Author Archives: kanzunQALAM

[Penjelasan Ilmiah] Batu Akik Bergambar Ka’bah dari Sulawesi Tengah?

Baru-baru ini, kita dihebohkan oleh penemuan akik (jenis King Marantale), yang bercorak gambar ka’bah, yang dikelilingi orang-orang bertawaf.

Batu akik yang ditemukan di Parigi Moutong (Sulawesi Tengah), pada jum’at 26 Juni 2015 (9 Ramadhan 1436 H), sempat membuat histeris warga, ada yang menangis sambil mengucap Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar (Sumber : liputan6.com).

akik1
Penjelasan Ilmiah Pembentukan Image Batu Akik

Terukirnya corak gambar pada bebatuan akik, secara ilmiah bisa dijelaskan sebagai berikut.

Berawal dari aktifitas magma panas di dalam perut bumi, yang naik ke atas permukaan dengan melewati celah-celah batuan dan lapisan tanah.

Makin naik, maka semakin turun panasnya dan kemudian membeku sehingga membentuk batuan kristal (Sumber : djurnal.com).

akik3

Ketika cairan superpanas ini mulai naik, cairan ini akan melarutkan berbagai batuan lain (fosil kayu dan sebagainya) yang telah ada, sehingga terjadilah proses pelarutan atau ubahan hidrotermal (Sumber : kompas.com).

Proses hidrotermal yang berlangsung selama jutaan tahun inilah, menjadi penyebab terbentuknya corak gambar pada bebatuan akik.

Hal ini bermakna. corak gambar yang terdapat pada akik, adalah peristiwa ilmiah yang biasa.

Akan tetapi, harus diakui merupakan satu karunia ALLAH, ketika proses alamiah ini, bisa berbentuk corak jemaah yang sedang tawaf disekeliling ka’bah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Film Abad Kejayaan (Muhteşem Yüzyıl), Konflik Keluarga “Suleiman the Magnificent” yang dipaksakan?

Di dalam alur cerita, Film Abad Kejayaan, kita dipertontonkan perseteruan yang penuh intrik, antara Şah Sultan (adik Suleiman the Magnificent), dengan iparnya Hürrem Sultan, yang merupakan istri daripada King Suleiman.

Persaingan kedua wanita ini, digambarkan penuh muslihat serta menghalalkan segala cara, demi memperoleh kemenangan.

Kenyataannya permusuhan ini hanyalah skenario film belaka. Fakta sejarah justru mencatat puteri Şah Sultan yang bernama Esmehan Baharnaz Sultan, justru merupakan istri dari Şehzade Mehmed, yang merupakan putera Hürrem Sultan (sumber : Esmehan Baharnaz Sultan).

kejayaan1

Kisah Fiksi dalam Muhteşem Yüzyıl

Muhteşem Yüzyıl (Abad Kejayaan) merupakan film serial televisi asal Turki, yang mulai diliris pada tahun 2011 (sumber : Muhteşem Yüzyıl).

Serial Televisi ini lebih tepat disebut cerita Fiksi ketimbang kisah Sejarah.  Salah satu dongeng yang disajikan oleh serial ini adalah kisah asmara Puteri Mihrima dan Bali Bey.

Kisah percintaan ini, sama sekali tidak ada, dan Bali Bey sesungguhnya masih terhitung paman dari Puteri Mihrima.

Bali Bey merupakan sepupu dari Sultan Sulaiman (ayah puteri Mihrima), mereka berdua adalah cucu dari Sultan Bayezid II (Sumber : Solopos).

kejayaan2
Cerita tentang keterlibatan Hürrem Sultan dalam intrik politik Kesultanan Turki, ternyata bukan bersumber dari penulis sejarah.

Kisah Hürrem Sultan yang kejam, berkemungkinan ter-inspirasi dari buku La Soltane, yang dikarang oleh penulis Prancis.

Di dalam buku ini, diceritakan tentang keterlibatan Hürrem Sultan dalam konspirasi menyingkirkan Pangeran Mustafa (Sumber : Warisan Hurrem).

