Tag Archives: berita

Minuman Bir ber-alkohol, mulai ditinggalkan masyarakat Eropa ?

nonalkohol1

Sebuah studi menunjukkan semakin banyak warga Eropa yang meninggalkan bir beralkohol. Mereka beralih meminum bir tanpa alkohol. Sehingga konsumsi bir tanpa alkohol di Eropa pun diprediksi akan meningkat tajam.

“Bir non-alkohol memiliki potensi penjualan yang besar. Baik di wilayah yang didominasi Muslim maupun masyarakat yang peduli kesehatan tapi mencintai bir di pasar Barat,” tutur analis minuman global di Mintel, Jonny Forsyth, sebagaimana dilansir dari The Olive Press, Rabu 3 Desember 2014.

“Ini adalah daerah inovasi yang harus menjadi fokus semua produsen besar bir. Karena konsumen menginginkan jaminan kualitas produk, merek terpercaya tertentu dapat menyediakannya.”

Studi yang dilakukan lembaga Mintel bulan lalu menunjukkan, konsumsi bir non-alkohol di sejumlah negara Eropa Barat meningkat.

Konsumsi bir non-alkohol di Spanyol meningat. Dari 60 persen pada tahun lalu, menjadi 69 persen. Angka ini menjadikan Spanyol sebagai negara dengan konsumsi bir tanpa alkohol terbesar di Eropa.

Di Jerman, konsumsi bir tanpa alkohol pada 2012 sebesar 11 persen. Pada 2013 sebesar 19 persen, dan tahun ini 47 persen. Sementara, konsumsi bir non-alkohol di Italia sebesar 29 persen dan Inggris 14 persen.

Alhamdulillah…

Sumber :
dream.co.id

Misteri Leluhur Suku Minang, Nabi Syuaib dan Silsilah Irman Gusman

Dari mana asal muasal Suku Minang ?
Akan sangat banyak teori yang akan kita dengar, salah satunya berasal dari Legenda Keturunan Raja Iskandar Zulqarnain.

minang1

Tambo Alam Minangkabau

Dalam Tambo Alam Minangkabau, salah satu leluhur suku ini bernama  Dapunta Hyang, yang diperkirakan datang dari Tanah Basa (sekitar Lembah Sungai Indus), pada sekitar tahun 250 SM.

Berdasarkan catatan sejarah pada masa itu, disekitar Lembah Sungai Indus, telah ada sebuah Kerajaan yang cukup kuat, yang bernama Taxila.

Salah satu raja yang memerintah (sekitar tahun 500 SM), bernama Maurya II, yang merupakan anak dari Maurya I dengan salah seorang cucu Raja Cyrus II dari Persia, yang bernama Candravarnna binti Atossa binti Cyrus II.

Raja Cyrus II, dikenal juga sebagai Raja Koresh (Kurush), dan di kalangan sebagian sejarawan muslim, beranggapan Raja Koresh (Kurush) ini, identik dengan Raja Zulqarnain yang tersebut di dalam Al Qur’an.

Dan jika kita hubungkan dengan Legenda Masyarakat Minang, yang mengatakan berasal dari Keturunan Raja Iskandar Zulqarnain, nampaknya Dapunta Hyang, kemungkinan besar berasal dari dzuriat Raja Maurya II dari Kerajaan Taxila.

Cyrus II (Raja Iskandar Zulqarnain) sendiri berdasarkan penyelusuran Genealogy berasal dari keturunan Midian bin Nabi Ibrahim [anak Nabi Ibrahim, dari isterinya yang bernama Siti Qanturah (Qatura/Keturah)]. Salah satu keturunan Midian bin Nabi Ibrahim, yang sangat terkenal adalah Nabi Syu’aib, yang merupakan mertua Nabi Musa.

Kuat dugaan kepercayaan yang dianut Dapunta Hyang adalah Monotheisme, sebagaimana juga yang dianut oleh leluhurnya Midian bin Nabi Ibrahim.

minang2
Silsilah Irman Gusman

Salah satu putera Minangkabau yang cukup sukses, adalah Irman Gusman,  yang saat ini, menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) periode 2009-2014.

