Tag Archives: sahabat

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang digelari “Seruling Keluarga Nabi Daud”

quran5
“Wahai Abu Musa, kamu telah diberi seruling dari serulingnya (bagus suaranya) keluarga (Nabi) Daud.” (HR. Bukhori-Muslim).

Kata-kata pengkabaran ini diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada seorang sahabat agung yang dikenal dengan nama Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

Diantara para sahabat, beliau mempunyai suara bagus ketika membaca Al-Qur’an. Kelembutan dan kehalusan suaranya membuat orang yang mendengarkan terharu dan tersentuh hatinya. Suaranya mampu menembus ke relung hati.

Tentang Abu Musa, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa suatu malam, Abu Musa melakukan shalat malam. Bacaan Al-Qur’an dalam shalatnya itu terdengar oleh istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka pun bangun dan mendengarkan dengan baik. Ketika pagi-pagi beliau diberitahu bahwa istri-istri Rasul mendengar bacaannya.

Biasanya, jika Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertemu dengannya, beliau pasti diperintah untuk membaca Al-Qur’an.

“Wahai Abu Musa, kami rindu dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an,” kata Umar.

Abu Musa dilahirkan di Zabin, Yaman, 21 tahun sebelum Hijriah. Nama lengkapnya Abu Abdullah bin Qis bin Salim bin Hadhor bin Harb. Nama panggilannya Abu Musa dan al-Asy’ari dinisbahkan kepada bani al-Asy’ar di Qohthan. Beliau adalah seorang zahid, ahli fiqih, imam besar dan ahli ibadah. Tubuhnya tidak gemuk dan tidak terlalu pendek.

sahabat1

Sahabat yang Berhijrah Dua Kali

Sejarah Abu Musa dimulai dari Yaman, tempat dimana beliau dilahirkan. Masa itu penduduk Qohthan banyak yang menyembah berhala. Meskipun beliau masih berusia muda, tapi beliau menolak dan menginkari penyembahan berhala yang berlaku di masyarakatnya.

Abu Musa tahu bahwa berhala yang disembah tidak memberikan manfaat dan juga bahaya. Dalam hatinya berkeinginan agar datang pertolongan dari langit untuk menyelamatkan manusia dari penyembahan berhala. Keinginannya itu terwujud ketika beliau mendengar bahwa Muhammad bin Abdullah adalah utusan Allah mengajarkan agama tauhid (mengesakan Allah dalam beribadah), mengajak kepada amar ma’ruf (urusan yang baik) dan budi pekerti yang mulia.

Maka dengan niat ikhlas Abu Musa meninggalkan tanah kelahirannya pergi menuju Makkah, tempat di mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallamdiutus. Sesampainya di Makkah, beliau duduk di sekeliling RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wasallam dan belajar darinya. Selama mengikuti ajaran Rasulullah, beliau sangat rajin dan tekun.

Akhirnya setelah merasa cukup, Abu Musa pulang ke Yaman untuk mengajarkan agama tauhid yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sedikit banyak beliau membawa perubahan pada kaumnya.

Mengenai kisah hijrahnya, Abu Musa menceritakan, “Kami keluar dari Yaman bersama 53 orang lebih dari kaumku. Suadaraku Abu Ruhm dan Abu Burdah juga ikut. Kami berlayar dengan perahu ke Najashy, Ethopia. Ternyata di sana sudah ada Ja’far dan sahabat-sahabat lain. Kemudian kami bertemu setelah selesai perang Khaibar. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda: ‘Kamu berhijrah dua kali. Pertama ke Najashy dan kedua hijrah kepadaku’.”(HR.Bukhori Muslim).

Sejak itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat cinta kepada Abu Musa dan juga kaumnya. Sebelum kedatangan Abu Musa, RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada para sahabat bahwa besok akan datang kepada mereka suatu kaum yang hatinya sangat lembut.

Besok harinya, kedatangan Abu Musa dan kaumnya disambut meriah dengan saling berjabat tangan. Inilah sejarah pertama berjabat tangan dalam Islam.

Orang-orang yang datang bersama Abu Musa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam disebut “al-Asy’ariun” (orang-orang Asy’ari).

