Tag Archives: nusantara

[Misteri] Sri Maharaja Diraja, Raja Muslim Leluhur Masyarakat Minangkabau ?

Berdasarkan Tambo Alam Minangkabau, semasa pemerintahan Datuk Suri Diraja di Nagari Pariangan, datanglah Rusa Emas dari Lautan, rusa itu kemudian dapat dijerat oleh datuk.

Cerita ini sejatinya adalah kiasan dari datangnya seorang raja bermahkota dari Wangsa Syailendra, yang menyingkir ke Gunung Marapi.  Di Pariangan sang bangsawan ini dikawinkan dengan adik Datuk Suri Diraja dan kemudian dirajakan dengan gelar Sri Maharaja Diraja (sumber : Asal Muasal Pagaruyung).

minang1
Sri Maharaja Diraja, cucu Maharaja Sulan Bukit Siguntang Palembang

Dalam Hikayat Palembang, selepas Kedatuan Sriwijaya tepecah akibat serangan Kerajaan Chola tahun 1025 M, muncul Kerajaan Bukit Siguntang di wilayah Palimbang. Penguasa Bukit Siguntang dikenal dengan nama Maharaja Sulan (Raja Segentar Alam).

Maharaja Sulan diperkirakan memerintah pada sekitar tahun 1070an Masehi, dikemudian hari memeluk Islam atas upaya dakwah Puyang Sungai Ogan “Wali Putih”, sang Raja kemudian juga dikenali dengan nama Iskandar Zulqarnain Syah Alam (sumber : Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ? dan [Misteri] Naskah Matari Singa Jaya Himat, dan Penguasa Kuno Bukit Siguntang pasca runtuhnya Kedatuan Sriwijaya ?).

Maharaja Sulan memiliki 2 orang anak, bernama Raja Alim dan Raja Mufti. Sepeninggal Maharaja Sulan, putera beliau Raja Alim menggantikannya. Setelah beberapa lama memerintah, Raja Alim wafat, kerabat Istana kemudian mengangkat puteranya Raja Alim II sebagai penguasa.

Pengangkatan Raja Alim II ini mendapat protes dari pamannya Raja Mufti, karena dianggap tanpa melalui kesepakatan dalam musyawarah. Dalam upaya menghindari perang saudara Raja Alim II, bersama para pendukungnya hijrah ke pedalaman.

Keberadaan Raja Alim II inilah kemudian dicatat dalam Tambo Alam Minangkabau, sebagai Bangsawan dari Wangsa Syailendra, yang kemudian menurunkan para penguasa di negeri Minang.

Sri Maharaja Diraja, Leluhur Lareh Suku Piliang

Berdasarkan Ranji Tambo Alam Minangkabau, yang dibuat oleh Drs. Mid Jamal, Sri Maharaja Diraja memerintah Kerajaan Pariangan pada masa 1119-1149. Ia tercatat memiliki 3 orang istri, yaitu : Puti Indo Jelita, Puti Cinto Dunie dan Puti Sidayu.

Dari istrinya Puti Indo Jelito, Sri Maharaja Diraja memiliki putera Sutan Paduko (Datuk Ketumanggungan), yang kelak menurunkan 8 Suku dalam Lareh Suku Piliang (sumber : Tambo Alam Minangkabau).

stempelBerdasarkan Leiden University Library Cod.Or. 1745, hal. ii & iii, ditemukan stempel Datuk Ketumanggungan, yang menggunakan aksara arab-melayu (sumber : stempel minang). Disinyalir Datuk Ketumanggungan dan ayahnya Sri Maharaja Diraja telah beragama Islam, dan hal ini sangat wajar, mengingat kakek mereka Raja Sulan adalah seorang muslim dengan gelar “Iskandar Zulqarnain Syah Alam”.

palembang19b
WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Polemik] Asal Usul Nama Palembang ?
2. [Misteri] Harimau Tengkes, Penjaga Ghaib dari Negeri Siak ?
3. Hikayat Perang Candu di Tanah Minang pada abad ke-19 Masehi ?
4. [Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?

[Misteri] Naskah Matari Singa Jaya Himat, dan Penguasa Kuno Bukit Siguntang pasca runtuhnya Kedatuan Sriwijaya ?

Di dalam lampiran buku Perintis Sastera karya Dr. C. Hooykaas, terjemahan Raihoel Amar gl. Datoek Besar. J. B. Wolter, terdapat halaman khusus Prasasti (Naskah) Matari Singa Jaya Himat.

