Tag Archives: agama

Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?

Adalah satu kekeliruan, jika kita beranggapan Leluhur masyarakat Nusantara, adalah penganut animisme, penyembah benda-benda alam.

Leluhur Nusantara di masa purba, telah memiliki keyakinan monotheisme, yang disebut “Ajaran Kapitayan”.

purba1a

Ajaran Tauhid dalam Keyakinan Kapitayan

Ajaran Kapitayan menyakini bahwa segala sesuatu di alam semesta ini, diciptakan oleh Sang Maha Kuasa, yang di-istilahkan sebagai Sang Hyang Taya. Sosok Sang Hyang Taya, memiliki makna Dzat yang tidak bisa didefinisikan, yang tidak bapat didekati dengan Panca Indra.

Kepercayaan Ajaran Kapitayan kepada Sang Maha Pencipta, tentu tidak lepas dari ajaran tauhid yang dibawa oleh leluhur umat manusia Nabi Adam.

Setelah peristiwa bencana di masa Nabi Nuh, ajaran monotheisme ini kemudian disebarluaskan oleh pengikut serta keluarga Nabi Nuh, ke seluruh penjuru dunia. Jejak ajaran Tauhid Nabi Nuh, nampaknya memberkas kepada ajaran Kapitayan yang dianut oleh leluhur masyarakat Nusantara di masa Pra Sejarah.

purba1

Ajaran Kapitayan, bukan Animisme

Dalam perkembangan selanjutnya, ajaran kapitayan yang awalnya merupakan kepercayaan monotheisme, mengalami pergeseran.

Sang Hyang Taya yang Maha Ghaib, kemudian muncul dalam pribadi “TU”, “TU” lazim disebut Sanghyang Tu-nggal, yang memiliki 2 sifat, yaitu sifat yang baik disebut Tu-Han dan sifat yang tidak baik disebut Han-Tu.

Sosok Kekuatan Sang “TU” dalam ajaran ini, diyakini berada (mempribadi) kepada benda-benda yang memiliki kosa kata Tu atau To, seperti : wa-Tu (Batu), Tu-rumbuk (pohon beringin), Tu-gu, Tu-lang, Tu-ndak (bangunan berundak), Tu-tud (hati,limpa), To-san (pusaka), To-peng, To-ya (air). Dan melalui sarana benda-benda ini, masyarakat Pra Sejarah melakukan persembahan dalam bentuk sesaji.

Sesaji yang diletakkan di benda-benda alam ini, kemudian disalah artikan sebagai bentuk penyembahan kepada benda-benda alam (animisme). Padahal sejatinya merupakan sarana peribadatan kepada “Sang Pencipta”, dalam bentuk sajian yang disebut Tumpeng.

Referensi :
1. Sejarah Nasi Ambeng, oleh Dr. Agus Sunyoto (Youtube)
2. Kapitayan : Agama Bangsa Nusantara
3. Agama kapitayan dan Sejarah Nasi Ambeng

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. Tanah Punt, Sundaland dalam Legenda Leluhur Bangsa Nusantara?
3. [Misteri] Kuil Hatshesut (dari masa 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).
4. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

Iklan

Batasan Perhitungan 1 Rakaat, dalam Shalat Berjamaah

Shalat jamaah memang memiliki keutamaan yang sangat tinggi, jauh dibanding dengan shalat munfarid (sendirian). Oleh sebab itu shalat jamaah wajib digalakkan di setiap lingkungan kaum muslimin.

Dalam beberapa hadis Nabi Muhammad saw disebutkan bahwa shalat jamaah bernilai 27 derajat lebih baik dari pada shalat sendirian, salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari sebagai berikut,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً. [رواه البخاري]
“Diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Shalat jamaah melebihi (keutamaan) shalat sendirian setara dua puluh tujuh derajat.” [HR. al-Bukhari]

Dalam praktiknya, walaupun sangat dianjurkan agar hadir di awal waktu pada setiap shalat jamaah, sekurang-kurangnya sebelum shalat dimulai, namun di antara kaum muslimin ada yang terpaksa terlambat menghadirinya.

Orang yang terlambat hadir pada shalat jamaah dikenal dengan istilah makmum masbuq. Tentang makmum yang masbuq ini, Rasulullah saw telah memberikan batasan yang cukup jelas, sebagaimana disebut dalam hadis-hadis berikut :

1. HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ. [رواه البخاري ومسلم]
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang menjumpai rukuk dari suatu shalat, maka ia telah menjumpai shalat itu (secara sempurna).”

2. Abu Dawud, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah dari Abu Hurairah;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا جِئْتُمْ إِلَي الصَّلاَةِ وَنَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَلاَ تَعُدُّوْهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ [رواه أبو داود والحاكم وابن خزيمة]
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Apabila kamu mendatangi shalat ketika kami sedang sujud, maka sujudlah dan jangan hitung sebagai satu rakaat, dan barangsiapa menjumpai rukuknya imam, berarti ia menjumpai salat (secara sempurna).”

3. HR. al-Bukhari dari Abdullah bin Abi Qatadah;

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ الرِّجَالِ فَلَمَّا صَلَّى قَالَ مَا شَأْنُكُمْ. قَالُوا اِسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قَالَ فَلاَ تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا. [رواه البخاري]
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Qatadah, dari bapaknya ia berkata: Tatkala kami sedang shalat beserta Nabi saw tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk orang-orang, kemudian setelah selesai shalat Nabi bertanya ada apa ribut-ribut, para sahabat menjawab: Kami tergesa-gesa untuk mengikuti shalat.

