Tag Archives: nusantara

[Misteri] Invasi Dinasti Mongol Yuan, atas Negeri Palembang tahun 1287 Masehi ?

Pada sekitar tahun 1287 Masehi, terjadi peralihan kekuasaan di Negeri Palembang, yakni dari Demang Lebar Daun kepada Sang Suparba. Peristiwa peralihan kekuasaan ini, diceritakan secara tersirat di dalam Sejarah Melayu.

Meskipun peralihan kekuasaan ini berlangsung damai, namun berakibat penduduk negeri Palembang banyak yang hijrah keluar daerah. Hal ini digambarkan dalam Sejarah Melayu, saat Sang Suparba tiba di Bukit Siguntang, wilayah tersebut dalam keadaan sepi (sunyi).

[Teori] Invasi Dinasti Yuan (Mongol) di Palembang

Berdasarkan kisah dalam Sejarah Melayu, Sang Suparba berasal dari Amdan Negara. Di masa kakek buyut Sang Suparba, yakni Raja Sulan, wilayah Amdan Negara mencakup daerah Hindi dan Sindi (sekitar Sungai Indus). Dari keterangan Sejarah Melayu ini, bisa diambil kesimpulan Amdan Negara berada di India sebelah utara.

Pada kisaran tahun 1287 Masehi, wilayah India Utara berada dalam situasi perang terkait perluasan kekuasaan Kekaisaran Mongol Dinasti Yuan. Klan yang berkuasa pada masa itu adalah Chagatai Khanate, dibawah kepemimpinan Duwa Khan (Khan Chagatai Khanate, 1282–1307). (sumber : wikipedia.org, duwa khan dan barmazid.com).

Diperkirakan Sang Suparba (Sapurba) meninggalkan Benua Hindi atas dukungan dari Clan Chagatai Khanate, tujuan kepergiannya adalah untuk mengamankan rute perdagangan Internasional “Jalur Sutra Laut”. Sang Suparba bersama armada pasukannya langsung menuju Palembang, yang merupakan bandar pelabuhan yang ramai pada masa itu.

Berita akan datangnya Armada Sang Suparba, membuat masyarakat Negeri Palembang was-was, sebagian dari mereka mempersiapkan diri untuk berperang, sebagian lagi hijrah untuk sementara keluar daerah.

Situasi genting ini akhirnya cair, setelah Demang Lebar Daun yang ketika itu menjadi penguasa Palembang menawarkan jalan damai dalam upaya menghindari pertumpahan darah. Sang Suparba diperkenankan untuk menjalankan tugasnya mengamankan jalur sutra laut, namun ia juga berkewajiban melindungi Palembang dari ancaman pihak luar.

Ikatan kerjasama antara Demang Lebar Daun dan Duta Negeri Mongol ini semakin kuat, ketika salah seorang puteri Demang Lebar Daun, yang bernama Puteri Wan Sendari menjadi isteri Sang Suparba. Bahkan Sang Suparba kemudian diangkat menjadi Penguasa Palembang, mengantikan kedudukan sang mertua.

Pengaruh kekuasaan Dinasti Yuan di negeri Palembang, bisa terlihat ketika salah seorang putri angkat Sang Suparba yang bernama puteri Junjung Buih menikah dengan kerabat Raja Cina (Dinasti Mongol Yuan), yang kelak dikemudian hari diangkat menjadi Penguasa Palembang menggantikan Sang Suparba.

Selain itu salah seorang putri Sang Suparba, yang bernama Puteri Seri Dewi tercatat menjadi isteri Raja Cina (Dinasti Mongol Yuan), yang dikemudian hari anak cucu dari sang puteri palembang ini menjadi penguasa di negeri Cina (sumber : ).

Berdasarkan genealogy, Sang Suparba adalah anak dari Raja Suran yang nasabnya sampai kepada Raja Nusirwan Adil (King Anushirvan “The Just” of Persia, Dinasti Sassanid, 531-578). Sementara ibu Sang Suparba, adalah puteri Dara Segangga dari negeri Gangga Nagara (Gangaikonda Cholapuram atau Kerajaan Chola) (sumber : ).

