Tag Archives: keluarga

[Misteri Genealogy] Silsilah Maulana Jalaluddin Rumi, sampai kepada Sayyidina Abu Bakar?

Maulana Jalaluddin Rumi merupakan seorang penyair sufi ternama, beliau  dilahirkan di Balkh (sekarang Afganistan), pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah (sumber : wikipedia.org)

Rumi adalah putera seorang cendikiawan terkemuka, bernama Bahauddin Walad, ia masih terhitung sebagai keturunan Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu anhu. Namun sayangnya, nasab genealogy Rumi masih menyimpan misteri, karena data yang masih sangat minim.

Di dalam buku Fundamentals of Rumi’s Thought, karangan Şefik Can, nasab Rumi sebagai berikut :

Rumi – Baha al din Valad – Huseyin Khatibi – Ahmed Khatibi – Mahmud – Mavdud – Husayyib – Mutahhar – Hammad – Abdurrahman – Abu Bakr.

Sementara berdasarkan situs mevlanavakfi.com, nasabnya adalah :

Rumi ibn-i Sultanu’l-Ulema Bahauddin Veled Muhammed ibn-i Hüseyn el-Hatıbî ibn-i Ahmed el-Hatıbî ibn-i Mahmud ibn-i Mevdud ibn-i Sabit ibn-i Müseyyeb ibn-i Mazhar ibn-i Hammad ibn-i Abdurrahman ibn-i Hazret-i Ebi Bekr-i Sıddik.

Jika kita cermati, jarak antara Rumi dengan Khalifah Abu Bakr sekitar 630 tahun, sementara data nasab beliau, hanya ada jarak 10-11 generasi. Hal inilah yang membuat pemerhati sejarah menjadi ragu, dan berkemungkinan ada banyak nama yang “hilang” dalam nasab ini.

rumi1
Nasab Hammad bin Abdurrahman ?

Di dalam silsilah Rumi, ada yang aneh yaitu terdapat nama Hammad bin Abdurrahman. Hal tersebut disebabkan di dalam catatan ahli nasab, tidak ditemukan nama Hammad sebagai putera dari Abdurrahman bin Abu Bakar ra.

Kuat dugaan Hammad merupakan keturunan Abdurrahman bin Abu Bakar ra, namun sudah berjarak beberapa generasi dari beliau.

Jika kita coba cross check ke dalam silsilah keluarga al- bakri (keturunan sayyidina Abu Bakar), nama Hammad ini terdapat di dalam genealogy keluarga Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf al-Jauzi, pendiri madrasah al-Jauziyah Damaskus (sumber : kompasiana.com).

Data nasabnya adalah sebagai berikut :

Hammadiy Al-Bakri bin Ahmad bin Muhammad bin Ja’far bin Abdullah bin al Qasim bin an Nadhr bin al Qasim bin Muhammad bin Abdullah bin Abduurrahman bin Sayyidina Abu Bakr (sumber : Geni.com).

rumi2

Jika Hammadiy al-bakri ini, adalah leluhur dari Jalaluddin Rumi, maka data silsilah lengkap beliau adalah :

01. Maulana Jalaluddin Rumi bin
02. Baha al din Valad (Muhammad Bahauddin Walad) bin
03. Huseyin Khatibi (Jalaluddin Huseyn Khatibi) bin
04. Ahmed Khatibi bin
05. Mahmud bin
06. Mavdud (Mevdud) bin
07. Sabit bin
08. Husayyib (Müseyyeb) bin
09. Mutahhar (Mazhar) bin
10. Hammad (Hammadiy al-Bakri) bin
11. Ahmad bin
12. Muhammad bin
13. Ja’far bin
14. Abdullah bin
15. al Qasim bin
16. an Nadhr bin
17. al Qasim bin
18. Muhammad bin
19. Abdullah bin
20. Abdurrahman bin
21. Sayyidina Abu Bakr

Data diatas jauh lebih rasional, dimana pada jarak waktu 630 tahun terdapat 20 generasi, artinya jarak rata-rata antar generasi adalah 31,5 tahun.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Salah satu keturunan Maulana Jalaluddin Rumi yang terkenal, adalah Sultan Muhammad al-Fatih (Sultan Mehmed II), yaitu melalui jalur cucu perempuannya yang bernama Mutahhare Abide Hatun binti Sultan Walad bin Syaikh Maulana Jalaluddin Rumi.

Muhtahhare Abide Hatun, memiliki seorang puteri bernama Devlet Khatun, yang merupakan ibunda dari Sultan Mehmed II.

2. Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf al-Jauzi, merupakan keturunan ke-18 dari Sayyidina Abu Bakar. Ia wafat pada tahun 656 H.

Sementara berdasarkan data silsilah di atas, ayahanda Rumi yakni Bahauddin Walad (wafat 631 H), merupakan keturunan ke-19, dari Khalifah Abu Bakar radhiyallahu anhu.

Diperkirakan kedua tokoh ini, berada pada masa kehidupan yang sama (satu generasi), dan data ini memperkuat dugaan, Hammad yang ada di dalam Silsilah Rumi, adalah sosok yang sama dengan Hammadiy al-Bakri, yang terdapat di dalam Nasab Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf al-Jauzi.

3. Ibunda Maulana Rumi, bernama Mu’mine Khatun, beliau adalah puteri dari Emir Rukhneddin, Gubernur Balkh. Melalui ibundanya, silsilah Maulana Rumi akan sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Sementara nenek Maulana Rumi (Istri dari Huseyn Khatibi), bernama Malika-i Jihan, merupakan puteri dari Sultan Alauddin Muhammad, dari Dinasti Khurasan (Khawarizm).

Iklan

Sultan Mahmud Badaruddin II, Pahlawan Nasional dari Keluarga Al Alawiyin di Kesultanan Palembang Darussalam

Sultan Mahmud Badaruddin II adalah pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode (1803-1813, 1818-1821), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803).

Semenjak ditunjuk menjadi Sultan Kerajaan Palembang menggantikan ayahnya Sultan Muhammad Baha’uddin, Sultan Mahmud Badaruddin melakukan perlawanan terhadap Inggris dan Belanda.

smbII

Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Inggris dan Belanda, di antaranya yang disebut Perang Menteng. Ketika Batavia berhasil diduduki pada tahun 1811, Sultan Mahmud justru berhasil membebaskan Palembang dari cengkeraman Belanda pada tanggal 14 Mei 1811.

Sejak timah ditemukan di Bangka pada pertengahan abad ke-18, Palembang dan wilayahnya menjadi incaran Britania dan Belanda. Demi menjalin kontrak dagang, bangsa Eropa berniat menguasai Palembang.

Awal mula penjajahan bangsa Eropa ditandai dengan penempatan Loji (kantor dagang). Di Palembang, loji pertama Belanda dibangun di Sungai Aur (10 Ulu).

Bersamaan dengan adanya kontak antara Britania dan Palembang, hal yang sama juga dilakukan Belanda. Dalam hal ini, melalui utusannya, Raffles berusaha membujuk SMB II untuk mengusir Belanda dari Palembang (surat Raffles tanggal 3 Maret 1811).

Dengan bijaksana, SMB II membalas surat Raffles yang intinya mengatakan bahwa Palembang tidak ingin terlibat dalam permusuhan antara Britania dan Belanda, serta tidak ada niatan bekerja sama dengan Belanda. Namun akhirnya terjalin kerja sama Britania-Palembang, di mana pihak Palembang lebih diuntungkan.

Melalui perjuangan panjang dalam membebaskan tanah Palembang dari tangan Belanda, namun akhirnya pada tanggal 25 Juni 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda.

Pada Tanggal 13 Juli 1821, menjelang tengah malam, Sultan mahmud badarudin II beserta keluarganya menaiki kapal Dageraad dengan tujuan Batavia. Dari Batavia sultan mahmud badarudin II dan keluarganya diasingkan ke Ternate oleh belanda dan sampai akhir hayatnya 26 September 1852.

Sultan Mahmud Badaruddin adalah salah satu pejuang yang melawan terhadap dua penjajah yakni Inggris dan Belanda. SK Presiden RI No 063/TK/1984 menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Mahmud Badaruddin II (Sumber : merdeka.com).

Keluarga Al Alawiyin Palembang

Hal menarik dari Sultan Mahmud Badaruddin II, beliau merupakan sosok yang berasal dari Keluarga Al Alawiyin, baik dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya. Dimana silsilah kedua orang tuanya, akan bertemu dengan tokoh ulama Hadramaut yang bernama Sayyid Alawi (Amil Faqih), sebagaimana terlihat pada bagan silsilah berikut…

sultanpalembang
Ayahanda Sultan Mahmud Badaruddin II :
SULTAN MUHAMMAD BAHAUDDIN bin SULTAN AHMAD NAJAMUDDIN I bin SULTAN MAHMUD BADARUDDIN I bin SULTAN MUHAMMAD MANSYUR bin SULTAN ABDURRAHMAN

Ibunda Sultan Mahmud Badaruddin II :
RATU AGUNG binti DATUK MURNI (HABIB MUHAMMAD) bin ALI bin ALWI bin AL-IMAM ABDULLAH AL-HADDAD.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Ahlul Bait Rasulullah adalah Orang yang Bertakwa ?

