Tag Archives: sriwijaya

[Misteri] Bukti Kedatuan Sriwijaya di tahun 682 M, mencakup 62,28 % masyarakat Asia Tenggara ?

Pada tahun 2013, jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa, dengan  personil tentara (TNI) sebanyak 438.410, atau perbandingan antara jumlah tentara dengan penduduk 1 : 570 (sumber : merahputih.com, republika.co.id).

kedukanbukit001
Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit tahun 682 M, jumlah pasukan kerajaan Sriwijaya  mencapai 20.000 tentara (sumber : wikipedia.org). Dengan berdasarkan perbandingan tentara dengan jumlah penduduk [1 : 570], diperkirakan total rakyat Sriwijaya sekitar 11.400.000 jiwa.

Penduduk bumi pada tahun 600an masehi diperkirakan mencapai 208.000.000 jiwa. Jika penduduk nusantara (asia tenggara) ketika itu adalah 8,8 % dari total penduduk dunia, maka penduduk Asia Tenggara pada masa itu adalah 18.304.000 jiwa (sumber : wikipedia.org, penduduk asia tenggara).

Dengan berdasarkan data diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa Penduduk Kedatuan Sriwijaya di tahun 682 M, merupakan 62,28 % dari masyarakat di Asia Tenggara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Di beberapa negara, perbandingan tentara dengan jumlah penduduk agak lebih kecil dibandingkan Indonesia. Negara Amerika Serikat dengan jumlah penduduk 321.368.864 jiwa memiliki tentara sebanyak 1.400.000 personil atau 1 : 229,5, sedangkan Rusia jumlah penduduk 142.423.773 jiwa memiliki tentara sebanyak 766.055 personil atau 1 : 185,9 (sumber : military power).

Apabila dengan berpatokan kepada data personil militer Amerika Serikat, maka didapat jumlah rakyat Kedatuan Sriwijaya sekitar  4.590.000 jiwa atau 25% dari masyarakat Asia Tenggara ketika itu.

Dan apabila yang menjadi patokan adalah perbandingan tentara di negara Rusia, maka didapat jumlah rakyat Kedatuan Sriwijaya sekitar 3.718.000 jiwa atau 20,3% dari penduduk Asia Tenggara pada masa itu.

2. Pada tahun 1227, diperkirakan jumlah Pasukan Mongol mencapai 129.000 tentara dari sekitar 5.000.000 penduduknya atau 1 : 38,75 (sumber : History of The Mongols, Population of Mongolia).

Apabila berpatokan kepada data tentara pasukan mongol, maka didapat jumlah rakyat Kedatuan Sriwijaya sekitar 775.000 jiwa atau 4,23% dari rakyat yang bermukim di Asia Tenggara.

Artikel Menarik :
1. Bukti Kerajaan Sriwijaya wilayahnya mencapai Benua Afrika?
2. [Google Maps] Rute Balatentara Sriwijaya, tahun 604 Saka (682 M) ?
3. Berdirinya Kedatuan Sriwijaya, dampak Letusan Krakatau tahun 535M ?
4. Silsilah Dapunta Hyang Jayanasa (Pendiri Sriwijaya), berdasarkan Naskah Sunda Kuno?

[Google Maps] Rute Balatentara Sriwijaya, tahun 604 Saka (682 M) ?

Sejarawan H Boedhani di dalam bukunya “Sejarah Sriwijaya”, menegaskan bahwa Pendiri Kerajaan Sriwijaya berasal dari sebuah negeri di pantai barat yang bernama Trikuntanilaya (Sumber : Kerajaan Trikuntanilaya).

Diperkuat pendapat Profesor A Syalabi, Negara Sumatra (Swarnabhumi) tersebut telah berdiri pada tahun-tahun sebelum masehi. Negara Swarnabhumi ini, juga disebut-sebut dalam Naskah Sunda Kuno, “Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa” (Sumber : Silsilah Dapunta Hyang Jayanasa).

sriwijaya1
Parade Militer Sriwijaya

Berdasarkan informasi dari Prasati Kedukan Bukit, pada sekitar tahun 682 M, terjadi peristiwa yang sangat penting, yaitu berkumpulnya sekitar 20.000 balatentara Negeri Melayu Sriwijaya, dalam rangka “parade militer” dari Minanga sampai ke Muka Upang.

