Tag Archives: khalifah

Pidato Lengkap Sri Sultan Hamengkubuwono X, pada Pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6…

Senin,  9 Februari 2015, Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-enam resmi dibuka di Keraton Yogyakarta. Acara ini dibuka langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Selain Wapres, hadir dalam pembukaan ini di antaranya Ketua Umum MUI Din Syamsuddin dan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Dalam sambutannya Sri Sultan Hamengkubuwono X menjelaskan sejarah erat Yogyakarta dengan Islam (sumber : islampos).

sultan1

Pidato lengkap Sri Sultan Hamengkubuwono X :

Kongres Umat Islam ke-6 yang diselenggarakan di Yogyakarta dan kini pembukaannya Insya Allah berlangsung di Pagelaran Kraton Yogyakarta, mengandung makna simbolik sebuah ziarah spiritual, karena bangunan Pagelaran ini disangga oleh 64 buah tiang yang menandai usia Rasulullah SAW dan perhitungan tahun Jawa.

Sehingga, Kongres yang dirancang untuk napak laku Kongres sebelumnya yang juga dilaksanakan di Yogyakarta, (7-8 November 1945, Red) akan memberi makna historis, agar umat Islam melakukan introspeksi diri dan retrospeksi atas perjalanan sejarahnya.

Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka’bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki.

Ketika 1935 Ataturk mengubah sistem kalender Hijriyah menjadi Masehi, jauh pada zaman Sultan Agung tahun 1633 telah mengembangkan kalender Jawa dengan memadukan tarikh Hijriyah dengan tarikh Saka. Masa itu sering disebut sebagai awal Renaisans Jawa.

Jika kita melakukan retrospeksi, dalam sejarah pergerakan Islam modern disebutkan, pada abad 19-20 muncul gerakan kebangkitan Islam. Pelopornya adalah Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal dan Ali Jinah. Mereka menganjurkan agar kaum Muslim membumikan ijtihad dan jihad fi sabilillah, serta memperkokoh solidaritas Islam.

sultan2
Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa keberangkatan KH Ahmad Dahlan, yang saat itu adalah abdi dalem Kraton, justru atas dorongan dan dukungan Sri Sultan HB VII. Bakda membaca dalam “Tafsir AL Manaar” karya Abduh, pada 1912 ia pun mendirikan perserikatan Muhammadiyah di Yogyakarta.

Dalam artikel: “Indonersianisme dan Pan-Asiatisme”, Bung Karno menulis “…abad-20 sudah tidak menjadi abad perbedaan warna kulit lagi, tapi sudah berubah menjadi abad yang memberikan jawaban terhadap problem of the colour-line.

Dalam tulisan lain, “Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?”, Bung Karno mengutip tulisan Frances Woodsmall, “Moslem Women Enter A New World”, bahwa Turki Modern adalah anti-kolot, anti sosial lahir dalam hal ibadah, tetapi tidak anti agama.

Islam sebagai kepercayaan person tidaklah dihapuskan, sembahyang di masjid-masjid tidaklah diberhentikan, aturan-aturan agama pun tidak dihapuskan. “Kita datang dari Timur, Kita berjalan menuju ke Barat”, demikian entri point artikel Bung Karno tersebut mengutip tulisan Zia Keuk Alp.

Di tahun 1903, saat diselenggarakan Kongres Khilafah di Jakarta oleh Jamiatul Khair, yang berdiri 1903, Sultan Turki mengirim utusan Muhammad Amin Bey. Kongres menetapkan fatwa, haram hukumnya bagi Muslim tunduk pada penguasa Belanda, dengan merujuk ajaran Islam “Hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Dari kongres inilah benih-benih dan semangat kemerdekaan membara.

Dalam bukunya: “The Rising Tide of Colour Against White World-Supremcy” (1920), Lothrop Stoddard mendalilkan keruntuhan supremasi kolonialisme Barat, karena cepatnya pertumbuhan (tide=pasang naik) populasi penduduk kulit berwarna. Dalam buku berikutnya, “The New World of Islam” (1921), ia meramalkan kebangkitan Dunia Islam di awal abad-20 untuk meraih kembali kejayaan masa silam adalah suatu keniscayaan sejarah.

sultan3

Lalu, apa relevansinya uraian tersebut dalam konteks Kongres ini? Diharapkan Kongres ini menjadi jembatan antara penguasa dan rakyat melalui media forum komunikasi dan silaturahmi ulama. Sebagai forum ulama, paling tidak harus mencerminkan dua peran keualamaan, mas’uliyyatur ri’ayah -tanggungjawab kepemimpinan- dan ahdillatut thariqah -petunjuk jalan. Dengan dua peran utama itu, Kongres ini harus membawa aspirasi umat tanda membeda-bedakan mazhab sesuai fungsinya sebagai khadimul ummah -pelayan umat.

