Tag Archives: misteri

[Misteri] Silsilah Sisingamangaraja XII dan Nilai Numerik (Gematria) Si Raja Batak ?

Berdasarkan buku Toba Na Sae karya Sitor Situmorang, diperoleh informasi Silsilah Sisingamangaraja XII, yang dimulai dari Si Raja Batak (Battak), adalah sebagai berikut :


Sisingamangaraja XII yang merupakan generasi ke-19 dari Si Raja Batak, dilahirkan di Bakkara (Tapanuli), pada 18 Februari 1848 (sumber : wikipedia.org, Lahirnya Sisingamangaraja I).

Dengan mengasumsikan jarak antara generasi 25 tahun, diperkirakan Si Raja Batak, lahir sekitar tahun 1395 Masehi.

Nilai Numerik (Gematria) Si Raja Batak

Berdasarkan Ensiklopedia Britannica makna “Batak” sebagai berikut:

Batak, also spelled Battak or Batta, several closely related ethnic groups of north-central Sumatra, Indonesia.

The term Batak is one of convenience, likely coined during precolonial times by indigenous outsiders (e.g., the Malay) and later adopted by Europeans.” (sumber : kompasiana.com)

Dari keterangan diatas, kata “Batak” ternyata juga diucapkan dengan kata “Battak”, yang apabila kita uraikan, akan memperoleh nilai numerik, sebagai berikut :


battak = ba (beta) ; ta (tau) ; ta (tau) ; kaf (kappa), yang berdasarkan perhitungan nilai numerik arab, hebrew dan yunani, akan menghasilkan :

ba = 2, ta = 400, ta = 400, kaf = 20, diperoleh 2 + 400 + 400 + 20 = 822

Nilai  Numerik dalam Masyarakat Timur Tengah, terkadang digunakan untuk menunjukkan tahun kejadian, oleh karenanya makna “Battak” bisa berarti tahun 822 Hijriyah atau 1419 Masehi (Sumber : miraclesofthequran.com, keseimbangan matematika, al-habib.info).

Dengan demikian ada kemungkinan peristiwa pengangkatan Si Raja Battak (Batak), menjadi penguasa di wilayah Sumatera Utara, terjadi pada tahun 822 Hijriyah (1419 Masehi), atau saat yang bersangkutan berusia sekitar 24 tahun.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Keajaiban dari Nilai Numerik 9 dalam Sejarah Nusantara ?
3. 
4. 

Catatan Penambahan :

1. Pada makam Tuan Syekh Rukunuddin, yang terdapat di pemakaman Mahligai, Kabupaten Tapanuli Tengah (Sumatera Utara), tertulis tahun ha-mim, yang bermakna ha = 8 dan mim = 40, sehingga makna ha-mim adalah 8 + 40 = 48 Hijriyah (Sumber : [Misteri] Bukit Ka’ba, Pusat Dakwah Islam di masa Kedatuan SRIWIJAYA ?).

2. Penggunaan tahun hijriyah di tanah Batak, juga bisa terlihat pada peninggalan Stempel Sisingamangaraja XII, yang menggunakan huruf Arab, bertulis Hijrah Nabi 1304 (Sumber : Misteri Stempel Sisingamangaraja XII).

Iklan

[Misteri] Simbolisasi Ma-liki, Ma-luku dan Ma-laka menuju Kejayaan Nusantara ?

Kearifan Leluhur Nusantara sungguh luar biasa. Pesan-pesan kebajikan, tidak hanya disampaikan lewat nasehat dan kata pepatah, melainkan juga melalui simbolisasi-simbolisasi yang memiki makna yang sangat mendalam.

Dalam upaya menuju kejayaan suatu bangsa, Leluhur Nusantara menyimbolkannya dalam 3 kata, yaitu Ma-liki (Pemerintahan), Ma-luku (Hasil Bumi) dan Ma-laka (Sarana Infrastruktur).


Makna Maliki, Maluku dan Malaka

Dalam diskusi Peradaban budaya dan Keislaman Nusantara, Pembicara Herman Sinung Janutomo menyampaikan bahwa ada 3 titik dalam kawasan Nusantara, yaitu malaka (disebelah barat), maluku (disebelah timur) dan maliki/hadiningat (disebelah selatan).

