Tag Archives: nusantara

[Misteri] asal muasal Bangsa Jawa, menurut Legenda dan Catatan Sejarah ?

Berdasarkan tulisan Agus Sunyoto, dalam bukunya “Suluk Abdul Jalil”, selepas Bencana di era Nabi Nuh, wilayah Kendhang (Jawa) kedatangan tiga ratus orang pengungsi yang dipimpin Dang Hyang Semar.

Awalnya kedatangan rombongan Dang Hyang Semar ini, ditolak oleh makhluk-makhluk astral yang sebelumnya telah bertempat tinggal di wilayah itu. Namun berkat kegigihan Dang Hyang Semar, akhirnya bangsa manusia bisa berdamai dengan makhluk dunia ghaib.

mahabharata8
Sundaland dan Bangsa Arya India

Pada sekitar tahun 9600 SM, yakni pada masa berakhirnya zaman es, jazirah Sundaland yang berada di sebelah utara Kendhang, tenggelam. Sebagian penduduk Sundaland, kemudian hijrah ke wilayah Kendhang.

Interaksi antara Penduduk Sundaland, dengan anak keturunan pengikut Dang Hyang Semar, kelak menjadi asal muasal leluhur Bangsa Jawa.

Di dalam kisah mahabharata, di tanah Jawa terdapat Kerajaan Pringgadani, yang lokasinya di sebelah timur Kekaisaran Kuru, setelah melewati negeri gajah Pragjyotisha.

Dari Kerajaan Pringgadani ini, kelak akan muncul sosok Pahlawan Mahabharata, yang merupakan putera dari Bima yakni Raden Gatotkaca,

Diperkirakan pada sekitar 5000 tahun yang silam (sekitar 3000 SM), selepas Perang Mahabharata, Pulau Jawa kedatangan bangsa Arya dari India. Kehadiran Bangsa Arya ini, tercatat di dalam silsilah raja-raja Jawa dan Sunda, yang tertulis sebagai keturunan cucu Arjuna, yang bernama Prabu Parikesit.

Menurut catatan sejarah, pada sekitar tahun 2500-1500 SM, Nusantara kedatangan gelombang pendatang dari ras mongoloid serta tahun 300 SM kedatangan pendatang dari Asia Selatan dan Asia Tengah. Kelompok migrasi inilah, yang kemudian mewarnai peradaban di pulau Jawa, mereka berinteraksi dengan penduduk lokal dan membentuk bangsa yang baru.

Bangsa yang baru ini, dikalangan sejarawan dikenali sebagai Bangsa Proto Melayu dan Deutero Melayu, yang saat ini merupakan mayoritas penduduk Jawa pada khususnya dan masyarakat Nusantara (Asia Tenggara) pada umumnya.

Sumber :
1. Tanah Punt, Sundaland, dalam Legenda Leluhur Bangsa Nusantara?
2. Agus Sunyoto : Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar
3. 
4. 

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara :
1. Teori Migrasi Manusia, menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Kuil Hatshesut (dari masa 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).
3. 4. Misteri “Tiang Rumah Kuno” yang berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

Iklan

[Misteri] Jejak Arkeologis Saudagar Nusantara, dari masa 1700 Sebelum Masehi ?

Seorang arkeolog senior dari University of California-Los Angeles (UCLA), Prof. Giorgio Buccellati,  terkagum-kagum dengan sebuah temuan dari sebuah porselen cekung, yang di atasnya terdapat fosil sisa-sisa tumbuhan cengkeh.

cloves1
Buccellati pada saat itu tengah melakukan penggalian di atas tanah bekas rumah seorang pedagang yang berasal dari masa 1.700 SM di Terqa, Eufrat Tengah (Syria).

