut Prabu Kertawijaya (Prabu Brawijaya) sebagaimana diceritakan dalam naskah Babad Tanah Jawi.

KESIMPULAN:

Dengan munculnya 3 sosok Patih Gajah Mada yang berasal dari masa berbeda-beda, ada kemungkinan istilah “Gajah Mada” itu adalah nama jabatan dan sosoknya tidak hanya satu orang.

Sehingga wajar jika kemudian tokoh Patih Gajah Mada memiliki banyak versi, karena sejatinya orang yang memiliki gelar “Patih Gajah Mada” berganti-ganti di sepanjang sejarah pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Catatan Penambahan:

1. Patih Gajah Mada dalam babad tanah jawi.

2. Patih Gajah Mada dalam Sejarah Melayu, terbitan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi

3. Patih Gajah Mada dalam Kitab Negara Kertagama

wwanten dharmma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng langö, simanugraha bhûpati sang apatih gajamada racananyan ûttama, yekanung dinunung nareswara pasanggrahanira pinened rinûpaka andondok mahawan rikang trasungay andyus i capahan atirthasewana“ (Nag.19:2).

Bagaimana Pecandu Menjalani Hukuman di Masa Khalifah Umar?

Seorang pria asal Inggris kedapatan membawa obat-obatan terlarang di Singapura. Ia terancam hukuman mati, namun karena jumlah barang bukti di bawah 500 gram, maka dirinya dikenakan hukuman penjara 20 tahun serta hukuman cambuk karena kejahatannya itu.

Seperti dilansir sindonews.com, pihak Kementrian Luar Negeri Inggris sempat memprotes adanya hukuman cambuk tersebut, akan tetapi demi tegaknya hukum, eksekusi wajib untuk dilaksanakan.

sumber: sindonews.com

Pelaksanaan hukuman cambuk sebetulnya sudah diberlakukan Khalifah Umar sekitar 1400 tahun yang silam. Sang Khalifah menjatuhkan hukuman cambuk kepada seorang pecandu minuman keras yang bernama Abu Mihjan.

Berbeda dengan yang dilakukan pemerintahan Singapura, setelah mendapat hukuman cambuk Abu Mihjan masih bisa bebas beraktifitas tanpa harus menjalani hukuman penjara.

Seperti diberitakan republika.co.id, ternyata Abu Mihjan melakukan lagi perbuatannya, sehingga dirinya harus mendapat hukuman cambuk untuk yang kedua kalinya.

Setelah menjalani dua kali hukuman, Abu Mihjan kemudian diasingkan dengan harapan yang bersangkutan bisa intropeksi sekaligus mencegah perbuatannya di tiru oleh masyarakat sekitar.

Namun dikisahkan kemudian, Abu Mihjan melarikan diri, dan atas perintah Khalifah Umar kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, pecandu khamar ini berhasil diciduk dan dimasukkan ke dalam penjara.

Ketika terjadi perang Qadisiyah, Abu Mihjan meminta dirinya untuk bisa dibebaskan agar bisa membantu pasukan muslim yang sedang berperang melawan Persia. Abu Mihjan berjanji setelah perang, jika dirinya selamat akan kembali menjalani hukuman penjara.

Setelah permintaannya dikabulkan, Abu Mihjan menjadi faktor penentu dalam kemenangan kaum muslimin pada perang itu. Dan berkat jasanya tersebut Abu Mihjan dibebaskan dari hukuman, sekaligus membuat Abu Mihjan insyaf dengan tidak lagi minum khamar yang dilarang dalam ajaran Islam.

Kisah Abu Mihjan ini, memberi kita teladan bagaimana tahapan-tahapan untuk menghukum seorang pecandu (bukan bertindak sebagai pengedar) khamar atau zat-zat yang memabukkan.

Pemberlakuan hukuman cambuk bisa menjadi shock therapy bagi mereka yang baru mau mencoba-coba menjadi pecandu. Tahap selanjutnya ketika tidak berhasil yakni dengan diasingkan atau dalam bahasa sekarang direhabilitasi.

Dan hukuman penjara adalah hukuman terakhir yang diberikan, itupun jika yang bersangkutan melakukan tindakan melawan hukum. Selain itu upaya rehabilitasi baru diberikan setelah si pecandu tersebut menerima hukuman yang cukup berat.

Mengungkap Jati Diri Raja Majapahit Yang Menjadi Mualaf (Masuk Islam)

Berdasarkan Babad Tanah Jawi, salah seorang Raja Majapahit dikisahkan memeluk agama Islam (mualaf). Sang Raja diceritakan merupakan menantu dari Penguasa Champa serta menjadi ipar dari Makdum Brahim Asmara (Syekh Maulana Ibrahim Asmoro).

