Tag Archives: fisika

Mushaf Al-Quran Masa Para Sahabat, dibuktikan melalui Penelitian Fisika, dan Karakteristik Manuskrip

Pihak Universitas Tübingen, Jerman, Senin (10/11/2014), menyatakan bahwa para penelitinya telah menemukan sebuah mushaf kuno. Setelah diteliti, ternyata mushaf ini lebih tua dari perkiraan saat pertama ditemukan.

mushaf1

Karena ditulis pada abad ke-7 Masehi, seperti diterangkan pihak universitas, berarti mushaf ini ditulis pada masa sahabat Nabi di awal sejarah Islam. Para peneliti juga menerangkan bahwa penulisan mushaf ini diperkirakan ditulis pada 20-40 tahun setelah wafat Rasulullah SAW.

Saat ini, sampel dari kertas mushaf ini dijadikan bahan penelitian internasional tentang sejarah penulisan Al-Quran. Adapun tentang perkiraan umur manuskrip yang sangat kuno ini, juru bicara universitas menyatakan telah menggunakan karakteristik manuskrip dan juga dengan penelitian fisika.

Mushaf yang baru diketahui umurnya ini ditulis dengan menggunakan model tulisan Al-Kufi, yang menurut para peneliti, merupakan model tulisan Arab tertua yang diketahui saat ini.

Sumber :
sangpencerah.com

Iklan

Sosok Malaikat, dalam Teori Ilmu Fisika ?

Di dalam Catatan Facebook-nya berjudul : Malaikat, Makhluk Dunia Quantum, Agus Mustofa mencoba menerangkan sosok dari Malaikat, dipandang dari sudut ilmu fisika. Berikut tulisan lengkap dari artikel tersebut…

cahaya1

Demi partikel-partikel yang berukuran sangat kecil. Yang membawa beban sangat berat. Lalu berdinamika dengan begitu mudah. Kemudian membagi-bagi urusan. Sungguh yang dijanjikan kepadamu pasti benar.

[QS. Adz Dzaariyaat (51): 1-5]

BAHAN dasar tubuh malaikat masih menjadi misteri yang belum terungkap sepenuhnya. Meskipun, clue-nya mengarah kepada cahaya. Akan tetapi, secara sains, bisa mengarah kepada sesuatu yang lebih generik ketimbang cahaya, yakni dzarrah alias partikel-partikel quantum yang lebih mendasar.

Sebagaimana kita ketahui, partikel-partikel quantum itu menjadi media menjalarnya empat gaya dasar alam semesta. Yaitu, partikel Foton atau cahaya sebagai pembentuk gaya elektromagnetik, partikel Boson Madya membentuk gaya nuklir lemah, partikel Gluon pembentuk gaya nuklir kuat, dan partikel Graviton terkait dengan gaya gravitasi alam semesta.

Terkait dengan bahan dasar malaikat itu, sejumlah ilmuwan muslim menengarai, ada keterkaitan sangat erat antara malaikat dengan partikel-partikel quantum tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan kita layak ‘mencurigai’ adanya keterkaitan itu.

1. Malaikat digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kecepatan sangat tinggi, yang ketika mereka bergerak dengan kecepatannya, dimensi ruang dan waktu mengalami dilatasi relatif ter hadap waktu manusia. Sehingga, sangat dimungkinkan bahan dasar tubuh malaikat adalah cahaya. Atau, yang setara dengannya.

2. Dalam ilmu Fisika Modern, cahaya berasal dari partikel quantum bernama foton yang tidak memiliki massa dan muatan listrik sehingga menjadi sedemikian ringan dan netral tak terpengaruh muatan listrik. Maka, bicara tentang cahaya sama dengan berbicara tentang foton.

3. Partikel-partikel quantum itu ternyata bukan hanya foton, melainkan ada yang disebut gluon, boson madya, dan graviton. Masing-masing bertanggung jawab atas gaya-gaya dasar yang menyebabkan alam semesta bisa eksis.

