Category Archives: sejarah

[Teori] asal muasal nama “Gajah Mada”, antara Gajah Mabuk atau Gajah Mahamada ?

Kontroversi tentang sosok Mahapatih Majapahit Gajah Mada seolah tidak pernah mereda. Baru-baru ini sebagian pihak memperdebatkan identitas Gajah Mada, apakah Gajah Mada itu Muslim atau bukan.

Pendekatan dalam meng-identifikasi seseorang sangat banyak caranya, salah satunya adalah melalui penafsiran makna dari nama sang tokoh. Seorang bernama Sunarto sangat mungkin berasal dari etnis jawa, dan yang bernama Umar, besar kemungkinan beragama Islam.

Makam Patih Gajah Mada di Prabumulih Sumatera Selatan

Pendekatan nama “Gajah Mada”

Apabila kita artikan, makna kata “Mada” dalam bahasa jawa berarti mabuk. Jadi secara literal, arti dari Gajah Mada adalah Gajah Mabuk. Penamaan seseorang sebagai Gajah Mabuk tentu sangat janggal dan aneh (sumber : phdi.or.id dan
liputan6.com).

Oleh karenanya sebagian pihak beranggapan nama “Gajah Mada” adalah kiasan, yang berarti seseorang yang pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah dan menerabas segala rintangan.

Namun pemaknaan “Gajah Mada” tidak hanya satu. Dalam versi yang lain, istilah Mada kemungkinan berasal dari kata “Mahamada atau Ahmada” , kata “Mahamada atau Ahmada”, merujuk kepada nama Nabi Muhammad, yaitu Ahmad dan Muhammad (sumber : Prophet Mohammed: Is He Really Predicted in the Bhavishya Purana?, hendrajailani blog dan hangno blog).

Sementara istilah “Gajah” merupakan penggambaran dari tahun kelahiran Nabi Muhammad, yaitu tahun Gajah. Dengan demikian arti dari nama “Gajah Mada” atau “Gajah Mahamada”, adalah personifikasi dari sosok Nabi Muhammad yang dilahirkan pada tahun Gajah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara :
1.  
2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Kolerasi Peristiwa Karbala dengan munculnya Kedatuan Sriwijaya di Palembang ?

Iklan

[Misteri] Ahmad Syah Jalaluddin, antara Gubernur Kesultanan Delhi atau Sultan Nasarabad India ?

Sosok As-Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan sudah sangat dikenal di kalangan pemerhati genealogy Nusantara. Beliau merupakan leluhur walisongo, ayahanda dari Maulana  Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra.

Tokoh Ahmad Syah Jalaluddin masih menimbulkan perdebatan, apakah beliau Raja di Kerajaan Nasarabad India atau Gubernur di Kesultanan Delhi. Munculnya dua versi riwayat ini, melahirkan dua kronologis sejarah yang berbeda ketika berbicara tentang kerabat dan keturunannya.

Misteri Ahmad Syah Jalaluddin

Secara garis besar, terdapat dua versi tentang riwayat kehidupan Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan, yaitu :

1. Ahmad Syah Jalaluddin, Raja di Kerajaan Nasarabad India

Dalam versi ini berpedoman kepada kronologis masa kehidupan dari leluhur Ahmad Syah Jalaluddin. Sebagaimana diketahui kakek Ahmad Syah Jalaluddin bernama As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan yang lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah (1179 Masehi).

Sementara ayahanda Ahmad Syah Jalaluddin bernama Amir Abdullah Azmatkhan, yang naik tahta menjadi Raja di Kerajaan Nasarabad India Lama, pada tahun 653 Hijriah (1255 Masehi).

Dari kronologis ayahanda dan kakeknya ini, Ahmad Syah Jalaluddin tercatat naik tahta pada tahun 696 Hijriyah (1297 Masehi) dan wafat pada 711 Hijriyah (1312 Masehi).

Mengikuti kronologis ini, putera Ahmad Syah Jalaluddin bernama Maulana  Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, lahir tahun 1270 Masehi dan cucunya bernama Maulana Ibrahim Zainuddin Asmaraqandi lahir di tahun 1297 Masehi (sumber : madawis blog dan asal azmatkhan).

2. Ahmad Syah Jalaluddin, Gubernur Kesultanan Delhi

Dalam versi ini berpedoman kepada kronologis masa kehidupan dari keturunan Ahmad Syah Jalaluddin. Sebagaimana diketahui cicit Ahmad Syah Jalaluddin bernama Maulana Ishaq lahir sekitar tahun 1393 Masehi.

