Tag Archives: misteri

[Masya ALLAH] Inilah Gunung Pelangi, yang diceritakan di dalam Al Qur’an ?

Fenomena alam, tentang keberadaan gunung yang berwarna-warni, telah di-informasikan Al Qur’an 1400 tahun yang lalu, sebagaimana terdapat di dalam QS. Fathir (35) ayat 27 :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ

“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”

08 Jul 2014, Zhangye, Gansu Province, China --- (140708) -- XINING, July 8, 2014 (Xinhua) -- Photo taken on July 7, 2014 shows the scenery at Zhangye Danxia Landform Geological Park in Zhangye City, northwest China's Gansu Province. Danxia, which means "rosy cloud", is a special landform formed from reddish sandstone that has been eroded over time into a series of mountains surrounded by curvaceous cliffs and many unusual rock formations. (Xinhua/Wang Song) (whw) --- Image by © Wang Song/Xinhua Press/Corbis

Fenomena Alam yang Menakjubkan

Gunung yang berwarna-warni ini, terdapat di Zhangye Danxia, provinsi Gansu, Cina. Dari kejauhan nampak gunung-guning ini, seperti hamparan pelangi karena itu orang menyebutnya ‘rainbow mountain’.

Areal Gunung pelangi memiliki seluas 300 kilometer persegi, dan merupakan bagian dari Zhangye Danxia Landform Geological Park.

pelangi2
Warna-warni pada perbukitan ini, berasal dari batuan pasir merah dan mineral yang terbentuk sejak Periode Kapur, tepatnya 24 juta tahun lalu.

pelangi3
Gunung Pelangi ini, akan menampilkan pola warna yang berbeda-beda, tergantung kondisi cuaca dan pencahayaan matahari. Warna-warni gunung ini akan semakin kontras jika turun hujan pada hari sebelumnya.

pelangi5
pelangi4

Bukit dan lembahnya terdiri dari lapisan berwarna merah, biru, hijau zamrud, coklat, dan kuning. Dan yang menarik adalah, di sana tidak ditemui tumbuhan atau hewan, hal ini dikarenakan kondisi tanahnya yang tandus.

Sumber :
1. justfunfacts.com
2. cultural-china.com
3. islampos (facebook)

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik
1. Misteri Berlian 222 gram, milik kakek Qarsing dari Sidrap ?
2. [Analisa Foto] Serangga Kanibal, Pemakan kulit dan daging manusia ?
3. [Analisa Foto] Sepasang ULAR NAGA dari Ponorogo, terbukti HOAX ?
4. Masya Allah… inilah 12 Pendapat Tokoh Non Muslim, tentang “Nabi Muhammad” !!

[Polemik] Asal Usul Nama Palembang ?

Dalam masyarakat Palembang, ada Legenda yang mengatakan asal nama Palembang berasal dari nama seorang tokoh asal Tiongkok yang bernama Pai Li Bang.

Pai Li Bang sendiri dikisahkan murid Sunan Gunung Jati, yang pernah menjabat wali negeri Palembang, setelah masa Adipati Ario Damar (sumber : viva.co.id).

Namun cerita ini terbantahkan dengan ditemukannya Prasasti Matari Singa Jaya Himat. Prasasti ini merupakan prasasti tembaga yang ditemukan di Palembang, yang menggunakan aksara Kaganga (Rencong) dan berbahasa Melayu Kuno.

Prasasti Matari Singa Jaya Himat diperkirakan berasal dari masa abad ke-13 sampai 15 Masehi (sumber : wacana.com, Sastra Melayu).

aksara1

contoh aksara rencong (kaganga) atau surat ulu


Di dalam Prasasti Matari Singa Jaya Himat, jelas-jelas disebut nama Palimbang (Palembang) dan Bukit Sagutang (Bukit Siguntang)…

bukitsiguntang1aDan nama Palembang, juga terdapat di dalam Nagarakertagama karangan Prapanca pada tahun 1365. Di dalam Pupuh XIII (sumber : menguak tabir sejarah)…

palembang1a

Asal Nama Palembang

Berdasarkan buku “Sriwijaya”, tulisan Slamet Muljana, dikatakan asal nama Palembang berasal dari bahasa sangsekerta, yaitu Palimbang(a) yang bermakna tepi (Sumber : Sriwijaya). Mungkin dikarenakan posisi Kota Palembang yang berada ditepian Sungai Musi.

