Tag Archives: nasab

Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?

Bermula dari Silsilah yang disusun oleh Kyai Sudja’, murid KHA Dahlan, yang bersumber dari dokumen Kitab Ahlul Bait. Diperoleh informasi Pendiri Muhammadiyah, Ki Haji Ahmad Dahlan merupakan keturunan Sunan Prapen (Sunan Giri ke-4), dengan rincian sebagai berikut :
Kyai Ahmad Dahlan bin Kyai Abu Bakar bin Kyai Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadha bin Kyai Ilyas bin Demang Jurang Juru Kapindo bin Demang Jurang Juru Sapisan bin Ki Ageng Gribig Jatinom (Maulana Sulaiman) bin Sunan Prapen (Sunan Giri IV).

Dengan semakin berkembangnya ilmu nasab, beberapa pihak mencoba meneliti kembali Nasab tersebut, dan hasilnya terdapat kejanggalan yakni jarak antara Sunan Prapen (semasa dengan kehidupan Sultan Hadiwijaya Pajang), dengan Ki Ageng Gribig (semasa dengan kehidupan Sultan Agung Mataram), terdapat jarak sekitar 2 generasi. Untuk mencari 2 generasi yang hilang itu, penyelusurannya dicoba dicari dengan meneliti beberapa silsilah yang beredar di masyarakat.

Kyai Dahlan, keturunan Sunan Giri dan Sunan Tembayat

Dari beberapa informasi yang di dapat, diketahui bahwa Ki Ageng Gribig terhitung sebagai keturunan Sunan Giri, melalui jalur ibunya yang bernama Raden Ayu Ledah atau RA. Seledah. Dan diduga ibu beliau ini, merupakan salah seorang anak dari Sunan Prapen. (Sumber : Makam Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten,  Simbah Kyahi Ageng Gribig Jatinom, Wisata Ziarah di Klaten (2)).

Setelah menemukan hubungan genealogy, antara KH. Ahmad Dahlan dengan Trah Sunan Giri (melalui jalur ibu), muncul pertanyaan bagaimana Silsilah KH. Ahmad Dahlan, melalui jalur ayah ?

Dari beberapa silsilah yang kami peroleh, Kyai Gribig memiliki nama Syekh Wasibagno Timur, merupakan putra dari Syekh Wasibagno III atau Raden Mas Guntur atau Bandara Putih atau Prabu Wasi Jaladara (Sumber : Kabupaten Klaten, Tradhisi Ya Qawiyyu, Simbah Kyahi Ageng Gribig Jatinom).

Dari sang ayahanda Ki Wasibagno III, hampir semua silsilah menyatakan sampai kepada Brawijaya. Banyak orang menduga Brawijaya yang dimaksud adalah Prabu Brawijaya V, yang merupakan Raja terakhir Majapahit.

Akan tetapi yang membingungkan dari semua Silsilah itu menulis Ki Ageng Gribig adalah keturunan ke-3 dari Brawijaya. Padahal jika kita menggunakan timeline, setidaknya beliau adalah keturunan ke-5 dari Prabu Brawijaya V.

Berdasarkan buku berjudul Benturan budaya Islam: puritan & sinkretis, Oleh Sutiyono, Ahmad Dzulfikar, Sutiyono. Di dalamnya diceritakan Ki Ageng Gribig, adalah keturunan ke-5 Brawijaya, dengan puteri Sunan Giri. Jika yang dimaksud Brawijaya disini adalah Raja terakhir Majapahit, jelas sangat keliru. Karena masanya cukup jauh diatas masa Sunan Giri, apalagi generasi anaknya.

Di dalam buku itu juga ditulis tentang Brawijaya yang masuk Islam dan meyebar Islam di daerah Bayat. Jadi jelas yang dimaksud Brawijaya disini adalah Sunan Bayat atau Sunan Tembayat, yang hidup sekitar 2 generasi setelah Prabu Brawijaya V, dan terhitung sebagai cucu menantunya (salah seorang istri Sunan Tembayat adalah Nyi Ageng Kaliwungu binti Sunan Katong bin Prabu Brawijaya V)

Bisa dibaca disini : budaya Islam: puritan & sinkretisKORELASI TATA RUANG RUMAH KUNO DI KRAJAN KULON TERHADAP TATA RUANG KOTA KALIWUNGU

Dengan berpedoman kepada catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi, pada tahun 1979. Sunan Tembayat adalah putera Sayyid Abdul Qadir bin Maulana Ishaq. Ayahnya diangkat menjadi Bupati Semarang Pertama, atas arahan Sunan Giri, dan bergelar Sunan Pandan Arang.

Sementara ibu Sunan Tembayat adalah Syarifah Pasai, yang merupakan adik Pati Unus (Sultan Demak yang ke-2) (Sumber : SEJARAH & NASAB SUNAN BAYAT & SUNAN PANDANARAN).

Dengan berdasarkan kepada sumber-sumber silsilah yang ada, diperoleh Silsilah KH. Ahmad Dahlan (melalui jalur Sunan Tembayat), sebagai berikut :

Keterangan :

1. Silsilah Sunan Tembayat sampai kepada Rasulullah

01. Sunan Tembayat @ Sunan Bayat @ Sunan Pandanaran II, menikah dengan Nyi Ageng Kaliwungu binti Sunan Katong bin Prabu Brawijaya V

02. Maulana Islam @Ki Ageng Pandanaran @Sunan Pandanaran I @Sayyid Abdul Qadir @Sunan Semarang, menikah dengan adik Pati Unus (Maulana Abdul Qadir) yang bernama Syarifah Pasai bin Raden Muhammad Yunus bin Syekh Abdul Khaliq al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi bin Imam Muhammad Al Faqih Al Muqaddam bin Ali Ba Alawi bin Muhammad Shohib Mirbath

