Tag Archives: nusantara

[Misteri] Silsilah Sisingamangaraja XII dan Nilai Numerik (Gematria) Si Raja Batak ?

Berdasarkan buku Toba Na Sae karya Sitor Situmorang, diperoleh informasi Silsilah Sisingamangaraja XII, yang dimulai dari Si Raja Batak (Battak), adalah sebagai berikut :


Sisingamangaraja XII yang merupakan generasi ke-19 dari Si Raja Batak, dilahirkan di Bakkara (Tapanuli), pada 18 Februari 1848 (sumber : wikipedia.org, Lahirnya Sisingamangaraja I).

Dengan mengasumsikan jarak antara generasi 25 tahun, diperkirakan Si Raja Batak, lahir sekitar tahun 1395 Masehi.

Nilai Numerik (Gematria) Si Raja Batak

Berdasarkan Ensiklopedia Britannica makna “Batak” sebagai berikut:

Batak, also spelled Battak or Batta, several closely related ethnic groups of north-central Sumatra, Indonesia.

The term Batak is one of convenience, likely coined during precolonial times by indigenous outsiders (e.g., the Malay) and later adopted by Europeans.” (sumber : kompasiana.com)

Dari keterangan diatas, kata “Batak” ternyata juga diucapkan dengan kata “Battak”, yang apabila kita uraikan, akan memperoleh nilai numerik, sebagai berikut :


battak = ba (beta) ; ta (tau) ; ta (tau) ; kaf (kappa), yang berdasarkan perhitungan nilai numerik arab, hebrew dan yunani, akan menghasilkan :

ba = 2, ta = 400, ta = 400, kaf = 20, diperoleh 2 + 400 + 400 + 20 = 822

Nilai  Numerik dalam Masyarakat Timur Tengah, terkadang digunakan untuk menunjukkan tahun kejadian, oleh karenanya makna “Battak” bisa berarti tahun 822 Hijriyah atau 1419 Masehi (Sumber : miraclesofthequran.com, keseimbangan matematika, al-habib.info).

Dengan demikian ada kemungkinan peristiwa pengangkatan Si Raja Battak (Batak), menjadi penguasa di wilayah Sumatera Utara, terjadi pada tahun 822 Hijriyah (1419 Masehi), atau saat yang bersangkutan berusia sekitar 24 tahun.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Keajaiban dari Nilai Numerik 9 dalam Sejarah Nusantara ?
3. 
4. 

Catatan Penambahan :

1. Pada makam Tuan Syekh Rukunuddin, yang terdapat di pemakaman Mahligai, Kabupaten Tapanuli Tengah (Sumatera Utara), tertulis tahun ha-mim, yang bermakna ha = 8 dan mim = 40, sehingga makna ha-mim adalah 8 + 40 = 48 Hijriyah (Sumber : [Misteri] Bukit Ka’ba, Pusat Dakwah Islam di masa Kedatuan SRIWIJAYA ?).

2. Penggunaan tahun hijriyah di tanah Batak, juga bisa terlihat pada peninggalan Stempel Sisingamangaraja XII, yang menggunakan huruf Arab, bertulis Hijrah Nabi 1304 (Sumber : Misteri Stempel Sisingamangaraja XII).

Iklan

[Misteri] Simbolisasi Ma-liki, Ma-luku dan Ma-laka menuju Kejayaan Nusantara ?

Kearifan Leluhur Nusantara sungguh luar biasa. Pesan-pesan kebajikan, tidak hanya disampaikan lewat nasehat dan kata pepatah, melainkan juga melalui simbolisasi-simbolisasi yang memiki makna yang sangat mendalam.

Dalam upaya menuju kejayaan suatu bangsa, Leluhur Nusantara menyimbolkannya dalam 3 kata, yaitu Ma-liki (Pemerintahan), Ma-luku (Hasil Bumi) dan Ma-laka (Sarana Infrastruktur).


Makna Maliki, Maluku dan Malaka

Dalam diskusi Peradaban budaya dan Keislaman Nusantara, Pembicara Herman Sinung Janutomo menyampaikan bahwa ada 3 titik dalam kawasan Nusantara, yaitu malaka (disebelah barat), maluku (disebelah timur) dan maliki/hadiningat (disebelah selatan).