Pendapat lain, mengatakan nama Palembang berasal dari kata lembang, yang bermakna tanah yang berlekuk, tanah yang rendah, akar yang membengkak karena terendam lama di dalam air (sumber : terjemahkan dari R.J.Wilkinson dalam kamusnya ‘A Malay English Dictionary’ ). Sementara arti kata Pa atau Pe menunjukkan keadaan atau tempat.

Nampaknya pengertian Palembang menunjukkan tanah yang berair. Hal ini sangat sesuai dengan kenyataan. Berdasarkan data statistik tahun 1990, terdapat 52,24% tanah yang tergenang di kota Palembang. Dan Palembang setidaknya tercatat memiliki sebanyak 117 anak sungai yang mengalir di tengah kota (sumber : infokito).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Salinan Naskah tentang Matari Singa Jaya Himat pada lempeng tembaga yang ditemukan di Palembang. Aksara yang digunakan aksara Lebong kuno (Rencung), menggunakan Bahasa Melayu dan ada pengaruh Bahasa Jawa.

Diperkirakan berasal dari masa pra-Islam, barangkali akhir atau sesudah masa Majapahit.

Sumber : Lampiran buku Perintis Sastera oleh Dr. C. Hooykaas terjemahan Raihoel Amar gl. Datoek Besar. J. B. Wolter – Groningen – Djakarta (link).

prasastimatari1
Artikel Menarik :
1. Hikayat Perang Palembang – Banten, di tahun 1596 M ?
2. Tuan Faqih Jalaluddin, dan Misteri Silsilah Wali Songo ?
3. [Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?

Bencana di Era Nabi Nuh, Patung Sphinx dan Misteri Penduduk Bumi selama 6.000 tahun, hanya bertambah 3 juta jiwa ?

Berdasarkan perhitungan ilmuwan, Penduduk Bumi pernah mengalami pertumbuhan yang sangat lambat. Peristiwa ini terjadi selama 6000 tahun, dari masa 10000 SM sampai dengan 4000 SM.

Dalam masa 60 abad itu, Penduduk Bumi hanya bertambah 3 juta jiwa, dari 4 juta jiwa (tahun 10000 SM), menjadi 7 juta jiwa (tahun 4000 SM) (sumber : worldhistorysite.com, Colin McEvedy and Richard Jones, 1978, Atlas of World Population History, Facts on File, New York).

diagram1Perbandingan Setelah tahun 4000 SM 

Dengan menggunakan sumber data yang sama, jika dihitung ke depan selama 6.000 tahun, yakni dari tahun 4000 SM sampai tahun 2000 M, ternyata mengalami lonjakan angka yang luar biasa.

Jika di tahun 4000 SM, jumlah penduduk bumi adalah 7 juta jiwa, maka pada tahun 2000 M, telah mencapai lebih dari 6 milyar jiwa, atau terjadi pertambahan hingga 857 kali lipat.

Dengan menggunakan nilai pembanding yang sama, seharusnya di tahun 10000 SM, Penduduk Bumi bukanlah 4 juta jiwa, melainkan sebesar 7 juta : 857 atau sebesar 8168 jiwa.

Namun angka 8.168 juta jiwa di tahun 10.000 SM ini, tentu ditolak kalangan peneliti, sebab menurut mereka Penduduk Bumi selepas Letusan Gunung Toba sudah sekitar 10.000 – 40.000 pada  masa 70.000-74.000 tahun yang lalu (sumber : Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan Geologi, International Starch Institute, Migration after Toba dan Gunung Toba).

sphinx1
Bencana Peradaban Bumi di era Nabi Nuh 

Setelah meneliti bekas erosi yang terdapat pada Patung Sphinx di Mesir, ahli ilmu pasti Swalle Rubich dalam bukunya “Ilmu Pengetahuan Kudus” menunjukkan: pada tahun 11.000 SM, Negeri Mesir pasti telah mempunyai sebuah budaya yang hebat. Swalle Rubich memperkirakan erosi tersebut diakibatkan oleh banjir yang dahsyat.