Sebagai wadah berkumpulnya para ulama, cendekiawan dan tokoh Muslim dalam beragam Mazhab, Badan Pekerja Kongres harus berani menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, berupa dakwah, pendirikan serta memberi nasihat politik berbasis keagamaan kepada pemerintah dan umat Islam atas suatu perkara, terutama saat terjadinya ketidakpastian seperti sekarang ini. Sehingga segala kebijakan, fatwa dan sikapnya selalu mengacu pada kemashlahatan umat atas dasar ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basariyah.

Dengan tema: “Penguatan Peran Politik, Ekonomi, Sosial-Budaya yang Berkeadilan dan Berperadaban”, berarti tidak hanya mencakup masalah ibadah atau ubudiyah, tetapi juga kemashlahatan di dunia, menyangkut mu’amalah -hubungan sosial- yang berkorelasi dengan urusan politik. Dengan berpedoman pada pendapat Bung Karno tersebut, kiranya Kongres ini akan menemukan solusi di jalan lurus-Nya.

Dengan harapan seperti itulah, Pemerintah dan Rakyat Yogyakarta menyambut digelarnya Kongres Umat Islam Indonesia ke-6 ini. Semoga Allah SWT melimpahkan berkah serta rahmat-Nya, agar Kongres ini memberikan kemashlahatan bagi umat, bangsa dan negara dan rakyat Indonesia. Jangan sampai membuat bingung umat Islam, laksana biji-biji tasbih yang lepas dari tali perangkainya. Akhirul kalam, “Selamat ber-Kongres, semoga Sukses!”

Tertanda

Hamengku Buwono X

sumber : krjogja.com

Iklan

Kekhalifahan Islam, Wabah Kelaparan di Eropa dan Lambang “Bulan Bintang” ?

Ada hal yang menarik, apabila kita sempat singgah di Drogheda Irlandia. Klub Sepakbola kebanggaan daerah itu, Drogheda United FC, memiliki lambang yang mirip dengan lambang pada bendera Turki.

drog1

Keberadaan lambang “bulan bintang”, pada klub Drogheda United FC Irlandia, tidak terlepas dari sejarah terkait peran Kekhalifahan Islam Turki Ottoman, dalam membantu rakyat Irlandia, ketika terjadi wabah kelaparan pada sekitar 150 tahun yang silam.

Irish Potato Famine

Pada rentang tahun 1845-1852 sejarah dunia mencatat bahwa telah terjadi satu wabah kelaparan, yang mengakibatkan merenggut banyak korban di benua Eropa. Di Irlandia wabah kelaparan ini disebut dengan “Irish Potato Famine”.

Terjadinya wabah kelaparan besar di Irlandia diakibatkan oleh serangan hama-hama mematikan yang menyerang dan merusak penanaman kentang yang ada di Irlandia. Banyak dari warga Irlandia, pada waktu itu, hidup bersandarkan pada penghasilan kentang.

Alhasil wabah kelaparan tersebut telah membuat sebahagian warga Irlandia meninggal dunia dan tidak sedikit juga dari mereka yang memilih untuk berimigrasi ke Amerika Serikat (Sumber : Hubungan Islam dan Irlandia).

drog3

Hancurnya perekonomian Irlandia ketika itu, membuat Sultan Abdul Majid dari Kekhalifahan Islam Turki Ottoman, merasa terketuk hatinya untuk menolong.

