Tag Archives: palembang

Misteri Penguasa Palembang (1407-1528), dari Era Laksamana Cheng Ho sampai Menjelang Kekuasaan Ki Gede ing Suro

Pada sekitar tahun 1407, po-lin-fong (Palembang) kedatangan armada Cheng Ho bersama bala tentaranya yang diperkirakan berjumlah 27.800 orang.

Tujuan pasukan perang Dinasti Ming ini adalah untuk menumpas kelompok penguasa perairan sungai Musi yang dipimpin oleh Chen Tsu Ji yang merupakan mantan petinggi angkatan laut Dinasti Yuan.
Keterangan:

1. Syahbandar Shi Jinqing

Selepas keberhasilan menumpas kelompok Chen Tsu Ji, Laksamana Cheng Ho, mengembangkan komunitas masyarakat Tionghoa Muslim di wilayah ini, serta menyerahkan pengawasan palembang kepada seorang syahbandar bernama Shi Jinqing.

Kelak salah seorang putri dari Shi Jinqing yang bernama Nyai Gedhe Pinatih (Pi Na Ti), dikenal sebagai penyebar Islam di tanah Jawa dan menjadi ibu asuh dari Raden Paku (Sunan Giri).

2. Pangeran Arya Damar (Adipati Ario Dillah)

Melemahnya pengawasan Dinasti Ming terhadap Palembang selepas wafatnya Kaisar Yongle tahun 1424, dimanfaatkan Majapahit untuk mengambil alih kontrol pelabuhan Kukang (Palembang).

Kesempatan itu muncul ketika palembang dan sekitarnya terjadi kekacauan diantara para penguasa lokal setempat. Salah seorang kerabat istana Majapahit bernama Pangeran Arya damar diutus ke Palembang untuk menjadi duta kerajaan.

Sang Pangeran dibantu tokoh penguasa wilayah Lebar Daun berhasil meredam konflik dan untuk memperkuat kedudukannya Pangeran Arya Damar menikah dengan salah seorang putri dari penguasa wilayah Lebar Daun tersebut.

Selain itu Sang Pangeran diketahui memeluk Islam berkat dakwah salah seorang tokoh penyebar Islam Sunan Ampel.

Pengaruh Pangeran Arya Damar semakin hari semakin kuat dan akhirnya para pemimpin lokal setempat sepakat mengangkatnya sebagai Adipati Palembang di tahun 1445 yang mendapat dukungan dari penguasa Majapahit Ratu Suhita.

Di masa awal Prabu Kertawijaya sekitar tahun 1447, Pangeran Arya Damar yang dikenal dengan nama Adipati Ario Dillah kedatangan pengungsi dari Majapahit yakni Nyai Ratna Subanci yang membawa seorang bayi bernama Raden Hasan.

Raden Hasan adalah cucu Prabu Kertawijaya dari putrinya yang telah memeluk Islam karena menikah dengan seorang muslim asal Champa yang menjadi pejabat di wilayah Kertabhumi.

Latar belakang pengungsian ini adalah demi kesalamatan sang bayi yang keduanya telah wafat. Dikemudian hari ibu pengasuh sang bayi yakni Nyai Ratna Subanci menikah dengan salah seorang kepercayaan Adipati Ario Dillah yang bernama Arya Palembang.

3. Arya Palembang (Adipati Arya Dillah II)

Sosok Arya Palembang ini sering kali juga dianggap sebagai Arya Dillah (II), yang menggantikan posisi Arya Dillah (I) setelah yang bersangkutan mengundurkan diri sebagai Adipati Palembang.

Adipati Arya Dillah (II) inilah yang sesungguhnya ayahanda dari Raden Kusen Adipati Terung dari pernikahannya dengan ibu asuh Raden Hasan (Sultan Demak Raden Fattah).

Selain menikah dengan Nyai Ratna Subanci (ibu asuh Raden Hasan), Arya Palembang dikemudian hari juga diangkat menantu oleh Adipati Aryo Dillah. Adapun istri Arya Palembang yang lain adalah Nyimas Sahilan binti Syarif Husein Hidayatullah (Menak Usang Sekampung).

Pada tahun 1392 Saka (1470 Masehi), Arya Palembang (Adipati Arya Dillah II) memimpin pasukan Palembang menyerang Semarang dan mengangkat salah seorang puteranya Raden Sahun menjadi Adipati Semarang dengan gelar Pangeran Pandanaran.