Ketiga titik ini, membentuk segitiga, dimana maliki yang berada di pulau jawa, menjadi landasan. Terhubungnya ketiga titik ini, menunjukkan adanya hubungan kekerabatan antara kerajaan Nusantara, di wilayah barat, timur dan selatan.

Simbolisasi MALIKI, MALUKU dan MALAKA, secara ringkas bisa dijabarkan sebagai berikut :

Ma-liki 
Merupakan simbol dari pemerintahan (kekuasaan). Syarat utama kejayaan suatu bangsa, mereka harus memiliki kedaulatan terbebas dari kolonialisme (pengaruh) bangsa asing.

Ma-liki juga dapat melambangkan kedaulatan hukum, dimana semua anak bangsa diperlakukan secara adil, tanpa membedakan antara mereka yang miskin dengan mereka yang berlimpah harta.

Ma-luku
Merupakan simbol dari hasil bumi. Satu bangsa akan meraih kejayaan apabila mereka merupakan bangsa yang produktif, bukan konsumtif.

Mereka adalah bangsa yang mandiri secara secara pangan, yang tidak tergantung dari hasil bumi bangsa lain.

Ma-laka 
Merupakan simbol dari sarana infrastruktur yang lengkap, serta profesionalisme dari pihak pengelolanya.

Perbuatan aparat pemerintahan yang bersifat koruptif harus diberantas sampai ke akar-akarnya, disokong juga para pejabat, yang memiliki sikap melayani bukan dilayani.

Dengan demikian, satu bangsa yang memiliki Maliki (Pemerintahan) yang berdaulat dan berkeadilan, didukung keberadaan Maluku (Hasil Bumi) yang melimpah serta dengan masyarakat yang produktif.

Dilengkapi juga Malaka (Sarana Insfrastruktur) yang lengkap disokong oleh profesionalisme pihak pengelolanya, insya ALLAH akan menumbuhkan satu bangsa yang Adil Makmur Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Keajaiban dari Nilai Numerik 9 dalam Sejarah Nusantara ?
3. 
4. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

[Misteri] Keajaiban Nilai Numerik 9 dalam Sejarah Nusantara ?

Di masa lalu, Bangsa Nusantara dikenal sebagai Bani JAWI. Dimana kata JAWI atau JAWA, berdasarkan perhitungan numerik arabic memiliki nilai 9, yakni jim = 3 dan waw = 6,  maka 3 + 6 = 9.

Nilai 9 sangat akrab dengan Sejarah Nusantara, perhatikan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti SRIWIJAYA dan MAJAPAHIT memiliki karakter huruf yang berjumlah 9.


Karakter berjumlah 9 huruf, juga terdapat pada kata NUSANTARA dan INDONESIA, serta landasan berbangsa masyarakat Indonesia, yakni PANCASILA.

Tokoh-tokoh Sejarah juga memiliki karakter 9 huruf seperti : GAJAH MADA, SILIWANGI dan BRAWIJAYA.

Ajaran Monotheisme Kuno Nusantara, yakni KAPITAYAN juga berkarakter 9 huruf, demikian juga dewan ulama yang berjasa dalam penyebaran Islam, yakni WALI SONGO (Wali Sembilan), juga terdapat 9 karakter huruf.

referensi :
1. miraclesofthequran.com
2. 
3. Post Hegemony XXIV: Jama’ah NU Kelanjutan Sistem Sosial Masyarakat Kuno Nusantara

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Kuil Hatshesut (dari masa 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).
3. 
4. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

[Misteri] Bukit Ka’ba, Pusat Dakwah Islam di masa Kedatuan SRIWIJAYA ?

Di  dalam Kitab Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah, diceritakan tentang kedatangan sahabat Rasulullah,  Akasyah bin Muhsin Al-Usdi radhiallahu anhu, di Kerajaan Sriwijaya. Legenda kemudian bercerita, munculnya Pusat Dakwah Islam di Bukit Ka’ba, yang saat ini berada dalam wilayah Kabupaten Rejang Lebong (Curup) Bengkulu.

Bukti arkeologis tentang telah adanya gerakan dakwah Islam di Pulau Sumatera pada abad pertama hijriyah, ditemukannya  Tuan Syekh Rukunuddin, yang wafat tahun 48 Hijiriah, di komplek pemakaman Mahligai, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Islam di Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan buku “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nsantara abad XVII & XVIII”, tulisan Prof. Dr. Azyumardi Azra MA, tercatat beberapa kali Raja Sriwijaya berkirim surat ke khalifah Islam di Syiria.

