Benarkah Keluarga Berpenghasilan Rendah, Punya Anak Lebih Banyak?

Fenomena keluarga miskin yang memiliki banyak anak sering kali menjadi perbincangan dalam diskusi sosial dan ekonomi.

Secara global, terdapat korelasi antara tingkat pendapatan dan tingkat kesuburan.

Negara berpendapatan rendah memiliki rata-rata tingkat kesuburan (Total Fertility Rate/TFR) 4,5 anak per wanita, sedangkan negara berpendapatan tinggi hanya 1,6 anak.

Di Indonesia, meskipun TFR nasional telah menurun dari 5,6 pada 1960-an menjadi 2,15 pada 2022, disparitas tetap ada di daerah-daerah miskin seperti Nusa Tenggara Timur.

🏵 Faktor Penyebab Tingginya Jumlah Anak di Keluarga Miskin

  1. Biaya Kesempatan yang Rendah

Dalam keluarga miskin, terutama di pedesaan, perempuan sering kali tidak memiliki pekerjaan berpenghasilan tetap.

Sehingga, melahirkan dan mengasuh anak tidak dianggap mengurangi pendapatan keluarga secara signifikan.

Sebaliknya, di kota, perempuan karir menghadapi kehilangan pendapatan besar saat cuti hamil.

  1. Anak sebagai Investasi Ekonomi

Anak sering dianggap sebagai aset ekonomi yang dapat membantu pekerjaan rumah tangga atau pertanian, serta sebagai jaminan di hari tua.

Keyakinan ini mendorong keluarga miskin untuk memiliki lebih banyak anak.

  1. Akses Terbatas terhadap Pendidikan dan Kontrasepsi

Keterbatasan akses terhadap pendidikan, terutama pendidikan tentang kesehatan reproduksi, serta alat kontrasepsi menyebabkan kurangnya kontrol atas ukuran keluarga.

Hal ini berkontribusi pada tingginya angka kelahiran di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.

  1. Norma Sosial dan Budaya

Di beberapa komunitas, memiliki banyak anak masih dianggap sebagai simbol kebahagiaan atau prestise.

Ada juga anggapan bahwa banyak anak akan mendatangkan rezeki yang banyak, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.

  1. Pernikahan Dini

Pernikahan dini, yang umum terjadi di beberapa daerah, menyebabkan perempuan memulai kehidupan reproduksi lebih awal, meningkatkan kemungkinan memiliki lebih banyak anak.

🏵 Dampak Negatif

Memiliki banyak anak dalam kondisi ekonomi yang terbatas dapat memperburuk siklus kemiskinan.

Anak-anak dari keluarga miskin sering kali tidak mendapatkan pendidikan memadai, berakhir dengan pekerjaan informal, dan mengalami masalah kesehatan.

Hal ini memperpanjang siklus kemiskinan antar generasi.

Referensi:

https://www.merdeka.com/sehat/benarkah-keluarga-miskin-punya-anak-lebih-banyak-394646-mvk.html?page=3
https://www.kompasiana.com/sintaari2652/67173c6fed64153d983991d2/dampak-banyak-anak-di-keluarga-miskin-tantangan-dan-pengaruh-terhadap-anak

WaLlahu a’lamu bishshawab

Tinggalkan komentar