Temuan ilmiah berkenaan dengan Sphinx, nampaknya sejalan dengan temuan Geologi, yang memperkirakan pada sekitar masa 11.000 SM, pernah terjadi banjir global yang melanda bumi. Peristiwa banjir global inilah, yang dikenal sebagai banjir di era Nabi Nuh.

Dengan demikian, Perhitungan jumlah penduduk di tahun 10.000 SM yang berjumlah 8.168 jiwa akan menjadi logis apabila dikaitkan dengan terjadinya Bencana Peradaban Bumi di era Nabi Nuh.

Bencana di masa Nabi Nuh dikisahkan suatu kejadian yang sangat luar biasa, dan memusnahkan seluruh peradaban ketika itu. Peradaban manusia yang sudah cukup tinggi pada saat itu mengalami kehancuran, dan yang tersisa adalah mereka yang meyakini Syariat Allah, melalui utusanNya Nabi Nuh (sumber : Patung Spinx, bukti arkeologis bencana Nuh 13.000 tahun yang silam, Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia dan The Sphinx Mystery).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik…
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. Sejarah Populasi Penduduk Dunia, dari 74.000 tahun yang lalu hingga masa sekarang ?
3. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?
4. [Misteri] Keberadaan Leluhur Nusantara di Gua Shandingdong (China), sekitar 10.000 tahun yang silam?

[Misteri] Bajak Laut, Penguasa Perairan Sungai Musi Palembang di abad 14-15 Masehi ?

Pada tahun 1407, armada Laksamana Cheng Ho memasuki perairan Sungai Musi Palembang, ia datang bersama bala tentaranya yang berjumlah sekitar 27.800 orang. Setelah melalui pertempuran yang sengit, Pasukan Cheng Ho berhasil menumpas Kelompok Bajak Laut yang menguasai Palembang itu.

Siapakah sesungguhnya Kelompok Bajak Laut yang diserang Laksamana Cheng Ho ? Mengapa Kaisar China dari Dinasti Ming ketika itu, harus mengerahkan pasukan sedemikian besar saat memberantas bajak laut ini ? Adakah upaya perlawanan dari Masyarakat Nusantara (Melayu) ketika itu ?

chengho1
Pasukan Dinasti Yuan yang Disersi

Di pertengahan abad ke-14 Masehi, sejarah mencatat Dinasti Ming berhasil mengambil alih kekuasaan Dinasti Yuan di daratan Cina (Tiongkok). Peralihan kekuasaan ini berakibat, banyak anggota pasukan Dinasti Yuan yang disersi, salah seorang perwira angkatan laut Dinasti Yuan, bernama Chen Tsu Ji (Chen Zuyi), melarikan diri ke po-lin-fong (Palembang).

Kedatangan Chen Tsu Ji dengan membawa ribuan orang pengikutnya, dan membangun basis kekuatan disekitar sungai musi. Pengikut Chen Tsu Ji  kemudian menguasai wilayah perairan Sungsang sampai ke Selat Bangka. Kapal-kapal yang melewati wilayah ini harus membayar upeti kepada mereka.

Tindakan kelompok Chen Tsu Ji ini, akhirnya sampai kepada Kaisar Zhu Di di China, dan untuk mengatasinya Sang Kaisar mengirim Laksamana Cheng Ho ke Nusantara. Dalam pertempuran ini diberitakan pengikut Chen Tsu Ji yang tewas mencapai 5.000 orang (Sumber : Harian Kompas, Panduan Budaya China – Palembang yang diabadikan, Pelayaran Cheng Ho, oocities.org dan ).

chengho2
Upaya Perlawanan Masyarakat Melayu 

Di masa penguasaan Bajak Laut di Perairan Musi, diperkirakan Masyarakat Melayu di Palembang ketika itu masih dibawah pengawasan pemerintahan dari wilayah Lebar Daun, yang gelar penguasanya dikenal sebagai Demang Lemang Daun (sumber : ). Kekuatan kelompok Chen Tsu Ji yang demikian besar, membuat masyarakat melayu ketika itu harus menghimpun kekuatan di wilayah pedalaman.