Nabi berkata: Janganlah kamu perbuat yang demikian itu, apabila kamu hendak mendatangi salat hendaknya kamu berangkat dengan tenang, shalatlah kamu bersama imam seberapa kamu dapat, sedangkan kekurangannya kamu sempurnakan sendiri.”

Berdasarkan hadis-hadis tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa batas masbuqnya seorang makmum adalah gerakan rukuk. Seorang makmum yang masih sempat mengikuti rukuk bersama imam, maka ia telah dihitung mengerjakan shalat satu rakaat sempurna.

Sementara itu jika seorang makmum mendapati imam sudah bersujud, maka makmum tersebut langsung mengikuti gerakan imam, setelah terlebih dahulu takbiratul-ihram. Dalam kondisi ini, makmum belum dihitung mendapat satu rakaat, sehingga harus menambah kekurangannya setelah imam membaca salam.

Namun demikian, dalam mengerjakan hal tersebut, tidak diperkenankan melakukannya dengan tergesa-gesa dan tetap menjaga ketenangan sehingga tidak menimbulkan kesan “mengejar” ketertinggalan shalat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketika seorang makmum yang masbuq masih mendapati rukuk bersama imam, maka ia tidak perlu menambah satu rakaat lagi di akhir shalat, karena sudah dihitung melakukan satu rakaat dengan sempurna.

Namun apabila makmum yang masbuq mendapati imam dalam posisi iktidal ataupun sujud dan seterusnya, maka ia telah tertinggal satu rakaat sehingga harus menyempurnakannya sendiri di akhir shalat.

Sumber :
SangPencerah.com

Menghitung Saat Terjadinya Hari Kiamat ?

Waktu kiamat termasuk hal ghaib yang hanya diketahui oleh Allah. Namun, ada sedikit masalah pada hadis-hadis yang diduga oleh sebagian orang bahwa hadis tersebut menentukan waktu kiamat.

Sebagian hadis-hadis ini sebenarnya tidak shahih, dan dengan demikian dapat diabaikan dan tidak bertentangan dengan nas-nas yang qath’iy (pasti), baik dari segi tsubut (berasal dari Nabi SAW) maupun dilalah (indikasi yang dikandungnya). Sebagian lagi shahih, tetapi kandungan maknanya (dilalah) dalam menentukan waktu kiamat tidak jelas.

kiamat1
Di antara hadis-hadis batil yang menyalahi al-Qur’an sebagaimana disebutkan oleh Ibn Qayyim adalah hadis mengenai umur dunia, “bahwa umur dunia adalah tujuh ribu tahun, dan kita dalam ribuan yang ke tujuh.”

Ibn Qayyim berkata:

Hadis ini tergolong dusta yang sangat jelas karena bila benar, maka setiap orang tahu bahwa waktu yang tersisa bagi kita adalah 251 tahun (dihitung dari saat beliau menulis karangannya), padahal Allah berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, ‘Bilakah terjadinya?’

Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya, selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kau benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’,” (QS. al-A’raf: 187). [Ibn Qayyim, al-Manar al-Munif, h. 80]

Penulis berpendapat, di antara yang menunjukkan secara pasti bahwa hadis ini palsu adalah bahwa seribu tahun yang ke tujuh telah berlalu sejak empat ratus tahun yang lalu, sementara banyak tanda-tanda kiamat yang belum terjadi.

kiamat2

Di antara hadis-hadis shahih yang tidak menunjukkan penentuan hari kiamat adalah hadis riwayat Muslim bahwa Jabir Ibn Abdullah berkata,

“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda sebulan sebelum beliau meninggal, ‘Kalian bertanya kepadaku mengenai kiamat, pengetahuan tentangnya ada pada Allah. Aku bersumpah atas nama Allah, tidak ada di atas bumi jiwa yang lahir pada hari ini yang pada tahun keseratus ia masih hidup’,” (Jami, al-Ushul, X, h. 387, hadis no 7890).

Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim diriwayatkan bahwa Abdullah ibn Umar RA berkata, “Suatu malam di akhir hayatnya, Rasulullah SAW shalat isya bersama kami. Setelah mengucap salam, beliau berkata, ‘Sesungguhnya pada seratus tahun ke depan tidak tersisa lagi di muka bumi seorang pun yang ada pada hari ini’,” (Jami, al-Ushul, X, h. 388, hadis no 7891).

Sesungguhnya dua hadis ini menujukkan secara jelas bahwa Rasulullah SAW dalam sabdanya tidak memaksudkan terjadinya kiamat. Beliau hanya menunjukkan akhir kurun (satu abad) beliau. Artinya, setelah seratus tahun, semua yang hidup saat Rasulullah SAW bersabda akan meninggal. Inilah yang dipahami oleh Ibn Umar dan beliau menerangkannya kepada orang lain saat mereka berbeda pendapat mengenai makna sabda Rasulullah SAW tersebut.

Dalam sunan at-Tirmidzi dan sunan Abi Dawud, setelah Ibn Umar menuturkan hadis Nabi di atas, ia berkata, “Orang-orang terkejut dalam menanggapi sabda Rasulullah SAW itu. Mereka membicangkan kata, ‘sekitar seratus tahun, dan Rasullah bersabda, ‘tidak tersisa seorang pun di muka bumi,’ padahal maksudnya kurun beliau berakhir.”

kiamat3
Dalam shahih al-Bukhari dan shahih Muslim diriwayatkan bahwa Aisyah berkata, “Ada orang-orang Badui yang mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya tentang hari kiamat, ‘Kapan kiamat terjadi?’ Beliau melihat orang yang termuda di antara mereka dan bersabda, ‘Bila ia hidup, ia belum tua ketika kiamat terjadi atas kalian’.” Hisyam berkata, “Maksudnya ketika mereka mati.”