Irman Gusman merupakan putra pasangan Gusman Gaus asal Padang Panjang dan Janimar Kamili asal Guguak Tabek Sarojo, Agam.

Di kalangan masyarakat minang, Irman Gusman dikenal sebagai Datuak Rajo Nan Labiah (salah satu gelar kepenghuluan kaum Suku Pisang Nagari Guguak Tabek Sarojo).

Dari gelar yang ia sandang, menunjukkan bahwa beliau dari garis ibu, berasal dari Suku Pisang, yang merupakan salah satu pecahan dari Lareh Suku Piliang.

Lareh Suku Piliang sendiri bermula dari Datuk Ketumanggungan, yang merupakan anak dari Sultan Sri Maharaja Diraja dengan Puti Indo Jelita, yang jika dirunut ke- atas merupakan keturunan dari Dapunta Hyang, yang datang dari Tanah Basa.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
01. Irman Gusman (wikipedia)
02. Gelar Penghulu Datuak Rajo Nan Labiah
03. Tambo Alam Minangkabau
04. Inventarisasi Suku Minangkabau
05. Menemukan Zul-Qarnain dalam Sejarah
06. Misteri Leluhur Bangsa Jawa
07. (Connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim ?
08. Misteri Bukit Barisan dan Ajaran Monotheisme Nabi Ibrahim

Catatan :

1. Menurut sejarawan Slamet Mulyana, Gelar Dapunta Hyang merupakan gelar Bangsa Melayu, yang tidak terdapat dalam Bahasa Sansekerta. Menurut bahasa lokal setempat, Hyang memiliki identifikasi dengan kata dewa, leluhur.

Kata Puyang, sebagai turunan dari kata Mpu-HyangPu-HyangMpu berarti pini sepuh, Hyang artinya dewa atau orang yang dihormati, atau bermakna leluhur (sumber : TAFSIR KEPEMIMPINAN IDEAL
DAPUNTA HYANG SRI JAYANASA).

2. Kedatangan Dapunta Hyang dari Tanah Basa kemudian bermukim di sekitar Gunung Merapi (arah utara Bukit Barisan), diduga ada kaitannya dengan Peradaban Melayu Purba, yang berada disekitar Gunung Dempo (arah selatan Bukit Barisan) Sumatera Selatan.

Tidak menutup kemungkinan, jika Dapunta Hyang di Gunung Merapi, selain merupakan Trah Raja Iskandar Zulqarnain (Cyrus II of Persia), juga memiliki leluhur dari beberapa Dapunta Hyang di Gunung Dempo.

3. Berdasarkan temuan arkeologis, diperkirakan di sekitar Gunung Dempo, pada masa 2.500 – 1.500 SM telah ada Peradaban Bangsa Melayu Purba (Peradaban Besemah), yang diduga menjadi cikal bakal Kerajaan Sriwijaya (sumber : Sejarah Besemah).

Menurut Erwan Suryanegara dalam tesisnya, tentang peninggalan megalitikum di kawasan Gunung Dempo, mengungkapkan peradaban di kaki gunung itu bermula sekirar masa 2.000 tahun Sebelum Masehi. Sejauh ini, teori ini berhasil dipertahankan dari berbagai antitesis, hingga tesis Erwan, meraih penghargaan cum laude dari ITB (Misteri Sriwijaya di Gunung Dempo).

Ada dugaan Dapunta Hyang Sri Jayanaga (pendiri Kerajaan Sriwijaya) dan Dapunta Hyang Syailendra (pendiri Dinasti Syailedra), leluhur mereka berasal dari Peradaban Besemah (Gunung Dempo) dan Peradaban Minanga Kabwa (Gunung Merapi).