Peristiwa ini banyak memunculkan perdebatan dikalangan Sejarawan, terutama menyangkut lokasi Minanga yang merupakan titik awal pemberangkatan parade tersebut.

Dengan menggunakan Google Maps, kita coba menggambarkan, rute perjalanan pasukan Sriwijaya itu, berdasarkan alur sungai Musi, yang dihubungkan dengan Pusat Kerajaan Trikuntanilaya, yang diperkirakan berada di sekitar Gunung Dempo, yaitu wilayah Pagar Alam (Sumatera Selatan) dan Kabupaten Kaur (Bengkulu).

rutesriwijaya
Awalnya ribuan pasukan dari berbagai negara koalisi Sriwijaya, berkumpul di bandar pelabuhan Manna, Bengkulu. Kemudian mereka bergerak melalui jalur darat menuju Pusat Kerajaan Trikuntanilaya.

Di pusat kerajaan, dipimpin Dapunta Hyang Jayanasa, rombongan parade menuju Pangkalan Militer Minanga di ulu sungai Musi. Di sana sudah menunggu ribuan lagi tentara dari berbagai negara, baik dari Sumatera, Semenanjung maupun Jawa.

Dari Pangkalan Militer Minanga (diperkirakan pada saat ini, berada disekitar Kota Lahat, Sumatera Selatan), sekitar 20.000 balatentara Sriwijaya, menyelusuri Sungai Musi dengan menggunakan perahu (jalur air) dan sebagian pasukan lagi menggunakan jalur darat.

Parade militer berangkat dari Minanga pada tanggal 7 Jesta 604 Saka (19 Mei 682 M), setelah tiba di Muka Upang (saat ini lokasinya, berada di dekat Kota Palembang), Dapunta Hyang membuat ‘wanua’ pada tanggal 5 Asada 604 Saka (16 Juni 682 M) (Sumber : Prasasti Kedukan Bukit).

WaLlahu a’lamu bishshawab

[Misteri] Panglima Arya Damar bukanlah Adipati Arya Dillah ?

Seringkali pemerhati sejarah, dibuat bingung dengan jati diri penguasa Palembang Arya Damar. Sekali waktu ia diceritakan sebagai Panglima Majapahit di tahun 1343 M, namun disisi lain sosok ini dikisahkan sebagai ayah angkat Raden Fatah, yang masa kehidupannya berjarak lebih dari 100 tahun.

Berdasarkan timeline, nampaknya ada dua sosok Arya Damar, yang sama-sama pernah menjadi pemimpin rakyat Palembang. Sosok pertama dikenal sebagai Panglima Majapahit Penakluk Pulau Bali, sementara lainnya adalah seorang Birokrat Majapahit, yang menjadi mualaf melalui dakwah Sunan Ampel.

damar1
Panglima Arya Damar

Arya Damar adalah putera pejabat kerajaan Majapahit yang bernama Adwaya Brahman, sementara ibunya Dara Jingga, seorang putri Kerajaan Darmasraya. Diperkirakan Arya Damar lahir pada tahun 1294 M, merupakan keturunan dari Sri Muliwarman Raja di Sumatra.

Atas jasanya menumpas para pepatih di wilayah situlembang, ia diangkat menjadi Adipati di daerah itu tahun 1308 M (sumber : ratu-wijaya.blogspot.com dan sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com).

Nama Arya Damar ditemukan dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai Panglima Majapahit menaklukkan Bali pada tahun 1343. Bersama Gajah Mada, seluruh Pulau Bali akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Majapahit setelah pertempuran panjang selama tujuh bulan (sumber : wikipedia).

damar2
Adipati Arya Dillah

Pada tahun 1415 M, istri kedua Wikramawardhana yang bernama Bhre Mataram, melahirkan bayi yang diberi nama Arya Damar. Tidak lama setelah melahirkan, Bhre Mataram wafat, sehingga Arya Damar diasuh oleh uwaknya, yang bernama Ki Kumbarawa (sumber : siwisangnusantara.web.id).