Ahlul Bait Rasulullah, umumnya diartikan sebagai mereka yang memiliki ikatan nasab dengan Rasulullah. Namun ternyata makna Ahlul Bait Rasulullah bukan hanya itu…

Mari kita pahami, hadits berikut ini…

إِنَّ أَهْلَ بَيْتِي هَؤُلاَءِ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ أَوْلَى النَّاسِ بِي وَلَيْسَ كَذَلِكَ، إِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْكُمُ الْمُتَّقُوْنَ مَنْ كَانُوْا وَحَيْثُ كَانُوْا

“Sesungguhnya AHLUL BAIT, mereka memandang bahwasanya mereka adalah orang yang paling dekat denganku, dan (sebetulnya) perkaranya tidak demikian, sesungguhnya para WALI-WALIKU dari kalian adalah ORANG-ORANG YANG BERTAKWA, SIAPAPUN MEREKA DAN DIMANAPUN MEREKA”

(HR Ath-Thobroni 20/120 dan Ibnu Hibbaan dalam shohihnya no 647. Al-Haitsaimy dalam Majma’ Az-Zawaid (10/400) berkata : Isnadnya Jayyid (baik), demikian juga Syu’aib Al-Arnauuth berkata : Isnadnya Kuat)

ahlulbayt

Dan semua ini didukung oleh sebuah hadits yang terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari ‘Amr bin Al-‘Aash bahwasanya beliau mendengar Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda :

إِنَّ آلَ أَبِي فُلاَنٍ لَيْسُوْا لِي بِأَوْلِيَاءِ وَإِنَّمَا وَلِيِّي اللهُ وَصَالِحُو الْمُؤْمِنِيْنَ

“Sesungguhnya keluarga ayahku –ya’ni si fulan- BUKANLAH para waliku, dan HANYALAH para waliku adalah Alloh, dan ORANG-ORANG MUKMIN YANG SHOLIH” (HR Al-Bukhari no 5990 dan Muslim no 215)

Kedua hadits diatas, sejalan dengan firman ALLAH :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Alloh ialah orang yang paling BERTAKWA di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat (49) ayat 13)

 — 00O00 —

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i (rahimahullah) mengomentari hadits di atas:

ومعناه إِنما وليي من كان صالحا وإِن بَعُدَ نَسَبُه مِنِّي وليس وليي من كان غير صالح وان كان نسبه قريبا

“Dan maknanya adalah : Yang menjadi Waliku hanyalah orang yang sholih meskipun NASABNYA JAUH DARIKU, dan TIDAKLAH TERMASUK WALIKU YANG TIDAK SHOLIH MESKIPUN NASABNYA DEKAT.” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 3/87).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber :
firanda.com

Tinjauan HISTORIS, untuk memahami keberadaan istri-istri RASULULLAH ?

Ayat yang menerangkan tentang, dibolehkannya seseorang berpoligami dengan 4 (empat) isteri (QS. An Nisaa (4) ayat 3), turun setelah terjadi Perang Uhud.

Ayat ini turun, dilatarbelakangi, banyaknya sahabat yang syahid (sekitar lebih dari 70 orang), akibatnya keluarga serta janda-janda para syuhada tersebut, memerlukan perlindungan baik secara kesejahteraan, maupun hukum.

annisaa3

Istri Rasulullah di masa Perang Uhud

Untuk dipahami pada masa perang Uhud, istri Rasulullah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha, sudah lama meninggal. Dengan demikian istri Rasulullah ketika itu ada 3 orang orang, yaitu bernama Saudah binti Zam’ah bin Qois radhiyallahu ‘anha, A’isyah binti Abi Bakr As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma, dan Hafshah binti Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhuma…

Dengan demikian, saat ayat tersebut turun, Rasulullah tidak memiliki istri lebih dari 4 (empat). Bahkan salah satu istrinya Saudah binti Zam’ah bin Qois radhiyallahu ‘anha, termasuk wanita yang diberi perlindungan oleh Rasulullah, yang di dalam Al Qur’an di-istilahkan sebagai “Malakat Aymaan”.

muhammad2

Bagaimana dengan istri-istri Rasulullah setelah ayat ini turun ?

