Part 10: Barisan Darah Adat

Angin Timur di Ujung Musi, Part 10

Barisan Darah Adat

Setelah kepergian Shi Da Jie ke Gresik dan pengangkatan Hang Suro sebagai syahbandar merangkap Panglima Bela Negara Palembang, situasi di hilir Sungai Musi tampak stabil.

Namun, di pedalaman hulu Sungai Ogan dan Komering, muncul gerakan yang menolak pengaruh luar dan berupaya mengembalikan kejayaan adat lama.

Munculnya Barisan Darah Adat

Gerakan ini dikenal sebagai Barisan Darah Adat, terdiri dari tokoh-tokoh adat dan pemuda dari marga-marga Komering, Ogan dan Daya.

Mereka merasa identitas dan adat istiadat mereka terancam oleh dominasi budaya luar, terutama dari Palembang yang semakin dipengaruhi oleh unsur-unsur asing.

Barisan Darah Adat menuntut:

  1. Pengakuan dan pelestarian adat istiadat Komering, Ogan dan Daya, tanpa ada intervensi dari luar.
  2. Kemandirian dalam urusan adat dan budaya, tanpa campur tangan pihak asing atau pengaruh luar.
  3. Penolakan terhadap dominasi budaya asing yang dianggap mengikis nilai-nilai tradisional mereka.

Respon Palembang

Menanggapi situasi ini, Ratu Sinuhun Ning Sakti mengutus sesepuh adat negeri Palembang, Datuk Mangku Alam, didampingi seorang tokoh muda, bernama Tuan Bungsu Sakti.

Untuk diketahui Tuan Bungsu Sakti, adalah Saudara Sepupu Ratu Sinuhun, dimana mereka berdua merupakan cucu Tuan Datuk Wali Tuwe.

Datuk Mangku Alam dan Tuan Bungsu Sakti, mendapat tugas untuk berdialog dengan para tokoh Barisan Darah Adat, serta berupaya menjelaskan bahwa tidak selamanya budaya luar, bertentangan dengan adat, dan bahkan dapat memperkuat nilai-nilai luhur yang ada.

Ketegangan antara Palembang dan Barisan Darah Adat mencerminkan dinamika antara modernisasi dan pelestarian tradisi.

Sementara Palembang berupaya menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan yang inklusif, sebagian masyarakat di pedalaman merasa terpinggirkan dan berjuang untuk mempertahankan jati diri mereka.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Tinggalkan komentar