Sejarah mencatat selama hidupnya Puteri Hürrem Sultan, banyak terlibat dalam kegiatan di bidang sosial. Hurrem membangun kompleks masjid di Istanbul, rumah penampungan, sekolah, serta rumah sakit.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Ketika Bumi menolak jasad “mantan” juru tulis Nabi Muhammad?

Di dalam hadis Bukhari no.3617, yang diriwayatkan Anas ra., bercerita tentang seorang mualaf yang pandai membaca Al Qur’an. Bahkan ia kemudian dijadikan salah satu dari “Juru Tulis Nabi”.

Setelah beberapa lama bersama Rasulullah, ia menyatakan dirinya keluar dari Islam, bahkan ia memfitnah dengan mengatakan : “Tidak ada yang diketahui Muhammad melainkan apa yang aku tulis untuknya”.

hadith3617                                                        Sumber Hadith : sunnah.com

Bumi Menolak Jasad

Tidak lama kemudian Allah mewafatkan, “mantan” juru tulis Nabi tersebut. Setelah teman-temannya, menguburkan jenazahnya, pada keesokan harinya, jasad tersebut dimuntahkan oleh bumi.

Teman-temannya berkata; “Ini adalah perbuatan Muhammad dan shahabat-shahabatnya”, lalu mereka kembali menguburkannya.

jasad1

Namun keesokan harinya, jasad tersebut kembali dimuntahkan oleh bumi, dan kembali jasad tersebut dikuburkan teman-temannya.

Anehnya, keesokan harinya, jasad itu dimuntahkan kembali oleh bumi, sehingga membuat teman-temannya menyadari bahwa kejadian itu bukan perbuatan manusia dan pada akhirnya mereka mencampakkannya begitu saja.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Perlawanan Sultan Ahmad Najamuddin “Prabu Anom”, menjelang berakhirnya Kesultanan Palembang Darussalam?

Pada permulaan abad ke-19, Belanda yang pada saat itu menjadi bagian dari Perancis, telibat konflik dengan Inggris untuk memperebutkan monopoli perdagangan di Nusantara.

Perseteruan antara kedua negara ini merupakan rambatan dari Perang Napoleon yang terjadi di Eropa.  Dengan semakin meredupnya kekuasaan Pemimpin Perancis, Napoleon Bonaparte, membuat Inggris berupaya mengakhiri pengaruh Belanda di Nusantara.

voc1

Masa Kekuasaan Inggris di Palembang

Pada tanggal 24 April 1812, Inggris berhasil menguasai Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin “Pangeran Ratu” menyingkir ke pedalaman.

Berdasarkan Hirarki adik Sultan Mahmud Badaruddin “Pangeran Ratu”, yang bernama Pangeran Husin Diauddin dinobatkan menjadi Penguasa Palembang, dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin “Pangeran Adi Menggalo”.

Namun saat Residen Inggris berganti dari Kapten Meares kepada Mayor Robinson, terjadi perubahan kebijakan. Pada tanggal 13 Juli 1813, Mayor Robinson mengangkat kembali Sultan Mahmud Badaruddin “Pangeran Ratu”, sebagai penguasa Palembang.

Tindakan Mayor Robinson ini, membuat Gubernur Jenderal Raffles geram. Ia mengirim sebuah komisi, yang dipimpin Kapten George Elliot dan memecat Mayor Robinson sebagai Residen Palembang.

Komisi ini juga mengembalikan Sultan Ahmad Najamuddin “Pangeran Adi Menggalo”, sebagai penguasa Palembang.

palembang3

Belanda dan Kesultanan Palembang

Setelah Belanda terbebas dari Perancis tahun 1814, Pada tahun 1817, Residen Palembang dipegang kembali oleh bangsa Belanda. Kapten Mutinghe kemudian mengangkat kembali Sultan Mahmud Badaruddin “Pangeran Ratu”.