Silsilah dan Kekerabatan 5 Tokoh : Jokowi, Rhoma, Yusril, Prabowo dan Sultan HB X

Berdasarkan penyelusuran genealogy, terungkap fakta bahwa tokoh-tokoh yang berseberangan dalam politik, ternyata masih memiliki kekerabatan satu dengan lainnya.

jokowirhoma

Hal ini bisa terlihat pada ke-5 tokoh nasional, yaitu : Joko widodo (Jokowi), Rhoma Irama, Yusril Ihza Mahendra, Prabowo Subianto dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sebagaimana terlihat pada skema berikut :

silsilah5tokoh2
Keterangan :

1. Silsilah Rhoma Irama sampai kepada Sunan Ampel

Melalui ibunya, Rhoma Irama adalah keturunan Pangeran Sogiri, adapun silsilah Pangeran Sogiri sampai kepada Sunan Ampel adalah sebagai berikut :

1. Sunan Ampel
1.1. Dewi Mutasimah
1.1.1. Ratu Ayu Kirana Purnamasidhi
1.1.1.1. Maulana Yusuf
1.1.1.1.1. Maulana Muhammad
1.1.1.1.1.1. Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir
1.1.1.1.1.1.1. Sultan Abulmu’ali Ahmad
1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Ageng Tirtayasa
1.1.1.1.1.1.1.1.1. Pangeran Sogiri

(Sumber : Silsilah Rhoma Irama dan Trah Bangsawan Sukapura dan Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara)

2. Silsilah Yusril Ihza Mahendra sampai kepada Maulana Ishaq

Keluarga besar Yusril Ihza Mahendra, berasal dari kesultanan Johor, yang bermula kepada Tun Habib Abdul Majid. Tun Habib Abdul Majid sendiri silsilahnya akan sampai kepada Maulana Ishaq.

1. Maulana Ishaq
1.1. Syarifah Siti Musalmah
1.1.1. Maulana Fadillah Khan Al Pasi
1.1.1.1. Sayyid Abdullah
1.1.1.1.1. Sayyid Berakat Zainal Abidin
1.1.1.1.1.1. Sayyid Ali (Temenggung Seri Maharaja Johor)
1.1.1.1.1.1.1. Tun Habib Abdul Majid (Bendahara Seri Maharaja)

(Sumber : Yusril Ihza Mahendra, Kesultanan Johor dan Dinasti Makhdum Perlak)

3. Silsilah Joko Widodo (Jokowi) sampai kepada Ki Juru Mertani

Joko Widodo (Jokowi) adalah keturunan dari Kyai Abdul Jalal I
(Pendiri Perdikan Kalioso), yang silsilahnya akan sampai kepada Ki Ageng Djuru Martani.

1. Ki Ageng Djuru Martani (Maha Patih Mataram Kotagedhe)
1.1. Pangeran Adipati Manduraredjo (Ki Djuru Wiroprobo I)
1.1.1. RM Tmg Karto Nagoro
1.1.1.1. Kyai Gulu
1.1.1.1.1. Kyai Honggowongso
1.1.1.1.1.1. Kyai Niti Manggolo (Kyai Kerti Manggolo I)
1.1.1.1.1.1.1. Kyai Abdul Jalal I (Pendiri Perdikan Kalioso)

(Sumber : Gubernur JOKOWI dan Misteri Leluhur MATARAM ISLAM)

4. Silsilah Sultan Hamengkubuwono X sampai kepada Sultan Agung

1. Sultan Agung
1.1. Sultan Amangkurat I
1.1.1. Sunan Pakubuwono I
1.1.1.1. Sultan Amangkurat IV
1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono I (Kraton Jogja)
1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono II
1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono III
1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono IV
1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono VI
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono VII
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono VIII
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono IX
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono X

(Sumber : Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih)

5. Silsilah Prabowo Subianto sampai kepada Sultan Agung

Prabowo Subianto adalah keturunan dari Raden Tumenggung Mangkupradja, yang silsilahnya sampai kepada Sultan Agung