Naskah Matari Singa Jaya Himat, diperkirakan dibuat pasca runtuhnya Kedatuan Sriwijaya, sampai menjelang era Kerajaan Islam di Palembang. Naskah ini, tertulis pada lempeng tembaga, ber-aksara Rencong (Kaganga), menggunakan Bahasa Melayu dan ada pengaruh Bahasa Jawa.

prasastimatari1
Penguasa Kuno Negeri Palembang 

Pada Naskah Matari Singa Jaya Himat yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 sampai 15 Masehi, jelas-jelas menyebut nama Palimbang (Palembang), yang berada dalam pengaruh Ratu Bukit Sagutang (Bukit Siguntang).

bukitsiguntang1aIstilah Ratu Bukit Siguntang, merupakan gelar bagi Penguasa Palembang sebelum masa pemerintahan Adipati Ario Dillah (1440-1486), yang merupakan perwakilan Penguasa Majapahit.

palembang1c

Bahkan istilah ini, kemungkinan telah muncul tidak lama setelah Kedatuan Sriwijaya terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, selepas serangan Kerajaan Chola pada tahun 1025 M.

Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan Naskah Matari Singa Jaya Himat, merupakan salinan dari naskah yang jauh lebih tua.

Legenda Masyarakat Palembang

Berdasarkan Legenda Palembang, selepas masa Kedatuan Sriwijaya, Negeri Palembang dipimpin Raja Sulan Penguasa Bukit Siguntang. Raja Sulan memiliki 2 (dua) orang putera bernama Sultan Alim (Raja Alam) dan Sultan Mufti (Raja Mughni).

Sepeninggal Raja Sulan, Kerajaan Bukit Siguntang ini terpecah menjadi 2, yakni Bukit Siguntang (Pedalaman) yang dipimpin oleh keturunan Sultan Alim (Raja Alam), dan Bukit Siguntang (Pesisir) yang dipimpin oleh keturunan Sultan Mufti (Raja Murgni).

Dikemudian hari, Bukit Siguntang (Pedalaman), terpecah lagi menjadi Kerajaan Pagaruyung, Dharmasraya, Gasib (siak) dan Kerintang (Indragiri). Sementara Bukit Siguntang (Pesisir), berpindah pusat kerajaannya ke wilayah Lebar Daun, sehingga pemimpinnya dikenal sebagai Demang Lebar Daun.

Diperkirakan setelah 3 generasi berlalu, Bukit Siguntang Palembang kedatangan Sang Sapurba yang kelak merupakan leluhur raja-raja Melayu. Singkat cerita, Sang Sapurba menikah dengan Wan Sendari, puteri Demang Lebar Daun (III) (sumber : Legenda Bukit Siguntang dan ).

Isi Lengkap Naskah Matari Singa Jaya Himat

Berdasarkan sumber situs wacana.com, berikut transkrip lengkap Naskah Matari Singa Jaya Himat…
naskahmatari1a
WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Di dalam kitab Sejarah Melayu, berdasarkan tulisan Abdullah bin Abdulkadir al-Munsyi, diceritakan ketika Sang Suparba (Sapurba, Bitjitram Syah), tiba di Bukit Siguntang, daerah tersebut nyaris tak berpenghuni.

Sang Suparba akhirnya dapat bertemu dengan penguasa setempat Demang Lebar Daun, setelah Sang Demang mendapat laporan dari penduduk disekitar Bukit Siguntang yang bernama Wan Empuk dan Wan Malini (lihat Sejarah Melayu,  bait 2.5).

Dari kisah ini memperlihatkan di saat kedatangan Sang Suparba (diperkirakan pada akhir abad ke-13 Masehi), pusat pemerintahan telah berpindah dari Bukit Siguntang ke wilayah Lebar Daun.

Artikel Menarik :
1. [Polemik] Asal Usul Nama Palembang ?
2. Makna Lambang dan Semboyan, Kesultanan Palembang Darussalam
3. [Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?

Makna Lambang dan Semboyan, Kesultanan Palembang Darussalam

Kesultanan Palembang Darussalam merupakan Kerajaan Islam di Indonesia yang berlokasi di wilayah Sumatera Selatan. Kesultanan ini diproklamirkan oleh Sri Susuhunan Abdurrahman tahun 1659, sampai kemudian dihapuskan keberadaannya oleh Kolonial Belanda pada 7 Oktober 1823.