03. Maulana Ishaq
04. Syeikh Ibrahim Asmoro
05. Jamaluddin Akbar
06. Ahmad Syah Jalal
07. Abdullah
08. Abdul Malik
09. Alwi Ammi Al-Faqih
10. Muhammad Shohib Mirbath
11. ‘Ali Khali Qasam
12. ‘Alwi Shohib Baiti Jubair
13. Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah
14. ‘Alwi al-Mubtakir
15. ‘Ubaidillah
16. Ahmad Al-Muhajir
17. ‘Isa An-Naqib
18. Muhammad An-Naqib
19. ‘Ali Al-’Uraidhi
20. Ja’far Ash-Shadiq
21. Muhammad al-Baqir
22. ‘Ali Zainal ‘Abidin
23. Imam Husain Asy-Syahid
24. Fathimah Az-Zahra
25. Nabi Muhammad Rasulullah

2. Berdasarkan Silsilah yang dibuat Kyai Sudja’, Ki Ageng Gribig adalah keturunan Sunan Giri, melalui jalur laki-laki.

Hal tersebut masih sangat mungkin terjadi, apabila Ki Ageng Gribig (II) yang dalam cerita di masyarakat, disebut manantu Sunan Giri IV/Sunan Prapen, sejatinya adalah anak dari Sunan Giri  IV/Sunan Prapen.

3. Kisah seputar Ki Ageng Gribig yang beredar di masyarakat

01. Tentang Ki Ageng Gribig  sebagai putra Brawijaya. Berdasarkan buku Benturan budaya Islam: Puritan & Sinkretis, yang dimaksud Brawijaya adalah Sunan Tembayat.

Sunan Tembayat memiliki putra bernama Wasibagno yang bergelar Ki Ageng Gribig I.

02. Tentang ibu Ki Ageng Gribig yang berasal dari trah Sunan Giri. Berdasarkan timeline, orang yang dimaksud adalah Raden Ayu Ledah binti Sunan Giri IV (Sunan Prapen) bin Sunan Giri II (Sunan Dalem Wetan) bin Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin), yang merupakan istri dari Ki Ageng Gribig II.

03. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menjadi pelopor acara “Yaqowiyu”,  yang dimulai pada sekitar tahun 1589 Masehi atau 1511 Saka. Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig III, yang sekaligus juga guru Sultan Agung Mataram.

04. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menikah dengan Raden Ayu Emas Winongan (adik Sultan Agung Mataram). Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig IV, sekaligus juga orang yang berjasa dalam memadamkan gejolak politik di Palembang (tahun 1636 Masehi).

05. Tentang Ki Ageng Gribig, yang menjadi ayah dari Demang Juru Sapisan (terdapat di dalam silsilah yang dibuat Kyai Sudja’). Orang yang dimaksud adalah Ki Ageng Gribig IV.

4. Kisah dan Fakta, tentang Ki Ageng Gribig (III) pelopor acara “Yaqowiyu” di Jatinom Klaten :

1. Ki Ageng Gribig (III) pertama kali melaksanakan acara “Yaqowiyu”, sepulang dari ibadah haji, tepatnya tanggal 15 Sapar 1511 H (tahun 1589M).

2. Ki Ageng Gribig (III) diceritakan sebagai keturunan ke-5 dari Prabu Brawijaya V (raja terakhir Majapahit)

Urutan Silsilah….

= 00. Prabu Brawijaya V

= 01. Sunan Katong/Raden Jaka Pitutur/Raden Arakkali (adipati Ponorogo)

= 02. Nyi Ageng Kaliwungu (istri Sunan Tembayat/Brawijaya Wekasa)

= 03. Raden Jaka Dholog/Ki Ageng Jatinom/Resi Bagna/Wasibagno/Ki Ageng Gribig (I)

= 04. Pangeran Rangkaknyawa/Pangeran Watijiwa/Ki Ageng Pangkaknyana/Wasijiwa/Ki Ageng Gribig (II)
(Di dalam silsilah yang lain disebut Syekh Wasibagno III/Raden Mas Guntur/Bandara Putih/Prabu Wasi Jaladara, dan diceritakan memiliki istri bernama Raden Ayu Ledah/Raden Ayu Seledah keturunan Sunan Giri)

= 05. Kyai Getayu/Ki Ageng Gribig (III)
(Di dalam silsilah yang lain disebut Syekh Wasibagno Timur/Syekh Wasihatno)

3. Ki Ageng Gribig (III) adalah Guru Sultan Agung Mataram. Dan anaknya Ki Ageng Gribig (IV), membantu Sultan Agung dalam mengatasi gejolak politik di Palembang (tahun 1636M), serta menjadi adik ipar Sultan Agung Mataram.

Catatan Tambahan

(*) Berdasarkan kitab Al-Mausuu’ah Li Ansaab Itrati Al-Imam Al-Husaini, Jakarta: Penerbit Madawis, Cetakan 1, 2011…

Al-Imam Maulana Husain Jamaluddin Jumadil Kubro, dilahirkan pada tahun 1270 M di negeri Nasarabad, dan wafat di Wajo tahun 1453 M. Jadi usianya 183 tahun.

Melalui istrinya yang bernama Puteri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) binti Sultan Baki Shah ibni al-Marhum Sultan Mahmud, Raja of Chermin dari Kelantan Malaysia (menikah tahun 1390M), beliau dikarunia-i 2 anak, yaitu :
– Sayyid ‘Ali Nurul Alam (lahir tahun 1402M)
– Sayyid Muhammad Kebungsuan (lahir tahun 1410M)
(Sumber : Al-Imam Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan)

(*) Melalui penyelusuran yang dilakukan salah seorang keluarga KH. Ahmad Dahlan (sdr. Diah Purnamasari Zuhair), berkesimpulan bahwa Batara Katong, Sunan Geseng, dan Ki Ageng Gribig I, memiliki hubungan kekerabatan, namun mereka adalah orang yang BERBEDA.