Sang Sapurba terpilih memimpin misi Dinati Yuan di Palembang, karena secara susur galur, Sang Sapurba memiliki hak waris atas negeri Palembang, melalui jalur ibunda-nya. Penguasa dan kerabat Kerajaan Chola, berdasarkan garis silsilah adalah keturunan dari Raja Sriwijaya Bukit Siguntang yang bernama Maharaja Diwakara atau dalam Sejarah Chola dikenal sebagai  Kulothunga Chola I (Raja Sriwijaya dan Chola, 1067-1118) (sumber : ).

Referensi :
Sejarah Melayu, menurut terbitan Abdullah ibn Abdulkadir Munsyi

Catatan Penambahan :

1. Pemilihan Pelabuhan Kukang (Palembang) sebagai tempat pelarian Chen Tsu Ji bersama ribuan pengikutnya pada sekitar akhir abad ke-14 Masehi, bukan tanpa alasan. Hal ini dikarenakan wilayah Palembang, merupakan sekutu dari Dinasti Yuan pada masa itu.

Penyerangan Armada Dinasti Ming di Palembang tahun 1407, bukan hanya untuk menjinakkan “Bajak Laut”, tetapi juga untuk menghancurkan kekuatan Dinati Yuan yang bermarkas di perairan sungai musi (sumber : ).

2. Pada masa akhir abad ke-13 Masehi, Islam sudah tersebar luas di daerah Sindi, Persia dan Hindi Utara. Kemungkinan besar Sang Sapurba adalah seorang Muslim (sumber : ).

3. Sejarawan Melayu ada yang mengidentifikasikan Gangga Nagara sebagai Negeri Perak (Semenanjung).

4. Wilayah Amdan Negara, yang pada era Raja Sulan menguasai daerah Sindi dan Hindi, masih belum diketahui secara pasti lokasinya. Ada kemungkinan Amdan Negara adalah bagian dari Kesultanan Delhi dibawah Dinasti Mamluk.

Dan identifikasi Raja Sulan kemungkinan adalah Shams ud-Din Iltutmish (Sultan Delhi, 1211 – 1236) (sumber : wikipedia.org).

Dari data silsilah diatas, Raja Suran (ayahanda Sang Suparba) kemungkinan adalah Sultan Nasir ud din Firuz Shah (Sultan Delhi, 1246-1266). Namun di dalam Sejarah Melayu, Raja Suran adalah cucu dari Raja Sulan, melalui puteri Raja Sulan.


Dalam catatan sejarah, pada tahun 1266 M terjadi peralihan kekuasaan dalam Dinasti Mamluk, dimana Keluarga Balban mulai berkuasa, menggantikan Keluarga Iltutmish.

Perubahan kekuasaan dalam Dinasti Mamluk ini, bisa menjadi alasan logis, jika sebagian Keluarga Iltutmish kemudian berpihak kepada Chagatai Khanate Dinati Yuan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?
4. [Misteri] 5 Bukti Pernikahan Sedarah di Kerajaan Galuh abad ke-7 Masehi, adalah Kisah Fiksi ?

Iklan

[Misteri] 5 Bukti Pernikahan Sedarah di Kerajaan Galuh abad ke-7 Masehi, adalah Kisah Fiksi ?

Dalam beberapa literatur dikatakan, Sena (Raja Galuh, 709-716), menikah dengan saudara tiri-nya bernama Sannaha.

Dari Pernikahan Manu (Sedarah) ini menghasilkan seorang putera bernama Sanjaya, yang merupakan Pendiri Wangsa Sanjaya dan menjadi Raja Sunda Galuh, pada masa 723-732 (sumber : Kerajaan Galuh).