Kelakuan Residen Palembang ini membuat berang Raffles, yang saat itu mendapat tugas baru sebagai Residen Bengkulu (setelah jabatannya sebagai Gubernur Jenderal, diambil alih oleh John Fendall).

Raffles mengirimkan pasukannya ke Palembang, akan tetapi pasukan ini diusir oleh tentara Belanda. Untuk menghindari dualisme kekuasaan di Palembang, Belanda mengasingkan Sultan Ahmad Najamuddin “Pangeran Adi Menggalo”, ke Betavia.

Hubungan baik antara Sultan Mahmud Badaruddin “Pangeran Ratu” dengan Belanda, ternyata tidak berlangsung lama. Kedua belah pihak, terlibat persengketaan, yang berakibat terjadi peperangan diantara mereka.

Ketika suasana Palembang sudah agak normal, diangkatlah putera Sultan menjadi penguasa Palembang, dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin “Pangeran Ratu”, sementara Mahmud Badaruddin menjadi Susuhunan.

palembang2

Perlawanan Sultan Palembang

Pada bulan Mei 1821, Belanda melancarkan serangan besar-besaran terhadap Palembang. Serangan ini berakibat terjadinya pertempuran yang dahsyat dan berlangsung cukup lama, yaitu antara tanggal 22 Mei 1821 sampai dengan 24 Juni 1821.

Disaat yang sangat mendesak, untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih banyak, putera Sultan Ahmad Najamuddin “Pangeran Adi Menggalo”, yang juga merupakan kemenakan Susuhunan Mahmud Badaruddin, diangkat menjadi Penguasa Palembang dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin “Prabu Anom”.

Naiknya Sultan Ahmad Najamuddin “Prabu Anom”, dianggap bisa menengahi pihak-pihak yang bersengketa ketika itu, dan yang lebih penting Hirarki Pemerintahan di Kesultanan Palembang Darussalam, masih terus berlangsung.

Legitimasi Sultan Ahmad Najamuddin “Prabu Anom” cukup kuat, semua kekuatan Kesultanan Palembang Darussalam hampir sepenuhnya berada di belakang beliau.

benteng1

Dengan kekuatan ini-lah, pada tanggal 21 November 1824, Sultan dibantu keluarga, alim-ulama dan rakyat, menyerbu garnisun Belanda di Kuto Besak. Selepas melakukan penyerangan, Sultan beserta pengikutnya hijrah ke pedalaman.

Perlawanan Sultan Palembang dari daerah pedalaman cukup membuat pusing Pemerintah Belanda. Namun ketidak-hadiran Sultan di ibukota kerajaan, ternyata dimanfaatkan untuk menghapus Kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam.

Untuk melemahkan pengaruh Sultan Ahmad Najamuddin “Prabu Anom”, di tengah-tengah masyarakat issue tentang Sultan yang telah berkhianat serta ditinggalkan oleh para pengikutnya, direkayasa sedemikian rupa.

Dengan semakin pupusnya pengaruh Sultan, pihak Belanda menjadi lebih leluasa untuk menanamkan pengaruhnya di Palembang.

Selain itu, untuk meredam gejolak perlawanan rakyat,  pihak Belanda mengangkat beberapa pejabat pemerintah, yang berasal dari kalangan tokoh masyarakat, yang mereka anggap bisa diajak bekerja-sama.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
1. Sejarah Perang Koalisi Napoleon (1792-1815)
2. Berakhirnya Kesultanan Palembang
3. Misteri Berakhirnya Kesultanan Palembang Darussalam ?
4. Masa Pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin
5. Sejarah dan Kesultanan Palembang
5. Kesultanan Palembang Darussalam
6. Belanda, Pengkhianatan dan Pahlawan
7. Sultan Mahmud Badaruddin II, Pahlawan Nasional dari Keluarga Al Alawiyin di Kesultanan Palembang Darussalam

[Misteri] Jati diri Nabi Khidir, menurut Syekh Siti Jenar?

Di dalam buku “Suluk Abdul Jalil”, tulisan Agus Sunyoto, diceritakan tentang tafsir Syekh Siti Jenar, berkenaan dengan sosok Nabi Khidir.