Mengikuti kronologis ini, cucu Ahmad Syah Jalaluddin, yang bernama Maulana Ibrahim Zainuddin Asmaraqandi dilahirkan pada tahun 1373 Masehi, sedangkan anak Ahmad Syah Jalaluddin bernama Maulana  Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, lahir tahun 1333 Masehi.

Pada kronologis ini Ahmad Syah Jalaluddin merupakan Gubernur di Kesultanan Delhi, di masa pemerintahan Sultan Muhammad Taghlug (1325-1351) (sumber : kisah nusantara).

Perbandingan :

Dari kedua kronologis ini, terjadi perbedaan data yang sangat mencolok, sebagai terlihat dalam daftar kejadian berikut ini :

Dari data di atas diperoleh beberapa kesimpulan :

1. Terdapat perbedaan mencolok diantara kedua versi, sebagaiman terlihat dari tahun kelahiran Husain Jumadil Kubro dan Ibrahim Asmoro.

2. Dengan menggunakan patokan versi Raja Nasarabad, penyusunan kronologis akan kesulitan dalam menyesuaikan kejadian-kejadian di era Maulana Ishaq atau setelahnya. Sementara dengan patokan versi Gubernur Delhi, akan kesulitan mencari titik temu dengan era Abdullah Azmatkhan atau sebelumnya.

3. Pada data di atas, kemungkinan besar adanya beberapa generasi yang belum tercatat dalam Silsilah Kekerabatan Marga Azmatkhan. Diperkirakan kedua versi ini terdapat masa selisih sekitar 60-70 tahun atau ada 2-3 generasi yang misterius.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Versi Gubernur Delhi, secara time line bersesuaian dengan versi walisongo berasal dari samudra pasai. Dimana dalam versi Pasai, Syekh Husain Jumadil Kubro adalah anak dari Sultan Zainal Abidin (Sultan Pasai, 1349-1406) (sumber : [Misteri] Versi Walisongo dari Pasai, dan Silsilah Makhdum Perlak ?).

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Satrio Piningit, Simbolisasi Bukit Siguntang dan Zuriat Sunan Giri ?

[Misteri] Versi Walisongo berasal dari Pasai Aceh, dalam Silsilah Ahlul Bayt Makhdum Perlak ?

Dalam versi Pasai Aceh, Syekh Husein Jumadil Kubro adalah putera dari Sultan Zainal Abdidin (memerintah Kerajaan Samudra Pasai, 1349-1406). Leluhur Syekh Husein berasal dari Dinasti Makhdum, yang mendirikan Kerajaan Perlak pada sekitar abad ke-9 Masehi.

Dari Perlak, Zuriat Dinasti Makhdum kemudian menyebar menjadi kerabat Kerajaan Sriwijaya, Pariangan (Minangkabau), Dharmasraya, Majapahit, Tumasik dan Malaka. Fenomena tersebarnya Zuriat Dinasti Makhdum ini, membuktikan Pengaruh Islam telah ada jauh sebelum era walisongo.

Berikut diagram silsilah kekerabatan Dinasti Makhdum Perlak dan Walisongo versi Samudra Pasai…

>> untuk pembesaran gambar bisa klik picture-nya atau klik disini

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Di kalangan pemerhati sejarah Aceh, tokoh Leluhur Dinasti Makhdum Perlak, yakni Syahriansyah Salman al-Farisi sebagian besar dianggap berasal dari keluarga Bangsawan Persia (Dinasti Sassanid), namun ada juga yang beranggapan Syariansyah Salman merupakan zuriat dari Ahlul Bayt Rasulullah.

2. Salah satu bukti yang menguatkan, bahwa keluarga Syekh Ibrahim Asmoro berasal dari keluarga Makhdum, bisa terlihat dari gelar yang disandang Sunan Bonang, yakni Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Dimana Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel bin Syekh Ibrahim Asmara.

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Kolerasi Peristiwa Karbala dengan munculnya Kedatuan Sriwijaya di Palembang ?

[Misteri] Kolerasi Peristiwa Karbala dengan munculnya Kedatuan Sriwijaya di Palembang ?

Peristiwa Karbala merupakan satu catatan kelam bagi kaum muslimin, yang terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah (10 Oktober 680 M).  Dalam tragedi yang telah menewaskan cucu Rasulullah, Sayyidina Husein, telah meninggalkan luka sejarah dalam Peradaban Islam.