Dengan alasan sebagai berikut :

1. Makam Batara Katong terletak di Jenangan-Ponorogo-Jawa Timur. Beliau memang tinggal di Jenangan. Makam tersebut terletak tidak jauh dari rumah adik ipar saya.

2. Sunan Geseng berasal dari Bagelen-Purworejo-Jawa Tengah. Makam Sunan Geseng terletak di daerah Gunung Kidul, yang biasa disebut Makam Jolosutro. Kalau membaca sejarah Sunan Geseng (Cokrojoyo I), maka beliau dikenal sebagai Ki Ageng Gribig III karena tinggal di Jatinom (dalam sejarah ditulis bahwa Ki Ageng Gribig III tinggal di Jatinom-Klaten-Jawa Tengah). Beliau juga yang menurunkan bupati-bupati Bagelen, dari putranya yang bernama Raden Joko Bumi, juga menurunkan Patih Cokrojoyo III (Adipati Danureja).

3. Makam Ki Ageng Gribig I terletak di Malang-Jawa Timur, yang jarak tempuhnya sekitar 2-3 jam dari Ponorogo.

Dari letak makam yang berbeda saja sudah bisa dipastikan bahwa Batara Katong bukan Ki Ageng Gribig I juga bukan Sunan Geseng. (Sumber : Diskusi Facebook).

Silsilah KH. Ahmad Dahlan (Berdasarkan revisi sdr. Diah Purnamasari Zuhair)…
silsilahdahlan21a
(*) Pendapat jalur nasab KH. Ahmad Dahlan, melalui Sayyid Muhammad Kebungsuan, juga memiliki beberapa kelemahan.

Mengidentifikasi Sayyid Muhammad Kebungsuan, adalah sosok yang sama dengan Adipati Andayaningrat (ayah Kebo Kanigoro/Batara Katong), sepertinya masih perlu diteliti lagi, dengan alasan…

(1). Kedua tokoh memiliki riwayat kehidupan dan masa periode kehidupan yang berbeda.

(2). Adipati Andayaningrat adalah putera dari Pangeran Bajul Segara, sejak kecil tidak bertemu dengan ayahnya. Sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan, ketika kecil telah dibimbing ilmu keislaman langsung dari ayahnya Sayyid Husein Jamaluddin Akbar.

(3). Sayyid Muhammad Kebungsuan berdakwah ke berbagai tempat menyebarkan Islam, sementara Adipati Andayaningrat adalah seorang birokrat Kerajaan Majapahit

4). Berdasarkan Serat Kanda, Adipati Andayaningrat membela Majapahit saat berperang melawan Demak. Sementara Sayyid Muhammad Kebungsuan, tentu akan lebih berpihak kepada Demak, yang didukung oleh keluarganya (Sunan Ampel).

(*) Ada versi yang mengatakan Sayyid Muhammad Kebungsuan, ada 3 orang, yakni :

(1). Sayyid Muhammad Kebungsuan Malaka
(2). Sayyid Muhammad Kebungsuan Mindanau
(3) Sayyid Muhammad Kebungsuan Jawa

Adapun Silsilah Sayyid Muhammad Kebungsuan Jawa, adalah sebagai berikut :

1. Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, menikah dengan Puteri Nizamul Muluk (Delhi India, menikah tahun 1309 M), memiliki putera bernama Maulana Muhammad Jumadil Kubra (lahir di Nasarabad India, tahun 1311 M).

Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro, wafat tahun 1453, di usia 183 tahun dan dimakamkan di Wajo Sulawesi.

2. Maulana Muhammad Jumadil Kubro, berdasarkan catatan KRT.Hamaminatadipura, adalah orang yang membuka Hutan Mentaok, menjadi sebuah pemukiman, yang dikemudian hari dikenal sebagai Mataram.

Maulana Muhammad Jumadil Kubra, sendiri kemudian dikenal dengan gelar Ki Ageng Mataram I. Makam beliau berada di Gunung Plawangan Turga Kaliurang Yogyakarta.

Salah seorang putera Maulana Muhammad Jumadil Kubro, bernama Maulana Ahmad Jumadil Kubro, yang dikenal sebagai Wali Songo Generasi I.

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, berdasarkan catatan Ki Ageng Walisuci, dalam Babad Mataram Islam, beliau adalah ayah biologis dari Abdurrahman Jumadil Kubra, dan setelah dewasa lebih dikenal sebagai Raden Lembu Peteng atau Ki Bondan Kejawan.

Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubro, lokasi makamnya berada di Troloyo Mojokerto. Berdasarkan catatan silsilah Roro Tenggok (Roro Sekar Rinonce) binti Ki Kebo Kanigoro, Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubro merupakan ayah dari Pangeran Handayaningrat (Jaka Sengara) atau dikenal juga sebagai Sayyid Muhammad Kebungsuan (Jawa).

4. Pangeran Handayaningrat (Jaka Senggara/Sayyid Muhammad Kebungsuan (Jawa)), merupakan suami dari Raden Ayu Retno Pambayun

Dari pernikahan ini, beliau memiliki putera bernama Ki Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging, ayahanda Jaka Tingkir) dan Ki Kebo Kanigoro (Kyai Ageng Purwoto Sidik Banyubiru).

5. Ki Kebo Kanigoro (Kyai Ageng Purwoto Sidik Banyubiru, Sukoharjo Jawa Tengah), dalam salah satu versi merupakan Leluhur dari KH. Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah.

(*) Berdasarkan Tedhak Dermayudan, di daerah Gribik (Sengguruh Jawa Timur) bermukim seorang putra Sunan Giri bernama Pangeran Kedhanyang. Dikisahkan Pangeran Kedhanyang berhasil menahan serangan Adipati Sengguruh (Malang) di tahun 1535, sehingga daerah Jaha, Wendit, Kipanjen, Dinaya dan Palawijen masuk Islam.

