Part 13: Antara Kedaulatan atau Peluang

Angin Timur di Ujung Musi, Part 13

Antara Kedaulatan atau Peluang

Ketika wacana perjodohan antara Putri tunggal Ratu Sinuhun Ning Sakti dengan Raden Damar, semakin mencuat, Istana Palembang menjadi arena perdebatan sengit antara dua kubu: konservatif dan progresif.

Kubu Konservatif: Menjaga Kemurnian Kedaulatan

Para bangsawan dan tokoh adat yang tergabung dalam kubu konservatif menyuarakan kekhawatiran mendalam.

Bagi mereka, pernikahan ini berpotensi mengancam kemurnian garis keturunan bangsawan Palembang.

Mereka menilai bahwa Raden Damar, meskipun memiliki kedudukan penting sebagai utusan Majapahit, tetaplah orang luar yang tidak memiliki darah bangsawan Palembang.

Kekhawatiran lainnya adalah kemungkinan dominasi Majapahit atas Palembang melalui pernikahan ini.

Jika Raden Damar menjadi suami putri mahkota, ada kemungkinan ia akan mengambil alih kekuasaan, menggeser peran putri Ratu Sinuhun, dan menjadikan Palembang sebagai wilayah bawahan Majapahit.

Kubu Progresif: Melihat Peluang Strategis

Sebaliknya, kubu progresif yang terdiri dari para pemuka agama, saudagar, dan intelektual muda melihat pernikahan ini sebagai peluang strategis.

Mereka berpendapat bahwa aliansi dengan Majapahit melalui Raden Damar dapat memperkuat posisi Palembang dalam perdagangan regional dan membuka akses yang lebih luas ke jaringan niaga Majapahit.

Selain itu, Raden Damar dikenal sebagai sosok yang terbuka terhadap berbagai kepercayaan dan aktif berdialog dengan para pemuka agama, termasuk Islam.

Kubu progresif melihat ini sebagai kesempatan untuk memperluas dakwah Islam di Palembang, dengan dukungan dari seorang tokoh yang memiliki pengaruh politik dan ekonomi.

Mediatori: Hang Suro dan Tuan Bungsu Sakti

Dalam situasi yang memanas, dua tokoh berpengaruh, Hang Suro dan Tuan Bungsu Sakti, mengambil peran sebagai mediator.

Mereka mengusulkan solusi kompromi: Pernikahan tetap dilangsungkan, namun dengan ketentuan bahwa putri Ratu Sinuhun akan tetap menjadi penerus takhta, sementara Raden Damar jabatan tertingginya hanya sampai kepada posisi Perdana Manteri atau Maha Patih.

Meskipun ada penolakan dari kelompok Garis Keras Konservatif, namun usulan ini bisa diterima oleh sebagian besar kubu yang berseteru.

Pernikahan antara Raden Damar dan putri Ratu Sinuhun akhirnya dilangsungkan dengan penuh khidmat, menandai awal era baru dalam sejarah Keratuan Palembang Darussalam.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Serie Fiksi Sejarah Lengkap:
💥 Angin Timur di Ujung Musi
https://kanzunqalam.com/2025/05/04/serie-fiksi-sejarah-angin-timur-di-ujung-musi/

Tinggalkan komentar