Category Archives: sejarah

Meluruskan Silsilah Kekerabatan KH Ma’ruf Amin dan Syekh Nawawi al-Bantani

Dalam beberapa hari terakhir ini banyak beredar silsilah yang menghubungkan kekerabatan Ketua MUI KH Ma’ruf Amin dengan ulama terkemuka Syekh Nawawi al-Bantani.

Dikarenakan banyak variasi yang bermunculan membuat sebagian masyarakat bingung mana susur galur yang benar.

Melalui tulisan ini, kami mencoba merangkai beberapa sumber sehingga menghasilkan diagram sebagai berikut:
Dari diagram silsilah di atas, KH Ma’ruf Amin adalah keturunan dari saudara Syekh Nawawi yang bernama Syekh Abdullah, atau merupakan cicit dari cucu keponakan Syekh Nawawi yang bernama Nyi Marsati binti Haji Abdullah bin Syekh Abdullah.

Nyi Marsati memiliki cucu bernama Nyi Hajjah Maemunah binti Syekh Muhammad Ramli bin Nyi Marsati, dimana Nyi Hajjah Maemunah adalah ibunda dari KH Ma’ruf Amin.

Referensi:
Syekh Nawawi al-Bantani
Syekh Muhammad Amin Koper
Keluarga Bani Syekh Umar Banten 
Kekerabatan Tubagus Jamad Tanara
Kekerabatan Syekh Nawawi al-Bantani 

Catatan Penambahan:

1. Jalur silsilah KH Ma’ruf Amin juga tersambung dengan Raja Sumedang, yakni melalui ibunda dari Syekh Hasan Bashri Cakung yang bernama Raden Ayu Fathimah binti Raden Wiranegara bin Pangeran Wiraraja II bin Pangeran Wiraraja I bin Prabu Geusan Ulun Sumedang.

Sedangkan Pangeran Wiraraja I  tersambung silsilahnya kepada Penguasa Madura yakni melalui ibundanya bernama Ratu Harisbaya Nyai Narantoko binti Pangeran Suhra Pradoto Jambringin Pamekasan Madura bin  Ki Pragalbo Bangkalan Madura bin Ki Demang Plakaran bin Aryo Pojok Sampang Madura.

Sementara dari Silsilah Ratu Harisbaya Nyai Narantoko tersambung kepada Penguasa Demak melalui ibundanya bernama Ratu Pembayun binti Sultan Trenggono Demak bin Raden Patah Demak.

sumber: Silsilah Ratu Harisbaya dan Ma’ruf Amin dan Madura

Artikel Menarik :
1. 
2. 3. Silsilah Sandiaga Uno, Keturunan Raja Amai Pendiri Masjid Hunto Gorontalo?
4. [Misteri] Silsilah Habib Rizieq Shihab, dari jalur keluarga Raden Fattah (Demak) dan Trah Prabu Siliwangi (Pajajaran) ?

Iklan

Silsilah Mayjen (Purn) Sudrajat dari Jalur Kerabat Sunan Gunung Jati

Dalam Pilgub Jawa Barat 2018, Partai Gerindra, PKS dan PAN mengusung Mayjen (Purn) Sudrajat sebagai Calon Gubernur.

Ketika nama Sudrajat baru naik kepermukaan, masyarakat Jawa Barat sendiri masih bertanya-tanya tentang sosok pria kelahiran Balikpapan, 4 Februari 1949.


Berdasarkan penyelusuran genealogy Sudrajat ternyata masih terhitung keturunan ulama terkemuka Jawa Barat Kiai Haji Hasan Mustofa yang juga dikenal sebagai pejuang di kawasan Priangan.

Kiai Haji Hasan Mustafa merupakan putera dari Haji Utsman Mas Sastramanggala, dimana jalur silsilahnya menyambung kepada Raden Aryawangsa atau disebut juga Sultan Muhammad Wangsa.

Raden Aryawangsa sendiri adalah anak dari Raden Abdullah dari pernikahannya dengan puteri Sultan Banten Maulana Hasanuddin, yang bernama Fatimah binti Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati (Maulana Syarif Hidayatullah).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi: 
Sudrajat Orang Sunda
Silsilah KH Hasan Mustafa
Maulana Hasanuddin Sultan Banten

Catatan Penambahan :

1. Genealogy Kiai Haji Hasan Mustofa yaitu :
Kiai Haji Hasan Mustofa bin Haji Utsman Mas Sastramanggala bin Raden Adipati Wiratanubaya bin Raden Jayangadireja bin Tumenggung Wiradadaha V bin  Tumenggung Wiradadaha IV bin Tumenggung Wiradadaha III bin Tumenggung Wiradadaha I bin Raden Suryaningrat bin Raden Aryawangsa bin Raden Abdullah.