Ketiga titik ini, membentuk segitiga, dimana maliki yang berada di pulau jawa, menjadi landasan. Terhubungnya ketiga titik ini, menunjukkan adanya hubungan kekerabatan antara kerajaan Nusantara, di wilayah barat, timur dan selatan.

Simbolisasi MALIKI, MALUKU dan MALAKA, secara ringkas bisa dijabarkan sebagai berikut :

Ma-liki 
Merupakan simbol dari pemerintahan (kekuasaan). Syarat utama kejayaan suatu bangsa, mereka harus memiliki kedaulatan terbebas dari kolonialisme (pengaruh) bangsa asing.

Ma-liki juga dapat melambangkan kedaulatan hukum, dimana semua anak bangsa diperlakukan secara adil, tanpa membedakan antara mereka yang miskin dengan mereka yang berlimpah harta.

Ma-luku
Merupakan simbol dari hasil bumi. Satu bangsa akan meraih kejayaan apabila mereka merupakan bangsa yang produktif, bukan konsumtif.

Mereka adalah bangsa yang mandiri secara secara pangan, yang tidak tergantung dari hasil bumi bangsa lain.

Ma-laka 
Merupakan simbol dari sarana infrastruktur yang lengkap, serta profesionalisme dari pihak pengelolanya.

Perbuatan aparat pemerintahan yang bersifat koruptif harus diberantas sampai ke akar-akarnya, disokong juga para pejabat, yang memiliki sikap melayani bukan dilayani.

Dengan demikian, satu bangsa yang memiliki Maliki (Pemerintahan) yang berdaulat dan berkeadilan, didukung keberadaan Maluku (Hasil Bumi) yang melimpah serta dengan masyarakat yang produktif.

Dilengkapi juga Malaka (Sarana Insfrastruktur) yang lengkap disokong oleh profesionalisme pihak pengelolanya, insya ALLAH akan menumbuhkan satu bangsa yang Adil Makmur Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Keajaiban dari Nilai Numerik 9 dalam Sejarah Nusantara ?
3. 
4. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

[Misteri] Keajaiban Nilai Numerik 9 dalam Sejarah Nusantara ?

Di masa lalu, Bangsa Nusantara dikenal sebagai Bani JAWI. Dimana kata JAWI atau JAWA, berdasarkan perhitungan numerik arabic memiliki nilai 9, yakni jim = 3 dan waw = 6,  maka 3 + 6 = 9.

Nilai 9 sangat akrab dengan Sejarah Nusantara, perhatikan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti SRIWIJAYA dan MAJAPAHIT memiliki karakter huruf yang berjumlah 9.


Karakter berjumlah 9 huruf, juga terdapat pada kata NUSANTARA dan INDONESIA, serta landasan berbangsa masyarakat Indonesia, yakni PANCASILA.

Tokoh-tokoh Sejarah juga memiliki karakter 9 huruf seperti : GAJAH MADA, SILIWANGI dan BRAWIJAYA.

Ajaran Monotheisme Kuno Nusantara, yakni KAPITAYAN juga berkarakter 9 huruf, demikian juga dewan ulama yang berjasa dalam penyebaran Islam, yakni WALI SONGO (Wali Sembilan), juga terdapat 9 karakter huruf.

referensi :
1. miraclesofthequran.com
2. 
3. Post Hegemony XXIV: Jama’ah NU Kelanjutan Sistem Sosial Masyarakat Kuno Nusantara

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Sejarah Nusantara
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. [Misteri] Kuil Hatshesut (dari masa 1.470 SM), berkisah tentang Peradaban Purba Nusantara?).
3. 
4. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?

[Misteri] Benarkah Kota Pontianak, berasal dari kata “Kuntilanak” ?

Kota Pontianak di dirikan oleh Syarief Abdurahman Al kadrie, pada tanggal 23 Oktober 1771. Syarif Abdurrahman dikenal sebagai Sultan Pertama di Kesultanan Pontianak.