Berdasarkan tulisan kuno beraksara paku tentang Sejarah Dusun Tanjung Raman, diceritakan leluhur masyarakat setempat Ratu Angkase (Syekh Angkasa Ibrahim Papa) pernah berperang dengan Penguasa Palembang. Mengikuti timeline peristiwa, nampaknya yang dihadapi oleh Ratu Angkase ini adalah kelompok Bajak Laut Chen Tsu Ji (sumber : Sejarah Dusun Tanjung Raman).

Syekh Angkasa Ibrahim Papa sendiri dikisahkan anak dari Raja Ahmad Permala (Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, Penguasa Kerajaan Pasai 1345-1383). Namun berbeda dengan kisah di tanah asalnya Aceh, yang mengatakan Syekh Angkasa Ibrahim Papa (Tun Berahim Bapa) telah tewas diracun, justru di Sumatera Selatan Tun Berahim Bapa dikenal sebagai Tokoh Penyebar Ajaran Islam (sumber :  dan sejarahnusantara.com).

Di wilayah Komering, Krui dan Ranau juga membangun aliansi menghadapi Bajak Laut China, aliansi ini bermula dari Paksi Pak Tungkok Pedang di tahun 1340 Masehi, yang dipelopori oleh Puyang Sakti (Buay Bulan), Puyang Kuasa (Buay Semenguk), Puyang Serata Di Langik (Buay Nuwat) dan Puyang Pandak Sakti (Buay Aji). Paksi ini semakin berperan ketika Kelompok Chen Tsu Ji menguasai perairan sungai Musi pada sekitar tahun 1377-1407 (sumber : Sejarah Skala Brak dan Sejarah Ulu Krui).

Catatan Penambahan :

1. Penguasaan Kelompok Chen Tsu Ji di perairan sungai musi, diperkirakan terjadi setelah penyerangan Majapahit terhadap Palembang pada tahun 1377 M (sumber : Masyarakat dan Kesusastraan Jawa  dan Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Hikayat Perang Palembang – Banten, di tahun 1596 M ?
2. Tuan Faqih Jalaluddin, dan Misteri Silsilah Wali Songo ?
3. Rivalitas, VOC – Mataram, dalam kemelut Negeri Palembang tahun 1636 M?
4. Jejak Perjuangan Muslim Tionghoa, dalam Negeri Kesultanan Palembang Darussalam ?

[Misteri] Manusia Bumi dan Nabi Idris, selepas Letusan Gunung Toba 74.000 tahun yang lalu ?

Ketika terjadi Letusan Gunung Toba sekitar 74.000 tahun yang lalu, manusia hampir diambang kepunahan. Bencana vulkanik ini diperkirakan hanya menyisakan sekitar 30.000 orang yang selamat.

Dengan demikian, manusia yang hidup sekarang, merupakan keturunan dari segelintir manusia yang dahulu selamat dari bencana Letusan Gunung Toba (sumber : Menyelusuri masa kehidupan NABI ADAM, berdasarkan Genetika, Arkeologi, Astronomi dan GeologiMigration after Toba dan Gunung Toba).

supervolcano1
Manusia Bumi adalah Keturunan Nabi Idris (Oziris)

Syaikh Thanthawi Jauhari di dalam Tafsir Jawahir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan Nabi Idris tidak lain adalah Oziris, leluhur Bangsa Mesir Purba.

Kalimat Idris adalah ucapan nama dalam bahasa Arab. Serupa juga dengan Yesoa diucapkan dalam bahasa Arab adalah Isa, dan Yohannes diucapkan dalam bahasa Arab adalah Yahya (Sumber : Misteri HURUF HIEROGLYPH, mengungkap Kisah NABI IDRIS, dalam Peradaban MESIR PURBA?).

Sejalan dengan perjalanan waktu, dikarenakan jasa yang besar pada Peradaban Mesir Purba, Oziris kemudian dianggap sebagai Dewa Yang Agung. Pendirian Piramid Besar Khufu (Cheops) di Giza, erat hubungannya dengan pemujaan bangsa Mesir purba terhadap Oziris (Osiris), yang mereka anggap sebagai jelmaan Orion (Dewa Kematian) (sumber : Nabi Idris (Oziris), Ilmuwan NUSANTARA dan Tokoh Pembaharu MESIR PURBA ?).