Sebagai pakar, Buccelatti mengetahui jika Cengkeh pada masa itu, hanya bisa hidup di satu tempat di muka bumi, yakni di Kepulauan Maluku. Temuan ini mengindikasikan adanya jalur perniagaan rempah-rempah Cengkeh bangsa Nusantara hingga sampai ke jazirah Arabia, di-era Para Fir’aun Mesir masih berkuasa.

terqa1
Temuan arkeologis tersebut membuktikan, para saudagar berserta pelaut-pelaut Nusantara telah melanglang buana menyeberangi samudera dan menjalin hubungan dengan warga dunia lainnya.

Penemuan Unik di Pulau Timor

Sejarawan Robert Dick-Read di dalam bukunya “Penjelajah Bahari: pengaruh peradaban Nusantara di Afrika”, menulis di Pulau Timor, yang lokasinya tidak berjauhan dari Kepulauan Maluku, para arkeolog Inggris menemukan sisa-sisa biri-biri atau kambing di pemukiman yang diperkirakan berasal dari masa 1500 SM.

Secara umum, ahli sejarah meyakini, bahwa peternakan biri-biri atau kambing
pertama kali diternakan di Timur Tengah. Keberadaan hewan ternak ini, semakin memperkuat adanya jalur perdagangan antara Nusantara dengan masyarakat timur tengah di masa 2000 – 1500 SM (sumber : Penjelajah Bahari, Terqa (Tell Ashara) with genetic links to Meluhha, 4000 Years of Migration and Cultural Exchange dan Kisah Queen Amuhia).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara :
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Kuil Hatshesut (dari masa 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).
3. 4. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

[Misteri] Legenda Sriwijaya Pasemah, berdasarkan manuskrip Ahmad Ghozali ?

Ahmad Ghozali Mengkerin, merupakan penulis angkatan Balai Pustaka, salah satu karya tulisnya yang terkenal adalah Syair Si Pahit Lidah.

Berkenaan sejarah Sriwijaya, Ahmad Ghozali memiliki pendapat tersendiri, yang bersumber dari satu manuskrip yang disimpan oleh keluarganya. Dokumentasi pribadi ini, diberinya judul “Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah”.

Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah

Pada tahun 101 Saka (bertepatan tahun 179 Masehi), berlabuhlah 7 (tujuh) bahtera (jung) di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang adalah Bukit Siguntang yang sekarang, dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang.

Adapun Angkatan Bahtera tersebut dipimpin oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, putra mahkota Kerajaan Rau (Rao) di India. Tujuan perjalanan adalah menyelidiki pulau-pulau di Nusantara, sekaligus mencari Panglima Angkatan Laut Kerajaan Rau bernama Seri Nuruddin, yang menghilang ketika melakukan perjalanan ke Nusantara, pada 70 tahun yang lalu.

Di Bukit Siguntang, Atung Bungsu menemukan satu bumbung berisi lempengan emas bersurat. Isi Lempengan emas bersurat ini, menceritakan keadaan Seri Nuruddin yang mengalami kerusakan pada segala perlengkapannya, yang berakibat dirinya tidak bisa pulang.

Setelah penemuan surat pertama, Atung Bungsu menemukan surat yang kedua, yang ditulis oleh Anak Buah Kapal Seri Nuruddin, yang menceritakan telah wafatnya  Yang Mulia Seri Nuruddin di Muara Lematang.

Singkat cerita,  Atung Bungsu memutuskan untuk menetap sementara di Bukit Seguntang, sambil mencari wilayah mana yang paling tepat untuk mendirikan pemukiman.

Setelah lama mencari, rombongan Atung Bungsu akhirnya memilih daerah disekitar Sungai Besemah. Di daerah ini, Atung Bungsu kemudian membuat dusun-dusun, dan memberi sebutan bagi wilayahnya sebagai “Sumbay Paku Jagat Seriwijaya” (sumber : Manuskrip Ahmad Ghozali, Bukit Selero Lahat).

kushan1
Rau adalah Kushans

Bila kita membuka lembaran sejarah, sekitar tahun 80M-200M, di India terdapat Kerajaan yang terkemuka yang bernama Kushans. Kuat dugaan Kerajaan Kushans indentik dengan Kerajaan Rau, yang menjadi tempat asal dari Atung Bungsu.