4. Syahbandar Pai Lian Bang 

Pengangkatan Syahbandar Pai Lian Bang bersifat sementara, karena pada saat Arya Palembang (Arya Dillah II) wafat belum ditemukan calon pengganti yang pantas.

Meskipun bersifat sementara dibawah Syahbandar Pai Lian Bang, Palembang banyak mengalami kemajuan.

5. Adipati Karang Widara

Pengangkatan Adipati Karang Widara berasal dari pemufakatan pemimpin-pemimpin lokal. Sang Pangeran diketahui masih memiliki kekerabatan dengan Penguasan wilayah Lebar Daun.

6. Pangeran Seda ing Lautan

Pangeran Seda ing Lautan merupakan seorang pengikut setia Raden Patah. Selain menjadi penguasa Palembang ia mendapat tugas mempersiapkan armada perang untuk menyerang Portugis di Malaka.

Pada penyerbuan yang pertama tahun 1512, Pangeran Seda ing Lautan wafat di medan peperangan.

7.
 Pangeran Surodirejo

Pangeran Suradirejo adalah juga ayah angkat dari Ki Gede ing Suro dan saudara-saudaranya selepas ayahanda mereka Pangeran Seda ing Lautan wafat.

Kelak dikemudian hari, Ki Gede ing Suro diangkat menjadi penguasa Palembang di tahun 1528 atas restu penguasa Kerajaan Demak Sultan Trenggono.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Iklan

[Misteri] Invasi Dinasti Mongol Yuan, atas Negeri Palembang tahun 1287 Masehi ?

Pada sekitar tahun 1287 Masehi, terjadi peralihan kekuasaan di Negeri Palembang, yakni dari Demang Lebar Daun kepada Sang Suparba. Peristiwa peralihan kekuasaan ini, diceritakan secara tersirat di dalam Sejarah Melayu.

Meskipun peralihan kekuasaan ini berlangsung damai, namun berakibat penduduk negeri Palembang banyak yang hijrah keluar daerah. Hal ini digambarkan dalam Sejarah Melayu, saat Sang Suparba tiba di Bukit Siguntang, wilayah tersebut dalam keadaan sepi (sunyi).

[Teori] Invasi Dinasti Yuan (Mongol) di Palembang

Berdasarkan kisah dalam Sejarah Melayu, Sang Suparba berasal dari Amdan Negara. Di masa kakek buyut Sang Suparba, yakni Raja Sulan, wilayah Amdan Negara mencakup daerah Hindi dan Sindi (sekitar Sungai Indus). Dari keterangan Sejarah Melayu ini, bisa diambil kesimpulan Amdan Negara berada di India sebelah utara.

Pada kisaran tahun 1287 Masehi, wilayah India Utara berada dalam situasi perang terkait perluasan kekuasaan Kekaisaran Mongol Dinasti Yuan. Klan yang berkuasa pada masa itu adalah Chagatai Khanate, dibawah kepemimpinan Duwa Khan (Khan Chagatai Khanate, 1282–1307). (sumber : wikipedia.org, duwa khan dan barmazid.com).

Diperkirakan Sang Suparba (Sapurba) meninggalkan Benua Hindi atas dukungan dari Clan Chagatai Khanate, tujuan kepergiannya adalah untuk mengamankan rute perdagangan Internasional “Jalur Sutra Laut”. Sang Suparba bersama armada pasukannya langsung menuju Palembang, yang merupakan bandar pelabuhan yang ramai pada masa itu.

Berita akan datangnya Armada Sang Suparba, membuat masyarakat Negeri Palembang was-was, sebagian dari mereka mempersiapkan diri untuk berperang, sebagian lagi hijrah untuk sementara keluar daerah.

Situasi genting ini akhirnya cair, setelah Demang Lebar Daun yang ketika itu menjadi penguasa Palembang menawarkan jalan damai dalam upaya menghindari pertumpahan darah. Sang Suparba diperkenankan untuk menjalankan tugasnya mengamankan jalur sutra laut, namun ia juga berkewajiban melindungi Palembang dari ancaman pihak luar.

