Tag Archives: sriwijaya

Hikayat Nakhoda Khalifah, Pelopor Kesultanan Islam di Negeri Sriwijaya ?

Menjelang akhir Dinasti Umayyah, sekelompok ulama di Kota Baghdad membaiat Syarif Muhammad al-Nafs al-Zakiyya sebagai Khalifah. Namun upaya kalangan ulama Baghdad ini kandas, dengan munculnya kekuatan baru di Jazirah Arab yang kemudian dikenal sebagai Bani Abbasiyah (750-1258).

Ada sumber yang menyatakan tokoh ulama pendukung kepemimpinan Syarif Muhammad, diantaranya Nu’man ibnu Thaabit (Imam Abu Hanifah), pengasas Mazhab Hanafi serta Imam Malik, pengasas Mazhab Maliki.

Panasnya situasi di awal berdirinya Bani Abbasiyah, membuat  Syarif Muhammad hijrah dari Kota Baghdad. Setelah berpindah-pindah dari Madinah, Makkah dan Yaman, Syarif Muhammad memutuskan untuk menjelajahi samudra untuk berdakwah menuju negeri-negeri timur. Syarif Muhammad kemudian dikenali sebagai Nakhoda Khalifah, Syarif Muhammad al-Baghdadi (sumber : misteri nakhoda khalifah, sejarah kesultanan perlak).

Nakhoda Khalifah di Nusantara 

Pelayaran dakwah Nakhoda Khalifah, telah meninggalkan jejak-jejak sejarah di negeri-negeri yang ia singgahi.

Rombongan dakwah Nakhoda Khalifah tercatat menyinggahi wilayah Sindh India. Di daerah ini, Syarif Muhammad menempatkan salah seorang puteranya, yang kemudian dikenal masyarakat Pakistan sebagai Abdullah Shah Ghazi (sumber : wikipedia.org).

Berdasarkan Kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy, pada tahun 173 H (800 M), Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i di bawah pimpinan Nahkoda Khalifah.

Sebagian dan anggota rombongan itu kemudian menikah dengan penduduk lokal, salah satunya putera Nakhoda Khalifah bernama Syarif Ali bin Muhammad, yang menikah dengan adik Penguasa Perlak bernama Puteri Makhdum Tansyuri Dewi (sumber : atjehcyber.netKesultanan Perlak).

Sumber Kedah mencatat, Syarif Ali pada tahun 804 M, diangkat menjadi Penguasa Perlak Kedah, dengan gelar Sultan Alirah Shah (Sultan Perlak Kedah, 804-840).

Sepeninggal Syarif Ali, kedua puteranya memimpin wilayah Perlak Kedah, yaitu Kerajaan Perlak oleh Sultan Alaidin Maulana Abdul Aziz Syah (Sultan Perlak, 840-864) dan Kerajaan Kedah Islam, oleh Sultan Hussain Syah Alirah (Sultan Kedah Islam, 840-881) (sumber : [Misteri] Benarkah Masyarakat Nusantara adalah Zuriat Rasulullah ?).

Menurut keterangan Ibnu Hordadzbeth (844-848 M), Sulayman (902 M), Ibnu Rosteh (903 M), Abu Zayid (916 M), dan ahli geografi Mas’udi (955 M), menyebutkan di negeri Sriwijaya terdapat Kesultanan (Sribuza) yang berada di bawah kekuasaan Raja Zabag. Kemungkinan besar Kesultanan Islam yang dimaksud adalah Kesultanan Perlak dan atau Kesultanan Kedah Islam, yang telah wujud pada sekitar tahun 804 M (sumber : Sejarah Nusantara).

Catatan Penambahan :

1. Silsilah Nakhoda Khalifah sampai kepada Rasulullah adalah sebagai berikut : Nakhoda Khalifah (Syarif Muhammad al-Nafs al-Zakiyya) bin Syarif Abdullah al-Kamil bin Syarif Hassan al-Muthanna bin Sayyidina Hassan radhiallahu ‘anhu bin Sayyidatuna Fatimah az Zahra binti Sayyidina Muhammad Rasulullah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola India ?
4. [Misteri] Dinasti Tang, Kekaisaran Muslim China (618-907), dalam catatan Abu Dulaf Al-Muhalhil di tahun 940 Masehi ?