Kepemimpinan Kesultanan Palembang Darussalam :

sultanpalembang
Lambang dan Semboyan, Kesultanan Palembang Darussalam

kesultanan1

Berbentuk bulan atau perisai yang didalamnya tertulis QS. Al-Baqarah: 190-194.

Dibagian atas terdapat moto dengan kata-kata: “Qauluhu al-Haq wa kalamuhu ash-Shiddqu” (perkataan yang hak dan kalam yang benar, QS. Al-An’am: 73).

Ditengah-tengah terdapat bunga melati, merupakan bintang yang bersudut 12 (melambangkan tarikh Islam dan adab sopan santun serta kesucian).

Dibagian bawah terdapat 2 tombak nibung bersilang bertuliskan ayat QS. Al-Baqarah: 194 yang maknanya: “Maka barangsiapa memusuhi diatas kamu, maka balaslah permusuhan itu seimbang sebagaimana mestinya”.

Di antara tombak dan bintang terdapat 2 tangkai padi keemasan, yang melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran (Darussalam).

Sumber:
1. Kesultanan Palembang Darussalam
2. Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (Facebook)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Polemik] Asal Usul Nama Palembang ?
2. Tuan Faqih Jalaluddin, dan Misteri Silsilah Wali Songo ?
3. [Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?

[Polemik] Asal Usul Nama Palembang ?

Dalam masyarakat Palembang, ada Legenda yang mengatakan asal nama Palembang berasal dari nama seorang tokoh asal Tiongkok yang bernama Pai Li Bang.

Pai Li Bang sendiri dikisahkan murid Sunan Gunung Jati, yang pernah menjabat wali negeri Palembang, setelah masa Adipati Ario Damar (sumber : viva.co.id).

Namun cerita ini terbantahkan dengan ditemukannya Prasasti Matari Singa Jaya Himat. Prasasti ini merupakan prasasti tembaga yang ditemukan di Palembang, yang menggunakan aksara Kaganga (Rencong) dan berbahasa Melayu Kuno.

Prasasti Matari Singa Jaya Himat diperkirakan berasal dari masa abad ke-13 sampai 15 Masehi (sumber : wacana.com, Sastra Melayu).

aksara1

contoh aksara rencong (kaganga) atau surat ulu


Di dalam Prasasti Matari Singa Jaya Himat, jelas-jelas disebut nama Palimbang (Palembang) dan Bukit Sagutang (Bukit Siguntang)…

bukitsiguntang1aDan nama Palembang, juga terdapat di dalam Nagarakertagama karangan Prapanca pada tahun 1365. Di dalam Pupuh XIII (sumber : menguak tabir sejarah)…

palembang1a

Asal Nama Palembang

Berdasarkan buku “Sriwijaya”, tulisan Slamet Muljana, dikatakan asal nama Palembang berasal dari bahasa sangsekerta, yaitu Palimbang(a) yang bermakna tepi (Sumber : Sriwijaya). Mungkin dikarenakan posisi Kota Palembang yang berada ditepian Sungai Musi.

Pendapat lain, mengatakan nama Palembang berasal dari kata lembang, yang bermakna tanah yang berlekuk, tanah yang rendah, akar yang membengkak karena terendam lama di dalam air (sumber : terjemahkan dari R.J.Wilkinson dalam kamusnya ‘A Malay English Dictionary’ ). Sementara arti kata Pa atau Pe menunjukkan keadaan atau tempat.

Nampaknya pengertian Palembang menunjukkan tanah yang berair. Hal ini sangat sesuai dengan kenyataan. Berdasarkan data statistik tahun 1990, terdapat 52,24% tanah yang tergenang di kota Palembang. Dan Palembang setidaknya tercatat memiliki sebanyak 117 anak sungai yang mengalir di tengah kota (sumber : infokito).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Salinan Naskah tentang Matari Singa Jaya Himat pada lempeng tembaga yang ditemukan di Palembang. Aksara yang digunakan aksara Lebong kuno (Rencung), menggunakan Bahasa Melayu dan ada pengaruh Bahasa Jawa.

Diperkirakan berasal dari masa pra-Islam, barangkali akhir atau sesudah masa Majapahit.