Tragedi Karbala, telah membuat semakin menajamnya perselisihan antara mereka pendukung Dinasti Umayyah dengan pendukung Keluarga Sayyidina Ali Radhiyallahu Anhu (sumber : wikipedia.org).

Dampak Tragedi Karbala di Nusantara

Peristiwa Karbala telah membuat Perdagangan Jalur Sutra Laut (dari Eropa, Timur Tengah, melalui Nusantara menuju ke Cina), mengalami gangguan. Sriwijaya yang merupakan tempat transit dalam rute perdagangan ini, merasakan dampak yang luar biasa (sumber : Jalur Sutra Laut).

Selain ekonomi, Sriwijaya yang pada masa itu berpusat di pesisir barat Sumatera, menjadi tempat bagi pelarian-pelarian politik yang berasal dari dari Timur Tengah dan Persia, sebagai akibat konflik (pertikaian) di wilayah jazirah arabia.

Ketidak-stabilan di Timur Tengah serta ditambah lagi semakin berkembangnya kerajaan-kerajaan Nusantara di wilayah timur, kemudian menjadi pertimbangan Dapunta Hyang Jayanasa, untuk memindahkan Pusat Kerajaan Sriwijaya dari pesisir barat, ke pesisir timur pulau Sumatera.

Perpindahan Pusat Kedatuan Sriwijaya ini, ditandai dengan peristiwa Perjalanan Kejayaan (jayasiddhayatra), yang dimulai pada  Hari Jum’at, 6 Ramadhan 62 Hijriyah atau bertepatan dengan  7 Jesta 604 Saka (19 Mei 682 Masehi).

Perjalanan Kejayaan (jayasiddhayatra) ini berakhir di perairan Sungai Musi, yang saat ini dikenal sebagai wilayah disekitar Kota Palembang, pada 16 Juni 682 Masehi (sumber : makna prasasti kedukan bukit dan ).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Kehadiran Islam di tanah Sumatera, diperkirakan sudah ada sejak abad pertama hijriah. Hal tersebut ditandai dengan ditemukannya makam Tuan Syekh Rukunuddin, dari tahun ha-mim. Berdasarkan sistem nilai numerik bangsa arab, ha = 8 dan mim = 40, sehingga makna dari ha-mim adalah 8 + 40 = 48 Hijriyah.

Didukung legenda masyarakat Sumatera Selatan yang bercerita, tentang munculnya awal Pusat Dakwah Islam di Bukit Kaba (Kaf Ba) Bengkulu. Di dalam perhitungan numerik, Kaf = 20 dan Ba = 2, atau berarti 20 + 2 = 22 Hijriyah, yaitu di masa Khalifah Umar ra. (13-23 H).

Artikel Sejarah Nusantara :
1.  
2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

[Misteri] Sang Suparba, Kerabat Dinasti Yuan Cina, Zuriat Sasan Persia dan Keturunan Maharaja Sriwijaya ?

Berdasarkan penyelusuran tokoh-tokoh yang terdapat di dalam Sejarah Melayu, diperoleh beberapa informasi.

(1). Sang Suparba, memiliki Paman bernama Raja Pandin, Penguasa Turkistan yang ternyata indentik dengan Abaqa Khan ( Pemimpin Ilkhanate, 1265-1282).

(2). Sang Suparba, memiliki ibu berasal dari Gangga Nagara, yang indentik dengan Gangaikonda Cholapuram atau lebih dikenal dengan nama Kerajaan Chola. Dimana Raja Syah Johan yang tertulis dalam Sejarah Melayu, indentik dengan Rajendra Chola III (Raja Chola, 1256-1279).

(3). Sang Sapurba memiliki nasab kepada Raja Nusirwan Adil, yang ternyata indentik dengan King Anushirvan “The Just” of Persia (memerintah Kerajaan Persia Dinasti Sassanid, 531-578).

Dari data-data tersebut, maka disusunlah silsilah kekerabatan Sang Sapurba yang menghubungkan keluarga Sriwijaya, Dinasti Yuan Cina, Chola India, Dinasti Sasan Persia, Kediri, Singhasari dan Majapahit.

Keterangan :

1. Pendiri Dinasti Chola II, yaitu Kulothunga Chola I, sebelum menjadi Penguasa Chola merupakan Raja Sriwijaya, yang bergelar Raja Diwakara. Nama ayahanda Kulothunga Chola I adalah Sembiyan yang indentik dengan Sambugita, Maharaja Sriwijaya yang berpusat di Palembang (sumber : Kulottunga I dan Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola ?).