1. Sultan Agung
1.1. Sultan Amangkurat I
1.1.1. Sunan Pakubuwono I
1.1.1.1. Sultan Amangkurat IV
1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono I (Kraton Jogja)
1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono II
1.1.1.1.1.1.1. KGPA Moerdoningrat
1.1.1.1.1.1.1.1. Raden Tumenggung Djojodiningrat
1.1.1.1.1.1.1.1.1. Raden Ayu Djojoatmojo
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Raden Tumenggung Mangkupradja

(Sumber : PRABOWO SUBIANTO, dari Trah GIRI KEDATON dan Silsilah SUNAN TEMBAYAT)

Bahan Bacaan :

Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Bani Israel, Humanisme Islam dan Pernikahan Syarifah

Di masa lalu, pernikahan antara Bani Ismail (Arab) dengan Kaum Bani Israil adalah sesuatu hal yang biasa.

Bahkan salah seorang istri Rasulullah, Shafiyah binti Huyay ( صفية بنت حيي), berasal dari suku Bani Nadhir (salah satu suku Bani Israel yang bermukim disekitar Madinah).

Dan di kalangan Bani Israil, ada yang meyakini bahwa Imam Ali ra. (sepupu Nabi Muhammad), masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Pemimpin Bani Israel, Nabi Daud Alaihi Salam.

ManusiaTaqwa

Nabi Muhammad dan Humanisme Muslim

Diriwayatkan Ibnu Hisyam, Rasulullah berpesan dalam Haji Wada’:

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, nenek moyang kalian satu, kalian semua berasal dari Adam, dan Adam itu dari tanah”

“yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian”

“tidaklah orang Arab atas non Arab dan tidak pula non Arab atas orang Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang yang berkulit putih, tidak pula orang yang berkulit putih atas orang yang berkulit merah itu ada kelebihan, kecuali dengan takwa.”

Di dalam catatan sejarah, Rasulullah dikenal sangat anti rasialis, beliau pernah melamar Zainab bint jahsy (seorang wanita keturunan Bangsawan Quraish), untuk anak angkatnya Zaid bin Haritsah (seorang bekas budak).

Di masa itu, juga terjadi pernikahan seorang bekas budak bernama Salim, dengan seorang wanita keturunan bangsawan Quraish bernama Hindun bint Al-Walid ibn Utbah ibn Rabi’ah.

Dan seorang mantan budak Bilal bin Rabbah, yang telah menikahi saudara perempuan Abdurrahman ibn Auf, yang berasal dari Keluarga Bangsawan Suku Quraish.

arab bani israil

Pernikahan Syarifah dalam Sejarah

Teladan dari Rasulullah sebagai seorang Humanisme Muslim Sejati, juga di-ikuti oleh para keturunannya, yaitu anak cucu beliau dari puterinya Fatimah az-Zahrah ra.

Sebagaimana kita pahami, Fatimah az-Zahrah ra. merupakan isteri dari Imam Ali ra, dari pernikahan ini melahirkan 4 orang anak, yaitu : Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kalsum.

Di dalam permasalahan perkawinan, mereka lebih mengutamakan kepada tingkat ketaqwaan, daripada garis keturunan.

Setidaknya tercatat 7 peristiwa pernikahan, antara Syarifah Ahlul Bayt dengan Muslim dari golongan Ahwal (bukan berasal dari keturunan Rasulullah), pada masa awal Perkembangan Islam, yaitu :

1. Sukainah binti Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Zaid bin Umar bin Utsman bin Affan.

2. Fathimah binti Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan.

3. Fathimah binti Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Al-Mundzir bin Zubair bin Al-Awam.

4. Idah binti Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Nuh bin Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah.