Dalam shahih Muslim diriwayatkan bahwa Anas ibn Malik RA berkata, “Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Kapan kiamat tiba?’ Rasulullah SAW diam sebentar, kemudian beliau melihat seorang anak kecil dari suku Azadsyanuah yang ada di hadapannya dan bersabda, ‘Bila anak ini diberi umur panjang, ia belum tua ketika terjadi kiamat.’ Anak itu seumur dan sebaya denganku pada saat itu.”

Maksud kiamat dalam hadis di atas adalah kiamatnya orang yang diajak dialog, yakni kematiannya, sebagaimana penafsiran Hisyam di atas. Kiamat setiap orang adalah kematiannya, Jawaban Rasulullah SAW semacam ini dikenal dengan nama jawab al-hakim (jawaban orang bijaksana). Beliau memberi petunjuk kepada mereka agar mempersiapkan diri terhadap maut, sebab maut sangat dekat.

[Sumber: Ensiklopedia Kiamat/Karya: Dr. Umar Sulayman al-Asykar, Islampos.com]

Beredar Gambar Nabi Muhammad dan asal usul ilustrasi-nya ?

Pada Oktober tahun 2009 yang lalu, kaum muslimin di Indonesia sempat digemparkan dengan berita beredarnya pin bergambar sosok yang diberi label dan dikatakan sebagai Nabi Muhammad. Pin yang beredar di Makassar, Sulawesi Selatan itu menampilkan gambar pasfoto seorang pemuda arab yang mengenakan surban dengan selipan bunga di salah satu telinganya. Pemuda tersebut tampak memikat dengan senyuman yang memperlihatkan sederet gigi-gigi putihnya. Dikatakan bahwa itu adalah gambar Nabi Muhammad saat muda, sebelum diangkat sebagai utusan Allah.

Pin Berasal dari Iran

Dari penyelidikan polisi diketahui bahwa pin tersebut dibawa oleh seorang yang pernah menjadi mahasiswa di Iran. Dari negeri itu ia membawa pin dan juga stiker untuk teman-temannya di Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia. Selain bergambar Nabi Muhammad, di antara mereka juga dikatakan bergambar sahabat Ali dan Hamzah.

Foto Nabi Muhammad dari IranVersi berwarna Foto Nabi Muhammad dari IranDi Iran sendiri foto yang dikatakan sebagai Muhammad remaja itu pernah populer pada tahun 1990-an. Bermula di kota Teheran dan Qum, gambar Nabi Muhammad ini akhirnya dapat ditemui dalam berbagai bentuk dengan beragam variasi yang mirip dengan contoh gambar di samping ini. Ada yang berupa kartupos, poster, stiker atau menjadi penghias halaman blog dan situs web. Versi gambar yang bersurban hijau ini bahkan dikabarkan dijual secara online oleh seorang seniman Iran.

Di Iran sebenarnya penggambaran Nabi Muhammad juga dilarang. Namun karena gambar tersebut disebutkan sebagai remaja Muhammad, maka ia tidak dilarang. Para ulama di sana menyatakan bahwa remaja Muhammad belum menjadi Nabi dan Rasul saat itu, sehingga kesucian beliau sebagai utusan Allah tidak ternodai oleh gambar tersebut.

Bersumber dari Foto Remaja Tunisia

Foto Remaja Tunisia yang menjadi rujukan foto nabi muhammad di IranPada tahun 2006, Pierre Centlivres dan Micheline Centlivres-Demont mengulas asal-usul gambar yang populer di Iran tersebut dalam sebuah publikasi ISIM Review nomor 17. Di sana, kedua penulis menyatakan bahwa, tanpa sengaja mereka melihat kemiripan gambar yang beredar di Iran tersebut dengan sebuah karya foto seorang fotografer berkebangsaan Jerman dalam sebuah pameran di Paris. Foto-foto sang fotografer tentang dunia arab memang pernah sangat populer di dunia barat di masa 1920-an. Salah satu koleksinya adalah sebuah kartupos yang menampilkan foto seorang remaja Tunisia bernama Muhammad atau Ahmad. Foto ini pun sempat menjadi ilustrasi di majalah National Geographic di tahun 1914 dengan keterangan gambar berbunyi: Seorang Arab dengan Bunganya.

Gambar di samping adalah foto tersebut. Terlihat jelas, jika kita bandingkan, bahwa memang demikianlah asal-usul foto yang dikatakan sebagai Nabi Muhammad tersebut. Foto seorang remaja dari Tunisia inilah yang dijadikan sebagai model atau rujukan dari foto-foto atau gambar-gambar lain yang kemudian dikatakan sebagai Nabi Muhammad muda.

Menyikapi Foto Nabi Muhammad

Sebagai seorang muslim, tentu kita meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang mulia. Ia merupakan rujukan sekaligus model bagi kaum muslimin. Baik ucapan maupun perbuatannya menjadi panutan dan teladan. Dari berbagai wejangan beliau hingga cara berpakaian akan menjadi sandaran bertindak dan berperilaku bagi setiap muslim. Oleh karena itu, Nabi Muhammad sendiri sangat berhati-hati dan khawatir akan posisi beliau ini dihadapan kaum muslimin. Beliau sangat menyadari betapa ia akan menjadi pusat rujukan bagi kaumnya. Hal ini tergambar dari ucapan beliau yang diriwayatkan dari kitab Bukhari dan Muslim:

من كَذَبَ عليَّ مُتَعَمِّدًا فلْيَتَبوأ مقعده من النار

“Siapa yang berbohong tentang aku secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka“.