Ternyata jika kita pelajari sejarah kehidupannya, mereka sebagian besar adalah yang mendapat perlindungan dari Nabi, tawanan Perang dan Hamba Sahaya pemberian orang lain, yang di dalam istilah Al Qur’an disebut “Malakat Aymaan”

Mereka adalah…

1. Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu ‘anha, adalah janda seorang syuhada perang uhud, yang mendapat perlindungan Rasulullah,

2. Ummu Salamah, Hindun bintu Abi Umayyah radhiyallahu ‘anha, janda dari sahabat Rasulullah, yang hidup serba kekurangan bersama anak-anaknya. Dan ia mendapat perlidungan hukum dan kesejahteraan dari Rasulullah.

3. Juwairiyah binti Al-Harits radhiyallahu ‘anha, tawanan perang, dibebaskan oleh Rasulullah

4. Ummu Habibah binti Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, mendapat perlindungan Rasulullah, dikarenakan suaminya yang murtad.

5. Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, tawanan perang, dibebaskan oleh Rasulullah

6. Amrah binti Yazid, mendapat perlindungan Nabi, setelah yang bersangkutan baru masuk Islam (nama ini masih diperselisihkan oleh Para Ulama)

7. Mariyah Al-Qibtiyah, Hamba Sahaya pemberian Raja Muqauqis, dimerdekakan oleh Rasulullah

8. Raihanah binti Zaid Al-Quradziyah, tawanan perang, dibebaskan oleh Rasulullah

makam-aisyah1

Sementara istri Rasulullah, yang bukan dari “malakat aymaan”, setelah 2 istrinya (A’isyah binti Abi Bakr As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma, dan Hafshah binti Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhuma), adalah :

1. Zainab bintu Jahsy bin Rabab radhiyallahu ‘anha
2. Maimunah binti Al-Harits radhiyallahu ‘anhu

# sebelum menikah dengan Maimunah binti Al Harits, Rasulullah sempat akan memperistri Asma’ binti al-Nu’man, namun akhirnya batal.

Dengan demikian, Nabi Muhammad, sebagai seorang yang telah dikarunia-i sifat adil, secara historis, tidak memiliki istri (diluar katagori malakat aymaan), melebihi dari 4 orang…

WaLlahu a’lamu bishshawab

Prince William of England, Ahlul Bayt dari Trah Eropa?

Para ahli Genealogy Barat, setidaknya mencatat ada 6 Jalur Silsilah yang menghubungkan Pangeran William dengan Muhammad Rasulullah. Adapun Ke-6 Jalur tersebut, adalah sebagai berikut :

[Jalur 01] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Ishar (10) => Mawiyah of Cordoba (15, menikah dengan Gonsalo de Lara) => Jimena Munoz de Bierzo (19, menikah dengan King Alfonso VI of Leon) => Eleanor of Castile (25, menikah dengan King Edward I of England) => King Edward IV of England (33) => King George I of England (41) => Queen Elizabeth II of England (50) => Prince Charles (51) => Prince William (52)

[Jalur 02] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Qasim (07) => Abu Nazar Lovesendes (13) => Aldonza Martinez de Silva (20) => Leonora de Aragon (27) => King George I of England (36) => Queen Elizabeth II of England (45) => Prince Charles (46) => Prince William (47)

[Jalur 03] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Aslan (08) => Qarais (11) => King Muhammad I of Seville (13) => Zaida of Seville (17, menikah dgn King Alfonso VI of Leon) => Maria Gonsalez (21) => King Alfonso IV of Portugal (25) => Richard of York (30) => King George I of England (39) => Queen Elizabeth II of England (48) => Prince Charles (49) => Prince William (50)

[Jalur 04] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Abu Hasan Ali (09) => Emir Hisham III of Cordoba (17) =>Juan Velez (22) => Maria de Padilla (29) => Joan Beaufort (32) => King James I of England (37) => King George I of England (40) => Queen Elizabeth II of England (49) => Prince Charles (50) => Prince William (51)

[Jalur 05] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Abu Djaffer Muhammad (08) => Zayd (12) => Usenda de Leon (17) => Martim Vasques (21) => Sancha de Ayala (26) => Mary Dudley (32) => Dorothy Spencer (36) => William Charles Augustus (41) => Queen Elizabeth II of England (45) => Prince Charles (46) => Prince William (47)