Dan pada salah satu naskah surat yang ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720M), Raja Sriwijaya bernama Sri Indravarman, mengajukan permintaan agar kholifah sudi mengirimkan da’i ke istana Sriwijaya.

Maraknya Dakwah Islam di Kedatuan Sriwijaya, sedikit terganggu selepas wafatnya Raja Sri Indravarman. Pengganti Sri Indravarman, tidak terlalu banyak memberi perhatian terhadap pekembangan Islam. Namun demikian, pengajaran Islam terus berlanjut, meski tanpa sokongan pihak berkuasa.

Legenda Bukit Kaba Sriwijaya, menceritakan pemimpin pusat dakwah di wilayah ini, disebut Si Pahit Lidah. Julukan Si Pahit Lidah ini, mungkin dikarenakan cara dakwah yang tegas, tidak segan-segan mengungkapkan satu ayat (kebenaran) meskipun dirasa pahit oleh pendengarnya.

Sebagai ulama penyebar Islam, sosok Si Pahit Lidah ini dipercaya memiliki karomah, bahkan beredar cerita, segala yang mereka ucapkan bisa menjadi kenyataan.

Selepas serangan Kerajaan Chola di tahun 1025 M, Kedatuan Sriwijaya mengalami perpecahan, salah satu pecahannya, kemudian mendirikan Keratuan Bukit Siguntang (Palembang). Salah satu penguasanya bernama Raja Segentar Alam masuk Islam dan berganti nama menjadi Iskandar Zulqarnain Alam Syah.

Atas prakarsa, Puyang Ogan “Wali Putih” yaitu ulama yang berhasil meng-islamkan Raja Segentar Alam, Pusat Dakwah Islam di Bukit Ka’ba dipindahkan ke Bukit Siguntang. Sejak masa itu, kepemimpinan “Si Pahit Lidah”, tidak saja sebagai panatagama (pemimpin agama) tetapi juga merangkap sebagai amir (kepala pemerintahan).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
1. Diskusi Facebook : Bukit Siguntang
2. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
3. Hadits Nabi, Negeri Samudra dan Palembang Darussalam
4. Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ?
5. Kerajaan Sriwijaya, Pelarian Politik dan Dakwah Para Sahabat Rasulullah di Nusantara ?

Catatan Penambahan : 

1. Kitab Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara) ditulis oleh Habib Bahruddin Azmatkhan, tahun 1929, selain itu ada beberapa buku lain yang menginfomasikan tentang kedatangan da’i di Kerajaan Sriwijaya, diantaranya Buku “Sejarah Islam Pertama Di Palembang”, tahun 1986 tulisan Pangeran Gajahnata, “Islam Pertama di Palembang”, tahun 1929 tulisan R.M. Akib dan ‘The Preaching of Islam”, tahun 1968 tulisan T. W. Arnold.

2. Pemerintahan Keratuan Bukit Siguntang, kemudian dikenali dengan istilah “7 ganti 9 gilir”, dan diperkirakan berakhir pada sekitar tahun 1478 M, seiring dengan berdirinya Kesultanan Islam Demak.

3. Hubungan kekerabatan Keratuan Bukit Siguntang

4. Ketika Kukang (Palembang), dibawah kendali kelompok Chen Tsu Ji (yang kemudian berhasil dihancurkan oleh armada Laksamana Cheng Ho tahun 1407).
Keratuan Bukit Siguntang kemungkinan berpindah ke wilayah Jambi, hal ini bisa diketahui dengan adanya legenda keberadaan Si Pahit Lidah sebelum masa Tun Telanai (utusan Sultan Mansyur Syah, memerintah Malaka 1458-1477).

5. Masyarakat lebih mengenal Gunung Kaba sebagai Bukit Ka’ba, terletak di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupuh Rejang Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu


(sumber foto : ksmtour.com).

6. Pada makam Tuan Syekh Rukunuddin, tertulis tahun ha-mim. Berdasarkan sistem nilai numerik bangsa arab, ha = 8 dan mim = 40, sehingga makna ha-mim adalah 8 + 40 = 48 Hijriyah.