Silsilah Ustadz Abdul Somad, Da’i Kondang Keturunan Pahlawan Nasional Syekh Yusuf al Makassari?

Masyarakat Indonesia tentu sudah sangat mengenal sosok dari dai kondang Ustadz Abdul Somad, seorang penceramah kelahiran Silo Lama, Asahan, Sumatera Utara, 18 Mei 1977.

Ustaz Abdul Somad, Lc., MA dikenal sebagai pendakwah yang sering mengulas berbagai macam persoalan agama terkini, khususnya kajian ilmu hadis dan Ilmu fikih.


Namun tidak banyak yang tahu, jika silsilah Ustadz Abdul Somad terhubung dengan salah seorang pahlawan nasional Syekh Yusuf al Makassari yang makamnya terdapat di Cape Town, Afrika Selatan.

Berdasarkan penyelusuran silsilah dari situs geni.com, Syekh Yusuf al Makassari memiliki putera bernama Tubagus Matowayya, yang merupakan ayah dari Siti Habiba.

Siti Habiba merupakan isteri dari La Temmasonge Raja Bone XXII, dari perkawinan mereka memiliki anak perempuan bernama We Seno Datu Citta yang merupakan istri dari La Maddussila (Maddussalat) Datu Tanete ke-16.

Perkawinan We Seno Datu Citta dan La Maddussila (Maddussalat), memiliki beberapa putera salah satunya adalah Sultan Opu Tendriburang Daeng Rilaga.

Sultan Opu Tendriburang Daeng Rilaga inilah yang menjadi leluhur Ustadz Abdul Somad, dengan jalur sebagai berikut:

Ustad Abdul Somad beribu Hajjah Rohana beribu Siti Aminah binti Syekh Haji Abdurrahman Urrahim (Syekh Abdurrahman Silau atau Syekh Silau Laut) bin Nakhoda Alang Batubara bin(?) Kapitan (Nakhoda) Yunus bin Haji Ismail bin Haji Abdul Karim bin Daing Abdul Latief bin Arung Haji Muda bin Arung Abdul Rasul bin Arung Limbang Peta Pechawai (Raja Bugis) beribu Datu Ri Watu Raja Topamana binti Sultan Opu Tendriburang Daeng Rilaga beribu We Seno Datu Citta beribu Siti Habiba binti Tubagus Matowayya bin Syekh Yusuf al Makassari.

Note:
Silsilah Ustadz Abdul Somad diatas perlu dikaji lebih mendalam lagi, mengingat terlalu banyak nama yang tertera di dalam susur galur tersebut (17 generasi dalam periode 351 tahun), terutama data yang mengkaitkan antara Nakhoda Alang Batubara dengan Kapitan (Nakhoda) Yunus bin Haji Ismail.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi:
Ustadz Abdul Somad (wikipedia)
Yusuf al Makassi (wikipedia)
Yusuf al Makassi (geni)
Perjuangan Syekh Haji
Syekh Yusuf Makassar
Sastra Melayu Klasik

Catatan Penambahan:

1. Silsilah Arung Abdul Rasul juga tersambung kepada Sunan Gunung Jati, hal ini berasal dari ibunda Tubagus Matowayya (Ratu Bagus (Tubagus) Matowayya Muhammad Maulana Jalaluddin Daenta Ri Untiya) yang bernama Sitti Hafidzah Syarifah Ratu Aminah.

Sitti Hafidzah Syarifah Ratu Aminah merupakan puteri dari Sultan Banten ke-6 bernama Sultan Abul Fath Abdul Fattah (Sultan Ageng Tirtayasa) bin Sultan Abul Mahali Ahmad bin Sultan Abdul Mafakhir bin Sultan Maulana Muhammad bin Sultan Maulana Yusuf bin Sultan Maulana Hasanuddin bin Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

2. Dalam salah satu versi Silsilah Syekh Haji Abdurrahman Urrahim (Syekh Abdurrahman Silau atau Syekh Silau Laut) disebutkan bahwa ayahanda dari Syekh Silau Laut adalah Nakhoda Alang Batubara bin Nakhoda Ismail, yang merupakan keturunan dari Tuk Angku Mudik Tampang yang terus menyambung kepada Tuk Angku Batuah dari daerah Rao (perbatasan Tapanuli selatan dengan Sumatra barat, sumber).