5. Fathimah binti Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Ayyub bin Maslamah Al-Makhzumi.

6. Ummul Qasim binti Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Marwan bin Aban bin Utsman bin Affan.

7.  Fathimah binti Abdullah bin Hassan bin Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulullah, menikah dengan Idris bin Abbas bin Uthman bin Syafie bin Saib bin Abu Yazid, dari pernikahan ini melahirkan  Imam Syafei (Muhammad bin Idris asy-Syafi`i)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Bahan Referensi :

1. Genealogy Adnan Oktar (Harun Yahya)
2. Komunitas Muslim dari Bani Israil
3. Kufu’ dalam Nikah, adalah Perkara dien 

Silsilah Rhoma Irama dan Trah Bangsawan Sukapura

Jika kita membaca biografi Sang Raja Dangdut, Oma Irama (Rhoma Irama), akan kita dapati informasi, bahwa beliau adalah putra dari Raden Burdah Anggawirya.

Raden Burdah Anggawirya, adalah mantan komandan gerilyawan Garuda Putih Tasikmalaya, pada masa perang kemerdekaan. Dan beliau berasal dari keluaga bangsawan Tasikmalaya, yang di masa lalu lebih dikenal sebagai Sukapura.


Bangsawan Sukapura (Tasikmalaya)

Jika kita menyelusuri Genealogy Kaum Bangsawan Sukapura, mereka ada yang berasal dari keturunan Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa), sebagian lagi adalah keturunan dari Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I).

Kedua leluhur kaum bangsawan Sukapura ini, memiliki garis silsilah sebagai berikut :

Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa)
Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa) bin Raden Entol Wiraha bin Pangeran Kusumah Diningrat bin Sayyid Abdul Halim (Pangeran Benawa) bin Sayyid Abdurrahman (Jaka Tingkir) bin Sayyid Shihabudin (Ki Ageng Pengging) bin Sayyid Muhammad Kebungsuan (Handayaningrat)  bin Maulana Husain Jumadil Kubro bin Syeikh Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Sayyid Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I)
Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I) bin Raden Abdullah Malaka bin Maulana Abdul Qadir (Pati Unus) bin Raden Muhammad Yunus bin Syekh Abdul Khaliq al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi bin Imam Muhammad Al Faqih Al Muqaddam bin Sayyid Ali Ba Alawi bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Dalam versi yang lain disebutkan bahwa Tumenggung Wiradadaha (Wirawangsa) adalah keturunan dari Raden Suryadiwangsa (Suryadiningrat I), dan ada juga yang menyebutkan sebagai keturunan dari Panembahan Senapati Mataram (melalui jalur ibunya Nyai Sabinah, Panembahan Senapati adalah salah seorang zuriat dari Syeikh Muhammad Shohib Mirbath).

Dengan demikian, bisa dikatakan Para Bangsawan Sukapura (Tasikmalaya), adalah keturunan dari Syeikh Muhammad Shohib Mirbath, yang merupakan seorang ulama dari Hadramaut (Yaman).

Sementara Silsilah Syeikh Muhammad Shohib Mirbath, sampai kepada Rasulullah adalah :

Syeikh Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali Qasam bin ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin ‘Alwi al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa An-Naqib bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husain Asy-Syahid bin Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :

1. Maulana Husain, Pelopor dakwah Nusantara
2. Meninjau Kembali, Silsilah Kyai AHMAD DAHLAN (Muhammadiyah) ?
3. Dinasti Giri Kedaton dan Silsilah Presiden Indonesia : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Catatan :

1. Dari penyelusuran genealogy, kami memperoleh data, bahwa ibu dari Oma Irama, yang bernama Tuti Juariah adalah keturunan dari Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa Banten.

2. Silsilah Pangeran Sogiri – Sunan Gunung Jati – Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa bin Sultan Abulmu’ali Ahmad bin Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir bin Maulana Muhammad bin Maulana Yusuf bin Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati bin Sayyid Abdullah Umdatuddin bin Sayyid Ali Nurul Alam bin Maulana Husain Jumadil Kubro bin Syeikh Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Sayyid Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

3. Silsilah Pangeran Sogiri – Pangeran Ahmad Jakerta  – Syeikh Muhammad Shohib Mirbath

Berdasarkan catatan Nurfadhil Al-Alawi Al-Husaini, pemerhati silsilah Kesultanan Banten, jalur Pangeran Sogiri sebagai berikut :

Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa bin Ratu Marta Kusuma binti Pangeran Ahmad Jakerta bin Pangeran Sungerasa Jayawikarta bin Ratu Ayu Pembayun (istri dari Pangeran Jayakarta II/Tubagus Angke) binti Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati bin Sayyid Abdullah Umdatuddin bin Sayyid Ali Nurul Alam bin Maulana Husain Jumadil Kubro bin Syeikh Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Azmatkhan bin Sayyid Abdul Malik Al-Muhajir bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Syeikh Muhammad Shohib Mirbath (sumber)

4. Silsilah Pangeran Sogiri – Sunan Ampel

Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa bin Sultan Abulmu’ali Ahmad bin Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir bin Maulana Muhammad bin Maulana Yusuf bin Ratu Ayu Kirana Purnamasidhi binti Dewi Murtasimah binti Sunan Ampel

Hajar Aswad, Petunjuk Astronomi Keberadaan Makkah ?

Ada satu pertanyaan yang mengelitik…

Mengapa Nabi Ibrahim, memilih Makkah sebagai tempat berdirinya Ka’bah ?

Akan ada banyak jawaban…

Namun jawaban yang paling umum adalah, Kota Makkah adalah tempat awal peradaban manusia, sehingga disebut juga  Ummul Qura atau Ibu Negeri (QS.42:7). Dan disanalah mula-mula tempat peribadatan didirikan (QS.3:96).

Makkah—juga disebut Bakkah—tempat di mana umat Islam melaksanakan haji itu, terbukti sebagai tempat yang pertama diciptakan.

Telah menjadi kenyataan ilmiah bahwa bola bumi ini pada mulanya tenggelam di dalam air (samudera yang sangat luas). Kemudian gunung api di dasar samudera ini meletus dengan keras dan mengirimkan lava dan magma dalam jumlah besar yang membentuk ‘bukit’.

Dan bukit ini adalah tempat Allah memerintahkan untuk menjadikannya lantai dari Ka’bah (kiblat). Batu basal Makkah dibuktikan oleh suatu studi ilmiah sebagai batu paling purba di bumi. (Sumber : Kota Makkah, dan Penemuan Geologi).

Jawaban atas alasan dipilihnya kota Makkah, sebagaimana tersebut di atas, bagi seorang Pencari Ilmu belumlah cukup. Dan muncul pertanyaan baru…

Darimana Nabi Ibrahim tahu, kalau tempat ia membangun Ka’bah dulunya adalah tempat awal peradaban manusia ? Bukankah ketika beliau mendirikan Ka’bah, tempat itu merupakan tempat tak bertuan dan gersang ?

Bahkan selepas Bencana Nabi Nuh, Kota Makkah (Bakkah) sempat menghilang keberadaannya. Tempat yang dipercaya sebagai lokasi paling tepat bagi waktu dunia, bahkan berdasarkan penelitian Geologi merupakan Pusat Hemisphere Pangea, selama ribuan tahun tidak diketahui rimbanya.

Sekitar 30 tahun yang lalu, seorang Cendikiawan Muslim, Ustadz Nazwar Syamsu mencoba menjawab pertayaan itu.

Melalui serial bukunya “Tauhid dan Logika“, beliau menyatakan penemuan kembali Kota Makkah, tidaklah bisa dilepaskan dengan keberadaan Batu Astronomi (Meteor) “Hajar Aswad”.

Beliau menulis…

“Kepada Ibrahim dikirim ALLAH sebuah meteor yang jatuh tepat di titik putaran utara Bumi dulu. Meteor itu kini tampak jelas di Ka’bah dan dinamakan orang dengan Hajar Aswad atau Batu Hitam, karena memang warnanya hitam, sengaja ditempatkan Nabi Ibrahim demikian, agar pada waktu kemudiannya tidak timbul syak wasangka, bahwa penempatan Ka’bah demikian hanya menurut kemauan Ibrahim sendiri.” (Sumber : Al Qur’an tentang Shalat Puasa dan Waktu, Serial Tauhid dan Logika, Tulisan Nazwar Syamsu)

Untuk dipahami, mencium Batu Hajar Aswad, bukan saja mengikuti Sunnah Rasulullah, akan tetapi bisa juga kita maknai, sebagai bentuk rasa syukur kita, atas ditemukan kembali keberadaan Kota Makkah, oleh Nabi Ibrahim ‘Alahi Salam.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Jemaah Haji, Tempo Doeloe

Di dalam Historiografi Haji Indonesia, Dr M Shaleh Putuhena menyatakan, sejak abad ke-16 M, sudah ada umat Islam Indonesia yang menunaikan ibadah haji.