Kisah Pernikahan Manu Kerajaan Galuh

Kisah Pernikahan Manu ini bermula dari Perselingkuhan puteri Pohati Rababu, dengan saudara iparnya Mandiminyak, yang membuahkan seorang putera bernama Sena (Sanna).  Dimana Mandiminyak adalah adik dari suami puteri Pohati Rababu, yang bernama Sempakwaja.

Akibat peristiwa memalukan ini, Mandiminyak kemudian disingkirkan dari tahta Galuh, dengan cara mengawinkannya dengan puteri Parwati anak dari Ratu Sima Kerajaan Kalingga. (sumber : wong wedoknusantara blog dan kebuyutan blog).

Dari perkawinan dengan Parwati ini, Mandiminyak memiliki puteri bernama Sannaha. Dan dengan tujuan untuk mempersatukan kekuatan Kalingga dan Galuh, setelah dewasa Sannaha dinikahkan dengan saudara tirinya Sena (Sanna) (sumber : wacana.co).

Keanehan Kisah Kerajaan Galuh

Dari cerita ini, nampak sekali merupakan kisah yang direkayasa dan tidak selaras dengan kronologis sejarah. Setidaknya ada 5 keanehan dalam kisah tersebut :

(1). Dikatakan Mandiminyak disingkirkan dari istana, pada kenyataannya berdasarkan sejarah Kerajaan Galuh, Mandiminyak menjadi Penguasa Galuh selama 7 tahun yaitu dalam periode 702-709.

(2). Jika Mandiminyak disingkirkan dengan cara mengawinkannya dengan puteri Parwati, artinya pernikahan tersebut terjadi setelah tahun 709, artinya tahun kelahiran puterinya Sannaha otomatis setelah tahun 709.

Sementara catatan sejarah mengungkapkan di tahun 723, putera Sannaha yang bernama Sanjaya sudah menjadi Raja Sunda Galuh. Bagaimana mungkin seseorang yang belum berusia 14 tahun, bisa punya anak yang telah jadi Raja ?

(3). Ibunda puteri Parwati, Ratu Sima adalah penguasa Kalingga yang terkenal sangat ketat dan taat kepada hukum. Sangat ganjil jika kemudian ia mengizinkan cucunya Sannaha menikah diluar kewajaran, dengan melanggar aturan kesusilaan.

(4). Keanehan lainnya setelah Mandiminyak disingkirkan dari Istana, justru anaknya Sena yang katanya hasil perselingkuhan, diangkat menjadi penguasa berikutnya.

(5). Alasan pernikahan Sena (Sanna) dan Sannaha yang katanya bisa mempersatukan kekuatan Galuh dan Kalingga, ternyata tidak terbukti. Dimana Sena disingkirkan oleh saudaranya bernama Purbasora, padahal Purbasora sendiri lebih banyak mengurusi padepokan ayahnya, yang menjadi resiguru di Galunggung.

Ke-5 keanehan ini, memberi kita keyakinan, bahwa kisah Perkawinan Manu di Kerajaan Galuh hanyalah cerita fiksi yang bersifat politis, dalam situasi perebutan pengaruh di Kraton Sunda Galuh.

Catatan Penambahan :

1. Peristiwa Pernikahan Manu, kemungkinan besar tidak pernah terjadi. Dikarenakan Sena dan Sannaha bukan saudara satu ayah, melainkan saudara sepupu. Dimana Mandiminyak (ayahanda puteri Sannaha), merupakan saudara dari Sempakwaja (ayahanda Sena).


Sena lebih diprioritaskan menjadi penguasa Galuh, menggantikan pamannya Mandiminyak dikarenakan :
(a). Sena adalah putera dari Sempakwaja, yang harus kehilangan hak atas tahta Galuh akibat cacat badan yang dideritanya.
(b). Sena lebih banyak berinteraksi dengan ketatanegaraan, dan berbeda dengan saudaranya Purbasora yang lebih fokus mengurus Padepokan.