Ada beragam versi tentang asal muasal nama Kota Pontianak (Kalimantan Barat). Salah satunya mengatakan nama tersebut berasal dari sosok gaib yang dikenal sebagai “Kuntilanak”. Benarkan demikian ?


Sejarah Asal Nama Pontianak 

Bersumber dari cerita populer di masyarakat, nama Pontianak terkait dengan Syarif Abdurrahman yang sering di ganggu oleh makhluk gaib “Kuntilanak”, saat beliau menyelusuri sungai Kapuas.

Syarif Abdurahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir sosok hantu itu. Bahkan kebiasaan budaya membunyikan meriam, masih kerap di lakukan warga saat acara-acara tertentu, yang gunanya untuk memerangi hantu “Kuntilanak”.
Mitos tentang Kuntilanak ini, seolah menjadi pembenar atas rencana pembangunan Tugu Kuntilanak setinggi 100 meter di Kota Pontianak. Ide aneh ini, tentu mendapat tentangan dari berbagai lapisan masyarakat di Kalimantan Barat.

Berdasarkan sumber keluarga Kesultanan Pontianak, nama Pontianak tidak ada hubungan sama sekali dengan makhluk astral “Kuntilanak”.

Nama Pontianak bermula ketika Sultan Syarif Abdurrahman berlayar menyusuri sungai kapuas, untuk memastikan apakah terdapat orang atau tidak di wilayah itu. Dan ternyata, Sultan Syarif bertemu dengan satu keluarga yang tinggal di hutan.

Keluarga tersebut membuat ladang untuk menanam padi dan pada saat itu mereka memiliki anak bayi, yang tidur di kulit kayu (dimasa itu disebut dengan ponti). Dari sinilah kemudian tercetus istilah “Pontianak”.

Sementara masalah meriam, tujuan membunyikannya agar bisa memberi tanda kepada orang yang tinggal di daerah hutan sepanjang kapuas, jadi dibunyikan bukan untuk mengusir Kuntilanak.

Referensi :
1. Misteri Kota Pontianak
2. Istana Kesultanan Pontianak
3. Tugu Kuntilanak, Setujukah Anda ?
4. Tugu Kuntilanak setinggi 100 meter

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik
1.
2. 
3. Kisah Dakwah Nabi Muhammad Kepada Bangsa Jin ?
4. Masya ALLAH, inilah “batu memancarkan air”, yang diceritakan dalam Al Qur’an ?

[Misteri] Bukit Ka’ba, Pusat Dakwah Islam di masa Kedatuan SRIWIJAYA ?

Di  dalam Kitab Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah, diceritakan tentang kedatangan sahabat Rasulullah,  Akasyah bin Muhsin Al-Usdi radhiallahu anhu, di Kerajaan Sriwijaya. Legenda kemudian bercerita, munculnya Pusat Dakwah Islam di Bukit Ka’ba, yang saat ini berada dalam wilayah Kabupaten Rejang Lebong (Curup) Bengkulu.

Bukti arkeologis tentang telah adanya gerakan dakwah Islam di Pulau Sumatera pada abad pertama hijriyah, ditemukannya  Tuan Syekh Rukunuddin, yang wafat tahun 48 Hijiriah, di komplek pemakaman Mahligai, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Islam di Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan buku “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nsantara abad XVII & XVIII”, tulisan Prof. Dr. Azyumardi Azra MA, tercatat beberapa kali Raja Sriwijaya berkirim surat ke khalifah Islam di Syiria.

Dan pada salah satu naskah surat yang ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720M), Raja Sriwijaya bernama Sri Indravarman, mengajukan permintaan agar kholifah sudi mengirimkan da’i ke istana Sriwijaya.

Maraknya Dakwah Islam di Kedatuan Sriwijaya, sedikit terganggu selepas wafatnya Raja Sri Indravarman. Pengganti Sri Indravarman, tidak terlalu banyak memberi perhatian terhadap pekembangan Islam. Namun demikian, pengajaran Islam terus berlanjut, meski tanpa sokongan pihak berkuasa.