Bermula ketika, Sri Mangana, yang merupakan ayah angkat Syekh Siti Jenar, berkisah tentang pertemuaannya dengan Nabi Khadir.

Sri Mangana, menuturkan ketika ia dalam kondisi antara tidur dan terjaga, dia merasa seolah-olah berjalan dengan seorang anak muda di sebuah tanah menjorok lurus.

Pada sisi kanan dan kiri tanah tersebut merupakan bentangan lautan luas tanpa tepi. Di tempat aneh itu dia merasa berjumpa dengan Khidir.

Syekh Siti Jenar mencoba menafsirkan kejadian yang dialami ayah angkatnya itu. Menurutnya “tanah menjorok dengan lautan di sebelah kanan dan kiri”, merupakan perlambang dari alam barzakh.

Dan makna kedua lautan adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na), perlambang alam tidak kasatmata (‘alam al-ghaib), dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam), perlambang alam kasatmata (‘alam asy-syahadat)” (Sumber : Suluk Abdul Jalil).

gaib1a
Kisah Nabi Khadir

Menurut Syekh Siti Jenar, peristiwa yang dialami Nabi Musa bertemu dengan Nabi Khidir, sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an, bukanlah peristiwa sejarah seorang manusia bertemu manusia lain. Ia adalah peristiwa perjalanan ruhani yang berlangsung di dalam diri Nabi Musa sendiri.

Tempat di mana Nabi Musa berdiri di hadapan Khidir merupakan wilayah perbatasan antara alam kasatmata dan alam tidak kasatmata.

Sementara pemuda yang mendampingi Nabi Musa saat mencari Khidir, yang membawa bekal makanan, merupakan perlambang  terbukanya pintu alam tidak kasatmata.

Hijab gaib yang menyelubungi manusia dari Kebenaran Sejati tidak akan bisa dibuka tanpa kehendak Dia, Sang Pembuka (al-Fattah).

Itu sebabnya, saat Nabi Musa bertemu dengan Khidir, pemuda yang mendampinginya itu, tidak disebut-sebut lagi karena ia sejatinya merupakan perlambang keterbukaan hijab gaib.

gaib1bc

Dan makna bekal makanan yang dibawa sang pemuda adalah perlambang pahala perbuatan baik (al-yamal ash-shalift) yang hanya berguna untuk bekal menuju ke Taman Surgawi (al-jannati).

Bagi pencari Kebenaran sejati, pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut penutup hati (ghairi).

Andaikata saat itu Nabi Musa memerintahkan si pemuda untuk mencari bekal yang lain, apalagi sampai memburu bekal ikan yang telah masuk ke dalam laut, niscaya Nabi Musa tidak akan bertemu Khidir. Nabi Musa dan si pemuda tentu akan masuk ke Lautan Jisim (alam kasatmata) kembali.

gaib1c

Dalam pandangan Syekh Siti Jenar, sosok Nabi Khidir adalah mursyid sejati di dalam diri manusia itu sendiri. Masing-masing manusia akan mengalami pengalaman ruhani yang berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran (Sumber : Perjalanan Ruhani Syekh Siti Jenar).

Nabi Musa bertemu dengan Khidir di alam tidak kasatmata, yaitu alam yang tidak jelas batas-batasnya. Alam yang tidak bisa dinalar karena segala kekuatan akal.

Manusia tidak bisa ber-ijtihad untuk menetapkan hukum yang berlaku di alam gaib. Itu sebabnya, Khidir melarang Nabi Musa bertanya sesuatu dengan akalnya dalam perjalanan tersebut.

Dan, apa yang disaksikan Nabi Musa terhadap perbuatan yang dilakukan Khidir benar-benar bertentangan dengan hukum dan akal sehat yang berlaku di dunia, seperti melubangi perahu tanpa alasan, membunuh seorang anak kecil tak bersalah, dan menegakkan tembok runtuh tanpa upah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

[Misteri] Shalat dalam Kobaran Api, adalah berita HOAX?