Iklan

[Misteri] Kudeta Kekuasaan Wangsa Syailendra, dan bangkitnya Trah Keluarga Dapunta Hyang ?

Selepas wafatnya Balaputeradewa, muncul kekuatan-kekuatan baru di wilayah Kedatuan Sriwijaya. Di Palembang terdapat gerakan politik yang dipimpin keluarga Trah Dapunta Hyang, sementara di Kedah, Dinasti Kedah Darussalam (Merong Mahawangsa) melepaskan diri dipimpin oleh Sultan Abdul Kadir (Sultan Kedah Islam, 881-903).

Di tanah Jawa, juga bermunculan kekuatan-kekuatan baru selepas masa kekuasaan Rakai Kayuwangi (Raja Medang,  856-890). Seorang raja bawahan Kerajaan Medang, memproklamirkan dirinya menjadi Maharaja, dengan nama Sri Maharaja Rakai Watuhumalang.

Gerakan Wangsa Syailendra

Seiring semakin melemahnya Sriwijaya, mengundang kekuatan-kekuatan luar untuk menguasai wilayah itu. Kerajaan Medang di masa Dharmawangsa Teguh (Raja Medang, 991–1007), setidaknya dua kali menyerang Palembang, yaitu tahun 992 dan 997.

Mengatasi kekuatan-kekuatan politik baru ini, wangsa Syailendra penguasa Sriwijaya pada masa itu, mempersiapkan bala tentaranya untuk meredakan situasi.

Sasaran pertama yang mereka gempur adalah Keluarga Trah Dapunta Hyang di Palembang, yang berakibat salah seorang Pangeran keluarga ini, mencari suaka politik di Kerajaan Chola India.

Sasaran berikutnya adalah Kerajaan Medang, pada tahun 1007 Kerajaan ini digempur habis-habisan, berakibat tewasnya Raja Medang, Dharmawangsa Teguh dan keluarga kerajaan tercerai berai.

Kemudian Kedah menjadi sasaran berikutnya, pada sekitar tahun 1008, Raja Kedah Islam, Sultan Riayat Shah (Sultan Kedah Islam, 993-1008) harus menyerahkan kekuasaan kepada Penguasa Dinasti Syailendra, Sri Mara Vijayatunggavarman (Raja Sriwijaya Kedah, 1008-1017), peristiwa pengambil-alihan daerah ini, menjadi awal berpindahnya Ibukota Sriwijaya, dari Palembang ke Kedah.

Gerakan Pembalasan Kelompok Oposisi, dan Teori Penyebab Keterlibatan Chola dalam Konflik di Sriwijaya ?

Trah Dapunta Hyang merupakan keluarga kerajaan Sriwijaya, yang berasal dari zuriat pendiri Sriwijaya Dapunta Hyang Jayanasa. Salah satu Maharaja yang terkemuka dari keluarga ini yaitu Sri Indrawarman.

Pada masa akhir pemerintahan Sri Indrawarman, muncul gerakan kudeta yang dilancarkan oleh Wangsa Syailendra, yang disinyalir mendapat dukungan dari Penguasa Tiongkok, Dinasti Tang (618-907).

Keluarga Dapunta Hyang, di masa Dinasti Syailendra kemudian terpecah ada yang mendukung, sebagian lagi bersikap oposisi. Salah satu pemimpin oposisi dari keluarga ini bernama Pangeran Sembiyan (Sambugita).

Setelah terusir dari Sriwijaya, dan meminta suaka politik di Kerajaan Chola, Pangeran Sembiyan diangkat menantu oleh Rajendra Chola I. Dan cita-cita Pangeran Sembiyan untuk menguasai Kerajaan Sriwijaya, mendapat dukungan penuh dari Sang Mertua.

