Tag Archives: kesultanan palembang darussalam

Misteri Kekerabatan Sultan Trenggono Demak dengan Keluarga Pendiri Kerajaan Palembang?

Berdasarkan tulisan sejarawan Purwadi dalam bukunya Sejarah Raja Raja Jawa, Sultan Trenggono memiliki dua permaisuri yakni putri dari Nyai Ageng Malaka dan putri dari Sunan Kalijaga.

Dari referensi yang lain, Sultan Trenggono berdasarkan pendapat sejarawan Kartodirjo dalam bukunya Sejarah Nasional Indonesia, memiliki gelar Ki Mas Palembang dan merupakan menantu dari Penguasa Palembang Arya Damar.

Berdasarkan penyelusuran genealogy, dari kedua permaisuri ini Sultan Tranggana memiliki beberapa anak yakni:

Dari Putri Arya Damar/Nyai Ageng Maloko, menurunkan :
1. Ratu Pembayun
2. Sunan Prawoto
3. Ratu Mas Pemancingan menikah dengan Panembahan Jogorogo ing Pemancingan
4. Retno Kencana (Ratu Kalinyamat) menikah dengan Pangeran Hadiri (Penguasa Jepara)
5. Ratu Mas Ayu menikah dengan Pangeran Orang Ayu putra Pangeran Wonokromo
6. Ratu Mas Kumambang

Dari Kanjeng Ratu Pembayun (Putri Sunan Kalijaga), menurunkan :
7. Pangeran Timur, Panembahan Madiun, Bupati I Kadipaten Madiun
8. Ratu Mas Cempaka, menjadi Permaisuri Sultan Hadiwijaya Pajang bergelar Ratu Mas Pajang.

Dari beberapa fakta diatas, nampaknya yang dimaksud dengan putri dari Nyai Ageng Maloko adalah indentik dengan sosok putri dari Arya Damar Bupati Palembang.

Seperti pernah dibahas dalam artikel 5 sosok Arya Damar, ternyata Arya Damar tidak hanya satu orang saja, tapi ada beberapa tokoh. Dengan melihat timeline yang ada kemungkinan yang dimaksud Arya Damar disini adalah Adipati Karang Widara (Penguasa Palembang sekitar 1488-1500) atau Pangeran Sido ing Lautan (Penguasa Palembang sekitar 1500-1512), lihat sumber: Misteri Penguasa Palembang….

1) Adipati Karang Widara (Penguasa Palembang sekitar 1488-1500) 

Di dalam buku Dwitri Waluyo yang berjudul “
Indonesia The Land of 1000 Kings” disebutkan Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono dari istrinya yang merupakan anak perempuan Arya Damar, Adipati Palembang.

Ada kemungkinan yang dimaksud “Arya Damar” disini adalah Adipati Karang Widara yang oleh sebagian sejarawan menganggap indentik dengan cucu Arya Damar bernama Pangeran Surodirejo bin Raden Kusen bin Arya Damar.

Namun jika kita urut kronologis sejarah dari masa kehidupan Raden Kusen (perkiraan lahir tahun 1450), kemudian Raden Surodirejo (perkiraan lahir tahun 1470), maka putri tertua Raden Surodirejo masih terhitung satu generasi dengan Ratu Kalinyamat dan Sunan Prawoto.

Dengan demikian, sosok Raden Surodirejo hampir mustahil merupakan mertua dari Sultan Trenggono atau dengan kata lain Raden Surodirejo bukan Adipati Karang Widara.

Dalam bagan silsilah diatas Pangeran Sido ing Lautan adalah indentik dengan Pangeran Sabrang Lor putra sulung Raden Fattah. Dalam versi ini Pangeran Sido ing Lautan wafat pada tahun 1521.

2) Pangeran Sido ing Lautan (Penguasa Palembang sekitar 1500-1512)

Dalam versi ini Pangeran Sido ing Lautan merupakan Panglima Perang semasa Raden Fattah ayahanda Sultan Trenggono. Dia adalah pengikut setia Raden Fattah dan sangat logis jika keduanya mengikat tali kekeluargaan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan:

1. Di dalam silsilah Palembang sendiri tertulis nama istri dari Pangeran Sido ing Lautan sebagai putri dari Kiai Geding Maluku. Dalam abjad arab melayu “Maluku” bisa dibaca “Malaka” atau “Maloko” atau “moloko“.

Dalam catatan tersebut, Pangeran Sido ing Lautan memiliki anak:
a). Nyai Gedih Pinatih
b). Kiai Geding Suro Tuo
c). Sangaji Kidul
d). Nyai Gedih Karang Tengah
e). Kiai Arya Kebon Jadi
f). Nyai Gedih Ilir yang bersuami Kiai Geding Ilir (Ki Mas Ilir)

Melalui putrinya bernama “Nyai Gedih Ilir”, Pangeran Sido ing Lautan memiliki seorang cucu bernama Kiai Gede ing Suro Mudo yang dikemudian hari menjadi penerus Penguasa Kerajaan Palembang.

2. Berdasarkan hasil penyelusuran ada kemungkinan yang maksud dengan Kiai Geding Maluku terkait dengan salah seorang menantu Sunan Ampel yang bernama Kiai Usman yang menikah dengan Siti Syari’ah binti Sunan Ampel. Pasangan suami istri ini dikabarkan sempat tinggal di Kailolo Pulau Haruku Maluku Tengah.

Setelah suaminya wafat, Siti Syari’ah pulang ke Jawa dan dikenal dengan nama Nyai Gede Moloko. Berdasarkan Sejarah Lasem, sekitar tahun 1475 Nyai Gede Moloko  menikah dengan Pangeran Bodro Negoro.

Dari pernikahan dengan Pangeran Bodro Negoro ini, Nyai Gede Maloko memiliki putri yang bernama Solikhah dan menikah dengan seorang penguasa dari Demak.

Ada yang menganggap penguasa Demak tersebut Raden Fattah, namun agak janggal karena Raden Fattah juga menikah dengan putri Sunan Ampel yang bernama Dewi Murtasimah. Dan dalam ajaran Islam ada larangan menghimpun menikahi seorang wanita dan keponakannya.