Kehilangan salah satu gaya, akan menyebabkan runtuhnya alam semesta. Tanpa ada boson madya, tak akan ada partikel-partikel sub atomik. Tanpa ada gluon, tak mungkin ada inti atom. Tak ada foton, tak mungkin ada interaksi antar atom. Dan tak ada graviton, tak mungkin ada benda-benda langit, seperti bintang, galaksi dan planet.

quantum1

4. Partikel-partikel quantum yang sangat kecil itu di dalam Al Qur’an diistilahkan sebagaidzarrah. Dan kemudian menjadi nama salah satu surat Adz Dzaariyaat yang bermakna ‘partikel-partikel sangat kecil atau sangat halus’.

5. Maka, tidak menutup kemungkinan bahan dasar penciptaan tubuh malaikat itu adalah dari partikel-partikel quantum itu. Jadi, bukan hanya foton, melainkan juga gluon, boson madya, dan graviton. Atau, ‘sesuatu’ yang menjadi kesatuan partikel-partikel quantum tersebut.

6. Jika dirunut sejarahnya, maka kemunculan partikel foton adalah yang paling akhir dibandingkan dengan partikel-partikel quantum lainnya. Sebelum kemunculan foton, dikenal sebagai era gaya-gaya electroweak yang menjadi representasi penyatuan antara gaya nuklir lemah yang diwakili boson madya dengan elektromagnetik yang diwakili foton.

Dan sebelum electroweak itu, dikenal sebagai era bersatunya antara foton, boson madya, dan gluon yang mewakili gaya nuklir kuat. Dan paling ujung dari semua penyAtuan itu adalah sesaat setelah terjadinya big bang dimana semua gaya-gaya dasar alam semesta itu masih berupa gaya gravitasi yang diwakili oleh graviton, yang kemudian dikenal sebagai higgs boson ataupun partikel Tuhan.

7. Yang menarik, partikel-partikel quantum itu di dalam Fisika dikenal sebagai partikelmessenger alias partikel utusan. Fungsinya adalah menyampaikan pesan berupa medan gaya, yang menghasilkan gaya-gaya dasar alam semesta.

Dimana dengan bertumpu pada keempat gaya dasar alam semesta itulah segala peristiwa ini terjadi. Mulai dari sesaat setelah big bang dimana segala eksistensi alam semesta ini diadakan bersamaan dengan partikel-partikel messenger tersebut. Kemudian, semuanya berfluktuasi membentuk ruang dan waktu, materi dan energi, berdasarkan informasi atau perintah yang dibawa oleh para partikel utusan itu.

cahaya3

Partikel Graviton membawa pesan untuk menyampaikan gaya gravitasi yang menyebabkan terbentuknya ruang dan waktu. Sedangkan, partikel Boson Madya, Gluon dan Foton, membawa pesan bagi terbentuknya materi dan energi secara bertahap pada skala sub atomik, molekuler, sampai pada benda-benda dan peristiwa sehari-hari yang berskala sedang.

Sampai sekarang semua gaya itu masih terus bekerja untuk menjaga eksistensi alam semesta dengan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya. Semuanya bertumpu pada peran messenger particles alias partikel-partikel utusan yang membawa pesan penciptaan dan pemeliharaan, bahkan penghancuran atas segala benda dan peristiwa yang terjadi di dalam alam semesta.

Berdasar pada runtut berpikir di atas, maka tak bisa dimungkiri ada kemiripan yang luar biasa antara partikel-partikel quantum sebagai messenger antar benda dan peristiwa, dengan para malaikat yang juga bertugas sebagai utusan – messenger – bagi terselenggaranya drama kolosal alam semesta sebagai makhluk Allah, Sang Maha Raja, Penguasa jagat semesta.

Rentetan ayat di atas memberikan gambaran tentang adanya partikel-partikel sangat halus yang memiliki karakter seperti messenger particles. Ukurannya sangat halus, sehingga diungkapkan dengan kalimat sumpah yang menegaskan: wadz dzaariyaati dzarwan – demi partikel yang halus, sehalus-halusnya.

Bagaimanakah karakter partikel yang halus itu? Adalah partikel-partikel yang mampu membawa ‘beban berat’, sebagaimana yang dibawa oleh partikel-partikel quantum, yakni membawa medan gaya yang sangat besar berupa gaya gravitasi, gaya nuklir dan gaya elektromagnetik..!