Peristiwa peperangan antara Giri Kedaton dan Sengguruh (Malang) terjadi pada masa Sunan Giri II (Sunan Dalem), jadi kemungkinan  Pangeran Kedhanyang adalah putera dari Sunan Giri II (Sunan Dalem) bin Sunan Giri I.

Apakah Pangeran Kedhanyang, kelak akan bergelar Ki Ageng Gribig I, yang kemudian menjadi leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan ? (sumber : ngalam.id). Selengkapnya pembahasan versi ini, bisa kunjungi : Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ?

sililahad1

(*) Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan, dengan Keluarga Pondok Pesantren Gontor Ponorogo (Sumber : Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo).

silsilahulama

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi Tambahan :

Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih

MUHAMMADIYAH, terancam GAGAL?

Iklan

Maulana Husain, Pelopor Dakwah Nusantara

Maulana Husain Jumadil Kubro (1310-1453M) dikenal sebagai seorang muballigh terkemuka, dimana sebagian besar penyebar Islam di Nusantara (Wali Songo), berasal dari keturunannya.

Beliau dilahirkan pada tahun 1310 M di negeri Malabar, yakni sebuah negeri dalam wilayah Kesultanan Delhi. Ayahnya adalah seorang Gubernur (Amir) negeri Malabar, yang bernama Amir Ahmad Syah Jalaluddin.

Nasab lengkap beliau adalah Maulana Husin Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin bin ’Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Al-Muhajir bin ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali Qasam bin ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin ‘Alwi al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa An-Naqib bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-‘Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Versi lain mengatakan, Al-Imam Maulana Husain Jamaluddin Jumadil Kubro, dilahirkan pada tahun 1270 M di negeri Nasarabad, dan wafat di Wajo tahun 1453 M. Jadi usianya 183 tahun (Sumber : Al-Imam Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan).

Maulana Husin, memiliki banyak saudara di antaranya :
Maulana Isa, Qamaruddin, Majiduddin, Syeikh Tsanauddin (Thanauddeen/Datuk Adi Putera), Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, Ali Nuruddin Syah, Husain Khalifatullah Syah, Syaikh Muhammad Ariffin Syah (Datuk Kelumpang Al Jarimi Al Fatani) , Muhyiddin Syah, Ali Syahabuddin Umar Khan, Abdullah Syah (Aludeen Abdullah),  Alwi Quthbuddin (Alwee Khutub Khan), Jalaluddin Abdullah, Hasanuddin, Aliyyuddin, Qadir Binaksah, Syarifah Alawiyyah, Qoimuddin

Maulana Husain memiliki beberapa nama panggilan, diantaranya Sayyid Husain Jamaluddin, Syekh Maulana Al-Akbar atau Syekh Jamaluddin Akbar Gujarat, beliau tercatat memiliki isteri 6 orang, yaitu :

1. Lalla Fathimah binti Hasan bin Abdullah Al-Maghribi Al-Hasani (Morocco)
Memperoleh seorang anak, yang kemudian dikenal dengan nama Maulana Muhammad Al-Maghribi.

2. Puteri Nizam Al Mulk dari Delhi
Memperoleh 4 anak yaitu: Maulana Muhammad Jumadil Kubra, Maulana Muhammad ‘Ali Akbar, Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir), Syaikh Maulana Wali Islam

3. Puteri Linang Cahaya
Memperoleh 3 anak, yaitu: Pangeran Pebahar, Fadhal (Sunan Lembayung), Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung), Syekh Yusuf Shiddiq

4. Puteri Ramawati (Puteri Jeumpa/Pasai)
Memperoleh seorang anak yang bernama Maulana Ibrahim Al Hadrami.

5.Puteri Syahirah dari Kelantan
Memperoleh 3 anak. yaitu ‘Abdul Malik, ‘Ali Nurul ‘Alam dan Siti ‘Aisyah (Putri Ratna Kusuma)

6.Puteri Jauhar (Diraja Johor)
Memperoleh anak bernama Muhammad Berkat Nurul Alam dan Muhammad Kebungsuan

Sumber :
Al-Imam Husain Jamaluddin Kubro

(Note : Ke-empat isterinya yang terakhir, beliau nikahi selepas tiap-tiap seorang daripadanya meninggal dunia, sumber : karimon.wordpress.com)

Pada tahun 1349 M besama adiknya Syeikh Thanauddeen (Datuk Adi Putera) , tiba di Kelantan dalam menjalankan misi dakwahnya. Dari Kelantan beliau menuju Samudra Pasai, dan beliau kemudian bergerak ke arah Tanah Jawa.

Di Jawa beliau menyerahkan tugas dakwah ke anakanda tertuanya Maulana Muhammad Al-Maghribi. Beliau sendiri bergerak ke arah Sulawesi dan mengislamkan Raja Lamdu Salat pada tahun 1380 M.

Pada awal abad ke-15, Maulana Husin mengantar puteranya Maulana Ibrahim Al Hadrami ke tanah Jawa, tujuannya dalam upaya menyambung usaha-usaha dakwah anak tertuanya, Maulana Muhammad Al-Maghribi yang meninggal dunia pada tahun 1419 M.

Pada akhirnya beliau memutuskan untuk bermukim di Sulawesi, hal ini dikarenakan, sebagian besar orang Bugis ketika itu belum masuk Islam. Pada tahun 1453 M, Maulana Husin di panggil menghadap ILLAHI, dan dimakamkan di Wajo Sulawesi.


Silsilah Keturunan Maulana Hussein Jamadil Kubra Kita tentu pernah mendengar nama-nama Raden Fatah, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Pati Unus, Fathahillah dan Sultan Agung.