Begitu juga pada abad-abad berikutnya, banyak umat Islam Indonesia yang pergi haji kendati melalui perjuangan yang sangat berat. Bahkan, ada di antara mereka yang menempuh perjalanan hingga bertahun-tahun.

Saat bisa meninggalkan Indonesia, mereka singgah di Singapura atau Penang (Malaysia). Di tempat tersebut, umat Islam Indonesia yang ingin berhaji ini rela menjadi pekerja kasar. Ada yang menjadi tukang kebun, menggarap sawah, dan lainnya demi satu tujuan, yaitu berkunjung ke Baitullah (sumber : Sejak Berabad Lalu, Umat Islam Nusantara Sudah Pergi Haji).


Sementara itu, menurut Prof. Dadan Wildan Anas, berdasarkan naskah Carita Parahiyangan dikisahkan bahwa pemeluk agama Islam yang pertama kali di tanah Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh (1357-1371).

Mengenai siapa pemeluk Islam pertama di tataran Sunda, ada versi lain yang menyebutkan seorang Pangeran dari Tarumanegara, yang bernama Rakeyan Sancang. Rakeyan Sancang disebutkan hidup pada masa Imam Ali bin Abi Thalib.

Rakeyan Sancang diceritakan, turut serta membantu Imam Ali dalam pertempuran menalukkan Cyprus, Tripoli dan Afrika Utara, serta ikut membangun kekuasaan Muslim di Iran, Afghanistan dan Sind (644-650 M) (Sumber : Islam masuk ke Garut sejak abad 1 Hijriah).

Bratalegawa adalah seorang saudagar, ia sering melakukan pelayaran ke Sumatra, Cina, India, Srilanka, Iran, sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad. Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk Islam. Bratalegawa juga dikenal, sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaan Galuh, ia mendapat sebutan, Haji Purwa.

13415336201814552340

Dua Haji Baru dari Ternate
Sumber : PenjelajahBahari

Berdasarkan catatan sejarah, jemaah haji Kesultanan Banten, yang dikirim pertama kali adalah utusan Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu, Sultan Ageng Tirtayasa berkeinginan memajukan negerinya baik dalam bidang politik diplomasi maupun di bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain (Tjandrasasmita, 1995:117).

Pada tahun 1671 sebelum mengirimkan utusan ke Inggris, Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan putranya, Sultan Abdul Kahar, ke Mekah untuk menemui Sultan Mekah sambil melaksanakan ibadah haji, lalu melanjutkan perjalanan ke Turki. Karena kunjungannya ke Mekah dan menunaikan ibadah haji, Abdul Kahar kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Haji (Sumber: Kian Santang).

13415337641301349244

Pemberangkatan Haji di Tanjung Priok (1925-1935)
Sumber : Tanjung Priok

HAJI DI MASA KOLONIAL

“Semakin banyak peziarah yang berangkat ke Makkah, semakin meningkatlah fanatisme (Keislaman).” -Koran De Locomotief, 1877-

Campur tangan pihak kolonial dalam hal urusan ibadah haji, bermula dengan alasan ketakutan dan kecurigaan terhadap para haji yang baru pulang dari tanah suci. Terdapat kecurigaan bahwa masyarakat Nusantara yang menunaikan ibadah haji di Makah akan membawa pemikiran baru dalam pergerakan Islam untuk menentang kolonialisme. Kecurigaan ini kemudian dijadikan sebagai alat untuk merumah kacakan prosesi ibadah haji untuk memudahkan dalam mengontrol pergerakannya.