Legenda Bukit Kaba Sriwijaya, menceritakan pemimpin pusat dakwah di wilayah ini, disebut Si Pahit Lidah. Julukan Si Pahit Lidah ini, mungkin dikarenakan cara dakwah yang tegas, tidak segan-segan mengungkapkan satu ayat (kebenaran) meskipun dirasa pahit oleh pendengarnya.

Sebagai ulama penyebar Islam, sosok Si Pahit Lidah ini dipercaya memiliki karomah, bahkan beredar cerita, segala yang mereka ucapkan bisa menjadi kenyataan.

Selepas serangan Kerajaan Chola di tahun 1025 M, Kedatuan Sriwijaya mengalami perpecahan, salah satu pecahannya, kemudian mendirikan Keratuan Bukit Siguntang (Palembang). Salah satu penguasanya bernama Raja Segentar Alam masuk Islam dan berganti nama menjadi Iskandar Zulqarnain Alam Syah.

Atas prakarsa, Puyang Ogan “Wali Putih” yaitu ulama yang berhasil meng-islamkan Raja Segentar Alam, Pusat Dakwah Islam di Bukit Ka’ba dipindahkan ke Bukit Siguntang. Sejak masa itu, kepemimpinan “Si Pahit Lidah”, tidak saja sebagai panatagama (pemimpin agama) tetapi juga merangkap sebagai amir (kepala pemerintahan).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi :
1. Diskusi Facebook : Bukit Siguntang
2. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
3. Hadits Nabi, Negeri Samudra dan Palembang Darussalam
4. Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ?
5. Kerajaan Sriwijaya, Pelarian Politik dan Dakwah Para Sahabat Rasulullah di Nusantara ?

Catatan Penambahan : 

1. Kitab Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara) ditulis oleh Habib Bahruddin Azmatkhan, tahun 1929, selain itu ada beberapa buku lain yang menginfomasikan tentang kedatangan da’i di Kerajaan Sriwijaya, diantaranya Buku “Sejarah Islam Pertama Di Palembang”, tahun 1986 tulisan Pangeran Gajahnata, “Islam Pertama di Palembang”, tahun 1929 tulisan R.M. Akib dan ‘The Preaching of Islam”, tahun 1968 tulisan T. W. Arnold.

2. Pemerintahan Keratuan Bukit Siguntang, kemudian dikenali dengan istilah “7 ganti 9 gilir”, dan diperkirakan berakhir pada sekitar tahun 1478 M, seiring dengan berdirinya Kesultanan Islam Demak.

3. Hubungan kekerabatan Keratuan Bukit Siguntang

4. Ketika Kukang (Palembang), dibawah kendali kelompok Chen Tsu Ji (yang kemudian berhasil dihancurkan oleh armada Laksamana Cheng Ho tahun 1407).
Keratuan Bukit Siguntang kemungkinan berpindah ke wilayah Jambi, hal ini bisa diketahui dengan adanya legenda keberadaan Si Pahit Lidah sebelum masa Tun Telanai (utusan Sultan Mansyur Syah, memerintah Malaka 1458-1477).

5. Masyarakat lebih mengenal Gunung Kaba sebagai Bukit Ka’ba, terletak di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupuh Rejang Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu


(sumber foto : ksmtour.com).

6. Pada makam Tuan Syekh Rukunuddin, tertulis tahun ha-mim. Berdasarkan sistem nilai numerik bangsa arab, ha = 8 dan mim = 40, sehingga makna ha-mim adalah 8 + 40 = 48 Hijriyah.


(sumber : ).

Apakah makna dari bukit Kaba adalah perlambang huruf Kaf dan Ba ?

dimana Kaf = 20 dan Ba = 2, atau 20 + 2 = 22 Hijriyah, yakni bersamaan dengan masa Khalifah Umar ra. (13-23 H).

Dan yang menarik berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, “Perjalanan Suci (Siddhayatra)” Penguasa Sriwijaya Dapunta Hyang Jayanasa, dimulai pada 7 Jesta 604 Saka atau 19 Mei 682 Masehi atau bertepatan dengan Hari Jum’at, 6 Ramadhan 62 Hijriyah (berdasarkan perhitungan rukyat global)…

[Misteri] Puteri Melayu, ibunda Kusala Khan (Kaisar Dinasti Yuan, memerintah tahun 1329) ?