Sultan Abdul Majid, kemudian mengirimkan beberapa perahu besar yang berisikan makanan, sayuran dan buah-buahan segar. Pemberhentian perahu-perahu dari Ottoman ini, berlabuh di Kota Drogheda Irlandia.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan :

1. Ucapan terima kasih, rakyat Irlandia kepada Sultan Abdul Majid (Kekhalifahan Islam Turki Ottoman)

drog4
Sumber : Turkish Help To Irish

Khalifah dan Kekuasaan

Beberapa hari usai masa ta’ziyah atas wafatnya Khalifah Umar bin Khattab RA, para sahabat Rasulullah SAW mengadakan musyawarah untuk memilih pengganti khalifah. Lalu ditunjuklah enam orang, sahabat pilihan untuk menentukan kelangsungan kepemimpinan umat Islam.

Keenam orang tersebut adalah Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah dan Saad bin Abi Waqqash.

Saat bermusyawarah, kelima orang tersebut menunjuk Abdurrahman bin ‘Auf menjadi pengganti Umar bin Khattab. Namun, Aburrahman bin ‘Auf menolak, dan untuk memecahkan masalah kepemimpinan ini, Abdurrahman bin ‘Auf bertanya kepada Zubeir bin Awwam tentang siapa yang pantas menjadi khalifah.

Zubeir bin Awwam menunjuk Ali bin Abu Thalib. Ketika ditanya kepada Saad bin Abi Waqqash, ia pun memilih Ali bin Abu Thalib. Saat ditanya kepada Thalhah, Thalhah berkeras tetap memilih Abdurrahman bin ‘Auf.

Ketika ditanya kepada Ali bin Abu Thalib, Ali menunjuk Utsman bin Affan, dan ketika ditanya kepada Utsman bin Affan, Utsman menjawab ia lebih memilih Ali bin Abu Thalib.

Ternyata untuk dipilih jadi penguasa (amanah) orang pada masa itu lebih memilih tidak memangku amanah. Sepertinya berbeda sekali dengan masa sekarang. Orang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin dan penguasa. Mungkin mereka tidak sadar konsekuensi dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin.

Akhirnya setelah ditimbang dengan matang. Pertemuan berakhir dengan ditunjuknya Utsman bin Affan sebagai khalifah.

Kisah ini memberi gambaran kepada kita, tentang keteladanan para sahabat Rasulullah SAW. Keenam orang sahabat ini, saling ’berebut’ untuk menolak kekuasaan. Sangat berbeda dengan kaum politisi, yang saling berlomba untuk mendapatkan jabatan.


Larangan Rebutan Kekuasaan

Mencari-cari kekuasaan (jabatan), bahkan dengan saling memperebutkannya, bukanlah prilaku seorang muslim. Di dalam beberapa haditsnya, Rasulullah mengecam orang-orang seperti ini, diantaranya :

1. Dari Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah ra. berkata : “Rasulullah saw. bersabda kepada saya : “Wahai ‘Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta suatu jabatan karena sesungguhnya bila kamu diberi suatu jabatan tanpa memintanya maka kamu akan mendapat pertolongan dalam menjabat jabatan itu, tetapi kalau kamu diberi suatu jabatan karena meminta, maka jabatan itu akan diserahkan (dibebankan) sepenuhnya kepadamu….”(Shahih Bukhari No.7146 dan Shahih Muslim No.1652).

2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi untuk dapat memegang suatu jabatan, tetapi nanti pada hari kiamat jabatan itu merupakan suatu penyesalan” (Shahih Bukhari No.7148).

3. Dari Abu Musa Al Asy’ary ra. berkata : “Saya bersama dua orang saudara sepupu datang kepada Nabi saw., kemudian salah seorang di antara keduanya itu berkata : “Wahai Rasulullah, berilah kami suatu jabatan pada sebahagian apa yang telah Allah ‘azza wajalla kuasakan terhadap tuan”. Dan yang lain juga berkata seperti itu. Kemudian beliau bersabda :”Demi Allah, aku tidak akan mengangkat seorang dalam suatu jabatan yang mana ia memintanya, atau seseorang yang sangat ambisi pada jabatan itu”. (Shahih Bukhari No.7149 dan Shahih Muslim No.1733)

Mungkin ada baiknya juga sebelum menjadi penguasa, calon-calon pemimpin belajar dari sejarah kepemimpinan di masa sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Dengan begitu mereka menyadari harus seperti apa menjadi pemimpin itu. Mudah-mudahan di masa yang akan datang semakin banyak pemimpin yang amanah dan mengutamakan kepentingan rakyatnya.