Sekembalinya para sahabat dari Habasyah (Ethopia) bersama Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu setelah Perang Khaibar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan penerangan tentang ajaran Islam kepada semua yang datang.

panji1

Penguasa dan Ksatria yang Ahli Fiqih

Abu Musa adalah seorang faqih (ahli fiqih) dan sangat cerdas sehingga dapat memahami setiap persoalan yang muncul. Disebutkan bahwa beliau termasuk empat orang ahli hukum umat Islam, yaitu Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari dan Zaid bin Tsabit.

Abu Musa juga seorang penguasa yang sangat berani. Di medan perang, dengan beraninya beliau sanggup memikul beban dan tanggungjawab pasukan umat Islam. Hingga suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Tuan para kesatria adalah Abu Musa.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menugaskan beliau menjadi penguasa atau wali di kota Zabid dan Adnan.

Pada waktu Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengutus Abu Musa untuk menjadi wali dan amir di Basrah pada tahun 17 Hijriah, Abu Musa mengumpulkan penduduk Basrah lalu berkhutbah, “Amirul mukminin mengutusku untuk mengajarkan kepada kalian kitab Allah dan sunnah Rasul. Dan juga untuk membersihkan jalan kesesatan kalian.”

Kota Asbahan dan Ahwaz ditaklukan pada masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Abu Musa ditugaskan untuk menjadi wali di Basrah, tapi kemudian beliau mengundurkan diri. Setelah itu dipindah ke Kuffah.

Pada waktu terjadi fitnah dan perselisihan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan sahabat Muawwiyah, Abu Musa mengajak penduduk Basrah untuk memberikan dukungan kepada Khalifah Ali.

Selama berjuang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Abu Musa telah meriwayatkan kurang lebih dari 355 hadits.

Diantara hadits riwayatnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangannya di malam hari untuk memberi ampunabagi orang yang berbuat jahat di siang hari. Dan Allah bentangkan tangannya di siang hari untuk memberi ampunan bagi orang yang berbuat jahat di malam hari hingga matahari terbenam.”(HR.Muslim)

Suatu hari Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Ada dua hal yang dapat memutus dariku kenikmatan dunia, mengingat mati dan mengingat dosa dihadapan Allah.”

Sahabat yang suaranya adalah seruling keluarga Nabi Daud ‘Alahissalam itu, wafat di Kuffah pada tahun 44 Hijriah.

Sumber :
mirajnews.com

Iklan

Khalifah dan Kekuasaan

Beberapa hari usai masa ta’ziyah atas wafatnya Khalifah Umar bin Khattab RA, para sahabat Rasulullah SAW mengadakan musyawarah untuk memilih pengganti khalifah. Lalu ditunjuklah enam orang, sahabat pilihan untuk menentukan kelangsungan kepemimpinan umat Islam.

Keenam orang tersebut adalah Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah dan Saad bin Abi Waqqash.

Saat bermusyawarah, kelima orang tersebut menunjuk Abdurrahman bin ‘Auf menjadi pengganti Umar bin Khattab. Namun, Aburrahman bin ‘Auf menolak, dan untuk memecahkan masalah kepemimpinan ini, Abdurrahman bin ‘Auf bertanya kepada Zubeir bin Awwam tentang siapa yang pantas menjadi khalifah.

Zubeir bin Awwam menunjuk Ali bin Abu Thalib. Ketika ditanya kepada Saad bin Abi Waqqash, ia pun memilih Ali bin Abu Thalib. Saat ditanya kepada Thalhah, Thalhah berkeras tetap memilih Abdurrahman bin ‘Auf.

Ketika ditanya kepada Ali bin Abu Thalib, Ali menunjuk Utsman bin Affan, dan ketika ditanya kepada Utsman bin Affan, Utsman menjawab ia lebih memilih Ali bin Abu Thalib.

Ternyata untuk dipilih jadi penguasa (amanah) orang pada masa itu lebih memilih tidak memangku amanah. Sepertinya berbeda sekali dengan masa sekarang. Orang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin dan penguasa. Mungkin mereka tidak sadar konsekuensi dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin.

Akhirnya setelah ditimbang dengan matang. Pertemuan berakhir dengan ditunjuknya Utsman bin Affan sebagai khalifah.

Kisah ini memberi gambaran kepada kita, tentang keteladanan para sahabat Rasulullah SAW. Keenam orang sahabat ini, saling ’berebut’ untuk menolak kekuasaan. Sangat berbeda dengan kaum politisi, yang saling berlomba untuk mendapatkan jabatan.