Berdasarkan kepada penemuan naskah kuno di dalam Piramid Giza, yang mengatakan bahwa piramid dibangun ‘pada waktu gugusan bintang Lyra berada di rasi Cancer’, menurut perhitungan sejarawan, Abu Said El Balchi, peristiwa tersebut terjadi pada sekitar 72.000 tahun sebelum Hijrah Nabi (622 Masehi) atau sekitar 73.378 yang lalu (sumber : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia ). Dengan demikian keberadaan Nabi Idris (Oziris) di Peradaban Mesir Purba, diperkirakan sekitar 600-700 tahun selepas Letusam Gunung Toba.

Setelah melewati jarak ribuan tahun, kelak dari keturunan Nabi Idris inilah akan lahir Keluarga Nabi Nuh, yang merupakan nenek moyang umat manusia yang ada pada saat ini.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Berdasarkan situs International Starch Institute, jumlah penduduk bumi yangtersisa setelah Letusan Gunung Toba, berkisar antara 10.000 – 40.000 jiwa.

2. Pendapat Sejarawan Abu Said El Balchi (Abou Zeid el Balkhy, source : The Literary Gazette, Volume 24) :

“The Pyramid had been constructed when the Lyra was in the sign of Cancer, this event was twice 36,000 years before this day”.

“Piramida telah dibangun ketika Lyra berada di tanda Cancer, peristiwa ini adalah dua kali 36.000 tahun sebelum hari ini”.

pyramid1
Artikel Sejarah Nusantara :
1. Teori Migrasi Manusia, untuk menjawab asal usul Bangsa Melayu?
2. Misteri Ajaran Kapitayan, Jejak Monotheisme Nabi Nuh dalam Keyakinan Purba masyarakat Nusantara?
3. Misteri “Tiang Rumah Kuno” berumur 2.800 tahun, dan Pemukiman Awal Bangsa Jawi (Melayu) di Nusantara?
4. [Misteri] Keberadaan Leluhur Nusantara di Gua Shandingdong (China), sekitar 10.000 tahun yang silam?

[Misteri] Harimau Tengkes, Penjaga Ghaib dari Negeri Siak ?

Dalam Legenda Masyarakat Riau, Harimau Tengkes merupakan Harimau Siluman peliharaan Sultan Mahmud dari Kerajaan Gasib (Siak). Sang Raja dipercaya memiliki kesaktian kebal terhadap senjata tajam, apabila kakinya menginjak tanah.

Harimau Tengkes memiliki arti harimau yang pincang kaki kiri bagian belakangnya. Konon harimau ini pernah berbuat salah pada Sultan, sehingga Sultan menghukumnya dengan memukul kaki kirinya.

Harimau Tengkes dipercaya selalu terlihat secara supranatural, pada saat hari ulang tahun penobatan Sultan-Sultan yang meneruskan tampuk kerajaan (sumber : Kisah dari Pekan Baru Riau).

harimau1
Sultan Mahmud dalam Sejarah

Pemilik Harimau Tengkes, yaitu Sultan Mahmud berupakan putra Sultan Asif (Raja Ali al-Ajali, sumber : Kesultanan Perak), sementara ibunya adalah Putri Putih anak dari Penguasa Negeri Pahang, Sultan Mansur Shah II. Sultan Mahmud diperkirakan memerintah Kerajaan Gasib (Siak) pada sekitar awal tahun 1600an.

Sultan Mahmud, tercatat sebagai suami dari Tun Dharmapala Johara Tun Isap, dan memiliki 3 orang putera yang bernama : Sultan Muzaffar Shah II, Raja Sulong Raja Muhammad dan Raja Mansur.

Melalui penyelusuran di beberapa situs genealogy seperti : royalark.net dan geni.com, diperoleh diagram silsilah Sultan Mahmud sebagai berikut :

mahmudsiak
Sultan Mahmud adalah Raja Siak dari keturunan Megat Kudu (Sultan Ibrahim). Megat Kudu merupakan suami Raja Maha Dewi putri Sultan Mansyursyah dari Negeri Melaka (memerintah 1458-1477 M, sumber : Kerajaan Siak).