Di kalangan sejarawan terjadi beragam pendapat terkait jati diri dari sosok Raja Majapahit dalam kisah tersebut. Ada yang meyakini Sang Raja adalah Bhre Kertabhumi, sementara pendapat lain menyebut nama Sang Raja adalah Prabu Kertawijaya.

sumber: viva.co.id

Untuk mengungkap siapa sesungguhnya Raja Majapahit yang dimaksud, ada beberapa indikator yang harus kita perhatikan:

1. Berdasarkan pendapat Sejarawan Slamet Muljana, diperkirakan Putri Champa wafat pada tahun 1448 M. Hal ini bermakna Sang Raja memerintah Majapahit di tahun 1448 M atau sebelumnya.

2. Dalam kisah di atas, Raja Majapahit satu masa dengan periode kehidupan Syekh Maulana Ibrahim Asmoro, yang diperkirakan datang ke Jawa pada pertengahan abad ke-15 Masehi atau sekitar tahun 1440-1460.

Syekh Ibrahim Asmoro hijrah bersama dua orang putera dan seorang kemenakannya serta sejumlah kerabat, dengan tujuan menemui adik istrinya Dewi Darawati, yang menikah dengan Kerabat Kerajaan Majapahit.

3. Berdasarkan data Raja-Raja Majapahit, yang memerintah pada periode tersebut adalah Ratu Suhita (1429-1447) dilanjutkan Prabu Kertawijaya (1447-1451), lalu disusul Prabu Rajasawardhana (1451-1453) serta kemudian Prabu Purwawisesa (1456-1466).

Dari data tersebut, diperkirakan Raja Majapahit yang memeluk Islam tersebut adalah Prabu Kertawijaya. Temuan ini juga sekaligus mengungkap sosok dari ayahanda Raden Fattah berdasarkan kronologis Babad Tanah Jawi.

Berdasarkan penyelusuran di atas, Raden Fattah kemungkinan besar lahir sebelum tahun 1448, setelah ibunya Putri Champa wafat kemudian di bawa oleh Nyai Ratna Subanci ke Palembang yang pada saat itu dibawah pimpinan Adipati Arya Dillah (1445-1486).

Dengan demikian, Nyai Ratna Subanci bukan ibu kandung Raden Fattah, namun lebih tepatnya sebagai ibu asuhnya. Kemudian diceritakan Adipati Arya Dillah menikahi Nyai Ratna Subanci dan dari perkawinan ini melahirkan adik tiri (adik angkat) Raden Fattah yang bernama Raden Kusen.

Mengapa Abu Jahal Tidak Marah Disebut Kafir? Ini Penjelasannya

Polemik kata “Kafir” ternyata pernah terjadi di era Kolonial Belanda. Hal tersebut menimpa seorang ulama ternama asal Kudus, Kiai Haji Raden Asnawi yang merupakan A’wan Syuriah Nahdlatul Ulama.

Sebagaimana dilansir historia.id, Kiai Asnawi dihadapkan ke Pengadilan Negeri (landraad) karena tuduhan melakukan delik penghinaan kepada orang yang tidak shalat (sembahyang) sebagai orang kafir atau orang gila.

sumber: muslimpribumi.com

Dalam persidangan, ketua pengadilan secara persuasif meminta terdakwa mencabut kata-katanya dengan alasan tergelincir lidah (slip of the tongue). Namun permintaan itu ditolak oleh sang kiai.

Kiai Asnawi menegaskan bahwa dirinya sekadar mengatakan apa yang tersebut dalam kitab Fiqih: Falaa tajibu ‘alaa kafirin ashliyyin wa shobiyyin wa majnuunin yang artinya “maka sembahyang itu tidak wajib dikerjakan oleh orang kafir, anak masih bayi, dan orang gila”.

Pada akhirnya pengadilan menjatuhkan hukuman denda sebesar 100 gulden. Namun, Kiai Asnawi ternyata tidak memiliki uang sebanyak itu. Lalu ketua pengadilan mengatakan: “kalau tak mampu membayar denda 100 gulden, Pak Kiai mesti masuk penjara sekian hari,”.

Kiai Asnawi keberatan alasannya masuk penjara bagi orang tua seperti dirinya amat menyusahkan. Ia juga memikirkan nasib santri-santrinya. Hal ini membuat suasana  majelis menjadi riuh.

Ketua pengadilan menskor persidangan sambil berunding dengan jaksa. Dan diakhiri dengan sang ketua pengadilan merogoh dompet dari kantongnya dan menyerahkan sejumlah uang kepada jaksa.