Namun, tidak banyak yang mengetahui, bahwa sesungguhnya mereka berasal dari satu leluhur yang sama, yakni seorang ulama, yang bernama Syaikh Maulana Husain Akbar

1. Maulana Muhammad al Maghribi (Maulana Malik Ibrahim)
1.1. Maulana Moqfaroh
1.2. Syarifah Sarah # Maulana Ali Murtardho (3.3)
1.2.1. Sunan Ngudung # Puteri Syarifat / Raden Ageng Maloka (3.1.2)
1.2.1.1. Sunan Kudus
1.2.1.1.1. Panembahan Pakaos

2. Siti Aisyah # Syaikh Abdul Khaliq Al Idrus
2.1. Syaikh Muhammad Yunus
2.1.1. Maulana Abdul Qadir (Pati Unus)
2.1.2. Syarifah Pasai

3. Ibrahim Al Hadrami / Ibrahim Asmaro / Ibrahim Zain al Akbar
3.1. Maulana Rahmatullah (Sunan Ampel)
3.1.1. Sunan Bonang
3.1.2. Raden Ageng Maloka
3.1.3. Sunan Drajat |
3.1.4. Raden Siti Mutasiah
3.1.5. Raden Siti Murtasimah
3.1.6. Raden Siti Mutmainah
3.1.7. Sunan Lamongan
3.1.8. Sunan Demak
3.1.9. Raden Siti Syafiah

3.2. Maulana Ishaq
3.2.1. Sunan Giri # Raden Siti Mutasiah (3.1.4)
3.2.1.1. Sunan Dalem Wetan / Zainal Abidin
3.2.1.1.1. Sunan Sedo Ing Margi / Pangeran Wiro Kesumo Cirebon
3.2.1.1.1.1. Pangeran Adipati Sumedang
3.2.1.1.1.1.1. Tumenggung Manco Negoro # Nyai Gede Pembayun (3.4.2.3.2.1.1)
3.2.1.1.1.1.1.1. Pangeran Sedo Ing Pasarean
3.2.1.1.1.1.1.1.1. Pangeran Mangkurat Sedo Ing Rejek
3.2.1.1.1.1.1.1.2. Sultan Abdurrahman Palembang / Kyai Mas Hindi
3.2.1.1.1.1.1.1.3. Kyai Mas Tumenggung Yudapati

3.2.1.1.2. Sunan Prapen (Maulana Muhammad)
3.2.1.1.2.1. Raden Ayu Ledah # Ki Ageng Gribig II (3.2.7.1.1.1)
3.2.1.1.2.1.1. Ki Ageng Gribig III (Maulana Sulaiman)
3.2.1.1.2.1.1.1. Demang Jurang Juru Sapisan
3.2.1.1.2.1.1.1.1. Demang Jurang Juru Kapindo
3.2.1.1.2.1.1.1.1.1. Kyai Ilyas
3.2.1.1.2.1.1.1.1.1.1. Kyai Murtadha
3.2.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Muhammad Sulaiman
3.2.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abu Bakar
3.2.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Ahmad Dahlan

3.2.1.1.3. Nyai Made Pandan
3.2.1.1.3. 1. Ki Ageng Saba
3.2.1.1.3.1.1.  Nyai Sabinah # Ki Ageng Pemanahan
3.2.1.1.3.1.1.1.  Panembahan Senapati
3.2.1.1.3.1.1.1.1.  Panembahan Hanyakrawati # Ratu Mas Hadi (3.4.1.1.2.1.1.1.)
3.2.1.1.3.1.1.1.1.1.  Sultan Agung

3.2.2. Syarifah Siti Sarah # Sunan Kalijaga
3.2.2.1. Sunan Muria
3.2.2.1.1. Sunan Ngadilangu

3.2.3. Syarifah Siti Musallimah # Mahdar Ibrahim (5.1.1)
3.2.3.1. Maulana Sayyid Fathahillah # Ratu Wulung Ayu (4.1.1.2)
3.2.3.1.1. Ratu Nawati Rarasa # Pangeran Dipati Cirebon (4.1.1.3.1)
3.2.3.1.1.1. Panembahan Ratu

3.2.3.1.2. Ratu Ayu Pembayun # Tubagus Angke
3.2.3.1.2.1. Pangeran Jayakarta (Sungerasa)
3.2.3.1.2.1.1. Pangeran Ahmad Jakerta
3.2.3.1.2.1.2. Ratu Mertakusuma # Sultan Abul Muali Ahmad (4.1.1.1.1.1.1.1)
3.2.3.1.2.1.2.1. Sultan Ageng Tirtayasa

3.2.4. Saiyid Mohamad Qassim
3.2.5. Syarifah Siti Khatijah
3.2.6. Syarifah Siti Maimunah # Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail

3.2.6.1. Ahmad Tajudin / Datuk Paduko Berhalo / Tok Putih
3.2.6.1.1. Ahmad Khamil / Tok Kayo Hitam
3.2.6.1.1.1. Zaharuddin / Panglima Lidah Hitam

3.2.6.2. Syarifah Siti Zubaidah # Pati Unus / Raden Abdul Qodir (2.1.1)
3.2.6.2.1. Raden Abdullah
3.2.6.2.1.1. Raden Arya Wangsa

3.2.7. Maulana Islam (Ki Pandanaran I) # Syarifah Pasai (2.1.2)
3.2.7.1. Sunan Tembayat (Ki Pandanaran II/Brawijaya Wekasa)
3.2.7.1.1. Ki Ageng Gribig I/Raden Jaka Dholog/Ki Ageng Jatinom/Wasibagno
3.2.7.1.1.1. Ki Ageng Gribig II/Ki Ageng Pangkaknyana/Pangeran Wasijiwa