Artikel Menarik :
1. Asal Muasal Shalat disebut Sembahyang ?
2. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
3. Buya HAMKA : Khidhir adalah manusia bijak, yang berganti-ganti sepanjang masa ?
4. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?

Hari Waisak di Bulan Ramadhan, Terjadi Pada Tahun 2018, 2019, 2020 dan 2053

Pada 29 Mei 2018 bertepatan dengan 13 Ramadhan 1439 Hijriyah, umat Buddha merayakan Hari Waisak yang penentuan waktunya berdasarkan purnama pertama bulan Mei.

Dengan adanya ketentuan purnama pertama di bulan Mei, maka diperkirakan Hari Waisak akan selalu terjadi pada setiap hari ke-13 atau ke-14 dalam kalender Hijriyah.

Hal ini bisa terlihat, saat perayaan Hari Waisak tahun 2017 yang terjadi pada 11 Mei 2017 bertepatan dengan tanggal 14 Shaban 1438 Hijriyah.


Diperkirakan terjadinya Hari Waisak di Bulan Ramadhan akan terjadi pada 19 Mei 2019 atau bertepatan dengan 14 Ramadhan 1440 Hijriyah.

Sementara pada tahun berikutnya terjadi pada 7 Mei 2020 atau bertepatan dengan 14 Ramadhan 1441 Hijriyah.

Setelah itu, Hari Waisak di Bulan Ramadhan diperkirakan baru akan terjadi lagi pada 2 Mei 2053 atau bertepatan dengan 13 Ramadhan 1475 Hijriyah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan: 

1. Perayaan Hari Waisak pada purnama pertama di bulan Mei, berdasarkan Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists – WFB) yang pertama di Sri Lanka pada tahun 1950 (sumber: wikipedia.org).

Referensi:
habibur.com
gulalives.co
kompas.com

Misteri Penguasa Palembang (1407-1528), dari Era Laksamana Cheng Ho sampai Menjelang Kekuasaan Ki Gede ing Suro

Pada sekitar tahun 1407, po-lin-fong (Palembang) kedatangan armada Cheng Ho bersama bala tentaranya yang diperkirakan berjumlah 27.800 orang.

Tujuan pasukan perang Dinasti Ming ini adalah untuk menumpas kelompok penguasa perairan sungai Musi yang dipimpin oleh Chen Tsu Ji yang merupakan mantan petinggi angkatan laut Dinasti Yuan.
Keterangan:

1. Syahbandar Shi Jinqing

Selepas keberhasilan menumpas kelompok Chen Tsu Ji, Laksamana Cheng Ho, mengembangkan komunitas masyarakat Tionghoa Muslim di wilayah ini, serta menyerahkan pengawasan palembang kepada seorang syahbandar bernama Shi Jinqing.

Kelak salah seorang putri dari Shi Jinqing yang bernama Nyai Gedhe Pinatih (Pi Na Ti), dikenal sebagai penyebar Islam di tanah Jawa dan menjadi ibu asuh dari Raden Paku (Sunan Giri).

2. Pangeran Arya Damar (Adipati Ario Dillah)

Melemahnya pengawasan Dinasti Ming terhadap Palembang selepas wafatnya Kaisar Yongle tahun 1424, dimanfaatkan Majapahit untuk mengambil alih kontrol pelabuhan Kukang (Palembang).

Kesempatan itu muncul ketika palembang dan sekitarnya terjadi kekacauan diantara para penguasa lokal setempat. Salah seorang kerabat istana Majapahit bernama Pangeran Arya damar diutus ke Palembang untuk menjadi duta kerajaan.

Sang Pangeran dibantu tokoh penguasa wilayah Lebar Daun berhasil meredam konflik dan untuk memperkuat kedudukannya Pangeran Arya Damar menikah dengan salah seorang putri dari penguasa wilayah Lebar Daun tersebut.

Selain itu Sang Pangeran diketahui memeluk Islam berkat dakwah salah seorang tokoh penyebar Islam Sunan Ampel.

Pengaruh Pangeran Arya Damar semakin hari semakin kuat dan akhirnya para pemimpin lokal setempat sepakat mengangkatnya sebagai Adipati Palembang di tahun 1445 yang mendapat dukungan dari penguasa Majapahit Ratu Suhita.

Di masa awal Prabu Kertawijaya sekitar tahun 1447, Pangeran Arya Damar yang dikenal dengan nama Adipati Ario Dillah kedatangan pengungsi dari Majapahit yakni Nyai Ratna Subanci yang membawa seorang bayi bernama Raden Hasan.

