Tag Archives: astronomi

Awal Mula Lambang Bulan Bintang di Kubah Masjid

Bulan sabit dan bintang dikenal sebagai simbol umat Muslim. Lambang ini selain digunakan sebagai simbol partai-partai Islam, juga menghiasi kubah masjid.

Menurut Direktur Observatorium Bosscha, Hakim L. Malasan, simbol umat Islam tersebut sebenarnya adalah bulan sabit dan Venus, bukan bintang. Kedua benda luar angkasa itu terlihat seperti bersentuhan di langit pada saat gerhana venus.


Hakim L. Malasan menduga para pemuka Islam melihat fenomena ini ketika sedang memantau hilal.

Gerhana venus atau dikenal dengan nama okultasi venus, terjadi ketika Venus-Bulan-Bumi berada dalam segaris lurus. Sehingga Venus dan Bulan akan terlihat berdekatan.

Pada puncaknya gerhana, Venus akan terlihat hilang di balik Bulan. Peristiwa inilah memunculkan visualisasi “bulan bintang”, yang kemudian dijadikan simbol di kalangan umat muslimin.

Peristiwa okultasi venus diprediksi akan terjadi pada 18 September 2017. Berdasarkan perhitungan astronomi, okultasi venus tahun ini akan terlihat saat fajar pada pukul 05:41 WIB.

Sumber :
1. Kalender Astronomi 
2. Gerhana Venus Jadi Simbol Islam

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik  
1. Sejarah “Mesin Terbang”, bermula dari menara Masjid Cordoba ?
2. Misteri Astronomi di Langit Kota Makkah 1438 tahun yang lalu ?3. Inovasi warga Saudi, saat menghadapi gelombang panas 50 derajat celsius 
4. Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan Geologi

Iklan

[Misteri Astronomi] Batu Bersurat Terengganu “Jum’at bulan Rajab tahun Saratan”, Baginda Rasulullah telah lalu 702 ?

Pada tahun 1902, seorang saudagar bernama Sayyid Husin bin Ghulam Al Bukhari tanpa sengaja menjumpai batu bersurat di tebing Sungai Tersat (Sungai Tara), Kampung Buluh di Kuala Berang, Hulu Terengganu Malaysia.

Batu Bersurat ini kemudian dibawa ke Kuala Terengganu, dan dipersembahkan kepada Sultan Zainal Abidin III untuk kemudian diletakkan di atas Bukit Puteri.

Misteri Astronomi Batu Bersurat

Berdasarkan penelitian ahli bahasa, isi teks batu bersurat ini mengenai undang-undang seorang raja. Catatan yang terkandung pada batu ini menyebut Islam sebagai agama resmi serta menerangkan hukum-hukum Islam tentang maksiat dan segala kemungkaran.

Dan yang menarik pada batu bersurat ini, adanya masa pembuatannya yang mengandung isyarat astronomi. Pada muka pertama batu bersurat ini berbunyi…


Kalimat di akhir Prasasti, “Jumaat di bulan Rejab di tahun Saratan di sasanakala baginda Rasulullah telah lalu tujuh ratus dua.” ternyata memiliki makna astronomi, dan memberi gambaran kepada kita tentang kedalaman ilmu falaq nenek moyang bangsa Melayu pada masa lalu.

Berdasarkan penyelusuran astronomi, tahun saratan di 702 hijriyah terjadi ketika Bulan dan Planet Musytari (Jupiter) berada di Buruj Sarathan pada hari Kamis, 28 Februari 1303 M, yang dimulai saat terbenamnya matahari. Fenomena ini berakhir pada esok harinya, yaitu pada hari Jum’at, 1 Maret 1303 M.

Dengan demikian makna dari penanggalan yang terdapat pada batu bersurat terengganu, adalah hari jum’at 1 Maret 1303 M, yang bertepatan dengan tanggal 11 Rajab 702 Hijriyah.

Referensi :
1. Isyarat Astronomi – Batu Bersurat Terengganu
2. Batu Bersurat Terengganu (wikipedia.org)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. 
2. [Misteri] Simbolisasi Ma-liki, Ma-luku dan Ma-laka menuju Kejayaan Nusantara ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi warna Kemerahan?
4. 