3.3. Maulana ali Murtardho # Syarifah Sarah (1.2)
3.3.1. Sunan Ngudung # Puteri Syarifat / Raden Ageng Maloka (3.1.2)
3.3.1.1. Sunan Kudus
3.3.1.1.1. Panembahan Palembang (Ki Mas Syahid)

3.3.1.1.2. Panembahan Pakaos
3.3.1.1.2.1. Pangeran Ketandar Bangkal
3.3.1.1.2.1.1. Kyai Khatib
3.3.1.1.2.1.1.1. Kyai Abdur Rahman
3.3.1.1.2.1.1.1.1. Kyai Badrul Budur
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1. Kyai Martalaksana
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1. Kyai Sulasi
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Azhim
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Muharram
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Karim
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Hamim
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Lathif
3.3.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Kholil Bangkalan

3.4. Syarifah Siti Zainab # Prabu Brawijaya V
3.4.1. Raden Fatah # Raden Siti Murtasimah (3.1.5)
3.4.1.1. Raden Trenggono
3.4.1.1.1. Pangeran Prawoto
3.4.1.1.2. Ratu Mas Cempaka # Sultan Hadiwijaya / Joko Tingkir
3.4.1.1.2.1. Pangeran Hadipati Benowo
3.4.1.1.2.1.1. Pangeran Hadipati Benowo II
3.4.1.1.2.1.1.1. Ratu Mas Hadi # Panembahan Hanyakrawati (3.2.1.1.3.1.1.1.1)
3.4.1.1.2.1.1.1.1. Sultan Agung

3.4.1.1.2.1.1.1.1.1. Sultan Amangkurat I
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1. Sultan Pakubuwono I
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Amangkurat IV
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono I
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono II
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono III
3.4.1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Pangeran Diponegoro

3.4.1.1.2. Ratu Ayu Kirana # Maulana Hasanuddin (4.1.1.1)
3.4.1.1.2.1. Ratu Winahon
3.4.1.1.2.2. Pangeran Arya Jepara

3.4. Syarifah Siti Zainab # Adipati Aryo Dillah / Sultan Abdullah
3.4.2. Raden Husin
3.4.2.3. Raden Mohamad Yunus (Kiai Gede Ing Lautan)
3.4.2.3.1. Kyai Gede Ing Suro
3.4.2.3.2. Kiai Gede Ing Ilir
3.4.2.3.2.1. Ki Gede Ing Suro Mudo
3.4.2.3.2.1.1. Kyai Mas Adipati
3.4.2.3.2.1.1.1. Nyai Gede Pembayun

4. Ali Nurul Alam
4.1. Wan Abdullah (Sultan Umdatuddin)
4.1.1. Sunan Gunung Jati
4.1.1.1. Maulana Hasanuddin
4.1.1.1.1. Maulana Yusuf
4.1.1.1.1.1. Maulana Muhammad
4.1.1.1.1.1.1. Sultan Abumufakhir
4.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Abul Muali Ahmad

4.1.1.1.2. Syarifah Khadijah # Sayyid Abdurrahman Basyaiban
4.1.1.1.2.1. Kyai Maulana Sayyid (Mas) Sulaiman

4.1.1.1. Maulana Hasanuddin # Ratu Ayu Kirana (3.4.1.1.2)
4.1.1.1.3. Ratu Winahon
4.1.1.1.4. Pangeran Arya Jepara

4.1.1.2. Ratu Wulung Ayu
4.1.1.3. Panembahan Pasarean
4.1.1.3.1. Pangeran Dipati Cirebon

4.1.2. Sultan Muzaffar Syah
4.1.2.1. Abdul Hamid Syah
4.1.2.1.1. Faqih Ali Al Malabari

5. Muhammad Berkat Nurul Alam / Zainal Alam Barakat
5.1. Abdul Ghafur
5.1.1. Mahdar Ibrahim

5.2. Ahmad Zainal Alam
5.2.1. Abdurrahman Rumi

5.3. Sunan Gresik (Sunan Tandhes) # Syarifah Jamilah binti Syeikh Ibrahim Al Hadrami
5.3.1. Sayyid Abbas
5.3.2. Sayyid Yusof # Syarifah Siti Mariam binti Maulana Sayyid Subakir
5.3.3. Sayyid Abdullah
5.3.4. Sayyid Ibrahim
5.3.5. Sayyid Abdul Ghaffar
5.3.6. Sayyid Ahmad # Syarifah Siti Fatimah binti Maulana Sayyid Ali Nurul Alam
5.3.7. Sayyid Mohamad Faroq
5.3.8. Syarifah Siti Sarah.

6. Muhammad Kebungsuan (Handayaningrat)
6.1. Shihabudin (Ki Ageng Pengging)
6.1.1. Abdurrahman (Jaka Tingkir)
6.1.1.1. Abdul Halim (Pangeran Benawa)

Catatan :

1. Berdasarkan catatan dari keluarga azmatkhan, ayah dari Raden Fatah bukan Prabu Brawijaya V, melainkan  Wan Abdullah (Sultan Umdatuddin) bin Ali Nurul Alam bin Maulana Husain Jumadil Kubro.

Lintas Berita :
Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Artikel Terkait
01. Sunan Kalijaga, Ulama Seniman
02. Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih
03. Rasionalisasi, Kisah Syaikh Siti Jenar
04. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?

Rasulullah, keturunan ke-61 dari Nabi Ismail

Watsilah bin Asyqo berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keluarga Bani Hasyim” (HR. Muslim dan At-Tirmidhi)

Hadith di atas, adalah informasi dari Rasulullah, mengenai silsilah beliau. Dan tidak ada maksud, untuk membangga-banggakan kemuliaan nasab yang dimilikinya.