Wallahu a’lam bissawab.

Catatan Penambahan :

1. Malaikat dalam Hadits

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُلِقَتْ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ dan Abdu bin Humaid, berkata Abdu: Telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan Ibnu Rafi’ berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Urwah dari Aisyah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian.” (Hadits Riwayat Muslim, Hadits Online No. 5314)

Identifikasi Fenomena Wormhole, menurut Al Qur’an?

Di dalam Physics Science, dikenal istilah Wormhole (Lubang Cacing). Wormhole sendiri, menurut batasan Fisika Moderen, adalah bagian dari Alam Semesta yang bisa digunakan sebagai jalan pintas perjalanan yang amat jauh.

Fenomena alam ini secara teoritis, merupakan lorong magnetik yang didalamnya memiliki gravitasi kuat, yang mampu menarik apapun yang masuk ke dalamnya. Dan untuk kemudian mendorongnya ke ujung lorong yang lain hanya dalam beberapa saat. Yang dimaksud dengan ‘ujung lorong lain’ ini, adalah pintu dari alam semesta yang paralel dengan kita, atau bisa juga alam semesta dari galaksi lain.

Sejumlah ahli fisika terkemuka pernah berasumsi, kuatnya gravitasi wormhole sudah cukup membuat moda transportasi yang tak terlalu canggih mampu melaju dengan kecepatan di atas kecepatan cahaya. Oleh karena itu, secara teoretis, perjalanan antar galaksi yang letaknya amat berjauhan bukan tak mungkin bisa diselesaikan hanya dalam waktu 200 hari atau kurang.

Hanya kini masalahnya, bagaimana mencari sang Wormhole tersebut? Sayang sekali, justru masalah inilah yang tak pernah terpecahkan hingga kini. Para ahli astro-fisika hingga saat ini baru sebatas mengetahui konstruksi teoretisnya, sementara selebihnya masih sangat gelap (sumber : Menjelajah Alam Semesta).

Wormhole-Ma’aarij

Menurut Einstein dan I. Rosen, keberadaan wormhole amat erat kaitannya dengan black-hole, obyek alam semesta yang dikenal memiliki gravitasi amat kuat. Sementara menurut Hawking, pada kondisi waktu maya (waktu Tuhan) dengan melalui “wormhole”, kita bisa pergi ke waktu manapun dalam riwayat bumi, bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan (sumber : Teori Fisika Hawking, mengungkap Perjalanan Isra Rasulullah?).

Berdasarkan teori, waktu akan berjalan lebih lamban, jika berada di dekat medan gravitasi, oleh karenanya gravitasi memiliki cangkang-cangkang waktu. Begitupun ketika kita melaju dengan roket pada beberapa kecepatan yang berbeda, maka akan memiliki beberapa dilatasi waktu yang berbeda. Kesimpulannya, ketika kita melaju lurus pada satu kecepatan, sebenarnya kita berada pada satu cangkang dari medan gravitasi.

Misal kembar A, B dan C berumur 20 tahun. Kembar A melaju lurus ke sebuah bintang dan balik lagi ke bumi. Kembar B melaju melengkung konstan mengitari bumi dengan kelajuan yang sama dengan kembar A. Kembar C berada di bumi. Kembar A dan B akan berumur 50 tahun, sedangkan kembar C akan berumur 70 tahun.

Wormhole yang berkaitan dengan hubungan dalam ruang-waktu, dikenal sebagai Laurentzian wormhole. Lorentzian wormholes terbagi dalam dua jenis:

1) Inter-universe wormholes, wormholes yang menghubungkan semesta kita dengan ‘semesta’ yang lain. Ini adalah dugaan tentang adanya semesta paralel.

2) Intra-universe wormholes, wormhole yang menghubungkan dua daerah dalam semesta yang sama.

Ada juga wormhole lain yang dikenal sebagai Euclidean wormholes, yang mana, wormhole ini ada dalam proses yang sangat mikro, karena menjadi perhatian utama para ahli teori medan quantum (sumber : Wormhole-Langitselatan.com).

Beberapa Cendikiawan Muslim, mengidentifikasikan adanya Wormhole-Ma’aarij, yakni tempat-tempat naik para malaikat (sumber : Ma’aarij (Wormhole)).