2. Dalam versi yang lain, Sena (Bratasenawa) dan Sannaha (Sanaha), adalah saudara sepupu dari sebelah keluarga Kalingga. Dimana Sena adalah putera Mandiminyak dan Parwati (Purwati), sementara Sannaha adalah puteri dari saudara laki-laki Parwati (sumber : siwisang blog).

3. Diperkirakan Pernikahan antara Sena dengan Sannaha terjadi pada sekitar tahun 682 Masehi, dan setahun kemudian yakni tahun 683 Masehi Sanjaya dilahirkan. Informasi ini semakin menunjukkan kisah disingkirkannya Mandiminyak di tahun 709 M, dengan cara mengawinkannya dengan puteri Parwati adalah cerita dongeng semata.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Majapahit :

1. [Misteri] Penduduk Jawa berasal dari Sumatera ?
2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. 
4. [Misteri] Raja Jawa yang bergelar “Sultan Abdullah Muhammad Maulana Jawi Matarami” ?

[Misteri] Penduduk Jawa berasal dari Sumatera ?

Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, jumlah pasukan Sriwijaya di tahun 682 Masehi mencapai 20.000 tentara.

Apabila perbandingan 1 prajurit Sriwijaya sama dengan 570 penduduk Sumatera, maka jumlah penduduk Sumatera sekitar  11.400.000 jiwa atau 62,28 % dari masyarakat di Asia Tenggara pada masa itu (sumber : ).

Kisah Migrasi Penduduk Sumatera

Perpindahan penduduk Sumatera ke Pulau Jawa, telah dimulai sejak abad 1 Masehi. Hal ini sebagaimana tercatat dalam Naskah Wangsakerta, yang menuturkan 2 Leluhur Aki Tirem (Sesepuh masyarakat Jawa, abad 1 Masehi), bernama Aki Bajulpakel berasal dari Swarnabumi (Sumatera) bagian Selatan, dan Datuk Pawang Marga dari  Swarnabumi bagian Utara (sumber : ).

Puncak kepadatan penduduk Sumatera di masa lalu, diperkirakan terjadi pada saat berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Sebagian penduduk Sumatera kemudian hijrah, untuk mencari daerah-daerah baru yang masih tidak bertuan.

Ketika pada abad ke-9 Masehi, Dinasti Syailendra berhasil menguasai bumi mataram kuno. Diperkirakan banyak penduduk sumatera yang merantau ke pulau Jawa.

Pada sekitar awal abad-14 Masehi, sebagian Penduduk Sumatera bagian Selatan hijrah ke luar pulau. Mereka mengikuti perjalanan Sang Suparba, sebagaimana dikisahkan dalam Sejarah Melayu (sumber : ).

Kejadian awal abad ke-14 Masehi, terulang lagi pada sekitar akhir abad ke-15 Masehi. Penduduk Sumatera bagian Selatan banyak yang berpindah ke Pulau Jawa, sebagian ikut Raden Fattah membangun Kesultanan Demak, sebagian lagi ikut Raden Kusen menjadi penduduk wilayah Terung dan sekitarnya.

Ramainya Penduduk Sumatera di masa silam, bukan sesuatu yang mengherankan. Hal ini dikarenakan berdasarkan temuan arkeologis, sejak 3.000 tahun yang silam, di pulau Sumatera telah terjadi interaksi antara dua ras nenek moyang Nusantara, yakni ras Mongoloid dan ras Australomelanesid (sumber :  dan Timing the first human migration into eastern Asia).

Berdasarkan fakta-fakta diatas, tidak berlebihan apabila dikatakan, asal muasal Penduduk Jawa sejatinya sebagian berasal dari Pulau Sumatera.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Berdasarkan Perhitungan Reid, pada tahun 1815 Penduduk Jawa diperkirakan mencapai 6,5 juta jiwa (sumber : ayo ke tanah sabrang).