Ikatan kerjasama antara Demang Lebar Daun dan Duta Negeri Mongol ini semakin kuat, ketika salah seorang puteri Demang Lebar Daun, yang bernama Puteri Wan Sendari menjadi isteri Sang Suparba. Bahkan Sang Suparba kemudian diangkat menjadi Penguasa Palembang, mengantikan kedudukan sang mertua.

Pengaruh kekuasaan Dinasti Yuan di negeri Palembang, bisa terlihat ketika salah seorang putri angkat Sang Suparba yang bernama puteri Junjung Buih menikah dengan kerabat Raja Cina (Dinasti Mongol Yuan), yang kelak dikemudian hari diangkat menjadi Penguasa Palembang menggantikan Sang Suparba.

Selain itu salah seorang putri Sang Suparba, yang bernama Puteri Seri Dewi tercatat menjadi isteri Raja Cina (Dinasti Mongol Yuan), yang dikemudian hari anak cucu dari sang puteri palembang ini menjadi penguasa di negeri Cina (sumber : ).

Berdasarkan genealogy, Sang Suparba adalah anak dari Raja Suran yang nasabnya sampai kepada Raja Nusirwan Adil (King Anushirvan “The Just” of Persia, Dinasti Sassanid, 531-578). Sementara ibu Sang Suparba, adalah puteri Dara Segangga dari negeri Gangga Nagara (Gangaikonda Cholapuram atau Kerajaan Chola) (sumber : ).

Sang Sapurba terpilih memimpin misi Dinati Yuan di Palembang, karena secara susur galur, Sang Sapurba memiliki hak waris atas negeri Palembang, melalui jalur ibunda-nya. Penguasa dan kerabat Kerajaan Chola, berdasarkan garis silsilah adalah keturunan dari Raja Sriwijaya Bukit Siguntang yang bernama Maharaja Diwakara atau dalam Sejarah Chola dikenal sebagai  Kulothunga Chola I (Raja Sriwijaya dan Chola, 1067-1118) (sumber : ).

Referensi :
Sejarah Melayu, menurut terbitan Abdullah ibn Abdulkadir Munsyi

Catatan Penambahan :

1. Pemilihan Pelabuhan Kukang (Palembang) sebagai tempat pelarian Chen Tsu Ji bersama ribuan pengikutnya pada sekitar akhir abad ke-14 Masehi, bukan tanpa alasan. Hal ini dikarenakan wilayah Palembang, merupakan sekutu dari Dinasti Yuan pada masa itu.

Penyerangan Armada Dinasti Ming di Palembang tahun 1407, bukan hanya untuk menjinakkan “Bajak Laut”, tetapi juga untuk menghancurkan kekuatan Dinati Yuan yang bermarkas di perairan sungai musi (sumber : ).

2. Pada masa akhir abad ke-13 Masehi, Islam sudah tersebar luas di daerah Sindi, Persia dan Hindi Utara. Kemungkinan besar Sang Sapurba adalah seorang Muslim (sumber : ).

3. Sejarawan Melayu ada yang mengidentifikasikan Gangga Nagara sebagai Negeri Perak (Semenanjung).

4. Wilayah Amdan Negara, yang pada era Raja Sulan menguasai daerah Sindi dan Hindi, masih belum diketahui secara pasti lokasinya. Ada kemungkinan Amdan Negara adalah bagian dari Kesultanan Delhi dibawah Dinasti Mamluk.

Dan identifikasi Raja Sulan kemungkinan adalah Shams ud-Din Iltutmish (Sultan Delhi, 1211 – 1236) (sumber : wikipedia.org).

Dari data silsilah diatas, Raja Suran (ayahanda Sang Suparba) kemungkinan adalah Sultan Nasir ud din Firuz Shah (Sultan Delhi, 1246-1266). Namun di dalam Sejarah Melayu, Raja Suran adalah cucu dari Raja Sulan, melalui puteri Raja Sulan.


Dalam catatan sejarah, pada tahun 1266 M terjadi peralihan kekuasaan dalam Dinasti Mamluk, dimana Keluarga Balban mulai berkuasa, menggantikan Keluarga Iltutmish.

Perubahan kekuasaan dalam Dinasti Mamluk ini, bisa menjadi alasan logis, jika sebagian Keluarga Iltutmish kemudian berpihak kepada Chagatai Khanate Dinati Yuan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?
4. [Misteri] 5 Bukti Pernikahan Sedarah di Kerajaan Galuh abad ke-7 Masehi, adalah Kisah Fiksi ?