2. Berdasarkan kepada masa pemerintahan putera Sang Suparba, yakni Sang Nila Utama di Tumasik (Singapura) pada periode tahun 1320-1347, diperkirakan kedatangan Sang Sapurba di Bukit Siguntang pada sekitar tahun 1285 (sumber :  [Misteri] Puteri Melayu, ibunda Kusala Khan (Kaisar Dinasti Yuan, memerintah tahun 1329) ? dan [Teori] “Genghis Khan’s Genetic” di Alam Melayu ?).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

 

Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola ?

Berdasarkan inskripsi dari sebuah kuil di Guangzhou Cina, diceritakan sejak tahun 1064 M, seorang Raja Sriwijaya bernama Diwakara, membantu perbaikan sebuah kuil yang mengalami keruntuhan. Dana yang disumbangkan Raja Diwakara, mencapai 500.000 keping emas (sumber : Penakluk Chola dan Ancient Southeast Asia).

Sebelum perbaikan Kuil selesai di tahun 1079 M, dalam satu catatan resmi Dinasti Sung tahun 1077 M, menginformasikan Diwakara telah menjadi raja asing di Kerajaan Chola India Selatan.

Misteri Raja Diwakara (Divakara)

Pada awal abad ke-11 Masehi, Kedatuan Sriwijaya terpecah menjadi dua, yaitu Sriwijaya Pesisir yang berpusat di Kedah dan Sriwijaya Pedalaman yang berpusat di Palembang.

Ketika Pusat Kerajaan Sriwijaya Pesisir diserang Kerajaan Chola tahun 1025 M, dan berhasil menawan  Sangrama Vijayottunggavarman (sumber : wikipedia.org), sebagian kerabat Sriwijaya Pesisir dibawa ke Palembang. Pilihan hijrah ke Sriwijaya Palembang, kemungkinan antara kedua Kerajaan telah menjalin ikatan keluarga satu dengan lainnya.

Kelak dikemudian hari, salah seorang putri  Sangrama Vijayottunggavarman yang berada di Palembang dinikahi oleh Maharaja Erlangga dari Kerajaan Kahuripan.

Dalam situasi demikian, praktis Kedatuan Sriwijaya yang terpecah kembali menyatu dan berpusat di Palembang.

Berdasarkan sumber-sumber catatan dari Kerajaan Chola, dikatakan bahwa Raja Diwakara merupakan seorang Gubernur (Perwakilan Kerajaan Chola) di Sriwijaya. Namun hal ini tentu sangat mengherankan, ada seorang Gubernur yang bisa langsung menyumbang pembangunan kuil di negeri asing, sampai 500.000 keping emas.

Kemungkinan lain yang lebih logis, Raja Diwakara adalah Penguasa Sriwijaya yang berhasil menaklukkan Kerajaan Chola, dimana yang bersangkutan masih terhitung anggota keluarga kerabat Kerajaan Chola.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Raja Diwakara (Divakara) dalam sejarah Kerajaan Chola lebih dikenal dengan nama Prince Rajendra Chalukya (Kulothunga Chola I), yang memerintah Chola pada periode 1070–1118 (sumber : Athirajendra Chola).

Raja Diwakara juga diceritakan memiliki nama Prince Thivakaala Rajendra, yang dipercaya menjadi Gubernur Sriwijaya di Palembang tahun 1067, pada masa Virarajendra Chola Keertivartana (sumber : Tamil History).

2.  Kulothunga Chola I, dalam salah satu versi nama ayahandanya Sembiyan yang indentik dengan Sambugita, Maharaja Sriwijaya yang berpusat di Palembang (sumber : Kulottunga I ).

3. Dalam catatan Kerajaan Chola, Raja Diwakara (Kulothunga Chola I), anak dari Rajaraja Narendran I (ayah) dan Ammanga Devi (ibu) (sumber : Kulotunga I)

4. Berdasarkan pendapat Anthonyswan.Pi.Art (gelar Datok Paduka Rangkayo Besar Bertuah) dalam tulisannya berjudul “Balai Adat Yang Pertama”, yang menyatakan Sang Sapurba berasal dari Kerajaaan Chola. Ia berpendapat Sang Sapurba adalah anak keturunan dari Rajendra Chola I (Raja Chola, 1012-1044) (sumber : MALPU 187).

