Tag Archives: persatuan

Persaudaraan, awal dari Kemenangan

Ketika Rasulullah SAW telah sampai di Madinah, setelah hijrah dari Makkah, Rasulullah SAW berniat membangun ukhuwah islamiyah di antara umat beriman. Rasulullah SAW mempersaudarakan para pengikut setianya, antara satu dengan yang lainnya, yang umumnya antara kaum Anshar dan Muhajirin.

Banyak hal yang unik sekaligus mengharukan dari jalinan persaudara tersebut. Persaudaraan yang tidak mengenal kelas sosial. Misalnya saja, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang bangsawan Bani Hasyim dan sekaligus paman Rasulullah SAW dipersaudarakan dengan seorang mantan budak Zaid bin Haritsah. Satu hal yang tidak akan mungkin terjadi di zaman jahiliah.

Mush’ab bin Umair seorang mubaligh Islam pertama yang dikirim Rasulullah SAW ke Madinah, dipersaudarakan dengan Abu Ayyub al-Anshari, orang paling miskin di Madinah yang menyediakan rumahnya bagi Rasulullah SAW, sebelum Rasulullah SAW memiliki rumah sendiri, ketika baru sampai di Madinah.


Abdurrahman bin ‘Auf yang tidak membawa apa-apa ketika berhijrah, dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, seorang hartawan dari kalangan Anshar. Lalu Ja’far bin Abu Thalib dengan Muaz bin Jabal, Abubakar dengan Kharijah bin Zuhair, Umar bin Khattab dengan Utbah bin Malik dan lain sebagainya. Ibnu Qoyyim menuturkan, mereka yang dipersaudarakan ada 90 orang.

Hubungan persaudaraan antara kaum Anshar (umat Islam di Madinah) dengan kaum Muhajirin (umat Islam di Makkah), merupakan langkah strategis yang dilakukan Rasulullah SAW demi meneguhkan semangat kebersamaan dan persaudaraan sebagai sesama muslim di kalangan sahabat.

Langkah Rasulullah SAW ini semakin menyatukan kaum beriman ke dalam satu barisan yang kokoh. Tujuannya untuk mencapai kesepakatan yang mengikuti pola dan panduan Allah SWT. Sesama manusia itu memiliki derajat yang sama. Hanya tingkat ketakwaannya semata yang membedakannya di mata Allah SWT.

Iklan

Khilafah bukan hal tabu

Peristiwa yang paling menyakitkan bagi umat Islam di seluruh dunia, yaitu runtuhnya Khilafah, tanggal 28 Rajab 1342 H, bertepatan dengan 3 Maret 1924. Telah banyak upaya yang dilakukan umat Islam, untuk memunculkan kembali khilafah Islamiyah. Sayangnya, usaha itu sepertinya selalu gagal di tengah jalan.

Apa sebabnya? Dan mungkinkah Khilafah Islamiyah, akan muncul kembali?

Sebagai kaum beriman, umat Islam wajib untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ini sesuai dengan yang dinyatakan dalam QS Yusuf ayat 87,

Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

Cita-cita akan kebangkitan khilafah Islamiyah hendaknya juga dibarengi kemauan dan usaha yang sungguh-sungguh. Tidak mungkin memunculkan kembali kejayaan Islam yang penuh damai dan menjadi rahmat atas sekalian alam tanpa perjuangan dan semangat membara.

Sebagaimana firman Allah, di dalam QS. Al Anbiya ayat 107,
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.


Kejayaan Umat Muslim

Keyakinan atas kembalinya kejayaan Islam, bukan tanpa alasan. Bukankah Allah SWT sudah berjanji akan menjadikan kaum beriman sebagai pewaris di bumi, seperti yang tersurat dalam QS. Al Anbiya ayat 105 :

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) dalam Az Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.

Selain itu, juga tergambar di dalam beberapa hadits Rasulullah SAW semuanya mengilustrasikan tentang kejayaan kaum muslimin, di antaranya sebagai berikut.