(sumber : ).

Apakah makna dari bukit Kaba adalah perlambang huruf Kaf dan Ba ?

dimana Kaf = 20 dan Ba = 2, atau 20 + 2 = 22 Hijriyah, yakni bersamaan dengan masa Khalifah Umar ra. (13-23 H).

Dan yang menarik berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, “Perjalanan Suci (Siddhayatra)” Penguasa Sriwijaya Dapunta Hyang Jayanasa, dimulai pada 7 Jesta 604 Saka atau 19 Mei 682 Masehi atau bertepatan dengan Hari Jum’at, 6 Ramadhan 62 Hijriyah (berdasarkan perhitungan rukyat global)…

[Teori] “Genghis Khan’s Genetic” di Alam Melayu ?

Sejarah Melayu mencatat, salah satu leluhur Bangsa Melayu Sang Suparba memiliki dua orang paman, yaitu : Raja Hiran menjadi penguasa di benua Hindi dan Raja Pandin menjadi penguasa di benua Turkistan.

Berpedoman atas perkiraan kedatangan Sang Suparba di Bukit Siguntang, yang terjadi pada akhir abad ke-13 Masehi, maka satu-satunya kekuatan pada saat itu yang memiliki kekuasaan dari Hindi (India) sampai Turkistan (Asia Tengah) adalah anak keturunan Genghis Khan dari bangsa Mongolia.


Suku Genghis Khan dan Sang Suparba

Kehadiran Sang Suparba di Bukit Siguntang, diperkirakan terjadi pada sekitar tahun 1287 M. Sang Suparba dirajakan di negeri Palembang, setelah ia di angkat menantu oleh Demang Lebar Daun. Masa pemerintahan Sang Suparba berakhir seiring dengan kedatangan Pangeran Arya Damar (Adityawarman) di Palembang pada tahun 1308 M.

Dalam Sejarah Melayu diceritakan, salah seorang putri Sang Suparba bernama Puteri Seri Dewi menikah dengan Raja China dari Dinasti Yuan (Mongolia), diperkirakan Raja Cina itu adalah Kaisar Kulug Khan. Dari pernikahan ini lahir Kusala Khan, yang menjadi Kaisar Cina pada tahun 1329 M (sumber : [Misteri] Puteri Melayu, ibunda Kusala Khan (Kaisar Dinasti Yuan, memerintah tahun 1329) ?).


Dari sumber catatan negeri Cina, dikatakan ibunda dari Kaisar Kusala Khan, berasal dari Khunggirad clan, yang merupakan suku dari orang tua Genghis Khan, pendiri Dinasti Yuan (sumber : Khunggirad clan (wikipedia.org), Genghis Khan (wikipedia.org)).

Dengan menyelaraskan kedua sumber sejarah ini, muncul pertanyaan, apakah bisa dimaknai Sang Sapurba sejatinya adalah seorang Khongirad dari Bangsa Mongolia ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tentu harus melalui penelitian DNA, namun keberadaan “Genghis Khan’s Genetic” di Alam Melayu bukan sesuatu yang mustahil, mengingat berdasarkan hasil penelitian tahun 2003, diperoleh informasi 1 dari 200 laki-laki di dunia, memiliki Kode Y-DNA yang sama dengan Genghis Khan (sumber : 1 in 200 men direct descendants of Genghis Khan).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi : 
1. Kulug Khan (wikipedia.org)
2. Sejarah Melayu, terbitan dari Abdullah bin Abdulkadir Munsyi

Catatan Penambahan :

1. Menarik dengan istilah Amdan Negara, sebab kata “Amdan” dapat berarti Gubernur Bangsa Cina (sumber : The Asiatic journal and monthly register for British and foreign).


Ayahanda Sang Suparba adalah Raja Suran (di Amdan Negara). Raja Suran memperolehnya dari waris kakeknya (sebelah ibu), yang bernama Raja Sulan. Berdasarkan data tersebut, kemungkinan jalur kerabat mongolia Sang Suparba, berasal dari Raja Sulan (ayah dari neneknya).

2. Wilayah Kekaisaran Mongolia, sekitar tahun 1260 M

Pada peta di atas, daerah kekuasaan kekaisaran mongolia, yang membentang dari sungai indus (india) sampai kepada asia tengah, di bawah clan Il-Khan. Kemungkinan besar keluarga Sang Suparba berasal dari clan ini.