Pangeran Sembiyan kemudian berkoalisi dengan Dinasti Kedah Islam dan Raja Airlangga (menantu Dharmawangsa Teguh) untuk merebut kekuasaan Dinasti Syailendra. Puncaknya tahun 1025, pusat Kerajaan Sriwijaya di Kedah diserang habis-habis oleh pasukan maritim Chola, dibantu koalisi yang dipimpin Pangeran Sembiyan.

Kerajaan Kadaram (Kedah) dan beberapa daerah sekutunya seperti Malaiyur (Jambi), Ilangasongam (Langkasuka), Ilamuri-desam (Lamuri Aceh) dan sebagainya, berhasil dikuasai Pasukan Koalisi. Keluarga kerajaan Sriwijaya Kedah berhasil ditahan, sebagian di bawa ke Palembang.

Salah satu putri Sangrama-Vijayatunggavarman (Raja Sriwijaya Kedah, 1017-1025) kemudian diperistri Raja Erlangga, dan kekuasaan Kedah (Kadaram) dikembalikan kepada Dinasti Kedah Darussalam (Merong Mahawangsa).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar; dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola India ?

Catatan Penambahan :

1. Salah seorang putra Pangeran Sembiyan dari istrinya Putri Chola, kelak akan menjadi penguasa Sriwijaya dengan gelar Maharaja Diwakara (tahun 1067), yang sekaligus juga menjadi Raja Kerajaan Chola dengan gelar Kulothunga Chola I (1070-1120).

[Misteri] Kolerasi Peristiwa Karbala dengan munculnya Kedatuan Sriwijaya di Palembang ?

Peristiwa Karbala merupakan satu catatan kelam bagi kaum muslimin, yang terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah (10 Oktober 680 M).  Dalam tragedi yang telah menewaskan cucu Rasulullah, Sayyidina Husein, telah meninggalkan luka sejarah dalam Peradaban Islam.

Tragedi Karbala, telah membuat semakin menajamnya perselisihan antara mereka pendukung Dinasti Umayyah dengan pendukung Keluarga Sayyidina Ali Radhiyallahu Anhu (sumber : wikipedia.org).

Dampak Tragedi Karbala di Nusantara

Peristiwa Karbala telah membuat Perdagangan Jalur Sutra Laut (dari Eropa, Timur Tengah, melalui Nusantara menuju ke Cina), mengalami gangguan. Sriwijaya yang merupakan tempat transit dalam rute perdagangan ini, merasakan dampak yang luar biasa (sumber : Jalur Sutra Laut).

Selain ekonomi, Sriwijaya yang pada masa itu berpusat di pesisir barat Sumatera, menjadi tempat bagi pelarian-pelarian politik yang berasal dari dari Timur Tengah dan Persia, sebagai akibat konflik (pertikaian) di wilayah jazirah arabia.

Ketidak-stabilan di Timur Tengah serta ditambah lagi semakin berkembangnya kerajaan-kerajaan Nusantara di wilayah timur, kemudian menjadi pertimbangan Dapunta Hyang Jayanasa, untuk memindahkan Pusat Kerajaan Sriwijaya dari pesisir barat, ke pesisir timur pulau Sumatera.

Perpindahan Pusat Kedatuan Sriwijaya ini, ditandai dengan peristiwa Perjalanan Kejayaan (jayasiddhayatra), yang dimulai pada  Hari Jum’at, 6 Ramadhan 62 Hijriyah atau bertepatan dengan  7 Jesta 604 Saka (19 Mei 682 Masehi).

Perjalanan Kejayaan (jayasiddhayatra) ini berakhir di perairan Sungai Musi, yang saat ini dikenal sebagai wilayah disekitar Kota Palembang, pada 16 Juni 682 Masehi (sumber : makna prasasti kedukan bukit dan ).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Kehadiran Islam di tanah Sumatera, diperkirakan sudah ada sejak abad pertama hijriah. Hal tersebut ditandai dengan ditemukannya makam Tuan Syekh Rukunuddin, dari tahun ha-mim. Berdasarkan sistem nilai numerik bangsa arab, ha = 8 dan mim = 40, sehingga makna dari ha-mim adalah 8 + 40 = 48 Hijriyah.

