Tag Archives: ibadah

Batasan Perhitungan 1 Rakaat, dalam Shalat Berjamaah

Shalat jamaah memang memiliki keutamaan yang sangat tinggi, jauh dibanding dengan shalat munfarid (sendirian). Oleh sebab itu shalat jamaah wajib digalakkan di setiap lingkungan kaum muslimin.

Dalam beberapa hadis Nabi Muhammad saw disebutkan bahwa shalat jamaah bernilai 27 derajat lebih baik dari pada shalat sendirian, salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari sebagai berikut,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً. [رواه البخاري]
“Diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Shalat jamaah melebihi (keutamaan) shalat sendirian setara dua puluh tujuh derajat.” [HR. al-Bukhari]

Dalam praktiknya, walaupun sangat dianjurkan agar hadir di awal waktu pada setiap shalat jamaah, sekurang-kurangnya sebelum shalat dimulai, namun di antara kaum muslimin ada yang terpaksa terlambat menghadirinya.

Orang yang terlambat hadir pada shalat jamaah dikenal dengan istilah makmum masbuq. Tentang makmum yang masbuq ini, Rasulullah saw telah memberikan batasan yang cukup jelas, sebagaimana disebut dalam hadis-hadis berikut :

1. HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ. [رواه البخاري ومسلم]
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang menjumpai rukuk dari suatu shalat, maka ia telah menjumpai shalat itu (secara sempurna).”

2. Abu Dawud, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah dari Abu Hurairah;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا جِئْتُمْ إِلَي الصَّلاَةِ وَنَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَلاَ تَعُدُّوْهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ [رواه أبو داود والحاكم وابن خزيمة]
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Apabila kamu mendatangi shalat ketika kami sedang sujud, maka sujudlah dan jangan hitung sebagai satu rakaat, dan barangsiapa menjumpai rukuknya imam, berarti ia menjumpai salat (secara sempurna).”

3. HR. al-Bukhari dari Abdullah bin Abi Qatadah;

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ الرِّجَالِ فَلَمَّا صَلَّى قَالَ مَا شَأْنُكُمْ. قَالُوا اِسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قَالَ فَلاَ تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا. [رواه البخاري]
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Qatadah, dari bapaknya ia berkata: Tatkala kami sedang shalat beserta Nabi saw tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk orang-orang, kemudian setelah selesai shalat Nabi bertanya ada apa ribut-ribut, para sahabat menjawab: Kami tergesa-gesa untuk mengikuti shalat.

Nabi berkata: Janganlah kamu perbuat yang demikian itu, apabila kamu hendak mendatangi salat hendaknya kamu berangkat dengan tenang, shalatlah kamu bersama imam seberapa kamu dapat, sedangkan kekurangannya kamu sempurnakan sendiri.”

Berdasarkan hadis-hadis tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa batas masbuqnya seorang makmum adalah gerakan rukuk. Seorang makmum yang masih sempat mengikuti rukuk bersama imam, maka ia telah dihitung mengerjakan shalat satu rakaat sempurna.

Sementara itu jika seorang makmum mendapati imam sudah bersujud, maka makmum tersebut langsung mengikuti gerakan imam, setelah terlebih dahulu takbiratul-ihram. Dalam kondisi ini, makmum belum dihitung mendapat satu rakaat, sehingga harus menambah kekurangannya setelah imam membaca salam.

Namun demikian, dalam mengerjakan hal tersebut, tidak diperkenankan melakukannya dengan tergesa-gesa dan tetap menjaga ketenangan sehingga tidak menimbulkan kesan “mengejar” ketertinggalan shalat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketika seorang makmum yang masbuq masih mendapati rukuk bersama imam, maka ia tidak perlu menambah satu rakaat lagi di akhir shalat, karena sudah dihitung melakukan satu rakaat dengan sempurna.

Namun apabila makmum yang masbuq mendapati imam dalam posisi iktidal ataupun sujud dan seterusnya, maka ia telah tertinggal satu rakaat sehingga harus menyempurnakannya sendiri di akhir shalat.