[Misteri] Kudeta Kekuasaan Wangsa Syailendra, dan bangkitnya Trah Keluarga Dapunta Hyang ?

Selepas wafatnya Balaputeradewa, muncul kekuatan-kekuatan baru di wilayah Kedatuan Sriwijaya. Di Palembang terdapat gerakan politik yang dipimpin keluarga Trah Dapunta Hyang, sementara di Kedah, Dinasti Kedah Darussalam (Merong Mahawangsa) melepaskan diri dipimpin oleh Sultan Abdul Kadir (Sultan Kedah Islam, 881-903).

Di tanah Jawa, juga bermunculan kekuatan-kekuatan baru selepas masa kekuasaan Rakai Kayuwangi (Raja Medang,  856-890). Seorang raja bawahan Kerajaan Medang, memproklamirkan dirinya menjadi Maharaja, dengan nama Sri Maharaja Rakai Watuhumalang.

Gerakan Wangsa Syailendra

Seiring semakin melemahnya Sriwijaya, mengundang kekuatan-kekuatan luar untuk menguasai wilayah itu. Kerajaan Medang di masa Dharmawangsa Teguh (Raja Medang, 991–1007), setidaknya dua kali menyerang Palembang, yaitu tahun 992 dan 997.

Mengatasi kekuatan-kekuatan politik baru ini, wangsa Syailendra penguasa Sriwijaya pada masa itu, mempersiapkan bala tentaranya untuk meredakan situasi.

Sasaran pertama yang mereka gempur adalah Keluarga Trah Dapunta Hyang di Palembang, yang berakibat salah seorang Pangeran keluarga ini, mencari suaka politik di Kerajaan Chola India.

Sasaran berikutnya adalah Kerajaan Medang, pada tahun 1007 Kerajaan ini digempur habis-habisan, berakibat tewasnya Raja Medang, Dharmawangsa Teguh dan keluarga kerajaan tercerai berai.

Kemudian Kedah menjadi sasaran berikutnya, pada sekitar tahun 1008, Raja Kedah Islam, Sultan Riayat Shah (Sultan Kedah Islam, 993-1008) harus menyerahkan kekuasaan kepada Penguasa Dinasti Syailendra, Sri Mara Vijayatunggavarman (Raja Sriwijaya Kedah, 1008-1017), peristiwa pengambil-alihan daerah ini, menjadi awal berpindahnya Ibukota Sriwijaya, dari Palembang ke Kedah.

Gerakan Pembalasan Kelompok Oposisi, dan Teori Penyebab Keterlibatan Chola dalam Konflik di Sriwijaya ?

Trah Dapunta Hyang merupakan keluarga kerajaan Sriwijaya, yang berasal dari zuriat pendiri Sriwijaya Dapunta Hyang Jayanasa. Salah satu Maharaja yang terkemuka dari keluarga ini yaitu Sri Indrawarman.

Pada masa akhir pemerintahan Sri Indrawarman, muncul gerakan kudeta yang dilancarkan oleh Wangsa Syailendra, yang disinyalir mendapat dukungan dari Penguasa Tiongkok, Dinasti Tang (618-907).

Keluarga Dapunta Hyang, di masa Dinasti Syailendra kemudian terpecah ada yang mendukung, sebagian lagi bersikap oposisi. Salah satu pemimpin oposisi dari keluarga ini bernama Pangeran Sembiyan (Sambugita).

Setelah terusir dari Sriwijaya, dan meminta suaka politik di Kerajaan Chola, Pangeran Sembiyan diangkat menantu oleh Rajendra Chola I. Dan cita-cita Pangeran Sembiyan untuk menguasai Kerajaan Sriwijaya, mendapat dukungan penuh dari Sang Mertua.

Pangeran Sembiyan kemudian berkoalisi dengan Dinasti Kedah Islam dan Raja Airlangga (menantu Dharmawangsa Teguh) untuk merebut kekuasaan Dinasti Syailendra. Puncaknya tahun 1025, pusat Kerajaan Sriwijaya di Kedah diserang habis-habis oleh pasukan maritim Chola, dibantu koalisi yang dipimpin Pangeran Sembiyan.