Didukung legenda masyarakat Sumatera Selatan yang bercerita, tentang munculnya awal Pusat Dakwah Islam di Bukit Kaba (Kaf Ba) Bengkulu. Di dalam perhitungan numerik, Kaf = 20 dan Ba = 2, atau berarti 20 + 2 = 22 Hijriyah, yaitu di masa Khalifah Umar ra. (13-23 H).

Artikel Sejarah Nusantara :
1.  
2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

Maharaja Diwakara, Penguasa Sriwijaya Penakluk Kerajaan Chola ?

Berdasarkan inskripsi dari sebuah kuil di Guangzhou Cina, diceritakan sejak tahun 1064 M, seorang Raja Sriwijaya bernama Diwakara, membantu perbaikan sebuah kuil yang mengalami keruntuhan. Dana yang disumbangkan Raja Diwakara, mencapai 500.000 keping emas (sumber : Penakluk Chola dan Ancient Southeast Asia).

Sebelum perbaikan Kuil selesai di tahun 1079 M, dalam satu catatan resmi Dinasti Sung tahun 1077 M, menginformasikan Diwakara telah menjadi raja asing di Kerajaan Chola India Selatan.

Misteri Raja Diwakara (Divakara)

Pada awal abad ke-11 Masehi, Kedatuan Sriwijaya terpecah menjadi dua, yaitu Sriwijaya Pesisir yang berpusat di Kedah dan Sriwijaya Pedalaman yang berpusat di Palembang.

Ketika Pusat Kerajaan Sriwijaya Pesisir diserang Kerajaan Chola tahun 1025 M, dan berhasil menawan  Sangrama Vijayottunggavarman (sumber : wikipedia.org), sebagian kerabat Sriwijaya Pesisir dibawa ke Palembang. Pilihan hijrah ke Sriwijaya Palembang, kemungkinan antara kedua Kerajaan telah menjalin ikatan keluarga satu dengan lainnya.

Kelak dikemudian hari, salah seorang putri  Sangrama Vijayottunggavarman yang berada di Palembang dinikahi oleh Maharaja Erlangga dari Kerajaan Kahuripan.

Dalam situasi demikian, praktis Kedatuan Sriwijaya yang terpecah kembali menyatu dan berpusat di Palembang.

Berdasarkan sumber-sumber catatan dari Kerajaan Chola, dikatakan bahwa Raja Diwakara merupakan seorang Gubernur (Perwakilan Kerajaan Chola) di Sriwijaya. Namun hal ini tentu sangat mengherankan, ada seorang Gubernur yang bisa langsung menyumbang pembangunan kuil di negeri asing, sampai 500.000 keping emas.

Kemungkinan lain yang lebih logis, Raja Diwakara adalah Penguasa Sriwijaya yang berhasil menaklukkan Kerajaan Chola, dimana yang bersangkutan masih terhitung anggota keluarga kerabat Kerajaan Chola.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Raja Diwakara (Divakara) dalam sejarah Kerajaan Chola lebih dikenal dengan nama Prince Rajendra Chalukya (Kulothunga Chola I), yang memerintah Chola pada periode 1070–1118 (sumber : Athirajendra Chola).

Raja Diwakara juga diceritakan memiliki nama Prince Thivakaala Rajendra, yang dipercaya menjadi Gubernur Sriwijaya di Palembang tahun 1067, pada masa Virarajendra Chola Keertivartana (sumber : Tamil History).

2.  Kulothunga Chola I, dalam salah satu versi nama ayahandanya Sembiyan yang indentik dengan Sambugita, Maharaja Sriwijaya yang berpusat di Palembang (sumber : Kulottunga I ).

3. Dalam catatan Kerajaan Chola, Raja Diwakara (Kulothunga Chola I), anak dari Rajaraja Narendran I (ayah) dan Ammanga Devi (ibu) (sumber : Kulotunga I)

4. Berdasarkan pendapat Anthonyswan.Pi.Art (gelar Datok Paduka Rangkayo Besar Bertuah) dalam tulisannya berjudul “Balai Adat Yang Pertama”, yang menyatakan Sang Sapurba berasal dari Kerajaaan Chola. Ia berpendapat Sang Sapurba adalah anak keturunan dari Rajendra Chola I (Raja Chola, 1012-1044) (sumber : MALPU 187).