3. Keberadaan jalur keturunan Sunan Ampel di Kerajaan Palembang juga diungkap Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad, dalam bukunya Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh. Sayid Alwi menulis:”… tetapi yang disebut keturunannya adalah dari Zainal Akbar yang berketurunan raja-raja Palembang, pangeran-pangeran dan raden-raden di Palembang, juga sunan Giri dan Sunan Ampel”.

Dari berbagai sumber literatur, diperoleh diagram hubungan kekerabatan antara Keluarga Ampel Denta dengan Kerajaan Palembang.

Catatan: Data Silsilah ini masih perlu dikaji lebih mendalam

4. Berdasarkan buku “Sekilas Tentang Terung Sebagai Sebuah Peradaban Sejarah Dan Raden Ayu Putri Ontjat Thanda Wurung“, Raden Kusen memiliki empat istri, yakni:

a) Nyai Wilis (cucu Sunan Ampel), memiliki anak bernama:
– Raden Surodirejo yang kemudian menjadi Adipati Palembang bergelar Adipati Widarakandang
– Arya Terung yang menjadi Adipati Sengguruh
– Arya Blitar (Adipati Blitar)

b) Mas Ayu Cendana binti Bhre Pakembangan, memiliki anak bernama:
– Mas Ayu Kriyan (Ratu Pradabinabar) yang dinikahi oleh Sunan Kudus
– Mas Ayu Winong dinikahi oleh Pangeran Kanduruwan bin Raden Patah yang menjadi Adipati Sumenep
– Mas Ayu Sedeng Kaputren yang disebut masyarakat dengan nama Raden Ayu Putri Ontjat Tandha.

c) Nyai Wonokromo, memiliki anak bernama:
– Pangeran Tundhung Musuh (Adipati Surabaya)
– Pangeran Arya Lena (Adipati Surabaya)
– Pangeran Jabug (Adipati Surabaya)

d) Nyai  Mertasari, memiliki anak bernama:
– Raden Santri (Adipati Sumedang)

5. Salah satu tokoh penting di dalam silsilah keluarga Kraton Mataram adalah Ratu Mas Cempaka. Ratu Mas Cempaka merupakan salah seorang putri Sultan Demak Pangeran Hadipati Trenggono (Raden Tranggana).

Melalui pernikahan Ratu Mas Cempaka dan Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya Pajang) melahirkan Pangeran Benawa yang merupakan ayahanda dari Dyah Banowati permaisuri Sultan Mataram kedua yakni Panembahan Hadi Prabu Hanyorowati.

Dyah Banowati merupakan ibu dari Sultan Agung, yang kemudian menurunkan keluarga Kraton Mataram yang saat ini terpecah menjadi Kraton Surakarta, Kraton Pakualam, Kraton Mangkunegaraan dan Kraton Ngayagyakarta Hadiningrat.

[Misteri] Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara dalam Silsilah Palembang dan Tarsilah Brunei Darussalam?

Di dalam Catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur, 1706 – 1714 ), nama Maulana Abdullah tercantum sebagai ayahanda dari Pangeran Manconegara, dengan rincian Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri.

Pangeran Manconegara sendiri merupakan kakek dari pendiri Kesultanan Palembang Darussalam yang bernama Sultan Abdul Rahman Kyai Mas Hindi Sayidul Iman Sunan Cinde Welang bin Jamaluddin Mangkurat Kyai Gede ing Pasarean bin Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara.

Nama Pangeran Manconegara ternyata juga tercatat di dalam Tarsilah Brunei Darussalam sebagai ayahanda dari Raden Mas Ayu Siti Aisyah permaisuri dari Sultan Brunei Darussalam yang bernama Sultan Abdul Jalilul Akbar (memerintah Kesultanan Brunei, 1598 – 1659).

Pada Tarsilah Brunei tertulis Pengiran (Kiai) Temenggong Manchu Negoro bin Pengiran Manchu Tando bin Sunan Dalam Ali Zainal Abidin Wirakusuma bin Sunan Giri, Maulana Muhammad Ainul Yaqin.

Berdasarkan kesamaan waktu dan nama, kemungkinan besar yang dimaksud  Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara (Silsilah Palembang) adalah indentik dengan Pengiran Manchu Tando (Tarsilah Brunei).

Dari kedua sumber tersebut dapat kita ambil beberapa kesimpulan:

1. Ayahanda Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara (Pengiran Kiai Temenggong Manchu Negoro) bernama Maulana Abdullah.

2. Maulana Abdullah merupakan seorang Pangeran Adipati atau Manchu Tando yang merupakan jabatan setingkat wakil Adipati di wilayah Sumedang Negara.

3. Berdasarkan timeline peristiwa di masa itu yang menjabat Adipati Sumedang adalah Pangeran Santri putra dari Maulana Muhammad Pangeran Arya Cirebon.

Hal inilah yang membuat dalam beberapa silsilah menulis Pangeran Adipati Sumedang adalah putra dari Pangeran Arya Cirebon, padahal sosok Pangeran Adipati dan Adipati di Sumedang merupakan dua orang yang berbeda.

4. Tokoh Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara seringkali juga tertukar dengan sosok Pangeran Panca Tanda yang merupakan paman dari Pangeran Manconegara.

Pangeran Panca Tanda merupakan anak dari Tumenggung Mantik (Ki Geding Karang Panjang/Ki Geding Karang Tengah) sekaligus juga ipar dari  Maulana Abdullah Pangeran Manchu Tando Adipati Sumedang Negara.

Pangeran Panca Tanda inilah yang kemudian hijrah bersama Pangeran Manconegara ke Palembang.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Tokoh lain yang juga sering dianggap sebagai ayahanda dari Pangeran Manconegara adalah Raden Kiai Nurdin.

Raden Kiai Nurdin diperkirakan merupakan salah seorang putra dari Pangeran Arya Cirebon yang juga paman sekaligus ayah angkat dari Pangeran Manconegara.