Berdasarkan data tersebut, kemungkinan yang dimaksud dengan Raja Sulan dalam Sejarah Melayu, adalah Tolui Khan (putra ke-4 Genghis Khan), yang merupakan ayahanda dari Hulagu Khan, pendiri Clan Il-Khan.

Artikel Sejarah Nusantara :
1.  
2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

[Teori] Asal Melayu Betawi dari Bukit Siguntang Palembang ?

Pada tahun 1308 M, Penguasa Bukit Siguntang Sang Suparba membagi kerajaannya menjadi dua bagian. Di bagian Hilir ia serahkan kepada paman istrinya, sementara disebelah Hulu ia amanatkan kepada anak angkatnya Putri Junjung Buih.

Tidak lama selepas serah terima pemerintahan, Sang Sapurba beserta ribuan tentaranya berlayar meninggal Bukit Siguntang. Kepergiannya adalah untuk memenuhi undangan sahabatnya Raja Tanjung Pura, yang sedang mendapat ancaman dari gerombolan perompak.

Pemukiman Melayu di Tanah Jawa

Sesampai rombongan di kuala Palembang, mereka berbelok ke arah selatan menuju pulau Jawa. Setelah berhari-hari berlayar, sampailah mereka di Kerajaan Tanjung Pura yang berada di pinggir sungai Citarum.

Kedatangan sahabat beserta ribuan tentaranya ini, disambut suka cita oleh Raja Tanjung Pura. Setidaknya beban menjaga keamanan Pelabuhan Kalapa, akan berkurang berkat bantuan rombongan pasukan dari Bukit Siguntang.

Untuk mempererat tali silaturahim, Raja Tanjung Pura menikahkan putranya bernama Cakradhara dengan putri Sang Suparba yang bernama Putri Cendera Dewi. Sementara adik perempuan Cakradhara, menikah dengan anak laki-laki Sang Suparba yang bernama Sang Maniaka.

Di kemudian hari, Sang Maniaka akan menggantikan mertuanya sebagai Raja Tanjung Pura, sementara Cakradhara akan diangkat menjadi Batara Majapahit, mendampingi istrinya yang lain, yang bernama Ratu Tribhuwana Tunggadewi, puteri Raden Wijaya (Sumber : Fakta Sejarah Tanjung Pura (Majapahit) bukan di KalimantanMisteri Prabu Hayam Wuruk, menurut Sejarah Melayu).

Awal Mula Melayu Betawi

Rombongan dari Bukit Siguntang, sebagian ada yang melanjutkan perjalanan bersama Sang Suparba, sebagian lagi tetap berdiam di Tanjung Pura. Pasukan Melayu Palembang yang tinggal di Tanjung Pura inilah yang menjadi Cikal Bakal Suku Melayu Betawi.

Daerah Tanjung Pura pada saat ini termasuk di dalam Kabupaten Karawang. Di wilayah ini terdapat kelenteng tertua, serta merupakan lokasi Pesantren yang didirikan oleh Syekh Quro (Syekh Hasanuddin bin Syekh Yusuf Siddiq).

Menurut Sejarawan Betawi Ridwan Saidi, Karawang dulunya terdapat daerah yang suci dan tertutup, dibuktikan dengan ditemukannya Kompleks Bangunan di Candi Batu Jaya. Dari sinilah muncul istilah Pitawi yang dalam bahasa melayu kuno berarti larangan, dan lama kelamaan menjadi Betawi, yang ditujukan kepada Kaum Melayu yang tinggal di Karawang dan sekitarnya.

Masyarakat Betawi kemudian menyebar di sekitar aliran  sungai Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi dan Citarum. Dan saat ini mereka banyak bertempat tinggal di wilayah DKI Jakarta, Bekasi, Karawang, Depok, Bogor dan Tanggerang.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
1. Suku Betawi
2. Asal Muasal Betawi
3. Tanjung Pura Karawang
4. Candi Batujaya Karawang
5. 30 Tempat Wisata Karawang
6. Buku Sejarah Melayu, Edisi Abdullah bin Abdulkadir al-Munsyi tahun cetak 1952, Penerbit Jambatan

Catatan Penambahan :

1. Dalam Sejarah Melayu, kehadiran Cakradhara di Tanjung Pura sebagai tamu negara, jadi bukan karena yang bersangkutan merupakan kerabat Kerajaan Tanjung Pura.