Sebagaimana Firman ALLAH :

Dari Allah yang mempunyai tempat-tempat naik
Naik malaikat dan ruh kepada Nya di dalam satu hari adalah ukurannya lima puluh ribu tahun
(QS. Al Ma’aarij (70) ayat 3-4).

Wormhole-Ma’aarij ini, lebih merupakan jalur khusus yang diciptakan ALLAH bagi hamba-hamba yang dikehendaki-NYA. Ada yang meyakini, kisah-kisah di dalam Al Qur’an, seperti Pemuda Kahfi dan Peristiwa Isra’, ada keterkaitan dengan Fenomena Wormhole-Ma’aarij ini.

Wormhole-Ma’aarij juga diyakini, akan menemui semua insan yang bernyawa, yakni ketika ajal menjelang, terbukalah satu pintu Wormhole-Ma’aarij kepada kita. Hyperspace ini akan terhubung ke Alam Barzakh, dimana Malaikat Maut akan menemani kita dalam meniti “jembatan” ini,  yang satu harinya berbanding secara relative 50 ribu tahun di bumi.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik Lainnya…
01. Menghitung Umur Semesta
02. (Perhitungan Matematis) Kecepatan BURAQ
03. Teori Fisika Hawking, mengungkap Perjalanan Isra Nabi?
04. Misteri Astronomi di Langit Makkah dan Sejarah Penanggalan Kalender Hijriyah

Teori Fisika Hawking, mengungkap Perjalanan Isra Rasulullah?

Salah satu mukjizat Nabi Muhammad, adalah diperjalankannya beliau oleh Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.

Banyak yang coba mengungkapkan peristiwa tersebut secara ilmiah, salah satunya melalui Teori Fisika paling mutahir, yang dikemukakan oleh Dr. Stephen Hawking.


Teori Lubang Cacing

Raksasa di dunia ilmu fisika yang pertama adalah Isaac Newton (1642-1727) dengan bukunya : Philosophia Naturalis Principia Mathematica, menerangkan tentang konsep Gaya dalam Hukum Gravitasi dan Hukum Gerak.

Kemudian dilanjutkan oleh  Albert Einstein (1879-1955) dengan Teori Relativitasnya yang terbagi atas Relativitas Khusus (1905) dan Relativitas Umum (1907).

Dan yang terakhir adalah Stephen William Hawking, CH, CBE, FRS (lahir di Oxford, Britania Raya, 8 Januari 1942), beliau dikenal sebagai ahli fisika teoritis.

Dr. Stephen Hawking dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama sekali karena teori-teorinya mengenai tiori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan tulisan-tulisan popnya di mana ia membicarakan teori-teori dan kosmologinya secara umum.

Tulisan-tulisannya ini termasuk novel ilmiah ringan A Brief History of Time, yang tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut, suatu periode terpanjang dalam sejarah.

Berdasarkan teori Roger Penrose :
Bintang yang telah kehabisan bahan bakarnya akan runtuh akibat gravitasinya sendiri dan menjadi sebuah titik kecil dengan rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga, sehingga menjadi sebuah singularitas di pusat lubang hitam (black hole).

Dengan cara membalik prosesnya, maka diperoleh teori berikut :

Lebih dari 15 milyar tahun yang lalu, penciptaan alam semesta dimulai dari sebuah singularitas dengan rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga, meledak dan mengembang. Peristiwa ini disebut Dentuman Besar (Big Bang), dan sampai sekarang alam semesta ini masih terus mengembang hingga mencapai radius maksimum sebelum akhirnya mengalami Keruntuhan Besar (kiamat) menuju singularitas yang kacau dan tak teratur.

Dalam kondisi singularitas awal jagat raya Teori Relativitas, karena rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang tak terhingga akan menghasilan besaran yang tidak dapat diramalkan.

Menurut Hawking bila kita tidak bisa menggunakan teori relativitas pada awal penciptaan “jagat raya”, padahal tahap-tahap pengembangan jagat raya dimulai dari situ, maka teori relativitas itu juga tidak bisa dipakai pada semua tahapnya. Di sini kita harus menggunakan mekanika kuantum. Penggunaan mekanika kuantum pada alam semesta akan menghasilkan alam semesta “tanpa pangkal ujung” karena adanya waktu maya dan ruang kuantum.