Dalam Sejarah Melayu, terbitan dari Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, diceritakan salah seorang puteri Sang Suparba menikah dengan Raja Cina. Kelak dari pernikahan ini, akan melahirkan Penguasa Kerajaan Cina berikutnya.

Berdasarkan penyelusuran Sejarah Tiongkok… Siapakah sesungguhnya Puteri Melayu, yang menjadi Permaisuri di Kekaisaran Cina ?

Kisah Sejarah Melayu

Dikisahkan dalam Sejarah Melayu, Sang Suparba menikah dengan Wan Sendari, puteri Demang Lebar Daun Palembang, keduanya memiliki 4 anak, sebagaimana tertulis dalam bait 2.11 :

“… Telah berapa lamanya Sang Suparba duduk dengan Wan Sendari itu, maka baginda pun beranak empat orang, dua perempuan baik-baik parasnya; puteri Seri Dewi seorang namanya, seorang lagi puteri Cendera Dewi namanya; dua orang laki-laki, Sang Maniaka seorang namanya, seorang lagi Sang Nila Utama namanya (bait 2.11)”.

Salah seorang puterinya yang bernama Puteri Seri Dewi (kakak dari Puteri Cendera Dewi), menikah dengan Raja China, sebagaimana tertulis dalam Sejarah Melayu :

“… Maka titah Sang Suparba : Jika demikian, baiklah kita berikan, supaya bersambutlah raja Melayu dengan Raja Cina”. Maka tuan puteri ananda baginda yang tua sekali itulah dilengkapi baginda dengan sepertinya, diserahkan baginda pada utusan Cina itu… ” (bait 2.13).

Dan dikemudian hari, anak keturunan Raja Cina dengan Puteri Seri Dewi, akan menjadi Penguasa berikutnya.

“… Maka utusan itupun berlayar kembali ke negeri Cina. Maka terlalulah suka hati Raja Cina oleh beroleh puteri anak raja dari Bukit Siguntang itu, maka disambut baginda dengan sempurnanya kebesaran dan kemuliaaan, lalu diperistri baginda, beranak bercuculah baginda dengan tuan puteri itu. Daripada anak cucu baginda jadi raja cina turun-temurun… ” (bait 2.14).

Kaisar Cina dari Dinasti Yuan 

Apabila berpedoman kepada masa pemerintahan Sang Nila Utama di Tumasik (Singapura) pada periode tahun 1320-1347, diperkirakan kedatangan Sang Sapurba di Bukit Siguntang adalah pada sekitar masa 1285-1295. Maka usia dewasa dari anak-anak Sang Suparba, terjadi pada sekitar masa 1305-1315.

Berdasarkan penyelusuran sejarah Cina, pada masa itu yang berkuasa adalah era Dinasti Yuan, dengan Kaisarnya bernama Kulug Khan (memerintah, 1307-1311), dimana Kulug Khan tercatat memiliki putera bernama Kusala Khan (memerintah, 1329).

Kelak anak dari Kusala Khan, akan menjadi Penerus Penguasa Dinasti Yuan, yakni Rinchinbal Khan (memerintah, 1332) dan Toghon Temur (memerintah, 1333-1368).

Data Sejarah Cina ini sepertinya ada kecocokan dengan kisah dalam Sejarah Melayu, yang menyatakan anak keturunan dari Puteri Seri Dewi akan menjadi Raja (Kaisar) China. Mungkinkah sejatinya Permaisuri Kulug Khan, adalah Puteri Seri Dewi, yang diceritakan dalam Sejarah Melayu ?

Kepastian jawabannya, tentu masih memerlukan pendalaman dan bukti-bukti arkeologis tambahan.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi : 
1. Kulug Khan (wikipedia.org)
2. Kusala Khan (wikipedia.org)
3. Sejarah Melayu, terbitan dari Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
4. 

Artikel Sejarah Nusantara :
1.
2. [Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?
3. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
4. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?

[Misteri] 5 Sosok Arya Damar, dalam Sejarah Melayu Palembang ?