Sabda Nabi Muhammad SAW,
Sesungguhnya Allah telah melipatkan bumi ini bagiku, lalu aku dapat melihat yang paling timur dan barat. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kepada apa yang telah dilipatkan untukku itu.” (HR. Muslim 8/171, Abu Dawud 4252, Tirmidzi 2/27, Ibnu Majah 2952, Ahmad 5/278 dan 284 dari Hadits Tsauban dan Syadad bin Aus)

Hadist lainnya,
Sungguh perkara Islam ini akan sampai ke bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan Ad-Din ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulia dan menghinakan yang hina, yakni memuliakannya dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran.” (HR. Imam Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya, Imam Abu ‘Arubah di dalam Kitab Al Muntaqa minath Thabaqat, Hadits ini juga diriwayatkan para ulama Ahlu Hadits yang terkenal. Kedudukan Hadits tersebut berderajat shahih).

Khilafah Islamiyah bukanlah hal yang tabu dan aneh bagi masyarakat dunia. Bukankah saat ini, umat Katolik memiliki jaringan yang mengglobal dengan sistem kepausannya?

Mengapa umat Islam harus ragu dengan sistem khilafahnya? Bukankah kaum muslimin pada setiap tahunnya, melaksanakan wukuf di Arafah? Bukankah itu merupakan bukti lambang persatuan umat Islam sedunia? Pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh lintasan waktu.

Ratu Adil, menunggu kita siap…

Siapakah gerangan Ratu Adil itu?!

Tidak sedikit yang meyakini, bahwa kelak akan muncul seorang imam atau pemimpin, yang akan mengembalikan kejayaan Islam, di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Dari keyakinan tersebut melahirkan berbagai dugaan serta prediksi siapa-siapa yang akan menduduki posisi sebagai pemimpin tersebut.

Dari kalangan Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah beranggapan, imam yang dimaksud adalah Al Mahdi Al Muntazhar. Sosok yang telah mengalami ghaibah kubra (kegaiban besar) di tahun 329 H.

Sementara itu dari kalangan Ahmadiyah beranggapan imam tersebut tidak lain adalah pemimpin mereka Mirza Ghulam Ahmad. Selain itu, banyak sosok lain yang dianggap akan menduduki posisi tersebut.

Di Indonesia, kepercayaan tersebut memunculkan adanya Mahdi-isme yang dikenal dengan istilah ‘Ratu Adil’. Beberapa peristiwa yang berkaitan dengan hal ini adalah sebagai berikut.

Pada tahun 1924 M, saat muncul gerakan Ratu Adil yang dipimpin Ranajemika.

Pada tahun 1935 M muncul lagi di Wanagiri dipimpin oleh Kyai Wirasanjaya.

Pada awal abad ke-21 ini, gerakan ini muncul lagi melalui Jama’ah Salamullah, yang dipimpin oleh Lia Aminuddin.

Keberadaan Mahdi-isme ini, oleh mereka yang percaya dilandasi pada beberapa isyarat yang disampaikan Rasulullah. Isyarat tersebut mengabarkan akan munculnya seorang pemimpin yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kebenaran.

Namun sayangnya, sering kali dalil-dalil yang dikemukakan, ditafsirkan sedemikian rupa sehingga memunculkan sosok-sosok secara personal. Masing-masing kelompok berusaha memberikan penafsiran ‘Sang Pemimpin’ itu adalah seseorang dari kalangan kelompok mereka. Dengan banyaknya kelompok yang berkembang di lingkungan masyarakat, jadi makin simpang siurlah makna ‘Sang Pemimpin’ itu.

Demikian simpang siurnya berita dan penokohan sosok-sosok secara personal, sampai-sampai Ibnu Khaldun angkat bicara. Beliau berpendapat bahwa hadits-hadits berkenaan dengan Imam Mahdi, semuanya tidak dapat dijadikan pegangan.

Hendaknya dalam mencari seorang Ratu Adil, kita menteladani penyelenggaraan sholat berjama’ah di suatu masjid. Di saat orang-orang berdatangan menuju ke masjid, mereka tidak memikirkan siapa yang bakal menjadi imam atau pemimpin sholat. Begitu waktu sholat tiba, dengan sendirinya dari jama’ah yang hadir, pasti akan muncul seorang imam yang akan memimpin sholat.