“Pak Kiai, ini ada uang seratus gulden, harap Pak Kiai membayarkan dendanya,” kata jaksa. Kiai Asnawi pun dibebaskan dengan membayar denda seratus gulden yang dananya berasal dari ketua pengadilan.

Makna Kafir Menurut Ustadz Adi Hidayat

Istilah kafir sudah lama jadi perbincangan di kalangan masyarakat. Ustadz Adi Hidayat Lc sudah pernah membahasnya beberapa kali. Dia menjelaskan bahwa kata “kafir” tersebut dalam bahasa Arab, sebenarnya bahasa yang sopan.

Seperti ditulis eramuslim.com, pada penjelasannya Ustadz Adi Hidayat menerangkan, “dalam bahasa Arab, kafir itu artinya yang menutup diri. Itu bahasa sopan. (Orang) yang menutup diri, yang tidak mau menerima iman, itu kafir.

Makanya, orang-orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan lainnya tidak marah disebut kafir karena mereka paham arti kafir itu dalam bahasa Arab, mereka Arab fasih, paling mengerti bahasa Arab”.

Menurut Ustadz Hidayat, Abu Lahab dan kawan-kawan pada saat itu mengakui diri mereka menutup diri terhadap risalah yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Kemudian Ustadz Hidayat menambahkan, “anda yang masih menutup diri, maaf, la a’budu ma ta’bud?n, kami tidak akan ikut-ikut menyembah seperti Anda menyembah sesembahan itu. Sampai puncaknya di ujungnya, lakum dinukum waliyadin.

Begini saja, aturan dari Allah, silakan Anda ibadah senyaman-nyamannya sesuai dengan keyakinan Anda. Waliyadin, dan biarkan pula kami beribadah sesuai dengan keyakinan kami. Itu yang paling indah,”.

Silsilah Kekerabatan Prabowo Subianto dari Jalur Kesultanan Bima dan Madura

Dalam babad Lombok dijelaskan bahwa Islam dibawa ke Lombok oleh Sunan Prapen dari Giri (Gresik). Setelah berhasil mengislamkan Lombok, Sunan Prapen bergerak ke timur untuk mengislamkan Sumbawa dan Bima.

Sementara Rouffaer berpendapat bahwa Islam di Bima berasal dari Melayu, Aceh dan Cirebon. Pendapatnya ini didasarkan pada inskripsi-inskripsi yang tersebar di Bima. Muballig-muballig ini datang pada sekitar tahun 1605 M.
Menurut Sejarawan H Abdullah Tayeb dalam buku Sejarah Bima – Dana Mbojo, salah seorang keturunan Raja Bima kelak hijrah ke tanah Jawa dan dikenal dengan nama Kyai Ageng Datuk Sulaiman Bekel Jamus.

Berdasarkan genealogy Kesultanan Yogyakarta, Kyai Ageng Sulaiman (Suleman) menikah dengan putri Madura bernama Ratu Kedhaton, dan memiliki putri bernama Roro Widuri atau dikenal sebagai Nyai Ageng Derpayuda.

Salah seorang putri dari Nyai Ageng Derpayuda bernama Niken Lara Yuwati, kelak menjadi permaisuri Sultan Hamengku Buwono I dan dikenal dengan nama Ratu Ageng Tegalrejo.

Ratu Ageng Tegalrejo merupakan buyut dari Pangeran Diponegoro, sekaligus menjadi pengasuh sang pangeran ketika masih kecil. Dan melalui putranya Sultan Hamengku Buwono II, keturunannya terus menyambung hingga kepada Letjen (Purn) Prabowo Subianto.

Adapun silsilah kekerabatan Prabowo Subianto, hingga kepada Raja Bima Ma Waa Ndapa adalah sebagai berikut:

01. Letjen TNI Prabowo Subianto bin

02. Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo bin

03. Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo bin

04. Raden Tumenggung Mangkuprodjo bin

05. Raden Ayu Djojoatmojo binti

06. Raden Tumenggung Djojodiningrat bin

07. KGPA Moerdoningrat bin

08. Sri Sultan Hamengkubuwono II bin

09. Ratu Ageng Tegalrejo (istri Sri Sultan Hamengkubuwono I) binti

10. Nyai Ageng Derpayuda (Roro Widuri) binti

11. Kyai Ageng Datuk Sulaiman Bekel Jamus bin
(menikah dengan Putri Madura, Ratu Kedhaton)

12. Sultan Nuruddin bin

13. Sultan Abil Khair bin

14.Sultan Abdul Kahir bin

15. Raja Bima Ma Waa Ndapa

Catatan Penambahan :

1. Berdasarkan data situs akasara.com, Ratu Ageng Tegalrejo lahir pada tahun 1735, jika jarak usia dengan sang kakek Kyai Ageng Datuk Sulaiman adalah sekitar 50-60 tahun, maka diperkirakan Kyai Ageng Datuk Sulaiman lahir sekitar tahun 1675-1685.