Kerajaan Kadaram (Kedah) dan beberapa daerah sekutunya seperti Malaiyur (Jambi), Ilangasongam (Langkasuka), Ilamuri-desam (Lamuri Aceh) dan sebagainya, berhasil dikuasai Pasukan Koalisi. Keluarga kerajaan Sriwijaya Kedah berhasil ditahan, sebagian di bawa ke Palembang.

Salah satu putri Sangrama-Vijayatunggavarman (Raja Sriwijaya Kedah, 1017-1025) kemudian diperistri Raja Erlangga, dan kekuasaan Kedah (Kadaram) dikembalikan kepada Dinasti Kedah Darussalam (Merong Mahawangsa).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar; dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola India ?

Catatan Penambahan :

1. Salah seorang putra Pangeran Sembiyan dari istrinya Putri Chola, kelak akan menjadi penguasa Sriwijaya dengan gelar Maharaja Diwakara (tahun 1067), yang sekaligus juga menjadi Raja Kerajaan Chola dengan gelar Kulothunga Chola I (1070-1120).

[Misteri] Kolerasi Peristiwa Karbala dengan munculnya Kedatuan Sriwijaya di Palembang ?

Peristiwa Karbala merupakan satu catatan kelam bagi kaum muslimin, yang terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah (10 Oktober 680 M).  Dalam tragedi yang telah menewaskan cucu Rasulullah, Sayyidina Husein, telah meninggalkan luka sejarah dalam Peradaban Islam.

Tragedi Karbala, telah membuat semakin menajamnya perselisihan antara mereka pendukung Dinasti Umayyah dengan pendukung Keluarga Sayyidina Ali Radhiyallahu Anhu (sumber : wikipedia.org).

Dampak Tragedi Karbala di Nusantara

Peristiwa Karbala telah membuat Perdagangan Jalur Sutra Laut (dari Eropa, Timur Tengah, melalui Nusantara menuju ke Cina), mengalami gangguan. Sriwijaya yang merupakan tempat transit dalam rute perdagangan ini, merasakan dampak yang luar biasa (sumber : Jalur Sutra Laut).

Selain ekonomi, Sriwijaya yang pada masa itu berpusat di pesisir barat Sumatera, menjadi tempat bagi pelarian-pelarian politik yang berasal dari dari Timur Tengah dan Persia, sebagai akibat konflik (pertikaian) di wilayah jazirah arabia.

Ketidak-stabilan di Timur Tengah serta ditambah lagi semakin berkembangnya kerajaan-kerajaan Nusantara di wilayah timur, kemudian menjadi pertimbangan Dapunta Hyang Jayanasa, untuk memindahkan Pusat Kerajaan Sriwijaya dari pesisir barat, ke pesisir timur pulau Sumatera.

Perpindahan Pusat Kedatuan Sriwijaya ini, ditandai dengan peristiwa Perjalanan Kejayaan (jayasiddhayatra), yang dimulai pada  Hari Jum’at, 6 Ramadhan 62 Hijriyah atau bertepatan dengan  7 Jesta 604 Saka (19 Mei 682 Masehi).

Perjalanan Kejayaan (jayasiddhayatra) ini berakhir di perairan Sungai Musi, yang saat ini dikenal sebagai wilayah disekitar Kota Palembang, pada 16 Juni 682 Masehi (sumber : makna prasasti kedukan bukit dan ).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Kehadiran Islam di tanah Sumatera, diperkirakan sudah ada sejak abad pertama hijriah. Hal tersebut ditandai dengan ditemukannya makam Tuan Syekh Rukunuddin, dari tahun ha-mim. Berdasarkan sistem nilai numerik bangsa arab, ha = 8 dan mim = 40, sehingga makna dari ha-mim adalah 8 + 40 = 48 Hijriyah.

Didukung legenda masyarakat Sumatera Selatan yang bercerita, tentang munculnya awal Pusat Dakwah Islam di Bukit Kaba (Kaf Ba) Bengkulu. Di dalam perhitungan numerik, Kaf = 20 dan Ba = 2, atau berarti 20 + 2 = 22 Hijriyah, yaitu di masa Khalifah Umar ra. (13-23 H).

Artikel Sejarah Nusantara :
1.  
2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

[Misteri Segitiga Matematis] Masjid Muara Ogan – Bukit Siguntang – Masjid Agung Palembang ?

Dengan menggunakan Google Maps, akan ditemukan jarak antara Masjid Muara Ogan (1 Ulu Palembang) ke Masjid Agung Palembang, akan sama dengan jarak antara Masjid Muara Ogan ke Bukit Siguntang.