Pelabuhan Kukang (Palembang), telah ber abad-abad menjadi salah satu pusat pedagangan di Nusantara. Dan tidaklah berlebihan, apabila Maha Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa-nya, menempatkan Palembang sebagai wilayah yang wajib dikuasai.

Dalam naskah-naskah kuno, Perwakilan Majapahit di Palembang menggunakan istilah “Adipati Arya Damar”, yang apabila kita selusuri, terdiri dari beberapa tokoh. Hal inilah yang sering kali membuat bingung Sejarawan, sebab terkadang kisah dari sosok “Adipati Arya Damar”, saling tertukar dan tumpang tindih.

Arya Damar, dalam Sejarah Melayu

Ada hal menarik, meskipun nama “Adipati Arya Damar” banyak beredar dalam naskah-naskah kuno di Pulau Jawa, justru nama tersebut tidak sama sekali disinggung dalam Naskah Sejarah Melayu.

Dalam Sejarah Melayu tertulis kedatangan Sang Suparba di Bukit Siguntang (pada sekitar tahun 1285 M), disambut Demang Lebar Daun. Peristiwa kedatangan Sang Suparba ini, hanya berjarak sekitar 23 tahun dari pelantikan Arya Damar sebagai Adipati Palembang  pada tahun 1308 M.

Setelah Kepemimpinan Sang Suparba, Sejarah Melayu mengisahkan Pemerintahan Palembang dipegang oleh anak keturunan, puteri angkatnya Puteri Tunjung Buih.

Di sisi lain, dalam naskah-naskah kuno dikatakan, dimasa awal abad ke-14 M, yang memerintah Palembang adalah anak keturunan Adipati Arya Damar dengan istrinya bernama Puteri Ciu Chen.

Apakah Puteri Tunjung Buih itu adalah nama lain dari Puteri Ciu Chen ?

Dengan berpedoman kepada Sejarah Melayu, sangat besar kemungkinan yang menjadi suami dari Puteri Tunjung Buih (Ciu Chen) adalah Adipati Arya Damar. Dan dari pernikahan keduanya, melahirkan 3 putera, yaitu :
1. Arya Barak (Ratu Bhatãra di Wayan/Puyang Semidang Aji/Panglima Timur)
2. Arya Gading (Ratu Bhatãra di Made/Puyang Gading/Panglima Barat)
3. Arya Yasa (Ratu Layang Petak atau Puyang Melayang)

Misteri 5 Sosok Arya Damar

Dari berbagai kisah yang ada di masyarakat, setidaknya ada 5 tokoh, yang di-identifikasikan sebagai Arya Damar, yaitu :

a. Adityawarman

Tokoh Adipati Arya Damar, yang paling awal bisa dideteksi adalah Adityawarman. Adityawarman adalah putera pejabat kerajaan Majapahit bernama Adwaya Brahman, sementara ibunya Dara Jingga, seorang putri Kerajaan Darmasraya.

Di kisahkan Adityawarman berjasa dalam menumpas para pepatih di wilayah situlembang, kemudian diangkat menjadi Adipati Palembang pada tahun 1308 M. Roda pemerintahan di Palembang, lebih banyak dijalankan oleh istrinya Ciu Chen, dikarenakan Adityawarman sering berpergian dalam menjalankan tugasnya sebagai Pejabat Tinggi Kerajaan Majapahit.

Pada tahun 1347 M, bersama istrinya yang lain Puti Jamilan, Adityawarman pindah ke pedalaman, untuk membangun kembali Kerajaan Pagaruyung. Pemerintahan di Palembang, ia serahkan kepada anak-anaknya dari Puteri Ciu Chen, dibantu Patih Palembang bernama Arya Sampang.

b. Arya Dillah

Diperkirakan Arya Dillah (Jaka Dillah) lahir tahun 1415, dan merupakan anak Prabu Wikramawardhana (memerintah Majapahit, 1389-1429). Ketika menjabat menjadi Adipati Palembang, ia kedatangan mubaligh Muslim bernama Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), yang membimbingnya menjadi seorang mualaf.