Peringatan ini menjadi rambu-rambu bagi setiap orang agar tidak menyatakan bahwa beginilah Nabi Muhammad tanpa ada dasar yang benar. Menyatakan bahwa ada foto Nabi Muhammad, sementara kita semua tahu bahwa kamera baru ditemukan berabad-abad setelah Nabi wafat, tentu juga merupakan sebuah kebohongan. Membuat gambar-gambar Nabi Muhammad secara tidak langsung juga menyatakan bahwa beginilah cara Nabi mengenakan surban, cara beliau memakai pakaian, cara tersenyum dan gerak-gerik lain yang tersurat dari gambar semacam itu. Kalau yang membuat tidak pernah menyaksikan fisik sang Nabi, kebohonganlah yang ia lakukan.

Selain itu, para ulama amat keras bersikap dalam hal ini, yaitu melarang menggambar atau melukiskan Nabi Muhammad, dengan alasan agar kaum muslimin tidak terjebak dalam pengkultusan yang berlebihan. Sebuah sikap yang akan membawa kepada pemujaan sosok atau perwujudan Nabi, baik dalam bentuk gambar maupun patung, yang pada akhirnya bisa memasuki wilayah kemusyrikan, menyembah selain Allah, sebuah dosa yang paling besar. Na’udzubillahi min dzaalik.

Semoga bermanfaat.

Sumber :
Melacak Asal-usul Foto Nabi Muhammad

Tuanku Imam Bonjol, Nasab dan Perjuangannya ?

bonjolPhoto: Buku Api Sejarah, Prof Ahmad Mansur Suryanegara

Dalam Kitab Syamsuzh Zhahirah yang menerangkan tentang nasab fam bin Syahab, nama Imam Bonjol tidak tercantum dalam nasab bin Syahab. Ternyata, nama Syahab dari nama Tuanku Imam Bonjol adalah nama gelar, dan tidak terhubung dengan nasab dari fam Syahab Ba’alawi Al-Husaini. Kalau begitu kemana nasab Tuanku Imam Bonjol, Jika ia bukan bin Syahab? Mengapa Tuanku Imam Bonjol memakai gelar Syarif Muhammad Syahabuddin?. Dari sumber otentik lain yang saya temukan dikatakan bahwa Tuanku Imam Bonjol juga seorang pengamal tarekat, jadi beliau bukanlah penganut paham wahabi seperti yang ditulis dalam buku sejarah atau berbagai sumber.

Dalam hal ini Almarhum KH. Ali Maksum (Sesepuh NU) menjelaskan bahwa, “Meskipun Imam Bonjol bukan dari fam bin Syahab, namun ia adalah masih termasuk Ahlulbait dari Sayyid Muhammad Syahabuddin Al-Husaini seorang Ulama Minangkabau yang lahir tahun 1492 M, dan sampai saat ini keturunannya masih ada”.

Adapun Nasab Sayyid Muhammad Syahabuddin Al-Husaini, sampai kepada Muhammad Rasulullah, adalah sebagai berikut :

  1. Muhammad Rasulullah
  2. Sayyidah Fatimah Azzahra/Fatimah Al Batul
  3. Sayyidina Imam Husain Asshibti/Abu Syuhada
  4. As-Sayyid Imam Ali Zaenal Abidin/Ali Al Ausath/Ali Assajad
  5. As-Sayyid Imam Muhammad Al Baqir
  6. As-Sayyid Imam Ja’far Asshodiq
  7. As-Sayyid Imam Ali Al Uraidhi
  8. As-Sayyid Imam Muhammad An-Naqib
  9. As-Sayyid Imam Isa Arrumi
  10. As-Sayyid As-Sayyid Imam Ahmad Al Muhajir
  11. As-Sayyid As-Sayyid Imam Ubaidhillah/Abdullah
  12. As-Sayyid Imam Alwi Al Mubtakir/Alwi Al Awwal (Cikal Bakal lahirnya keluarga Alawiyyin)
  13. As-Sayyid Imam Muhammad Shohibus Souma’ah
  14. As-Sayyid Imam Alwi Shohib Baitu Jubair (Alwi Atsani)
  15. As-Sayyid Imam Ali Kholi ‘Qosam
  16. As-Sayyid Imam Muhammad Shohib Mirbath
  17. As-Sayyid Imam Alwi Ammil Faqih
  18. As-Sayyid Imam Abdul Malik Azmatkhan
  19. As-Sayyid Imam Abdullah Amirkhan
  20. As-Sayyid Imam Ahmad Syah Jalaluddin
  21. As-Sayyid Imam Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro
  22. As-Sayyid Ibrahim Zainuddin Akbar As-Samarqandi
  23. As-Sayyid Maulana Ishaq
  24. Sunan Giri bin Maulana Ishaq
  25. Abdurrahman/ Muhammad Syahabuddin I (Sultan Minangkabau) bin Sunan Giri

(Sumber : Syaikh Yasin bin Isa Al-Faddani, Ulama Besar Makkah, Keturunan dari Sultan Minangkabau bin Sunan Giri)

Dari Buku Api Sejarah, Prof Ahmad Mansur Suryanegara, ada fakta tersembunyi yang diungkap, diketahui bahwa Imam Bonjol membuka hubungan dagang dengan Amerika Serikat sehingga masuklah koin emas dari Amerika tersebut ke Sumatera Barat, dimana masih digunakan oleh masyarakat Minangkabau hingga hari ini.