Diperkirakan Kyai Ageng Datuk Sulaiman satu generasi dengan Sultan Bima ke-4 yang bernama Sultan Jamaluddin. Hal tersebut bermakna Kyai Ageng Datuk Sulaiman kemungkinan putra Sultan Bima ke-3 yang bernama Sultan Nuruddin bin Sultan Abil Khair bin Sultan Abdul Kahir.

2. Menurut catatan Genealogy Kesultanan Bima, ibunda dari Sultan Nuruddin Bima adalah adik kandung dari Sultan Hasanuddin Gowa yang bernama Karaeng Bonto Je’ne. Hal ini berarti Silsilah Prabowo Subianto juga tersambung dengan kerabat Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan.

Berdasarkan buku Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima, Sultan Nuruddin pernah mambantu perlawanan Trunojoyo dalam polemik internal wangsa Mataram. Sultan Nuruddin bersama pasukannya berada di Jawa dari tahun 1676 hingga 1682.

Sultan Nuruddin juga tercatat ikut membantu perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa Banten dalam menghadapi kolonial Belanda. Bahkan Sultan Nuruddin pernah menjadi tawanan Belanda di wilayah Tambora Jakarta Barat.

3. Terkait dokumen yang menyatakan Kyai Ageng Suleman lahir tahun 1601 kemungkinan yang dimaksud adalah tahun saka, atau dengan kata lain bersamaan dengan sekitar tahun 1679 – 1680 Masehi.

4. Garis silsilah Kyai Derpoyudo (Kyai Ageng Derpayuda) yang merupakan suami dari Nyai Ageng Derpayuda adalah sebagai berikut Kyai Ageng Derpoyudo bin Ki Ageng Wiroyudo bin Tumenggung Sontoyudo II bin Tumenggung Sontoyudo I (sumber: Trah Derpoyudo).

Dalam beberapa catatan, ibunda dari Ratu Kedaton Madura adalah Raden Ayu Sontoyudo binti Tumenggung Sontoyudo I.
Dan jika ditarik lagi ke atas, Tumenggung Sontoyudo I merupakan keturunan Ki Juru Martani dan Panembahan Senopati Mataram.

Bukan HOAX, Penemu Kamera Ternyata Seorang Ilmuwan Muslim

Kamera merupakan alat optik yang dapat merekam suatu peristiwa atau kejadian penting dalam bentuk gambar atau foto sehingga peristiwa itu dapat kita lihat kembali. Cara kerja kamera sama seperti cara kerja mata. Bayangan nyata dari sebuah objek dibentuk oleh lensa cembung pada kamera.

Tak banyak yang tahu, kamera adalah hasil temuan seorang ilmuwan Muslim pada abad ke-10, bernama Abu Ali Muhammad Al-Hassan ibnu Al-Haytham (Ibnu Haytsam), sedangkan di dunia barat lebih dikenal dengan nama Alhazen.

sumber: kompas.com

Sebagaimana dilansir minanews.net, Al-Haytham dilahirkan di Bashrah, yang merupakan kota terbesar kedua setelah Bagdad di Irak pada tahun 965 masehi. Ia pencetus pertama yang menggambarkan bagaimana kerja kamera dengan prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera dalam mengembangkan bidang optik.

Dalam perjalanan hidupnya, Ibnu Haytham sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar. Setelah itu, secara otodidak ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat. Dan secara serius dia mengkaji serta mempelajari seluk-beluk ilmu optik.

Penemuan kamera berawal ketika Al-Haytham bersama muridnya bernama Kamaluddin Al-Farisi mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, ia membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.

Haytham kemudian menamakan alat ciptaannya dengan sebutan “Qumroh” yang berasal dari kata “Qomar” dalam bahasa Arab yang berarti Bulan. Penemuan tersebut, ia tuangkan dalam Kitab Al-Manadhir (Buku optic).

Selama lebih dari 500 tahun, Kitab Al-Manadhir bertahan sebagai buku paling penting dalam ilmu optik. Hingga pada tahun 1572, karya Al-Haytham tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Opticae Thesaurus.

Meski Al-Haytham sosok yang membuat atau membangun kamera pertama, tetapi dirinya bukanlah fotografer pertama.

Pada pertengahan 1600-an, dengan penemuan lensa, para seniman mulai menggunakan kamera obscura untuk membantu mereka menggambar dan melukis gambar dunia nyata yang rumit. Sayangnya, saat ini gambar fotografi permanen tersebut belum ditemukan (sumber: kompas.com).