2. Dengan melakukan perbandingan silsilah dari beberapa sumber, maka diperoleh bagan kekerabatan Kesultanan Palembang Darussalam adalah sebagai berikut:

Kekerabatan Kiai Pedatuan (Kemas Palembang), dengan Kesultanan Mataram dan Kesultanan Palembang Darussalam

Kemas Haji Abdullah bin Muhammad Azhari, adalah seorang ulama yang sangat disegani oleh masyarakat Palembang. Beliau senantiasa memberikan bimbingan serta pelayanan kepada masyarakat hingga akhir hidupnya.

Kemas Haji Abdullah Azhari (Kiai Pedatuan) lahir di Kampung 12 Ulu pada hari Senin tanggal 27 Syakban 1279 H /1862 M. Beliau merupakan anak dari Kemas Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah bin Kemas Haji Ahmad.

zuriatkudus3
Ayahanda Kiai Pedatuan, yakni Kemas Haji Muhammad Azhari, dikenal sebagai ulama yang melahirkan beberapa karya tulis diantaranya Atiyah ar-Rahman yang selesai ditulis pada tahun 1259 H / 1843 M, diterbitkan pertama kali di Mekkah pada tahun 1887 M.

Selain itu, Kemas Haji Muhammad Azhari juga menulis Tuhfah al-Muridin, kitab berbahasa Arab ini membicarakan ilmu falaq dan selesai ditulis pada tahun 1276 H / 1859 M (sumber : Tarekat Sammaniyah di Palembang).

Keterangan :

1. Nasab ayahanda Kiai Pedatukan (Kemas Haji Abdullah bin Kemas haji Muhammad Azhari), ditemukan pada mushaf Al Qur’an cetakan Palembang tahun 1854, yakni : Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Ahmad ibn Kemas Haji Abdullah ibn Mas Nuruddin ibn Mas Syahid (sumber : mushaf cetakan 1854).

2. Nasab Ki Mas Haji Muhammad Al Alim, tertulis di dalam silsilah Palembang, yakni : maulana syekh Kemas Haji Muhammad bin Kemas Haji Ahmad bin Kemas Abdullah bin Kemas Nurrudin bin Kemas Sahid bin Suhunan Kudus bin Suhunan windun Aljawi (sumber : silsilah palembang).

3. Nama Suhunan Kudus bin Suhunan windun Aljawi, bukanlah indentik dengan Sunan Kudus bin Sunan Ngudung seperti pendapat beberapa pemerhati sejarah.

Hal ini dikarenakan, jika berpedoman kepada timeline kehidupan tokoh, Suhunan Kudus yang dimaksud diperkirakan hidup pada masa abad ke-17, sementara Sunan Kudus hidup di era abad ke-16.

Suhunan Kudus yang dimaksud adalah Pangeran Kudus bin Pangeran Rajungan bin Pangeran Demang bin Panembahan Kudus bin Syeikh Maulana Ja’far Siddiq (Sunan Kudus), yang merupakan ayahanda Adipati Sumodipuro (Pati), sebagaimana terdapat pada silsilah keluarga mataram (sumber : rodovid.org, pakoeboewono2enfamilie).

4. Adipati Sumodipuro (Pati) putera Pangeran Kudus, merupakan mbah buyut dari Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II, dengan jalur : Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II bin Kanjeng Ratu Kencana (isteri Kanjeng Susuhunan AMangkurat IV) binti Adipati Tirtokusumo (Kudus) bin Adipati Sumodipuro (Pati) bin Pangeran Kudus.

5. Kemas Haji Muhammad Azhari di Palembang ada 2 orang :

a. Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Ahmad (Azhari Tuo, 1811-1874)

Beliau adalah ayahanda dari Kiai Pedatuan (Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Muhammad Azhari).

b. Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Asyiquddin (Azhari Mudo, 1856-1932)

Nasab selengkapnya : Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Asyiquddin bin Kemas Haji Syaffiuddin bin Kemas Muhammad Hayahuddin bin Kemas Abdullah Jalalludin bin Kemas Fatih Jalaludin bin Kemas Sholehuddin bin Kemas Abdullah Alauddin bin Kemas Wandung Mahmud Jalaluddin (Suhunan Windun Aljawi) (sumber : Kemas Haji Muhammad Azhari)

Azhari Mudo dikenal sebagai ulama, dan diantara karya tulisnya adalah : [1] ‘Aqa`id al-Iman, [2] Badi’ az-Zaman, [3] Taqwim al-Qiyam, [4] Bidayah ar-Rahman, [5] Bidayah al-‘Ilmiyyah, [6] Risalah fi ‘Aqidah at-Tawhid li Ma’rifah, dan [7] Manaqib Shaykh Muhammad Samman.

6. Pada karya tulisan Muhamad Rosidi yang berjudul “Shaikh Kemas Muḥammad Azhari (1856-1932): Karya-Karya dan Pemikiran Ulama Palembang”, nama Kemas Wandung Mahmud Jalaluddin (Suhunan Windun Aljawi) adalah Kemas Wandung Mahmud bin Kemas Abdurrahman bin Sunan Kudus.

Diperoleh skema silsilah kekerabatan dengan Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai berikut :

zuriatkudus

Silsilah Tarekat Sammaniyah, di Palembang Darussalam

Pada masa-masa awal penyebaran tarekat Sammaniyah di Palembang tidak
terlepas dari adanya peranan keraton Kesultanan Palembang Darussalam.

Hubungan antara keraton Palembang dan tarekat Sammaniyah dimulai ketika beberapa ulama Palembang yang pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu
disana diantaranya Shaykh Muhammad ‘Aqib (1736-1818), ia berkenalan dengan salah seorang ulama Palembang yang terkenal, yaitu Shaykh ‘Abd al-Samad al-Jawi al-Falimbani.

Setelah menimba ilmu di Mekkah, Shaykh Muhammad ‘Aqib pulang kembali ke Palembang dan menetap di kampung Penghulon, di belakang Masjid Agung yang langsung berdekatan dengan keraton.