Imam Bonjol mengadakan kotak niaga dengan Amerika Serikat. Pemerintah kolonial Belanda berupaya memutuskannya dengan cara memprovokasi pecahnya perang Padri 1821-1837. Dari kontak niaga inilah masuk koin-koin emas (piti ameh) yang di Sumatra Barat dikenal dengan sebutan Ringgit. (Buku Api Sejarah, Jilid 1). Ulama-Ulama di Nusantara dan juga alam Minangkabau (Kesultanan Pagaruyung) dalam melakukan perjalanannya berdawah juga memegang dua hal dalam kesehariannya yaitu Dien Islam dan Perniagaan.

Seorang pencetus gerakan dinar dan dirham pertama di Indonesia adalah keturunan dari Tunaku Imam Bonjol, dimana dia secara pribadi telah melihat silsilah lengkap kakek buyut beliau tersebut secara langsung dari ahli nasab yang memegang silsilah Tuanku Imam Bonjol, dari situ diketahui ternyata Tuanku Imam Bonjol bergaris nasab kepada juga Sunan Giri. (Sumber: Abbas Firman/ IMN/ Dinarfirst)

bonjol2

Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat 1772 – wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864), bernama asli Petto Syarif. Lalu mendapatkan gelar Muhammad Syahabuddin.

Beliau adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda, peperangan itu dikenal dengan nama Perang Padri di tahun 1803-1837. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973 .

Tuanku Imam Bonjol dilahirkan di Bonjol, Pasaman, Indonesia pada tahun 1772. Beliau kemudiannya meninggal dunia di Manado, Sulawesi pada 6 November 1864 dalam usia 92 tahun dan dimakamkan di Khusus Lotak, Minahasa. Tuanku Imam Bonjol bukanlah seorang Minahasa. Dia berasal dari Sumatera Barat. “Tuanku Imam Bonjol” adalah sebuah gelaran yang diberikan kepada guru-guru agama di Sumatra. Nama asli Imam Bonjol adalah Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin.

Dia adalah pemimpin yang paling terkenal dalam gerakan dakwah di Sumatera, yang pada mulanya menentang perjudian, laga ayam, penyalahggunaan dadah, minuman keras, dan tembakau, tetapi kemudian mengadakan penentangan terhadap penjajahan Belanda yang memiliki semboyan Gold, Glory, Gospel sehingga mengakibatkan perang Padri (1821-1837).

Mula-mula ia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian dari beberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pengasas negeri Bonjol. Pertentangan kaum Adat dengan kaum Paderi atau kaum agama turut melibatkan Tuanku Imam Bonjol. Kaum paderi berusaha membersihkan ajaran agama islam yang telah banyak diselewengkan agar dikembalikan kepada ajaran agama islam yang murni.

Golongan adat yang merasa terancam kedudukanya, mendapat bantuan dari Belanda. Namun gerakan pasukan Imam Bonjol yang cukup tangguh sangat membahayakan kedudukan Belanda. Oleh sebab itu Belanda terpaksa mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1824. Perjanjian itu disebut “Perjanjian Masang”. Tetapi perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Negeri Pandai Sikat.

Pertempuran-pertempuran berikutnya tidak banyak bererti, kerena Belanda harus mengumpul kekuatanya terhadap Perang Diponogoro. Tetapi setelah Perang Diponogoro selesai, maka Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menaklukan seluruh Sumatra Barat. Imam Bonjol dan pasukanya tak mahu menyerah dan dengan gigih membendung kekuatan musuh. Namun Kekuatan Belanda sangat besar, sehingga satu demi satu daerah Imam Bonjol dapat direbut Belanda. Tapi tiga bulan kemudian Bonjol dapat direbut kembali. Ini terjadi pada tahun 1832.

Belanda kembali mengerahkan kekuatan pasukanya yang besar. Tak ketinggalan Gabernor Jeneral Van den Bosch ikut memimpin serangan ke atas Bonjol. Namun ia gagal. Ia mengajak Imam Bonjol berdamai dengan maklumat “Palakat Panjang”, Tapi Tuanku Imam Bonjol curiga.

Untuk waktu-waktu selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit, namun ia tak mahukan untuk berdamai dengan Belanda.Tiga kali Belanda mengganti panglima perangnya untuk merebut Bonjol, sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat. Setelah tiga tahun dikepung, barulah Bonjol dapat dikuasai, iaitu pada tanggal 16 Agustus 1837.

Pada tahun 1837, desa Imam Bonjol berjaya diambil alih oleh Belanda, dan Imam Bonjol akhirnya menyerah kalah. Dia kemudian diasingkan di beberapa tempat, dan pada akhirnya dibawa ke Minahasa. Dia diakui sebagai pahlawan nasional. Sebuah bangunan berciri khas Sumatera melindungi makam Imam Bonjol. Sebuah relief menggambarkan Imam Bonjol dalam perang Padri menghiasi salah satu dinding. Di samping bangunan ini adalah rumah asli tempat Imam Bonjol tinggal selama pengasingannya.

bonjol3

Riwayat Perjuangan

Tak dapat dimungkiri, Perang Paderi meninggalkan kenangan heroik selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821). Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Kompeni melibatkan diri dalam perang itu karena “diundang” kaum Adat. Pada 21 Februari 1821, kaum Adat resmi menyerahkan wilayah darek (pedalaman Minangkabau) kepada Kompeni dalam perjanjian yang diteken di Padang, sebagai kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Paderi. Perjanjian itu dihadiri juga oleh sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan Paderi yang dipimpin Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat Batu Sangkar, pada 1815 (bukan 1803 seperti disebut Parlindungan, 2007:136-41).

Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan paderi cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Oleh sebab itu Belanda terpaksa mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1824. Gubernur Jendral Johannes van den Bosch pernah mengajak Tuanku Imam Bonjol berdamai dengan maklumat “Perjanjian Masang”, karena disaat bersamaan Batavia juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropah dan Jawa seperti Perang Diponegoro. Tetapi perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Negeri Pandai Sikat.

Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Paderi melawan Belanda, kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda, Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. Diujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau itu sendiri . Bersatunya kaum Adat dan kaum Paderi ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah atau Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur’an).

Sumber :
Tuanku Imam Bonjol (1772 – 1864), Piti Ameh Dan Sunan Giri

Nabi Idris (Oziris), Ilmuwan NUSANTARA dan Tokoh Pembaharu MESIR PURBA ?

Di dalam kepercayaan Mesir Purba, dikenal sosok Dewa Agung yang bernama Oziris (Osiris).

Oziris dalam Legenda Mesir Purba adalah seorang Raja (Penguasa) sekaligus Ilmuwan, yang meninggal karena di bunuh oleh saudaranya sendiri, disebabkan dengki akan pengaruhnya yang besar.

Namun setelah dia wafat, rakyat Mesir memuliakan Oziris, dikarenakan jasanya yang besar pada Peradaban Mesir Purba. Dan lama kelamaan, Oziris kemudian dianggap sebagai Dewa Yang Agung.

punt5

Oziris adalah Nabi Idris

Syaikh Thanthawi Jauhari
di dalam Tafsir Jawahir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan IDRIS tidak lain adalah Oziris atau Azoris.

Kalimat Idris adalah ucapan nama itu dalam bahasa Arab. Serupa juga dengan Yesoa diucapkan dalambahasa Arab dengan Isa; Yohannes diucapkan dalam bahasa Arab, Yahya.

Menurut Syaikh Thanthawi, Oziris atau Idris ini seorang Nabi yang diutus Allah kepada bangsa Mesir purba kala dan membawa ajaran-ajaran dan perubahan yang besar-besar (Sumber : Misteri HURUF HIEROGLYPH, mengungkap Kisah NABI IDRIS, dalam Peradaban MESIR PURBA?).

Sayid Quthub di dalam “Fi Zhilalil Quran“ sependapat dengan Syaikh Thanthawi Jauhari, bahwa besar kemungkinan bahwa Idris ialah Oziris yang ternama dalam Sejarah Mesir Purbakala itu.

Di dalam tafsir-tafsir yang lama sejak Thabari, ar-Razi, al-Qurthubi, Ibnu Katsir dan yang sezaman tidak bertemu kemungkinan Oziris itu, dan baru bertemu pada Tafsir Syaikh Thanthawi Jauhari pada sekitar tahun 1928, atau pada Tafsir Sayid Quthub selepas tahun 1955.

punt6

Nabi Idris dan Nusantara

Dalam Legenda Mesir Purba, dikenal Tanah Punt sebagai asal muasal Para Dewa.

Di kisahkan seorang  Ratu Mesir Purba, yang bernama Ratu Hatshepsut, mengirim delegasi perdagangan menuju Tanah PuntRatu Hatshepsut  adalah Firaun kelima dari Dinasti ke-18 di Mesir kuno. Ratu Hatshepsut dipercayai pernah memerintah dari sekitar 1479 hingga 1458 SM.

Ada beberapa teori tentang keberadaan Tanah Punt, salah satunya adalah di wilayah Nusantara, yang didasarkan kepada beberapa alasan (Sumber : Punt: Lambang Usia Tamadun Melayu).

1. Dalam sebuah buku yang berjudul The Shipwrecked Sailor, penulisnya mengatakan bahawa lokasi Punt terletak di sebuah kawasan yang berpulau. Kalaulah lokasi Punt itu terletak di pantai laut Afrika, maka secara tidak langsung, teori Afrika sudah batal.

2. Terdapat ukiran di dinding kuil ratu Hatshepsut menunjukkan lokasi Punt terletak di antara persimpangan jalan perdagangan beberapa peradaban besar dunia. Lokasi seperti itu, tidak lain adalah  Nusantara, yang terletak di laluan perdagangan antara bangsa antara China dan India.

3. Jangka masa yang diambil oleh kapal-kapal Hatshepsut sangat lama untuk kembali ke Mesir. Rekod mengatakan bahawa mereka hanya tiba ke Mesir sewaktu tahun ke-5 pemerintahan Hatsheptsut. Bayangkanlah di manakah lokasi tersebut? Kalaulah terletak di Afrika, tidaklah mengambil masa selama itu.