Apabila kita mengacu kepada timeline kehidupan anak dari Sang Sapurba bernama Sang Nila Utama (Raja Tumasik, 1320-1347), kemungkinan Sang Sapurba adalah anak keponakan dari Raja Hiran atau Rajendra Chola III (Raja Chola, 1246–1279). Rajendra Chola III, merupakan Raja Chola terakhir dari Dinasti yang didirikan oleh  Raja Diwakara (Kulothunga Chola I) (sumber : wikipedia.org).

Artikel Sejarah Nusantara
1.  2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar; dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

[Misteri] Bukit Ka’ba, Pusat Dakwah Islam di masa Kedatuan SRIWIJAYA ?

Di  dalam Kitab Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah, diceritakan tentang kedatangan sahabat Rasulullah,  Akasyah bin Muhsin Al-Usdi radhiallahu anhu, di Kerajaan Sriwijaya. Legenda kemudian bercerita, munculnya Pusat Dakwah Islam di Bukit Ka’ba, yang saat ini berada dalam wilayah Kabupaten Rejang Lebong (Curup) Bengkulu.

Bukti arkeologis tentang telah adanya gerakan dakwah Islam di Pulau Sumatera pada abad pertama hijriyah, ditemukannya  Tuan Syekh Rukunuddin, yang wafat tahun 48 Hijiriah, di komplek pemakaman Mahligai, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Islam di Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan buku “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nsantara abad XVII & XVIII”, tulisan Prof. Dr. Azyumardi Azra MA, tercatat beberapa kali Raja Sriwijaya berkirim surat ke khalifah Islam di Syiria.

Dan pada salah satu naskah surat yang ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720M), Raja Sriwijaya bernama Sri Indravarman, mengajukan permintaan agar kholifah sudi mengirimkan da’i ke istana Sriwijaya.

Maraknya Dakwah Islam di Kedatuan Sriwijaya, sedikit terganggu selepas wafatnya Raja Sri Indravarman. Pengganti Sri Indravarman, tidak terlalu banyak memberi perhatian terhadap pekembangan Islam. Namun demikian, pengajaran Islam terus berlanjut, meski tanpa sokongan pihak berkuasa.

Legenda Bukit Kaba Sriwijaya, menceritakan pemimpin pusat dakwah di wilayah ini, disebut Si Pahit Lidah. Julukan Si Pahit Lidah ini, mungkin dikarenakan cara dakwah yang tegas, tidak segan-segan mengungkapkan satu ayat (kebenaran) meskipun dirasa pahit oleh pendengarnya.

Sebagai ulama penyebar Islam, sosok Si Pahit Lidah ini dipercaya memiliki karomah, bahkan beredar cerita, segala yang mereka ucapkan bisa menjadi kenyataan.

Selepas serangan Kerajaan Chola di tahun 1025 M, Kedatuan Sriwijaya mengalami perpecahan, salah satu pecahannya, kemudian mendirikan Keratuan Bukit Siguntang (Palembang). Salah satu penguasanya bernama Raja Segentar Alam masuk Islam dan berganti nama menjadi Iskandar Zulqarnain Alam Syah.

Atas prakarsa, Puyang Ogan “Wali Putih” yaitu ulama yang berhasil meng-islamkan Raja Segentar Alam, Pusat Dakwah Islam di Bukit Ka’ba dipindahkan ke Bukit Siguntang. Sejak masa itu, kepemimpinan “Si Pahit Lidah”, tidak saja sebagai panatagama (pemimpin agama) tetapi juga merangkap sebagai amir (kepala pemerintahan).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
1. Diskusi Facebook : Bukit Siguntang
2. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
3. Hadits Nabi, Negeri Samudra dan Palembang Darussalam
4. Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ?
5. Kerajaan Sriwijaya, Pelarian Politik dan Dakwah Para Sahabat Rasulullah di Nusantara ?