Untuk mengawali usaha monopoli ibadah haji tersebut, maka pemerintah kolonial mengeluarkan sebuah putusan terkait prosesi ibadah haji untuk pertama kalinya, “pihak kolonial kemudian berupaya menekan jamaah haji dengan mengeluarkan Resolusi (putusan) 1825. Peraturan ini diharapkan tidak hanya memberatkan jamaah dalam hal biaya tetapi sekaligus dapat memonitor aktivitas mereka dalam melaksanakan ritual ibadah haji dan kegiatan lainnya selama bermukim disana”.

Pada waktu musim haji 1927-1928 jamaah yang berangkat menunaikan ibadah haji ke Makah berjumlah 33.965 orang yang terdiri atas; 10.970 orang berangkat dengan perusahaan Rotterdamsche Lloyd, menggunakan perusahaan Nederlandsche Lloyd 9.467 orang, dan perusahaan Ocean 10.634 orang. Selama musim haji itu, tiap perusahaan mengoperasikan kapalnya antara 7 samapi 9 kali” (Majid, 2008.Hlm. 67).

Walaupun dengan biaya yang begitu mahal, jamaah haji tidak mendapatkan fasilitas yang memadai dalam prosesi ibadah haji, “persaingan maskapai kapal Belanda (KPM) yang disebut dngan istilah kongsi tiga dengan maskapai kapal Inggris, Arab, dan Singapura, namun pada umumnya maskapai tidak ada yang mengutamakan kesehatan (Sumber : Kelas Haji Kelas Sosial).

13415338171594808960

Pemberangkatan Haji di Teluk Bayur
Sumber : PenjelajahBahari

Konon, perjalanan menuju Mekah dari daerah-daerah di Nusantara membutuhkan waktu 2 hingga 6 bulan lamanya karena perjalanan hanya dapat ditempuh dengan kapal layar. Bayangkan berapa banyak perbekalan berupa makanan dan pakaian yang harus dipersiapkan para jemaah haji.

Itu pun belum tentu aman. Kafilah haji selalu harus waspada akan kemungkinan para bajak laut dan perompak di sepanjang perjalanan, belum lagi ancaman topan, badai dan penyakit. Tidak jarang ada jemaah haji yang urung sampai di tanah suci karena kehabisan bekal atau terkena sakit. Kebanyakan dari mereka tinggal di negara-negara tempat persinggahan kapal.

Karena beratnya menunaikan ibadah haji, mudah dimengerti bila kaum muslimin yang telah berhasil menjalankan rukun Islam kelima ini kemudian mendapatkan kedudukan tersendiri dan begitu terhormat dalam masyarakat sekembalinya ke negeri asalnya. Merekapun kemudian mendapat gelar “Haji”, sebuah gelar yang umum disandang para hujjaj yang tinggal di negara-negara yang jauh dari Baitullah seperti Indonesia dan Malaysia, tapi gelar ini tidak populer di negara-negara Arab yang dekat dengan tanah suci (Atja, 1981:47).

1341536718260961501

Kegiatan Karantina Haji di Pulau Onrust (1911-1933)
Sumber : Onrust

Demikian beberapa catatan tentang kaum muslimin Nusantara jaman dulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji. Dari kisah-kisah tersebut nampaknya ibadah haji merupakan ibadah yang hanya terjangkau kaum elit, yaitu kalangan istana atau keluarga kerajaan.

Hal ini menunjukkan –pada jaman itu- perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji memerlukan biaya yang sangat besar. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya masyarakat kalangan bawah yang juga telah berhasil menunaikan ibadah haji namun tidak tercatat dalam sejarah. Gelar “Haji” memang pantas bagi mereka.

Sekarang perjalanan haji seharusnya tidak sesulit jaman dulu. Sudah selayaknya pemerintah mempermudah perjalanan haji dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya bagi kaum muslimin yang ingin menunaikannya.