
Angin Timur di Ujung Musi, Part 7
Bara dari Bandar Pelabuhan Kalapa
Setelah beberapa tahun damai dan makmur, pelabuhan Palembang kini menjadi pusat niaga baru di Sumatra bagian selatan. Kapal-kapal dari Tiongkok, Arab, Persia, India, Gujarat, dan Jawa silih berganti berlabuh.
Kemakmuran ini rupanya tidak disambut hangat oleh semua pihak. Pelabuhan Kalapa, yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda, mulai kehilangan dominasi perdagangan.
Sumber Konflik
Masalah bermula dari satu kapal niaga besar yang berlayar dari Kalapa menuju Palembang. Kapal itu dipimpin oleh seorang nakhoda Tionghoa-Jawa, yang ternyata memiliki banyak hutang di Kalapa.
Ia dan awak kapalnya berpura-pura menjadi korban perompak, lalu minta perlindungan kepada otoritas pelabuhan Palembang.
Syahbandar Shi Jin Qing menerima mereka dengan baik, tanpa mengetahui riwayat utang-piutang kapal tersebut. Bahkan kapal itu sempat dibantu memperbaiki cadik dan membawa barang niaga baru.
Tak lama kemudian, dua kapal armada Sunda dari Kalapa mengejar dan mencoba menahan kapal tersebut di perairan timur Musi.
Terjadi ketegangan, dan anak buah kapal Kalapa menembakkan panah ke darat karena mengira Palembang sengaja menyembunyikan pelarian. Sebagai balasan, pengawal pelabuhan Palembang menembakkan meriam peringatan.
Memuncaknya Konflik
Dalam beberapa pekan, situasi makin panas:
- Kapal-kapal dari Kalapa dilarang singgah di Palembang.
- Para saudagar dari Sunda mendapat perlakuan curiga.
- Di Kalapa, dikeluarkan dekrit larangan berdagang dengan Palembang.
- Penguasa Sunda mengirim surat protes keras, menuduh Palembang menyokong penipuan dan pelarian.
Shi Jin Qing berusaha menjelaskan, namun suratnya tidak pernah dijawab. Ketegangan mengancam menjadi perang terbuka.
WaLlahu a’lamu bishshawab