Baru-baru ini, beredar foto dramatis di dunia maya, memperlihatkan seseorang seperti dalam posisi gerakan shalat, namun berada di dalam kobaran api.

Bahkan ada artikel yang menulis peristiwa ini, dengan judul bombastis “SubhanAllah!!! Pria Ini Tetap Meneruskan Sholatnya Walaupun Dalam Keadaan Di BAKAR“.

api3
Berita tahun 2008, di Afrika Selatan

Melalui penyelusuran artikel, ternyata berita tentang Shalat dalam kobaran api, adalah Hoax.

Peristiwa yang fotonya beredar di media sosial internet, ternyata berasal dari kerusuhan etnis tahun 2008 di Johannesburg, Afrika Selatan, sebagaimana diberitakan dailymail.co.uk.

api1
Penerbitan artikel yang tidak sesuai fakta sebenarnya, tentu sangat kita sesalkan, apalagi membawa-bawa sentimen keagamaan.

Dan dari sisi pembaca, kita juga dituntut untuk lebih teliti, dan tidak mudah percaya begitu saja, kepada berita yang belum pasti kebenarannya.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sir Rowland Allanson Winn (Shaikh Rahmatullah al-Farooq), the 42nd-generation descendant of the Prophet Muhammad?

Sir Rowland George Allanson Allanson-Winn (19 January 1855 – 22 June 1935), was born in London. He embraced Islam on 16 November 1913 and adopted the Muslim name of Shaikh Rahmatullah al-Farooq (wikipedia).

headley1
He wrote several small booklets about Islam and many articles in the monthly Islamic Review, the journal of the Woking Mission. He worked hard on plans (which were never fulfilled) to build a grand mosque in London itself (aquila-style.com).

Sir Rowland George Allanson Allanson-Winn, Genealogy

A. Eleanor de Castile, from MUHAMMAD ‘The Prophet’
(source : Muhammad “The Prophet”, in the Genealogy of the US President ?)

01. MUHAMMAD ‘The Prophet’
02. FATIMA
03. Husain
04. Ali Zainal Abidin
05. Muhammad al Baqir
06. Ja’far ash Shadiq
07. Musa al Kadzim
08. Ali ar Ridha
09. Abu Djaffer Muhammad
10. Abu Hassan Ali
11. Ishar
12. Abdullah I of Cordoba
13. Muhammad II of Cordoba
14. Abd. Rahman III of Cordoba
15. al Hakam II of Cordoba

16. Mawiyah bint al Hakam II (source : fabpedigree.com)
(m. Gonsalo Gustaves de Lara)

17. Nuno Gonsalez de Lara
18. Gonsalo Nunez de Lara
19. Nuno Gonsalez de Lara
20. Jimena Munez
21. Teresa of Castile
22. Alfonso I of Portugal
23. Urraca of Portugal
24. Alfonso IX of Leon
25. Ferdinand III of Castile
26. Eleanor of Castile, Queen consort of England

headley2
B. Sir Rowland George Allanson, from Eleanor de Castile

(source : Geni.com, Rowland George Allanson-Winn)

26. Eleanor of Castile, Queen consort of England
(m. Edward I “Longshanks”, King of England)

27. Elizabeth of Rhuddlan, Countess of Hereford
28. William de Bohun, 1st Earl of Northampton
29. Elizabeth de Bohun, Countess of Arundel
30. Elizabeth FitzAlan, Duchess of Norfolk
31. Isabel de Mowbray
32. Thomas de Berkeley
33. Richard Guy Berkeley, Esq.
34. William Berkeley
35. Roland Berkeley
36. Mary Berkeley
37. Sir George Winn, 1st Bt
38. George Winn
39. Pelham Winn
40. George Allanson-Winn, 1st Baron Headley
41. George Allanson-Winn
42. Rowland Allanson-Winn, of Glenbeigh, Co Kerry
43. Rowland George Allanson-Winn, 5th Baron Headley

WaLlahu a’lamu bishshawab