Catatan Penambahan : 

1. Kitab Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara) ditulis oleh Habib Bahruddin Azmatkhan, tahun 1929, selain itu ada beberapa buku lain yang menginfomasikan tentang kedatangan da’i di Kerajaan Sriwijaya, diantaranya Buku “Sejarah Islam Pertama Di Palembang”, tahun 1986 tulisan Pangeran Gajahnata, “Islam Pertama di Palembang”, tahun 1929 tulisan R.M. Akib dan ‘The Preaching of Islam”, tahun 1968 tulisan T. W. Arnold.

2. Pemerintahan Keratuan Bukit Siguntang, kemudian dikenali dengan istilah “7 ganti 9 gilir”, dan diperkirakan berakhir pada sekitar tahun 1478 M, seiring dengan berdirinya Kesultanan Islam Demak.

3. Hubungan kekerabatan Keratuan Bukit Siguntang

4. Ketika Kukang (Palembang), dibawah kendali kelompok Chen Tsu Ji (yang kemudian berhasil dihancurkan oleh armada Laksamana Cheng Ho tahun 1407).
Keratuan Bukit Siguntang kemungkinan berpindah ke wilayah Jambi, hal ini bisa diketahui dengan adanya legenda keberadaan Si Pahit Lidah sebelum masa Tun Telanai (utusan Sultan Mansyur Syah, memerintah Malaka 1458-1477).

5. Masyarakat lebih mengenal Gunung Kaba sebagai Bukit Ka’ba, terletak di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupuh Rejang Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu


(sumber foto : ksmtour.com).

6. Pada makam Tuan Syekh Rukunuddin, tertulis tahun ha-mim. Berdasarkan sistem nilai numerik bangsa arab, ha = 8 dan mim = 40, sehingga makna ha-mim adalah 8 + 40 = 48 Hijriyah.


(sumber : ).

Apakah makna dari bukit Kaba adalah perlambang huruf Kaf dan Ba ?

dimana Kaf = 20 dan Ba = 2, atau 20 + 2 = 22 Hijriyah, yakni bersamaan dengan masa Khalifah Umar ra. (13-23 H).

Dan yang menarik berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, “Perjalanan Suci (Siddhayatra)” Penguasa Sriwijaya Dapunta Hyang Jayanasa, dimulai pada 7 Jesta 604 Saka atau 19 Mei 682 Masehi atau bertepatan dengan Hari Jum’at, 6 Ramadhan 62 Hijriyah (berdasarkan perhitungan rukyat global)…

Menemukan Lokasi “Taman Sriksetra Sriwijaya”, yang dibangun abad ke-7 Masehi melalui Google Maps ?

Pada tanggal 17 November 1920, sebuah Prasasti bersejarah ditemukan oleh Louis Constant Westenenk di Palembang. Prasasti yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Talang Tuo berangka tahun 606 Saka (684 Masehi), menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno.

Lokasi penemuan prasasti sekitar 3 – 6 km dari Kedukan Bukit (Bukit Siguntang), disebelah barat Kota Palembang. Prasasti Talang Tuo ini berisikan informasi Penguasa Kerajaan Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa membuat Taman Sriksetra yang ditanami kelapa, pinang, aren, sagu serta berbagai macam tanaman buah-buahan, bagi kemakmuran semua penduduk.

Prasasti Talang Tuo (sumber : wikipedia)

Melacak Lokasi Taman Sriksetra Kerajaan Sriwijaya

Lokasi Taman Sriksetra diperkirakan tidak jauh dari tempat ditemukannya Prasasti Talang Tuo.

Peta dibawah ini adalah lokasi dimana Prasasti Talang Tuo ditemukan. Prasasti ini ditemukan di wilayah adat Talang Tuwo, Dusun Talangkelapa, Kecamatan Talangkelapa, Palembang.

Wilayah Talang Kelapa berbatasan dengan daerah Gandus. Dengan memperkirakan Taman Sriksetra merupakan daerah yang luas, kemungkinan besar tanah adat ini mencakup hingga ke wilayah Gandus dan sekitarnya.