Pendapat ini setidaknya didukung 3 (tiga) alasan, yaitu :

– Penguasa Kushans memiliki kepercayaan yang sama dengan Penguasa Sriwijaya Awal, yaitu penganut agama Buddha Mahayana.

– Penguasa Kushans, pada masa 80M-200M merupakan keturunan Kaisar Liu Pang (Dinasti Han). Dan apabila kita perhatikan anak cucu Atung Bungsu, di daerah tanah Basemah (Pasemah), seperti di Pagar Alam, Empat Lawang dan Lahat, memiliki perawakan mirip Bangsa Tionghoa (China).

– Penguasa Kushans memiliki kekerabatan dengan anak keturunan dari Wema Kadphises, yang silsilahnya menyambung kepada Cyrus II ‘The Great’ of Persia atau Zulqarnain. Dan sudah sama dipahami, nama “Zulqarnain” sering kali disebut-sebut sebagai salah seorang leluhur Masyarakat Melayu (sumber : Leluhur Penguasa Sriwijaya, ).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Pemukiman di wilayah Besemah yang didirikan Atung Bungsu, diperkirakan menjadi cikal bakal Kerajaan Swarnabhumi, sebagaimana dikisahkan dalam naskah Sunda Kuno, “Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa” (sumber : ).

Artikel Menarik :
1. Silsilah Dinasti Majapahit, menurut Sejarah Melayu ?
2. Bukti Kerajaan Sriwijaya wilayahnya mencapai Benua Afrika?
3. [Google Maps] Rute Balatentara Sriwijaya, tahun 604 Saka (682 M) ?
4. Berdirinya Kedatuan Sriwijaya, dampak Letusan Krakatau tahun 535M ?

[Misteri] Sri Maharaja Diraja, Raja Muslim Leluhur Masyarakat Minangkabau ?

Berdasarkan Tambo Alam Minangkabau, semasa pemerintahan Datuk Suri Diraja di Nagari Pariangan, datanglah Rusa Emas dari Lautan, rusa itu kemudian dapat dijerat oleh datuk.

Cerita ini sejatinya adalah kiasan dari datangnya seorang raja bermahkota dari Wangsa Syailendra, yang menyingkir ke Gunung Marapi.  Di Pariangan sang bangsawan ini dikawinkan dengan adik Datuk Suri Diraja dan kemudian dirajakan dengan gelar Sri Maharaja Diraja (sumber : Asal Muasal Pagaruyung).

minang1
Sri Maharaja Diraja, cucu Maharaja Sulan Bukit Siguntang Palembang

Dalam Hikayat Palembang, selepas Kedatuan Sriwijaya tepecah akibat serangan Kerajaan Chola tahun 1025 M, muncul Kerajaan Bukit Siguntang di wilayah Palimbang. Penguasa Bukit Siguntang dikenal dengan nama Maharaja Sulan (Raja Segentar Alam).

Maharaja Sulan diperkirakan memerintah pada sekitar tahun 1070an Masehi, dikemudian hari memeluk Islam atas upaya dakwah Puyang Sungai Ogan “Wali Putih”, sang Raja kemudian juga dikenali dengan nama Iskandar Zulqarnain Syah Alam (sumber : Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ? dan [Misteri] Naskah Matari Singa Jaya Himat, dan Penguasa Kuno Bukit Siguntang pasca runtuhnya Kedatuan Sriwijaya ?).

Maharaja Sulan memiliki 2 orang anak, bernama Raja Alim dan Raja Mufti. Sepeninggal Maharaja Sulan, putera beliau Raja Alim menggantikannya. Setelah beberapa lama memerintah, Raja Alim wafat, kerabat Istana kemudian mengangkat puteranya Raja Alim II sebagai penguasa.