Jika dalam per tahunnya ada kenaikan 1%, maka di tahun 1200 Masehi diperoleh data penduduk jawa baru mencapai 15.000 jiwa. Sementara di Sumatera sendiri, di tahun 682 Masehi jumlah prajurit Sriwijaya saja sudah berjumlah 20.000 jiwa.

Dengan demikian dari perbandingan data ini, pada masa sebelum abad ke-13 Masehi, Penduduk Sumatera jauh lebih banyak dari Penduduk Jawa.

Artikel Sejarah Nusantara :
1. Teori Migrasi Manusia, menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Keajaiban dari Nilai Numerik 9 dalam Sejarah Nusantara ?3. Identifikasi Zealandia, Legenda Benua MU dan Mitologi Garuda ?
4. [Misteri] asal muasal Bangsa Jawa, menurut Legenda dan Catatan Sejarah ?

Hikayat Nakhoda Khalifah, Pelopor Kesultanan Islam di Negeri Sriwijaya ?

Menjelang akhir Dinasti Umayyah, sekelompok ulama di Kota Baghdad membaiat Syarif Muhammad al-Nafs al-Zakiyya sebagai Khalifah. Namun upaya kalangan ulama Baghdad ini kandas, dengan munculnya kekuatan baru di Jazirah Arab yang kemudian dikenal sebagai Bani Abbasiyah (750-1258).

Ada sumber yang menyatakan tokoh ulama pendukung kepemimpinan Syarif Muhammad, diantaranya Nu’man ibnu Thaabit (Imam Abu Hanifah), pengasas Mazhab Hanafi serta Imam Malik, pengasas Mazhab Maliki.

Panasnya situasi di awal berdirinya Bani Abbasiyah, membuat  Syarif Muhammad hijrah dari Kota Baghdad. Setelah berpindah-pindah dari Madinah, Makkah dan Yaman, Syarif Muhammad memutuskan untuk menjelajahi samudra untuk berdakwah menuju negeri-negeri timur. Syarif Muhammad kemudian dikenali sebagai Nakhoda Khalifah, Syarif Muhammad al-Baghdadi (sumber : misteri nakhoda khalifah, sejarah kesultanan perlak).

Nakhoda Khalifah di Nusantara 

Pelayaran dakwah Nakhoda Khalifah, telah meninggalkan jejak-jejak sejarah di negeri-negeri yang ia singgahi.

Rombongan dakwah Nakhoda Khalifah tercatat menyinggahi wilayah Sindh India. Di daerah ini, Syarif Muhammad menempatkan salah seorang puteranya, yang kemudian dikenal masyarakat Pakistan sebagai Abdullah Shah Ghazi (sumber : wikipedia.org).

Berdasarkan Kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy, pada tahun 173 H (800 M), Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i di bawah pimpinan Nahkoda Khalifah.

Sebagian dan anggota rombongan itu kemudian menikah dengan penduduk lokal, salah satunya putera Nakhoda Khalifah bernama Syarif Ali bin Muhammad, yang menikah dengan adik Penguasa Perlak bernama Puteri Makhdum Tansyuri Dewi (sumber : atjehcyber.netKesultanan Perlak).

Sumber Kedah mencatat, Syarif Ali pada tahun 804 M, diangkat menjadi Penguasa Perlak Kedah, dengan gelar Sultan Alirah Shah (Sultan Perlak Kedah, 804-840).

Sepeninggal Syarif Ali, kedua puteranya memimpin wilayah Perlak Kedah, yaitu Kerajaan Perlak oleh Sultan Alaidin Maulana Abdul Aziz Syah (Sultan Perlak, 840-864) dan Kerajaan Kedah Islam, oleh Sultan Hussain Syah Alirah (Sultan Kedah Islam, 840-881) (sumber : [Misteri] Benarkah Masyarakat Nusantara adalah Zuriat Rasulullah ?).