Larangan Rebutan Kekuasaan

Mencari-cari kekuasaan (jabatan), bahkan dengan saling memperebutkannya, bukanlah prilaku seorang muslim. Di dalam beberapa haditsnya, Rasulullah mengecam orang-orang seperti ini, diantaranya :

1. Dari Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah ra. berkata : “Rasulullah saw. bersabda kepada saya : “Wahai ‘Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta suatu jabatan karena sesungguhnya bila kamu diberi suatu jabatan tanpa memintanya maka kamu akan mendapat pertolongan dalam menjabat jabatan itu, tetapi kalau kamu diberi suatu jabatan karena meminta, maka jabatan itu akan diserahkan (dibebankan) sepenuhnya kepadamu….”(Shahih Bukhari No.7146 dan Shahih Muslim No.1652).

2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi untuk dapat memegang suatu jabatan, tetapi nanti pada hari kiamat jabatan itu merupakan suatu penyesalan” (Shahih Bukhari No.7148).

3. Dari Abu Musa Al Asy’ary ra. berkata : “Saya bersama dua orang saudara sepupu datang kepada Nabi saw., kemudian salah seorang di antara keduanya itu berkata : “Wahai Rasulullah, berilah kami suatu jabatan pada sebahagian apa yang telah Allah ‘azza wajalla kuasakan terhadap tuan”. Dan yang lain juga berkata seperti itu. Kemudian beliau bersabda :”Demi Allah, aku tidak akan mengangkat seorang dalam suatu jabatan yang mana ia memintanya, atau seseorang yang sangat ambisi pada jabatan itu”. (Shahih Bukhari No.7149 dan Shahih Muslim No.1733)

Mungkin ada baiknya juga sebelum menjadi penguasa, calon-calon pemimpin belajar dari sejarah kepemimpinan di masa sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Dengan begitu mereka menyadari harus seperti apa menjadi pemimpin itu. Mudah-mudahan di masa yang akan datang semakin banyak pemimpin yang amanah dan mengutamakan kepentingan rakyatnya.

Persaudaraan, awal dari Kemenangan

Ketika Rasulullah SAW telah sampai di Madinah, setelah hijrah dari Makkah, Rasulullah SAW berniat membangun ukhuwah islamiyah di antara umat beriman. Rasulullah SAW mempersaudarakan para pengikut setianya, antara satu dengan yang lainnya, yang umumnya antara kaum Anshar dan Muhajirin.

Banyak hal yang unik sekaligus mengharukan dari jalinan persaudara tersebut. Persaudaraan yang tidak mengenal kelas sosial. Misalnya saja, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang bangsawan Bani Hasyim dan sekaligus paman Rasulullah SAW dipersaudarakan dengan seorang mantan budak Zaid bin Haritsah. Satu hal yang tidak akan mungkin terjadi di zaman jahiliah.

Mush’ab bin Umair seorang mubaligh Islam pertama yang dikirim Rasulullah SAW ke Madinah, dipersaudarakan dengan Abu Ayyub al-Anshari, orang paling miskin di Madinah yang menyediakan rumahnya bagi Rasulullah SAW, sebelum Rasulullah SAW memiliki rumah sendiri, ketika baru sampai di Madinah.


Abdurrahman bin ‘Auf yang tidak membawa apa-apa ketika berhijrah, dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, seorang hartawan dari kalangan Anshar. Lalu Ja’far bin Abu Thalib dengan Muaz bin Jabal, Abubakar dengan Kharijah bin Zuhair, Umar bin Khattab dengan Utbah bin Malik dan lain sebagainya. Ibnu Qoyyim menuturkan, mereka yang dipersaudarakan ada 90 orang.

Hubungan persaudaraan antara kaum Anshar (umat Islam di Madinah) dengan kaum Muhajirin (umat Islam di Makkah), merupakan langkah strategis yang dilakukan Rasulullah SAW demi meneguhkan semangat kebersamaan dan persaudaraan sebagai sesama muslim di kalangan sahabat.

Langkah Rasulullah SAW ini semakin menyatukan kaum beriman ke dalam satu barisan yang kokoh. Tujuannya untuk mencapai kesepakatan yang mengikuti pola dan panduan Allah SWT. Sesama manusia itu memiliki derajat yang sama. Hanya tingkat ketakwaannya semata yang membedakannya di mata Allah SWT.