Perhatian Keraton terhadap perkembangan tarekat Sammaniyah, tertulis di dalam Hikayat Shekh Muhammad Saman, yang menyebutkan bahwa sebuah zawiyah tarekat Sammaniyah yang didirikan di Jeddah oleh Sultan Mahmud Baha’uddin sebagai wakafnya pada tahun 1776 dengan menggunakan pemberian mulia sebesar 500 real.

Jeddah merupakan pelabuhan terpenting untuk jemaah haji dalam perjalanan ke Mekkah, zawiyah ini sekaligus berfungsi sebagai penginapan jemaah dari Palembang dalam perjalanan mereka menuju kota suci (Sumber : Tarekat Sammaniyah di Palembang).

Inilah Silsilah Tarekat Sammaniyah di Palembang…

saman1

Silsilah Kesultanan Palembang Darussalam : Zuriat Sunan Giri, Raden Fattah, Sunan Ampel, Raden Kusen, Sunan Panjunan dan Haji Abdullah Iman Cirebon ?

Melalui penyelusuran beberapa sumber, diantaranya catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (ulama yang hidup pada masa Sultan Muhammad Mansur, periode pemerintahan 1706 – 1714 ), penelitian KH. Agus Sunyoto (sejarawan Indonesia), Silsilah Kekerabatan Kesultanan Palembang, Tarsilah Kerajaan Brunei Darussalam, Silsilah Keluarga Keluarga Raden Abdul Rahmat bin Raden Muhamad Bahaudin dan banyak lagi lainnya.

sultan1
Diperoleh data Silsilah Kesultanan Palembang Darussalam, sebagaimana tergambar di dalam skema genealogy berikut ini…

kekerabatanpalembang2aSebagai pembanding, setelah melakukan perbandingan silsilah dari beberapa sumber, diperoleh bagan sebagai berikut:


Pembahasan tentang berbagai versi silsilah Kesultanan Palembang Darussalam, silahkan membaca artikel ini

Catatan :

1. Maulana Ali Mahmud Nuruddin Wirakusuma, pada data silsilah di beberapa situs genealogy, di-identifikasikan sebagai Maulana Fahrullah Sunan Ali Kesuma Dero (Sunan Prapen).

Selain itu, ada juga yang beranggapan Maulana Ali Mahmud Nuruddin, indentik dengan Pangeran Kedhanyang, tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam di Kadipaten Sengguruh (Malang).

Maulana Fahrullah Sunan Ali Kesuma Dero (Sunan Prapen) dan Pangeran Kedhanyang, merupakan putera dari Maulana Ali Muhammad Ainul Yaqin Sahibul Qairi, atau Sunan Ali Sumodiro, atau Sunan Dalam Ali Zainal Abidin, atau Sunan Dalem, atau Sunan Giri II.

Dimana Sunan Dalem (Sunan Giri II) merupakan putera dari Maulana Muhammad Ainul Yaqin, atau Raden Paku, atau Prabu Satmata, atau Sultan Abdul Faqih, atau Joko Samudro, atau Sunan Giri.

2. Dalam Tarsilah Brunei dan catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih, Maulana Ali Mahmud Nuruddin Wirakusuma di-identifikasikan bukan sebagai cucu, melainkan putera Maulana Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Tokoh ini dalam Tarsilah Brunei, bernama Sunan Dalam Ali Zainal Abidin, sementara pada catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih, Maulana Ali Mahmud Nuruddin Wirakusuma tercatat memiliki putera bernama Maulana Abdullah (Pangeran Adipati Sumedang Negara).

3. Di dalam catatan Tok Syeikh (Malaysia), Ki Gede ing Suro memiliki nama Raden Mohamad Yunus, yang merupakan putera dari Raden Husein (Raden Kusen, sumber). Hal ini berbeda dengan pendapat KH. Agus Sunyoto yang mengatakan Ki Gede ing Suro adalah cucu Raden Kusen, melalui puteranya bernama Pangeran Surodirejo.

Ada kemungkinan yang dimaksud Raden Mohammad Yunus ini adalah ayahanda dari Ki Gede ing Suro (Tuo), yang bernama Pangeran Sido ing Lautan (Pangeran Surodirejo bin Raden Kusen), yang hidup di masa Adipati Karang Widara (keturunan Demang Lebar Daun, penguasa Palembang 1486-1546).

Pangeran Sido ing Lautan, diceritakan memimpin armada Palembang, ketika menyerang Portugis di Selat Malaka, pada tahun 1512.

Dalam catatan silsilah Palembang, melalui isterinya anak Kiai Geding Maluku, Pangeran Sido ing Lautan memiliki beberapa keturunan yaitu :

1). Nyai Gedih Pinatih
2). Kiai Geding Suro Tuo
3). Sangaji Kidul
4). Nyai Gedih Karang Tengah
5). Kiai Arya Kebon Jadi
6). Nyai Gedih Ilir yang bersuami Kiai Geding Ilir (Ki Mas Ilir)

4. Nyai Wilis, merupakan anak dari Raden Mahmud Pangeran Sapanjang bin Raden Ali Rahmat (Sunan Ampel), sedangkan ibunya bernama Nyimas Ayu Waruju binti Arya Tepasana (Raja Lumajang).

Pernikahan Nyai Wilis dengan Raden Kusen Adipati Terung, menurunkan 2 anak yaitu : Pengeran Aria Terung (Adipati Sengguruh) dan Pangeran Aria Balitar (Adipati Blitar).

5. Ki Mas Ilir (Pangeran Wirakusuma Cirebon), dalam sejarah Cirebon indentik dengan Ki Gedeng Carbon Girang. Berdasarkan tulisan KH. Agus Sunyoto, Pangeran Wirakusuma dikenal sebagai pemimpin 1.000 prajurit tambahan dari Caruban, untuk membantu Fadhillah, saat merebut pelabuhan Kalapa.

Ki Mas Ilir, memiliki putera bernama Ki Mas Anom Adipati ing Suro yang kemudian dikenal dengan nama Ki Gede ing Suro Mudo. Ki Gedeng Suro Mudo diangkat menjadi penguasa Kerajaan Palembang, menggantikan Ki Gedeng Suro (Tuo), dan ia memerintah antara tahun 1546-1575.