Ketika Arya Damar menjadi Adipati Palembang tahun 1440M, ia kedatangan mubaligh Muslim bernama Ali Rahmatullah (Sunan Ampel, sumber : sumsel.kemenag.go.id). Setelah melalui diskusi yang cukup panjang, akhirnya Arya Damar menjadi seorang mualaf, dan memiliki nama baru Arya Dillah (Abdullah).

Sejarah mencatat, Adipati Arya Dillah ikut berperan dalam mengasuh anak angkatnya yang bernama Raden Fattah. Kelak di kemudian hari, Raden Fattah diangkat menjadi Sultan Demak oleh Walisongo pada tahun 1478 M (sumber : pusakaindonesia.org).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan

1. Hubungan kekerabatan antara Panglima Arya Damar dengan Adipati Arya Dillah, bisa dilihat pada skema silsilah berikut…

siguntang2
2. Pada versi lain, Adipati Arya Dillah dikisahkan sebagai putera Sri Prabu Kertawijaya, atau cucu dari Prabu Wikramawardhana. Sementara ibunya dalam versi ini bernama Endang Sasmitapura (sumber : id.rodovid.org).

3. Berkenaan dengan Demang Lebar Daun I-VII, berdasarkan kepada legenda, yaitu : ARIA DAMAR atau ARIA DILAH dikirim ke tanah asal nenek moyangnya yaitu Palembang, ia dinikahkan dengan anak Demang Lebar Daun dan diangkat menjadi raja (1445-1486).

Dikisahkan setelah Sultan Mutfi wafat, salah seorang keturunannya memindahkan pusat pemerintah di Lebar Daun bergelar DEMANG LEBAR DAUN hingga tujuh turun lebih….

Demang Lebar Daun (I) ini mempunyai seorang saudara kandung bergelar RAJA BUNGSU, dimana Raja Bungsu tersebut hijrah ke tanah Jawa, bergelar Prabu Anom Wijaya sampai tujuh turun pula. Keturunan Wijaya (Brawijaya) yang terakhir memiliki putera bernama ARIA DAMAR atau ARIA DILAH  (sumber : Legenda Bukit Siguntang).

sriwijaya11

 

[Misteri] Sosok Raja al-Hind (Kepulauan Hindia), yang bertemu dengan Rasulullah?

Di dalam Kitab Mustadrak al-Hakim (kitab al-‘At’imah), Vol. 4, p. 150 , diriwayatkan seorang raja dari Hind datang bertemu dengan Rasulullah. Sebagaimana hadis berikut :

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra. mengatakan bahwa seorang Malik al-Hind telah mengirimkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebuah tembikar yang berisi jahe.

Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi makan kepada sahabat– sahabatnya sepotong demi sepotong dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam-pun memberikan saya sepotong makanan dari dalam tembikar itu (HR. Hakim, sumber : India negeri unikquranandscience.com)

Dalam teks Arab (sumber : freewebs.com),  bisa dilihat pada keterangan picture berikut…

hadis1
Raja al-Hind itu adalah Cheraman Perumal

Di kalangan sejarawan ada yang beranggapan, Malik (Raja) al-Hind yang bertemu dengan Rasulullah adalah Cheraman Perumal, seorang Raja dari Kerajaan Kodungallur (Kerala, India).

Setelah masuk Islam, Sang Raja tinggal beberapa lama di Jeddah, ia dikenal juga dengan nama menjadi Thajuddin. r.a (Abdullah Samudri r.a).

Ketika ia hendak pulang ke kerajaannya, beliau wafat di dalam perjalanan, saat berada di Salalah Oman (sumber : mohdiqbal).

Namun ada pendapat, Cheraman Perumal tidak bertemu dengan Rasulullah. Hal ini dikarenakan, ketika ia datang, di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra. dan Rasulullah telah wafat pada saat itu (siasatdaily).

Jika demikian, siapa sosok dari Raja al-Hind sesungguhnya ?

islamnusantara
Raja al-Hind dari Nusantara
?

Jika kita membuka lembaran sejarah, istilah “Malik al-Hind” sebagaimana tersebut di dalam Hadis al-Hakim diatas, juga dipergunakan oleh Raja-Raja dari Nusantara. Hal ini bisa dilihat pada surat yang dikirimkan Raja Sriwijaya (sumber : jejakislam.net), kepada Khalifah Bani Umayyah.