Menurut keterangan Ibnu Hordadzbeth (844-848 M), Sulayman (902 M), Ibnu Rosteh (903 M), Abu Zayid (916 M), dan ahli geografi Mas’udi (955 M), menyebutkan di negeri Sriwijaya terdapat Kesultanan (Sribuza) yang berada di bawah kekuasaan Raja Zabag. Kemungkinan besar Kesultanan Islam yang dimaksud adalah Kesultanan Perlak dan atau Kesultanan Kedah Islam, yang telah wujud pada sekitar tahun 804 M (sumber : Sejarah Nusantara).

Catatan Penambahan :

1. Silsilah Nakhoda Khalifah sampai kepada Rasulullah adalah sebagai berikut : Nakhoda Khalifah (Syarif Muhammad al-Nafs al-Zakiyya) bin Syarif Abdullah al-Kamil bin Syarif Hassan al-Muthanna bin Sayyidina Hassan radhiallahu ‘anhu bin Sayyidatuna Fatimah az Zahra binti Sayyidina Muhammad Rasulullah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola India ?
4. [Misteri] Dinasti Tang, Kekaisaran Muslim China (618-907), dalam catatan Abu Dulaf Al-Muhalhil di tahun 940 Masehi ?

[Misteri] Silsilah Fatimah binti Maimun, dalam Kitab Pangeran Wangsakerta Cirebon ?

Ada yang aneh dalam kisah Fatimah binti Maimun, pelopor mubaligh muslimah di tanah Jawa. Ia diceritakan sebagai keponakan dari Maulana Malik Ibrahim, penyebar Islam abad ke-15 Masehi, sementara Fatimah binti Maimun sendiri lahir pada abad ke-11 Masehi.

Untuk mengurai asal muasal Fatimah binti Maimun, salah satu sumber yang bisa dijadikan pedoman adalah hasil penyelusuran ahli sejarah Cirebon abad ke-17 yaitu Pangeran Wangsakerta.

Misteri Fatimah binti Maimun

Fatimah binti Maimun lahir di pada tahun 1064 Masehi. Berdasarkan penyelusuran Pangeran Wangsakerta, Fatimah binti Maimun merupakan puteri dari Maimun bin Hibatullah bin Muhammad Makhdum Sidiq.

Ayahanda Fatimah binti Maimun, berdasarkan legenda Gresik merupakan sepupu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim, atau dengan dengan kata lain keduanya adalah cucu dari Muhammad Makhdum Sidiq.

Menarik gelar “Makhdum” pada sosok Muhammad Makhdum Sidiq, yang merupakan ciri dari nama keluarga dinasti Makhdum yang menjadi penguasa Kesultanan Perlak Aceh. Dari data ini bisa diambil asumsi bahwa jalur silsilah Fatimah binti Maimun berasal dari Kesultanan Perlak.

Pada abad ke-11, dalam silsilah Kesultanan Perlak ditemukan nama Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (Sultan Perlak, 986-1023). Nama Sultan Perlak inilah sejatinya paman dari Fatimah binti Maimun yang disebut-sebut dalam Legenda Gresik.

Sementara nama Muhammad Makhdum Sidiq, tidak lain adalah kakek dari Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat, yaitu bernama Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (Sultan Perlak, 932-956).

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada diagram berikut :


Referensi :
1. sufiz.com
2. suaragresik.com
3. Kesultanan Perlak

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Dalam salah satu versi dikatakan Siti Fatimah binti Maimun adalah puteri Raja Kedah Malaka dan merupakan keturunan ke-16 dari Nabi Muhammad (sumber : utusan.com).

Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan Fatimah binti Maimun masih terhitung kerabat daripada :

Sultan Abdul Kadir (Sultan Kedah, 881-903) bin Sultan Hussain Shah Alirah (Sultan Kedah, 840-881) bin Syarif Ali Sultan Alirah Shah (Sultan Perlak Kedah, 804-840) bin  Syarif Muhammad Nafs Zakiyah bin Syarif Abdullah al-Kamil bin Sayyidina Hassan al-Muthanna bin Sayyidina Hassan radhiallahu ‘anhu…

2. Perlu pengkajian lagi terhadap silsilah Fatimah binti Maimun, yang bersumber dari catatan Pangeran Wangsakerta, dimana menyatakan…

Rasulullah Nabi Muhammad berputri Fatimah yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib, yang berputra Husain, kemudian berputra Zainal Abidin. Dari Zainal Abidin menurunkan Muhammad Al-Baqir, ayahanda dari Ja’far Shadiq, yang berputra Ali Al-Uraidi…

Ali Al-Uraidi adalah ayahanda Sulaiman Al-Basri, yang menetap di Persi. Sulaiman Al-Basri menurunkan Abu Zain Al-Basri, kemudian menurunkan Ahmad Al-Baruni, ayah Sayyid Idris Al-Malik, yang berputra Muhammad Makdum Sidiq, yang terakhir ini adalah ayah Hibatullah, kakek Fatimah binti Maimun (sumber : sufiz.com dan madawis blog).

Dengan membandingkan kepada Genealogy Ahlul Bayt, ternyata tidak ditemukan nama Sulaiman Al-Basri, sebagai salah seorang putra Ali Al-Uraidi (sumber : benmashoor blog).

Artikel Sejarah Nusantara
1. [Misteri] Benarkah Masyarakat Nusantara adalah Zuriat Rasulullah ?
2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola India ?
4. [Misteri] Kudeta Kekuasaan Wangsa Syailendra, dan bangkitnya Trah Keluarga Dapunta Hyang ? 

[Misteri Astronomi] Batu Bersurat Terengganu “Jum’at bulan Rajab tahun Saratan”, Baginda Rasulullah telah lalu 702 ?

Pada tahun 1902, seorang saudagar bernama Sayyid Husin bin Ghulam Al Bukhari tanpa sengaja menjumpai batu bersurat di tebing Sungai Tersat (Sungai Tara), Kampung Buluh di Kuala Berang, Hulu Terengganu Malaysia.

Batu Bersurat ini kemudian dibawa ke Kuala Terengganu, dan dipersembahkan kepada Sultan Zainal Abidin III untuk kemudian diletakkan di atas Bukit Puteri.

Misteri Astronomi Batu Bersurat

Berdasarkan penelitian ahli bahasa, isi teks batu bersurat ini mengenai undang-undang seorang raja. Catatan yang terkandung pada batu ini menyebut Islam sebagai agama resmi serta menerangkan hukum-hukum Islam tentang maksiat dan segala kemungkaran.

Dan yang menarik pada batu bersurat ini, adanya masa pembuatannya yang mengandung isyarat astronomi. Pada muka pertama batu bersurat ini berbunyi…


Kalimat di akhir Prasasti, “Jumaat di bulan Rejab di tahun Saratan di sasanakala baginda Rasulullah telah lalu tujuh ratus dua.” ternyata memiliki makna astronomi, dan memberi gambaran kepada kita tentang kedalaman ilmu falaq nenek moyang bangsa Melayu pada masa lalu.

Berdasarkan penyelusuran astronomi, tahun saratan di 702 hijriyah terjadi ketika Bulan dan Planet Musytari (Jupiter) berada di Buruj Sarathan pada hari Kamis, 28 Februari 1303 M, yang dimulai saat terbenamnya matahari. Fenomena ini berakhir pada esok harinya, yaitu pada hari Jum’at, 1 Maret 1303 M.

Dengan demikian makna dari penanggalan yang terdapat pada batu bersurat terengganu, adalah hari jum’at 1 Maret 1303 M, yang bertepatan dengan tanggal 11 Rajab 702 Hijriyah.

Referensi :
1. Isyarat Astronomi – Batu Bersurat Terengganu
2. Batu Bersurat Terengganu (wikipedia.org)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. 
2. [Misteri] Simbolisasi Ma-liki, Ma-luku dan Ma-laka menuju Kejayaan Nusantara ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi warna Kemerahan?
4. 