Sumber :
SangPencerah.com

Iklan

Dalil sebutan “Sayyidina” dan pemakaiannya di dalam bacaan Shalat ?

sayyid1
Kita seringkali mendengar kata “Sayyidina”, yang biasanya merupakan panggilan bagi kaum kerabat Rasulullah, baik keluarga maupun sahabat beliau. Berkenaan kata “Sayyid (Sayyidina) ini Syaikh Fuad Abd al-Baqi mendefinisikan, sebagai berikut:

قَالَ الْهَرَوِي السَّيِّدُ هُوَ الَّذِي يَفُوْقُ قَوْمَهُ فِي الْخَيْرِ (صحيح مسلم – ج 4 / ص 1782)
“al-Harawi berkata: Sayid adalah seseorang yang memiliki keunggulan dalam kaumnya dari segi kebaikan” (Catatan dalam Sahih Muslim 4/1782)

– Sayidah Fatimah al-Zahra’

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَاطِمَةُ سَيِّدَةُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (رواه البخارى)
Rasulullah Saw bersabda: “Fatimah adalah pemuka wanita penduduk surga” (HR al-Bukhari)

– Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar

Rasulullah Saw bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ سَيِّدَا كُهُوْلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنَ الْأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ (رواه الترمذي)
“Abu Bakar dan Umar adalah pemuka orang tua penduduk surga, dari orang terdahulu dan yang akhir” (HR al-Turmudzi)

Terkait hadis ini, ulama Syaikh Albani menilainya sahih dan berkata:

روي عن جمع من الصحابة منهم علي بن أبي طالب و أنس بن مالك و أبو جحيفة و جابر بن عبد الله و أبو سعيد الخدري . (السلسلة الصحيحة – ج 2 / ص 323)
“Hadis ini diriwayatkan dari sekelompok sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abu Juhaifah, Jabir bin Abdillah dan Abu Said al-Khudri” (Silsilah Shahihah 2/323)

Bahkan Sayidina Umar pun menyebut ‘Sayid’ kepada Sayidina Abu Bakar:

قَالَ عُمَرُ بَلْ نُبَايِعُكَ أَنْتَ ، فَأَنْتَ سَيِّدُنَا وَخَيْرُنَا وَأَحَبُّنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – (رواه البخارى)
“Umar berkata: “Tetapi kami membaiatmu (sebagai pemimpin). Engkau (Abu Bakar) adalah pemuka kami, orang terbaik kami dan yang paling dicintai diantara kami oleh Rasulullah Saw” (HR al-Bukhari)

– Sayidina Hasan dan Sayidina Husain

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ – رضى الله عنه – أَخْرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ذَاتَ يَوْمٍ الْحَسَنَ فَصَعِدَ بِهِ عَلَى الْمِنْبَرِ ، فَقَالَ « ابْنِى هَذَا سَيِّدٌ ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ » (رواه البخارى)
Diriwayatkan dari Abu Bakrah, suatu ketika Nabi membawa Hasan dan naik ke atas mimbar. Nabi bersabda: “Anakku ini adalah sayid (pemuka). Semoga Allah menjadikan damai dua kelompok besar dari umat Islam dengan Hasan” (HR al-Bukhari)

Di hadis lain Rasulullah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (رواه الترمذي)
“Hasan dan Husain adalah sayyid / pemuka pemuda penduduk surga” (HR al-Turmudzi)

Hadis ini dinilai sahih oleh ulama Wahabi, bahkan sudah mencapai derajat Mutawatir karena diriwayatkan dari 10 sahabat:

ورد من حديث أبي سعيد الخدري و حذيفة ابن اليمان و علي بن أبي طالب و عمر بن الخطاب و عبد الله بن مسعود و عبد الله بن عمر و البراء بن عازب و أبي هريرة و جابر بن عبد الله و قرة بن إياس . (السلسلة الصحيحة – ج 2 / ص 295)
“[1] Abu Said al-Khudri, [2] Hudzaifah, [3] Ali bin Abi Thalib, [4] Umar bin Khattab, [5] Abdullah bin Mas’ud, [6] Abdullah bin Umar, [7] al-Barra’ bin Azib, [8] Abu Hurairah, [9] Jabir bin Abdullah, dan [10] Qurrah bin Iyas” (Silsilah Sahihah 2/295)

– Sayidina Bilal bin Rabah

قَالَ (جابر) كَانَ عُمَرُ يَقُولُ أَبُو بَكْرٍ سَيِّدُنَا ، وَأَعْتَقَ سَيِّدَنَا . يَعْنِى بِلاَلاً (رواه البخارى)
“Kata Jabir, Umar berkata: “Abu Bakar adalah pemuka kami dan telah memerdekakan pemuka kami [yakni Bilal]” (HR al-Bukhari)

Di dalam artikel di situs muslimedianews.com, Ust. Muhammad Ma’ruf Khozin menulis :

Jika sudah terbukti nyata bahwa Nabi Muhammad Saw menyebut beberapa sahabat dan keluarganya sebagai ‘Sayid’ bahkan diantara para sahabat pun sudah mengucapkannya, lalu apakah bagaimana bila menyebut kalimat Sayidina kepada Rasulullah Saw? Masihkan disebut bid’ah? Sementara Rasulullah Saw sendiri mengakui bahwa beliau adalah ‘Sayid’:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ (رواه مسلم)
“Aku adalah pemuka anak Adam di hari kiamat, kuburku yang pertama kali terbuka, pertama kali memberi syafaat dan pertama kali yang diterima syafaatnya” (HR Muslim)

tahiyat1

Pemakaian kata Sayyidina, dalam bacaan Shalat

Shalawat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bacaan Tahiyat Shalat, hendaknya tidak dengan menambahkan kata “Sayyidina” di depan nama Rasulullah, sebagaimana pendapat para ulama berikut ini :

1. Al-Qodhi ‘Iyadh 

Ulama besar Madzhab Syafi’i ini membuat satu bab khusus tentang cara bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab beliau ‘As-Syifa’.

Beliau menukil beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para sahabat dan tabiin. Dan tidak ada satupun riwayat dari seorang-pun sahabat, maupun yang lainnya yang menyebutkan lafadz: ‘sayyidina’.

Andaikan tambahan ini dianjurkan, tentu tidak mungkin tidak diketahui oleh mereka semua, sehingga mereka melupakannya. Dan semua kebaikan ada pada sikap mengikuti.

2. Al-Hafidz Ibnu Hajar

Ketika ditanya tentang lafadz shalawat yang benar ketika shalat, beliau menjawab sebagai berikut :

Mengikuti lafadz shalawat yang ma’tsur (sesuai dalil) itu lebih didahulukan. Kita tidak boleh mengatakan: Bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan demikian karena ketawadhuan beliau, sebagaimana beliau tidak membaca shalawat ketika nama beliau disebut, sementara umatnya dianjurkan membaca shalawat ketika nama beliau disebut.

Kami beralasan, andaikan memberikan tambahan ‘sayyidina’ itu dianjurkan, tentu akan dipraktekkan para sahabat, kemudian tabi’in. Namun belum pernah aku jumpai adanya riwayat dari sahabat maupun tabiin yang mengucapkan kalimat itu. Padahal sangat banyak lafadz shalawat dari mereka.