Bani Hasyim – Suku Quraisy – Bani Kinanah

Rasulullah berasal dari Bani Hasyim, yang bertanggung-jawab dalam Pemeliharaan Ka’bah. Bani Hasyim dinisbatkan kepada anak keturunan Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy). Rasulullah sendiri adalah cicit dari Hasyim bin Abdu Manaf, dengan nasab : Muhammad Rasulullah bin Abdullah bin Abdu Muthalib bin Hasyim.

Keluarga Bani Hasyim, merupakan bagian dari Suku Quraisy, yang merupakan anak keturunan Fihr (Quraisy) bin Malik bin Al Nadhar bin Kinanah. Sementara Suku Quraisy, merupakan pecahan dari Bani Kinanah, yang berasal dari Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Sebagian besar bangsa Arab, termasuk Bani Kinanah, hanya mengetahui leluhur mereka sampai kepada Adnan. Umar bin Khatab pernah berkata : “Kami mengetahui daftar nenek moyang hanya sampai kepada Adnan”, bahkan Ibnu Abbas pernah menyatakan “antara Adnan dan Ismail ada 30 generasi yang tidak diketahui”.

Nasab Muhammad Rasulullah

Melalui penelitian yang panjang, akhir-akhir ini diperoleh data mutahir mengenai leluhur Rasulullah, yang dimulai dari Adnan sampai kepada Nabi Ibrahim, yaitu :

Adnan bin Add bin Humaisi‘ bin Salaman bin Aws bin Buz bin Qamwal bin Obai bin ‘Awwam bin Nashid bin Haza bin Bildas bin Yadlaf bin Tabikh bin Jahim bin Nahish bin Makhi bin Ayd bin ‘Abqar bin ‘Ubayd bin Ad-Da‘a bin Hamdan bin Sanbir bin Yathrabi bin Yahzin bin Yalhan bin Arami bin Ayd bin Deshan bin Aisar bin Afnad bin Aiham bin Muksar bin Nahith bin Zarih bin Sami bin Wazzi bin ‘Awda bin Aram bin Qaidar bin Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim (“Ar Raheeq Al Makhtum”, tulisan Syaikh Safi-ur Rahman al-Mabarakpuri).

Sumber :
http://www.islamicity.com/forum/forum_posts.asp?TID=6582
http://www.quranandscience.com/his-biography/175-prophet-muhammad-family-tree.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Bani_Assad


Sehingga Nasab Rasulullah sampai kepada Nabi Ibrahim, adalah sebagai berikut :

Muhammad Rasulullah bin Abdullah bin Abdu Muthalib bin Hasyim (cikal bakal Bani Hasyim) bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (cikal bakal Suku Quraisy) bin Malik bin Al Nadhar bin Kinanah (cikal bakal Bani Kinanah) bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin Add bin Humaisi‘ bin Salaman bin Aws bin Buz bin Qamwal bin Obai bin ‘Awwam bin Nashid bin Haza bin Bildas bin Yadlaf bin Tabikh bin Jahim bin Nahish bin Makhi bin Ayd bin ‘Abqar bin ‘Ubayd bin Ad-Da‘a bin Hamdan bin Sanbir bin Yathrabi bin Yahzin bin Yalhan bin Arami bin Ayd bin Deshan bin Aisar bin Afnad bin Aiham bin Muksar bin Nahith bin Zarih bin Sami bin Wazzi bin ‘Awda bin Aram bin Qaidar bin Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim.

Pendapat Pendukung

Bible (Kejadian 25:12-15) mencatat anak-anak Ismail berdasarkan urutan kelahiran yaitu :
Nebayot (anak sulung Ismael), Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish dan Kedma.

Nabi Muhammad Saw, terlahir dari keturunan Qaidar (Kedar) bin Nabi Ismail, didukung pendapat beberapa ahli Bible, antara lain :

  1. The Davis Dictionary of the Bible (1980), sponsored by the Board of Christian Education of the Presbyterian Church in the USA, menulis pada artikel Kedar sebagai berikut :”… A tribe descended from Ishmael (Gen. 25:13) … The people of Kedar were Pliny’s Cedrai, and from their tribe Mohammed ultimately arose.””….suatu suku keturunan Ismail (Kej. 25:13)…. masyarakat keturunan Kedar ialah orang Pliny Cedrai, dan dari suku mereka itulah lalu Muhammad dilahirkan secara terhormat.”
  2. The International Standard Bible Encyclopedia dari A.S. Fulton menerangkan :”… Of the Ishmaelite tribes, Kedar must have been one of the most important and thus in later times the name came to be applied to all the wild tribes of the desert. It is through Kedar (“Keidar” in Arabic) that Muslim genealogists trace the descent of Mohammed from Ishmael.”
  3. Smith’s Bible Dictionary ikut menjelaskan :”Kedar (black). Second son of Ishmael (Gen. 25:13) … Mohammed traces his lineage to Abraham through the celebrated Koreish tribe, which sprang from Kedar. The Arabs in the Hejaz are called Beni Harb (men of war), and are Ishmaelites as of old, from their beginning. Palgrave says their language is as pure now as when the Koran was written (A.D. 610), having remained unchanged more than 1200 years; a fine proof of the permanency of Eastern Institutions.”

Tiada keraguan bahwa Muhammad saw adalah keturunan langsung dari nabi Ismail dan bukti ini tidak dapat dibantah sebagaimana bukti-bukti yang meyakinkan di bawah ini.