Dan apabila diambil titik tengah antara Masjid Agung dengan Bukit Siguntang, berdasarkan kepada segitiga sama kaki yang terbentuk, akan ditemukan lokasi Masjid Al-Maghfiroh 30 ilir Palembang.


Kiai Marogan ahli dalam perhitungan rumit

Pendiri Masjid Muara Ogan adalah salah seorang ulama terkemukan Kota Palembang, yakni Kiai Marogan (Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud). Di namai Muara Ogan dikarenakan posisi masjid ini berada di muara sungai ogan, salah satu percabangan Sungai Musi.

Masjid Muara Ogan yang posisinya memiliki jarak yang sama, saat diukur dari Masjid Agung dan Bukit Siguntang, disinyalir bukan satu kebetulan. Kiai Marogan selain dikenal ahli di bidang ilmu Fiqih, ia juga sangat mengerti perhitungan-perhitungan rumit matematis dalam ilmu Falaq (ilmu peredaran benda alam). Dan dimasa hidupnya, beliau sempat membuat jadwal waktu shalat berdasarkan ilmu falaq yang dikuasainya (sumber : kyaimarogan).

Dalam buku karya Martin van Bruinessen, yang berjudul “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat”, Kiai Marogan dikategorikan sebagai salah seorang guru tarekat Sammaniyah. Ajaran tarekat ini dibawa Syekh Abdul ash-Shomad al-Palimbani murid pendiri tarekat Sammaniyah, yaitu Syekh Muhammad Abdul Karim Samman (sumber : sumeks.co.id).

Kiai Muara Ogan dilahirkan pada tahun 1811 M, ia mempelajari tarekat Sammaniyah dari Syekh Kiagus Muhammad Zain, yang merupakan murid dari Syekh Abdul ash-Shomad Palimbani (sumber : ).

Di kota Palembang Kiai Marogan meninggalkan wakaf 2 bangunan masjid yakni Masjid jami’ Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul, untuk sarana ibadah bagi kaum muslimin (sumber : palembang-tourism.com).

Selain itu, Kiai Marogan juga tercatat meninggalkan wakaf produktif, berupa 3 buah bangunan untuk pemondokan jamaah haji di kota suci Mekkah (Saudi Arabia). Pada setiap tahunnya, hasil sewa pemondokan tersebut oleh nadzir (pengelola) dibagikan kepada mauquf ‘alaih (penerima wakaf) yang telah ditetapkan oleh Kiai Marogan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Kiai Marogan, terhitung sebagai zuriat Sunan Giri, salah seorang walisongo di Indonesia, berikut silsilahnya :

Masagus Haji Abdul Hamid (Kiyai Marogan) bin
Mgs. Haji Mahmud Kanang bin
Masagus Taruddin bin
Masagus Komaruddin bin
Pangeran Wiro Kesumo Sukarjo bin
Pangeran Suryo Wikramo Kerik bin
Pangeran Suryo Wikramo Subakti bin
Sultan Abdurrahman bin
Pangeran Sedo Ing Pasarean bin
Tumenggung Manco Negaro bin
Pangeran Adipati Sumedang bin
Pangeran Wiro Kesumo bin
Sayyid Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)

Sumber : tauhidsamaniah

Artikel Menarik :
1. Dr. Osama Al-Bar, walikota Makkah keturunan Sunan Giri ?
2. [Misteri] Simbolisasi Ma-liki, Ma-luku dan Ma-laka menuju Kejayaan Nusantara ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi warna Kemerahan?
4. [Misteri] Rekening Bank milik Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu, dengan Potensi Income Tahunan mencapai 50 juta Riyal ?

[Misteri] Satrio Piningit, Simbolisasi Bukit Siguntang dan Zuriat Sunan Giri ?

Di dalam Kitab Musarar Joyoboyo, mengidentifikasi kehadiran Satrio Piningit (Ratu Amisan) yang bakal datang dari “… perak lan Gunung Perahu, sakulone tempuran (dekat Gunung Perahu, sebelah barat tempuran)… “.

Di kalangan masyarakat, ada dugaan yang dimaksud Gunung Perahu adalah Gunung Tangkupan Perahu, namun sayangnya disekitar daerah itu tidak ditemukan tempuran atau pertemuan 2 (dua) sungai (sumber : satrio piningit).