Sumber : Lampiran buku Perintis Sastera oleh Dr. C. Hooykaas terjemahan Raihoel Amar gl. Datoek Besar. J. B. Wolter – Groningen – Djakarta (link).

prasastimatari1
Artikel Menarik :
1. Hikayat Perang Palembang – Banten, di tahun 1596 M ?
2. Tuan Faqih Jalaluddin, dan Misteri Silsilah Wali Songo ?
3. [Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?

Silsilah Dinasti Majapahit, menurut Sejarah Melayu ?

Dalam kitab Sejarah Melayu, berdasarkan tulisan Abdullah bin Abdulkadir al-Munsyi, terungkap Keluarga Kerajaan Majapahit, berasal dari anak keturunan Sang Suparba (Bitjitram Syah).

Sang Suparba (Sang Sapurba) diriwayatkan merupakan anak cucu Raja Iskandar Zulkarnain, nasabnya melalui Raja Nusirwan, yang juga ada kekerabatan dengan Raja Sulaiman ‘alaihi’s-salam.

Sebagaimana tertulis dalam bait 2.2 :

“… asal kami daripada anak cucu Raja Iskandar Zulqarnain, nisab kami daripada Raja Nusirwan raja masyrik dan maghrib, dan pancar kami daripada Raja Sulaiman ‘alaihi’s-salam… “

majapahit11
Dinasti Majapahit Keturunan Sang Suparba

Diceritakan, Sang Sapurba menikah dengan puteri Demang Lebar Daun, Bukit Siguntang Mahameru Palembang, yang bernama Wan Sendari,sebagaimana tertulis dalam bait 2.6 dan bait 2.11 :

“… dan akan raja Palembang yang bernama Demang Lebar Daun itu, ada beranak seorang perempuan terlalu baik parasnya, tiada berbanding parasnya pada zaman itu, Wan Sendari namanya (bait 2.6)”.

“… Telah berapa lamanya Sang Suparba duduk dengan Wan Sendari itu, maka bagindapun beranak empat orang, dua perempuan baik-baik parasnya, puteri Seri Dewi seorang namanya, seorang lagi puteri Cendera Dewi namanya; dua orang laki-laki, Sang Maniaka seorang namanya, seorang lagi Sang Nila Utama namanya (bait 2.11)”.

Pada kisah selanjutnya, diceritakan puteri Sang Suparba bernama Cendera Dewi menikah dengan Betara Majapahit, sebagaimana tertulis pada bait 2.18.

“… Adapun pada zaman itu ratu Majapahit itu raja besar, lagi amat bangsawan. Pada suatu cerita baginda itu daripada anak cucu Smara Ningrat. Setelah datang ke Tanjung Pura, maka sangat dipermulia oleh Sang Suparba, maka diambil baginda akan menantu, dikawinkan dengan tuan puteri Cendera Dewi…”.

Dari pernikahan antara Betara Majapahit dengan puteri Cendera Dewi, memiliki dua putera bernama Radin Inu Merta Wangsa dan Radin Mas Pamari.

“… Maka baginda beranak dengan anak raja Bukit Siguntang itu dua orang laki-laki, dan yang tua Radin Inu Merta Wangsa namanya, maka dirajakan baginda di Majapahit; dan yang muda Radin Mas Pamari namanya… (bait 5.1)”.

Sejarah Melayu mengisahkan Radin Inu Kerta Wangsa, pernah menyerang Singapura pada masa negeri itu dipimpin oleh Paduka Seri Pikrama Wira (Raja Kecil Besar), putera dari Sang Nila Utama anak dari Sang Suparba.

“… Maka betara Majapahitpun menitahkan hulubalangnya berlengkap perahu akan menyerang Singapura itu, seratus buah Jung; lain dari itu beberapa melangbing dan kelulus, jongkong, cerucuh, tongkang , tiada terhisabkan lagi banyaknya. Maka ditintahkan Betara Majapahit seorang hulubalang yang besar akan panglimanya, Demang Wiraja namanya (bait 5.4)”.

Siapakah Radin Inu Kerta Wangsa, yang disebut-sebut dalam Sejarah Melayu ?

Sejarah mencatat Kerajaan Singapura dibawah pemerintahan Paduka Seri Pikrama Wira (Wikrama Wira), pada periode 1347-1362. Pada masa pemerintahannya, terjadi penyerangan dari Kerajaan Majapahit tahun 1350, dimasa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) (sumber : Paduka Seri Wikrama Wira dan Prabu Hayam Wuruk).

Dengan demikian yang dimaksud Radin Inu Kerta Wangsa dalam Sejarah Melayu, tidak lain adalah Prabu Hayam Wuruk.