Ini berlaku pula dalam hal kepemimpinan umat secara lebih luas. Yang terpenting bukan persoalan imamnya. Imam bisa muncul dengan analogi seperti di atas. Untuk itu, ‘mau atau tidak’ umat Islam untuk berjamaah dalam satu kepemimpinan, untuk secara bersama-sama menuju cita-cita yang didamba, mewujudkan kejayaan umat Islam di seluruh dunia.

Gambaran ini telah ada di dalam QS. At Taubah ayat 33,

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”

Di saat umat Islam telah bersepakat untuk menyatukan potensi, dengan selalu berpedoman kepada Kitabullah Al Qur’an dan Sunah Rasulullah di dalam setiap langkahnya, ‘Sang Imam’ dalam kepemimpinan ‘Ratu Adil’, tanpa harus dicari dan ditunggu, akan muncul dengan sendirinya.

Artikel Terkait
01. Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta
02. Misteri Leluhur Bangsa Jawa
03. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Peristiwa Hijrah, Siyasah Rasul dalam Mempersatukan Ummat

Muhammad Rasulullah adalah Uswatun Hasanah (QS.33:21), yang menjadi acuan bagi ummat Islam dalam bertindak, salah satunya peristiwa Hijrah.

Makna Peristiwa Hijrah

Pada tulisan yang dimuat dalam Majalah Mimbar Ulama Nomor 7, bulan Januari 1977, yang berjudul “Hijrah Nabi ke Madinah penuh hikmah bagi Mujahidin”, H. Sudirman menulis:
Hijrah Nabi tidak dapat dinilai sebagai “Lari Dari Medan Laga” yang amat dikutuk oleh Allah s.w.t., sebagaimana Hadits Nabi yang menegaskan : Tiga perkara tidak memberi manfaat serta amalan, yaitu : menyekutukan Allah, durhaka kepada Bapak dan Ibu dan Lari dari Barisan.

Selanjutnya dibagian lain, Ia menulis : “Hijrah Nabi ke Madinah hendaknya dipandang sebagai gerakan taktis untuk mencari Medan bagi Ruang Gerak yang lebih baik.

Perpindah dari Makkah ke Madinah, adalah suatu medan yang dipilih sendiri oleh Allah s.w.t.. Madinah adalah tempat yang memiliki ruang gerak yang baik karena telah dipersiapkan oleh Rasulullah, khususnya dengan telah dibuatnya perjanjian saling bantu membantu antara Rasulullah sendiri dengan orang Madinah dari suku Khazraj dan suku Aus (melalui dua perjanjian di Aqobah, yang disebut Baitul Aqobah).

Dengan demikian, bila kita kaji lebih dalam. Ketika Rasulullah Hijrah, sesungguhnya Rasulullah bersama kaum beriman, telah berpindah dari suatu keadaan yang kurang baik kepada keadaan yang lebih baik. Serta berhasil memadukan langkah dua kelompok kaum beriman, yaitu antara Muhajirin di Makkah dengan Anshar di Madinah. Jadi Hijrah dapat diartikan sebagai penyatuan potensi orang beriman, dalam upaya melaksanakan Jihad, sebagaimana firman Allah (Surah At Taubah (9) ayat 20).

Kegemilangan Siyasah Rasulullah

Gerakan taktis ini merupakan salah satu contoh dari Siyasah yang dilakukan Rasulullah. Hasilnya dalam masa yang tidak terlalu lama, telah menghasilkan sesuatu yang sangat menakjubkan.

Bukti keberhasilan Rasulullah dapat terlihat dari jumlah kaum Muslimin yang terus bertambah sejak beliau berhijrah. Saat Rasulullah melaksanakan Hijrah, beliau hanya diikuti sekitar 200 orang.

Tetapi 8 tahun kemudian, yaitu dalam penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah), tanggal 10 Ramadhan 8 H, Nabi memimpin sekitar 10,000 tentara, dan ketika Rasulullah melaksanakan Haji Wada’, beliau berangkat dengan sekitar 100.000 sahabat. Dan sekarang, diperkirakan jumlah ummat muslim sedunia sekitar 1,3 milliar jiwa.