Keberadaan Harimau Tengkes, ternyata juga diyakini oleh masyarakat Johor Malaysia. Bahkan di negeri tersebut Sang Harimau menjadi simbol Kerajaan, dan dikenal dengan nama “Harimau Dengkes”.

Kisah Harimau Tengkes (Dengkes) bisa sampai ke tanah Semenanjung, kemungkinan berasal dari keturunan anak Sultan Mahmud, yang menjadi Sultan Kerajaan Perak ke-10, yakni Sultan Muzaffar Shah II (memerintah 1636-1654,sumber : geni.com, alamendah.org dan Kisah Negeri Johor).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Artikel Menarik :
1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara
2. [Misteri] Ketika Syaikh Siti Jenar menjadi 2 (dua) ?
3. [Misteri] Silat Nusantara, dari abad ke-9 Masehi ?
4. Legenda Segentar Alam, Raja Muslim Sriwijaya dari Bukit Siguntang Palembang ?

[Misteri] Bukti Kedatuan Sriwijaya di tahun 682 M, mencakup 62,28 % masyarakat Asia Tenggara ?

Pada tahun 2013, jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa, dengan  personil tentara (TNI) sebanyak 438.410, atau perbandingan antara jumlah tentara dengan penduduk 1 : 570 (sumber : merahputih.com, republika.co.id).

kedukanbukit001
Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit tahun 682 M, jumlah pasukan kerajaan Sriwijaya  mencapai 20.000 tentara (sumber : wikipedia.org). Dengan berdasarkan perbandingan tentara dengan jumlah penduduk [1 : 570], diperkirakan total rakyat Sriwijaya sekitar 11.400.000 jiwa.

Penduduk bumi pada tahun 600an masehi diperkirakan mencapai 208.000.000 jiwa. Jika penduduk nusantara (asia tenggara) ketika itu adalah 8,8 % dari total penduduk dunia, maka penduduk Asia Tenggara pada masa itu adalah 18.304.000 jiwa (sumber : wikipedia.org, penduduk asia tenggara).

Dengan berdasarkan data diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa Penduduk Kedatuan Sriwijaya di tahun 682 M, merupakan 62,28 % dari masyarakat di Asia Tenggara.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Catatan Penambahan : 

1. Di beberapa negara, perbandingan tentara dengan jumlah penduduk agak lebih kecil dibandingkan Indonesia. Negara Amerika Serikat dengan jumlah penduduk 321.368.864 jiwa memiliki tentara sebanyak 1.400.000 personil atau 1 : 229,5, sedangkan Rusia jumlah penduduk 142.423.773 jiwa memiliki tentara sebanyak 766.055 personil atau 1 : 185,9 (sumber : military power).

Apabila dengan berpatokan kepada data personil militer Amerika Serikat, maka didapat jumlah rakyat Kedatuan Sriwijaya sekitar  4.590.000 jiwa atau 25% dari masyarakat Asia Tenggara ketika itu.

Dan apabila yang menjadi patokan adalah perbandingan tentara di negara Rusia, maka didapat jumlah rakyat Kedatuan Sriwijaya sekitar 3.718.000 jiwa atau 20,3% dari penduduk Asia Tenggara pada masa itu.

2. Pada tahun 1227, diperkirakan jumlah Pasukan Mongol mencapai 129.000 tentara dari sekitar 5.000.000 penduduknya atau 1 : 38,75 (sumber : History of The Mongols, Population of Mongolia).

Apabila berpatokan kepada data tentara pasukan mongol, maka didapat jumlah rakyat Kedatuan Sriwijaya sekitar 775.000 jiwa atau 4,23% dari rakyat yang bermukim di Asia Tenggara.

Artikel Menarik :
1. Bukti Kerajaan Sriwijaya wilayahnya mencapai Benua Afrika?
2. [Google Maps] Rute Balatentara Sriwijaya, tahun 604 Saka (682 M) ?
3. Berdirinya Kedatuan Sriwijaya, dampak Letusan Krakatau tahun 535M ?
4. Silsilah Dapunta Hyang Jayanasa (Pendiri Sriwijaya), berdasarkan Naskah Sunda Kuno?