Adapun Ratu Majapahit yang menikah dengan anak raja Tanjung Pura adalah Ratu Suhita, dan dari perkawinan tersebut melahirkan Radin Galuh Chandra Kirana, yang setelah dewasa menjadi permaisuri Sultan Mansyur Syah (Malaka).

(Lihat… [Misteri] Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?)

2. Pelayaran yang dilakukan Sang Suparba yang bermula dari Tanjung Pura Karawang (Pelabuhan Kalapa), kemudian berlanjut ke Pulau Bintan (Selat Malaka), dari sisi geopolitik adalah untuk menguasai jalur-jalur strategis perdagangan pada masa itu.

3. Berdasarkan silsilah Tabanan (Babad Arya Kenceng), Raden Cakradhara adalah anak dari Adwaya Brahman Shri Tinuheng Pura, sedangkan ibunya bernama Dara Jingga, yang merupakan putri Kerajaan Dharmasraya, dan juga kakak kandung Dara Petak istri Raden Wijaya.

Hubungan kekerabatan antara Adwaya Brahman, dengan Sang Suparba, bisa dilihat pada perkawinan dari anak-anak mereka :

a.  Raden Cakradhara (putra Adwaya Brahman), menikah dengan Cendera Dewi putri Sang Suparba. Raden Cakradhara dikemudian hari diangkat menjadi Batara Majapahit, memerintah bersama istrinya yang lain, bernama  Tribhuwana Tunggadewi, puteri Raden Wijaya.

b. Raden Adityawarman atau Pangeran Arya Damar (putra Adwaya Brahman), menikah dengan putri angkat Sang Suparba, yang bernama Putri Junjung Buih (Putri Ciu Chen), dan menjadi Penguasa di Keratuan Bukit Siguntang Palembang.

c. Putri Tanjung Pura (putri Adwaya Brahman), menjadi istri dari Sang Maniaka (Sang Mutiara) anak Sang Suparba. Di kemudian hari, Sang Maniaka (Sang Mutiara) akan menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Raja Tanjung Pura.

anak-anak dari Adwaya Brahman yang lainnya adalah : Arya Kenceng, Arya Kuta Wandira, Arya Sentong dan Arya Belog (Arya Tan Wikan)

(sumber : Silsilah Tabanan, Babad Arya Kenceng,  [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?, Dara Jingga (wikipedia.org)).

Artikel Sejarah Nusantara :
1. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. Misteri Raden Fattah, dalam pusaran konflik menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit ?
4. [Misteri] Puteri Melayu, ibunda Kusala Khan (Kaisar Dinasti Yuan, memerintah tahun 1329) ?

[Fakta Sejarah] Tanjung Pura (Majapahit), bukan Kerajaan Tanjung Pura (Kalimantan) ?

Sebagai bukti Kebesaran Majapahit, Pemerhati Sejarah sering kali mencontohkan, pengaruh kekuasaan Majapahit atas wilayah Tanjung Pura di Kalimantan.

Namun anehnya, bersumber kepada sejarah lokal Tanjung Pura (Kalimantan), Majapahit baru mampu menguasai wilayah tersebut sekitar tahun 1385 M, dan berlangsung tidak lama seiring semakin bersinarnya Kerajaan Demak.


Tanjung Pura dalam Sejarah Melayu

Dalam Sejarah Melayu dikisahkan, ketika rombongan Sang Suparba mau menuju Tanjung Pura, selepas kuala Palembang mereka berbelok ke arah Selatan. Seandainya Tanjung Pura [asal daerah Cakradhara, suami Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi (memerintah Majapahit, 1328-1351)] berada di Kalimantan, tentu Sang Sapurba akan terus ke timur, bukan malah belok ke arah Selatan.

Dengan demikian, Tanjung Pura (Kalimantan) yang tertera dalam Sumpah Palapa Patih Gajah Mada, pada era Hayam Wuruk (memerintah Majapahit, 1350-1389), bukanlah Tanjung Pura, tempat Cakradhara dilahirkan. Dikarenakan sampai tahun 1350, wilayah Tanjung Pura (Kalimantan) masih merupakan kerajaan yang merdeka.