6. Berdasarkan Buku 101 Ulama Sumetera Selatan Riwayat Hidup dan Perjuangannya, tulisan Kemas H.Andi Syarifuddin.S.Ag dan H.Hendra Zainuddin.M.PdI, pernikahan Susuhunan Abdurrahman dengan Ratu Agung binti Ki Mas Martayuda memperoleh 8 putera-puteri, yaitu:
1. Pangeran Adipati
2. Sultan Muhammad Mansur
3. Raden Ayu Dipa Kesuma
4. Pangeran Tumenggung
5. Raden Ayu Adiningrat
6. Raden Ayu Ditakusuma
7. Raden Kusuma Barata
8. Sultan Agung Komaruddin Sri Truno

Dan dari isteri-isteri yang lain, Susuhunan Abdurrahman (Sunan Candi Walang), memiliki 25 anak, yaitu:
01. Panembahan Surya Dilaga
02. Pangeran Surya Wikrama Subakti
03. Pangeran Cakra Kesuma Raden Nusantara
04. Raden Wira Natara
05. Raden Suwila
06. Raden Kapiten
07. Raden Kuripan
08. Pangeran Sukarta
09. Masayu Astra Wijaya
10. Masayu Suro WIjaya
11. Masayu Suta Kesuma
12. Masayu Wayati
13. Masayu Irawati
14. Masayu Janaka
15. Masayu Ubat
16. Pangeran Adi Kesuma
17. Pangeran Adi Wijaya
18. Raden Ayu Purba Negara
19. Pangeran Cakra Wijaya
20. Pangeran Dita Kesuma Raden Kumbang
21. Pangeran Dipa
22. Pangeran Suta Kesuma
23. Pangeran Mentaram
24. Raden Ayu Adi Kesuma
25. Raden Ayu Adi Wijaya.

7. Berkenaan dengan sosok Ki Gedeng Karang Panjang (Karang Tengah), yang di dalam riwayatnya sebelum pindah ke Palembang bernama Tumenggung Mantik dari negeri Barawa.

Kemungkinan sosok yang dimaksud adalah Pangeran Aria Jeding, yang pernah menjabat Adipati Rawa (Tulungagung). Pangeran Aria Jeding merupakan putera Pangeran Aria Terung (Adipati Sengguruh), sedangkan Pangeran Aria Terung sendiri anak dari Raden Kusen (Adipati Terung) (sumber : sejarah poesponegoro).

Perpindahan keluarga Pangeran Aria Jeding ke Palembang, dikarenakan terjadinya kekacauan selepas wafat ayahandanya Pangeran Aria Terung. Keluarga besar Pangeran Aria Jeding berpencar ke segala arah, saat terjadi serangan mendadak dari Kadipaten Srengat dan Panjer.

8. Ada yang meyakini, jalur Nasab Kesultanan Palembang Darussalam, bukan berasal dari Giri Kedaton melainkan berawal dari Keluarga Sunan Panjunan Cirebon.

Hal ini didasarkan kepada tokoh-tokoh yang terdapat di dalam Silsilah Palembang, yang menghubungkan  kekerabatan Penguasa Cirebon dengan Sumedang, dimana hal tersebut hanya terdapat dalam keluarga ini.

Selain itu, beberapa Silsilah Palembang terdapat versi, yang menyatakan Giri Kedaton merupakan jalur wanita (mirza) dalam Kekerabatan Kesultanan Palembang Darussalam, dan bukan jalur pria (Nasab).

Untuk lebih jelasnya, bisa kita lihat pada skema silsilah berikut ini :

silpalembang3Pada skema silsilah keturunan Syekh Datuk Kahfi (Giri Amparan Jati), terlihat hubungan kekerabatan antara keluarga Kesultanan Palembang Darussalam, Jambi, Brunei, Banten, Sumedang dan Jayakarta :

tubagusangke2Berdasarkan skema silsilah diatas, diperoleh silsilah berikut :

Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Iman bin Maulana Muhammad Ali Seda ing Pasarean bin Maulana Fadlullah Pangeran Manco Negoro bin Maulana Nuruddin Cirebon bin Maulana Muhammad Pangeran Arya Cirebon bin Maulana Abdurrahman Pangeran Panjunan Cirebon bin Maulana Datuk Kahfi Giri Amparan Jati Cirebon…

Catatan Penambahan :

1. Beberapa koreksi dari sdr. @Nur Al-Fadhil Ba’alawy Al-Husaini, berkenaan Silsilah Kekerabatan Giri Amparan Jati Cirebon…

a. ratu ayu kirana BUKAN putri sultan trenggono tapi putri tertua raden patah demak .. sumber naskah nagarakretabhumi tahun 1677

b. Ibunda sultan Ageng Tirtayasa yakni Ratu Martakusuma BUKAN putri Tubagus Angke tapi cucu beliau yakni putri dari pangeran jayakarta 3 / p. Sungerasa jayawikarta.

c. Tentang Kawis Adhimarta ayah Ratu Bagus Angke (menurut naskah Kuningan dan Naskah Mertasinga) alias Maulana Huda saudara dari Maulana Yunan / p. Panjunan abdurahman dan maulana kapi / syeikh datuk khofid..

sehingga catatan tesebut disimpulkan nama maulana huda adalah alias dari Abdurohim / Pangeran Kejaksan

Referensi :
1. geni.com
2. pustaka.islamnet.web.id
3. Salasilah Keluarga Kitani
4. Silsilah Kekerabatan Kesultanan Palembang Darussalam
5. [Misteri] Pangeran Cerbon, Leluhur Kesultanan Palembang Darussalam ?
6. Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, dalam catatan “Tarsilah Brunei”
7. Nasab Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, dalam 3 versi silsilah : Gresik, Sumedang dan Cirebon?
8. Silsilah Kekerabatan Kesultanan Palembang, Brunei, Jambi, Cirebon dan Giri Kedaton
9. Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ?