  1. Keturunan Qurays adalah suku dari Muhammad saw. Mereka percaya dan meyakini sebagai keturunan Ismail. Jika pengakuan ini salah maka keturunan asli nabi Ismail akan mengajukan keberatan, namun tidak ada kaum lain yang pernah menyatakan demikian. Dan tidak ada satu keberatan pun yang pernah muncul.
  2. Di dalam Kejadian 17:20-21 Allah menjanjikan untuk memberkati anak cucu nabi Ismail dan akan menjadikan suatu bangsa yang besar. Jika Orang-orang Arab bukan dari keturunannya, dimanakah bangsa yang besar itu?
  3. Menurut Kejadian 25: 18 keturunan nabi Ismail bertempat tinggal dari Havilah sampai Tsur yang berlawanan arah dengan Mesir. Dari petikan ini menandakan kepada bagian luar Jazirah Arabia. Bahkan Paulus mengakui bahwa Hajjar mempunyai hubungan dengan bangsa Arab. “Sekarang Hajjar adalah nama bukit Sinai di Arab”. (Galatia 4:25)

Nubuat Kenabian

Pembuktian bahwa Muhammad Rasulullah, sebagai keturunan Qaidar (Kedar) bin Nabi Ismail menjadi penting, dikarenakan di dalam beberapa ayat Bible, ada bernubuat tentang bakal munculnya seorang nabi, dari kalangan keturunan Qaidar (Kedar), diantaranya :

  1. Bahwasanya Nabi Muhammad akan Hijrah (dari Makkah), dan disambut penduduk kota yang didatanginya (Madinah).Yesaya, 21 : 13-17“Ucapan ilahi terhadap Arabia . Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah kafilah orang Dedan ! Hai penduduk tanah Tema , keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti! Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan. Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: “Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil saja, sebab Tuhan, Allah Israel, telah mengatakannya.”Dedan : adalah di Arabia bagian Utara. Negeri yang dekat dengan kota Madinah.
    Tema : adalah anak Ismail, yang menghuni di utara kota Madinah .
    Kedar : adalah anak Ismail.Nubuat kitab Yesaya sangat otentik karena sesuai historis dimana Yahweh (Allah Israel ) berfirman bahwa anak-anak Ismail di Arabia akan mendapat wahyu dari-Nya. Wahyu yang diterima Yesaya memerintahkan kepada orang-orang Tema supaya menghidangkan makanan dan minuman kepada orang-orang yang lari dari pedang. Nabi Muhammad dan umat Muslim kota Makkah hijrah pada tahun 1 Hijriah menuju kota Madinah dimana mereka mendapat sambutan meriah dari penduduk kota Madinah.
  2. Bahwasanya umat Islam memenangkan peperangan melawan orang kafir, satu tahun setelah hijrah.Yesaya, 21 : 16-17“Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah… dari Bani Kedar akan tinggal sejumlah kecil saja.”Nubuat Nabi Yesaya tersebut, telah digenapi oleh ALLAH dalam perang Badar : Dalam setahun lagi : tanggal 12 Robi’ul Awal tahun 1 Hijriyah umat Islam hijrah dari Makkah ke Madinah, dan setahun kemudian tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah umat Islam berhasil mengalahkan orang-orang kafir Makkah dalam peperangan Badar.Walaupun Kedar adalah salah satu dari Bani Ismael, namun sebagian dari mereka masih ada yang membangkang dengan ajaran Nabi Muhammad saat itu. Tapi setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) mereka semua (100%) menerima ajaran Nabi Muhammad SAW sampai detik ini, yaitu negara Arab Saudi (keturunan Kedar).
  3. Bahwasanya Bani Ismail akan menyanyikan Nyanyian Baru bagi TuhanYesaya, 42 : 10-12“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada Tuhann, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.”Nubuat Nabi Yesaya tersebut, telah digenapi oleh ALLAH kepada umat Islam :nyanyian baru bagi Tuhan : Takbir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Istighfar dan sebagainya.menyaringkan suara : umat Islam di berbagai negara, desa, kota, dan pulau, semuanya menyaringkan suara, untuk mengumandangkan Azan sebagai tanda waktu sholat.desa-desa yang didiami Kedar : nubuat ini hanya untuk orang Islam, karena Bani Kedar (keturunan Ismael) yang sekarang menjadi negara Arab Saudi penduduknya adalah 100% Islam.
  4. Bahwasanya akan pindahnya Bait ALLAH, dari Yerusalem ke kota MakkahYesaya, 60 : 5-14“Kelimpahan dari sebrang laut akan beralih kepadamu. Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu… segala kambing domba Kedar… dan Nebayot… untuk ibadahmu… Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku… orang-orang asing akan membangun tembokmu… mereka akan menyebut engkau kota Tuhan.”Nubuat Nabi Yesaya tersebut, telah digenapi oleh ALLAH kepada umat Islam :kelimpahan dari sebrang laut akan beralih kepadamu : umat Islam dari seberang lautan manapun telah mengunjungi Bait ALLAH di Makkah, dan tidak lagi di Yerusalem.segala kambing/domba…untuk ibadahmu : umat Islam mensucikan Bait ALLAH di Makkah dengan berqurban kambing.menyemarakkan rumah keagungan-Ku : umat Islam dari seluruh dunia menyemarak-kan Bait ALLAH di Makkah setiap musim haji. Dan juga setiap harinya untuk ibadah Umroh atau ibadah rutinitas.orang-orang asing akan membangun tembokmu : bukan lagi orang Israel yang membangun tembok Bait ALLAH, tapi orang yang dianggap asing oleh Israel , yaitu orang-orang keturunan Ismael (orang Arab/Kedar).kota Tuhan : itulah Makkah telah menjadi kota ALLAH, bukan lagi di Yerusalem.
  5. Bahwasanya umat Islam berqurban di Bait ALLAH, MakkahYesaya, 60 : 7“Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu, semuanya akan dipersembahkan di atas Mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku. Dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.”Nubuat Nabi Yesaya tersebut, telah digenapi oleh ALLAH kepada umat Islam :segala kambing domba Kedar : pada setiap hari raya haji/Idul Adha, berbondong-bondong umat Islam dari seluruh dunia untuk ibadah haji, dan salah satu ritualnya yaitu berqurban kambing dan domba.menyemarakkan rumah keagungan-Ku : Masjidil Haram, Ka’bah di Makkah selalu semarak ketika musim Haji.