Raden Hasan adalah cucu Prabu Kertawijaya dari putrinya yang telah memeluk Islam karena menikah dengan seorang muslim asal Champa yang menjadi pejabat di wilayah Kertabhumi.

Latar belakang pengungsian ini adalah demi kesalamatan sang bayi yang keduanya telah wafat. Dikemudian hari ibu pengasuh sang bayi yakni Nyai Ratna Subanci menikah dengan salah seorang kepercayaan Adipati Ario Dillah yang bernama Arya Palembang.

3. Arya Palembang (Adipati Arya Dillah II)

Sosok Arya Palembang ini sering kali juga dianggap sebagai Arya Dillah (II), yang menggantikan posisi Arya Dillah (I) setelah yang bersangkutan mengundurkan diri sebagai Adipati Palembang.

Adipati Arya Dillah (II) inilah yang sesungguhnya ayahanda dari Raden Kusen Adipati Terung dari pernikahannya dengan ibu asuh Raden Hasan (Sultan Demak Raden Fattah).

Selain menikah dengan Nyai Ratna Subanci (ibu asuh Raden Hasan), Arya Palembang dikemudian hari juga diangkat menantu oleh Adipati Aryo Dillah. Adapun istri Arya Palembang yang lain adalah Nyimas Sahilan binti Syarif Husein Hidayatullah (Menak Usang Sekampung).

Pada tahun 1392 Saka (1470 Masehi), Arya Palembang (Adipati Arya Dillah II) memimpin pasukan Palembang menyerang Semarang dan mengangkat salah seorang puteranya Raden Sahun menjadi Adipati Semarang dengan gelar Pangeran Pandanaran.

4. Syahbandar Pai Lian Bang 

Pengangkatan Syahbandar Pai Lian Bang bersifat sementara, karena pada saat Arya Palembang (Arya Dillah II) wafat belum ditemukan calon pengganti yang pantas.

Meskipun bersifat sementara dibawah Syahbandar Pai Lian Bang, Palembang banyak mengalami kemajuan.

5. Adipati Karang Widara

Pengangkatan Adipati Karang Widara berasal dari pemufakatan pemimpin-pemimpin lokal. Sang Pangeran diketahui masih memiliki kekerabatan dengan Penguasan wilayah Lebar Daun.

6. Pangeran Seda ing Lautan

Pangeran Seda ing Lautan merupakan seorang pengikut setia Raden Patah. Selain menjadi penguasa Palembang ia mendapat tugas mempersiapkan armada perang untuk menyerang Portugis di Malaka.

Pada penyerbuan yang pertama tahun 1512, Pangeran Seda ing Lautan wafat di medan peperangan.

7.
 Pangeran Surodirejo

Pangeran Suradirejo adalah juga ayah angkat dari Ki Gede ing Suro dan saudara-saudaranya selepas ayahanda mereka Pangeran Seda ing Lautan wafat.

Kelak dikemudian hari, Ki Gede ing Suro diangkat menjadi penguasa Palembang di tahun 1528 atas restu penguasa Kerajaan Demak Sultan Trenggono.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Silsilah Kekerabatan Keluarga Majapahit, Champa dan Sunan Ampel

Salah satu penyebab cepatnya penyebaran Islam di masa walisongo adalah dikarenakan para wali masih memiliki kekerabatan dengan pihak penguasa kerajaan Majapahit.

Pelopor kekerabatan keluarga Majapahit dengan tokoh penyebar Islam di tanah Jawa adalah Pangeran Arya Lembu Sura saudara dari Prabu Wikramawardhdhana.


Pangeran Arya Lembu Sura menikah dengan putri tokoh muslim tionghoa Haji Bong Swi Hoo dan memiliki putra bernama Pangeran Arya Sena. Selain itu Pangeran Arya Lembu Sura juga menikah dengan putri Haji Bong An Sui dan memiliki putri bernama Ratna Wulan.

Putri Ratna Wulan binti Pangeran Arya Lembu Sura kemudian menikah dengan Adipati Tuban Haryo Tejo dan memiliki putri bernama Dewi Condrowati. Di kemudian hari Dewi Condrowati menikah dengan penyebar Islam Sunan Ampel.

Referensi:
1.  Silsilah majapahit
2. Naskah Mertasinga
3. Kisah Sunan Ampel
4. Nyai Ageng Maloko
5. Sri Wikramawardhana (Siwi Sang)
6. Manaqib Raden Fattah (malaya.or.id)
7. 
8. Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, tulisan Agus Sunyoto

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan: 

1. Ada dua versi tentang keberadaan Negeri Champa yang merupakan asal  daerah keluarga Sunan Ampel yakni berlokasi di Aceh (Sumatera) dan Vietnam (Indo China).