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. Bukti 21,5% Penduduk Dunia, adalah keturunan Sundaland (Nusantara) ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?
4. [Misteri] Rekening Bank milik Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu, dengan Potensi Income Tahunan mencapai 50 juta Riyal ?

[Misteri] Pangeran Cerbon, Leluhur Kesultanan Palembang Darussalam ?

Dalam silsilah kekerabatan Kesultanan Palembang Darussalam, tercatat nama Pangeran Cerbon (Carbon/Caribon/Cirebon) sebagai leluhur dari Pendiri Kesultanan, Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam.

Sosok Pangeran Cerbon, masih diselimuti misteri. Pada umumnya, masyarakat Palembang percaya, bahwa beliau berasal dari Keluarga Giri Kedaton. Namun sebagian lagi berpendapat, beliau berasal dari Keluarga Bangsawan Kerajaan Cirebon dan Kesultanan Demak.

ziarahkubro6
Versi Pangeran Cerbon, dari Giri Kedaton

Berdasarkan catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur, 1706 – 1714 ), terdapat Nasab sebagai berikut :

Raden Ario Sultan Muhammad Mansur Jayo ing lago bin Sultan Abdul Rakhman Kyai Mas Hindi Sayidul iman Sunan Cinde Welang bin Jamaluddin Mangkurat Kyai Gede ing Pasarean bin Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri

Maulana Ali Mahmud Nuruddin (Pangeran Wiro Kusumo) bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri, inilah yang dikenal sebagai Pangeran Cerbon, atau didalam Silsilah Palembang, bernama Pengeran Arya Kesumo Cerbon (Sumber : Silsilah Kekerabatan Kesultanan Palembang Darussalam).

Nama Pangeran Wiro Kusumo, juga terdapat didalam Tarsilah Kesultanan Brunei, beliau juga dinisbatkan sebagai putera Sunan Giri, dengan nama Sunan Dalam Ali Zainal Abidin Wirakusuma (Sumber : Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, dalam catatan “Tarsilah Brunei”).

nasabpalembang
Versi Pangeran Cerbon, dari Tanah Pasundan

Pangeran Arya Kusuma Cirebon, diperkirakan lahir pada akhir abad ke-15, yakni dengan mengacu kepada tahun kedatangan Pangeran Manconegara di Palembang, yaitu saat terjadi “gonjang-ganjing” Kesultanan Demak-Pajang tahun 1546-1549.

Pada sekitar akhir abad-15, yang menyandang gelar Pangeran di daerah Cirebon, antara lain :

(1). Ki Gedeng Carbon Girang bin Pangeran Carbon bin Pangeran Walangsungsang Cakrabuana

(2). Pangeran Pasarean bin Sunan Gunung Jati Cirebon

(3). Maulana Muhammad (Pangeran Pamelekaran) bin Sunan Panjunan Cirebon

(1). Ki Gedeng Carbon Girang bin Pangeran Carbon bin Pangeran Walangsungsang Cakrabuana

Dalam masyarakat Cirebon, Ki Gedeng Carbon Girang dikenal sebagai putera dari Pangeran Carbon dengan istrinya yang bernama Nyai Mas Kencana Sari binti Sunan Panjunan Cirebon (Sumber : Sekilas Sejarah Cirebon, Sekilas Tentang Pangeran Carbon).

Di dalam buku Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, Volume 5, tulisan Agus Sunyoto, dikisahkan menjelang wafat Raden Kusen (adik tiri Raden Fatah), mengirim utusan ke Palembang, yang tujuannya meminang Nyi Mas Ilir, untuk dinikahkan dengan Pangeran Wirakusuma putera Pangeran Cirebon, cucu Sri Mangana (Pangeran Walangsungsang Cakrabuana).

kekerabatankesultanan
Pangeran Wirakusuma dikenal sebagai pemimpin 1.000 prajurit tambahan dari Caruban, untuk membantu Fadhillah, saat merebut pelabuhan Kalapa. sosok ini kemungkinan nama lain dari Ki Gedeng Carbon Girang, sementara Nyi Mas Ilir sendiri merupakan cucu Raden Kusen, dari puteranya yang bernama Pangeran Surodirejo (lihat : [Misteri] Pangeran Seda ing Lautan, dan awal berdirinya Kerajaan Palembang).

Namun yang menariknya, saudara Nyi Mas Ilir di dalam buku ini bernama Raden Ketib, yang bergelar Ki Gedeng Sura. Dalam silsilah Palembang, nama Ki Gedeng Sura, adalah saudara nenek dari isteri Pangeran Manconegara.

(2). Pangeran Pasarean bin Sunan Gunung Jati Cirebon

Pangeran Mohammad Arifin atau Pangeran Pasarean diperkirakan lahir tahun 1495 , ia menikah dengan Ratu Mas Nyawa puteri Sultan Demak, Raden Fattah (lihat : ikhwanulfalah.blogspot.co.id).

Pangeran Pasarean menjadi Dipati Cirebon I pada tahun 1528, dari pernikahannya dengan Ratu Mas Nyawa, memiliki anak yaitu:

1. Pangeran Kesatriyan yang lahir tahun 1516.

2. Pangeran Losari yang lahir tahun 1518.

3. Pangeran Sawarga atau Pangeran Sindang Kempeng yang lahir tahun 1521.

4. Nyai Ratu Emas yang lahir tahun 1523.

5. Pangeran Santana Panjunan yang lahir tahun 1525.

6. Pangeran Weruju atau Pangeran Suryanagara yang lahir tahun 1550.

Pangeran Pasarean sangat mungkin merupakan sosok Pangeran Cerbon, selain merupakan pengganti Sunan Gunung Jati (Pemimpin Cirebon sebelumnya), ia juga menantu Raden Fattah, yang memiliki kedekatan emosional dengan Palembang.

(3). Maulana Muhammad (Pangeran Pamelekaran) bin Sunan Panjunan Cirebon

Sebagian pemerhati sejarah Palembang, ada yang meyakini, jalur Nasab Kesultanan Palembang Darussalam, berawal dari Keluarga Sunan Panjunan Cirebon.