Gerhana Matahari dan Bulan, dalam 5 Manuskrip Kuno Astronom Muslim

Pada tanggal 9 Maret 2016, Indonesia bakal mengalami fenomena Gerhana Matahari.

Diperkirakan Gerhana Matahari akan melintasi Palembang, Belitung, Bangka, Balikpapan, Luwuk, Sampit, Palu, Ternate, Palangkaraya, Poso serta Halmahera (sumber : antaranews.com).

gerhana2
Fenomena Gerhana Matahari dan Bulan, merupakan Peristiwa Astronomi yang menarik untuk diamati, termasuk oleh Para Cendikiawan Muslim ratusan tahun yang silam, sebagaimana terlihat pada beberapa manuskrip kuno berikut ini :

1. Perhitungan gerhana matahari dan bulan, copy naskah abad ke-14, “Marvels of Creatures and Strange Things Existing”, tulisan al-Qazwini.

sains1
Zakariya
ibn Muhammad alQazwini (1203 -1283), adalah seorang  astronom dan ahli geografi. Lahir di kota Qazvin (Persia).

2. Sebuah ilustrasi dari gerhana bulan, karya alBiruni (973-1048)

sains2
3. Perhitungan Gerhana Matahari, karya Ibnu Shatir seorang astronom Muslim paling terkemuka dari abad ke-14.

sains3
4. Karya Astronom Ottoman, İbrahim Tiflisi tahun 1479

sains4
5. Karya Ilmuan Ottoman, Ibrahim Müteferrika, yang lahir di Transylvania tahun 1674.

sains5

Sumber :
1. islamic-arts.org
2. alhaamish.com
3. yama-bato.tumblr.com
4. catchislam.blogspot.co.id

Artikel Menarik :
1. Misteri di Langit Makkah, 1437 tahun yang lalu ?
2. Sejarah “Mesin Terbang”, bermula dari menara Masjid Cordoba ?
3. Manfaat Sujud, menurut Pakar Kesehatan Prof. Hembing, Prof. H.A Saboe dan Dr. Fidelma O’ Leary
4. Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan Geologi?

Dua Planet Tersembunyi di Tata Surya Kita ?

Ada dua planet yang mungkin tersembunyi di tata surya kita dan menunggu untuk ditemukan. Itu berdasarkan hasil studi astronom asal Inggris dan Spanyol yang diterbitkan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomy Socioety pada Januari 2015.

Dugaan adanya planet yang tersembunyi tersebut muncul dari hasil studi benda-benda angkasa di tata surya yang letaknya sangat jauh, disebut Extreme Trans-Neptunian Objects atau singkatnya ETNO.

Secara teori, diperkirakan ETNO berada pada jarak sekitar 150 unit astronomi (AU). Satu AU didefinisikan sebagai jarak antara matahari dan bumi (150 juta kilometer). Jadi, jarak ETNO diperkirakan 150 kali jarak bumi-matahari.

ETNO bisa berada pada bidang orbit yang sama dengan planet-planet lain di tata surya, tetapi bisa juga berbeda. Bila berbeda, rentang jarak ETNO bisa lebih lebar lagi, antara 150-525 AU dengan kemiringan orbit 20 derajat.

solar-system1
Untuk sampai pada dugaan adanya dua planet tersembunyi, para astronom melakukan perhitungan berdasarkan jumlah planet yang ada di tata surya serta gravitasi yang memengaruhi ETNO.

Berdasarkan hasil studi, Carlos de la Fuente Marcos dari Compulsente University di Madrid, astronom yang melakukan studi, menemukan kemungkinan adanya obyek berlebih di tata surya yang gravitasinya memengaruhi ETNO. Obyek itu diperkirakan planet.

“Jumlah pastinya belum pasti karena data kami masih sangat minim, tetapi kalkulasi kita menunjukkan bahwa paling tidak ada dua planet, mungkin lebih, di tata surya,” kata Carlos seperti dikutip AFP, Senin (19/10/2015).

Diperkirakan, satu planet berada pada jarak 200 AU dan planet lain berada pada jarak 250 AU. Jika dugaan Marcos terkonfirmasi, riset yang dilakukannya bersama astrofisikawan dari University of Cambridge di Inggris ini akan mengguncang dunia astronomi.