Sejarah Kelam, Perpecahan Umat Islam

Kita semua tentu pernah mendengar kata wukuf, yang merupakan salah satu rukun ibadah haji. Kalau meninggalkan wukuf, berarti ibadah haji tidak sah secara syar’i. Wukuf di Padang Arafah menjadi tempat berkumpulnya jutaan manusia dari berbagai belahan dunia.

Peristiwa wukuf ini melambangkan Islam adalah umat yang satu. Umat yang tidak dipisahkan oleh perbedaan mazhab, aliran politik, dan kebangsaan.


Perpecahan Umat

Sering kali kita mendengar, umat Islam ribut gontokan sana-sini hanya karena perbedaan paham yang sepele. Perbedaan paham tersebut sering kali jadi kegiatan anarkis yang berakhir tragis.

Sungguh hal yang mestinya kita sebagai umat Islam malu, karena sebenarnya Islam adalah rahmatan lil ’alamin, rahmat bagi seluruh alam. Islam adalah agama yang membawa konsep fitrah sesuai dengan nilai-nilai hakiki kemanusiaan.

Sejarah kelam tentang perpecahan di antara umat Islam ini, dimulai dari peperangan antara pengikut Ali bin Abi Thalib dengan pengikut Mu’awiyah, yang dikenal dengan nama Perang Shiffin. Pada peperangan tersebut tentara Ali tewas 35.000 orang dan tentara Mu’awiyah tewas 45.000 orang.

Kemudian disusul dengan peristiwa jatuhnya Baghdad, yang diserang oleh bangsa Mongol (pasukan Tartar yang dikenal sebagai bangsa yang bengis dan tidak berperikemanusiaan). Ini terjadi karena perbedaan pandangan antara khalifah yang orang Sunni dengan wasir besar (perdana menteri) yang orang Syi’ah.

Perkelahian penganut Mazhab Syafi’i dengan Mazhab Hanafi juga telah menghancurkan Negeri Merv sebagai pusat ibukota wilayah Khurasan.

Di abad ke-15 M, terjadi pertarungan Kerajaan Turki dengan Kerajaan Iran. Dengan terang-terangan kedua pihak mengatakan bahwa mereka berperang untuk mempertahankan kesucian mazhab mereka masing-masing. Turki dengan Mahdzab Sunnni Hanafi dan Iran dengan Mahdzab Syi’ah.

Betapa mengerikan perpecahan itu!


Semangat Wukuf

Padahal dengan semangat wukuf yang dilakukan setiap tahun oleh kaum muslimin, hendaknya membuat kita semakin bersatu. Umat Islam pada hakikatnya adalah satu, yakni pengikut Nabi Muhammad SAW. Dengan pedoman yang sudah jelas, Al Qur’an dan Al Hadist dari Rasulullah SAW yang shahih.

Begitulah contoh-contoh masalah beda persepsi yang sering kali berujung pada aksi anarkis dan menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Sungguh disayangkan.

Padahal, sekiranya mereka yang beda persepsi tersebut sedikit berpikir lebih jernih, tentu tidak akan seperti itu kejadiannya. Besar kemungkinan mereka bisa menghindari kerusakan dan perpecahan yang membawa pada kehancuran massal.

Rasulullah SAW sudah mengingatkan umatnya agar waspada terhadap perpecahan. Perpecahan hanya akan menimbulkan kelemahan dan akan berakhir dengan kekalahan. Selain itu, perpecahan sering jadi sebab adanya pihak-pihak tertentu yang ingin menjatuhkan pihak-pihak yang lainnya. Masih ditambah pula akan adanya adzab dari Allah SWT.

Aturan ini begitu jelas dalam QS. Ali Imran ayat 105,

Dan janganlah kamu menjadi seperti orang yang tercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat adzab yang berat.

Hendaknya, kita sama-sama mantapkan diri, untuk selalu membawa semangat persatuan dan kesatuan. Kalau pun ada perbedaan, janganlah kita berfokus pada perbedaan. Marilah kita melihat pada sisi di mana persamaanhnya, yang dapat ditemukan dan mempersatukan kita.