Kitab Musarar bukan Ramalan Masa Depan

Kitab Musarar merupakan hasil gubahan dari Sunan Giri Prapen, yang oleh beberapa kalangan dipercaya bersumber dari Jangka Prabu Jayabaya Kediri.

Banyak yang meyakini Kitab Musarar ini berisikan sandi (perumpamaan) dari para waliyullah, yang apabila dipelajari mengandung manfaat bagi kehidupan masyarakat Nusantara di masa mendatang.

Dan keliru kalau dikatakan Kitab Musarar merupakan ramalan masa depan. Kitab Musarar sejatinya adalah konsep ketatanegaraan yang apabila diterapkan, akan menghasilkan masyarakat adil dan makmur, yang digambarkan dalam sosok Ratu Adil.

Simbolisasi Kitab Musarar, terlihat pada penggambaran tentang kehadiran Satrio Piningit (Satrio Penolong Tersembunyi), yang kemunculannya akan menandai munculnya Ratu Adil.

Simbolisasi Gunung Perahu, Tempuran dan Sebelah Barat

Pada Kitab Musarar, terdapat bait sebagai berikut :

Prabu tusing waliyulah, Kadhatone pan kekalih, ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan gunung Perahu, sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad. (sinom 28).

Terjemahan :

Raja keturunan waliyulah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawi (Nusantara). Letaknya dekat dengan Gunung Perahu, sebelah barat tempuran (pertemuan 2 sungai). Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal di dunia.

Gunung Perahu adalah simbolisasi dari Bukit Siguntang, yang merupakan dataran tinggi di wilayah Kota Palembang, dengan ketinggian mencapai 27 meter. Uniknya bukit itu, berada ditengah daerah yang berair (rawa-rawa). Sekilas Bukit Siguntang akan terlihat seperti daerah yang terapung, mirip perahu di atas air.

Sementara tempuran yang dimaksud adalah tempat pertemuan antara sungai musi dan sungai ogan, yang lokasinya tidak jauh dari Bukit Siguntang. Dan tepat disebelah baratnya terdapat Masjid Muara Ogan, yang didirikan oleh Kiai Marogan, seorang waliyullah di Kota Palembang.

Makna Bukit Siguntang merupakan saksi atas awal kejayaan Kedatuan Sriwijaya, yang ditandai dengan ditemukannya Prasasti Kedukan Bukit di kaki Bukit Siguntang. Sementara  makna tempuran Sungai Ogan dan Sungai Musi, adalah lambang persatuan masyarakat Nusantara, dimana berabad-abad yang lampau pernah berkumpul 20.000 balatentara dipimpin oleh Dapunta Hyang Jayanasa.

Makna Simbolisasi :

Pesan yang ingin disampaikan adalah untuk menuju Kejayaan (disimbolkan dengan Bukit Siguntang Sriwijaya), syaratnya adalah dengan persatuan (disimbolkan dengan tempuran dua sungai).

Persatuan yang terjalin, hendaknya didasarkan kepada ikatan ukhuwah Islamiyah yang kuat, dengan simbol sebelah barat, atau simbolisasi dari posisi arah kiblat (Kota Makkah), yang semakin diperjelas dengan berdirinya bangunan Masjid di wilayah itu.

Dan bukan satu kebetulan, kalau disekitar tempuran Sungai Ogan dan Sungai Musi, yakni daerah 1 ulu, 2 ulu (perigi besak), 3 ulu dan sungai goren, banyak bertempat tinggal keluarga Kesultanan Palembang Darussalam, yang zuriatnya berasal dari Sunan Giri salah seorang walisongo di Nusantara.

Bahkan sebagian dari penduduknya ada yang kemudian hijrah ke kota Makkah, dimana salah satu keturunannya pada saat ini menjadi walikota Makkah, yakni Dr. Osama Al Bar (sumber : Dr. Osama Al-Bar, walikota Makkah keturunan Sunan Giri ?).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Bukit Siguntang, sejak berabad-abad sudah menjadi tempat berlabuhnya perahu dan kapal. Demikian halnya dengan peristiwa perjalanan Dapunta Hyang Jayanasa tahun 683 Masehi, bersama 20.000 balatentara, dengan ribuan perahu (kapal), juga melewati kaki bukit Siguntang.