Kisah Sejarah Melayu ini berbeda dengan catatan Sejarawan yang mengatakan ibunda dari Prabu Hayam Wuruk adalah Tribhuwana Tunggadewi, puteri Raden Wijaya. Sementara berdasarkan Sejarah Melayu, ibunda dari Prabu Hayam Wuruk adalah Cendera Dewi (Chandra Dewi), puteri Sang Suparba.

majapahit1a

Referensi : 
1. Sri Wikramawardhana (Siwi Sang)
2. Silsilah Kesultanan Malaka (royalark.net)
3. Buku Sejarah Melayu, Edisi Abdullah bin Abdulkadir al-Munsyi tahun cetak 1952, Penerbit Jambatan

Catatan Penambahan : 

1. Berdasarkan Negarakretagama (ditulis tahun 1365 M), puteri Hayam Wuruk yang bernama Kusumawardhani sudah menikah dengan Bhre Mataram, Wikramawardhana (sumber : wikramawardhana). Hal ini berarti setidaknya Kusumawardani telah berumur 25 tahun, atau kelahiran sekitar tahun 1340 M.

Sementara dalam catatan kehidupan Hayam Wuruk ditulis, Prabu Hayam Wuruk lahir tahun 1334 M (sumber : Hayam Wuruk), secara normal bagaimana mungkin seseorang yang baru berusia 6 tahun, sudah menjadi seorang ayah.

Dengan demikian masa kelahiran Hayam Wuruk perlu diteliti kembali, sebab setidak beliau lahir sebelum tahun 1320 M. Dan data ini sekaligus memperkuat dugaan Hayam Wuruk bukan putera dari Tribhuwana Wijayatunggadewi, yang baru menikah dengan Kertawardhana, setelah Prabu Jayanegara wafat di tahun 1328 M.

2. Ada pendapat pernikahan Kusumawardhani adalah dijodohkan sejak kecil. Namun kita juga perlu tahu, di tahun 1365 M, Kusumawardhani telah menjadi Bhre Kabalan (sumber : wikramawardhana), yang tentunya bukan jabatan untuk seorang anak yang berusia dibawah 15 tahun.

[Misteri] Malik al-Hind, Raja Nusantara yang bertemu Rasulullah ?

Di dalam Kitab Mustadrak al-Hakim (kitab al-‘At’imah), Volume (bab). 4, page (halaman). 150, diriwayatkan ada seorang raja dari Hind yang datang bertemu dengan Rasulullah. Sebagaimana hadis dari Abu Sa’id Al Khudri ra, berikut ini…

“Seorang Malik al-Hind telah mengirimkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebuah tembikar yang berisi jahe.

Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi makan kepada sahabat– sahabatnya sepotong demi sepotong dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam-pun memberikan saya sepotong makanan dari dalam tembikar itu” (HR. Hakim, sumber hadis : India negeri unikquranandscience.com)

Dalam teks Arab (sumber : theislamshow.weebly.com dan quranandscience.com),  bisa dilihat pada keterangan berikut…

alhind1

“Then “Malik al-Hind” gave Allah’s Messenger (peace be upon him) a gift, a bottle of pickle that had ginger in it. The Holy Prophet distributed it among his Companions. I also received a piece of it to eat.”

atau versi lengkapnya (sumber :  freewebs.com)…

hind12
Beberapa versi sosok Malik al Hind

Di kalangan sejarawan Islam ada yang beranggapan, yang dimaksud Malik (Raja) al-Hind adalah Cheraman Perumal, yaitu seorang Raja dari Kerajaan Kodungallur (Kerala, India).

Setelah masuk Islam, Sang Raja tinggal beberapa lama di wilayah Jeddah, kemudian ia dikenal dengan nama menjadi Thajuddin. r.a (Abdullah Samudri r.a).

Ketika Sang Raja hendak pulang ke kerajaannya, beliau wafat di dalam perjalanan, saat berada di Salalah Oman (sumber : mohdiqbal).

Namun ada yang beranggapan, sosok Raja Cheraman Perumal tidak bertemu dengan Rasulullah. Hal ini dikarenakan, ketika ia datang, di saat pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra. dan Rasulullah telah wafat pada masa itu (siasatdaily).

nusantara1
Raja al-Hind berasal dari Nusantara?