Apabila kita mengacu kepada timeline kehidupan anak dari Sang Sapurba bernama Sang Nila Utama (Raja Tumasik, 1320-1347), kemungkinan Sang Sapurba adalah anak keponakan dari Raja Hiran atau Rajendra Chola III (Raja Chola, 1246–1279). Rajendra Chola III, merupakan Raja Chola terakhir dari Dinasti yang didirikan oleh  Raja Diwakara (Kulothunga Chola I) (sumber : wikipedia.org).

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar; dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

[Misteri Segitiga Matematis] Masjid Muara Ogan – Bukit Siguntang – Masjid Agung Palembang ?

Dengan menggunakan Google Maps, akan ditemukan jarak antara Masjid Muara Ogan (1 Ulu Palembang) ke Masjid Agung Palembang, akan sama dengan jarak antara Masjid Muara Ogan ke Bukit Siguntang.

Dan apabila diambil titik tengah antara Masjid Agung dengan Bukit Siguntang, berdasarkan kepada segitiga sama kaki yang terbentuk, akan ditemukan lokasi Masjid Al-Maghfiroh 30 ilir Palembang.


Kiai Marogan ahli dalam perhitungan rumit

Pendiri Masjid Muara Ogan adalah salah seorang ulama terkemukan Kota Palembang, yakni Kiai Marogan (Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud). Di namai Muara Ogan dikarenakan posisi masjid ini berada di muara sungai ogan, salah satu percabangan Sungai Musi.

Masjid Muara Ogan yang posisinya memiliki jarak yang sama, saat diukur dari Masjid Agung dan Bukit Siguntang, disinyalir bukan satu kebetulan. Kiai Marogan selain dikenal ahli di bidang ilmu Fiqih, ia juga sangat mengerti perhitungan-perhitungan rumit matematis dalam ilmu Falaq (ilmu peredaran benda alam). Dan dimasa hidupnya, beliau sempat membuat jadwal waktu shalat berdasarkan ilmu falaq yang dikuasainya (sumber : kyaimarogan).

Dalam buku karya Martin van Bruinessen, yang berjudul “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat”, Kiai Marogan dikategorikan sebagai salah seorang guru tarekat Sammaniyah. Ajaran tarekat ini dibawa Syekh Abdul ash-Shomad al-Palimbani murid pendiri tarekat Sammaniyah, yaitu Syekh Muhammad Abdul Karim Samman (sumber : sumeks.co.id).

Kiai Muara Ogan dilahirkan pada tahun 1811 M, ia mempelajari tarekat Sammaniyah dari Syekh Kiagus Muhammad Zain, yang merupakan murid dari Syekh Abdul ash-Shomad Palimbani (sumber : ).

Di kota Palembang Kiai Marogan meninggalkan wakaf 2 bangunan masjid yakni Masjid jami’ Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul, untuk sarana ibadah bagi kaum muslimin (sumber : palembang-tourism.com).

Selain itu, Kiai Marogan juga tercatat meninggalkan wakaf produktif, berupa 3 buah bangunan untuk pemondokan jamaah haji di kota suci Mekkah (Saudi Arabia). Pada setiap tahunnya, hasil sewa pemondokan tersebut oleh nadzir (pengelola) dibagikan kepada mauquf ‘alaih (penerima wakaf) yang telah ditetapkan oleh Kiai Marogan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Kiai Marogan, terhitung sebagai zuriat Sunan Giri, salah seorang walisongo di Indonesia, berikut silsilahnya :

Masagus Haji Abdul Hamid (Kiyai Marogan) bin
Mgs. Haji Mahmud Kanang bin
Masagus Taruddin bin
Masagus Komaruddin bin
Pangeran Wiro Kesumo Sukarjo bin
Pangeran Suryo Wikramo Kerik bin
Pangeran Suryo Wikramo Subakti bin
Sultan Abdurrahman bin
Pangeran Sedo Ing Pasarean bin
Tumenggung Manco Negaro bin
Pangeran Adipati Sumedang bin
Pangeran Wiro Kesumo bin
Sayyid Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)

Sumber : tauhidsamaniah

Artikel Menarik :
1. Dr. Osama Al-Bar, walikota Makkah keturunan Sunan Giri ?
2. [Misteri] Simbolisasi Ma-liki, Ma-luku dan Ma-laka menuju Kejayaan Nusantara ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi warna Kemerahan?
4. [Misteri] Rekening Bank milik Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu, dengan Potensi Income Tahunan mencapai 50 juta Riyal ?