Posisi Prasasti kemungkinan besar berada di dekat gerbang masuk Taman Sriksetra. Dan dengan memperhatikan wilayah gandus yang berada disepanjang aliran sungai musi, diperkirakan Taman Sriksetra disebelah selatannya berbatasan dengan sungai, sebagaimana picture berikut ini…


Batas-batas Taman Sriksetra yang lebih detail tentu harus melalui penelitian dari berbagai disiplin ilmu, seperti arkeologi dan geologi. Namun secara global, dapat dikatakan lokasi taman ini berada di daerah Gandus, yang kontur tanahnya berbukit-bukit.

Bukti lain yang menguatkan wilayah Gandus dahulunya merupakan daerah Kerajaan Sriwijaya, adalah ditemukannya ribuan pecahan tembikar dan keramik di wilayah ini, yang berasal dari abad ke 8-10 masehi.

Sumber : 
1. id.wikipedia.org
2. en.wikipedia.org
3. melayuonline.com
4. tribunnews.com
5. korankito.com
6. mongabay.co.id
7. lokasi talang tuwo

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan

1. Prasasti Talang Tuo dan Taman Sriksetra, merupakan bukti arkeologis keberadaan Kerajaan Sriwijaya. Pihak pemerintah daerah Sumatera Selatan, sepertinya perlu untuk memikirkan membangun miniatur Taman Sriksetra di daerah Gandus.

Selain memiliki nilai kesejarahan, diharapkan miniatur Taman Sriksetra ini bisa menjadi objek wisata sekaligus hutan kota, yang akan menjaga pasokan oksigen bagi penduduk Kota Palembang.

2. Dalam versi yang lain disebutkan, Prasasti Talang Tuo (Talang Tuwo), ditemukan oleh petani asal Desa Meranjat (Ogan Ilir) yang bernama Alwi Lihan, hasil temuannya kemudian dilaporkan kepada Louis Constant yang saat itu menjabat sebagai Residen Palembang.

talangtuo2

talangtuwo1

Pada tahun 1974, Hutan Adat Talang Tuwo yang berisikan kelapa, pinang, aren, juga beragam jenis bambu, dijadikan perkebunan sawit.

talangtuwo2
Pada masa sekarang, lantaran kebun sawit tidak diremajakan, lahan-lahan yang tidak produktif itu pun dibeli untuk lokasi perumahan. Berbagai perumahan sederhana maupun mewah saat ini mengelilingi daerah Talang Tuwo.

Artikel Menarik :
1. Silsilah Dinasti Majapahit, menurut Sejarah Melayu ?
2. [Google Maps] Rute Balatentara Sriwijaya, tahun 604 Saka (682 M) ?
3. Berdirinya Kedatuan Sriwijaya, dampak Letusan Krakatau tahun 535M ?
4. [Misteri] Legenda Sriwijaya Pasemah, berdasarkan manuskrip Ahmad Ghozali ?

[Misteri] Legenda Sriwijaya Pasemah, berdasarkan manuskrip Ahmad Ghozali ?

Ahmad Ghozali Mengkerin, merupakan penulis angkatan Balai Pustaka, salah satu karya tulisnya yang terkenal adalah Syair Si Pahit Lidah.

Berkenaan sejarah Sriwijaya, Ahmad Ghozali memiliki pendapat tersendiri, yang bersumber dari satu manuskrip yang disimpan oleh keluarganya. Dokumentasi pribadi ini, diberinya judul “Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah”.

Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah

Pada tahun 101 Saka (bertepatan tahun 179 Masehi), berlabuhlah 7 (tujuh) bahtera (jung) di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang adalah Bukit Siguntang yang sekarang, dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang.

Adapun Angkatan Bahtera tersebut dipimpin oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, putra mahkota Kerajaan Rau (Rao) di India. Tujuan perjalanan adalah menyelidiki pulau-pulau di Nusantara, sekaligus mencari Panglima Angkatan Laut Kerajaan Rau bernama Seri Nuruddin, yang menghilang ketika melakukan perjalanan ke Nusantara, pada 70 tahun yang lalu.

Di Bukit Siguntang, Atung Bungsu menemukan satu bumbung berisi lempengan emas bersurat. Isi Lempengan emas bersurat ini, menceritakan keadaan Seri Nuruddin yang mengalami kerusakan pada segala perlengkapannya, yang berakibat dirinya tidak bisa pulang.