“(Dari Raja al-Hind – atau tepatnya Kepulauan India) yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar (Batanghari dan Musi), yang mengairi pohon gahana (aloes), kepada Mu’awiyah…”

Meng-identifikasikan sosok Malik al-Hind sebagai Raja dari Nusantara, memang perlu ada kajian lagi lebih mendalam.

Namun hipotesa ini bukan hal yang mustahil, mengingat hubungan perniagaan antara Asia Tenggara dengan Jazirah Arab, sudah berlangsung sejak abad-7 M (katailmu.com), serta ajaran Islam di Nusantara telah ada di masa Rasulullah masih hidup (sumber : Dakwah Para Sahabat Rasulullah di Nusantara).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan

1. Raja al-Hind juga dikenal dengan nama Abdullah Samudri ra., Apakah ada kaitannya dengan Pulau Sumatera yang ada di Nusantara?

Karena nama Sumatera, berasal dari kata “Samudera” (wikipedia). Dan ada kemungkinan istilah “Samudera” sudah lama ada, jauh sebelum masa kerajaan “Samudera Pasai” di Aceh.

2. Tulisan dalam artikel ini, telah direvisi dengan tulisan berjudul : [Misteri] Malik al-Hind, Raja Nusantara yang bertemu Rasulullah ?

Silsilah Dapunta Hyang Jayanasa (Pendiri Sriwijaya), berdasarkan Naskah Sunda Kuno?

Dapunta Hyang Jayanasa adalah tokoh fenomenal dalam sejarah Nusantara. Ia diyakini sebagai pendiri kedatuan Sriwijaya, dan memiliki kekuatan angkatan perang yang sangat kuat pada masanya.

Tokoh ini juga menjadi rebutan, ada yang meng-klaim berasal dari negeri Champa (Semenanjung), ada lagi Funan (Semenanjung), kemudian dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa.

Siapakah sosok Dapunta Hyang Jayanasa ini….

pustaka1
Sri Jayanasa, dalam Naskah Sunda Kuno

Nama Dapunta Hyang, mulai dikenal ketika ditemukan Prasasti Kedukan Bukit (tahun 1920, wikipedia) dan Prasasti Talang Tuo (tahun 1920, wikipedia). Dan sejak itu, nama Dapunta Hyang Jayanasa menjadi kontroversi.

Namun nama Dapunta Hyang Jayanasa, ternyata tercatat dalam satu naskah Sunda Kuno, “Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa” dari masa tahun saka “pandawa suddha rasa ning bhumi” (1605 Saka = 1683 Masehi, sumber : indonesiaheritage.org). Diperkirakan naskah ini, adalah salinan dari naskah yang lebih tua.

Pada bagian (104), berbunyi sebagai berikut :

(10) nāran sang wiçnuwarman rajān
wam tarumanāgara // atyanta sihnya çri maharaja pūrnawarman / maputra ri sira sang wiçnuwarman / arinya stri paripurnéng

(terjemahan) namanya Sang Wisnuwarman Raja Muda Tarumanagara. Besar sekali kasih sayang Sri Mahārāja Purnawarman kepada putranya Sang Wisnuwarman. Adiknya seorang perempuan (yang) sangat sempurna

pustaka2
(15) ahayu pinakastri déning sang raja swarnabhumi // dlaha çri jayanaça rajāgheng i swarnabhumi kawilang putropādana nira // pantara ning sakwéh nira warmanwamça

(terjemahan) kecantikannya, menjadi istri Sang Raja Swarnabhumi. Kelak Sri Jaya Nasa raja besar di swarnabhumi termasuk keturunannya. Di antara semua anggota wangsa Warman

(20) i jawadwipa / sang pūrnawarman hana ta anyamtarékang wamsa // rasika mahaprabhāwa raja //

(terjemahan) di Pulau Jawa, Sang Purnawarman adalah pemimpin di antara wangsa. Beliau adalah raja yang sangat berkuasa

Sumber : Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa

Dari keterangan naskah kuno tersebut, secara jelas dikatakan Sri Jayanasa adalah keturunan dari Raja Swarnabhumi (Sumatera) dengan istrinya putri Raja Purnawarwan (Tarumanegara).

Berdasarkan sumber tersebut, diperoleh Bagan Silsilah, sebagai berikut :

silsilahdapunta
WaLlahu a’lamu bishshawab

Etnis Visaya, Dulur “Wong Kito” (Palembang) dari Negeri Filipina ?

