Tag Archives: puasa

Kota Arctic (Swedia), fenomena berpuasa di daerah yang sepanjang waktu “matahari bersinar” ?

swedia1

Di bagian utara Skandinavia, di mana matahari tidak pernah tenggelam di musim panas, umat Islam harus mencari cara alternatif dalam berpuasa. Dan mereka telah menemukan caranya.

Sekitar 700 Muslim di kota Arctic, Kiruna, Swedia memilih berpuasa menyesuaikan dengan jam puasa kota suci Mekah yang mereka anggap sebagai panduan utama.

Sementara yang lain cenderung berpuasa menurut waktu di Stockholm, di mana matahari benar-benar tenggelam. Meski pun untuk beberapa jam setelahnya matahari terbit kembali.

Sumber Artikel :
Di Negara Ini, Buka Puasa dan Sahur Dilakukan Siang Hari

Iklan

Shalat Tarawih, adalah Shalat Tahajud di Bulan Ramadhan ?

Di dalam salah satu tulisannya, di harian umum Republika, Dr Muhammad Hariyadi, MA, menulis :

Rasulullah tercatat tiga kali melakukan shalat tarawih di masjid yang diikuti oleh para sahabat pada waktu lewat tengah malam. Khawatir shalat tarawih diwajibkan karena makin banyaknya sahabat yang turut berjamaah, pada malam ketiga Rasulullah lalu menarik diri dari shalat tarawih berjamaah dan melakukannya sendiri di rumah.

Pada saat selesai Shalat Subuh beberapa hari kemudian beliau menyampaikan konfirmasi :

Sesungguhnya aku tidak khawatir atas yang kalian lakukan pada malam-malam lalu, aku hanya takut jika kegiatan itu (tarawih) diwajibkan yang menyebabkan kalian tidak mampu melakukannya.” (HR. Bukhari).

Sumber :
Tarawih, bukan pada hitungan rakaat

Ada hal menarik, dari tulisan Dr Muhammad Hariyadi, MA di atas, yaitu Rasulullah mengerjakan Shalat “Tarawih” adalah disaat biasanya umat muslim melakukan ibadah Shalat “Tahajud”, yakni pada waktu lewat tengah malam.

tarawih2
Sejarah Shalat Tarawih

Di dalam  Al-Fatawa Al-Mukhtarah Thariqul Islam, Syekh Hamid bin Abdillah Al-Ali memberi keterangan sebagai berikut :

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat, baik Tarawih maupun Tahajud, dinamakan Qiyamul Lail.

Khusus di bulan Ramadan, terkadang ‘Qiyamul Lail‘ disebut juga ‘Qiyam Ramadhan‘. Rasulullah bersama para sahabat, melaksanakan shalat selama satu bulan di waktu awal malam sampai akhir malam.

Kemudian, setelah itu, kaum muslimin di generasi setelah beliau melaksanakan shalat ketika bulan Ramadan di awal malam, karena ini keadaan yang paling mudah bagi mereka.

Mereka juga mengerjakan Qiyamul Lail di penghujung malam, terutama pada sepuluh malam terakhir, dalam upaya mencari pahala yang lebih banyak dan mendapatkan Lailatul Qadar.

Selanjutnya, mereka menyebut kegiatan shalat di awal malam setelah isya, dengan nama ‘Shalat Tarawih’, dan mereka menyebut shalat sunah yang dikerjakan di akhir malam dengan nama ‘Shalat Tahajud’.

Semua itu, dalam bahasa Alquran, disebut ‘Tahajud‘ atau ‘Qiyamul Lail‘, dan tidak ada perbedaan antara keduanya dalam bahasa Alquran.

Sumber :
Beda antara Tahajud dengan Tarawih

Dari uraian di atas, dapat kita pahami bahwa, istilah Shalat Tarawih, pada hakekatnya adalah Qiyamul Lail (yang biasa kita sebut sebagai Shalat Tahajud), yang waktu pelaksanaannya dikerjakan di bulan Ramadhan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan :

(-) Hadits tentang Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَتَحَدَّثُونَ بِذَلِكَ فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَذْكُرُونَ ذَلِكَ فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ رِجَالٌ مِنْهُمْ يَقُولُونَ الصَّلَاةَ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ثُمَّ تَشَهَّدَ فَقَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ شَأْنُكُمْ اللَّيْلَةَ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahyaa, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullaah bin Wahb, telah mengkhabarkan kepadaku Yuunus bin Yaziid, dari Ibnu Syihaab, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Urwah bin Az-Zubair bahwa ‘Aaisyah mengkhabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah keluar di tengah malam (bulan Ramadhan) kemudian beliau shalat malam di masjid, lalu shalatlah beberapa orang laki-laki mengikuti beliau. Maka orang-orang saling menceritakan kepada yang lainnya mengenai hal tersebut sehingga banyak dari mereka yang berkumpul. Pada malam yang kedua, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kembali keluar dan shalat bersama mereka dan orang-orang pun menyebutkan mengenai hal tersebut hingga pada malam yang ketiga jama’ah masjid semakin bertambah banyak dan Rasulullah keluar dan kembali shalat bersama mereka. Hingga pada malam keempat, masjid menjadi penuh oleh jama’ah namun Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak keluar kepada mereka, seorang lelaki dari jama’ah tersebut berseru, “Shalat!” Akan tetapi beliau tidak juga keluar hingga beliau keluar untuk shalat Fajr. Ketika beliau usai shalat Fajr, beliau menemui mereka, kemudian mengucapkan syahadat, beliau bersabda, “Amma ba’d, sesungguhnya tidak ada kekhawatiran dalam diriku mengenai kalian semalam, akan tetapi aku mengkhawatirkan hal itu (shalat malam) akan diwajibkan atas kalian, maka kalian tidak mampu melaksanakannya.”
[Shahiih Muslim no. 763; Shahiih Al-Bukhaariy no. 2012]

01. Siti Aisyah RA, menikah di usia 19 tahun
02. BIDADARI, sebagai pilihan LINGKUNGAN SOSIAL ?
03. [Misteri] 8.000 anggota Pasukan Mujahidin, yang bisa berjalan di atas air?

04. [Misteri] Kesaksian selama 14 malam berada di Makam Rasulullah?

Makna Simbolik, Sajian Menjelang Ramadhan

Sebelum ditemukannya layanan SMS (Short Message Service), ternyata masyarakat Jawa, telah memiliki teknologi tersendiri, untuk menyampaikan pesan…

Hal ini terlihat pada kebiasaan masyarakat di Jawa. Di saat menjelang bulan Ramadan, mereka biasanya saling mengirimkan makanan satu sama lainnya, di antara tetangga, kerabat, dan handai taulan.

Nah, biasanya yang dikirim itu menu makanan berbagai jenis sesuai dengan keumuman di lingkungan masing-masing.

Tapi, pasti ada tiga jenis menu makanan yang selalu ada dalam tradisi religi di Jawa, yaitu :

ketan (makanan dari beras ketan), kolak (makanan yang terdiri dari berbagai jenis isi; bisa pisang, ketela, dll yang dimasak dengan santan dan gula aren atau gula merah hingga manis), dan apem (kue yang berasal dari tepung beras, berwarna-warni, dan biasanya juga dalam berbagai bentuk; rasanya manis).

kolak1

Kalau tidak jeli, biasanya sebagian masyarakat menganggap tradisi ini adalah peninggalan nenek moyang atau leluhurnya orang Jawa. Padahal, sebenarnya ini tradisi religi yang memiliki makna sangat mendalam. Mau tahu apa maknanya?

Ketan sebenarnya bermakna khatam atau tamat alias penghabisan. Ini merupakan penggambaran terhadap umat terakhir, yaitu umatnya Nabi Muhammad. Kolak punya arti qala yang berarti berucap atau berkata. Apem sebenarnya punya arti afwan atau maaf atau kerennya minta ampun.

Jadi, kalau diruntutkan satu sama lain ada satu pesan yang mau disampaikan dalam tradisi religi menjelang Ramadan di lingkungan masyarakat Jawa. Pesannya secara lebih detail bisa digambarkan seperti

Wahai pengikut Nabi Terakhir, umat yang penghabisan…! Perbanyaklah berucap memohon ampunan kepada ALLAH. Lebih-lebih di bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah ini.

Benar-benar indah kan pesannya? Nah, tradisi ini sebenarnya dilandasi oleh firman ALLAH dalam QS An Nisa ayat 106,

Dan mohonkanlah ampunan kepada Allah. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Unsur Islam di dalam tradisi lokal itu sebenarnya bentuk kreativitas dari para pendakwah dan penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Ada yang pro dan kontra dengan cara-cara seperti ini. Yang setuju menganggap ini adalah bentuk penghormatan pada tradisi lokal. Sedangkan yang tidak setuju menganggap unsur tradisi lokal bisa merusak kemurnian ajaran Islam. Lepas dari sikap pro dan kontra itu, kita mesti selalu ingat bahwa kita tidak boleh berlebih-lebihan dalam memandang tradisi dan budaya, hingga seolah-olah setara dengan ibadah yang diwajibkan oleh Allah. Aturan ini bisa kita lihat dalam QS Lukman ayat 21,

Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah!’ Mereka menjawab, ‘(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka (akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun sebenernya setan menyeru mereka ke dalam azab api yang menyala-nyala (neraka)?

Jadi, kita tetap boleh kok menghormati tradisi lokal. Yang penting semua itu tidak bertentangan dengan aturan-aturan di dalam Islam.