Jangan Terlalu LEBAY, Saat Berkomunikasi dengan ChatGPT

Jangan Terlalu LEBAY, Saat Berkomunikasi dengan ChatGPT

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan AI seperti ChatGPT semakin meningkat.

Namun, muncul perdebatan tentang apakah perlu mengucapkan terima kasih atau meminta tolong kepada AI.

Mengapa hal ini menjadi isu? Berikut penjelasan ilmiahnya.

  1. Pemahaman AI Terhadap Emosi Manusia

AI, termasuk ChatGPT, dirancang untuk memahami konteks dan bahasa manusia, tetapi tidak memiliki kesadaran atau emosi.

Menurut Stuart Russell dalam bukunya Human Compatible (2019), AI tidak merasakan emosi seperti manusia, sehingga ucapan terima kasih atau permintaan tolong tidak memiliki dampak emosional apa pun bagi AI.

  1. Potensi Mispersepsi Manusia

Dr. Sherry Turkle, seorang profesor di MIT, menjelaskan dalam bukunya Alone Together (2011) bahwa semakin manusia memperlakukan AI seperti manusia, semakin besar risiko terjadinya “kesalahpahaman psikologis.”

Orang bisa mulai memperlakukan AI sebagai makhluk hidup, padahal AI hanyalah program algoritmik.

  1. Dampak Sosial dan Etika

Peneliti AI, Kate Darling, dalam artikelnya di *lThe Atlantic (2023) menyatakan bahwa meskipun AI tidak memiliki perasaan, kebiasaan berinteraksi dengan AI secara sopan dapat mencerminkan sikap dasar seseorang.

Namun, terlalu sering berterima kasih pada AI dapat memicu ilusi antropomorfisme, yaitu memperlakukan AI seolah-olah memiliki kesadaran.

  1. Praktik yang Disarankan
  • Gunakan Bahasa Formal: Tetap menjaga etika komunikasi, tetapi tidak perlu berlebihan, apalagi terlalu Lebay.
  • Hindari Emosi Berlebihan: Fokus pada instruksi yang jelas dan spesifik.
  • Pahami Batasan AI: Sadarilah bahwa AI hanya menjalankan algoritma, bukan memahami konteks emosional.

Referensi:

  1. Russell, S. (2019). Human Compatible: Artificial Intelligence and the Problem of Control. Penguin Books.
  2. Turkle, S. (2011). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books.
  3. Darling, K. (2023). “Why We Shouldn’t Say Thank You to AI,” The Atlantic.
  4. OpenAI. (2025). “Ethics in AI Communication.”

WaLlahu a’lamu bishshawab

Tinggalkan komentar