
Angin Timur di Ujung Musi, Part 12
Raden Damar, Duta Dagang Majapahit
Pada tahun 1425, Raden Damar, saudara tiri Penguasa Majapahit Ratu Suhita, diangkat oleh Majapahit sebagai Duta Dagang di Palembang.
Raden Damar menggantikan posisi Ki Ageng Pinatih yang dipindahkan ke Gresik.
Sebagai pemuda berusia sekitar 18 tahun, Raden Damar merupakan sosok pemuda yang masih mencari jati diri di tengah dinamika politik dan budaya Palembang.
Dialog dan Hidayah
Di sela-sela menjalankan tugasnya, Raden Damar aktif berdialog dengan para pemuka agama dari berbagai kepercayaan, termasuk Hindu, Buddha, Animisme, dan Islam.
Ia tidak segan mendatangi padepokan Hang Suro, seorang tokoh Islam terkemuka di Palembang, untuk berdiskusi mendalam tentang ajaran Islam.
Melalui dialog yang intens dengan Hang Suro, Raden Damar merasakan ketertarikan mendalam terhadap ajaran Islam.
Keputusannya untuk memeluk Islam diperkuat saat Palembang dikunjungi oleh Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi, seorang ulama asal Negeri Champa yang dikenal sebagai ayahanda Sunan Ampel.
Dalam momen bersejarah tersebut, Raden Damar mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi, dengan Hang Suro sebagai saksi.
Rencana Perjodohan Raden Damar
Setelah memeluk Islam, Raden Damar dikenal dengan nama Ario Abdillah.
Masuk Islamnya salah seorang keluarga Kerajaan Majapahit di Palembang, menarik minat Ratu Sinuhun untuk menjodohkan Raden Damar dengan Putri Tunggalnya.
Rencana perjodohan ini memicu perdebatan di kalangan bangsawan dan tokoh adat Palembang.
Kekhawatiran utama adalah kemungkinan Raden Damar, yang bukan berdarah bangsawan Palembang, akan menjadi penguasa jika Ratu Sinuhun wafat.
Hal ini dianggap dapat menggeser tatanan adat dan garis keturunan yang telah lama dijunjung tinggi.
WaLlahu a’lamu bishshawab
Serie Fiksi Sejarah Lengkap:
💥 Angin Timur di Ujung Musi
https://kanzunqalam.com/2025/05/04/serie-fiksi-sejarah-angin-timur-di-ujung-musi/


