NARASI ANEH dan MITOS, Seputar EKSPEDISI PAMALAYU SINGHASARI ke PULAU SUMATERA

Di kalangan pemerhati sejarah, banyak yang percaya bahwa Kerajaan Singasari di bawah pemerintahan Raja Kertanegara, pada tahun 1275 pernah melakukan Ekspedisi Pamalayu yaitu operasi militer yang bertujuan untuk menundukkan Kerajaan Melayu.

Narasi penaklukan ini, kemudian dibesar-besarkan terutama melalui Kitab Fiksi seperti Pararaton, yang mengambarkan seolah-olah Ekspedisi Pamalayu mengalami kejayaan dan sebagian besar kerajaan kerajaan Melayu berhasil ditaklukkan, termasuk di dalamnya Dharmasraya, Pagaruyung dan Palembang.

source image from pinterest

Namun di sisi lain, Ekspedisi Pamalayu yang dinarasikan sebagai operasi militer itu, ternyata membawa sejenis patung yang berukuran tinggi 163 cm dengan lebar 97-139 cm, serta terbuat dari batu andesit.

Patung tersebut dikenal dengan nama “Arca Amoghapasa”, yang dikatakan sebagai hadiah dari Kertanagara raja Singhasari kepada Tribhuwanaraja raja Melayu.

Tentu fakta ini menjadikan narasi penaklukkan melayu lewat operasi militer terkesan sangat konyol. Bagaimana mungkin, sekelompok pasukan perang yang seharusnya bertindak praktis dan taktis, malah bawa-bawa patung hadiah, dari pulau Jawa sampai ke Sumatera.

MITOS KEHEBATAN PASUKAN SINGHASARI

Lewat Kitab Sastra Kerajaan juga digambarkan Singhasari memiliki pasukan yang hebat, hingga Kertanegara mengirim 14.000 prajuritnya ke Kerajaan Dharmasraya di Sumatera.

Perlu dipahami, dengan kondisi trasportasi di masa itu, jarak antara Singhasari ke Dharmasraya terhitung sangat jauh dan mengirim ribuan tentara, tentu memakan biaya yang sangat besar.

Pertanyaannya, darimana sumber dananya? Apa Singhasari pada saat itu memiliki pertambangan emas atau mereka berhasil mengembangkan sektor pertanian sehingga mendapatkan devisa yang sangat banyak.

Di dalam beberapa kisah terkait Singhasari, justru nageri ini selalu diceritakan mengalami konflik internal. Bagaimana mungkin, negara seperti ini, memiliki dana yang cukup untuk operasi militer yang lokasinya sangat jauh.

Belum lagi, pasukan perang sebanyak itu sangat riskan mengalami serangan dari kerajaan-kerajaan yang mereka lewati. Bahkan mungkin dari 14 ribu tentara yang dikirim, ketika sampai ke tujuan hanya tersisa sekitar setengahnya, itupun dalam kondisi sangat melelahkan.

Bagaimana mungkin, pasukan model begini bisa menang perang di negara yang asing baginya. Kondisi medan tentu lebih dikuasai pihak lawan demikian juga faktor logistik.

Oleh karenanya, melihat beberapa faktor di atas, maka berhentilah menarasikan Singhasari sebagai kerajaan hebat penakluk Sumatera, yang katanya wilayah taklukkan tersebut diwariskan ke Majapahit.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Tinggalkan komentar