[Jalur 06] Nabi Muhammad => Fatimah (01) => Obeidallah (10) => Khalifah Ismail al Mansur of Egypt (12) => Elvira Alfonsez (19) => Margarethe (22) => Elisabeth of Ziegenhain (27) => Duke Urich I of Whurttemberg (32) => Duke Johann Georg I of Saxe-Marksuhl (37) => King George III of England (41) => Queen Elizabeth II of England (47) => Prince Charles (48) => Prince William (49)

linemuhammad

sumber silsilah, bisa diselusuri pada situs :
fabpedigree.com, archiver.rootsweb.ancestry.com, worldconnect.rootsweb.ancestry.com dan wc.rootsweb.ancestry.com (Sumber : [tanya] apakah benar, Elizabeth II adalah keturunan nabi Muhammad? [no sara])


Alawiyyin menurut Syar’i

Harus diakui, ke-6 jalur silsilah diatas, kebenarannya masih harus diteliti lagi. Dan seandainya, data silsilah tersebut ternyata valid, apakah secara otomatis, keluarga Kerajaan Inggris, bisa disebut sebagai Ahlul Bayt (Keturunan Rasulullah)?

Padahal, sepanjang yang kita pahami, seorang Ahlul Bayt, memiliki kewajiban untuk mengikuti risalah Rasulullah? (Kunjungi : Kufu’ dalam Nikah, adalah Perkara dien).

Pangeran William, secara biologis mungkin seorang Ahlul Bayt, namun secara Syar’i masih sulit untuk diterima. Bukankah menurut hukum syariat, anak dari seorang muslim, yang kemudian berpindah keyakinan, akan digugurkan hak warisnya?

Menarik apa yang terjadi pada, Sir Abdullah Charles Edward Archibald Watkin Hamilton, seorang Bangsawan Inggris, yang memeluk ad Dinul Islam (Sumber : en.wikipedia.org).

Sir Abdullah, mungkin merupakan salah satu contoh seorang Ahlul Bayt dari trah Eropa, yang bisa diterima secara Syar’i. Hal ini dikarenakan, secara Genealogy beliau adalah keturunan ke-45 dari Rasulullah, sebagaimana terlihat pada susur galur berikut :

Sir Abdullah Charles Edward Archibald Watkin Hamilton 45, Sir Edward Achibald Hamilton 44, (son of Edward Joseph) 43, Sir Edward Joseph Hamilton 42, Sir John Hamilton 41, John Hamilton 40, William Hamilton 39, James (Colonel) Hamilton 38, Mary Butler 37, Elizabeth Poyntz 36, Anne Sydenham 35, Mary Poyntz 34, Nicholas Poyntz 33, Jane Berkeley 32, Thomas Berkeley 31, Maurice de Berkeley 30, Isabel de Mowbray 29, Elizabeth de Bohun 28, William de Bohun 27, Elizabeth Plantagenet 26, Eleanor de Castile (m. King Edward I of England) 25, Ferdinand III of Castile 24, Alfonso IX of Leon 23, Urraca of Portugal 22, Alfonso I of Portugal 21, Teresa of Castile 20, Jimena Munez 19, Nuno Gonsalez de Lara 18, Gonsalo Nunez de Lara 17, Nuno Gonsalez de Lara 16, Mawiyah of Cordoba 15, al Hakam II 14, Abd. Rahman III 13, Muhammad II 12, Abdullah I 11, Ishar 10, Abu Hassan Ali 09, Abu Djaffer Muhammad 08, Ali ar Ridha 07, Musa al Kadzim 06, Ja’far ash Shadiq 05, Muhammad al Baqir 04, Ali Zainal Abidin 03, Husain 02, Fatimah 01, Muhammad ‘The Prophet’

Catatan :
James (Colonel) Hamilton (generasi ke-38, dari Muhammad ‘The Prophet’), merupakan salah satu leluhur Prince William melalui jalur ibunya, Diana Frances (Lady) Spencer, Salasilah selengkapnya sebagai berikut :

Prince William of England 50, Diana Frances (Lady) Spencer 49, Edward John (8th Earl) Spencer 48, Cynthia Elinor Beatrix (Lady) Hamilton 47, James Albert Edward Hamilton 46, James Hamilton (2nd Duke) of Abercorn 45, James Hamilton (1st Duke) of Abercorn 44, James (Sir; `Viscount’) Hamilton 43, John James (K.G.) Hamilton 42, John (Hon.) Hamilton 41, James (Sir) Hamilton 40, James (Sir) Hamilton 39, James (Colonel) Hamilton 38…

