Part 6: Kunjungan Maulana Sharif Husain

Angin Timur di Ujung Musi, Part 6

Kunjungan Maulana Sharif Husain

Sore itu, langit Palembang berwarna keemasan. Di dermaga sungai Musi, sebuah rakit besar dari Kelantan bersandar perlahan.

Dari rakit itu, tampak seorang berpakaian gamis putih bersih, bersorban hijau zamrud, turun dengan penuh wibawa. Ia adalah Maulana Sharif Husain, sahabat Hang Suro dari Negeri Kelantan.

Para santri Hang Suro, segera menyambutnya dengan penuh hormat. Hang Suro sendiri menanti di pelataran Masjid di Kaki Bukit Siguntang. Mereka berpelukan erat, melepas rindu setelah bertahun-tahun berpisah.

Keluarga dan Kekerabatan

Sebagai Sahabat, Hang Suro paham betul asal muasal Maulana Sharif Husain Kelantan.

Maulana Sharif Husain adalah anak Maulana Sharif Jamaluddin, guru Hang Suro saat merantau di Semenanjung Malaya.

Sementara ibunda Maulana Sharif Husain adalah Putri Syekh Husain Jumadil Kubro, ulama terkemuka teman seperjuangan Syekh Sharif Jalaluddin Muahe Hening.

Maulana Sharif Husain datang ke Palembang, selain untuk berziarah ke makam sahabat kakeknya, ia juga utusan khusus Kesultanan Kelantan, dalam rangka untuk menjalin kerjasama dengan Negeri Palembang.

Dalam kunjungannya, Maulana Sharif Husain didampingi isterinya Putri Selindung Bulan, anak Sultan Baki Syah Kelantan. Ia juga mengajak kedua putranya yang masih belia, yakni Sharif Ali Nurul Alam dan Sharif Muhammad Kebungsuan.

Diskusi Hangat tentang Peran Ulama dan Kekuasaan

Malam itu, di serambi Masjid, Hang Suro dan Maulana Husain duduk bersila, dikelilingi lentera minyak. Mereka terlibat dalam diskusi mendalam, disaksikan beberapa santri senior.

Maulana Husain berpendapat tegas:

“Ulama seharusnya berdiri terpisah dari pemerintahan. Seperti mercusuar di tengah badai, menjaga jarak dari kekuasaan agar tetap bisa menegur dan memperbaiki.”

Namun Hang Suro menyampaikan pandangannya dengan tenang:

“Di bumi Palembang yang baru ini, jika ulama hanya menjadi pengamat, maka kekosongan itu akan diisi kembali oleh tangan-tangan zalim.

Bukankah lebih baik bila ulama ikut membimbing negara dari dalam, memastikan keadilan ditegakkan?”

Diskusi berlangsung sengit namun penuh hormat. Dalil-dalil Qur’an, hadis, dan kisah para sahabat Rasulullah pun bermunculan.

Maulana Husain menambahkan:

“Sejarah mengajarkan, saat ulama terlalu dekat dengan tahta, terkadang mereka dibungkam atau tergoda. Lihatlah istana-istana lama, berapa banyak yang jatuh karena para mufti kehilangan suara nurani mereka.”

Sementara Hang Suro menjawab:

“Benar, tapi di tanah ini, para penguasa adalah orang-orang kita sendiri—para santri, para pewaris adat. Selama amanah dipegang kuat, ulama justru menjadi pondasi.”

Hasil Diskusi

Akhirnya, mereka sepakat pada satu titik keseimbangan: Ulama harus ikut membimbing pemerintahan, tanpa melebur total ke dalam kekuasaan.

Dari diskusi yang hangat ini, muncul ide untuk mendirikan Majelis Syura Ulama di Palembang, tempat para ulama bermusyawarah dan berfatwa secara independen atas dasar syariat dan kebaikan umat.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Tinggalkan komentar