Hal ini didasarkan kepada tokoh-tokoh yang terdapat di dalam Silsilah Palembang, yang menghubungkan  kekerabatan antara Penguasa Cirebon dengan Sumedang, dimana hal tersebut hanya terdapat dalam keluarga ini.

Selain itu, pada Silsilah Palembang terdapat versi, yang menyatakan Giri Kedaton merupakan jalur wanita (mirza) dan bukan jalur pria (Nasab).

Pada skema silsilah keturunan Syekh Datuk Kahfi (Giri Amparan Jati), terlihat hubungan kekerabatan antara keluarga Kesultanan Palembang Darussalam dan Pangeran Santri (Kerajaan Sumedang Larang) :

3a. Jalur versi I

tubagusangke2Berdasarkan kepada skema silsilah diatas, diperoleh silsilah berikut :

Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Iman bin Maulana Muhammad Ali Gede ing Pasarean bin Maulana Fadlullah Pangeran Manco Negoro bin Maulana Nuruddin Cirebon bin Maulana Muhammad Pangeran Arya Cirebon bin Maulana Abdurrahman Pangeran Panjunan Cirebon bin Maulana Datuk Kahfi Giri Amparan Jati Cirebon

3b. Jalur versi II


Berdasarkan kepada skema silsilah diatas, diperoleh silsilah berikut :

Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Iman bin Maulana Muhammad Ali Gede ing Pasarean bin Maulana Fadlullah Pangeran Manco Negoro bin Maulana Abdullah Pangeran Angkawijaya Adipati Sumedang bin Maulana Shaleh Pangeran Santri Adipati Sumedang bin Maulana Muhammad Pangeran Arya Cirebon bin Maulana Abdurrahman Pangeran Panjunan Cirebon bin Maulana Datuk Kahfi Giri Amparan Jati Cirebon

Versi Pangeran Cerbon, dari Kesultanan Demak

Pada versi ini Pangeran Cerbon di-indentifikasikan sebagai tokoh yang sama dengan Ki Gedeng Karang Tengah (Karang Panjang), daerah Karang Tengah sendiri berada dalam wilayah Kadipaten Demak.

Di dalam silsilah Palembang disebutkan salah seorang puteri Pangeran Sido ing Lautan merupakan isteri Ki Gedeng Karang Tengah, dan dalam beberapa riwayat Ki Gedeng Karang Tengah dianggap sebagai ayahanda dari Pangeran Panca Tanda.

Pangeran Panca Tanda ini, kemudian memiliki 2 orang putera yang bernama Tumenggung Manconegara dan Ki Mas Marta Yuda.

Keberadaan sosok Ki Gedeng Karang Tengah, terdapat dalam beberapa versi diantaranya adalah :

(1). Ki Gedeng Karang Tengah, dari Kadipaten Demak

Pancantuman gelar Pangeran Cerbon, berasal dari ibundanya sendiri yang merupakan  puteri dari Pangeran Panjunan Cirebon. Sementara gelar Ki Gedeng Karang Tengah, dikarenakan yang bersangkutan meneruskan gelar mertuanya, yakni Ki Gedeh Karang Tengah Dipati Demak.

Dengan demikian, Ki Gedeng Karang Tengah tercatat memiliki 2 isteri yakni, puteri Ki Gedeh Karang Tengah dan puteri Pangeran Sido ing Lautan. Dan ia juga merupakan sepupu dari Pangeran Wirakusumah Cirebon (Ki Mas Ilir), karena sama-sama cucu dari Pangeran Panjunan Cirebon.

(2). Ki Gedeng Karang Tengah, adalah Pangeran Aria Jeding

Ki Gedeng Karang Tengah, sebelum pindah ke Palembang bernama Tumenggung Mantik dari negeri Barawa. Ada kemungkinan sosok yang dimaksud adalah Pangeran Aria Jeding, yang pernah menjabat Adipati Rawa (Tulungagung).

Pangeran Aria Jeding adalah putera Pangeran Aria Terung (Adipati Sengguruh), sedangkan Pangeran Aria Terung sendiri anak dari Raden Kusen (Adipati Terung) (sumber : sejarah poesponegoro).

Perpindahan keluarga Pangeran Aria Jeding ke Palembang, dikarenakan terjadinya kekacauan selepas wafatnya Pangeran Aria Terung. Keluarga besar Pangeran Aria Jeding dikisahkan berpencar ke segala arah, saat terjadi serangan mendadak dari Kadipaten Srengat dan Panjer.

Misteri Maulana Fadlullah (Pangeran Manconegara)

Sudah sama dipahami, silsilah kekerabatan Kesultanan Palembang Darussalam (jalur laki-laki), bermula dari Maulana Fadlullah (Pangeran Manconegara) kakek Sultan Abdul Rahman bin Maulana Muhammad Ali Kyai Gede ing Pasarean.

Namun dikarenakan sosok Maulana Fadlullah ini terdapat berbagai versi, maka terkadang timbul perdebatan tentang jati dirinya.

Setelah mengumpulkan beberapa sumber silsilah, ada yang mencoba untuk mengurai misteri leluhur Kesultanan Palembang Darussalam.

Keterangan :

1. Pangeran Manconegara ketika berada di Cirebon tinggal dengan kerabatnya yakni puteri Giri Kedaton, dan suaminya Raden Kiai Nurdin, sehingga dalam beberapa silsilah menulis Pangeran Manconegara adalah putera dari Raden Kiai Nurdin, yang merupakan saudara Pangeran Santri (Adipati Sumedang).

2. Selain Raden Kiai Nurdin, tokoh lain yang juga dianggap sebagai ayahanda dari Pangeran Manconegara adalah Pangeran Panca Tanda, putera Ki Gedeng Karang Tengah.

Pangeran Panca Tanda diperkirakan merupakan paman dari pihak ibunda Pangeran Manconegara  dan sosok inilah yang kemudian bersama Pangeran Manconegara hijrah ke Palembang.