Dalam buku Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, tulisan Agus Sunyoto, tercatat Aria Dillah memiliki istri, bernama Nyimas Sahilan binti Syarif Husein Hidayatullah (Menak Usang Sekampung), dari istrinya ini Aria Dillah memiliki putera bernama Raden Sahun. Dalam naskah Mertasinga, Ario Dillah memiliki seorang puteri yang kemudian menikah dengan Arya Palembang.

c. Arya Palembang (Abdullah Azmatkhan)

Sebelum Arya Palembang diangkat menantu oleh Arya Dillah. Arya Palembang telah menikah dengan Nyai Ratna Subanci, yang kemudian memperoleh putera bernama Raden Husein (Kusen), Adipati Terung.

Di dalam Naskah Mertasinga Arya Palembang menikahi Nyai Ratna Subanci, selir Kerajaan Majapahit yang hijrah ke Palembang. Kedatangan Nyai Ratna Subanci ke Palembang, dalam upaya meyelamatkan bayi putera dari Putri Champa, yang bernama Raden Hasan (Raden Fattah). Sejarah mencatat, kelak di kemudian hari, sekitar tahun 1478 M, Raden Fattah diangkat menjadi Sultan Demak oleh Walisongo.

Kemungkinan Arya Palembang adalah orang yang dimaksud sebagai Arya Damar dalam catatan Sayyid Bahruddin Azmatkhan. Dalam catatan itu, Arya Damar dikatakan sebagai anak keturunan dari  Sayyid Abdul Malik Azmatkhan.

d. Pangeran Sukemilung (Si Pahit Lidah)

Pangeran Sukemilung adalah anak dari Ratu Raja Muda (Ratu Kebuyutan). Di dalam naskah Sumatera Selatan, Pangeran Sukemilung (Arya Damar) dikisahkan memiliki istri bernama Maharatu Putri Semidang Biduk Putri Sultan Moeghni.

Masa kepemimpinannya diperkirakan sebelum era Syahbandar Pai Lian Bang (sekitar tahun 1485 M). Pangeran Sukemilung (Si Pahit Lidah/Serunting Sakti) berputera tujuh orang, yaitu :

1. Serampu Sakti, yang menetap di Rantau Panjang Bengkulu Selatan
2. Gumatan, yang menetap di Pasemah Padang Langgar, Lahat
3. Serampu Raye, yang menetap di Tanjung Karang Enim
4. Sati Betimpang, yang menetap di Ulak Mengkudu, Ogan
5. Si Betulah, yang menetap di Saleman Lintang, Lahat
6. Si Betulai, yang menetap di Niur Lintang, Lahat
7. Bujang Gunung, yang menetap di Ulak Mengkudu Lintang, Lahat

e. Pangeran Guru 

Pangeran Guru adalah seorang tokoh perantauan dari tanah Jawa. Pangeran Guru dikenal memiliki kesaktiana dan membuka padepokan di Palembang.

Tokoh yang hidup di era akhir Kerajaan Majapahit ini dalam Babad Dermayu di-identifikasi sebagai Arya Damar, meskipun Pangeran Guru sendiri belum pernah menjabat sebagai Adipati.

Pangeran Guru diceritakan pada tahun 1527, tewas terbunuh setelah adu kesaktian dengan Endang Darma.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Referensi : 
1. Kunci Sriwijaya
2. Misteri Jagad Lingga
3. Arya Damar (wikipedia.org)
4. Sejarah Pangeran Selawe Indramayu
5. [Misteri] Panglima Arya Damar bukanlah Adipati Arya Dillah ?
6. 
7.  Sejarah Melayu, terbitan dari Abdullah bin Abdulkadir Munsyi
8. Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar, tulisan Agus Sunyoto
9. Misteri Raden Fattah, dalam pusaran konflik menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit ?

Artikel Sejarah Nusantara :
1.
2. Mengungkap Legenda Prabu Damarwulan, berdasarkan fakta Sejarah ?
3. [Misteri] Radin Galuh Chandra Kirana, pewaris Majapahit yang tersingkir ?
4.  Rasionalisasi Misteri SI PAHIT LIDAH, Legenda Masyarakat Sumatera Bagian Selatan ?