Mungkinkah ada planet yang letaknya sangat jauh dari bintangnya? Studi astronom dengan teleskop ALMA di Cile menunjukkan bahwa hal itu mungkin, terbukti dari penemuan planet yang letaknya sangat jauh di tata surya lain.

Neptunus berjarak 30 AU, sementara Pluto yang ditendang statusnya sebagai planet pada tahun 2006 berjarak 40 AU. Bila dua planet tersembunyi itu memang ada, letaknya bakal sangat jauh, 5-6 kali jarak matahari dengan Pluto.

Sumber :
kompas.com

Teori Isra Miraj berkunjung ke Bintang Sirius ?

Seorang ulama mesir, Muhammad Al Banna menyatakan bahwa lokasi Sidratul Muntaha,  yang dikunjungi Rasulullah saat melakukan Perjalanan Isra Miraj berada di Bintang Syi’ra.

وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعْرَىٰ

Dan bahwasanya Dialah RABB (yang memiliki) bintang Syi’ra
(QS. An Najm (53) ayat 49 )

Sumber : Isnet

Di kalangan pakar astronomi, bintang Syi’ra dikenal sebagai SiriusSirius (α CMa / α Canis Majoris / Alpha Canis Majoris) adalah bintang paling terang di langit malam, dengan magnitudo tampak −1.47.

Bintang ini terletak di rasi Canis Major, yang memiliki jarak dengan bumi sejauh  8,6 tahun cahaya.

Sumber : wikipedia

sirius2

Proses Perjalanan Isra Miraj

Dalam ilmu astronomi 1 tahun cahaya memiliki jarak 9.460.800.000.000 Km, atau dibulatkan menjadi 10^13 Km.

Dengan demikian jarak Sirius dengan Bumi adalah sekitar 8,6 x 10^13 Km.

Berdasarkan beberapa riwayat, ketika Rasulullah melakukan perjalanan Isra Miraj, beliau ditemani Malaikat Jibril dengan mengendarai Buraq.

Istilah buraq mungkin berasal dari istilah barqu yang berarti kilatperubahan istilah barqu menjadi buraq, bisa dimaknai bahwa  kendaraan ini memiliki kecepatan di atas sinar (cahaya).

Kecepatan Cahaya sendiri adalah sebesar 300.000 km/detik atau 3 x 10^5 km/detik. Dengan kecepatan ini, Buraq akan sampai ke Sirius memakan waktu 2,86 x 10^8 detik atau sekitar 3.310 hari kemudian.

semesta17

Di dalam Al Qur’an, kita mengenal istilah Ma’aarij, yakni tempat-tempat naik para malaikat (sumber : Ma’aarij). Sebagaimana Firman ALLAH :

Dari Allah yang mempunyai tempat-tempat naik. Naik malaikat dan ruh kepada Nya di dalam satu hari adalah ukurannya lima puluh ribu tahun (QS. Al Ma’aarij (70) ayat 3-4).

Berdasarkan ayat di atas, di dapat persamaan :

1 hari maarij = 50.000 tahun bumi
86400 detik maarij = 50.000 x 365 x 86400 detik bumi
1 detik maarij = 18,25 10^6 detik bumi

Dengan demikian, saat cahaya (Buraq) ketika masuk di ruang Maarij, Kecepatan Buraq akan menjadi 5,475 x 10^12 km/ detik. Dengan kecepatan ini, Buraq akan sampai di Sirius hanya sekitar 15,7 detik.

semesta16
Beberapa kelemahan teori ini :

1. Perjalanan Isra Miraj diperkirakan memakan waktu sekitar 8 jam. Dengan demikian kunjungan ke Sirius, dengan hanya memakan waktu sekitar 15,7 detik terasa terlalu singkat (dekat).

Demikian juga lokasi Sirius yang sekitar 8,6 tahun cahaya dari bumi, sangat jauh dibandingkan luasan alam semesta yang berdiameter 14.5 milyar tahun cahaya.

2. Di sepanjang perjalanan, Rasulullah diperlihatkan pemandangan-pemandangan gaib, sebagaimana terdapat di dalam Hadis At-Tabrani dan Al-Bazar.