Pejuang Belia, Generasi Sahabat

Keberhasilan Rasulullah dalam menegakkan kebenaran, selain disokong oleh pengikutnya yang setia, juga dibantu para remaja yang berani.

Ketika Ja’far bin Abu Thalib diutus menemui Raja Najasy dari Habsyah, umur beliau baru 20 tahun. Sama seperti saudaranya, Ali bin Abu Thalib, menjadi salah seorang pahlawan perang Badar pada usia muda, sekitar 25 tahun.

Dari kalangan muslimah tercatat Aisyah binti Abubakar, dalam usia yang belia beliau bersama-sama kaum muslimin, berjuang dalam perang Uhud. Demkian hal puteri Rasulullah, Fatimah, yang sedari kecil turut merasakan pahit getirnya perjuangan, dalam menegakkan keadilan bersama ayahnya.

Ada lagi Mush’ab bin Umair yang diutus Rasulullah untuk berdakwah ke kota Madinah di usia 24 tahun. Dakwah yang beliau lakukan sangat berhasil, dan menjadi jalan bagi Rasulullah untuk Hijrah.

Tentu tidak lupa, nama yang tidak asing lagi, Usamah bin Zaid, yang ditunjuk Rasulullah menjadi Panglima Perang dalam usia beliau 17 tahun. Dan Rasulullah tidaklah keliru, karena Usama berhasil membawa kemenangan yang gemilang bagi kaum muslimin.

Para sahabat Rasulullah, bahu membahu berjuang di jalan Allah, tanpa memandang usia. Mereka berlomba-lomba berbuat yang terbaik (QS.5:48), untuk mencari keridhoanNya.

KISAH NYATA, GAJI PEMIMPIN di era PARA SAHABAT

Pemimpin itu adalah Pengemban Amanah, yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi Kepentingan Masyarakat, jadi sangat keliru jika bertujuan, untuk mencari Penghasilan, Popularitas atau Kekuasaan.

Dalam persoalan Kepemimpinan, sudah sewajarnya apabila kita menteladani Para Sahabat Rasululah, sebagaimana Kisah berikut ini :


Amir Yang Faqir

Khalifah Umar bin Khattab, memerintahkan utusan dari kota Homs Suriah, untuk menuliskan nama-nama faqir miskin yang ada di kota tersebut.

Setelah daftar faqir miskin itu selesai, terkejutlah sang Khalifah. Hal ini dikarenakan terdapat nama Said bin Amir yang merupakan Amir (Pemimpin) di daerah itu.

Amir kalian seorang yang faqir ?” Tanya Umar tidak percaya.

“ Ya, Amirul Mukminin…”, jawab utusan itu.

Mendengar itu, dengan terharu diberinya uang sebesar seribu dinar kepada utusan itu. Kemudian Khalifah Umar berkata : “Serahkan harta ini kepada Amir kalian, agar Ia bisa hidup mencukupi.”

Ketika utusan itu datang menemui Said bin Amir. Said bin Amir, yang merupakan salah seorang Sahabat Rasulullah, langsung berujar : “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,” teriaknya seolah mendapat musibah.

Segera setelah itu, ia bersama isterinya membagi-bagikan seluruh harta yang ia dapatkan, kepada faqir miskin yang ada di kota Homs.


Generasi Anti Korupsi

Pemimpin yang dipandu dan dipilih berdasarkan kacamata syari’ah, telah terbukti memunculkan “clean government” di tengah-tengah masyarakat yang dipimpinnya.

Sejarah mencatat Abu Bakar ash-Shiddiq ra., saat menjadi Khalifah, selama dua tahun tiga bulan masa pemerintahannya, dengan wilayah terbentang dari Mesir hingga Persia, hanya menghabiskan 8.000 dirham dari Baitul Maal.

Bahkan, Umar bin Khattab ketika menjadi Khalifah, sering melakukan pinjaman kepada Baitul Maal, tatkala gajinya tidak cukup untuk memenuhi keperluan kehidupan sehari-hari.

Hal ini sangat berbeda dengan pemimpin masa sekarang, yang telah memiliki penghasilan yang “sangat besar”, akan tetapi demi memenuhi kehidupannya yang mewah, masih berusaha mencari celah untuk “korupsi dan berkolusi”.