Lihatlah Imam As-Syafi’i –semoga Allah meninggikan derajatnya– beliau termasuk orang yang paling banyak mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau sampaikan dalam pengantar buku beliau, yang merupakan acuan pengikut madzhabnya:

اللهم صلِّ على محمد ، إلى آخر ما أدَّاه إليه اجتهاده وهو قوله : ” كلما ذكره الذاكرون ، وكلما غفل عن ذكره الغافلون

Allahumma shalli ‘ala muhammad, sampai pada ujung usaha perjuangan yang telah beliau tunaikan, yaitu ucapan beliau: ‘ketika orang mengingatnya atau ketika orang lalai melupakannya.’
(Sumber : konsultasisyariah.com)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Manfaat Sujud, menurut Pakar Kesehatan Prof. Hembing, Prof. H.A Saboe dan Dr. Fidelma O’ Leary

Sujud adalah teknis merendahkan diri (menyembah) kepada Allah Subhana wa Ta’ala dengan menghadap kiblat. Yang secara zahir melibatkan lima anggota badan yang tertumpu ke bumi: dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut dan kedua ujung kaki. Dan secara bathinmerendahkan akal dan hati, sambil mengucapkan dzikr. Ini menjadikan sujud sebagai istilah khas umat Islam, yang tidak dapat diganti atau diterjemahkan.

sujud2

Akan tetapi bukan Allah yang memperoleh keuntungan dari sujud, melainkan diri kita sendiri. Dr. Fidelma O’ Leary misalnya, Phd (Neuroscience).dari St. Edward’s University, telah menjadi muallaf karena menemukan fakta penting tentang manfaat sujud bagi kesehatan manusia.

Sebagai neurologis (ahli syaraf), wanita berdarah Irlandia ini mendapati bahwa ada saraf-saraf tertentu di otak manusia, yang hanya sesekali saja di masuki darah. Bila tidak dimasuki darah sama sekali, maka akan berakibat sangat buruk untuk kesehatan manusia. Untuk itulah dibutuhkan aktivitas rutin memasukkan darah ke syaraf-syaraf itu. Dan aktivitas rutin itu adalah sujud di dalam shalat ummat Islam.

Itu diperkuat lagi oleh pernyataan Prof. Hembing, yang berpendapat bahwa jantung, hanya mampu memasok 20% darah ke otak manusia. Untuk mencukupi kebutuhan darah ke otak, maka manusia membutuhkan rutinitas sujud.

Selain sujud juga merupakan ‘aktivitas grounding’, yakni menetralisir radiasi listrik yang diserap tubuh dari perangkat listrik (elektronik) di sekitar kita. Dr. Muhammad Dhiyaa’uddin Hamid mengatakan bahwa radiasi itu akan sangat membahayakan organ tubuh, terutama otak, bila tidak dinetralisir secara rutin.

Disamping itu, menurut penelitian Prof. H.A Saboe yang berbangsaan German, sujud juga berguna untuk membentuk dan memperbanyak kelenjar susu pada payudara wanita hamil, sehingga produksi ASI akan bertambah banyak dan lancar. Ditambah lagi, dengan sujud yang teratur sangat membantu untuk memperbaiki posisi bayi yang sungsang (mal presentasi).

Pendapat Prof. H.A Saboe, mendapat sokongan Dr. Karno Suprapto, Sp.OG, dari RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, “Kemungkinannya kembali ke posisi normal, berkisar sekitar 92%. Dan posisi bersujud ini tidak berbahaya karena secara alamiah memberi ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke posisi normal.” Itu sebabnya kini, banyak rumah sakit bersalin yang menganjurkan terapi sujud, bagi para wanita hamil

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber :
tausyah.wordpress.com

Kota Arctic (Swedia), fenomena berpuasa di daerah yang sepanjang waktu “matahari bersinar” ?

swedia1

Di bagian utara Skandinavia, di mana matahari tidak pernah tenggelam di musim panas, umat Islam harus mencari cara alternatif dalam berpuasa. Dan mereka telah menemukan caranya.

Sekitar 700 Muslim di kota Arctic, Kiruna, Swedia memilih berpuasa menyesuaikan dengan jam puasa kota suci Mekah yang mereka anggap sebagai panduan utama.

Sementara yang lain cenderung berpuasa menurut waktu di Stockholm, di mana matahari benar-benar tenggelam. Meski pun untuk beberapa jam setelahnya matahari terbit kembali.

Sumber Artikel :
Di Negara Ini, Buka Puasa dan Sahur Dilakukan Siang Hari