Setelah penemuan surat pertama, Atung Bungsu menemukan surat yang kedua, yang ditulis oleh Anak Buah Kapal Seri Nuruddin, yang menceritakan telah wafatnya  Yang Mulia Seri Nuruddin di Muara Lematang.

Singkat cerita,  Atung Bungsu memutuskan untuk menetap sementara di Bukit Seguntang, sambil mencari wilayah mana yang paling tepat untuk mendirikan pemukiman.

Setelah lama mencari, rombongan Atung Bungsu akhirnya memilih daerah disekitar Sungai Besemah. Di daerah ini, Atung Bungsu kemudian membuat dusun-dusun, dan memberi sebutan bagi wilayahnya sebagai “Sumbay Paku Jagat Seriwijaya” (sumber : Manuskrip Ahmad Ghozali, Bukit Selero Lahat).

kushan1
Rau adalah Kushans

Bila kita membuka lembaran sejarah, sekitar tahun 80M-200M, di India terdapat Kerajaan yang terkemuka yang bernama Kushans. Kerajaan Kushans merupakan bagian dari Kelompok Suku Bangsa Saka, dimana pemimpinnya diistilahkan sebagai Saka Rauka yang berarti Penguasa Saka (sumber : unesco.org).

Istilah “Rauka” inilah mungkin menjadi asal kata “Rau”, yang terdapat dalam naskah-naskah kuno.

Kuat dugaan Kerajaan Kushans indentik dengan Kerajaan Rau, yang menjadi tempat asal dari Atung Bungsu. Pendapat ini setidaknya didukung 3 (tiga) alasan, yaitu :

– Penguasa Kushans memiliki kepercayaan yang sama dengan Penguasa Sriwijaya Awal, yaitu penganut agama Buddha Mahayana.

– Penguasa Kushans, pada masa 80M-200M, merupakan keturunan Kaisar Liu Pang Dinasti Han (melalui ibunda dari Pendiri Kerajaan (Kujula (Kuyula) Kadphises). Dan apabila kita perhatikan anak cucu Atung Bungsu, di daerah tanah Basemah (Pasemah), seperti di Pagar Alam, Empat Lawang dan Lahat, memiliki perawakan mirip Bangsa Tionghoa (China).

– Penguasa Kushans memiliki kekerabatan dengan anak keturunan dari Wema Kadphises, yang silsilahnya menyambung kepada Cyrus II ‘The Great’ of Persia atau Zulqarnain. Dan sudah sama dipahami, nama “Zulqarnain” sering kali disebut-sebut sebagai salah seorang leluhur Masyarakat Melayu (sumber : Leluhur Penguasa Sriwijaya, ).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Pemukiman di wilayah Besemah yang didirikan Atung Bungsu, diperkirakan menjadi cikal bakal Kerajaan Swarnabhumi, sebagaimana dikisahkan dalam naskah Sunda Kuno, “Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa” (sumber : ).

2. Berdasarkan pendapat Sejarawan H Boedhani dalam bukunya “Sejarah Sriwijaya”, menerangkan bahwa Pendiri Kerajaan Sriwijaya berasal dari sebuah negeri di pantai barat yang bernama Trikuntanilaya (sumber : [Google Maps] Rute Balatentara Sriwijaya, tahun 604 Saka (682 M) ?).

Trikuntanilaya dapat bermakna tempat kediaman 3 tombak. Dan lambang 3 tombak (trisula), merupakan simbol dari Kerajaan Kushan.


(sumber : Kushan Empire (wikipedia.org)).

Perhatikan lambang trisula dalam uang logam kerajaan Kushan, di masa Vasu Deva I (191-230 M)

(Sumber : Kushan Empire & Ancient India Coins).

Artikel Menarik :
1. Silsilah Dinasti Majapahit, menurut Sejarah Melayu ?
2. Bukti Kerajaan Sriwijaya wilayahnya mencapai Benua Afrika?
3. Berdirinya Kedatuan Sriwijaya, dampak Letusan Krakatau tahun 535M ?