Pemandangan gaib itu, seperti  beliau melihat ada seorang lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain.

Menurut Jibril pemandangan gaib ini adalah gambaran orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.

Dengan adanya pemandangan gaib ini, ada yang menduga Rasulullah bukanlah menuju bintang tertentu di alam semesta, melainkan menuju portal-portal gaib, yang menjadi pintu-pintu langit.

Pendapat ini sejalan dengan pendapat Muhammad Rasyid Ridha, yang berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra’ mi’raj adalah langit ghaib.

Sumber :
Diskusi Mencari Penghuni Langit (Grup Facebook)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Hajar Aswad, Petunjuk Astronomi Keberadaan Makkah ?

Ada satu pertanyaan yang mengelitik…

Mengapa Nabi Ibrahim, memilih Makkah sebagai tempat berdirinya Ka’bah ?

Akan ada banyak jawaban…

Namun jawaban yang paling umum adalah, Kota Makkah adalah tempat awal peradaban manusia, sehingga disebut juga  Ummul Qura atau Ibu Negeri (QS.42:7). Dan disanalah mula-mula tempat peribadatan didirikan (QS.3:96).

Makkah—juga disebut Bakkah—tempat di mana umat Islam melaksanakan haji itu, terbukti sebagai tempat yang pertama diciptakan.

Telah menjadi kenyataan ilmiah bahwa bola bumi ini pada mulanya tenggelam di dalam air (samudera yang sangat luas). Kemudian gunung api di dasar samudera ini meletus dengan keras dan mengirimkan lava dan magma dalam jumlah besar yang membentuk ‘bukit’.

Dan bukit ini adalah tempat Allah memerintahkan untuk menjadikannya lantai dari Ka’bah (kiblat). Batu basal Makkah dibuktikan oleh suatu studi ilmiah sebagai batu paling purba di bumi. (Sumber : Kota Makkah, dan Penemuan Geologi).

Jawaban atas alasan dipilihnya kota Makkah, sebagaimana tersebut di atas, bagi seorang Pencari Ilmu belumlah cukup. Dan muncul pertanyaan baru…

Darimana Nabi Ibrahim tahu, kalau tempat ia membangun Ka’bah dulunya adalah tempat awal peradaban manusia ? Bukankah ketika beliau mendirikan Ka’bah, tempat itu merupakan tempat tak bertuan dan gersang ?

Bahkan selepas Bencana Nabi Nuh, Kota Makkah (Bakkah) sempat menghilang keberadaannya. Tempat yang dipercaya sebagai lokasi paling tepat bagi waktu dunia, bahkan berdasarkan penelitian Geologi merupakan Pusat Hemisphere Pangea, selama ribuan tahun tidak diketahui rimbanya.

Sekitar 30 tahun yang lalu, seorang Cendikiawan Muslim, Ustadz Nazwar Syamsu mencoba menjawab pertayaan itu.

Melalui serial bukunya “Tauhid dan Logika“, beliau menyatakan penemuan kembali Kota Makkah, tidaklah bisa dilepaskan dengan keberadaan Batu Astronomi (Meteor) “Hajar Aswad”.

Beliau menulis…

“Kepada Ibrahim dikirim ALLAH sebuah meteor yang jatuh tepat di titik putaran utara Bumi dulu. Meteor itu kini tampak jelas di Ka’bah dan dinamakan orang dengan Hajar Aswad atau Batu Hitam, karena memang warnanya hitam, sengaja ditempatkan Nabi Ibrahim demikian, agar pada waktu kemudiannya tidak timbul syak wasangka, bahwa penempatan Ka’bah demikian hanya menurut kemauan Ibrahim sendiri.” (Sumber : Al Qur’an tentang Shalat Puasa dan Waktu, Serial Tauhid dan Logika, Tulisan Nazwar Syamsu)

Untuk dipahami, mencium Batu Hajar Aswad, bukan saja mengikuti Sunnah Rasulullah, akan tetapi bisa juga kita maknai, sebagai bentuk rasa syukur kita, atas ditemukan kembali keberadaan Kota Makkah, oleh Nabi Ibrahim ‘Alahi Salam.

WaLlahu a’lamu bishshawab