[Misteri] Dinasti Tang, Kekaisaran Muslim China (618-907), dalam catatan Abu Dulaf Al-Muhalhil di tahun 940 Masehi ?

Pada tahun 940 M, Abu Dulaf Al-Muhalhil dari Bukhara, sempat singgah di negeri Kedah dan membari catatan hasil pengamatannya :

Terjemahan :

“Ketika saya tiba di Kedah, saya menemukan tempat yang indah, dikelilingi oleh tembok bentengnya, taman bunga dan aliran mata air dari bumi. Saya melihat tambang timah, yang tidak ada bandingannya dengan yang lain di dunia ini.

Di kota saya melihat para pembuat pedang “Qala’i”, yaitu sejenis pedang asli India … seperti di China, ada orang-orang yang makan daging tanpa pembantaian (disembelih).

Orang-orang memiliki sistem hukum, termasuk penggunaan penjara dan sistem denda sebagai bentuk hukuman.

Mereka makan gandum, kurma, sayuran yang ditimbang sebelum dijual dan roti yang dijual dalam tumpukan. Mereka tidak memiliki pemandian Turki (hamam), tapi mandi di sungai yang mengalir cepat.

Mata uang mereka adalah dirham perak … disebut ‘fahri’. Mereka memakai kain sutra yang sangat mahal seperti orang-orang di China ..

Raja Kedah membayar upeti ke China, dan menyebutkan nama Maharaja China dalam Khotbah Jumat mereka dan Raja Kedah mengikuti Maharaja dalam (mazhab) ibadah-nya… ” ( Paul Wheatley, 1961: 217).

Kesimpulan :

1. Di tahun 940 M, Kedah adalah negeri Muslim yang merupakan bagian dari Kekaisaran China.  Kehadiran penduduk China Muslim di Kedah terkait dengan peristiwa tahun 877 M, dimana pedagang Arab dan Iran diserang dan dibunuh oleh pemberontak yang berperang melawan pemerintah Dinasti Tang China.

Keberadaan mereka yang telah tinggal selama 200 tahun di Kanton dibantai, diperkirakan jumlah yang terbunuh adalah antara 120.000 sampai 200.000 orang (Naguib Al-Attas, 1969: 11). Sejumlah besar pedagang Muslim dan keluarga mereka kemudian mencari perlindungan di Kedah (sumber : Sri wijaya negeri Islam, Islam in Kedah).

2. Di masa Dinasti Tang (618-907), Kedah telah menjadi Kesultanan Islam, yang diawali pada masa Sultan Alirah Shah (Sultan Perlak Kedah, 804-840), kemudian dilanjutkan oleh anak-anaknya, yaitu Sultan Alaidin Maulana Abdul Aziz Shah (Sultan Perlak, 840-864) dan Sultan Hussain Shah Alirah (Sultan Kedah Islam, 840-881) (sumber :  [Misteri] Benarkah Masyarakat Nusantara adalah Zuriat Rasulullah ?).

3. Abu Dulaf Al-Muhalhil dalam catatan perjalanannya menginformasikan bahwa telah ada Maharaja China yang memeluk Islam.

Sosok Maharaja China yang telah menjadi mualaf, terkait dengan Legenda Merong Mahawangsa, yakni bernama Li Shimin (Kaisar Dinasti Tang, 626-649) yang menjadi Muslim atas upaya dakwah sahabat Rasulullah, Saad bin Abi Waqqas (sumber : wikipedia.org).

4. Kehadiran Islam pada periode Dinasti Tang di China, bisa terlihat dari perintah Li Zhi (Kaisar Dinasti Tang,  649-683), untuk membangun Masjid Huaisheng di Kanton, yang merupakan masjid pertama di daratan Cina (sumber : Sejarah Awal Mula Umat Muslim di China).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola India ?
4. [Misteri] Kudeta Kekuasaan Wangsa Syailendra, dan bangkitnya Trah Keluarga Dapunta Hyang ?