Pengangkatan Raja Alim II ini mendapat protes dari pamannya Raja Mufti, karena dianggap tanpa melalui kesepakatan dalam musyawarah. Dalam upaya menghindari perang saudara Raja Alim II, bersama para pendukungnya hijrah ke pedalaman.

Keberadaan Raja Alim II inilah kemudian dicatat dalam Tambo Alam Minangkabau, sebagai Bangsawan dari Wangsa Syailendra, yang kemudian menurunkan para penguasa di negeri Minang.

Sri Maharaja Diraja, Leluhur Lareh Suku Piliang

Berdasarkan Ranji Tambo Alam Minangkabau, yang dibuat oleh Drs. Mid Jamal, Sri Maharaja Diraja memerintah Kerajaan Pariangan pada masa 1119-1149. Ia tercatat memiliki 3 orang istri, yaitu : Puti Indo Jelita, Puti Cinto Dunie dan Puti Sidayu.

Dari istrinya Puti Indo Jelito, Sri Maharaja Diraja memiliki putera Sutan Paduko (Datuk Ketumanggungan), yang kelak menurunkan 8 Suku dalam Lareh Suku Piliang (sumber : Tambo Alam Minangkabau).

stempelBerdasarkan Leiden University Library Cod.Or. 1745, hal. ii & iii, ditemukan stempel Datuk Ketumanggungan, yang menggunakan aksara arab-melayu (sumber : stempel minang). Disinyalir Datuk Ketumanggungan dan ayahnya Sri Maharaja Diraja telah beragama Islam, dan hal ini sangat wajar, mengingat kakek mereka Raja Sulan adalah seorang muslim dengan gelar “Iskandar Zulqarnain Syah Alam”.

palembang19b
WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Diagram Time Line, dengan pedoman kepada susunan silsilah, yang dibuat oleh Drs Mid Jamal (Link) :

timelinedata1
Artikel Menarik :
1. [Polemik] Asal Usul Nama Palembang ?
2. [Misteri] Harimau Tengkes, Penjaga Ghaib dari Negeri Siak ?
3. Hikayat Perang Candu di Tanah Minang pada abad ke-19 Masehi ?
4. [Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?

[Misteri] Naskah Matari Singa Jaya Himat, dan Penguasa Kuno Bukit Siguntang pasca runtuhnya Kedatuan Sriwijaya ?

Di dalam lampiran buku Perintis Sastera karya Dr. C. Hooykaas, terjemahan Raihoel Amar gl. Datoek Besar. J. B. Wolter, terdapat halaman khusus Prasasti (Naskah) Matari Singa Jaya Himat.

Naskah Matari Singa Jaya Himat, diperkirakan dibuat pasca runtuhnya Kedatuan Sriwijaya, sampai menjelang era Kerajaan Islam di Palembang. Naskah ini, tertulis pada lempeng tembaga, ber-aksara Rencong (Kaganga), menggunakan Bahasa Melayu dan ada pengaruh Bahasa Jawa.

prasastimatari1
Penguasa Kuno Negeri Palembang 

Pada Naskah Matari Singa Jaya Himat yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 sampai 15 Masehi, jelas-jelas menyebut nama Palimbang (Palembang), yang berada dalam pengaruh Ratu Bukit Sagutang (Bukit Siguntang).

bukitsiguntang1aIstilah Ratu Bukit Siguntang, merupakan gelar bagi Penguasa Palembang sebelum masa pemerintahan Adipati Ario Dillah (1440-1486), yang merupakan perwakilan Penguasa Majapahit.

palembang1c

Bahkan istilah ini, kemungkinan telah muncul tidak lama setelah Kedatuan Sriwijaya terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, selepas serangan Kerajaan Chola pada tahun 1025 M.

Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan Naskah Matari Singa Jaya Himat, merupakan salinan dari naskah yang jauh lebih tua.