4. Terdapat ukiran di dinding Kuil Hatshesut yang menjelaskan bahawa Raja Punt yang disingahi delegasi Hatsheptsut memiliki sebilah ‘pisau pendek’ yang diselitkan pada kain sarungnya. Ketahuilah bahawa budaya Mesir purba tidak pula menyelitkan senjata pada kain atau seluar. Budaya kaum manakah ini?  (Gambar di bawah)

punt1

5. Ukiran di dinding kuil Hatshepsut mengatakan bahawa kaum yang mendiami Negeri Punt ini mempunyai berbagai ragam warna kulit dan puak. Ada diantaranya yang berkulit gelap, ada yang berkulit kemerah-merahan dan ada yang berkulit perang kekuningan. Kalau dilihat di Nusantara misalnya, terdapat Negrito dan orang Asli yang berkulit gelap, yang berkulit merah ialah Melayu pelaut dan pedagang manakala yang berkulit kuning mungkin orang Melayu Banjar, Rejang, Minang dan sebagainya yang berkulit cerah. Ini sangat bertentangan dengan penduduk di Afrika. (Gambar di bawah)

punt2

 6. Seni Arsitektur di Punt juga menjurus ke arah seni arsitektur rumah kayu Melayu. Kajian Antropologi menunjukkan bahawa seni bina rumah Punt yang digambarkan di dinding kuil Hatshepsut tidak langsung mempunyai ciri-ciri rumah di Afrika. (Gambar di bawah)

punt3
7. Potoh, (gelang dipergelangan tangan) merupakan bukti seterusnya. Nehesi yang merupakan ketua armada laut Hatshepsut mengatakan bahawa Raja Punt memakai potoh pada pergelangan lengannya Kawan-kawan yang mengkaji tentang budaya dan adat tradisi raja-raja Melayu sudah pasti dapat menangkap.  Ini budaya raja-raja Melayu.

8. Kalau kita membaca teori Punt, mereka datang ke situ untuk berdagang. Satu daripada barang terpenting yang mendapat permintaan tinggi para pedagang Mesir purba adalah Anti atau kemenyan Punt. Untuk pengetahuan anda ukiran di dinding Kuil Ratu Hatshepsut ada memperincikan tentang kemenyan dan pokoknya sekali. Dan kejutannya ialah… pokok kemeyan di dinding sana menunjukkan bahawa hanya hidup di Nusantara! Yakni di Kepulauan Melayu ini.

9. Lagi ukiran di dinding Kuil Hatshepsut ialah mengenai budaya MELILIT oleh PENDUDUK PUNT. Sekarang beritahu saya, bangsa mana yang menjadikan ini sebagai budaya wahai rakan-rakan? Tak lain tak bukan ialah rumpun melayu kita. Yang Melayu dengan tengkolok dan semutarnya, yang Jawa dengan blangkonnya yang Dayak, iban dan banyak lagi suku-suku lain dengan budaya lilitan di kepala. (Gambar di bawah)

punt4

Dengan alasan-alasan diatas, Tanah Punt yang merupakan asal muasal Para Dewa Mesir, di-sinyalir berada di Nusantara. Tentu kita semua paham, salah satu Dewa yang Paling Agung bagi rakyat Mesir Kuno adalah Oziris, yang menurut Syaikh Thanthawi, Oziris sejatinya tidak lain adalah Nabi Idris.

Apakah ini berarti, Nabi Idris (Oziris), berasal dari Nusantara ?

WaLlahu a’lamu bishshawab

Naskah Laut Mati (Dead Sea Scroll), dari Gua Qumran ?

Setidaknya selama 15 tahun terakhir, sejarawan menyadari pentingnya isi naskah Laut Mati (Dead Sea Scroll) yang ditemukan di gua-gua Qumran. Naskah Laut Mati mulai terdengar ketika tulisan JM Allegro yang berjudul ‘The Dead Sea Scrolls’ tahun 1956, isinya sama sekali menceritakan literatur budaya yang termasuk didalamnya Perjanjian Lama dan ajaran sebelumnya. Kebanyakan penafsiran naskah digunakan untuk kepentingan sebuah sekte tertentu, dimana buku dan artikel yang ditulis digunakan untuk mengisi perpustakaan besar tapi tidak dapat diakses secara umum.

Saat ini, naskah Laut Mati telah terkumpul 981 teks yang ditemukan di Khirbet Qumran di Tepi Barat antara tahun 1946 dan 1956. Naskah-naskah kuno ditemukan didalam gua sekitar satu mil dari pantai barat Laut Mati. Sembilan gulungan naskah menyusul setelah Israel Antiquities Authority (IAA) menggali beberapa tempat pada tahun 2014, teks ini tersimpan dan belum dibuka selama enam dekade setelah penemuannya ditahun 1952.

Dikalangan sejarawan, naskah Laut Mati dianggap sangat penting dan merupakan bagian dari sejarah, agama, dan bahasa. Naskah ini termasuk teks paling awal yang kemudian dimasukkan dalam Alkitab Ibrani canon, Deuterokanonika dan naskah ekstra-Alkitab yang menyimpan bukti keragaman pemikiran keagamaan pada akhir Bait Suci Yudaisme Kedua.

Dibalik Penerjemahan Naskah Laut Mati

Naskah Laut Mati telah merevolusi sejarah tentang Perjanjian Lama dan telah mengungkap keberadaan Isa (Kristus) sebelum Yesus, tetapi buku yang diterbitkan sengaja menghilangkan karakter dirinya. Di sisi lain, kecenderungan reaksioner untuk meminimalkan pentingnya keyakinan mereka terlalu menekankan identitas yang tertulis dalam naskah dengan versi Kitab Suci. Sehingga secara tidak langsung pembaca terfokus pada tulisan sekte tertentu untuk memahami Perjanjian Baru.

