
Angin Timur di Ujung Musi, Part 2
Ratu Sekar dari Bukit Siguntang
Palembang baru saja pulih dari hantaman badai besar: Chen Zuyi, telah ditangkap dan dieksekusi oleh Laksamana Cheng Ho dalam ekspedisi besar Kekaisaran Ming.
Namun, sebagaimana ular berbisa yang buntung kepalanya, tubuhnya masih menggeliat.
Sisa-sisa kekuatan Chen Zuyi, sebagian melarikan diri ke hulu Sungai Musi. Mereka berkumpul di kaki bukit di pedalaman sungai musi.
Di sana, seorang wanita karismatik, saudari perempuan Chen Zuyi, bangkit memimpin.
Namanya: Ratu Sekar, orang-orang menjulukinya Ratu Sekar Bukit Siguntang — berani, ahli dalam siasat dan ilmu gaib.
Di bawah perintahnya, para bajak laut membangun benteng darurat di sekitar Sungai Tengkuruk, memperkokoh barikade kayu dan batu, menguasai jalur-jalur perdagangan yang vital.
Kondisi Palembang
- Kota pelabuhan mulai hidup kembali, tapi jalur dagang ke pedalaman sering dijarah.
- Penduduk takut keluar dari Palembang tanpa pengawalan.
- Hubungan antara pusat kota dan pedalaman terancam terputus.
Shi Jin Qing, yang kini mulai berperan sebagai penguasa baru di Palembang atas restu Laksamana Cheng Ho, mengerti bahwa ancaman ini harus dibereskan sebelum Palembang bisa benar-benar pulih.
Maka, ia mengundang Hang Suro untuk bermusyawarah.
Dalam pertemuan rahasia di Masjid Muara Musi, Shi Jin Qing berkata:
“Kita tak bisa hanya mengandalkan kekuatan kota. Ratu Sekar menguasai hutan dan sungai. Kita butuh saudara-saudara kita dari pedalaman.”
Hang Suro segera mengirim utusan untuk menemui guru-guru nya di pedalaman:
- Padepokan Muahe Hening: meminta dukungan Syekh Sharif Jalaluddin.
- Padepokan Tanjung Raman: mengundang langsung Syekh Angkase.
WaLlahu a’lamu bishshawab