Apabila kita selusuri Sejarah Majaphit, selepas pemerintahan Raden Wijaya dan Prabu Jayanagara, kendali kekuasaan pemerintahan Majapahit dipegang oleh anak keturunan Cakradhara (Kertawardhana) yang berasal dari Tanjung Pura. Namun yang mengherankan sosok Cakradhara tidak ditemukan dalam hikayat lokal Tanjung Pura (Kalimantan).

Selain Cakradhara, sosok penting lainnya isteri Rajasawardhana yakni Bhre Tanjung Pura Manggalawardhani dyah Suragharini, tidak juga ada dalam cerita tutur masyarakat Tanjung Pura (Kalimantan).

Dari fakta sejarah di atas, bisa disimpulkan Tanjung Pura yang merupakan “kampung” Cakradhara, ayahanda Prabu Hayam Wuruk tidak berada di Kalimantan. Dengan berpedoman kepada rute perjalanan Sang Suparba di dalam Sejarah Melayu, lokasi Tanjung Pura kemungkinan berada di sekitar Selat Sunda

(Sambungan… [Teori] Asal Melayu Betawi dari Bukit Siguntang Palembang ?).

Referensi :
1. Pasak Negeri Kapuas
2. Sulalatus Salatin (wikipedia.org)
3. Sejarah Melayu, terbitan dari Abdullah bin Abdulkadir Munsyi

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan penambahan :

1. Di dalam Sejarah Melayu, perjalanan Sang Suparba ke Tanjung Pura dikisahkan sebagai berikut  :

“Setelah keluar dari kuala Palembang, lalu berlayar menuju Selatan enam hari enam malam, jatuh ke Tanjung Pura. Maka raja Tanjung Purapun keluar me-ngalu-alukan baginda dengan serba kebesaran dan kemuliaan.. ” (bait 2.18)

2. Berdasarkan silsilah Tabanan, Cakradhara adalah anak dari Adwaya Brahman Shri Tinuheng Pura, sedangkan ibunya bernama Dara Jingga putri Kerajaan Dharmasraya, yang juga kakak kandung Dara Petak istri Raden Wijaya.

Jalinan kekerabatan antara Adwaya Brahman, dengan Sang Suparba, bisa dilihat pada perkawinan dari anak-anak mereka :

a.  Raden Cakradhara (putra Adwaya Brahman), menikah dengan putri Cendera Dewi anak Sang Suparba. Raden Cakradhara kelak akan diangkat menjadi Batara Majapahit, memerintah bersama istrinya yang lain, bernama Ratu Tribhuwana Tunggadewi, puteri Raden Wijaya.

b. Raden Adityawarman atau Pangeran Arya Damar (putra Adwaya Brahman), menikah dengan anak angkat Sang Suparba, yang bernama Putri Junjung Buih (Ciu Chen), dan menjadi Penguasa di Keratuan Bukit Siguntang Palembang.

c. Putri Tanjung Pura (putri Adwaya Brahman), menjadi istri Sang Maniaka (Sang Mutiara) anak Sang Suparba. Di kemudian hari, Sang Maniaka akan menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Raja Tanjung Pura.

Anak Adwaya Brahman yang lainnya adalah : Arya Kenceng, Arya Kuta Wandira, Arya Sentong dan Arya Belog (Arya Tan Wikan)

(sumber : Silsilah Tabanan,  [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?, Dara Jingga (wikipedia.org), Babad Arya Kenceng).

3. Dalam Sejarah Melayu, Cakradhara diceritakan bukan kerabat Kerajaan Tanjung Pura. Kehadiran Cakradhara di Tanjung Pura adalah sebagai tamu negara, untuk bertemu dengan raja dari Bukit Siguntang.

Adapun Ratu Majapahit yang menikah dengan anak raja Tanjung Pura adalah Ratu Suhita (Tuan Putri Wi Kusuma), dan kelak dari perkawinan tersebut melahirkan Radin Galuh Chandra Kirana, yang dikemudian hari menjadi permaisuri Sultan Mansyur Syah (Malaka).

(Lihat… [Misteri] Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?)

Artikel Sejarah Nusantara :
1.
2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Puteri Melayu, ibunda Kusala Khan (Kaisar Dinasti Yuan, memerintah tahun 1329) ?