Legenda Masyarakat Palembang

Berdasarkan Legenda Palembang, selepas masa Kedatuan Sriwijaya, Negeri Palembang dipimpin Raja Sulan Penguasa Bukit Siguntang. Raja Sulan memiliki 2 (dua) orang putera bernama Sultan Alim (Raja Alam) dan Sultan Mufti (Raja Mughni).

Sepeninggal Raja Sulan, Kerajaan Bukit Siguntang ini terpecah menjadi 2, yakni Bukit Siguntang (Pedalaman) yang dipimpin oleh keturunan Sultan Alim (Raja Alam), dan Bukit Siguntang (Pesisir) yang dipimpin oleh keturunan Sultan Mufti (Raja Murgni).

Dikemudian hari, Bukit Siguntang (Pedalaman), terpecah lagi menjadi Kerajaan Pagaruyung, Dharmasraya, Gasib (siak) dan Kerintang (Indragiri). Sementara Bukit Siguntang (Pesisir), berpindah pusat kerajaannya ke wilayah Lebar Daun, sehingga pemimpinnya dikenal sebagai Demang Lebar Daun.

Diperkirakan setelah 3 generasi berlalu, Bukit Siguntang Palembang kedatangan Sang Sapurba yang kelak merupakan leluhur raja-raja Melayu. Singkat cerita, Sang Sapurba menikah dengan Wan Sendari, puteri Demang Lebar Daun (III) (sumber : Legenda Bukit Siguntang dan ).

Isi Lengkap Naskah Matari Singa Jaya Himat

Berdasarkan sumber situs wacana.com, berikut transkrip lengkap Naskah Matari Singa Jaya Himat…
naskahmatari1a
WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Di dalam kitab Sejarah Melayu, berdasarkan tulisan Abdullah bin Abdulkadir al-Munsyi, diceritakan ketika Sang Suparba (Sapurba, Bitjitram Syah), tiba di Bukit Siguntang, daerah tersebut nyaris tak berpenghuni.

Sang Suparba akhirnya dapat bertemu dengan penguasa setempat Demang Lebar Daun, setelah Sang Demang mendapat laporan dari penduduk disekitar Bukit Siguntang yang bernama Wan Empuk dan Wan Malini (lihat Sejarah Melayu,  bait 2.5).

Dari kisah ini memperlihatkan di saat kedatangan Sang Suparba (diperkirakan pada akhir abad ke-13 Masehi), pusat pemerintahan telah berpindah dari Bukit Siguntang ke wilayah Lebar Daun.

Artikel Menarik :
1. [Polemik] Asal Usul Nama Palembang ?
2. Makna Lambang dan Semboyan, Kesultanan Palembang Darussalam
3. [Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?

Makna Lambang dan Semboyan, Kesultanan Palembang Darussalam

Kesultanan Palembang Darussalam merupakan Kerajaan Islam di Indonesia yang berlokasi di wilayah Sumatera Selatan. Kesultanan ini diproklamirkan oleh Sri Susuhunan Abdurrahman tahun 1659, sampai kemudian dihapuskan keberadaannya oleh Kolonial Belanda pada 7 Oktober 1823.

Kepemimpinan Kesultanan Palembang Darussalam :

sultanpalembang
Lambang dan Semboyan, Kesultanan Palembang Darussalam

kesultanan1

Berbentuk bulan atau perisai yang didalamnya tertulis QS. Al-Baqarah: 190-194.

Dibagian atas terdapat moto dengan kata-kata: “Qauluhu al-Haq wa kalamuhu ash-Shiddqu” (perkataan yang hak dan kalam yang benar, QS. Al-An’am: 73).

Ditengah-tengah terdapat bunga melati, merupakan bintang yang bersudut 12 (melambangkan tarikh Islam dan adab sopan santun serta kesucian).