Menjelang runtuhnya kejayaan Sriwijaya (sekitar abad ke-12 M), sebagian penduduk Sriwijaya Palembang mengungsi ke Filipina, dipimpin oleh Datu Puti.

Saat ini, mereka di kenal sebagai etnis Visaya, yang mendiami wilayah Filipina bagian tengah, yakni di daerah Panay, Negros, Cebu, Bohol, Leyte, Samar, serta kepulauan Romblon dan Masbate.

palembangfilipina1
Bukti Suku Visaya masih sedulur (keluarga) dengan Wong Kito (Palembang), bisa dilihat dari kemiripan pakaian adat Etnis Visaya dengan pakaian adat Palembang.

palembangfilipina
WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
1. wikipedia
2. kompasiana
3. melayuonline

Berdirinya Kedatuan Sriwijaya, adalah dampak Letusan Krakatau tahun 535M ?

Bumi pernah mengalami masa kegelapan, pada sekitar tahun 535-536 M. Peristiwa ini tercatat dalam sebuah chronicle seorang bishop Suriah, yang bernama John dari Efesus.

Di dalam catatannya itu, Sang Bishop bercerita selama 18 bulan matahari hanya terlihat selama empat jam, itupun samar-samar.

krakatau1Letusan Gunung Krakatau, 535 M

Para ahli Geologi memperkirakan, apa yang diungkapkan oleh Bishop Suriah ini adalah akibat dari letusan dari Gunung Krakatau Purba.

K. Wohletz, seorang ahli vulkanologi di Los Alamos National Laboratory, Amerika Serikat, telah melakukan serangkaian penelitian berkenaan dengan letusan Krakatau ini.

Hasil simulasinya menunjukkan betapa dahsyatnya letusan itu. Letusan sebesar itu telah melontarkan 200 km3 magma (bandingkan dengan Krakatau 1883 yang melontarkan magma sejumlah 18 km3).

Letusan Krakatau 535 M berlangsung selama sepuluh hari, tetapi letusan puncaknya berlangsung selama 34 jam dan menghasilkan kawah berukuran antara 40-60 km.

Kecepatan bahan yang dimuntahkan (mass discharge) sebesar 1 miliar kg/detik. Awan letusan (eruption plume) telah membentuk perisai di atmosfer setebal 20-150 m, dan menurunkan temperatur 50-100 C selama 10-20 tahun (sumber : geomagz.com)

Bencana alam ini, diprediksi telah mendatangkan wabah sampar yang mendunia, dan berakibat kepada gagal panen produk-produk pertanian.

bencana1Situasi Nusantara Selepas Letusan Krakatau

Kaum pemerhati Sejarah memperkirakan Letusan Krakatau tahun 535 M ini, berakibat memudarnya Kerajaan Tarumanegara. Sejarah juga mencatat, di tahun yang sama merupakan saat wafatnya Raja Tarumanegara, Candrawarman (sumber : zonasiswa.com).

Pada tahun 536 M, Kerajaan Tarumanegara telah terpecah-pecah, sebagian kekuasaan politik telah dikembalikan kepada Raja-Raja Sunda, sementara Kerajaan Tarumanegara telah menjadi Kerajaan yang bersifat kedaerahan saja.

Di Pulau Sumatera, diprediksi terjadi hal sama. Banyak terjadi kekacauan akibat bencana yang sangat dahsyat ini. Kerajaan yang telah mapan ketika itu, menghadapi ujian yang sangat besar, dalam mempersatukan wilayahnya.

Peristiwa Letusan Krakatau ini, diduga menjadi salah satu faktor pendorong Para Tetua Bangsa Melayu, untuk meyatukan diri dalam satu koalisi antar kerajaan, yang tujuannya adalah untuk meminimalisir ancaman invasi dari bangsa asing.

Koalisi yang dikenal dengan nama Kedatuan Sriwijaya ini, semakin kuat, ketika Dapunta Hyang Jayanasa dipercaya sebagai pimpinan koalisi, selain sangat disegani, beliau juga merupakan menantu dari Raja Linggawarman dari Kerajaan Tarumanegara.

WaLlahu a’lamu bishshawab