Naskah Laut Mati berupa teks-teks berbahasa Ibrani, Aram, Yunani, dan Nabatea, berupa perkamen tetapi beberapa teks ditulis pada papirus dan perunggu. Naskah ini kemungkinan digunakan antara tahun 408 SM hingga 318 Masehi, koin perunggu yang ditemukan di situs bergambar John Hyrcanus (135-104 SM) dan berlanjut hingga memasuki periode peperangan pertama antara Yahudi dan Romawi tahun 66 hingga 73 M. Naskah yang ditemukan di Qumran mencakup seluruh Alkitab Ibrani, kecuali kitab Ester sekitar 1000 tahun lebih tua dari naskah kuno yang sebelumnya pernah ditemukan. Sejarawan dan arkeolog terus berusaha membuktikan bahwa naskah kuno Qumran tetap tidak berubah selama hampir 2000 tahun terakhir.

naskah1

Naskah Laut Mati secara tradisional ditulis sekte Yahudi kuno yang disebut Essenes, dimana pendapat ini ditentang dan teori lain menyebutkan bahwa naskah ditulis para imam Yerusalem, Zadok, atau kelompok Yahudi yang tidak diketahui. Tuduhan bahwa Vatikan menghalangi penerbitan naskah Laut Mati, Khususnya buku ‘The Dead Sea Scrolls Deception’ karya Michael Baigent dan Richard Leigh diterbitkan pada tahun 1990-an, menyatakan bahwa beberapa naskah dengan sengaja disimpan selama puluhan tahun untuk menutupi teori negatif tentang sejarah Keristen Awal.

Khususnya spekulasi Eisenman, kehidupan Isa sengaja dimitoskan Paulus, kemungkinan adalah seorang agen Romawi yang memalsukan pertobatannya dari Saulus guna menggerogoti pengaruh penyembahan mesianik anti Romawi diwilayah tersebut. Penerbitan terjemah naskah Laut Mati pada akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an telah mengurangi kredibilitas argumen, dimana kebanyakan ahli sekular maupun religius merasa bahwa dokumen ini lebih tertuju pada Yahudi, dan bukan Kristen.

Naskah Pseudepigrapha, komposisi agama non-Alkitab, dan Apocrypha yang dianggap non-alkitabiah oleh orang-orang Yahudi dan beberapa organisasi Kristen, tetapi diterima secara sekunder atau sepenuhnya kanonik oleh Gereja lain. Catatan ini diawetkan dan diturunkan dalam beberapa terjemahan bahasa, tetapi beberapa versi salinan mengalami tingkat perubahan ditangan juru bahasa dan penyalin, walaupun saat ini beberapa salinan tersedia dalam bahasa asli agar naskah kuno bisa diterjemahkan.

Beberapa naskah Laut Mati sudah mengalami kehancuran ataupun rusak sehingga tidak semua teks berhasil diidentifikasi. Naskah yang berhasil diidentifikasi terbagibagi menjadi tiga kelompok yaitu:

  1. Sekitar 40 persen merupakan salinan teks Alkitab Ibrani
  2. Sekitar 30 persen merupakan teks dari Bait Suci Periode Kedua, dan tidak dikanonisasi dalam Alkitab Ibrani seperti Kitab Henokh, Yobel, Kitab Tobit, Kebijaksanaan Sirakh, Mazmur 152-155.
  3. Sekitar 30 persen merupakan naskah sektarian sebelumnya yang tidak diketahui dokumen sejarah, menjelaskan aturan dan kepercayaan dari kelompok tertentu atau kelompok Yudaisme yang lebih besar.

Naskah Laut Mati menambahkan substansi dan periode sejarah dimana Kristen dan Rabbinik Yudaisme berasal, mengungkapkan salah satu segi dari spiritual diantara berbagai pihak Yudaisme Palestina pada waktu itu, dimana gejolak memuncak dan reinterpretasi kebenaran dari dasar agama Yahudi. Naskah yang ditemukan memiliki format berbeda, diantaranya berisi fragmen kitab Yesaya, komunitas dan aturan masyarakat, naskah Komentari Kitab Habakuk, teks Perang, nyanyian syukur, dan Genesis Apocryphon.

Pada abad pertama dan kedua para Rabbinik tidak diizinkan menulis tentang keagamaan untuk diturunkan kepada anak cucu Yahudi, kecuali jika sepenuhnya sesuai dengan ortodoksi meskipun beberapa diantaranya disimpan pihak Gereja. Tapi naskah Laut Mati tidak terpengaruh Kristen ataupun para Rabbinik Yudaisme, dan bukti yang tertulis didalamnya harus diterbitkan dan akan membuka sejarah baru. Tidak hanya aspek kepercayaan Yahudi tetapi juga seluruh sekte, pengajaran kuno, dan aspirasi komunitas antar perjanjian agama.

Beberapa catatan berbahasa Yunani yang ditemukan di gua 7 berisi ayat-ayat Injil Markus (4 fragmen), Kisah Para Rasul, Surat Roma, Surat 1 Timotius, dan Surat Yakobus, masing-masing 1 fragmen. Disebutkan sejarawan Alkitab, naskah Laut Mati dipenuhi berbagai teori konspirasi, salah satunya menduga bahwa naskah ini sama sekali rekaan dengan meletakkan kisah makhluk langit, ada pula tulisan tentang Nefilim yang terkait dengan Kitab Henokh.

Referensi

  • Dead Sea Scrolls Uncovered – First Complete Translation and Interpretation, by Robert Eisenman and Michael Wise.
  • The Dead Sea Scrolls in English, by G Vermes
  • The War Scroll found in Qumran Cave 1, by Eric Matson, image courtesy of wikimedia commons.