
Angin Timur di Ujung Musi, Part 3
Peperangan di Sungai Tengkuruk
Tak butuh waktu lama, para santri.dan pendekar, pedalaman berbondong-bondong bergabung, membawa tombak kayu dan panah berbisa.
Syekh Angkase, meski sudah sepuh, memimpin sendiri pasukan pedalaman — wajahnya keras, sorot matanya membara.
Saat fajar keemasan menembus kabut Musi, pasukan gabungan bergerak.
Formasi:
- Sayap kiri: Hang Suro dan para pendekar muda, menyerang dari jalur sungai kecil.
- Sayap kanan: Syekh Angkase dan para santri pedalaman, menyerbu lewat hutan.
- Tengah: Pasukan utama Shi Jin Qing, mendobrak barikade depan benteng.
Pertempuran berkecamuk.
- Tombak beradu pedang.
- Anak panah menembus kabut.
- Gema takbir dan seruan perang bercampur di udara.
Ratu Sekar sendiri bertarung gagah berani di atas kudanya, pedangnya berkilat memotong udara.
Namun kekuatan rakyat yang bersatu terlalu besar untuk dibendung.
Hang Suro berhasil mendobrak gerbang barat benteng, sementara Syekh Angkase memimpin para santri dalam serangan frontal ke jantung pertahanan musuh.
Kemenangan
Saat senja turun, benteng Sungai Tengkuruk jatuh.
Ratu Sekar, terluka parah, melarikan diri ke hutan bersama segelintir pengikutnya. Sungai Musi kembali aman.
Dalam upacara sederhana, Shi Jin Qing memuji jasa Hang Suro dan para guru pedalaman:
“Hari ini kita bukan hanya memenangkan peperangan senjata. Kita memenangkan masa depan Palembang — sebuah negeri baru, lebih adil, lebih bersatu.”
Hang Suro, dengan rendah hati, membalas:
“Kemenangan sejati adalah saat rakyat hidup dalam damai, dan ilmu mengalahkan ketakutan.”
WaLlahu a’lamu bishshawab