3. Untuk dipahami istilah “Panca Tanda” atau “Manchu Tando” adalah gelar jabatan setingkat wakil Adipati. Dengan demikian jika di dalam silsilah Palembang dan Tarsilah Brunei tertulis ayahanda Pangeran Manconegara adalah seorang Panca Tanda (Manchu Tando) bukan berarti yang dimaksud adalah Pangeran Panca Tanda bin Ki Gedeng Karang Tengah.

4. Dalam skema silsilah, ayahanda Maulana Fadlullah (Pangeran Manconegara) adalah Maulana Abdullah, yang merupakan saudara Puteri Giri Kedaton. Maulana Abdullah sendiri adalah putera dari Maulana Ali Mahmud Nuruddin.

Nasab Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri, dicatat oleh Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (ulama yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur, 1706 – 1714 ).

Sementara di dalam Tarsilah Brunei tertulis, Pengiran (Kiai) Temenggong Manchu Negoro bin Pengiran Manchu Tando bin Sunan Dalam Ali Zainal Abidin Wirakusuma bin Sunan Giri, Maulana Muhammad Ainul Yaqin.

5. Melalui perbandingan silsilah dari beberapa sumber, diperoleh bagan kekerabatan Kesultanan Palembang Darussalam sebagai berikut:

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara

1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Kuil Hatshesut (dari masa 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).
3. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?
4. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

Nasab Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, dalam 3 versi silsilah : Gresik, Sumedang dan Cirebon?

Kesultanan Palembang Darussalam adalah suatu kerajaan Islam di Indonesia yang berlokasi di sekitar kota Palembang, Sumatera Selatan. Kesultanan ini diproklamirkan oleh Sri Susuhunan Abdurrahman pada tahun 1659 (Sumber : wikipedia.org).

Salah seorang penguasa Kesultanan Palembang Darussalam yang terkemuka adalah Sultan Mahmud Badaruddin (II) Pangeran Ratu. Beliau merupakan Pahlawan Nasional, dan menjadi Sultan Palembang dalam dua periode, yakni 1803-1813 dan 1818-1821.

benteng1
Nasab Sultan Mahmud Badaruddin (II) Pangeran Ratu

Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber silsilah Kesultanan Palembang Darussalam, Nasab Sultan Mahmud Badaruddin (II) Pangeran Ratu, yang telah dianggap shahih adalah sebagai berikut :

01. Sultan Mahmud Badaruddin (II) Pangeran Ratu (bin)
02. Sultan Muhammad Bahauddin (bin)
03. Sultan Ahmad Najamuddin (I) Adi Kusuma (bin)
04. Sultan Mahmud Badaruddin (I)  Jaya Wikrama (bin)
05. Sultan Muhammad Masyur (bin)

06. Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam (bin)
[Pendiri Kesultanan Palembang Darussalam]

07. Pangeran Ratu Jamaluddin Mangkurat V / Pangeran Seda ing Pasarean/Raden Muhammad Ali (bin)

08. Pangeran Monco Negoro/Raden Maulana Fadlallah, yang menikah dengan Nyai Geding Pembayun binti Ki Geding Suro Mudo.

sultan1
Berkenaan ayahanda dari Pangeran Monco Negoro (Raden Maulana Fadlallah), setidaknya ada 3 versi nama, yaitu :

1. Pangeran Monco Negoro bin Pangeran Manchu Tando Gresik (Versi Gresik)

Data versi Gresik ini terdapat di dalam Tarsilah Brunei, yakni pada Silsilah Raden Mas Ayu Siti Aisyah (Permaisuri Sultan Abdul Jalilul Akbar, Sumber).

Dalam versi tersebut disebutkan, Silsilah Raden Mas Ayu Siti Aisyah, adalah sebagai berikut :

Raden Mas Ayu Siti Aisyah binti Pangeran (Kyai) Tumenggung Manchu Negoro Gresik bin Pangeran Manchu Tando bin Sunan Dalam Ali Zainal Abidin Wirakusuma bin Sunan Giri, Muhammad Ainul Yaqin

Nama Pangeran Manchu Tando, di dalam Silsilah Kesultanan Palembang Darussalam disebut sebagai Ki Panca Tandah (Adipati Panca Tandah, Sumber).

datap1
2. Pangeran Manco Negoro bin Adipati Sumedang (Versi Sumedang)

Selain nama Pangeran Adipati Panca Tandah, di dalam Silsilah Kesultanan Palembang Darussalam, juga disebut nama Adipati Sumedang, sebagai ayahanda Pangeran Monco Negoro.

Pada Situs Anandakemas, Silsilah Pangeran Manco Negoro, adalah sebagai berikut :

01. Tumenggung Manco Negaro (Maulana Fadlullah) bin

02. Pangeran Adipati Sumedang (Maulana Abdullah) bin

03. Pangeran Wiro Kesumo Cirebon (Ali Kusumowiro/Muhammad Ali Nurdin/Sunan Sedo Ing Margi) bin

04. Sunan Giri/Muhammad ‘Ainul Yaqin

3. Raden Ki Yai Farurlla (Pangeran Manco Negoro) bin Raden Ki Yai Nurodin Cirebon (Versi Cirebon)

Di dalam catatan silsilah turun menurun, dari Keluarga Raden Abdul Rahmat bin Raden Muhamad Bahaudin (Sultan Muhammad Bahauddin, Sumber), tertulis silsilah sebagai berikut :

silsilaha2Pada data silsilah diatas, Raden Ki Yai Farurllah (Raden Maulana Fadlullah atau Pangeran Manco Negoro) ayahandanya bernama Raden Ki Yai Nurodin (dimakamkan di Cirebon).

Jika mengikuti keterangan yang terdapat di dalam Silsilah Kesultanan Palembang Darussalam, kemungkinan Raden Ki Yai Nurodin merupakan nama dari Adipati Sumedang bin Pangeran Arya Kesumo Cerbon.

Sementara hubungan kekerabatan dengan Giri Kedaton, adalah melalui jalur istrinya yang merupakan Cucu dari Sunan Giri.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan…

1. Pembahasan berkenaan dengan beragam versi silsilah Kesultanan Palembang Darussalam, silahkan membaca artikel ini