2. Arya Dillah Adipati Palembang ada yang berpendapat merupakan putra bungsu Wikramawarddhana namun versi lain mengatakan ia adalah anak dari Prabu Kertawijaya.

3. Maulana Abdullah Champa yang merupakan ayahanda Raden Hasan diperkirakan pernah menjabat sebagai Bhre Kertabhumi yang merupakan wilayah Majapahit di sebelah utara Wengker (sumber : wilayah majapahit).

Diperkirakan kedua orang tua Raden Hasan wafat ketika Raden Hasan masih kecil, oleh karenanya ia diungsikan oleh kakeknya Prabu Kertawijaya ke Palembang dibawa oleh ibu pengasuh bernama Nyai Ratna Subanci (sumber : Beberapa versi kisah Raden Fattah).

Di Palembang Raden Hasan diasuh oleh saudara muda kakeknya Raden Arya Dillah yang menjabat Adipati Palembang. sementara Nyai Ratna Subanci kemudian menikah dengan salah seorang kepercayaan Arya Dillah yakni Arya Palembang.

Arya Palembang (Arya Dillah II) dikemudian hari menggantikan posisi Arya Dillah sebagai Adipati Palembang dimana sebelumnya ia menikah dengan salah seorang putri dari Sang Adipati.

[Misteri] Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara dalam Silsilah Palembang dan Tarsilah Brunei Darussalam?

Di dalam Catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur, 1706 – 1714 ), nama Maulana Abdullah tercantum sebagai ayahanda dari Pangeran Manconegara, dengan rincian Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri.

Pangeran Manconegara sendiri merupakan kakek dari pendiri Kesultanan Palembang Darussalam yang bernama Sultan Abdul Rahman Kyai Mas Hindi Sayidul Iman Sunan Cinde Welang bin Jamaluddin Mangkurat Kyai Gede ing Pasarean bin Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara.

Nama Pangeran Manconegara ternyata juga tercatat di dalam Tarsilah Brunei Darussalam sebagai ayahanda dari Raden Mas Ayu Siti Aisyah permaisuri dari Sultan Brunei Darussalam yang bernama Sultan Abdul Jalilul Akbar (memerintah Kesultanan Brunei, 1598 – 1659).

Pada Tarsilah Brunei tertulis Pengiran (Kiai) Temenggong Manchu Negoro bin Pengiran Manchu Tando bin Sunan Dalam Ali Zainal Abidin Wirakusuma bin Sunan Giri, Maulana Muhammad Ainul Yaqin.

Berdasarkan kesamaan waktu dan nama, kemungkinan besar yang dimaksud  Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara (Silsilah Palembang) adalah indentik dengan Pengiran Manchu Tando (Tarsilah Brunei).

Dari kedua sumber tersebut dapat kita ambil beberapa kesimpulan:

1. Ayahanda Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara (Pengiran Kiai Temenggong Manchu Negoro) bernama Maulana Abdullah.

2. Maulana Abdullah merupakan seorang Pangeran Adipati atau Manchu Tando yang merupakan jabatan setingkat wakil Adipati di wilayah Sumedang Negara.

3. Berdasarkan timeline peristiwa di masa itu yang menjabat Adipati Sumedang adalah Pangeran Santri putra dari Maulana Muhammad Pangeran Arya Cirebon.

Hal inilah yang membuat dalam beberapa silsilah menulis Pangeran Adipati Sumedang adalah putra dari Pangeran Arya Cirebon, padahal sosok Pangeran Adipati dan Adipati di Sumedang merupakan dua orang yang berbeda.

4. Tokoh Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara seringkali juga tertukar dengan sosok Pangeran Panca Tanda yang merupakan paman dari Pangeran Manconegara.

Pangeran Panca Tanda merupakan anak dari Tumenggung Mantik (Ki Geding Karang Panjang/Ki Geding Karang Tengah) sekaligus juga ipar dari  Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara.

Pangeran Panca Tanda inilah yang kemudian hijrah bersama Pangeran Manconegara ke Palembang.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Tokoh lain yang juga sering dianggap sebagai ayahanda dari Pangeran Manconegara adalah Raden Kiai Nurdin.

Raden Kiai Nurdin diperkirakan merupakan salah seorang putra dari Pangeran Arya Cirebon yang juga paman sekaligus ayah angkat dari Pangeran Manconegara.