Jika kita membuka lembaran sejarah, istilah “Malik al-Hind”, juga dipergunakan oleh Raja-Raja dari Nusantara. Hal ini bisa dilihat pada surat Raja Sriwijaya (sumber : jejakislam.net), yang dikirim kepada Khalifah Bani Umayyah.

surat-srwijaya

Dalam riwayat Raja al-Hind dikenal dengan nama Abdullah Samudri ra., nama ini mungkin ada kaitannya dengan Pulau Sumatera. Hal ini dikarenakan nama Sumatera, berasal dari kata “Samudera” (wikipedia).

Meng-identifikasikan sosok Malik al-Hind sebagai Raja dari Nusantara, memang perlu dikaji lagi lebih mendalam. Namun hipotesa ini bukan hal yang mustahil, mengingat hubungan perniagaan antara Nusantara (Asia Tenggara) dengan Jazirah Arab, sudah berlangsung sangat lama (katailmu.com).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Tulisan di artikel ini, merupakan revisi atas tulisan sebelumnya yang berjudul : 

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. Misteri 9 Sahabat Rasulullah, yang berdakwah di NUSANTARA?
3. Armada Laksamana Cheng Ho dan Sejarah Pempek Palembang ?
4. Aksi Bela Islam 1918, H.O.S Tjokroaminoto dan Tentara Kandjeng Nabi Moehammad

[Misteri] Bukti Kedatuan Sriwijaya di tahun 682 M, mencakup 62,28 % masyarakat Asia Tenggara ?

Pada tahun 2013, jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa, dengan  personil tentara (TNI) sebanyak 438.410, atau perbandingan antara jumlah tentara dengan penduduk 1 : 570 (sumber : merahputih.com, republika.co.id).

kedukanbukit001
Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit tahun 682 M, jumlah pasukan kerajaan Sriwijaya  mencapai 20.000 tentara (sumber : wikipedia.org). Dengan berdasarkan perbandingan tentara dengan jumlah penduduk [1 : 570], diperkirakan total rakyat Sriwijaya sekitar 11.400.000 jiwa.

Penduduk bumi pada tahun 600an masehi diperkirakan mencapai 208.000.000 jiwa. Jika penduduk nusantara (asia tenggara) ketika itu adalah 8,8 % dari total penduduk dunia, maka penduduk Asia Tenggara pada masa itu adalah 18.304.000 jiwa (sumber : wikipedia.org, penduduk asia tenggara).

Dengan berdasarkan data diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa Penduduk Kedatuan Sriwijaya di tahun 682 M, merupakan 62,28 % dari masyarakat di Asia Tenggara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Di beberapa negara, perbandingan tentara dengan jumlah penduduk agak lebih kecil dibandingkan Indonesia. Negara Amerika Serikat dengan jumlah penduduk 321.368.864 jiwa memiliki tentara sebanyak 1.400.000 personil atau 1 : 229,5, sedangkan Rusia jumlah penduduk 142.423.773 jiwa memiliki tentara sebanyak 766.055 personil atau 1 : 185,9 (sumber : military power).

Apabila dengan berpatokan kepada data personil militer Amerika Serikat, maka didapat jumlah rakyat Kedatuan Sriwijaya sekitar  4.590.000 jiwa atau 25% dari masyarakat Asia Tenggara ketika itu.

Dan apabila yang menjadi patokan adalah perbandingan tentara di negara Rusia, maka didapat jumlah rakyat Kedatuan Sriwijaya sekitar 3.718.000 jiwa atau 20,3% dari penduduk Asia Tenggara pada masa itu.

2. Pada tahun 1227, diperkirakan jumlah Pasukan Mongol mencapai 129.000 tentara dari sekitar 5.000.000 penduduknya atau 1 : 38,75 (sumber : History of The Mongols, Population of Mongolia).

Apabila berpatokan kepada data tentara pasukan mongol, maka didapat jumlah rakyat Kedatuan Sriwijaya sekitar 775.000 jiwa atau 4,23% dari rakyat yang bermukim di Asia Tenggara.

Artikel Menarik :
1. Bukti Kerajaan Sriwijaya wilayahnya mencapai Benua Afrika?
2. [Google Maps] Rute Balatentara Sriwijaya, tahun 604 Saka (682 M) ?
3. Berdirinya Kedatuan Sriwijaya, dampak Letusan Krakatau tahun 535M ?
4. Silsilah Dapunta Hyang Jayanasa (Pendiri Sriwijaya), berdasarkan Naskah Sunda Kuno?