Dengan demikian simbolisasi Gunung Perahu sangat sesuai dengan keadaan Bukit Siguntang Palembang. Bahkan pada saat ini, di kaki Bukit Siguntang telah ditemukan situs pelabuhan kuno.

2. Prabu Jayabaya (Jayabhaya) memiliki hubungan historis dengan Sriwijaya, dimana salah seorang raja sebelum masanya, yaitu Raja Erlangga menikah dengan Putri Sriwijaya.

Sebagai hadiah pernikahan Sang Raja Erlangga, dibuatlah kitab berjudul Arjunawiwaha (Perkawinan Arjuna), yang merupakan karangan dari Empu Kanwa.

3. Berdasarkan penyelusuran Genealogy, Raja Erlangga menurunkan putra Sri Samarawijaya, Sri Samarawijaya menurunkan putra Sri Samarotsaha, Sri Samarotsaha menurunkan putra Sri Bameswara, Sri Bameswara menurunkan putra Sri Jayabhaya (sumber : siwisang, wikipedia.org).

Hubungan kekerabatannya, bisa terlihat dalam diagram silsilah berikut :

 

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam, berada di Makam Rasulullah
2. [Misteri] Simbolisasi Ma-liki, Ma-luku dan Ma-laka menuju Kejayaan Nusantara ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi warna Kemerahan?
4. [Misteri] Rekening Bank milik Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu, dengan Potensi Income Tahunan mencapai 50 juta Riyal ?

Dr. Osama Al-Bar, walikota Makkah keturunan Sunan Giri ?

Dalam status di Facebook, Gubernur DKI Jakarta Terpilih Anies Baswedan, bercerita tentang pengalamanannya saat menjalankan ibadah umroh.

Di tanah suci Makkah, Anies bertemu dengan walikota Makkah Dr. Osama Al Bar, yang ternyata masih keturunan Palembang (Sumber : Anies Baswedan, thebusinessyear.com).


Guguk 2 Ulu Perigi Besak

Dari penyelusuran diperoleh informasi ibunda dari Dr. Osama Al Bar adalah seorang Raden Ayu dari Guguk 2 Ulu (Perigi Besak) Palembang.

Keluarga Kesultanan yang tinggal di Guguk 2 Ulu, sebagian besar merupakan keturunan dari Pangeran Citromenggalo yaitu anak Pangeran Arya Kesumo Cengek bin Pangeran Purbayo bin Sultan Muhammad Mansyur (Pangeran Jayo Dilago) (sumber : catatan al falimbani, diskusi grup palembang).

Berdasarkan kepada catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (ulama yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur, 1706 – 1714 ), terdapat Nasab sebagai berikut :

Raden Ario (Sultan Muhammad Mansur Jayo ing lago) bin Sultan Abdul Rakhman Kyai Mas Hindi Sayidul iman Sunan Cinde Welang bin Jamaluddin Mangkurat Kyai Gede ing Pasarean bin Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara bin Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri (sumber : Silsilah Palembang, dalam Tarsilah Brunei).

Dari catatan Nasab tersebut, Sultan Muhammad Mansyur yang merupakan leluhur Dr. Osama Al Bar, terhitung masih keturunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri), salah seorang wali songo di Nusantara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1.  Keberadaan zuriat Sunan Giri di Palembang, ditandai dengan hijrahnya salah seorang keturunan Sunan Giri bernama Pangeran Manco Negoro, yang kemudian menikah dengan Nyai Gede Pembayun binti Ki Gede ing Suro Mudo (memerintah Palembang, 1580-1581).

Anak dari Nyai Gede Pembayun bernama Pangeran Seda ing Pasarean, kemudian memerintah Palembang 1642-1643. Selanjutnya anak dari Pangeran Seda ing Pasarean, yang bernama Ki Mas Hindi dikenal sebagai pendiri Kesultanan Palembang Darussalam di tahun 1659, dengan gelar Sultan Abdurrahman.

Artikel Menarik :
1. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah
2. [Misteri] Simbolisasi Ma-liki, Ma-luku dan Ma-laka menuju Kejayaan Nusantara ?
3. [Penjelasan Logis] Misteri Kubah Makam Nabi Muhammad, yang berubah menjadi Kemerahan?
4. [Misteri] Rekening Bank milik Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu, dengan Potensi Income Tahunan mencapai 50 juta Riyal ?