Pada kondisi waktu nyata (waktu manusia) waktu hanya bisa berjalan maju dengan laju tetap, menuju nanti, besok, seminggu, sebulan, setahun lagi dan seterusnya, tidak bisa melompat ke masa lalu atau masa depan. Menurut Hawking, pada kondisi waktu maya (waktu Tuhan) melalui “lubang cacing (wormhole)” kita bisa pergi ke waktu manapun dalam riwayat bumi, bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan.

Hal ini bermakna, masa depan dan kiamat (dalam waktu maya) menurut Hawking telah ada dan sudah selesai” sejak diciptakannya alam semesta. Selain itu melalui “lubang cacing” (dengan kekuasaan Allah Swt) kita bisa pergi ke manapun di seluruh alam semesta dengan seketika.

Jadi dalam pandangan Hawking takdir itu tidak bisa diubah, sudah jadi sejak diciptakannya. Dalam bahasa ilmu kalam :

“Tinta takdir yang jumlahnya lebih banyak daripada seluruh air yang ada di tujuh samudera di bumi telah habis dituliskan di Luh Mahfudz pada awal penciptaan, tidak tersisa lagi (tinta) untuk menuliskan perubahannya barang setetes.”

Menurut Dr. H.M. Nasim Fauzi, sesuai dengan teori Stephen Hawking, manusia dengan waktu nyatanya tidak bisa menjangkau masa depan (dan masa silam). Tetapi bila manusia dengan kekuasaan Allah, bisa memasuki waktu maya (waktu Allah) maka manusia melalui “lubang cacing” bisa pergi ke masa depan yaitu masa kiamat dan sesudahnya, bisa melihat masa kebangkitan, neraka dan shiroth serta bisa melihat surga kemudian kembali ke masa kini, seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad, sewaktu menjalani isro’ dan mi’roj (Sumber : Gagasan dan Pemikiran, Dr. Nasim Fauzi).

Sebagaimana firman Allah :

Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal…
(QS. An Najm /53:13-15)

Nampaknya dalam mengungkap Perjalanan Isra, Teori Hawking dengan “Lubang Cacing”-nya, sama logisnya dengan Teori Menerobos Garis Tengah Jagat Raya (sumber : (Perhitungan Matematis) Kecepatan BURAQ), namun meskipun begitu, teori Hawking, tidak semuanya bisa kita terima dengan mentah-mentah…

Se-andainya benar, Rasulullah diperjalankan Allah melalui “lubang cacing (worm hole)” semesta, seperti yang di-utarakan oleh Dr. H.M. Nasim Fauzi, harus di-ingat bahwa perjalanan tersebut adalah perjalanan lintas alam, yakni menuju ke tempat yang  kelak dipersiapkan bagi umat manusia, di masa mendatang (surga).

Rasulullah dari masa ketika itu (saat pergi), berangkat menuju surga, dan pada akhirnya kembali ke masa ketika itu (saat pulang). Dan dengan mengambil teladan peristiwa Isra, kita bisa ambil kesimpulan :

1. Manusia dengan kekuasaan Allah, dapat melakukan perjalanan lintas alam, untuk kemudian kembali kepada waktu normal.

2. Manusia yang melakukan perjalanan ke masa depan, namun masih pada ruang dimensi alam yang sama, tidak akan kembali kepada masa silam (sebagaimana terjadi pada Para Pemuda Kahfi).

3. Manusia sekarang, ada kemungkinan dikunjungi makhluk masa silam, tetapi mustahil bisa dikunjungi oleh makhluk masa depan.

Hal ini semakin mempertegas, semua kejadian dimasa depan, hanya dipengaruhi oleh kejadian di masa sebelumnya…

WaLLahu a’lamu bisshawab…

Artikel Terkait
01. Menghitung Umur Semesta
02. Identifikasi Fenomena Wormhole, menurut Al Qur’an?
03. Misteri HURUF HIEROGLYPH, mengungkap Kisah NABI IDRIS, dalam Peradaban MESIR PURBA?