WaLlahu a’lamu bishshawab

Lintas Berita…
01. Misteri Bangsa Melayu dan Teori Atlantis
02. Jejak Nabi Nuh, dalam Gen Leluhur Nusantara (Haplogroup O1aM119)
03. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

(Kehidupan Perempuan Islam) Kesetaraan Gender dan Sumbangan bagi Peradaban

Mereka yang tidak paham dengan Islam, sering kali seenaknya menuduh, “Islam adalah ajaran yang merendahkan martabat kaum perempuan.” Kalau dengan bahasa kerennya sering disebut ‘bias gender’.

Benarkah Islam merendahkan martabat kaum perempuan?

Tuduhan ini, pada kenyataannya berbanding terbalik. Sama sekali tidak benar. Di dalam Islam, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sangat dijaga dan dihormati. Ini bukan hanya aturan asal-asalan, tapi dilandasi oleh firman Allah SWT di dalam Al Qur’an. Dengan tegas dalam QS Al Isra’ ayat 70 dijelaskan kemuliaan seluruh anak cucu Adam, tanpa dibedakan faktor suku bangsa dan jenis kelamin.

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Bagi yang masih memusuhi Islam pun bisa menyanggahnya, “Itu kan teori, tapi kenyataannya…? Mana buktinya?”

Tentu saja perkataan mereka itu sebenarnya tidak ada dasarnya. Kesetaraan gender, persamaan hak antara lelaki dan perempuan telah menjadi keseharian yang nyata sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Banyak fakta yang bisa dipaparkan, antara lain sebagai berikut.

Nama-nama Nusaibah binti Ka’b, Ummu Athiyyah al Anshariyyah, dan Rabi’ binti al Muawwadz adalah para sahabat Rasulullah SAW dari kalangan muslimah. Mereka ini turut berjuang di medan perang, melawan penindasan dan ketidakadilan.

Selain itu, Rasulullah SAW juga punya banyak kader ilmuwan muslimah, termasuk ahli pidato seperti ‘Aisyah, Fatimah, Zainab, Sukainah, Zarqo (Zarga) dan Darimiyah.

Selanjutnya di masa Imam Syafi’i, beliau bertemu di Majelis Pengadilan Mesir yang dipimpin oleh Guru Besar Perempuan bernama Nafisah binti Abu Muhammad. Pada masa itu sudah banyak juga guru besar dalam berbagai disiplin ilmu, seperti Muknisa binti Al Malikul Adil, Samiyah binti Hafidz, Zainab binti Abdul Latif, Syahdah Al Katibah binti Ubari dan Mariyam binti Abu Ya’qub.

Di bidang Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), muncul muslimah-muslimah yang ahli ilmu perbintangan (astronomi), seperti Lubanna dari Spanyol, Asma Ibrat dari Turki, Halimah dari Konstantinopel.

Di bidang ilmu kedokteran juga dikenali sosok Ukhte Zahroh, dan masih banyak lagi lainnya.

Jadi, dari uraian singkat itu dapat disimpulkan bahwa kesetaraan gender dalam Islam sudah lama adanya. Bahkan dengan adanya kesetaraan inilah, yang membuat sekelompok perempuan mendatangi Rasullah SAW untuk menyatakan dukungan (bai’at).

Peristiwa itulah yang jadi sebab turunnya QS As Saff ayat 12, “Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai’at (janji setia), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Jelas bahwa Islam sangat memuliakan perempuan. Islam tidak pernah menghalangi perempuan untuk berkiprah dan berperan serta secara aktif, demi kemajuan bangsa dan agamanya. Bahkan Islam sangat menghormati perempuan dengan memberinya kesempatan berkarier, tentu saja tidak melepaskan diri dari kodratnya sebagai perempuan.

Yang sering salah kaprah di masyarakat kita, banyaknya perempuan yang menuntut kesetaraan gender yang sama persis dengan laki-laki. Bahkan mereka tidak ‘malu’ menolak kodratnya sebagai perempuan, tidak mau mengurus rumah tangga, tidak mau menikah demi alasan karier, kurang menghormati suami dan tidak menyadari hakikatnya sebagai istri.

Tentunya hal-hal yang seperti itu jelas-jelas salah. Karena Allah SWT menciptakan manusia berpasang-pasangan, dengan kodrat dan fitrahnya masing-masing untuk saling melengkapi dan bekerja sama.