Dibagian bawah terdapat 2 tombak nibung bersilang bertuliskan ayat QS. Al-Baqarah: 194 yang maknanya: “Maka barangsiapa memusuhi diatas kamu, maka balaslah permusuhan itu seimbang sebagaimana mestinya”.

Di antara tombak dan bintang terdapat 2 tangkai padi keemasan, yang melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran (Darussalam).

Sumber:
1. Kesultanan Palembang Darussalam
2. Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (Facebook)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. [Polemik] Asal Usul Nama Palembang ?
2. Tuan Faqih Jalaluddin, dan Misteri Silsilah Wali Songo ?
3. [Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?

[Polemik] Asal Usul Nama Palembang ?

Dalam masyarakat Palembang, ada Legenda yang mengatakan asal nama Palembang berasal dari nama seorang tokoh asal Tiongkok yang bernama Pai Li Bang.

Pai Li Bang sendiri dikisahkan murid Sunan Gunung Jati, yang pernah menjabat wali negeri Palembang, setelah masa Adipati Ario Damar (sumber : viva.co.id).

Namun cerita ini terbantahkan dengan ditemukannya Prasasti Matari Singa Jaya Himat. Prasasti ini merupakan prasasti tembaga yang ditemukan di Palembang, yang menggunakan aksara Kaganga (Rencong) dan berbahasa Melayu Kuno.

Prasasti Matari Singa Jaya Himat diperkirakan berasal dari masa abad ke-13 sampai 15 Masehi (sumber : wacana.com, Sastra Melayu).

aksara1

contoh aksara rencong (kaganga) atau surat ulu


Di dalam Prasasti Matari Singa Jaya Himat, jelas-jelas disebut nama Palimbang (Palembang) dan Bukit Sagutang (Bukit Siguntang)…

bukitsiguntang1aDan nama Palembang, juga terdapat di dalam Nagarakertagama karangan Prapanca pada tahun 1365. Di dalam Pupuh XIII (sumber : menguak tabir sejarah)…

palembang1a

Asal Nama Palembang

Berdasarkan buku “Sriwijaya”, tulisan Slamet Muljana, dikatakan asal nama Palembang berasal dari bahasa sangsekerta, yaitu Palimbang(a) yang bermakna tepi (Sumber : Sriwijaya). Mungkin dikarenakan posisi Kota Palembang yang berada ditepian Sungai Musi.

Pendapat lain, mengatakan nama Palembang berasal dari kata lembang, yang bermakna tanah yang berlekuk, tanah yang rendah, akar yang membengkak karena terendam lama di dalam air (sumber : terjemahkan dari R.J.Wilkinson dalam kamusnya ‘A Malay English Dictionary’ ). Sementara arti kata Pa atau Pe menunjukkan keadaan atau tempat.

Nampaknya pengertian Palembang menunjukkan tanah yang berair. Hal ini sangat sesuai dengan kenyataan. Berdasarkan data statistik tahun 1990, terdapat 52,24% tanah yang tergenang di kota Palembang. Dan Palembang setidaknya tercatat memiliki sebanyak 117 anak sungai yang mengalir di tengah kota (sumber : infokito).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Salinan Naskah tentang Matari Singa Jaya Himat pada lempeng tembaga yang ditemukan di Palembang. Aksara yang digunakan aksara Lebong kuno (Rencung), menggunakan Bahasa Melayu dan ada pengaruh Bahasa Jawa.

Diperkirakan berasal dari masa pra-Islam, barangkali akhir atau sesudah masa Majapahit.

Sumber : Lampiran buku Perintis Sastera oleh Dr. C. Hooykaas terjemahan Raihoel Amar gl. Datoek Besar. J. B. Wolter – Groningen – Djakarta (link).

prasastimatari1
Artikel Menarik :
1. Hikayat Perang Palembang – Banten, di tahun 1596 M ?
2. Tuan Faqih Jalaluddin, dan Misteri Silsilah Wali Songo ?
3. [Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?